BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA
2.1. HIV/AIDS
2.2.3. Determinan Perilaku Terkait Penelitian
a. Informasi
Informasi, dalam hal ini adalah informasi tentang LSL yang berhubungan dengan informasi pengetahuan dasarnya tentang HIV/AIDS, kondisi kesehatan maupun informasi yang diketahuinya tentang pencegahan yang dianjurkan , dapat mempengaruhi perilaku seksual seseorang. Hasil penelitian Herman Abdullah (2002) terhadap 150 orang Gay di Denpasar dan Ujung Pandang tentang faktor-faktor yang berhungan dengan penggunaan kondom pada sex anal menunjukkan hasil bahwa ada hubungan pengetahuan dengan penggunaan kondom.
Menurut penelitianNurcholis Arif Budiman (2008) terhadap Wanita Pekerja Seks jalanan dalam upaya pencegahan IMS dan HIV/AIDS di sekitar alun-alun candi
Prambanan Kabupaten Klaten terdapat faktor pengetahuan berhubungan dengan upaya pencegahan IMS dan HIV/AIDS.
Menurut Bloom, 1968 (dalam Notoatmodjo, 2005) pengetahuan yang tercakup dalam domain kognitif ini mempunyai 6 tingkatan, yaitu:
a.1 Tahu (know)
Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya. Termasuk ke dalam pengetahuan tingkat ini adalah mengingat kembali (recall) sesuatu yang spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima. Oleh sebab itu, tahu ini merupakan tingkat pengetahuan yang paling rendah. Kata kerja untuk mengukur bahwa orang tahu tentang apa yang dipelajari antara lain menyebutkan, menguraikan, mendefinisikan, menyatakan, dan sebagainya.
a.2 Memahami (comprehension)
Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui, dan dapat menginterpretasikan materi tersebut secara benar. Orang yang telah paham terhadap objek atau materi harus dapat menjelaskan, menyebutkan contoh, menyimpulkan, meramalkan, dan sebagainya terhadap objek yang dipelajari.
a.3Aplikasi (application)
Aplikasi diartikan apabila orang yang telah memahami objek yang dimaksud dapat menggunakan atau mengaplikasikan prinsip yang diketahui tersebut pada situasi yang lain.
a.4Analisis (analysis)
Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu objek ke dalam komponen-komponen, tetapi masih di dalam satu struktur organisasi, dan masih ada kaitannya dengan satu sama lain. Kemampuan analisis ini dapat dilihat dari penggunaan kata kerja, seperti dapat menggambarkan (membuat bagan), membedakan, memisahkan, mengelompokkan, dan sebagainya.
a.5Sintesis (synthesis)
Sintesis menunjuk kepada suatu kemampuan untuk meletakkan atau menghubungkan bagian-bagian di dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru. Dengan kata lain sintesis adalah suatu kemampuan untuk menyusun fomulasi baru dari formulasi-formulasi yang ada. Misalnya dapat menyusun, merencanakan, meringkaskan, menyesuaikan, dan sebagainya terhadap suatu teori atau rumusan-rumusan yang telah ada.
a.6Evaluasi (evaluation)
Evaluasi berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau objek. Penilaian-penilaian itu didasarkan pada suatu kriteria yang ditentukan sendiri, atau menggunakan kriteria-kriteria yang telah ada/ norma yang berlaku di masyarakat.
Pengetahuan yang benar tentang HIV/AIDS dapat menjadi pedoman untuk melakukan tindakan pencegahan yang benar agar tidak tertular oleh HIV/IDS. Dalam temuan kunci STBP 2011 dilaporkan bahwa pada LSL yang tahu bahwa kondom dapat mencegah Infeksi cenderung menggunakan kondom secara konsisten.
Pengukuran informasi tentang pengetahuan dapat dilakukan dengan wawancara atau angket yang menanyakan tentang isi materi yang ingin diukur dari subjek penelitian atau responden. Pengetahuan menjadi landasan penting untuk menentukan suatu tindakan. Pengetahuan, sikap dan perilaku akan kesehatan merupakan faktor yang menentukan dalam mengambil suatu keputusan (Notoatmodjo, 2010).
b. Motivasi
Motivasi berasal dari bahasa latin yang berarti to Move, Secara umum mengacu pada adanya kekuatan dorongan yang menggerakkan kita untuk berperilaku tertentu (Quinn,1995 dalam Notoadmodjo 2005).
Motivasi dalam hal ini adalah yang berkaitan dengan persepsi dan norma sosial yang berkaitan dengan temen kelompoknya.
Dalam temuan kunci Survey Terpadu Biologis Perilaku (STBP) 2011 dilaporkan bahwa pada LSL yang merasa berisiko tertular HIV cenderung untuk menggunakan kondom secara konsisten. Penelitian yang dilakukan oleh Mariyah 1992 terhadap perilaku seksual buruh bangunan migran di Denpasar menyatakan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi responden untuk mencari pekerja seks diantaranya yaitu karena pengaruh teman dan mengendornya norma-norma yang diyakini. Selain itu penelitian ini juga menyatakan bahwa agama dan keyakinan yang kuat dapat mencegah terjadinya perilaku seksual berisiko (menggunakan jasa pekerja seks dan berganti-ganti pasangan).
Penelitian yang dilakukan oleh Godin dkk. (2005) dan Stulhofer dkk. (2007) dalam Yusi, M.A. (2008) juga menyatakan bahwa sikap dan norma sosial dapat mempengaruhi perilaku pencegahan seseorang terhadap penggunaan kondom. Menurut penelitian Nurcholis Arif Budiman (2008) terhadap Wanita Pekerja Seks jalanan dalam upaya pencegahan IMS dan HIV/AIDS di sekitar alun-alun candi Prambanan Kabupaten Klaten terdapat faktor persepsi kerentanan berhubungan dengan upaya pencegahan.
Salah satu cara untuk mengukur motivasi melalui kuesioner yang menanyakan tentang isi materi yang ingin diukur dari subjek penelitian atau responden. Motivasi dapat menjadi kekuatan untuk mendorong kita untuk berperilaku tertentu (Damayanti R., dalamNotoatmodjo, 2005).
c. Keterampilan berperilaku
Keterampilan berperilaku dalam penelitian ini merupakan kemampuan indvidu untuk melakukan tindakan pencegahan, seperti kemampuan merundingkan untuk tidak melakukan hubungan seksual, mendesak untuk menggunakan kondom, dsb. Keterampilan berperilaku ini memastikan bahwa seseorang mempunyai keterampilan, alat, dan strategi untuk berperilaku yang didasarkan pada keyakinannya (self efficacy) dan perasaan bahwa ia dapat mempengaruhi keadaan/situasi (perceived behavioural control) untuk melakukan perilaku tersebut.
Penelitian yang dilakukan oleh Godin dkk. (2005) dalam Yusi, M.A. (2008) yang diambil secara acak pada orang dewasa heteroseksual menyatakan bahwa
keyakinan seseorang untuk dapat berhasil dalam melakukan sesuatu yang diinginkan (self efficacy) dan perasaan seseorang bahwa ia dapat mempengaruhi keadaan/situasi (perceived behavioural control) merupakan faktor-faktor yang dapat mempengaruhi perilaku seseorang untuk menggunakan kondom. Sejalan dengan Godin, penelitian yang dilakukan oleh Widodo Edy (2009) juga menyatakan bahwa semakin tinggi persepsi kemampuan diri dalam berperilaku pencegahan semakin baik pula praktek dalam pencegahan IMS dan HIV &AIDS. Semakin yakin seseorang atas kemampuannya untuk dapat melakukan tindakan pencegahan dan mencapai tujuan, maka akan semakin besar kemungkinan untuk melakukan tindakan tersebut.
Hasil penelitian Ford dkk di Bali (1992) terhadap 80 PSK laki-laki, 100 orang turis pelanggan PSK laki-laki dan 407 PSK wanita di lokalisasi menunjukkan ada hubungan persepsi kemampuan diri untuk berperilaku (self efficacy ) dengan perilaku penggunan kondom.