• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENAMPILAN EMPAT GENOTIPE UBI JALAR DI LAHAN RAWA LEBAK DANGKAL

Dalam dokumen prosiding pertanian 2017 COVER (Halaman 53-58)

Eddy William1) dan Muhammad Saleh1)

1)Balai Penelitian Pertanian Lahan Rawa, Jalan Kebun Karet Loktabat

P.O. Box 31 Banjarbaru

Email : [email protected] Abstrak

Pengujian dilaksanakan pada MK 2016, di lahan Kebun Percobaan Banjarbaru, Kalimantan Selatan, yang tergolong agoekosistem lahan rawa lebak dangkal. Ubi jalar dengan umbi ungu, jingga, putih dan putih kekuningan, dilakukan pengamatan terhadap karakter jumlah umbi, jumlah umbi besar dan sangat besar, jumlah umbi yang dikonsumsi, berat/umbi, panjang umbi, diameter umbi, hasil umbi/tanaman dan konversi hasil ke hektar. Untuk melihat perbedaan antar genotipe yang diuji, dilakukan pengujian data melalui program analisis statistik. Hasil yang dicapai oleh ubi jalar berumbi ungu, jingga, putih dan putih kekuningan masing masing sebesar 1,55; 1,35; 2,52 dan 1,48 kg/tanaman, atau setara dengan 22,32; 19,44; 36,29 dan 21,30 ton/hektar. Hasil tertinggi ditunjukkan oleh ubi jalar dengan umbi berwarna putih.

Kata kunci : Potensi hasil, ubi jalar, rawa lebak dangkal.

PENGANTAR

Ubi jalar merupakan salah satu alternatif pilihan sumber karbohidrat yang baik, yang dapat dikonsumsi langsung seperti direbus atau digoreng, ataudiolah menjadi tepung maupun pasta.Keunggulan ubi jalar terletak pada warna daging buahnya yang beraneka ragam, seperti putih, putih kekuningan, kuning, orange, orange kemerah merahan, ungu dan ungu kebiru biruan. Ubijalar dengan warna daging ungu, mempunyai kandungan antosianin tinggi yang berfungsi sebagai antioksidan, antihipertensi dan pencegah gangguan fungsi hati (Silvaet al., 2011).

Budidaya ubi jalar di lahan rawa lebakdangkal dan tengahan, dilakukan di musim kemarau secara hamparan dan sudah lama dilakukan. Di wilayah Nagara, kabupaten Hulu

Sungai Selatan, terdapat ubijalar yang khas dan spesiik lokasi, yang dikenal dengan nama

gumbili Nagara. Dari daerah rawa lebak ini, dilepas varietas unggul yang merupakan hasil pemutihan varietas unggul lokal dengan nama Kiyai Baru (Saleh, 2011). Selain Kiyai Baru, petani dilahan rawa lebak juga mengenal varietas Kiyai Lama, Maliku Kuning, Ubi Orange dan Ubi Ungu (Hasanah, 2007; Saleh, 2011).Penelitian bertujuan untukmengetahui hasil empat genotipe ubijalar di lahan rawa lebak dangkal.

METODE PENELITIAN

Pengujian ubijalar dengan warna umbi ungu, jingga, putih dan putih kekuningan dilaksanakan di lahan Kebun Percobaan Banjarbaru, Kalimantan Selatan dengan agoekosistem lahan rawa lebak dangkal pada bulan Maret-Agustus 2016 dengan sistem surjan di atas galangan yang tidak tergenang. Genotipe yang diuji tersebut, berasal dari

petani di Pleihari Kabupaten Tanah laut dan Kabupaten Hulu Sungai Selatan sebagai sentra produksi ubijalar di Kalimantan Selatan. Galangan berukuran lebar 2,5 m dengan panjang 45 m. Ubi jalar ditanam dalam dua jalur dengan jarak antar jaur 100 cm. Stek ubijalar dengan ukuran panjang 25 cm, ditanam pada jalur, 1 stek per lubang dengan jarak dalam jalur 30 cm. Pupuk berupa N,P,K diberikan seminggu setelah tanam. Pemeliharaan meliputi pembersihan gulma secara intensif.

Pengamatan dilakukan dengan tiga ulangan. Karakter yang diamati adalah skor pertumbuhan vegetatif, generatif dan gejala keracunan, jumlah umbi, jumlah umbi besar dan sangat besar, jumlah umbi yang dikonsumsi, berat/umbi, panjang umbi, diameter umbi, hasil umbi/tanaman dan konversi hasil ke hektar. Untuk melihat perbedaan antar genotipe yang diuji, dilakukan pengujian data melalui program analisis statistik.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Tabel 1. Jumlah umbi, Jumlah umbi besar, jumlah umbi yang di konsumsi dan lingkar umbi empat genotipe ubijalar di lahan rawa lebak dangkal, K.P. Banjarbaru

No. Genotipe

Jumlah umbi / tanaman

Jumlah umbi besar dan sangat besar /

tanaman Jumlah umbi layak konsumsi/ tanaman Lingkar umbi (cm) 1 Ubi ungu 8,00 a 3,33 a 4,33 b 23,00 b 2 Ubi jingga 4,33 b 4,33 a 4,33 b 24,33 b 3 Ubi putih 4,33 b 3,33 a 4,00 b 42,83 a

4 Ubi putih kekuningan 9,00 a 3,67 a 6,33 a 20,67 b

Rerata 6,415 3,665 4,747 27,707

Jumlah umbi/tanaman dari keempat genotipe menujukkan perbedaan yang nyata antar genotipe. Ubi ungu dan ubi putih kekuningan menghasilkan umbi sebanyak 8,0 dan 9,0 umbi, lebih tinggi dibanding ubi jingga dan ubi putih yang jumlah umbinya hanya mencapai 4,33 umbi/tanaman (Tabel 1). Hasil pengujian Rahajenget al., (2012), terhadap Kidal, Sari, Sawentar dan Beta-2 menghasilkan jumlah umbi/tanaman masing masing sebanyak 6,4; 5,0; 7,93 dan 5,27 umbi.

Ukuran besarnya umbi ubi jalar dikelompokkan dalam beberapa kriteria, yaitu sangat besar: bobot > 300 g/umbi, besar:bobot 200 – 300 g/umbi, sedang: bobot 100 - < 200 g/umbi, kecil: bobot 50 - < 100 g/umbi dan tidak layak jual: bobot < 50 g/umbi(Rascocit Rahayuningsih, 2012). Jumlah umbi dengan kriteria besar dan sangat besar dari keempat genotipe tidak menunjukkan perbedaan, sedang jumlah umbi layak konsumsi genotipe ubi putih kekuningan paling tinggi (Tabel 1). Jumlah umbi layak konsumsi adalah gabungan dari umbi yang sangat besar, besar, sedang dan kecil.Lingkar umbi genotipe ubi putih paling tinggi dibanding genotipe genotipe lainnya, sedang tiga genotipe lainnya memiliki ukuran lingkar umbi yang sama (Tabel 1).

Tabel 2. Panjang umbi, berat/umbi, hasil/tanaman dan konveri hasil/ha empat genotipe ubijalar di lahan rawa lebak dangkal, K.P. Banjarbaru, MK 2016.

No. Genotipe Panjang Umbi(cm) Berat/umbi (kg) Hasil/tanaman (kg) Konversi hasil/ hektar (ton) 1 Ubi ungu 19,33 a 357,23 b 1,55 b 22,32 b 2 Ubu jingga 21,33 a 313,17 b 1,35 b 19,44 b 3 Ubi putih 18,33 a 731,67 a 2,52 a 36,29 a 4 Ubi putih kekuningan 22,00 a 267,83 b 1,48 b 21,30 b

Rerata 20,247 417,475 1,725 24,837

Panjang umbi dari keempat genotipe tidak menunjukkan perbedaan, berkisar antara 18,33-22,00 cm (Tabel 2). Hasil pengujian Wahyuni et al. (2011), umbi yang dihasilkan lebih pendek. ubijalar warna daging ungu (varietas Ayamurasaki) panjang umbinya 9,4 cm, warna daging merah (varietas Beta) panjang umbi sebesar 11,2 cm dan warna daging umbi orange (varietas Kamplong kunir), panjang umbi sebesar 11,5 cm.

Berat/umbi dari keempat genotipe menunjukkan perbedaan yang nyata. Ubi putih mempunyai berat/umbi tertinggi, dibanding genotipe ubi ungu, jingga dan putih kekuningan. Pada umumnya umbi yang dihasilkan tergolong besar dan sangat besar. Hasil/tanaman dari keempat genotipe menunjukkan perbedaan yang nyata, genotipe ubi putih menunjukkan hasil tertinggi (2,52 kg/tanaman), sedang ubi ungu, jingga dan putih kekuningan menunjukkan hasil yang sama,masing masing sebesar 1,55; 1,35 dan 1,48 kg/tanaman. Menurut Wahyuningsihet et al., (2016), pengujian di K.P. Genteng MK 2014, untuk varietas ubijalar dengan warna daging ubi putih (varietas Shiroyutaka), kuning (varietas Kidal) dan ungu (varietas Ayamurasaki) memberikan hasil masing masing sebesar 1,07; 1,147 dan 1,071 kg/tanaman.

Hasil umbi yang dikonversi ke luas satuan hektar, untuk ubi ungu, jinggga, putih dan putih kekuningan masing masing sebesar 22,33; 19,44; 36,29 dan 21,30 ton/hektar. Hasil pengujian Rahayuningsih (2012), dengan pengairan yang optimum, ubijalar dengan daging berwarna kuning seperti Sari, MIS 0651-05 dan MIS 0651-19 memberikan hasil masing masing sebesar 23,87; 12,63 dan 12,79 ton/ha. Ubijalar dengan daging berwarna ungu seperti JP-46, MIS 0629-07 dan MIS 0612-130 memberikan hasil masing masing sebesar 14,93; 23,87 dan 10,98 ton/hektar. Ubijalar dengan daging berwarna orange seperti MIS 0660-15 dan MIS 0662-43 memberikan hasil masing masing sebesar 16,59 dan 19,71 ton/ hektar. Penanaman lima varietas ubijalar di Distrik Asolokobal, Kabupaten Jayawijaya pada MT 2014, dengan pola Pengelolaan Tanaman Terpadu, memberikan hasil untuk umbi kuning muda (varietas Papua Patippi), umbi berwarna kuning (varietas Cangkuang, Sawentar), dan umbi berwarna putih (varietas Papua Salosa) masing-masing sebesar 22,30; 18,89; 16,87 dan 21,22 ton/hektar (Bedinget al., 2016).

Pengelolaan lahan bekas penambangan batu bara di Provinsi Kalimantan Timur, yang ditanami dengan 5 varietas ubijalar dengan warna umbi kuning (varietas Sawentar), merah (varietas Beta 1, Beta 2), kuning (varietas Kidal ) dan ungu (varietas Ungu Kutim) memberikan

hasil masing masing sebesar 13,5; 14,2; 14,5; 13,7 dan 14,2 ton/hektar. Hasil pengujian Wahyuni et al., (2011), ubijalar warna daging ungu (varietas Ayamurasaki) memberikan hasil sebesar 26,2 ton/hektar warna daging merah (varietas Beta) memberikan hasil sebesar 38,3 ton/hektar dan warna daging umbi orange (varietas Kamplong kunir), memberikan hasil sebesar 31,2 ton/hektar.

KESIMPULAN DAN SARAN

Hasil pengujian menunjukkan bahwa skor pertumbuhan pada fase vegetatif dan generatif tergolong baik (skor 3). Hasil pertanaman yang dicapai oleh ubijalar berumbi ungu, jingga, putih dan putih kekuningan masing masing sebesar 1,55; 1,35; 2,52 dan 1,48 kg/tanaman atau setara dengan 22,32; 19,44; 36,29 dan 21,30 ton/hektar. Hasil tertinggi ditunjukkan oleh genotipe dengan umbi berwarna putih.

DAFTAR PUSTAKA

Beding, Petrus A dan Daut Tanggkearung. 2016. Peningkatan produksi ubijalar melaluipendekatan PTT di Distrik Asolokobal Kabupaten Jayawijaya, Provinsi Papua. Dalam Tri Joko et al.Prosiding Seminar Nasional Hasil Penelitian Pertanian, Peningkatan Sinergi dan Inovasi Teknologi untuk Kedaulatan Pangan. Fakultas Petanian Uviversitas Gajah Mada Jogjakarta. Hal 234 – 240

Hasanah, L.N. 2007. Potensi Ubijalar sebagai bahan pangan pokok alternatif. Jurnal Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah Provinsi kalimantan Selatan. Vol 2 (2), Juli- September 2007 : 31 – 35.

Rahayuningsih,St.A. 2012. Keragaan pertumbuhan dan hasil umbi klon/varietas ubijalar daging ungu dan kuning di tanah regusol Kalitirto Yogjakarta. DalamYanisworo WR, et al ( eds). Prosiding Seminar Nasional 2012. Peran Teknologi untuk Mewujudkan Kedaulatan Pangan dan Peningkatan Perekonomian Bangsa. Fakultas Pertanian UPN”Veteran” Yogyakarta. Hal 121-127.

Rahajeng,W., dan St.A.Rahayuningsih. 2012. Pengaruh lama penyimpanan stek dan varietas terhadap pertumbuhan dan hasil ubijalar. Dalam Dahyo Crysdian et al (eds). Proceeding Nasional Conference on Green Teknology 3, Harmony of Technology and Nature. Fakultas Sains dan Teknologi UIN Maliki Malang.

Saleh,M. 2011. Ubijalar lokal Nagara sebagai sumber karbohidrat alternatif di lahan rawa lebak. Dalam Watemin et al (eds). Proseding Seminar Nasional Implementasi Teknologi Budidaya Tanaman Pangan Menuju Kemandirian Pangan Nasional. Fakultas Peranian Universitas Muhammaddiyah Purwokerto. Hal 655-660.

Silva, H.D. dan B. Murdolelono. 2011. Respon petani terhadap varietas unggul baru ubijalar dan peningkatan pendapatan melalui home industri di kabupaten Timor Tengah Selatan. Dalam Moch. Muchlis Adie et al (eds). Inovasi Teknologi untuk Pengembangan Kedelai

Menuju Swasembada. Prosiding Seminar Nasional hasil Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi. Puslitbangtan. Badan Litbang Pertanian. Bogor. Hal 578 –586. Wahyuni, T.S., M. Yusuf dan St.A. Rahayuningsih. 2011. Potensi hasil dan keragaan umbi

klon-klon harapan ubijalar prospektif untuk pengembangan di Kabuapaten Blitar Jawa Timur. Dalam Moch. Muchlis Adie et al (eds). Inovasi Teknologi untuk Pengembangan Kedelai Menuju Swasembada. Prosiding Seminar Nasional hasil Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi. Puslitbangtan. Badan Litbang Pertanian. Bogor. 2011. Hal : 618 – 630.

Wahyuningsih,S., Y. Widodo dan N. Prasetiaswati. 2016. Kinerja Pemupukan Tiga Genotipe Ubijalar pada agroekologi lahan kering dan sawah irigasi terbatas. Dalam Tri Joko et alProseding Seminar Nasional Hasil Penelitian Pertanian, Peningkatan Sinergi dan Inovasi Teknologi untuk Kedaulatan Pangan.Fakultas Petanian Uviversitas Gajah Mada Jogjakarta. Hal 397 – 404.

KAJIAN BUDIDAYA TANAMAN KELOR (Moringa oleifera Lamk) SEBAGAI

Dalam dokumen prosiding pertanian 2017 COVER (Halaman 53-58)

Garis besar

Dokumen terkait