Meinarti Norma Setiapermas1), Sodiq Jauhari1) dan Yulis Hindarwati1)
1)Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Jawa Tengah
Email : [email protected] Abstrak
Teknologi informasi kalender tanam merupakan hal baru bagi pengguna teknologi pertanian dan belum sepenuhnya diterapkan, begitu pula dengan rekomendasi komoditas palawija pada musim tanam ketiga. KATAM terpadu merekomendasikan penanaman kedelai di musim kemarau. Di Kabupaten Kendal, KATAM terpadu merekomendasikan budidaya kedelai pada musim kemarau tahun 2014/2015 di dataran tinggi di Kecamatan Singorojo dan Sukorejo, ketinggian tempat di atas 700 m dpl, waktu tanam pertama (Mei III–Juni I) dengan varietas rekomendasi Grobogan. Dengan demikian lokasi ini bukan lokasi rekomendasi pengembangan kedelai. Komponen teknologi yang diterapkan untuk validasi adalah a) varietas (Grobogan dan Panderman), b) pupuk berdasarkan KATAM dan PUTS. Hasil validasi tidak memuaskan. Produktivitas kedua varietas pada KATAM terpadu mempunyai nilai lebih tinggi dibanding PUTS. Produktivitas Grobogan pada KATAM terpadu sebesar 1,1 ton/ha dan PUTS hanya 0,5 ton/ha. Produktivitas Panderman pada KATAM sedikit lebih tinggi dibanding pada PUTS. Panderman kurang bagus pertumbuhannya dibanding Grobogan sehingga produktivitas lebih rendah. Kedua varietas pada PUTS mempunyai produktivitas yang sama yaitu 0,5 ton/ha.
Kata kunci : budidaya kedelai, kawasan pengembangan, kalender tanam terpadu
PENGANTAR
Teknologi informasi kalender tanam (KATAM) terpadu merupakan rekomendasi Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Kementrian Pertanian untuk adaptasi terhadap perubahan iklim ekstrim, namun belum sepenuhnya diterapkan, begitu pula dengan rekomendasi komoditas palawija pada musim tanam ketiga. Adanya El Nino menyebabkan terjadinya cekaman kekeringan yang kuat pada pertanaman padi. Pola tanam (pemilihan komoditas) serta pemilihan varietas dapat disesuaikan dengan keadaan tahun ekstrim atau ketersediaan air baik itu air irigasi maupun dari sumber air lainnya. Di dalam KATAM terpadu, pengguna teknologi dapat memilih komoditas, varietas dan pupuk yang direkomendasikan sesuai dengan musim tanam. Tujuan kegiatan ini mendapatkan data validasi kalender tanam lahan irigasi (waktu tanam, varietas dan teknologi petani untuk antisipasi perubahan iklim).
METODE PENELITIAN
Bahan kajian berupa data unduhan www.katam.info pada musim tanam pada musim kemarau 2014/2015 Kabupaten Kendal sebagai dasar penentuan lokasi kegiatan, waktu tanam, komoditas, varietas dan dosis pupuk yang disesuaikan dengan kebijakan dinas terkait.Lokasi kegiatan merupakan wilayah pengembangan komoditas kedelai di Kabupaten Kendal pada musim kemarau. Lokasi yang dipilih adalah Desa Ngadiwarno Kecamatan Sukorejo. Waktu
kegiatan pengkajian budidaya kedelai berdasarkan validasi KATAM terpadu dilakukan pada musim kemarau musim tanam II 2014/2015, dengan luasan lahan 0,5 ha. Kelompok utama adalah varietas berupa Grobogan dan Panderman, di dalam kelompok diberi perlakuan pupuk dengan dosis rekomendasi KATAM terpadu berupa kompos 2 ton/ha, urea 25 kg/ha dan KCl 80 kg/ha serta berdasarkan Perangkat Uji pupuk Tanah Sawah (PUTS) berupa kompos 2 ton/ha, urea 25 kg/ha, SP 36 50 kg/ha dan KCl 50 kg/ha. Data yang diambil berupa komponen teknis. Pengambilan contoh tanaman (ubinan) untuk kegiatan ini disesuaikan dengan kondisi lapangan. Data agronomis kedelai berdasarkan validasi KATAM terpadu dianalisis dengan deskriptif.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Berdasarkan prediksi KATAM terpadu pada musim kemarau 2014/2015 direkomendasikan waktu tanam pertama di dominasi bulan Mei III – Juni I (Tabel 1 dan Gambar 1).
Tabel 1. Data prediksi waktu tanam berdasarkan KATAM terpadu untuk Kabupaten Kendal Musim Kemarau 2014/2015
No Kecamatan Awal waktu tanam
pertama Luas tanam (ha)
Awal waktu tanam kedua
1 Boja Mei III – Juni I 1.997 (padi sawah) Pertanaman sebelumnya 2 Brangsong Mei I - II 1.049 (padi sawah) Pertanaman sebelumnya
Mei I - II 344 (kedelai) Bera
3 Cepiring Mei III – Juni I 1.235 (padi sawah) Pertanaman sebelumnya Mei III – Juni I 20 (kedelai) Bera
4 Gemuh Mar III – Apr I 320 (padi sawah) Pertanaman sebelumnya Mar III - Apr I 1.160 (kedelai) Bera
5 Kaliwungu Mei III Jun I 917 (padi swah) Pertanaman sebelumnya Mei III – Juni I 557 (kedelai) Bera
6 Kaliwungu selatan Mei III – Juni I Tidak ada lahan untuk sawah
Tidak ada sawah
7 Kangkung Mei III – Juni I 1.290 (padi sawah) Pertanaman sebelumnya Jul III – Ags I 533 (kedelai) Bera
8 Kota Kendal Mei I - II 954 (padi sawah) Pertanaman sebelumnya Mei I - II 418 (kedelai) Bera
9 Limbangan Mei III – Juni I 1055 (padi sawah) Pertanaman sebelumnya Mei III – Juni I 128 (kedelai) Bera
10 Ngampel Jun II - III 382 (padi sawah) Pertanaman sebelumnya Jun II - III 829 (kedelai) Bera
11 Pageruyung Mei III – Jun I 769 (padi sawah) Pertanaman sebelumnya Mei III – Jun I 538 (kedelai) Bera
12 Patean Mei III – Jun I 797 (padi sawah) Pertanaman sebelumnya Mei III – Jun I 623 (kedelai) Bera
13 Patebon Mei I - II 1.135 (padi sawah) Pertanaman sebelumnya Mei I - II 275 (kedelai) Bera
14 Pegandon Jun II - III 221 (padi sawah) Pertanaman sebelumnya Jun II - III 629 (kedelai) Bera
15 Plantungan Mei III - Jun I 689 (padi sawah) Pertanaman sebelumnya Mei III - Jun I 508 (kedelai) Bera
No Kecamatan Awal waktu tanam
pertama Luas tanam (ha)
Awal waktu tanam kedua
16 Ringinarum Pertanaman sebelumnya - Bera
- Bera
17 Rowosari Mei III – Jun I 1.079 (padi sawah) Pertanaman sebelumnya Mei III – Jun I 910 (kedelai) Bera
18 Singorojo Mei III – Jun I 663 (padi sawah) Pertanaman sebelumnya Mei III – Jun I 349 (padi sawah) Bera
19 Sukorejo Mei III – Jun I 629 (padi sawah) Pertanaman sebelumnya Mei III – Jun I 822 (kedelai) Bera
20 Weleri Mei III – Jun I 1.119 (padi sawah) Pertanaman sebelumnya Mei III – Jun I 64 (kedelai) Bera
Dari Tabel 1, terlihat bahwa pada musim kemarau, KATAM terpadu merekomendasikan penanaman kedelai di samping padi di beberapa kecamatan. Komoditas ini sebaiknya dipilih pengguna teknologi di lahan sawah pada musim kemarau. Kedelai toleran kering untuk ditanam di lahan sawah dengan kondisi air yang terbatas. Dari Tabel 1, salah satu kecamatan yang direkomendasikan untuk penanaman kedelai adalah Sukorejo (822 ha).
Tabel 2. Data realisasi tanam kedele Kabupaten Kendal tahun 2015
Kecamatan Jan Feb Mar Apr Mei Juni Juli Agst Sept Okt Nov Des
Plantungan 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 Sukorejo 0 0 1 0 0 1 0 0 0 0 0 0 Pagerruyung 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 Patean 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 Singorojo 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 Limbangan 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 Boja 0 0 0 0 0 4 0 0 0 0 0 0 Kaliwungu 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 Kaliwungu Selatan 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 Brangsong 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 Pegandong 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 Ngampel 0 0 0 10 8 4 0 0 0 0 0 0 Gemuh 48 144 0 0 0 10 0 0 0 0 0 0 Ringinarum 0 102 21 0 0 0 0 0 0 0 0 0 Weleri 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 Rowosari 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 Kangkung 109 544 130 0 0 9 0 0 0 0 0 0 Cepiring 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 Patebon 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 Kota Kendal 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 Jumlah 157 790 152 10 8 28 0 0 0 0 0 0
Sumber data : Dinas Pertanian Peternakan Perkebunan dan Kehutanan Kab Kendal 2015 Lanjutan Tabel 1.
Hasil veriikasi di lapangan, penerapan rekomendasi komoditas kedelai di Kecamatan
Sukorejo dapat diterima oleh petani. Hal ini karena sumber air untuk pertanian tersedia dengan jaringan irigasi yang sederhana.
Gambar 1. Sumber air irigasi, jaringan irigasi sederhana dan pertanaman padi pada musim tanam kedua di Desa Ngadiwarno Kecamatan Sukorejo Kab. Kendal
Dalam kegiatan validasi KATAM terpadu, komponen teknologi yang diterapkan adalah waktu tanam, komoditas, varietas dan dosis pupuk di lahan petani.Kedelai merupakan komoditas yang belum pernah mereka tanam.Varietas kedelai yang direkomendasikan secara umum untuk Kabupaten Kendal adalah Grobogan, Anjasmoro, Guntur, Ijen, Lompo Mas, Argomulyo, Tanggamus, Paris, Burangrang, Wilis dan Mallika.
Gambar 2. Penanaman kedelai di Desa Ngadiwarno Kecamatan Sukorejo Kabupaten Kendal 10-11 Juni 2015
Tabel 3. Dosis pupuk yang diintroduksi untuk budidaya kedele di Desa Ngadiwarno Kecamatan Sukorejo Kabupaten Kendal
Pupuk tunggal Phonska + jerami 2 ton/ha Pelangi + jerami 2 ton/ha Tanpa bahan
organik Jerami 2 ton/ha Kompos 2 ton/ha
NPK SP 36 KCl NPK SP 36 KCl urea SP 36 KCl urea SP 36 KCl NPK SP 36 KCl
50 50 100 30 50 50 25 0 80 100 25 25 100 25 25
Desa Ngadiwarno Kecamatan Sukorejo berada di ketinggian di atas 700 m dpl, lokasi ini bukan lokasi rekomendasi pengembangan kedelai. Hasil validasi di Desa Ngadiwarno Kecamatan Sukorejo penanaman 10 dan 11 Juni 2015 sudah sesuai dengan waktu tanam yang direkomendasikan KATAM.
Gambar 3. Pertanaman kedelai varietas Grobogan (kiri) dan Panderman (kanan) berumur 75 HST Desa Ngadiwarno Kecamatan Sukorejo Kabupaten Kendal
Tabel 4. Hasil panen kedele di Desa Ngadiwarno Kecamatan Sukorejo Kabupaten Kendal
Data panen Varietas Dosis pupuk
KATAM terpadu PUTS Produktivitas Grobogan 1.1 ton/ha 0.5 ton/ha
Panderman 0.6 ton/ha 0.5 ton/ha
100 butir Grobogan 15 gr 16 gr
Panderman 24 gr 25 gr
Produktivitas Grobogan maupun Panderman pada KATAM Terpadu mempunyai nilai lebh tinggi dibanding PUTS. Produktivitas Grobogan pada KATAM terpadu sebesar 1,1 ton/ ha, sedangkan PUTS hanya 0.5 ton/ha. Hal ini berarti bahwa pupuk yang diberikan pada KATAM Terpadu lebih efektif dibanding pada PUTS. Perbedaan tersebut dimungkinkan karena macam atau jenis pupuk yang diberikan lebih lengkap. Salah satunya adanya pupuk P (SP-36) yang berguna membantu merangsang pertumbuhan akar dan mempercepat pembungaaan, pemasakan biji dan polong.
Menurut Noor (2003), Fosfor merupakan unsur hara makro esensial untuk pertumbuhan tanaman kedua setelah N dan merupakan faktor pembatas dalam produksi tanaman. Selain P, unsur K yang diberikan lebih banyak dibanding pada PUTS. K membantu pembentukan protein dan karbohidrat serta memperkuat tubuh tanaman agar daun, bunga, dan buah tidak cepat gugur. Menurut Kastono (2005), walaupun kandungan N total dan C-organik tanah sangat rendah, apabila P dan K sangat tinggi dapat memenuhi kebutuhan hara bagi pertumbuhan dan hasil kedelai.
Produktivitas Panderman pada KATAM sedikit lebih tinggi dibanding dengan PUTS, karena tanaman kurang baik dalam menyerap hara.Kondisi di lapangan,Panderman kurang bagus pertumbuhannya dibanding Grobogan sehingga produktivitasnya lebih rendah. Penerapan PUTS pada kedua varietas mempunyai produktivitasyang sama yaitu 0,5 ton/ ha. Kesamaan nilai tersebut dimungkinkan PUTS kurang efektif pada kondisi lapangan. Hal ini terbukti keduanya mempunyai nilai lebih rendah dibanding PUTS. Meskipun demikian, pupuk sangat diperlukan dalam memacu pertumbuhan dan perkembangan tanaman dengan harapan diperoleh hasil maksimal. Pupuk dengan kandungan hara mineral dalam jumlah yang cukup dan seimbang serta penggunaan benih kedelai yang bermutu merupakan input yang diperlukan dalam upaya peningkatan produksi kedelai (Suyantohadi et al., 2009).
Produktivitas kedua varietas yang ditanam di Desa Ngadiwarno Kecamatan Sukorejo jauh di bawah produktivitas potensi hasil.Hal ini disebabkan pertanaman kedelai kekurangan air selama pertumbuhan, namun tidak demikian dengan berat 100 butir kedua varietas tersebut.Grobogan maupun Panderman pada PUTS menunjukkan hasil yang relatif lebih tinggi dibanding KATAM. Grobogan pada KATAM terpadu memiliki berat 100 biji sebesar 15 gram/100 biji, lebih rendah dari PUTS (16 gram/100 biji). Berat kedua varietas tersebut masih dibawah nilai diskriptif, Grobogan memiliki berat 18 gram/100biji. Panderman pada PUTS memiliki berat 100 biji sebesar 25 gram/100 biji, lebih tinggi dibanding KATAM terpadu yaitu 24 gram/100 biji. Berat tersebut melebihi berat diskriptifnya, yaitu sebesar 18-19 gram/100 biji. Berat 100 butir biji kedua varietas tidak begitu berbeda dengan deskritifnya, hal ini membuktikan bahwa saat kekurangan air pembentukan biji masih bisa maksimal.Akan tetapi untuk pertumbuhan vegetatif dan pembentukan bunga pada kedelai sangat membutuhkan air.
KESIMPULAN DAN SARAN
1. Data veriikasi kalender tanam belum sepenuhnya sesuai dengan kondisi lapang. Data
peta fase pertumbuhan padi hampir sesuai dengan kondisi lapang
2. Hasil validasi komoditas kedelai di lokasi dengan ketinggian di atas 600 m dpl tidak sesuai dengan rekomendasi Balai Penelitian Kacang dan Umbi. Produktivitas kedelai Grobogan dan Panderman sekitar 0.5 ton/ha di musim kemarau.
DAFTAR PUSTAKA
Kastono, D. 2005. Tanggapan Pertumbuhan Dan Hasil Kedelai Hitam Terhadap Pupuk Organik Dan Biopestisida Gulma Siam (Chromolaena odorata). Ilmu Pertanian Vol. 12 No.2, 2005 : 103 – 116.
Noor A. 2003. Pengaruh Fosfat Alam dan Kombinasi Bakteri Pelarut Fosfat dengan Pupuk Kandang terhadap P Tersedia dan Pertumbuhan Kedelai pada Ultisol
Suyantohadi A., M.Hariadi2, dan M .H. Purnomo.2009. Identiikasi Pertumbuhan Tanaman
Kedelai (Glycine Max L) dengan Pengaruh Pemberian Komposisi Pupuk Menggunakan
Metoda Artiicial Neural Network.AGRITECH, Vol. 29, No. 4.
______http://eprints.umk.ac.id/113/1/PENGARUH_PEMUPUKAN_KALIUM_DAN_FOSFAT. pdf. Diakses 23 Januari 2016. ______www.puslittan.bogor.net/index.php?bawaan=varietas/varietas_detail&komoditas=0 5025&id=Grobogan& pg=1&varietas=1 ______http://balitkabi.litbang.pertanian.go.id/images/stories/uploads/publikasi/buku/vub%20 kedelai.pdf