• Tidak ada hasil yang ditemukan

DI TATARAN GLOBAL Agus Munandar

Dalam dokumen PENGARUH DISIPLIN KERJA MANAJEMEN WAKTU (Halaman 72-78)

Variabel X Kenaikan harga

DI TATARAN GLOBAL Agus Munandar

Universitas Tujuh Belas Agustus Jakarta

[email protected]

Abstark. Penelitian ini bertujuan untuk menyelidiki disonansi kognitif Muslim pelanggan di usurious perbankan. Disonansi kognitif adalah perbedaan antara dua kondisi elemen kognitif yang menyebabkan ketidaknyamanan psikologis. Desain penelitian ini menggunakan posttest kontrol kelompok desain. Subjek percobaan adalah Muslim pelanggan di perbankan konvensional. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelanggan Muslim yang menyimpan usurious Bank dan mendapatkan informasi larangan riba akan mendapat disonansi kognitif. Fenomena disonansi kognitif Muslim pelanggan adalah kesempatan untuk perbankan Syariah untuk meningkatkan pangsa pasar melalui strategi sejalan dan sekata kognitif. Sejalan dan sekata harus dilakukan dengan memperkuat informasi kognisi riba. Akhirnya, nasabah Muslim hanya memiliki satu alternatif bahwa mereka harus mengubah perilaku tabungan mereka. Informasi riba adalah dibingkai dalam bentuk pesan yang logis dan persuasif. Selain itu, perbankan Syariah nasional harus memfasilitasi switching dengan biaya switching yang murah dan berkualitas tinggi teknis dan layanan pelanggan. Kata Kunci: Disonansi Kognitif, Daya Saing, Riba Kognisi, Perbankan.

Abstract. This study aims to investigate the cognitive dissonance of Muslim customers in usurious banking. Cognitive dissonance is a discrepancy between the two conditions of the cognitive elements that causes psychological discomfort. This research design uses posttest control group design. The subject of experiment is Muslim customers in conventional banking. The results showed that the Muslim customers who save in usurious banks and getting information of prohibition of usury will got cognitive dissonance. The phenomenon of cognitive dissonance of Muslim customers is opportunity for Islamic banking to increase its market share through cognitive consonance strategy. Consonance should be done by strengthening information of cognition of usury. Finally, Muslim customers only have one alternative tha t they have to changes their savings behavior. Information of usury is framed in the form of a logical and persuasive message. In addition, Islamic banking should facilitate customer switching with cheap switching cost and excellent technical quality and service.

Keywords: Cognitive Dissonance, Competitiveness, Usury Cognition, Banking. Keberadaan bank syariah (Islamic Bank)

memiliki peranan penting untuk kehidupan ekonomi modern. Di Indonesia, kehadiran bank syariah memberikan alternatif jasa perbankan kepada masyarakat Indonesia sehingga lebih mudah untuk mengakses dan memilih produk perbankan. Perbankan syariah menawarkan produk perbankan yang berdasarkan prinsip bagi hasil sehingga saling menguntungkan baik bagi masyarakat maupun bank. Selain itu, perbankan syariah selalu berusaha untuk menonjolkan aspek syariah baik dalam produk maupun dalam bertransaksi. Alhasil, penggunaan produk syariah akan mendukung pertumbuhan kegiatan bisnis karena

mengurangi transaksi yang bersifat spekulatif. Kesesuaian dengan tuntunan islam merupakan keunggulan bersaing perbankan syariah. Ketika mayoritas perbankan konvensional menawarkan transaksi dan produk perbankan ribawi di masyarakat muslim, perbankan syariah hadir untuk menawarkan produk dan transaksi perbankan yang sesuai dengan keyakinan umat islam. Keunggulan ini merupakan daya tarik bagi masyarakat indonesia untuk menggunakan produk perbankan syariah.

Pasca diberlakukannya Undang-Undang No. 21 Tahun 2008 tentang perbankan syariah yang terbit 16 Juli 2008, pengembangan industri

71 perbankan syariah nasional semakin pesat

karena memiliki landasan hukum yang memadai. Lebih dari itu, terbitnya Undang- Undang Perbankan Syariah tersebut juga merupakan bentuk kehendak politik (political will) pemerintah untuk menjadikan perbankan syariah memiliki landasan hukum dan kemampuan bersaing.

Berbasis pada perkembangan rata-rata pertumbuhan aset yang lebih dari 65 % pertahun dalam lima tahun terakhir, industri perbankan syariah dapat diharapkan untuk mendukung perekonomian nasional secara signifikan. Pesatnya pertumbuhan perbankan syariah terlihat dari pertambahan jumlah kantor yang tumbuh sangat cepat selama periode 2009- Januari 2015. Selama periode tersebut terjadi penambahan jumlah bank sebanyak 6 bank, jumlah kantor sebanyak 1.434 kantor. Adapun bank pembiayaan rakyat syariah terjadi penambahan bank sebanyak 26 bank dan jumlah kantor sebanyak 252 kantor.

Pertumbuhan perbankan syariah diproyeksikan akan terus berlanjut karena perkembangan dan kinerja usaha perbankan syariah senantiasa konsisten meskipun perekonomian global mengalami perlambatan. Sebagai misal, sepanjang tahun 2012 berbagai negara terkena dampak krisis keuangan global sehingga memperlambat laju pertumbuhan ekonomi di negara tersebut, industri perbankan syariah hanya mendapat dampak yang berpengaruh relatif minimal. Ketahanan perbankan syariah di sepanjang periode krisis tersebut juga terlihat dari pertumbuhan volume usaha perbankan syariah yang masih relatif cukup tinggi.

Walaupun perbankan syariah

berkembang pesat secara kelembagaan, OJK melihat pangsa pasar industri keuangan syariah di Indonesia masih relatif kecil sekitar 5 % - 7 % (Otoritas Jasa Keuangan, 2014). Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan memberikan solusi terhadap masalah pangsa pasar di industri keuangan syariah.

Optimistis perbankan syariah untuk bertumbuh dan menjadi global player keuangan syariah disebabkan oleh berbagai faktor di antaranya: (1) jumlah penduduk muslim Indonesia yang besar; (2) prospek ekonomi

yang cerah karena pertumbuhan ekonomi yang relatif tinggi sekitar 6,0 % - 6,5 %); (3) peningkatan sovereign credit rating Indonesia; dan (4) Indonesia memiliki kekayaan sumber daya alam yang dapat dijadikan sebagai underlying transaksi syariah (Alamsyah, 2012).

Menurut penilaian Global Islamic Financial Report (GIFR) pada tahun 2011, Indonesia memiliki menempati memiliki potensi dalam pengembangan industri keuangan syariah di urutan keempat setelah Iran, Malaysia dan Saudi Arabia. Bahkan, berdasarkan beberapa penghitungan indeks, Indonesia diproyeksikan akan menempati posisi pertama dalam beberapa tahun mendatang.

Berdasarkan latar belakang historis perbankan syariah di Indonesia, berbagai fatwa haram bunga bank (riba) merupakan latar belakang lahirnya perbankan syariah (Pratikto

dan Sugianto, 2011). Organisasi

Muhammadiyah telah memfatwakan haramnya bunga bank melalui hasil keputusan Majlis Tarjih tahun 1968 dan 1972. Adapun Nahdlatul ‘Ulama memfatwakan haram bunga bank melalui hasil keputusan Lajnah Bahsul Masa’il tahun 1982. Majlis Ulama Indonesia (MUI) juga telah memfatwakan serupa melalui fatwa MUI No. 1 tahun 2004 tentang bunga bank.

Fatwa-fatwa tersebut secara tidak langsung bermaksud mengubah perilaku komunitas. Informasi (fatwa) tentang haram bunga bank seharusnya menjadi pengetahuan (kognisi) umat islam bahwa bunga bank adalah haram karena riba. Oleh karena itu, dapat diindikasikan bahwa para nasabah muslim yang bertransaksi riba di perbankan ribawi mengalami disonansi kognitif karena ketidaksesuaian yang terjadi antara dua elemen kognitif (pengetahuan dan perilaku). Menurut Festinger (1957: 3) disonansi kognitif merupakan kondisi ketidaksesuaian yang terjadi antara dua elemen kognitif sehingga menyebabkan ketidaknyamanan psikologis dan memotivasi orang untuk mengurangi disonansi. Seperti orang yang meyakini bahwa riba itu haram tetapi masih beraktivitas di perbankan ribawi (Hassan, 2007). Adapun Griffin (2012: 217) menjelaskan disonansi kognisif sebagai kondisi tekanan mental karena ketidak- konsistenan antara keyakinan dan perilaku.

72 Tabel 1. Jaringan Kantor Perbankan Syariah

Sumber: Otoritas Jasa Keuangan Syariah, 2015

Berdasar pada latar belakang tersebut, penelitian ini bertujuan menguji disonansi kognitif nasabah muslim di perbankan konvensional. Lebih dari itu, riset ini merumuskan strategi bersaing untuk meningkatkan pangsa pasar keuangan syariah berdasarkan hasil eksperimen.

METODE PENELITIAN

Metode penelitian merupakan langkah dan prosedur yang ditempuh untuk mengumpulkan data penelitian dan menganalisis data tersebut untuk memecahkan masalah penelitian secara empiris. Metode penelitia di penelitian ini sebagai berikut,

Desain Penelitian

Penelitian ini menggunakan metoda eksperimen karena riset ini bertujuan menginvestigasi sebuah fenomena dengan cara merekayasa keadaan atau kondisi dengan prosedur tertentu dan kemudian mengamati

hasil perekayasaan dan

menginterprestasikannya (Nahartyo, 2012). Desain penelitian ini adalah desain grup kontrol dengan purnauji (posttest control group design).

Pemilihan atas desain tersebut karena menghadirkan validitas internal yang tinggi. Kekuatan desain ini terletak pada randomisasi manipulasi karena mampu mengurangi ancaman validitas internal penelitian eksperimen. Secara simbol, desain penelitian ini sebagai berikut:

Secara praktik, subjek penelitian dikategorikan menjadi dua grup secara acak (randomisasi). Grup pertama memperoleh manipulasi sedangkan grup kedua berperan sebagai grup pembanding sehingga tidak memperoleh manipulasi dari eksperimenter. Dengan adanya randomisasi, ekuivalensi antargrup subjek akan tercapai dan menghasilkan error terms yang tidak berkorelasi dan menghasilkan estimasi error terms yang valid (Shadish dkk, 2002).

Tugas dan instrumen eksperimen yang digunakan untuk menimbulkan disonansi kognitif di grup pertama adalah informasi fatwa haram bunga bank yang dikeluarkan oleh Majlis Ulama Indonesia (MUI). Menurut lokasi

Indikator

2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015

Bank UmumSyariah

a. Jumlah Bank 6 11 11 11 11 12 12

b. Jumlah Kantor 711 1.215 1.401 1.745 1.998 2.151 2.145 Unit Usaha Syariah

a. Jumlah Bank Umum

Konvensional yang memiliki UUS 25 23 24 24 23 22 22

b. Jumlah Kantor 287 262 336 517 590 320 322

Bank Pembiayaan Rakyat Syariah

a. Jumlah Bank 138 150 155 158 163 163 164 b. Jumlah Kantor 225 286 364 401 402 439 477 Total Kantor 1.223 1.763 2.101 2.663 2.990 2.910 2.944 R X O1 R O1

73 pelaksanaanya, eksperimen laboratorium

digunakan dalam penelitian ini. Keunggulan esksperimen laboratorium adalah kekuatan eksperimenter dalam memanipulasi variabel independen dan mengontrol variabel lain yang berpotensi mempengaruhi variabel dependen tetapi tidak relevan dengan tujuan penelitian (Nahartyo, 2012).

Subjek Penelitian

Partisipan penelitian merupakan nasabah muslim di perbankan konvensional. Partisipan yang muslim berpotensi akan mengalami disonansi kognitif karena informasi keharaman bunga bank. Desain eksperimen ini adalah desain grup kontrol dengan purnauji, sehingga jumlah partisipan yang terlibat dalam eskperimen ini adalah 40 orang. Ukuran sampel tersebut telah sesuai dengan rekomendasi Cowles (1974) dalam Christensen (1988) bahwa jumlah minimal untuk tiap sel adalah 15 orang. Kategorisasi subjek dilakukan secara random agar hasil eksperimen memiliki validitas internal yang tinggi.

Cek Manipulasi

Setelah partisipan membaca tugas eksperimen, partisipan diminta untuk menjawab pertanyaan cek manipulasi. Cek manipulasi merupakan tindakan untuk menilai bagaimana peserta memahami dan menafsirkan manipulasi yang diberikan oleh eksperimenter. Oleh karena itu, cek manipulasi di riset ini berisi pertanyaan apakah subjek penelitian memahami informasi keharaman riba. Alhasil, pertanyaan cek manipulasi tersebut adalah (1) Menurut MUI, apakah bunga bank itu haram? (2) Menurut saudara, apakah perbankan konvensional menggunakan bunga bank? (3) Menurut saudara, apakah menabung di perbankan konvensional hukumnya haram?. Jawaban atas pertanyaan cek manipulasi tersebut adalah ya atau tidak.

Pengukuran Disonansi Kognitif

Setelah partisipan mengisi form cek manipulasi, subjek penelitian diminta untuk menjawab pertanyaan penelitian untuk menguji eksistensi disonansi kognitif. Skala tipe likert 5

poin (5-point Likert-type scales) digunakan dalam pengukuran disonansi kognitif. Keempat item pertanyaan berikut menggunakan rentang skala 1 (sangat tidak setuju) hingga 5 (sangat setuju).

Uji Beda T-Test

Eksistensi disonansi kognitif diuji menggunakan uji beda t-test. Uji beda ini digunakan untuk menginvestigasi hubungan antara variabel independen (skala non metrik) dan variabel dependen (skala metrik). Variabel independen penelitian ini adalah kategorial (disonansi kognitif dan tidak). Adapun variabel dependen adalah nilai tingkat disonansi kognitif (O1).

HASIL DAN PEMBAHASAN

Pembahasan hasil dan pembahasan penelitian yang diawali dengan pembahasan hasil pengecekan manipulasi. Pengecekan manipulasi dilakukan dalam rangka menyaring jawaban apakah akan digunakan dalam tahap berikutnya, berupa tahap analisis. Bagian berikutnya dipaparkan mengenai statistik deskriptif jawaban subjek penelitian terhadap instrumen yang disajikan. Adapun pada bagian akhir bab dipaparkan mengenai hasil penelitian sekaligus pembahasan.

Cek Manipulasi

Setelah para partisipan merespon kasus yang disajikan, para partisipan diminta untuk menjawab pertanyaan cek manipulasi untuk menguji apakah manipulasi (treatment) yang diberikan oleh peneliti diterima secara baik oleh subjek penelitian. Para partisipan yang mendapat manipulasi kondisi disonansi kognitif berjumlah 20 partisipan. Akan tetapi ada 3 partisipan yang merespon pertanyaan cek manipulasi secara salah. Oleh karena itu, 3 partisipan tersebut tidak dimasukan dalam analisis (dropped). Adapun para partisipan yang mendapat tidak mendapat manipulasi kondisi berjumlah 20 partisipan pula. Sejumlah 2 partisipan merespon pertanyaan cek manipulasi secara salah. Oleh karena itu, 2 partisipan tersebut tidak dimasukan dalam analisis (dropped).

74 Tabel 2. DisonansiKognitif

Statistik Deskriptif

Statistik deskriptif merupakan statistik

yang menggambarkan fenomena dan

karakteristik data (Jogiyanto, 2004). Menurut Indriantoro dan Supomo (2002), statistik deskriptif dalam penelitian pada dasarnya merupakan proses transformasi data dalam bentuk tabulasi sehingga mudah dipahami dan diinterprestasikan. Karenanya statistik deskriptif digunakan oleh mayoritas peneliti untuk memaparkan karakteristik variabel penelitian. Statistik memberikan gambaran mengenai nilai rata-rata (mean), maksimum, minimum, jumlah, range.

Jumlah subjek penelitian final di penelitian ini adalah 35 orang. Subjek penelitian tersebut dikategorikan ke kelompok manipulasi sebanyak 17 orang. Adapun subjek penelitian yang dikategorikan ke kelompok kontrol sebanyak 18 orang. Analisis statistik deskriptif seperti pada tabel 3menunjukkan nilai minimum dan maksimum dari masing-masing variabel kontrol adalah 1,5 dan 2,75. Adapun untuk variabel disonansi kognitif memiliki nilai minimum sebesar 3 dan nilai maksimum sebesar 4,25. Selain nilai minimum dan maksimum, analisis statistik deskriptif di tabel 3. 1 juga menunjukkan nilai nilai rata-rata dari setiap variabel yang diteliti dan rentang nilai antara minimum dan maksimum.

Uji Normalitas Data

Asumsi normalitas data merupakan hal penting dalam pengujian parametrik. Asumsi normalitas merupakan asumsi bahwa setiap

variabel berdistribusi normal sehingga nilai residual juga berdistribusi normal dan independen. Ketika data berdistribusi normal, perbedaan antara nilai prediksi dengan nilai sesungguhnya akan terdistribusi secara simetri di sekitar nilai rata-rata.

Padatabel4berikutakanmenunjukkanhasilu ji Shapiro WilkdanLilliefors. Nilai p value (Sig) lillieforspada kelompok kontrol dan kelompok disonansi kognitif secara berurutan adalah 0,20 dan 0,63. Karena kedua nilai tersebut>0,05 maka berdasarkan uji lilliefors, data tiap grup berdistribusi normal. Adapun untuk uji Shapiro wilk pada kelompok kontrol sebesar 0,884 > 0,05 dan pada kelompok disonansi kognitif sebesar 0,774> 0,05. Oleh karena itu, berdasarkanuntuk uji Shapiro wilk, kedua grup tersebut berdistribusi normal.

Uji Disonansi Kognitif

Uji beda komparatif digunakan untuk menentukan apakah dua kelompok sampel yang tidak berhubungan memiliki nilai rata-rata (means) yang berbeda. Penelitian ini bermaksud menentukan apakah informasi riba menimbulkan disonansi kognitif. Alhasil, sampel dikelompokan menjadi dua grup, kelompok pertama diberi manipulasi berupa informasi keharaman riba sedangkan kelompok kedua tidak diberi informasi keharaman riba. Selain membandingkan, uji beda komparatif juga menghasilkan nilai signifikansi perbedaan sehingga dapat diketahui apakah kedua kelompok sampel mengalami perbedaan disonansi kognitif yang signifikan.

Variabel Dimensi Indikator

Disonansikognitif

Emosional Munculperasaantidaknyamansaatmenabung di bank ribawi. Muncul perasaan tidak senang setelah menabung di bank ribawi. Kognitif Ada pikiran yang tidakmembenarkanperilakumenabung di bank ribawi.

75 Tabel 3. StatistikDeskriptif Kelompok Nilai Kontrol Rata-rata 2. 3056 Nilai tengah 2. 3750 Minimum 1. 50 Maksimum 2. 75 Range 1. 25 DisonansiKognitif Rata-rata 3. 5735 Nilai tengah 3. 5000 Minimum 3. 00 Maksimum 4. 25 Range 1. 25

Tabel 4. UjiNormalitas Data

Tabel 5. Hasil Uji Beda Komparatif Levene's Test for Equality

of Variances t-test for Equality of Means

F Sig. T f Sig. (2- tailed) Mean Difference Std. Error Difference Equal variances assumed 10. 027 . 67 13.907 3 . 000 2.16830 .15591

Pada tahap uji komparatif, ada dua tahapan analisis yaitu menguji asumsi varian populasi dan menguji komparatif. Tahapan pertama bermaksud menguji apakah varian populasi kedua sampel tersebut sama atau berbeda berdasarkan nilai levene test. Nilai levene test di tabel 3.3 sebesar 10,02 dengan probabilitas 0,67 dan lebih besar dari 0,05 maka dapat dikatakan bahwa H0 ditolak. Alhasil,

data disonansi kognitif memiliki varian sama atau tidak berbeda.

Pada tahapan kedua yaitu uji komparatif atau pengambilan keputusan. Karena varian kedua sampel tersebut sama maka analisis uji beda t-test harus menggunakan asumsi equal variances assumed. Berdasarkan pada hasil uji beda komparatif di tabel 3.3 di atas diperoleh hasil nilai p value sebesar 0,000 < 0,05 sehingga perbedaan antara grup kontrol dan

Grup

Kolmogorov-Smirnova Shapiro-Wilk

Statistic Df Sig. Statistic Df Sig.

Kontrol . 909 18 . 200 . 959 18 . 884

76 grup manipulasi berbeda secara statistik atau

signifikan.

Berdasarkan hasil uji data statistik tersebut menunjukan bahwa nasabah muslim yang melakukan simpanan (menabung) di perbankan ribawi dan mendapatkan informasi tentang keharaman riba akan mengalami disonansi kognitif. Disonansi tersebut disebabkan oleh perbedaan antara kognisi tentang keharaman riba dan perilaku menabung di perbankan ribawi. Selain itu, disonansi kognitif yang dialami oleh penabung di perbankan ribawi berbeda secara signifikan dibandingkan dengan penabung di perbankan ribawi tetapi tidak mengetahui keharaman riba. Hasil penelitian ini sesuai dengan teori disonansi kognitif yang dikembangkan oleh Festinger (1957: 3) bahwa disonansi kognitif merupakan kondisi ketidaksesuaian yang terjadi antara dua elemen kognitif sehingga menyebabkan ketidaknyamanan psikologis. Di fenomena ini, ketidaksesuaian tersebut dikarenakan kognisi keharaman riba dan perilaku menabung di perbankan ribawi. Selain itu, disonansi kogitif yang dialami oleh para penabung muslim di perbankan ribawi sesuai dengan ilustrasi yang disampaikan oleh Hassan (2007) bahwa orang yang meyakini bahwa riba itu haram tetapi masih beraktivitas di perbankan ribawi (Hassan, 2007).

DISONANSI KOGNITIF DAN STRATEGI

Dalam dokumen PENGARUH DISIPLIN KERJA MANAJEMEN WAKTU (Halaman 72-78)