• Tidak ada hasil yang ditemukan

KOMERING ULU TIMUR SUMATERA SELATAN Waluyo 1) dan Suparwoto 1)

Dalam dokumen prosiding pertanian 2017 COVER (Halaman 42-47)

1)Peneliti pada Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Sumatera Selatan

Email : [email protected] Abstrak

Salah satu hambatan dalam pencapaian swasembada pangan di Indonesia adalah ketersediaan benih yang belum memadai. Saat ini produksi benih baru memenuhi separuh dari produksi nasional dan banyak petani yang belum menggunakan benih padi bermutu karena sulitnya ketersediaannya pada saat digunakan. Upaya yang dilakukan adalah melalui penangkaran varietas unggul oleh kelompok penangkaran benih padi untuk memenuhi kebutuhan petani. Kegiatan penangkaran benih dilakukan di Desa Tulus Ayu, kecamatan Buay Madang Raya, Kabupaten Ogan Komering Ulu Timur (OKUT) bulan April-September 2015, dengan menggunakan Inpari 6, 22, dan 30 seluas 10 hektar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peluang varietas unggul baru (VUB) dalam menunjang perbenihan padi dan memudahkan petani memperoleh benihnya di lahan irigasi OKU Timur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Inpari 6, Inpari 22, dan Inpari 30 sangat baik untuk dikembangkan, karena produksinya lebih tinggi daripada Ciherang, dengan rata-rata hasil gabah berturut-turut sebesar 7,9 ton; 7,5 ton; dan 7,3 ton GKP/ha, sedangkan Ciherang 6,1 ton/ha.

Kata kunci: padi, varietas unggul baru, perbenihan

PENGANTAR

Komoditas unggulan spesiik Sumatera Selatan berpotensi untuk dikembangkan dalam

bentuk agribisnis dan mampu bersaing menghadapi pasar global, namun belum digarap dengan sungguh-sungguh, sehingga belum menampakkan potensi yang sesungguhnya. Hal ini sangat terkait dengan ketersediaan benih bermutu unggul. Selama ini benih yang digunakan berupa

varietas lokal, baru sebagian varietas unggul yang bersertiikat, karena ketersediaan dan

penyediaan benih sumber belum memadai.

Badan Litbang Pertanian telah banyak melepas varietas unggul tetapi sebagian kurang berkembang karena sangat terbatasnya sumber benih penjenis yang bermutu, sehingga harus tersedia benih sumber yang memadai. Produktivitas varietas unggul nasional masih sangat beragam akibat adanya perbedaan agroekologi di Indonesia (Baihaki, 1996), sehingga

tersedianya varietas unggul spesiik lokasi sangat diperlukan untuk mengurangi kesenjangan

hasil. BPTP Sumatera Selatan bekerjasama dengan instansi terkait maupun swasta berhak menghasilkan dan memproduksi benih varietas unggul dengan kelas benih BS, FS, dan SS. Dengan pola kemitraan, pemerintah dapat lebih berperan dalam memproduksi benih kelas BS, FS dan SS agar mutu genetisnya lebih terjamin, sehingga kelas benih ini dapat dipakai oleh penangkar benih untuk memproduksi benih dengan kelas benih lebih rendah. Hal ini penting karena jika mutu benih awal kurang memadai sifat genetisnya, maka mutu benih yang dihasilkan tidak dapat dipertanggung jawabkan, yang akhirnya dapat merugikan petani pemakai

(Departemen Pertanian, 2001). Ilyas (2003) menyatakan bahwa masalah yang dihadapi industri perbenihan tanaman pangan adalah menjaga kesinambungan produksi karena minimnya orientasi bisnis untuk memenuhi kebutuhan benih dengan harga murah di tingkat petani.

Luas lahan tanam padi di Sumatera Selatan 788.475 ha (BPS Sumsel 2012), memerlukan benih berkualitas. Adanya agroekosistem yang beragam, luas tanam padi di sawah lebak 301.432 ha, pasang surut 231.998 ha, irigasi 107.385 ha, tadah hujan 112.578 ha dan lainnya 35.082 ha, merupakan peluang dan tantangan dalam menghasilkan benih

bermutu. Pengunaan benih padi bersertiikat oleh petani tahun 2008 sebesar 53,20% dan

pada tahun 2009 diperkirakan meningkat menjadi 62,89% (Anonim, 2010). Di Sumsel

penggunaan varietas unggul padi bersertitiikat, didominasi Ciherang, sekitar 70%, sedangkan

varietas lainnya sekitar 30 %. Penyediaan benih unggul bermutu hendaknya memenuhi kriteria tepat varietas, tepat mutu, tepat waktu, tepat jumlah, tepat tempat dan tepat harga (Hadi et al., 1995). Untuk mempercepat adopsi teknologi produksi VUB padi perlu dilakukan demplot dengan penerapan PTT (Badan Litbang Pertanian, 2007). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peluang varietas unggul baru (VUB) untuk menunjang perbenihan padi di lahan irigasi di kabupaten OKU Timur dan memudahkan petani memperoleh benih varietas unggul yang bermutu.

METODE PENELITIAN

Kegiatan produksi benih sumber padi Varietas Unggul Baru (VUB) Inpari 6, Inpari 22 dan Inpari 30 (berasal dari Balai Besar Penelitian Padi Sukamandi) dilaksanakan di lahan Kelompok Tani penangkar di desa Tulus Ayu, kecamatan Buay Madang Raya, Kabupaten Ogan Komering Ulu Timur (OKU Timur) pada bulan April-September 2015 seluas 10 ha. Ciherang digunakan sebagai pembanding, berasal dari penangkar kelompok tani. Masing- masing varietas ditanam dengan luasan 0,5 ha oleh 20 orang petani. Penanaman dilakukan dengan pengelolaan tanaman terpadu, yaitu 1) Sistem tanam pindak legowo 4:1, 2) umur bibit <20 hari setelah semai (HSS), 3) jumlah bibit 1-3/lubang, pemupukan urea 200 kg/ha, phonska 200 kg/ha dan ditambah SP-36 100 kg/ha, 5) pengendalian OPT serta gulma.

Panen dan prosesing dilakukan saat padi mengalami masak isiologis (95% padi sudah

menguning) dan ditera kadar air gabahnya. Data yang dikumpulkan meliputi pertumbuhan dan

produksi, sarana produksi dan tenaga kerja serta kelayakan inansial usahatani padi meliputi

pendapatan bersih dan nilai B/C Ratio menggunakan metoda input-output analisis (Malian, 2004). (RAVC)

B/C ratio = --- TVC dengan :

B/C ratio = Nisbah pendapatan terhadap biaya; P = Harga jual padi (Rp/kg); TVC = Biaya total (Rp/ha/musim); RAVC = (Q x P) – TVC; Q = Total produksi padi (kg/ha/musim)

Dengan keputusan :

BC Ratio = 1, usahatani secara ekonomi berada pada titik impas; BC Ratio < 1, usahatani secara ekonomi tidak menguntungkan.

HASIL DAN PEMBAHASAN Keragaan Komponen Hasil

Tanaman Ciherang paling tinggi dan Inpari 6 terendah (106,0 cm), malai terpanjang dihasilkan oleh Inpari 6 (28,4 cm) dan terpendek Ciherang (23,0 cm). Jumlah anakan terbanyak dihasilkan oleh Inpari 6 (25,6 batang), dan Ciherang paling sedikit (17,8 batang), sedangkan gabah bernas dan produksi tertinggi dicapai oleh Inpari 6, dan terendah produksinya dicapai Ciherang masing-masing 7,7 ton/ha dan 6,1 ton/ha, seperti disajikan dalam Tabel 1.

Tabel 1. Keragaan komponen hasil dan hasil rata-rata padi VUB pada kegiatan produksi benih Padi kelas SS

Parameter Inpari 6 Inpari 22 Inpari 30 Ciherang (kontrol) Tinggi Tanaman (cm) 106,0 112,0 113,0 114,0 Jumlah anakan (Batang) 25,6 20,0 19,2 17,8

Panjang malai (cm) 28,4 25,1 24,5 23,0

Jumlah gabah bernas 235 187,2 176 140,0

Jumlah gabah hampa 6,6 9,0 7,1 10,5

Bobot 1000 butir (g) 28,0 26,3 27,0 27,0

Hasil (ton/ha) 7,9 7,5 7,3 6,1

Sumber : Hasil analisis data primer, 2015. Analisis usahatani penangkar benih

Usahatani padi penangkaran benih yang dilakukan petani, komponen biaya tenaga kerja lebih besar dibanding biaya bahan dengan selisih sebesar Rp 430.000/ha. Pada komponen biaya bahan, biaya yang dikeluarkan lebih besar, senilai Rp 200.000/ha. Total biaya pada kegiatan perbenihan memerlukan biaya lebih tinggi dibandingkan dengan petani konsumsi sebesar Rp 4.791.750,- karena pada kegiatan penangkar benih ada kegiatan prosesing benih setelah panen. Hasil analisis rerata pendapatan usahatani padi sawah per hektar di kabupaten OKUT dalam 1 musim tanam antar petani penangkar dan non penangkar (petani konsumsi) disajikan dalam Tabel 2.

Berdasarkan hasil analisis antara usahatani penangkar dengan usahatani konsumsi menunjukkan bahwa penerimaan usahatani penangkar sebesar Rp 36.750.000,- lebih tinggi dari usahatani konsumsi, sebesar Rp 22.570.000,-. Petani penangkar maupun petani konsumsi untuk luasan lahan satu hektar dapat menghasilkan keuntungan sebesar Rp 25.593.250,-, sedangkan petani konsumsi mendapatkan keuntungan sebesar Rp 16.205.000,-. Selisih keuntungan penjualan padi untuk konsumsi dengan untuk benih sebesar Rp.9.388.250,-/ha. Hal ini menunjukkan bahwa keuntungan petani penangkar lebih tinggi daripada petani biasa. Peningkatan hasil keuntungan ini diakibatkan petani penangkar menjual benih padi dengan harga yang lebih tinggi dibandingkan dengan petani konsumsi dengan menjual hasil panennya dalam bentuk GKP, dengan harga jual lebih rendah dibandingkan dengan harga jual benih.

Tabel 2. Analisis Usaha Perbenihan Padi dan Usahatani Padi di Desa Tulus Ayu Kecamatan Buay Madang Raya, Kabupaten OKU Timur, Tahun 2015.

Uraian Usaha perbenihan padi Usahatani padi (konsumsi)

Biaya bahan (Rp) 1.955.000 1.755.000

Biaya tenaga kerja (Rp) 5.040.000 4.610.000

Biaya prosesing (Rp) 4.161.750 - Total Biaya 11.156.750 6.365.000 Produksi (kg gkp) 7.500 6100 Produksi benih (kg) 5.250 - Penerimaan (Rp) 36.750.000 22.570.000 Pendapatan (Rp) 25.593.250 16.205.000 B/C 2,29 2,55

Hasil panen yang tinggi diikuti pula oleh mutu produk yang baik, sehingga harga komoditas akan menyesuaikan kualitas yang baik tersebut. Bagi petani penangkar, selain berupaya meningkatkan produksi agar terjadi peningkatan keuntungan, juga dituntut untuk mengikuti pemeriksaan lapangan yang dijalankan petani penangkar benih melalui BPSB sebanyak 3-4 kali.

Respon petani

Respon petani terhadap VUB Inpari 6 sangat positif karena berdasarkan hasil pengamatan petani pada saat temu lapang, mulai dari pertumbuhan sampai hasil yang diperoleh VUB Inpari 6, lebih baik dibandingkan varietas lainnya yang ditanam petani, selain itu VUB Inpari 6 mempunyai rasa nasi lebih pulen dari ketiga varietas lainnya.

KESIMPULAN DAN SARAN

1. Kebutuhan benih VUB cukup tinggi di Sumatera Selatan dan membutuhkan benih bermutu, namun penangkar benih masih perlu pembinaan supaya dapat berjalan sesuai dengan fungsinya.

2. Usaha perbenihan VUB Inpari 6 memperoleh keuntungan Rp 25.593.250,-/ha, dengan B/C ratio 2,29 dan memberikan keuntungan lebih tinggi dari pada usahatani konsumsi dengan selisih keuntungan sebesar Rp 9.388.250,-/ha.

3. Petani di desa Tulus Ayu dan kecamatan Buay Madang Raya tidak mengalami kesulitan dalam mendapatkan benih padi, karena sudah tersedia di lokasi.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2010. dalam <http://www.sinartani.com/mimbarpenyuluh/proses-benih padi-

bersertiikat-dan-penggunaaan nya-para-petani-1265599338.htm>

Badan Pusat Statistik. 2012. Luas Lahan Menurut Penggunaan di Sumatera Selatan. 64 p Badan Litbang Pertanian. 2007. Pengelolaan tanaman Terpadu (PTT) padi sawah irigasi.

Baihaki, A. 1996. Prospek penerapan “Breeder Right” di Indonesia, dalam Sumarno, H. Bowo, B. Priyanto, N. Agustin dan W. Wiryani (Ed). Prosiding Simposium Pemuliaan Tanaman IV. Vol V. (9):1-16. Univ.Pembangunan Nasional. Surabaya

Departemen Pertanian. 2001. Undang-undang RI nomer 29 tahun 2000 tentang Perlindungan Varietas Tanaman.

Hadi S. dan Baran, W. 1995. Keterkaitan dunia pendidikan tinggi dengan industri perbenihan dalam penyediaan pangan nasional. Prosiding Seminar Sehari Perbenihan menghadapi Tantangan Pertanian Abad XXI. Keluarga benih vol. VI: 25-34.

Malian AH. 2004. Analisis ekonomi usahatani dan kelayakan inansial teknologi pada skala

pengkajian. Makalah disajikan dalam pelatihan Analisis Finansial dan Ekonomi bagi Pengembangan Sistem dan Usahatani Agribisnis Wilayah, Bogor, 29 November-9 Desember 2004.

NOTULENSI

Presentator : Waluyo

Judul : Peluang Varietas Unggul Baru (Inpari) untuk Menunjang Perbenihan Padi di Lahan Irigasi Kabupaten Ogan Komering Ulu Sumatera Selatan

Pertanyaan :

a. Terkait dengan benih, biaya produksi lain berapa %, apa bisa seluruhnya menjadi benih? b. Sejauh mana ketahanan varietas dengan iklim ekstrem? Bagaimana tanggapan petani

setempat? Jawaban :

a. Benih dan konsumsi dibedakan, benih perlu biaya ekstra, maksimal 4 klon/ha.

b. Di lahan irigasi, berdasarkan iklim ekstrem beda tidak menemukan. Ketahanan Inpari perlu seleksi. Ekstrem/lahan rawa, kebanjiran ganti varietas Inpari.

PENGARUH PUPUK HAYATI TERHADAP PERTUMBUHAN

Dalam dokumen prosiding pertanian 2017 COVER (Halaman 42-47)

Garis besar

Dokumen terkait