• Tidak ada hasil yang ditemukan

DISONANSI KOGNITIF DAN STRATEGI PERBANKAN SYARIAH

Dalam dokumen PENGARUH DISIPLIN KERJA MANAJEMEN WAKTU (Halaman 78-83)

Variabel X Kenaikan harga

DISONANSI KOGNITIF DAN STRATEGI PERBANKAN SYARIAH

Pemicu Disonansi Kognitif Dan Konsonansi Secara Syariat.

Menurut Festinger (1975) disonansi kognitif cenderung untuk direduksi oleh pasien. Festinger (1957) menyampaikan bahwa penderita disonansi kognitif cenderung untuk menurunkan disonansi kognitif melalui tiga cara berikut: (1) individu mengubah satu atau lebih dari sikap, perilaku, atau keyakinan sehingga membuat hubungan antara dua elemen kognitif menjadi konsonan. Sebagai misal ketika salah satu unsur disonan adalah perilaku maka individu cenderung untuk mengubah perilaku tersebut;(2) individu berusahauntuk memperoleh informasi baru yang mengurangi

disonan seperti informasi yang mendukung perilakunya seperti informasi hukum makruhnya bunga bank; (3) seseorang cenderung untuk mengurangi disonansi dengan cara mengurangi pentingnya kognisi (trivialization). Sebagai misal, seseorang bisa meyakinkan dirinya sendiri bahwa lebih menabung di perbankan ribawi lebih baik karena mendapatkan keuntungan yang lebih banyak daripada menabung di perbankan syariah.

Secara syariat pembenaran perilaku dosa tidak dibenarkan dengan mengubah hukum haram menjadi halal (perubahan kognisi) sehingga satu-satunya alternatif ketika terjadi disonansi antara informasi kebenaran dengan perilaku dosa adalah meninggalkan dosa tersebut. Sebagai misal ketika Alloh mengharamkan khamar, Alloh memerintahkan orang-orang yang beriman untuk meninggalkan minuman keras dan tidak memerintahkan manusia mencari pembenaran atas minuman keras tersebut. Hal ini tercantum jelas di Q.S Al-Ma’idah ayat (5:10) yang terjemahannya,

“Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan."

Riba merupakan salah satu dari tujuh dosa yang membinasakan yang diperintahkan untuk dijauhi oleh setiap muslim. Riba merupakan dosa yang diklasifikasikan menjadi salah satu dari tujuh hal yang mebinasakan berdasarkan pada hadist yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah bahwa Nabi SAW bersabda:

“Hindarilah tujuh hal yang membinasakan,” Para sahabat bertanya, “Apakah tujuh hal yang membinasakan tersebut wahai Rasulullah?” Beliau Menjawab,’ Perbuatan syirik terhadap Alloh, sihir, membunuh orang yang diharamkan oleh Alloh kecuali dengan alasan yang haq, memakan riba, memakan harta anak yatim, lari dari medan perang, dan menuduh wanita suci yang sudah menikah bahwa mereka berzina.”

Para pemakan riba juga akan mendapatkan siksa berupa mereka tidak akan

77 bisa berdiri kecuali seperti orang kesurupan

setan sebagaimana disebutkan di Q.S Al- Baqarah 275. Selain itu, Alloh dan rasul-Nya juga memaklumkan perang terhadap para pemakan riba. Hal ini jelas tersurat dalam Q.S Al- Baqarah: 278-28.

Berdasarkan pemaparan di atas maka disonansi kognitif karena informasi riba dan perilaku menabung di perbankan ribawi adalah merubah perilaku. Para penabung muslim wajib meninggalkan perbankan ribawi dan beralih menabung di perbankan syariah sehingga terjadi konsonansi kognitif.

Pola Konsonansi dan Daya Saing Perbankan Disonansi kognitif yang dialami oleh para nasabah muslim yang menabung di perbankan ribawi merupakan kesempatan bagi perbankan syariah untuk melakukan tindakan konsonansi. Tindakan konsonansi adalah suatu tindakan untuk mengkonsistensikan antara pemikiran tentang riba dan perilaku menabung di perbankan syariah. Penelitian telah membuktikan bahwa pengaruh disonansi kognitif mampu mengubah keyakinan dan perilaku sebagaimana riset Aronson (1969, 1980); Brehm & Wicklund (1976); dan Freedman (1965).

Teknik yang melibatkan disonansi (dissonance-related techniques) telah terbukti secara empiris mampu mengubah perilaku untuk mengurangi berat badan (Axsom & Cooper, 1981), untuk menurunkan fobia terhadap ular (Cooper, 1980; Cooper & Axsom, 1982), dan digunakan sebagai salah satu komponen program yang dirancang untuk memotivasi konservasi energi (Gonzales, Aronson, & Costanzo, 1988). Lebih dari itu, Pallak dkk. telah mendemonstrasikan bahwa intervensi berbasis disonansi (dissonance- related interventions) dapat mengubah perilaku dalam jangka panjang.

Mekanisme tersebut seharusnya ditempuh oleh perbankan dalam memicu konsistensi kognitif. Konsonansi kognitif tersebut melalui dua tahapan yakni penyajian informasi yang benar dan mudah dipahami, dan tahapan perubahan untuk perpindahan perilaku menabung (saving switching).

Tahapan penyajian informasi merupakan tahapan penting untuk membentuk konsistensi kognitif antara pemikiran (thought) dan emosi (emotion). Steven Hassan menyatakan bahwa seseorang membutuhkan konsistensi antara pemikiran (thought), emosi (emotions), dan perilaku (behavior) (Hassan, 2000). Hal tersebut sebagaimana gambar 3.1. Pada tahapan pertama, pemikiran dan emosi nasabah muslim yang menabung di perbankan ribawi memiliki informasi (kognisi) tentang keharaman riba. Alhasil, perubahan perilaku berawal dari perubahan pemikiran dan emosi yang berbasis pada informasi yang logis dan ilmiah.

Ketika melakukan pendekatan persuasif untuk perubahan perilaku (behavior switching), syariat memberikan panduan untuk mendesain informasi. Panduan ini telah diimplementasikan oleh para pendakwah kebenaran.

Konten Informasi harus Ilmiah dan Logis Umat hendaknya diseru dengan argumentasi yang logis dan ilmiah sehingga informasi dapat diterima dengan baik. Pendekatan ini telah diimplementasikan oleh Nabi ketika menyeru umat menusia untuk beribadah kepada Alloh semata. Ketika Nabi berdakwah, Nabi menyeru dengan bashirah (ilmu), keyakinan, dan burhan (penerangan). Hal ini secara jelas tersurat di Q.S. Yusuf ayat 108 yang artinya :

“Katakanlah: "Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik.”

Menurut Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di, makna ‘ala bashirah ( ةريِص ب ٰىلع) adalah seruan dengan dasar ilmu dan keyakinan, tanpa disertai keraguan dan kebimbangan (Taisir al-Karim ar-Rahman, 430) sehingga konten persuasif akan bermakna dan berdampak ketika disajikan berdasarkan kebenaran sejati yakni informasi yang ilmiah, logis, dan reliabel. Alhasil, ketika para penerima informasi menguji kebenaran informasi, mereka mendapat kesimpulan yang sama tentang kebenaran informasi yang disampaikan.

78 .

Gambar 1. Konsistensi karakter Manusia

Konten Informasi Mematahkan Hujah Batil Seringkali penyampaian informasi benar dihadapkan pada informasi-informasi batil (tidak benar) sehingga menimbulkan keraguan atau ketidakyakinan. Para pengusung kebatilan senantiasa mendesain dan memanipulasi hukum sehingga menjadi halal atau sesuai dengan hawa nafsunya. Hal ini secara jelas tersurat di Q.S.Al Baqoroh ayat 59 yang terjemahannya,

“Kemudian orang-orang yang zalim (penderhaka) itu mengubah perkataan (perintah kami) yang dikatakan kepada mereka dengan melakukan sebaliknya; maka Kami turunkan ke atas orang-orang yang zalim itu bala bencana dari langit, dengan sebab mereka sentiasa berlaku fasik (menderhaka)”.

Dengan demikian, penyampaian yang benar (keharaman riba) hendaknya dengan benar dan sekaligus mematahkan hal yang batil telah diimplementasikan oleh para nabi. Ketika para nabi menyeru kepada kebenaran, mereka sekaligus mengingatkan untuk tidak terjerumus kepada kebatilan. Kebenaran informasi yang disampaikan secara benar dan sekaligus mematahkan berbagai kebatilan yang berpotensi untuk meragukan kebenaran sebagaimana telah tersurat di Q.S. Al-Anbiya ayat 18,

“Sebenarya Kami melontarkan yang hak kepada yang batil lalu yang hak itu menghancurkannya, Maka dengan serta merta yang batil itu lenyap. dan kecelakaanlah bagimu disebabkan kamu mensifati (Allah dengan sifat-sifat yang tidak layak bagi-Nya).”

Tahapan kedua adalah tahapan untuk merubah perilaku, pada tahapan ini ajakan (da’wah) untuk merubah perilaku disampaikan melalui pesan persuasif dan penyediaan fasilitas yang memudahkan nasabah untuk pindah perbankan. Tujuan tahapan ini adalah memanifestasikan kebenaran pemikiran dan emosi dalam perilaku yang benar. Ketika para nasabah muslim telah mengetahui dan memahami haramnya riba maka pada tahapan ini di harapkan mereka berpindah menabung dari perbankan ribawi ke perbankan syariah.

Perubahan perilaku merupakan hal wajib bagi setiap muslim ketika berhadapan pada perkara riba. Alloh Swt. melalui ayat qouliyah- Nya telah mewajibkan kepada setiap muslim untuk meninggalkan riba apapun bentuknya. Lebih dari itu, Alloh juga mengkategorikan orang yang tidak meninggalkan riba sebagai golongan yang telah dinyatakan perang dari Alloh dan Rosulnya sebagaimana tersurat di Q.S. Al-Baqarah ayat 278-279.

Berbagai riset telah menginvestigasi faktor-faktor yang mempengaruhi perpindahan perilaku (behavior switching). Richard Lee dan Jamie Murphy (2005) telah menginvestigasi faktor-faktor yang menyebabkan perubahan perilaku nasabah yaitu harga, kualitas pelayanan teknis, kualitas pelayanan fungsional, dan kos pergantian. Crosby dan Stephen (1987) menyatakan bahwa ketidakpuasan pelanggan terhadap pelayanan berkontribusi pada perpindahan perilaku konsumen. Rust dan Zahorik (1993) mengungkapkan bahwa perpindahan ke bank lain disebabkan oleh

Pemikiran Emosi

79 persepsi kualitas nasabah terhadap bank

bersangkutan.

Alhasil, faktor-faktor yang mempercepat laju perpindahan perilaku harus menjadi perhatian perbankan syariah ketika memfasilitasi konsonansi kognitif nasabah muslim di perbankan ribawi. Karenanya, perbankan syariah harus mendesain sistem perpindahan (switching system) yang murah dan cepat. Selain itu, perbankan syariah juga harus meningkatkan pelayanan baik dalam ranah teknis maupun fungsional sehingga menjadi daya tarik perpindahan nasabah.

Simpulan

Kesimpulan merupakan bagian laporan penelitian yang menjelaskan secara ringkas pendapat singkat peneliti berdasarkan hasil dan pembahasan penelitian dan menjelaskan hubungan antara hasil penelitian dengan teori atau hasil riset empiris sebelumnya. Berdasarkan data penelitian dan hasil analisis yang telah dilakukan dapat ditarik kesimpulan bahwa nasabah muslim yang menabung di perbankan ribawi mengalami disonansi kognitif ketika mereka mendapat informasi mengenai keharaman riba. Perbedaan disonansi kognitif tersebut signifikan ketika diperbandingkan dengan nasabah muslim yang menabung di perbankan ribawi dan dan yang tidak mendapat informasi keharaman bunga.

Signifikansi tersebut berdasarkan pada pada hasil uji beda komparatif antara grup kontrol dan grup manipulasi dengan hasil nilai p value sebesar 0,000 < 0,05 sehingga perbedaan tersebut secara statistik signifikan. Fenomena disonansi kognitif nasabah muslim di perbankan ribawi telah diilustrasikan oleh Hassan (2007).

Fenomena disonansi kogitif nasabah muslim merupakan kesempatan bagi perbankan syariah untuk meningkatkan pangsa pasar melalui strategi konsonansi kognitif. Konsonansi hendaknya dilakukan dengan cara penguatan informasi kognisi riba sehingga nasabah muslim hanya memiliki alternatif berupa perubahan perilaku menabung. Informasi kognisi riba dibingkai dalam bentuk pesan logis, ilmiah, dan persuasif.

Selain penguatan informasi, perbankan syariah harus mempermudah perpindahan menabung (saving switching) dengan mendesain mekanisme perpindahan yang murah sehingga kos perpindahan pun terjangkau (cost switching) sebagaimana rekomendasi Richard Lee dan Jamie Murphy (2005). Selain itu, perbankan harus melakukan peningkatan pelayanan baik dalam ranah teknis maupun fungsional sehingga menjadi daya tarik perpindahan nasabah untuk melakukan perpindahan.

DAFTAR PUSTAKA

Al Utsaimin, Muhammad. 2006. Panduan Lengkap Menuntut Ilmu. (terjemahan: As Sundawy). Bogor: Pustaka Ibnu Katsir. Alamsyah, Halim. 2012. Ikatan Ahli Ekonomi

Islam (IAEI). Perkembangan dan Prospek Perbankan Syariah Indonesia: Tantangan Dalam Menyongsong MEA 2015. Milad ke 8 IAEI, 13 April 2012. Aronson, E. 1969. The theory of cognitive

dissonance: A current perspective. In L.

Berkowitz (Ed.) Advances in

Experimental Social Psychology (Vol. 4, pp.-34).New York: Academic Press. Aronson, E.1980. Persuasion via self-

justification: Large commitments for small rewards. In L. Festinger, (Ed.), Retrospection on Social Psychology(pp. 3-21). Oxford University Press: Oxford. As-Sa'di. Abdurrahman bin Nashir. 2007.

Taisir al-Karim ar-Rahman Fi Tafsir Kalam al-Mannan, terj, Jakarta: Pustaka Sahifa.

Bank Indonesia. 2015. Statistik Perbankan Syariah. http://www. bi. go. id/id/statistik/perbankan/syariah/Docume nts/SPS%20Des%202013. pdf, diunduh 30 Maret 2015.

Brehm, J. & Wicklund, R. 1976. Perspectives on cognitive dissonance. Hillsdale, NJ: Lawrence Erlbaum Associates.

Cristensen, L. B. 1988. Experimental Methodology. 4th Edition. Allyn and Bacon, Inc.

Crosby, L. A. and Stephens, N. 1987. Effects of Relationship Marketing on Satisfaction,

80 Retention, and Prices in the Life

Insurance Industry. Journal of Marketing Research, Vol. 24, pp. 404-11.

Festinger, L. 1957. A Theory of cognitive dissonance. Stanford, CA: Stanford University Press.

Freedman, J. 1965. "Long-term Behavioral Effects of Cognitive Dissonance." Journal of Experimental Social Psychology, 1, 145-155.

Global Islamic Financial Report (GIFR). 2011. Global Islamic Financial Report. http://www. gifr. net/gifr_2011. htm, diunduh 30 Maret 2015

Griffin, Em. 2012. A First Look at Communication Theory. New York: McGraw-Hill.

Hassan, Abdulloh. 2007. Berdakwah dengan Efektif: Teori dan Teknik Moden Mendorong Perubahan Tingkah Laku. PTS Islamika

Hassan, Steven. 2000. Releasing the Bonds Empowering People to Think Forthemselves. New York: Freedom of Mind Press.

Jogiyanto. 2004. Metodologi penelitian bisnis: salah kaprah dan pengalaman- pengalaman. Yogyakarta: BPFE.

Lee, Richard and Murphy, Jamie. 2005. From Loyalty to Switching: Exploring Determinants in the Transition. Perth: ANZMAC.

Nahartyo, Ertambang. 2012. Desain dan Impelementasi Riset Eksperimen. Yogyakarta: UPP STIM YKPN

Otoritas Jasa Keuangan. 2014. Tinjauan Perkembangan Industri Keuangan Syariah di Indonesia. http://www. ojk. go. id/tinjauan-perkembangan-industri- keuangan-syariah-di-indonesia, diunduh 30 Maret 2015.

Pratikto, Heri dan Iis Sugiyanto. 2011. "Kinerja Efisiensi Bank Syariah Sebelum dan Sesudah Krisis Global Berdasa rkan Data Envelopment Analysis." Jurnal Ekonomi Bisnis, No. 2, Juli.

Rust, R. T. and Zahorik, A. J. 1993. "Customer Satisfaction, Customer Retention and Market Share”. Journal of Retailing, Vol. 69, Summer, pp. 193-215.

Shadish, Cook dan Campbell. 2002. Experimental and Quasi Experimental Design for General Causal Inference. USA: Houghton Mifflin Company.

81 PROFITABILITAS BIRO PERJALANAN:

BURSA EFEK INDONESIA 2009 - 2013

Dalam dokumen PENGARUH DISIPLIN KERJA MANAJEMEN WAKTU (Halaman 78-83)