• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LATAR BELAKANG TERBENTUKNYA LUBUK

2.5 Tindakan

Tindakan yang dilakukan saat munculnya ide awal pembentukan Lubuk Larangan Anak Yatim oleh seorang warga yang bernama Darman pada tahun 1989 hanya berupa pembibitan dan pemeliharaan yang dilakukan dengan cara menyebarkan bibit ikan mas ke dalam sungai kemudian masyarakat dilarang untuk mengambilnya sebelum waktu yang tidak ditentukan. Namun hal tersebut tidak membawa pengaruh sama sekali pada masyarakat dan desa. Hal tersebut justru menimbulkan keresahan bagi masyarakat karena masyarakat menjadi tidak bisa mengambil ikan seperti pada sebelum terjadinya pembiban dan pemeliharaan tersebut yang mengakibatkan pembibitan dan pemeliharaan tersebut dihentikan secara paksa.

37Wawancara : Mizwar, Desa Tambangan Jae, Selasa, 25 Desember 2018, Pukul : 13.00 Wib.

38Wawancara : op.cit., Mizwar.

Pada tahun 1999 munculnya ide tentang pembentukan kembali Lubuk Larangan Anak Yatim desa Tambangan Jae yang sempat dihentikan secara paksa dimusyawarahkan oleh masyarakat melalui persatuan na poso na uli bulung desa.

Dimana masyarakat desa melakukan musyawarah untuk pengambilan tindakan yang akan dilakukan guna untuk melakukan pembentukan kembali terhadap Lubuk Larangan Anak Yatim yang dimulai dengan menyesuaikan pada pemenuhan kriteria sebagai Lubuk Larangan yang ada agar bisa dikatakan sungai tersebut kawasan Lubuk Larangan selain dari pengakuan perseorangan ataupun masyarakat desa. Adapun kriteria tersebut meliputi, yaitu39. :

1. Pemilihan lokasi, pemilihan lokasi Lubuk Larangan antara lain adalah sungai haruslah dalam yang dihuni oleh banyak ikan dan dekat dengan permukiman penduduk, berada di pinggir jalan, dekat dengan mesjid atau surau, dan merupakan tempat pemandian yang digunakan masyarakat Dalam hal ini Lubuk Larangan Anak Yatim desa Tambangan Jae memenuhi kriteria. Dimana lokasi Lubuk Larangan Anak Yatim yang berada di pingggir jalan utama desa yang juga dekat dengan permukiman penduduk serta masjid desa Tambangan Jae dan penjadi tempat pemandian.

2. Penentuan batas dan panjang, untuk batas Lubuk Larangan masyarakat desa setempat biasa membuat tali pada bagian hulu dan hilir, yang ditarik berupa garis lurus dari setiap pinggir (kiri kanan) diatas sungai. Penentuan

39Erwin Putra. Lubuk Larangan Sebagai Organisasi Mayarakat Ditinjau Dari Aspek Sosial Ekonomi Dan Aspek Lingkungan (Studi Kasus di Kabupaten Mandailing Natal Sumatera Utara), (Medan : Pers USU 2001), hal. 37.

batas Lubuk Larangan Anak Yatim desa Tambangan Jae disesuaikan dengan panjang sungai yang mengaliri desa Tambangan Jae yaitu menurut hasi wawancara sepanjang 1 km dengan lebar lubuk larangan disesuaikan dengan lebar sungai.

3. Pemberian nama, nama yang diberikan masyarakat pada setiap Lubuk Larangan berbeda-beda yang pada umumnya diambil dari nama desa, nama organisasi, dan nama sungai. Dalam hal ini Lubuk Larangan di desa Tambangan Jae diberi nama sesuai nama desa dan kepentingan dibentuknya yaitu : Lubuk larangan Anak Yatim Desa Tambangan Jae Kecamatan Tambangan.

Setelah terpenuhinya kriteria untuk menjadi sebuah Lubuk Larangan, tindakan selanjut yang dilakukan oleh masyarakat adalah pemberian bibit ikan baru serta pakan ikan pada Lubuk Larangan yang kemudian berlanjut pada pemeliharaan, dan pembentukan kepengurusan Lubuk Larangan yang diserahkan pada persatuan muda mudi desa sebagai pihak yang paling menginginkan keberadaan Lubuk Larangan Anak Yatim tersebut yang ditanggung jawabi oleh seluruh masyarakat desa dan berlanjut hingga saat ini.

2.6 Terbentuknya Lubuk Larangan Anak Yatim Desa Tambangan Jae 1989 Pada tahun 1989 pembibitan pada Lubuk Larangan Anak Yatim di desa Tambangan Jae pertama kali dilakukan oleh seorang warga desa yang bernama

Darman40. Dimana pembibitan ini menjadi awal terbentuknya Lubuk Larangan Anak Yatim dan munculnya kepedulian masyarakat akan keberadaan Lubuk Larangan di desa Tambangan Jae yang memang sudah ada dan diakui masyarakat sejak dulu sebagai kawasan Lubuk Larangan dari tahun-tahun sebelumnya, namun masyarakat hanya membiarkannya layaknya sungai bebas tanpa ada kepengurusan dan tidak adanya perlakuan khusus seperti pada tahun-tahun berikutnya. Warga desa yang melakukan pimbibitan tersebut menabur bibit ikan dan melakukan pemeliharaan ikan di dalam sungai dengan dana dan keinginannya sendiri tanpa meminta izin dari kepala desa selaku pemimpin desa atau pun melakukan musyawarah dengan masyarakat desa lainnya ataupun menjelaskan maksudnya melakukan hal tersebut.

Sejak Pak Darman tersebut membuka Lubuk Larangan Anak Yatim serta melakukan pembibitan dan pemeliharaan, aturan dan larangan banyak diberlakukan di sepanjang sungai secara sepihak, yang mana sebelumnya aturan dan larangan tersebut tidak ada karena masyarakat desa masih bisa melakukan pengambilan ikan asal tidak mengganggu keberadaan ikan di dalam Lubuk Larangan. Hal itupun menimbulkan perselisihan dan mengakibatkan masyarakat desa merasa terganggu dan tidak senang dengan adanya aturan dan larangan tersebut Masyarakat desa merasa sungai tersebut di ambil alih oleh Pak Darman karena peraturan yang diterapkannya hanya memperbolehkan pengambilan ikan dalam kurun waktu sekali dalam setahun namun masyarakat merasa hal itu terlalu

40Wawancara : Muhammad Husin Lubis, Desa Tambangan Jae, Rabu 26 Desember 2018, Pukul 11.30 Wib.

lama dan meresahkan karena tidak bisa lagi mengambil ikan untuk keperluan sehari-hari41.

Pada tahun 1992, masyarakat desa melakukan pemberhentian paksa akan keberadaan Lubuk Larangan yang dipelihara oleh Pak Darman dengan melakukan musyawarah desa yang menuntut diberhentikannya segala kegiatan yang dilakukan Pak Darman pada lubuk larangan yang mana oleh Pak Darman kemudian ditanggapi dengan rela karena takut diamuk masa. Akibatnya dari tahun 1992-1999 Lubuk Larangan di desa Tambangan Jae kembali dibiarkan tanpa kepengurusan yang jelas dan kembali menjadi sungai bebas, namun tetap diakui masyarakat desa Tambangan Jae sebagai kawasan Lubuk Larangan Anak Yatim hanya saja masyarakat desa tidak lagi bisa mengambil ikan di dalam sungai seperti sebelumnya karena sudah dilakukan pelarangan dengan peringatan melalui sebuah patok dengan tulisan dilarang mengambil ikan di sungai ini oleh masyarakat desa42.

2.7 Dibentuk Kembali 1999

Pada tahun 1999, masyarakat desa mengadakan musyawarah akan keberadaan Lubuk Larangan yang telah lama dibiarkan dengan ide pembukaan kembali oleh pihak na poso bulung yang di usulkan oleh Muhammad Husin Lubis sebagai ketuanya. Dimana pada tahun 1999 ini kepedulian masyarakat desa akan keberadaan Lubuk Larangan yang telah lama dibiarkan kembali dimunculkan

41Wawancara : Dangsiah Nasution., Desa Tambangan Jae, Senin 13 Mei 2019, Pukul 13.00 Wib.

42Wawancara : Muhammad Husin Lubis. Desa Tambangan Jae, Kamis, 27 Desember 2018, Pukul 10.30 Wib

dengan penilaian positif yang mana sebelumnya sempat terjadi kesalah fahaman akan pembibitan dan pemeliharaannya. Namun hal tersebut tidak langsung mendapat sambutan baik dari masyarakat desa, bahkan mendapat penolakan dari pihak hatobangon yang merasa hal tersebut akan sia-sia seperti sebelumnya, pihak hatobangon terlalu takut mengambil resiko dengan pembukaan kembali Lubuk Larangan karena berkaca dari tahun sebelumnya yang mengakibatkan terjadinya perselisihan antar warga karena Lubuk Larangan tersebut, namun pihak na poso bulung berusaha agar Lubuk Larangan tersebut tetap dibuka kembali dan dengan penuh pertimbangan kemudian disepakati bahwasanya Lubuk Larangan Anak Yatim akan di bentuk kembali demi kepentingan bersama yang kemudian di musyawarahkan dengan pembibitan kembali serta pembentukan kepengurusan yang diserahkan pada muda-mudi desa sebagai pengelola serta pengurus Lubuk Larangan karena mereka yang berusaha dan berkeinginan untuk membuka kembali Lubuk Larangan Anak Yatim tersebut43.

Pada tahun 2000, pembibitan pun kembali dilakukan dan pada tahun ini juga pembukaan atau panen Lubuk Larangan Anak Yatim dilakukan untuk pertama kalinya yang kemudian akan berlanjut pada setiap tahun berikutnya yang dilakukan setelah hari Raya Idul Fitri. Penerapan peraturanpun dilakukan oleh masyarakat guna mengindari hal-hal negatif dan pelanggaran yang terjadi oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab, seperti halnya pemberlakuan penjualan tiket/karcis yang diperuntukkan bagi pemasukan desa, masyarakat dilarang menangkap ikan sebelum waktunya dipanen yang apabila kedapatan akan

43Wawancara : Muhammad Husin Lubis. Desa Tambangan Jae, Kamis, 27 Desember 2018, Pukul 11.30 Wib

di berikan sanksi berupa denda sejumlah uang yang akan disepakati oleh masyarakat desa dan juga terkena sanksi moral yang masih dipercayai masyarakat Mandailing Natal pada umumnya apabila mengambil ikan di setiap kawasan Lubuk Larangan akan terkena penyakit perut kembung yang bisa mengakibatkan kematian. Dan masyarakatpun mematuhinya karena apa yang akan diterapkan merupakan hasil kesepakatan bersama yang telah dimusyawarahkan yang mana artinya semua masyarakat telah mengetahui tentang peraturan dan larangan yang ada pada Lubuk Larangan Anak Yatim tersebut tidak berdasarkan keinginan sendiri seperti tahun-tahun sebelumnya.

Pada tahun 2005, bantuan bibit datang dari Dinas Perikanan Padang Sidimpuan yang membawa jenis ikan tawas yang biasa hidup di Lubuk Larangan yang ada di daerah Padang Sidimpuan44. Hal ini membuat ikan yang ada dalam kawasan Lubuk Larangan Anak Yatim di desa Tambangan Jae beragam jenisnya, ada ikan mas, ikan jurung, ikan garing, ikan lele, ikan nila dan ditambah ikan tawas serta jenis ikan lainnya yang telah hidup dalam sungai yang menjadi kawasan Lubuk Larangan Anak Yatim. Namun dari beberapa jenis ikan yang ada dalam Lubuk Larangan Anak Yatim tersebut keberadaan ikan tawas tidak bertahan lama dalam Lubuk Larangan, menurut masyarakat dari hasil wawancara bisa jadi ikan tersebut dimakan oleh ikan lainnya karena mempunyai ukuran sedikit kecil dibanding ikan lainnya. Saat Lubuk Larangan Anak Yatim ini dipanen, masyarakat dari desa lain pun banyak yang berbondong-bondong datang hanya sekedar ikut dalam acara pemanenan Lubuk Larangan Anak Yatim yang

44 Wawancara ; op.cit., Muhammad Husin Lubis.

memang hanya dilakukan selama satu hari pada hari tertentu yang telah ditetapkan pihak panitia yaitu hatobangon desa dengan membayar tiket sesuai ketentuan yang diberlakukan.

Pembibitan dan pemanenan terus berlanjut sampai tahun 2008, dimana pada tahun ini muncul ide tentang adanya pembagian kawasan Lubuk Larangan Anak Yatim yang keberadaan ikannya tidak untuk dipanen lagi. Masyarakat desa melalui ketua na poso na uli bulung pada saat itu Mizwar merasa selama ini pemeliharaan ikan yang dilakukan dalam Lubuk Larangan Anak Yatim hanya untuk sekedar pemeliharaan sampai panen saja setelah panen selesai ikan yang ada dalam Lubuk Larangan akan habis dan kembali dibibiti kemudian setahun lagi akan di panen dan begitu seterusnya tanpa ada manfaat lainnya yang datang dari keberadaannya. Oleh karena itu masyarakat pun melakukan musyawarah desa untuk mencari solusi dari hal tersebut yang kemudian muncul kesepakatan tentang adanya pembagian kawasan luas sungai pada Lubuk Larangan Anak Yatim yang keberadaan ikannya tidak untuk di panen lagi. Dihitung dengan jarak 50 meter ke hulu dan 50 ke hilir yang di mulai dari sebuah jembatan penghubung antar desa yang berada di atas aliran sungai yang dijadikan kawasan Lubuk Larangan Anak Yatim. Dengan total pembagian luas yaitu 100 meter dijadikan kawasan terlarang untuk kegiatan pengambilan ikan. Namun diluar kawasan tersebut kegiatan panen masih berlanjut seperti biasanya pada setiap tahunnya setelah Hari Raya Idul Fitri

yang juga bisa dilakukan dua kali dalam setahun apabila ada keperluan yang mendadak bagi pembangunan desa dan keperluan desa lainnya45.

2.8 Dijadikan Tempat Wisata 2009

Pada tahun 2009 pada jarak kawasan 100 meter resmi di sepakati masyarakat desa sebagai kawasan terlarang untuk kegiatan panen yang ditandai dengan dibuatnya pembatas berupa tenda yang dibentang seluas aliran sungai yang diukur dari atas jembatan pengubung jalan antar desa seluas 50 meter ke hulu dan 50 meter ke hilir. Diluar kawasan tersebut kegiatan panen tetap dilakukan setiap tahunnya dengan pembagian pembukaan untuk Lubuk Larangan Anak Yatim di hulu dan Lubuk Larangan Anak Yatim di hilir dibagi dalam dua bagian pembukaan. Misalnya pada saat hari Raya Idul Fitri Lubuk Larangan yang di buka adalah Lubuk Larangan Anak Yatim yang berada di bagian hulu sungai maka semua kegiatan panen akan terjadi hanya di hulu sungai sampai dengan tenda pembatas yang ada dan apabila yang dipanen adalah Lubuk Larangan Anak Yatim yang hilir, maka seluruh kegiatannya dimulai dari tenda pembatas sampai ke muara Batang Gadis dan hal tersebut akan berjarak enam bulan dari pembukaaan pertama yaitu hari lebaran yang kemudian akan dibuka enam bulan setelahnya46.

Pada mulanya hanya masyarakat desa Tambangan Jae saja yang datang melihat keberadaan ikan dalam sungai kemudian beberapa masyarakat dari luar

45Wawancara : Mizwar, Desa Tambangan Jae, Selasa, 25 Desember 2018, Pukul : 13.00 Wib 46Wawancara : op.cit., Mizwar.

desa mulai berdatangan untuk berkunjung sekedar melihat keberadaan ikan yang telah disepakati untuk di pelihara dan dibudidayakan tidak untuk di panen lagi seperti tahun sebelumnya.

Pada tahun 2010, desa Tambangan Jae menjadi desa binaan yang mana pada tahun tersebut Bupati Mandailing Natal Bapak Amru Daulay melalui Dinas Perikanan Mandailing Natal memberikan bantuan bibit ikan pada masyarakat desa Tambangan Jae yang menurut warga desa sangat membantu dalam pemeliharaan Lubuk Larangan Anak Yatim47. Pada tahun ini juga masyarakat desa mengajukan permohonan agar Lubuk Larangan Anak Yatim desa Tambangan Jae ini dijadikan tempat wisata pada Dinas Pariwisata Mandailing Natal, namun pengajuan permohonan tersebut tidak kunjung di proses dan ditanggapi oleh Dinas Pariwisata Mandailing Natal. Namun hal tersebut tidak menyurutkan semangat dari masyarakat desa untuk melakukan pengembangan terhadap Lubuk Larangan Anak Yatim agar diakui pemerintah sebagai tempat wisata Lubuk Larangan Anak Yatim dan semakin banyak masyarakat yang datang berkunjung serta menjadikan Lubuk Larangan Anak Yatim desa Tambangan Jae ini dikenal masyarakat luas.

2.9 Resmi Menjadi Tempat Wisata 2012

Pada tahun 2012 keberadaan Lubuk Larangan Anak Yatim desa Tambangan Jae mulai dikenal oleh masyarakat luas dan semakin banyak dikunjungi masyarakat yang datang tidak hanya dari berbagai desa, namun juga daerah yang ada di Mandailing Natal. Hal ini dikarenakan kebijakan yang dibuat

47Wawancara : Muhammad Husin Lubis, Desa Tambangan Jae, Kamis, 27 Desember 2018, Pukul 12.00.

masyarakat pada tahun 2009 tentang pembatasan kawasan panen menjadikan ikan yang tumbuh besar di dalam Lubuk Larangan menarik minat masyarakat untuk datang sekedar melihat dan memberi pakan. Setelah masyarakat desa sepakat untuk membuat kawasan wisata Lubuk Larangan Anak Yatim, masyarakat melakukan pemungutan dana sukarela dari kantong masyarakat sendiri guna untuk membersihkan dan menghias Lubuk Larangan serta perencaan pembuatan tugu sebagai penanda dan memperjelas bahwasanya i Lubuk Larangan Anak Yatim ni merupakan Lubuk Larangan Anak Yatim yang diperuntukkan bagi anak yatim-piatu yang terhenti karena kurangnya dana. Hal tersebut dilakukan masyarakat secara bersama dan gotong royong.

Melihat kegiatan yang dilakukan masyarakat desa Tambangan Jae untuk melakukan mengembangan terdahap Lubuk Larangan Anak Yatim tersebut, Pemerintah melalui Dinas Pariwisata Mandailing Natal yang sebelumnya tidak kunjung memproses permohonan dari masyarakat desa kemudian memberikan bantuan dana untuk membantu pengembangan Lubuk Larangan Anak Yatim dan mendukung peresmiannya. Awalnya dana bantuan pemerintah akan dipergunakan untuk membuat sebuah tempat parkir dan tempat berteduh bagi pengunjung atau masyarakat yang datang, namun karena tidak tersedianya lahan yang luas, dana tersebut dipergunakan untuk memperbaiki hiasan di dinding sekitar Lubuk Larangan (lihat lampiran 2: gambar 6) serta melanjutkan pembuatan tugu yang sebelumnya terhenti membangun sebuah musholla dan pondasi atau jalan di tepian sungai (lihat lampiran 2: gambar 7) dengan tujuan agar masyarakat bisa sampai ke pinggir bibir sungai yang kemudian terhenti karena dana tersebut tidak

cukup. Ketika diajukan permohonan ulang, Dinas Pariwisata Mandailing Natal kembali tidak memproses mengajuan permohonan tersebut, akhirnya dana tersebut dilanjtukan dengan dana dari kas desa48.

Dari hasil wawancara yang dilakukan baik di desa Tambangan Jae sampai pada Pemkab Mandailing Natal penulis tidak menemukan adanya surat keterangan dari Dinas Pariwisata atau Pemkab Mandailing Natal yang menyatakan bahwasanya Lubuk Larangan Anak Yatim ini telah resmi diakui menjadi tempat wisata, hanya saja menurut para informan dari Pemkab Mandailing Natal, Lubuk Larangan Anak Yatim yang berada di desa Tambangan Jae tersebut memang diketahui sebagai salah satu tempat wisata di Mandailing Natal. Wawancara yang dilakukan dengan kepala desa Tambangan Jae Abdul Wahab Lubis, menyatakan bahwasanya tugu yang dirampungkan dengan bantuan dana yang diberikan oleh Dinas Pariwisata merupakan bukti keresmian dari Lubuk Larangan Anak Yatim ini menjadi tempat wisata.

Tempat wisata tersebut tidak dipungut biaya apapun, hal tersebut dikarenakan tidak adanya sarana yang bisa mendukung untuk diberlakukannya pemungutan biaya bagi masyarakat yang berkunjung seperti halnya lahan parkir bagi masyarakat yang membawa kendaraan, dalam kata lain tidak ada hal yang mendukung untuk adanya pemasukan desa dari Lubuk Larangan Anak Yatim yang bertambah fungsi sebagai tempat wisata tersebut, hanya saja di pinggir jembatan masyarakat menyediakan sebuah kotak amal (lihat lampiran 2: gambar

48Wawancara : Muhammad Husin Lubis. Desa Tambangan Jae, Kamis, 27 Desember 2018, Pukul 11.30 Wib

8) apabila ada masyarakat yang sedang berkunjung ingin menyumbang bagi anak yatim-piatu yang ada di desa tersebut, yang mana anak yatim-piatu tersebut merupakan warga desa Tambangan Jae yang tinggal di desa bukan di tempat penampungan atau panti asuhan dan hasil dari dari kotak amal tersebut sepenuhnya diperuntukkan bagi kesejahteraan anak yatim-piatu yang ada di desa Tambangan Jae.

Sejak tahun 2012 ini masyarakat juga mulai membenahi saluran irigasi mereka agar tidak langsung mengarah ke Lubuk Larangan. Saluran pembuangan atau irigasi (lihat lampiran 2: gambar 9) masyarakat di alihkan ke hilir sungai dengan membangun paret-paret si depan rumah mereka untuk saluran pembuangan yang langsung mengarah menuju hilir sungai. Masyarakat desa membuat peraturan tidak boleh ada MCK ataupun pembuangan dari hulu sungai.

Masayarakat hanya boleh melakukan kegiatan mandi dan mencuci baju di bagian hulu sungai. Oleh karena itu, masyarakatpun sama-sama bergotong royong membangun dan menyediakan MCK umum di hilir tepat dibawah musholla agar tidak mengganggu pada masyarakat lainnya dan untuk sarana bagi masyarakat yang datang berkunjung.

BAB III

PENGELOLAAN LUBUK LARANGAN ANAK YATIM DESA TAMBANGAN JAE 1999

3.1 Pemeliharaan Lubuk Larangan

Pemeliharaan pada Lubuk Larangan Anak Yatim di desa Tambangan Jae biasanya sama dengan pemeliharaan Lubuk Larangan pada umumnya yang terdiri dari, yaitu49 :

1. Penentuan Jenis Ikan

Penentuan jenis-jenis ikan yang akan ditebar bibitnya ke dalam sungai.

Pemeliharaan Lubuk Larangan Anak Yatim desa Tambangan Jae pertama kali dilakukan pada tahun 1989 dengan menebar bibit jenis ikan mas ke dalam sungai yang kemudian sempat terhenti dan berlanjut pada tahun 1999 yang pada saat itu masyarakat menebar bibit ikan mas, ikan jurung dan lele ke dalam sungai yang berlanjut pada setiap tahun berikutnya. Pada tahun 2005 jenis ikan tawas yang biasa hidup di daerah sungai yang ada di Padang Sidimpuan pernah di tebar bibitnya ke dalam Lubuk Larangan Anak Yatim yang dibawa oleh Dinas Perikanan Padang Sidimpuan, namun ikan tersebut tidak bertahan lama di dalam Lubuk Larangan yang menurut warga mungkin saja mati dimakan ikan lainnya karena ukurannya yang sedikit lebih kecil. Hingga saat ini jenis ikan yang biasa di bibitkan ke

49Erwin Putra. op.cit., hal 37-39.

Lubuk Larangan Anak Yatim desa Tambangan Jae ini adalah jenis ikan mas, ikan lele, dan ikan garing.

Umumnya ikan yang terdapat pada Lubuk Larangan mayoritas memiliki kesamaan, yaitu : ikan jurung yang secara lokal disebut ikan mera, kalau masih kecil disebut ikan garing, ikan mas, ikan nila dan ikan lele50.

2. Pembibitan

Pembibitan, pada umumnya ikan yang terdapat di Lubuk Larangan tidak lagi dibibitkan, hal ini di karenakan di dalam sungai sudah tersedia bibit alaminya51. Namun pembibitan pada Lubuk Larangan Anak Yatim yang ada di desa Tambangan Jae tetap rutin dilakukan oleh pihak pengurus sekali dalam setahun tepat beberapa hari setelah dilakukannya pemanenan Lubuk Larangan, hal ini dimaksudkan apabila ada keperluan mendesak Lubuk Larangan tetap memiliki ikan yang banyak saat di panen karena tidak menutup kemungkinan Lubuk Larangan bisa dibuka dua kali dalam setahun. Pada Lubuk Larangan Anak Yatim desa Tambangan Jae ini juga pembibitan sudah termasuk pada pengeluaran tetap sebagai bagian dari pemeliharaan yang dilakukan pihak pengurus terhadap Lubuk Larangan, oleh karena itu bibit ikan akan tetap diberikan karena sudah tercantum sebagai pengeluaran rutin setelah panen yang biasanya ditambah lagi dengan adanya sumbangan bibit yang diberikan dari beberapa pihak.

50Meneth Ginting, op.cit., hal 4.

51Ibid.

3. Pakan

Pakan, sama halnya dengan bibit, secara alami di sungai sudah tersedia pakan ikan. Pada Lubuk Larangan Anak Yatim desa Tambangan Jae pakan ikan akan diberikan oleh pihak pengurus tepat saat pembibitan pada Lubuk Larangan dilakukan, selain itu masyarakat desa juga banyak yang secara

Pakan, sama halnya dengan bibit, secara alami di sungai sudah tersedia pakan ikan. Pada Lubuk Larangan Anak Yatim desa Tambangan Jae pakan ikan akan diberikan oleh pihak pengurus tepat saat pembibitan pada Lubuk Larangan dilakukan, selain itu masyarakat desa juga banyak yang secara

Dokumen terkait