• Tidak ada hasil yang ditemukan

TOTAL ASSET TURNOVER

Dalam dokumen PENGARUH DISIPLIN KERJA MANAJEMEN WAKTU (Halaman 90-95)

Variabel X Kenaikan harga

TOTAL ASSET TURNOVER

=

Gambar 1. Model Penelitian

Tabel 3. Operasional Variabel

Variabel Dimensi Indikator

1. Pendapatan dan beban

a. pendapatan 1) Pendapatan dari penjualan diakui pada saat penjualan jasa di counter penjualan

2) Pendapatan dari penyelenggaraan paket wisata diakui pada saat perjalanan wisata dilakukan b. beban beban diakui pada saat terjadinya

2. Aset a. Aset lancar 1) Kas dan setara kas 2) Investasi jangka pendek 3) Penyisihan piutang ragu-ragu

4) Transaksi dengan pihak-pihak yang mempunyai hubungan istimewa

5) Biaya dibayar dimuka b. Aset tidak

lancar

1) Aktiva pajak tangguhan 2) Aset tetap

3) Selisih lebih biaya perolehan investasi atas aktiva bersih anak perusahaan

HASIL DAN PEMBAHASAN

Gross Profit Margin (Marjin Laba Kotor) Marjin laba kotor merupakan jumlah perbandingan laba kotor dengan penjualan. Data marjin laba kotor kedua emiten terdapat pada tabel 4 dan 5.

Marjin laba kotor Bayu Buana mengalami penurunan pada tahun 2011 dibandingkan dengan posisi pada tahun 2010. Hal ini disebabkan karena kenaikan laba kotor pada

total pejualan mengalami kenaikan sebesar 14,88 %.

Kenaikan penjualan tertinggi terjadi pada tahun 2011, meningkat sebesar 14,88% dibandingkan periode sebelumnya. Peningkatan penjualan pada tahun 2011 disebabkan oleh meningkatnya pengelolaan kegiatan perjalanan wisata yang mencapai 38,62%.

Sementara itu, kenaikan laba kotor tertinggi terjadi pada tahun 2012, dimana terjadi peningkatan sebesar 22,18% bila dibandingkan dengan periode sebelumnya.

89 Tabel 4. Penghitungan Gross Profit Margin PT Bayu Buana, Tbk

(dalam miliar Rupiah)

KETERANGAN 2013 2012 2011 2010 2009

Laba Kotor 87,852 75,982 62,187 56,04 49,560 Penjualan 1.606,656 1.528,573 1.385,287 1.205,856 1.140,656

GPM 5,47% 4,97% 4,49% 4,65% 4,34%

Sumber: Diolah dari Laporan Keuangan PT Bayu Buana, Tbk

Tabel 5. Penghitungan Gross Profit Margin PT Panorama Sentrawisata, Tbk (dalam miliar Rupiah)

KETERANGAN 2013 2012 2011 2010 2009

Laba kotor 324,213 266,871 222,153 168,724 144,792

Penjualan 1.693,742 1.547,130 2.008,340 1.683,088 1.524,933

GPM 19,14% 17,25% 11,06% 10,02% 9,49%

Sumber: Diolah dari Laporan Keuangan PT Panorama Sentra wisata, Tbk

Peningkatan laba kotor terjadi karena Bayu Buana mampu menekan beban pokok penjualan atas produk yang ditawarkan.

Marjin laba kotor Bayu Buana pada tahun 2009 adalah 4,34 % yang berarti bahwa sebesar 4,34 % dari total penjualan yang didapatkan merupakan laba kotor. Pada tahun 2010, marjin laba kotor mengalami kenaikan menjadi 4,65% yang berarti bahwa sebesar 4,65% dari total penjualan merupakan laba kotor. Pada tahun 2011, marjin laba kotor turun menjadi 4,49% yang berarti 4,49% dari total penjualan merupakan laba kotor. Pada tahun 2012, marjin laba kotor kembali naik menjadi 4,97% yang berarti 4,97% dari total penjualan merupakan laba kotor. Kemudian pada tahun 2013, marjin laba kotor mengalami kenaikan menjadi 5,47% yang berarti 5,47% dari total penjualan merupakan laba kotor.

Marjin laba kotor Panorama terus mengalami kenaikan dari tahun 2009 sampai dengan tahun 2013. Kenaikan penjualan dan laba kotor tertinggi terjadi pada tahun 2011. Peningkatan penjualan sebesar 19,32% disebabkan oleh meningkatnya pengelolaan kegiatan perjalanan wisata yang mencapai 15,38%. Peningkatan laba kotor sebesar 31,67%

terjadi karena Panorama mampu mengelola beban pokok penjualan atas produk yang ditawarkan dengan baik.

Marjin laba kotor panorama pada tahun 2009 adalah 9,49% yang berarti bahwa sebesar 9,49% dari total penjualan yang didapatkan merupakan laba kotor. Pada tahun 2010, marjin laba kotor mengalami kenaikan menjadi 10,02% yang berarti bahwa sebesar 10,02% dari total penjualan merupakan laba kotor. Pada tahun 2011, marjin laba kotor naik menjadi 11,06% yang berarti 11,06% dari total penjualan merupakan laba kotor. Pada tahun 2012, marjin laba kotor naik menjadi 17,25% yang berarti 17,25% dari total penjualan merupakan laba kotor. Kemudian pada tahun 2013, marjin laba kotor mengalami kenaikan menjadi 19,14% yang berarti 19,14% dari total penjualan merupakan laba kotor.

Marjin laba kotor yang semakin meningkat

menunjukkan bahwa Panorama mampu

mencetak laba kotor yang semakin tinggi. Perlu dicermati bahwa pada tahun 2011 marjin laba kotor Bayu Buana yang turun ketika jumlah total penjualan naik menunjukkan bahwa perusahaan tidak mampu menekan beban pokok penjualan dari produk-produk yang dijual.

90 Tabel 6. Penghitungan Operating Profit Margin PT Bayu Buana, Tbk

(dalam miliar Rupiah)

KETERANGAN 2013 2012 2011 2010 2009

Laba usaha 27,402 22,132 15,857 9,833 4,377

Penjualan 1.606,656 1.528,573 1.385,287 1.205,856 1.140,656

OPM 1,71% 1,45% 1,14% 0,82% 0,38%

Sumber: Diolah dari Laporan Keuangan PT Bayu Buana, Tbk

Tabel 7. Penghitungan Operating Profit Margin PT Panorama Sentrawisata, Tbk (dalam miliar Rupiah)

KETERANGAN 2013 2012 2011 2010 2009

Laba usaha 102,388 73,761 37,071 27,882 28,696

Penjualan 1.693,742 1.547,130 2.008,340 1.683,088 1.524,933 OPM 6,05% 4,77% 1,85% 1,66% 1,88%

Sumber: Diolah dari Laporan Keuangan PT Panorama Sentra wisata, Tbk

Operating Profit Margin (Marjin Laba Usaha)

Marjin laba usaha merupakan jumlah perbandingan laba usaha dengan penjualan.Data marjin laba usaha kedua emiten terdapat pada tabel 6 dan 7.

Marjin laba usaha Bayu Buana konsisten mengalami kenaikan dari tahun 2009 sampai dengan tahun 2013. Kenaikan laba usaha tertinggi terjadi pada tahun 2010, naik sebesar 124,63% dibandingkan dengan nilai laba usaha pada tahun sebelumnya. Kenaikan ini dapat terjadi karena perusahaan mampu menekan beban penjualan untuk kegiatan iklan dan promosi.

Marjin laba usaha Bayu Buana pada tahun 2009 adalah 0,38% yang berarti bahwa sebesar 0,38% dari total penjualan yang didapatkan merupakan laba usaha. Pada tahun 2010, marjin laba usaha mengalami kenaikan menjadi 0,82% yang berarti bahwa sebesar 0,82% dari total penjualan merupakan laba usaha. Pada tahun 2011, marjin laba usaha naik menjadi 1,14% yang berarti 1,14% dari total penjualan merupakan laba usaha. Pada tahun 2012, marjin laba usaha naik menjadi 1,45 %

yang berarti 1,45% dari total penjualan merupakan laba usaha. Kemudian pada tahun 2013, marjin laba usaha mengalami kenaikan menjadi 1,71% yang berarti 1,71% dari total penjualan merupakan laba usaha.

Marjin laba usaha Panorama mengalami penurunan sebesar 11,97% pada tahun 2010. Hal ini disebabkan karena kenaikan penjualan pada tahun 2010 tidak terlepas dari insentif yang diberikan kepada para karyawan untuk memacu kinerja. Adapun beban gaji dan tunjangan pada tahun 2010 naik sebesar 31,94%.

Kenaikan laba usaha tertinggi terjadi pada tahun 2012, naik sebesar 98,97% dibandingkan dengan nilai laba usaha pada tahun sebelumnya. Meskipun angka penjualan mengalami penurunan, namun Panorama berhasil melakukan efisiensi pada beban penjualan. Peningkatan laba usaha juga tidak terlepas dari adanya keuntungan selisih kurs.

Marjin laba usaha Panorama pada tahun 2009 adalah 1,88% yang berarti bahwa sebesar 1,88% dari total penjualan yang didapatkan merupakan laba usaha. Pada tahun 2010, marjin laba usaha mengalami penurunan menjadi 1,66% yang berarti bahwa sebesar 1,66% dari

91

Tabel 8. Penghitungan Net P rofit Margin PT Bayu Buana, Tbk (dalam miliar Rupiah) KETERANGAN 2013 2012 2011 2010 2009

Laba bersih 21,104 16,525 12,175 7,462 0,411

Penjualan 1.606,656 1.528,573 1.385,287 1.205,856 1.140,656

NPM 1,31% 1,08% 0,88% 0,62% 0,04%

Sumber: Diolah dari Laporan Keuangan PT Bayu Buana, Tbk

Tabel 9. Penghitungan Net P rofit Margin PT Panorama Sentrawisata, Tbk (dalam miliar Rupiah)

KETERANGAN 2013 2012 2011 2010 2009

Laba bersih 47,592 32,920 22,423 8,796 5,738

Penjualan 1.693,742 1.547,130 2.008,340 1.683,088 1.524,933

NPM 2,81% 2,13% 1,12% 0,52% 0,38%

Sumber: Diolah dari Laporan Keuangan PT Panorama Sentra wisata, Tbk

total penjualan merupakan laba usaha. Pada tahun 2011, marjin laba usaha naik menjadi 1,85% yang berarti 1,85% dari total penjualan merupakan laba usaha. Pada tahun 2012, marjin laba usaha mengalami kenaikan luar biasa sebesar 158,29% menjadi 4,77% yang berarti 4,77% dari total penjualan merupakan laba usaha. Kemudian pada tahun 2013, marjin laba usaha mengalami kenaikan menjadi 6,05% yang berarti 6,05% dari total penjualan merupakan laba usaha.

Marjin laba usaha yang semakin meningkat menunjukkan bahwa baik Bayu Buana maupun Panorama mampu menekan beban usahanya. Net Profit Margin (Marjin Laba Bersih)

Marjin laba bersih merupakan jumlah perbandingan laba bersih dengan penjualan. Data marjin laba bersih kedua emiten terdapat pada tabel 8 dan 9.

Marjin laba bersih Bayu Buana terus mengalami kenaikan sepanjang periode 2009 hingga 2013. Kenaikan laba bersih tertinggi terjadi pada tahun 2010, naik sebesar 1.711,69% dibandingkan nilai laba bersih pada tahun sebelumnya. Hal ini tidak terlepas dari buruknya nilai laba bersih tahun 2009, yang

tergerus oleh karena adanya kerugian selisih kurs yang besar.

Marjin laba bersih Bayu Buana pada tahun 2009 adalah 0,04% yang berarti bahwa sebesar 0,04% dari total penjualan yang didapatkan merupakan laba bersih. Pada tahun 2010, marjin laba bersih mengalami kenaikan menjadi 0,62% yang berarti bahwa sebesar 0,62% dari total penjualan merupakan laba bersih. Pada tahun 2011, marjin laba bersih naik menjadi 0,88% yang berarti 0,88% dari total penjualan merupakan laba bersih. Pada tahun 2012, marjin laba bersih naik menjadi 1,08% yang berarti 1,08% dari total penjualan merupakan laba bersih. Kemudian pada tahun 2013, marjin laba bersih mengalami kenaikan menjadi 1,31% yang berarti 1,31% dari total penjualan merupakan laba bersih.

Marjin laba bersih Panorama terus mengalami kenaikan sepanjang periode 2009 hingga 2013. Kenaikan laba bersih tertinggi terjadi pada tahun 2011, naik sebesar 154,91% dibandingkan nilai laba bersih pada tahun sebelumnya. Hal ini tidak terlepas dari nilai penjualan yang naik dan pengelolaan atas beban yang baik juga karena adanya keuntungan selisih kurs.

92 Marjin laba bersih Panorama pada tahun

2009 adalah 0,38% yang berarti bahwa sebesar 0,38% dari total penjualan yang didapatkan merupakan laba bersih. Pada tahun 2010, marjin laba bersih mengalami kenaikan menjadi 0,52% yang berarti bahwa sebesar 0,52% dari total penjualan merupakan laba bersih. Pada tahun 2011, marjin laba bersih naik menjadi 1,12% yang berarti 1,12% dari total penjualan merupakan laba bersih. Pada tahun 2012, marjin laba bersih naik menjadi 2,13% yang berarti 2,13% dari total penjualan merupakan laba bersih. Kemudian pada tahun 2013, marjin laba bersih mengalami kenaikan menjadi 2,81% yang berarti 2,81% dari total penjualan merupakan laba bersih.

Marjin laba bersih yang semakin meningkat menunjukkan bahwa baik Bayu Buana maupun Panorama mampu melakukan efisiensi atas beban-beban yang harus ditanggung untuk mempertahankan tingkat profitabilitas.

Operating Income Return on Investment (Rasio Laba Usaha Terhadap Tingkat Pengembalian Investasi)

Rasio laba usaha terhadap tingkat pengembalian investasi merupakan jumlah perbandingan laba usaha dengan total aset yang dimiliki. Data rasio laba usaha terhadap tingkat pengembalian investasi kedua emiten terdapat pada tabel 10 dan 11.

Rasio laba usaha terhadap tingkat pengembalian investasi Bayu Buana terus mengalami kenaikan sepanjang periode 2009 hingga 2013. Kenaikan total aset tertinggi terjadi pada tahun 2012, naik sebesar 35,17% dibandingkan nilai total aset pada periode tahun sebelumnya. Kenaikan nilai total aset tidak saja karena adanya kenaikan nilai aktiva lancar, namun juga karena adanya penyesuaian nilai aktiva aset tidak lancar pada pos efek yang siap dijual kapan saja.

Rasio laba usaha terhadap tingkat pengembalian investasi Bayu Buana pada tahun 2009 adalah 2,14% yang berarti bahwa investasi perusahaan pada aset-asetnya dapat menghasilkan laba usaha sebesar 2,14%. Pada tahun 2010 rasio laba usaha terhadap tingkat pengembalian investasi naik sebesar 110,08% menjadi 4,50% yang berarti bahwa investasi

perusahaan pada aset-asetnya dapat menghasilkan laba usaha sebesar 4,50%. Pada tahun 2011 rasio laba usaha terhadap tingkat pengembalian investasi naik menjadi 6,18% yang berarti bahwa investasi perusahaan pada aset-asetnya dapat menghasilkan laba usaha sebesar 6,18%.

Pada tahun 2012 rasio laba usaha terhadap tingkat pengembalian investasi naik menjadi 6,39% yang berarti bahwa investasi perusahaan pada aset-asetnya dapat menghasilkan laba usaha sebesar 6,39%. Namun pada tahun 2013, rasio laba usaha terhadap tingkat pengembalian investasi mengalami penurunan menjadi 6,04% yang berarti bahwa investasi perusahaan pada aset-asetnya dapat menghasilkan laba usaha sebesar 6,04% dari total aset yang dimiliki.

Rasio laba usaha terhadap tingkat pengembalian investasi Panorama terus mengalamai kenaikan sepanjang periode 2009 hingga 2013. Kenaikan total aset tertinggi terjadi pada tahun 2012, naik sebesar 33,98% dibandingkan nilai total aset pada periode tahun sebelumnya. Kenaikan nilai total aset terjadi bukan hanya karena adanya peningkatan aktiva lancar, namun juga karena adanya penyesuaian atas nilai aktiva tetap yang dimiliki.

Rasio laba usaha terhadap tingkat pengembalian investasi Panorama pada tahun 2009 adalah 5,91% yang berarti bahwa investasi perusahaan pada aset-asetnya dapat menghasilkan laba usaha sebesar 5,91%. Pada tahun 2010 rasio laba usaha terhadap tingkat pengembalian investasi turun menjadi 4,51% yang berarti bahwa investasi perusahaan pada aset-asetnya dapat menghasilkan laba usaha sebesar 4,51%. Pada tahun 2011 rasio laba usaha terhadap tingkat pengembalian investasi kembali mengalami kenaikan menjadi 4,86% yang berarti bahwa investasi perusahaan pada aset-asetnya dapat menghasilkan laba usaha sebesar 4,86%.

Pada tahun 2012 rasio laba usaha terhadap tingkat pengembalian investasi naik sebesar 48,51% menjadi 7,22% yang berarti bahwa investasi perusahaan pada aset-asetnya dapat menghasilkan laba usaha sebesar 7,22%. Pada tahun 2013, rasio laba usaha terhadap tingkat pengembalian investasi melanjutkan tren peningkatan menjadi 7,99% yang berarti bahwa

93 Tabel 10. Penghitungan Operating Income Return on Investment

PT Bayu Buana, Tbk(dalam miliar Rupiah)

KETERANGAN 2013 2012 2011 2010 2009

Dalam dokumen PENGARUH DISIPLIN KERJA MANAJEMEN WAKTU (Halaman 90-95)