BAB V PEMANFAATAN LUBUK LARANGAN DESA
5.1.1 Setelah Dibentuk Kembali 1999
Adanya pembibitan dan pemeliharaan ikan dalam Lubuk Larangan Anak Yatim yang dilakukan pada tahun 1989 bagi masyarakat desa Tambangan Jae pada saat itu selain meresahkan karena tidak bisa lagi mengambil ikan, masyarakat juga merasa pembibitan dan pemeliharaan tersebut tidak akan ada manfaat ataupun berdampak apa-apa bagi masyarakat dan desa karena pada saat itu belum adanya sistem tiket/karcis yang menjadi sumber pemasukan desa saat dilakukan kegiatan panen. Masyarakat juga merasa sungai tersebut menjadi dikuasai oleh sipembibit tersebut karena selain menabur bibit dan melakukan pemeliharaan ikan di dalam sungai, warga tersebut juga penerapkan beberapa peraturan yang dianggap warga lainnya sebagai bentuk pengambil alihan sungai padahal sungai tersebut adalah milik komunal atau desa. Oleh sebab itu masyarakat desa yang merasa pembibitan dan pemeliharaan tersebut tidak ada gunanya sempat melakukan protes penolakan dan terjadinya kesalah fahaman antar sesama warga desa yang mengakibatkan di berhentikannya secara paksa kegiatan pembibitan dan pemeliharaan ikan di dalam Lubuk Larangan Anak Yatim tersebut pada tahun 1992 yang kembali dibentuk pada tahun 1999 berdasarkan hasil musyawarah dan kesepakatan desa.
Bagi masyarakat desa sejak pembentukan kembali Lubuk Larangan Anak Yatim desa Tambangan Jae pada tahun 1999 dari hasil wawancara dengan masyarakat desa Tambangana Jae adalah masyarakat desa merasa setelah pembentukan kembali Lubuk Larangan Anak Yatim dengan adanya kepengurusan yang jelas dan penerapan peraturan yang dibuat berdasarkan musyawarah demi kepentingan bersama ternyata membawa manfaat yang sangat baik bagi masyarakat dan desa. Pada saat itu diberlakukannya penjualan tiket/karcis memberikan manfaat dari adanya Lubuk Larangan Anak Yatim yang terutama adalah bagi pembangunan desa. Dimana dari hasil musyawarah desa disepakati hasil dari panen Lubuk Larangan Anak Yatim digunakan untuk pemasukan desa, yang diperuntukkan bagi kesejahteraan masyarakat, pembangunan desa, membangun rumah ibadah, sekolah dan menyantuni anak yatim-piatu61.
Pada tahun 2008 masyarakat desa merasa pemeliharaan ikan dalam Lubuk Larangan Anak Yatim tersebut hanya sebatas pemeliharaan sementara sampai waktu panen tiba tidak adanya pemeliharaan yang bertujuan untuk pengembangan kelangsungan hidup ikan di dalam Lubuk Larangan secara alamiah. Oleh sebab itu melalui musyawarah desa masyarakat menyepakati adanya pembagian kawasan Lubuk Larangan Anak Yatim yang keberadaan ikannya tidak boleh di panen lagi.
Ide tersebut kemudian di berlakukan pada tahun 2009 dimana masyarakat membagi kawasan Lubuk Larangan Anak Yatim seluas 100 meter yang diukur dari sebuah jembatan penghubung jalan antar desa 50 meter ke hulu dan 50 meter ke hilir. Hal tersebut banyak membawa perubahan baik pada Lubuk Larangan
61Wawancara : Muhammad Husin Lubis. Desa Tambangan Jae, Desember, 30 Desember 2018, Pukul 11.00 Wib
Anak Yatim, ikan yang telah tumbuh berukuran besar di dalam sungai menarik minat masyarakat untuk datang melihat sekedar memberi pakan. Hal tersebut membawa manfaat yang baik bagi desa, desa Tambangan Jae pun mulai banyak dikenal oleh masyarakat sampai ke luar daerah karena keberadaan ikan dalam Lubuk Larangannya yang besar namun tidak boleh dipanen. Melihat hal itu masyarakat desa menjadikan Lubuk Larangan Anak Yatim tersebut sekaligus kawasan wisata dengan harapan akan memperbaiki ekonomi masyarakat desa.
Perubahan hasil Lubuk Larangan Anak Yatim pun dilakukan yang mana pada tahun sebelumnya dikhususkan bagi pembangunan desa menjadi ke anak yatim-piatu yang berada di desa. Bisa dikatakan yang paling merasakan manfaatnya setelah tahun ini adalah anak yatim-piatu dimana mereka bisa terbantu pada setiap tahunnya dari hasil panen Lubuk Larangan dan dari hasil kotak amal yang memang sengaja di tempatkan di pinggir jembatan bagi para pengunjung yang ingin membantu anak yatim-piatu di desa Tambangan Jae.
Manfaat lain yang dirasakan oleh masyarakat desa Tambangan Jae setelah adanya Lubuk Larangan Anak Yatim adalah selain hasilnya yang membantu pembangunan desa yang kemudian dialihkan untuk membantu anak yatim-piatu, Lubuk Larangan Anak Yatim ini juga menjadi penguat hubungan kekerabatan dan tali silaturrahmi diantara warga desa karena dengan adanya kegiatan Lubuk Larangan ini masyarakat desa menjadi lebih peka terhadap lingkungan dan sesamanya, masyarakat pun lebih banyak berinteraksi antara satu dengan yang lainnya terutama saat waktu panen karena dibutuhkan sedikit kerjasama tim, misalnya ada seorang yang turun langsung ke Lubuk Larangan untuk menangkap
ikan, ada seorang yang membersihkan jala, ada bagian yang pengangkat ikan dan sebagainya62.
Adanya kegiatan pembukaan Lubuk Larangan Anak Yatim ini juga menambah kegiataan desa yang melibatkan semua kalangan tanpa terkecuali dan menjadi salah satu kegiatan yang sangat ditunggu-tunggu pada setiap tahunnya setelah Hari Raya Idul Fitri. Oleh karena itu masyarakat di Kabupaten Mandailing Natal selalu antusias menyambut dibukanya Lubuk Larangan yang tidak hanya dibuka pada satu desa namun di banyak desa yang ada di Kabupaten Mandailing Natal. Lubuk Larangan juga menjadi menyambung tali silaturrahmi antar warga desa ataupun antar desa lainnya karena apabila panen dilakukan tidak hanya warga desa tersebut saja yang berbondong-bondong mengikuti namun juga warga dari luar desa
Pada saat pemanenan dilakukan masyarakat akan berbondong-bondong mengikutinya dengan sangat antusias. Bagi para perantau yang sedang pulang kampung kegiatan panen Lubuk Larangan tersebut menjadi hiburan tersendiri bagi mereka, dimana selain ingin merayakan Idul Fitri bersama keluarga, meraka juga mempunyai kegiatan untuk menghibur diri di dikampung halamannya yang bisa juga dijadikan sebagai moment untuk bertemu kawan lama dan kawan baru.
Walaupun pada saat itu peserta yang ikut dalam kegiatan panen Lubuk Larangan Anak Yatim yang dilakukan masih terbatas pada masyarakat desa Tambangan Jae dan desa sekitarnya saja, hanya beberapa warga dari luar daerah yang mengikuti.
62Wawancara : Mizwar, Desa Tambangan Jae, Mingu, 30 Desember 2018, Pukul : 10.00 Wib
Hal itu di karenakan Lubuk Larangan Anak Yatim tersebut masih belum terkenal seperti pada tahun-tahun berikutnya63.