BAB 3 TIPOLOGI LINGUISTIK DAN STRUKTUR
3.5 Tipologi Gramatikal Bahasa Minangkabau
3.5.1 Diatesis Aktif dan Pasif Bahasa Minangkabau
Dalam linguistik, istilah diatesis atau voice sering dipakai secara bergantian (=sama) dalam linguistik untuk merujuk ke perihal dikotomi ‘aktif-pasif’ (lihat Lyons, 1987:371 - 373). Shibatani (1988:3) menyatakan bahwa voice dipahami sebagai satu mekanisme yang memilih unsur-unsur sintaktis utama – subjek – secara gramatikal dari fungsi-fungsi semantis dasar (kasus atau peran tematis) klausa. Diatesis adalah kategori gramatikal yang menunjukkan hubungan antara partisipan atau subjek dengan perbuatan yang dinyatakan oleh verba dalam klausa (lihat Kridalaksana, 1993:43). Pada umumnya bahasa- bahasa di dunia mempunyai strategi diatesis dasar; pada
umumnya dikenal diatesis aktif – pasif. Pertentangan aktif – pasif merujuk ke pertentangan semantis; pada diatesis aktif, subjek bertindak atas yang lain atau mempengaruhi yang lain, sementara dalam diatesis pasif, subjek dipengaruhi atau tempat jatuhnya perbuatan.
Sebagai bahasa akusatif, BM secara teoretis mengenal diatesis aktif – pasif. Konstruksi sintaktis dengan diatesis aktif merupakan konstruksi dasar, sementara konstruksi sintaktis berdiatesis pasif adalah konstruksi turunan. Bahwa BM mengenal adanya kalimat dengan diatesis pasif telah dikemukakan dan dibicarakan oleh para peneliti dan ahli kebahasaan yang membahas BM. Para ahli telah mengemukakan ciri-ciri umum dan proses pembentukan konstruksi pasif berdasarkan kajian pasif secara lintas bahasa. Ciri-ciri dan proses pembentukan konstruksi pasif tersebut dapat dirangkum sebagai berikut (lihat Jufrizal, 2007; Jufrizal, 2012):
1. Diperlakukan terhadap klausa transitif dan (untuk) membentuk klausa intransitif;
2. Objek promosi (naik) ke posisi subjek;
3. Subjek sebelumnya diturunkan ke argumen oblik atau dihilangkan;
4. Perubahan terjadi pada tataran morfologi (=bentuk) verba untuk menandai pemasifan;
5. Secara sintaktis; pemasifan merupakan proses penciptaan/pengadaan subjek;
6. Pasif merupakan proses daur ulang (cyclic) (dalam satu klausa);
7. Pasif itu terikat (dalam satu) klausa; 8. Pasif merupakan transformasi bukan akar; 9. Pasif itu diatur kaidah (tatabahasa).
Sejauh ini, BM diperlakukan sebagai bahasa bertipologi akusatif secara sintaktis karena bahasa ini mengenal diatesis aktif - pasif. Kalimat berdiatesis aktif merupakan kalimat dasar dan yang berdiatesis pasif adalah kalimat turunan. Menurut Chung dalam Li (ed.) (1976:59 - 60), bahasa Indonesia menurut sebagian ahli dianggap mempunyai dua jenis pasif, yaitu pasif
kanonis (Buku di-baca oleh Ali) dan pasif yang mempunyai bentuk permukaan sebagai pentopikalan objek (Ali saya pukul). Kedua jenis konstruksi ini juga ditemui dalam BM. Untuk memudahkan pengkajian, pada bagian ini dipaparkan dan dibahas terlebih dahulu konstruksi yang dapat disejajarkan dengan pasif kanonis bahasa Indonesia.Yang dimaksud dengan pasif kanonis yaitu pasif asal atau pasif sesungguhnya.
Pembahasan konstruksi berdiatesis aktif dan pasif BM pada bagian ini bertujuan untuk mengetahui sifat-perilaku tipologi gramatikal bahasa daerah ini sehingga dapat dijadikan dasar pentipologiannya. Diatesis aktif dalam BM dimarkahi secara morfologis oleh prefiks nasal maN- (beserta alomorfnya).
(108) Urang kampuang ma-nimbun rawang. orang kampung AKT-timbun rawa ‘Orang kampung menimbun rawa’
(109) Pak Camat ma-mimpin rapek anak nagari. Pak camat AKT-pimpin rapat anak negeri ‘Pak Camat memimpin rapat anak negeri’
Frasa nomina (FN) pra-verbal (urang kampuang, pak camat) pada contoh-contoh di atas adalah subjek gramatikal dan sekaligus adalah agen. Sementara itu, FN pos-verbal (rawang, rapek anak nagari) adalah objek dan juga pasien. Kedua klausa tersebut adalah kalimat transitif berdiatesis aktif. Secara semantis, subjek (agen) melakukan perbuatan (tindakan) atas objek gramatikal. Melalui kaidah pemasifan, kalimat (108) dapat diturunkan (diderivasi) menjadi kalimat berdiatesis pasif seperti (108a,b,c) berikut ini.
(108a) Rawang di-timbun (dek) urang kampuang. rawa PAS-timbun oleh orang kampung ‘Rawa ditimbun oleh orang kampung’
(108b) Rawang ta- timbun dek urang kampuang. rawa PAS-timbun oleh orang kampung ‘Rawa tertimbun oleh orang kampung’
(108c) Rawang ba- timbun dek urang kampuang. rawa PAS-timbun oleh orang kampung ‘Rawa ditimbun oleh orang kampung’
Ketiga kalimat di atas merupakan kalimat turunan (kalimat pasif) dari kalimat dasar (108), di mana proses dan mekanisme pemasifannya memenuhi kaidah dan prinsip pemasifan yang umum berlaku secara lintas bahasa, yaitu pada bahasa-bahasa bertipologi akusatif. Ada tiga buah prefiks pasif dalam BM, yaitu di-, ta-, dan ba-. Adanya variasi bentuk pemarkah pasif (dalam hal ini prefiks pasif) tidak hanya ditemui dalam BM. Dalam bahasa Tukang Besi, seperti dilaporkan oleh Donohue (1999), juga ada tiga buah prefiks pasif, yaitu to-, te-, dan mo- (lihat Jufrizal, 2004; Jufrizal, 2012).
Sebagaimana juga dikemukakan oleh Jufrizal (2004, 2007, 2012), prefiks pasif di- dalam BM dapat dibubuhkan pada semua verba transitif aktif dan dapat dikatakan sebagai pembentuk pasif melalui penurunan subjek (subject-demoting passive). Pasif dengan di- merupakan pasif umum dan produktif dalam BM. Pemasifan dengan di- ini mempunyai ciri-ciri pasif semesta, di antaranya: (i) subjek klausa asal turun fungsinya menjadi oblik, (ii) argumen subjek kalimat bukan pasif tersebut banyak kehilangan sifat perilaku pivot, yang kebanyakan sifat-perilaku itu (dalam konstruksi pasif) tidak dimiliki oleh objek asli; (iii) objek asli (pada konstruksi aktif) menjadi argumen satu-satunya dari verba intransitif turunan (konstruksi pasif).Secara semantis pemasifan dengan prefiks di- menyiratkan bahwa tingkat kesengajaan /kemauan (volition) dari pelaku tinggi. Meskipun agen (pelaku) yang dalam konstruksi turunan (kalimat pasif) dimarkahi oleh preposisi dek ‘oleh’ boleh dihilangkan, namun kehadirannya dalam bahasa sehari-hari cenderung dipertahankan (terutama apabila pelakunya bernyawa atau disiratkan sebagai sesuatu yang berbuat sengaja).
Selanjutnya, prefiks pasif ta- secara umum dapat dibubuhkan pada verba transitif untuk membentuk konstruksi pasif. Berbeda dari prefiks di-, kalimat pasif yang muncul melalui prefiksasi dengan ta- mempunyai sifat makna ‘kebetulan’ atau ‘tidak sengaja’. Oleh karena itu, pada dasarnya
prefiks ta- boleh dibubuhkan pada verba transitif yang menghendaki pelaku yang bersifat umum atau ‘alamiah’. Kalimat pasif dengan ta- ini, pada dasarnya, tidak menghendaki perantara (pelaku) bernyawa atau berkemauan. Meskipun demikian, verba transitif yang menghendaki pelaku bernyawa atau pelaku berkemauan pun dapat dibubuhi prefisk ta- untuk membentuk pasif dengan makna ‘tidak sengaja’ atau ‘kebetulan’. Dengan demikian, pemasifan dengan ta- dalam BM mempunyai tingkat kemauan/kesengajaan (volition) yang sangat rendah dari pelakunya (lihat Jufrizal, 2007; Jufrizal, 2012). Telaah lebih jauh menunjukkan bahwa apabila pelaku adalah makhluk bernyawa (mempunyai kemauan, kehendak), maka pelaku tersebut, yang dalam kalimat pasif berelasi oblik dengan pemarkah preposisi dek ‘oleh’, cenderung dipertahankan kehadirannya (meskipun boleh juga dihilangkan). Apabila pelaku adalah makhluk tak bernyawa atau bersifat ‘alamiah’ kehadiran pelaku (yang dimarkahi oleh preposisi dek ‘oleh’) cenderung dilesapkan (meskipun untuk menegaskan boleh juga dipertahankan).
Selain sebagai pemarkah diatesis pasif, prefiks ta- dalam BM juga membawa makna aspek ‘mampu’ atau ‘bisa’ bersamaan dengan diatesis pasif. Maksudnya adalah bahwa di samping “membawa” diatesis pasif, prefiksasi dengan ta- juga membawa makna aspek ‘mampu’ atau ‘bisa’. Apabila makna aspek ‘mampu’ atau ‘bisa’ disertakan untuk memahami kalimat dengan verba berprefiks ta- maka tingkat ‘kemauan’ atau ‘kesengajaan’ dari pelaku menjadi tinggi (sama halnya dengan pemasifan dengan –di). Dalam hal ini, pelakunya adalah makhluk bernyawa atau nomina umum yang dianggap mempunyai kemauan/- kesengajaan. Pelaku yang ditandai dengan preposisi dek ‘oleh’ (berelasi oblik) pada konstruksi jenis ini cenderung dipertahankan, yang menunjukkan adanya makna kesengajaan dari pelaku itu.
Pemasifan dengan prefiks ba- dalam BM mempunyai sifat- perilaku tipologi gramatikal yang “rumit” secara gramatikal dan semantis. Sebagaimana telah dikemukakan bahwa istilah antikausatif dan resultatif merupakan dua istilah yang sering digunakan oleh para ahli sebagai dua istilah yang berdekatan
(=sama), baik pengertian maupun cakupannya. Istilah antikausatif dipakai oleh Comrie (1985) untuk merujuk ke gejala sintaktis yang di dalamnya verba intransitif diturunkan dari verba transitif. Sementara itu, istilah resultatif dapat pula disejajarkan dengan pasif. Comrie juga menandaskan bahwa antikausatif mirip dengan pasif; OL verba dasar muncul sebagai subjek antikausatif (lihat juga Artawa, 1998:55 - 56).
Sehubungan dengan itu, pembahasan pasif dengan prefiks ba- dalam BM berkaitan dengan konstruksi resultatif dan/atau antikausatif. Prefiks ba- apabila dibubuhkan pada verba proses transitif aktif berguna untuk memperlihatkan bahwa objek asli berada dalam keadaan berubah dan dapat digunakan sebagai hasil dari kegiatan berproses sebagaimana digambarkan oleh verba. Proses sintaktis seperti ini dapat disebut sebagai konstruksi resultatif, antikausatif, atau pasif (Jufrizal, 2004; Jufrizal, 2012).
Konstruksi pasif yang dimarkahi oleh prefiks ba- dalam BM merupakan pasif yang tidak mementingkan pelaku (agentless passive). Artinya, pelaku (agen) yang ditandai sebagai FN berpreposisi dek ‘oleh’ (berelasi oblik) lazimnya dilesapkan. Kemungkinannya hadir hanya pada kasus ‘penekanan’ atau ‘pemberitahuan’. Pemasifan dengan ba- memberikan makna bahwa tingkat kemauan/keinginan (volition) pelaku ada, namun apa/siapa pelakunya lazim disembunyikan (lihat Jufrizal, 2012; Jufrizal dkk., 2013).
Berkenaan dengan prefiks ba-, ada beberapa hal yang perlu dicatat. Selain ba- merupakan prefiks pasif, ba- juga merupakan prefiks pemarkah ditesis aktif, yaitu pemarkah verba intransitif aktif. Verba-verba berprefiks pasif berikut ini adalah verba intransitif aktif .
ba-silek ‘bersilat’ ba-tanam ‘bertanam’ ba-tagak ‘mendirikan’ bar-aja ‘belajar’ ba-tandiang ‘bertanding’
Berkenaan dengan kanyataan ini, diatesis klausa BM yang mempunyai predikat verbal dengan prefiks ba- tidak dapat dengan mudah diketahui jika hanya didasarkan pada
struktur/tataran morfosintaksis saja. Dalam hal ini, penentuan diatesis mesti dikaitkan dengan tataran pragmatis dan wacana. Klausa (110) berikut ini adalah kalimat berdiatesis aktif dan juga dapat dipahami sebagai kalimat dengan diatesis pasif.
(110a) Roda biaso ba-puta. (aktif)
‘Roda biasa berputar (dengan sendiri sebagai gejala alam’ (110b) Roda biaso ba- puta dek urang bengke. (pasif) Roda biasa diputar oleh orang bengkel (jika rusak) ‘Baling-baling berputar (sendiri)’
Pada (110a) ba-puta bermakna ‘berputar’ (aktif) apabila didukung oleh tautan pragmatis/wacana bahwa kegiatan/tindakan yang digambarkan dalam verbanya dilakukan oleh subjek (gramatikal) klausa itu sendiri. Namun apabila tautan pragmatis/wacana yang menjelaskan makna semantisnya merujuk ke pelaku lain di luar subjek (gramatikal)nya (yang melakukan perbuatan/tindakan) yang digambarkan oleh verbanya, maka kalimat yang sama dipahami sebagai kalimat dengan diatesis pasif (pelakunya bukan subjek gramatikal baliang-baliang, melainkan pelaku di luar subjek gramatikal, misalnya orang bengke, seperti diperlihatkan pada (110b)).
Dengan demikian, prefiks ba- dalam BM dapat membentuk pasif, selain ditentukan oleh konstruksi morfo- sintaksis, juga ditentukan oleh dukungan peran pragmatis- wacana. Demikian pula, ba- dapat membentuk konstruksi aktif (intransitif). Memperhatikan bahwa prefiks ba- dapat melahirkan konstruksi aktif dan juga pasif, maka ba- dapat dikatakan sebagai salah satu pembentuk konstruksi berdiatesis semi atau konstruksi berdiatesis medial (middle voice); diatesis yang mirip dengan pasif dalam hal pengungkapan situasi pada keadaan subjek (gramatikal) dikenai perbuatan atau dipengaruhi (lihat Shibatani, 1988:4 - 5). Selain itu, prefiks verbal ba- dalam BM adalah prefiks yang khas dan “rumit”. Jika dicermati labih jauh lagi, klausa berpemarkah ba- juga mempunyai sifat-perilaku gramatikal-semantis sebagai pemarkah klausa yang mirip sebagai klausa ergatif, klausa dasar pada bahasa bertipologi ergatif.