BAB 2 BAHASA DAN ILMU BAHASA
2.2 Sistem Kebahasaan dan Linguistik
Sebenarnya, perhatian dan kajian tentang bahasa sudah ada sejak manusia mulai mempertanyakan alam sekitar dan dirinya, termasuk bahasa. Namun sebelum abad ke-19, kajian ilmiah tentang bahasa berada sebagai bagian dari studi filsafat, logika, dan filologi. Dalam hal ini, filsafat memperlakukan bahasa sebagai alat berpikir, logika menggunakan bahasa sebagai sarana berpikir, dan filologi melihat bahasa dalam perbandingan tatabahasa (Parera, 1991). Pada masa itu, bahasa belum menjadi objek penelitian khusus; bahasa baru dilihat sebagai alat berpikir untuk menggambarkan fenomena dan mengungkapkan gagasan. Kemunculan kajian ilmiah tentang bahasa secara sistematis yang secara lebih khusus menjadikan bahasa sebagai sasaran kajian yang menandai lahir linguistik modern muncul sejak abad ke-19 dan mengalami perkembangan yang pesat sejak pertengahan abad ke-20.
Pandangan bahwa bahasa adalah alat komunikasi menyiratkan bahwa bahasa itu bentuk dan fungsi karena setiap alat, pada dasarnya mempunyai bentuk dan fungsi tersebut. Payne (2006:1), secara filosofis, menjelaskan bahwa setiap “alat” lazimnya mempunyai dua unsur, yaitu fungsi dan bentuk. Fungsi adalah tugas yang dirancang atau ditentukan untuk apa alat itu
dibuat, sementara bentuk adalah struktur nyata yang dengannya fungsi-fungsi itu mungkin dijalankannya. Dengan demikian, jika bahasa adalah alat komunikasi, tentu saja bahasa layak digunakan untuk mengemban tugas komunikasi tersebut. Penyelesaian dan pengembanan tugas-tugas tersebut tentu saja tidak akan terwujud jika struktur nyata alat tersebut tidak mendukung untuk itu.
Sebagai alat komunikasi, bahasa mempunyai struktur nyata yang tersusun secara sistematis mulai dari tatabunyi, tatakata, tatakalimat, dan tatawacana. Secara bersamaan,lapisan tatanan tersebut membangun bentuk bahasa yang mengemas makna, fungsi, dan nilai-nilai. Dengan demikian, bahasa mempunyai empat lapis unsur yang bertaut secara kompleks dan sistematis untuk mengemas fungsi-fungsi komunikatif dan sosial- budayanya. Ini berarti bahwa bahasa mempunyai empat lapis unsur yang secara sistematis menjalankan fungsi-fungsi komunikatif dan sosial-budayanya, yaitu bentuk, makna, fungsi, dan nilai (Foley, 1997; Payne, 2006; Jufrizal, 2012; Jufrizal dkk., 2013). Bentuk adalah tempat makna, fungsi, dan nilai bahasa “bergantung” yang dalam pemakaiannya menjadi pembeda bahasa dengan alat komunikasi yang lain. Sistem kebahasaan, pada dasarnya, adalah sistem yang menjadikan bentuk, makna, fungsi, dan nilai tersebut dapat mengemban fungsi bahasa sebagai alat komunikasi dalam kehidupan manusia.
Sistem kebahasaan yang ada dalam bahasa manusia telah menjadikan bahasa bertatabahasa yang secara teoretis diungkapkan sebagai sistem abstrak yang mengikat keteraturan unsur-unsur bahasa pada setiap lapisannya (lihat Jufrizal, 2012; Jufrizal dkk. 2013). Ruang lingkup kajian kebahasaan (linguistik), yang berupaya mengungkapkan dan menjelaskan fenomena kebahasaan, dapat dikelompokkan menjadi linguistik- mikro dan linguistik-makro. Kajian linguistik-mikro menitik- beratkan kajiannya pada tatanan bentuk dan makna bahasa dari sistem bahasa itu sendiri. Kajian linguistik-makro merupakan bidang kajian dan penelitian linguistik awal yang mencermati sistem kebahasaan bahasa-bahasa manusia. Bidang kajian linguistik-makro menempatkan kajian kebahasaan dalam
kaitannya dengan fenomena alam lain di luar bahasa. Itu sebabnya bidang linguistik-makro dikaitkan dengan bidang ilmu lain yang berkaitan dengan kebahasaan seperti Sosiologi, Psikologi, Antropologi, Arkeologi sehingga melahirkan cabang linguistik-makro Sosiolinguistik, Psikolinguistik, Antropo- lingusitik, dan Arkeolinguistik (lihat Kridalaksana, 1993; Jufrizal, 2012).
Sistem kebahasaan adalah fenomena yang berusaha diungkapkan dan digambarkan secara ilmiah oleh ilmuwan dan peneliti bahasa yang berkembang pesat sejak awal abad ke-20 melalui telaah deskriptif-struktural. Kajian ini menandai lahirnya teori linguistik struktural yang dianggap sebagai cikal-bakal linguistik modern. Dalam perkembangan linguistik seterusnya, kajian struktural terus mengalami pembaharuan dan mengarah ke kajian yang dikaitkan dengan psikologi-transformatif dan fungsional-pragmatis. Sistem kebahasaan terus ditelaah dalam kaitannya dengan fungsi bahasa sebagai alat komunikasi dan keberadaan sebagai bagian sosial-budaya masyarakat penuturnya. Pengembangan kajian kebahasaan seperti ini telah menjadikan linguistik berkembang pesat dengan berbagai sudut pandang dan objek kajiannya.
Bermula dari telaah sistem kebahasaan, ilmuwan dan peneliti bahasa berupaya mengemukakan temuan-temuan mereka yang didasarkan bukti-bukti empiris melalui konsep-konsep dan pernyataan ilmiah yang melahirkan teori tentang bahasa. Sejak itu, kajian kebahasaan dihimpun sebagai bidang kajian yang berada di bawah “payung” Linguistik. Berdasarkan objek kajiannya yang cukup jelas, yaitu bahasa, linguistik memenuhi salah satu syarat yang harus dimiliki oleh bidang ilmu pengetahuan, yaitu Ontologi. Bagaimana bahasa itu dipelajari dan metodologi penelitian linguistik yang juga disusun secara sistematis sehingga memenuhi kriteria metode ilmiah dalam bidang bahasa telah memenuhi pula Epistemologi. Manfaat yang diperoleh melalui penelitian dan kajian kebahasaan untuk kemaslahatan manusia juga terus diakui secara ilmiah. Ini memenuhi syarat ilmu yang lain dalam filsafat ilmu pengetahuan, yaitu aksiologi. Dengan demikian, cukup beralasan untuk
menyatakan Linguistik adalah salah satu cabang ilmu pengetahuan di antara cabang dan bidang ilmu pengetahuan lain yang dikenal dalam peradaban manusia.
Sebagai cabang ilmu pengetahuan yang menelaah bahasa, linguistik mempunyai tujuan-tujuan khusus yang menjadinya dapat dikembangkan secara ilmiah. Berdasarkan pendapat para ahli, Parera (1991:5 – 6) mengemukakan beberapa tujuan utama studi ilmiah bahasa. Pertama, studi bahasa bertujuan untuk mengelompokkan dan membeda-bedakan objek atau sasaran kajiannya. Seorang peneliti bahasa akan mengelompokkan dan membeda-bedakan bahasa-bahasa yang diteliti berdasarkan fakta dan data bahasa yang diperoleh. Pengelompokan dan pembedaan itu dapat didasarkan pada bentuk, makna, fungsi, atau nilai bahasa yang diteliti. Pengelompokkan dan pembedaan itu juga boleh didasarkan pada wilayah pemakaian, sejarah terbentuk dan genetikanya, serta aspek sosial-budaya dan psikologis yang menyertai bahasa itu. Kedua, tujuan studi bahasa adalah untuk menghubung-hubungkan. Tujuan ini dikaitkan dengan sistem kebahasaan yang bersifat terpadu. Oleh karena itu, peneliti dan ahli bahasa perlu menghubung-hubungkan satu fitur kebahasaan dengan yang lainnya untuk mencari tahu hakikat bahasa secara keseluruhan.
Tujuan ketiga dari studi bahasa itu adalah untuk mengendalikan gejala-gejala bahasa alamiah. Objek kajian bahasa, di antaranya, adalah kealamiahan bahasa yang menjadikannya sebagai milik manusia sebagai penuturnya. Sebagai gejala alamiah bahasa dapat dikendalikan oleh manusia dan masyarakat penuturnya. Ini berarti bahwa bahasa itu dapat diperbaiki, diganti, diubah, dibina, dikembangkan, dipelajari, atau ditinggalkan jika memang tidak berguna lagi bagi penuturnya. Keempat, tujuan studi bahasa itu adalah untuk meramalkan. Sebagai satu sistem alamiah, bahasa mempunyai struktur sistematis dan lentur, namun relatif tetap. Sifat-perilaku bahasa seperti ini memungkinkan para peneliti dan ilmuwan bahasa meramalkan kejadian dan keakanan bahasa. Melalui penelitian dan telaah bahasa, deskripsi tatabahasa dan masa depan bahasa melalui perencanaan dan kebijakan bahasa dapat
diramalkan secara ilmiah. Meskipun tidak bersifat pasti, peramalan bahasa secara ilmiah telah memungkin hasil kajian bahasa menjadi panduan untuk pembelajaran dan politik bahasa.