DIDIKAN POLA ASUH ANAK DI TIGA KELUARGA DESA PERLIS
4.3 Didikan Pola Asuh Anak di Desa Perlis
Pola Asuh Orang Tua adalah cara yang ditempuh atau yang dilakukan orang tua dalam mendidik anaknya, dengan harapan anak dapat tumbuh kembang sesuai apa yang diharapkan keluarga. Pola asuh yang dilakukan setiap keluarga tentu berbeda satu dengan lainnya. Perbedaan inilah yang akan mempengaruhi perkembangan anak itu sendiri. Diana Baumrind (dalam Tridhonanto dan Agency, 2014:11) mengemukakan 3 (tiga) pola asuh yang digunakan oleh orang tua dalam mendidik anak – anaknya yaitu pola asuh otoriter, pola asuh permisif, dan pola asuh demokrasi, dari beberapa macam pola asuh tersebut secara garis besar dapat dijelaskan bahwa perbedaan dalam pola asuh dapat terjadi karena setiap orang tua memiliki sikap dan nilai – nilai yang berbeda dan akan mempengaruhi mereka dalam menghadapi anak – anaknya. Pengaruh dalam menerapkan pola asuh dapat terpengaruh dari beberapa sebab yaitu lingkungan hidup, pekerjaan, situasi keluarga, dan norma – norma yang berlaku dilingkungannya. Dari beberapa pengaruh yang dapat mempengaruhi orang tua dalam mendidik anak setiap orang tua berharap cara yang dilakukan adalah yang terbaik buat anak.
Berdasarkan wawancara dari informan bahwa didikan pola asuh di Desa Perlis lebih cenderung mengarah ke arah pola asuh otoriter dimana sikap dalam mendidik anak, mereka menunjukkan sikap memaksa kepada anak untuk mengikuti keinginan orangtuanya, sehingga anak tidak diberi kesempatan untuk
mewujudkan keinginannya sendiri, dan mereka bersifat tegas dan kaku. Sehingga tidak jarang orang tua sedikit memperhatikan pendidikan anak, anak tidak tamat SD dan anak selalu diajak untuk ikut nelayan demi membantu perekonomian keluarga sehingga anak tidak sekolah karena keasyikan dalam membantu orang tua. Hal ini sesuai dengan hasil wawancara tanggal 12 Agustus 2019 dengan salah satu informan di Desa Perlis yaitu: “yah...kadang – kadang namanya orang tua ingin anaknya belajar, sekolah dan rekreasi dengan teman – teman sebayanya anak – anak sesama nelayan, kepingin tahu mall, pasar berbelanja atau yang lainnya...tapi karena terbentur dana tidak ada akhirnya semua rencananya tidak terwujud dan keinginan anak tidak terpenuhi...tapi kalau pas panen ikan kemauan anak-anaknya dituruti mas, misal beli HP, tapi pada saat kekurangan HP itu dijual lagi”.
Di samping itu, orang tua di Desa Perlis juga melakukan pola asuh Permisif dalam mendidik anaknya dimana mereka tidak membatasi anak dan diberi kebebasan untuk berteman atau bergaul dengan teman – temannya asal tidak nakal dan bermain sewajarnya. Berdasarkan hasil wawancara dengan Bapak Junaidi Salim selaku Kepala Desa Perlis tanggal 12 Agustus 2019, bahwasanya terdapat beberapa anak di Desa Perlis yang terjerumus dan terpengaruh dalam dunia Narkotika.
Tidak semua orang tua memberi kebebasan dalam bergaul atau berteman dengan orang lain. salah satu informan di Desa Perlis menyebutkan dalam hasil wawancara pada tanggal 12 Agustus 2019, yaitu: “memberikan kebebasan bermain kepada anak boleh, akan tetapi pada saatnya sekolah ya harus sekolah,
dan waktunya ngaji ya harus ngaji, jadi anak tetap terpantau dengan siapa dia bermain”.
Berdasarkan hasil wawancara di atas menunjukkan bahwa kehidupan peranan keluarga dalam mendidik anak sangat berpengaruh untuk membentuk kepribadian anak, dari ketiga keluarga informan kunci menunjukkan adanya sikap otoriter dalam mendidik anaknya. Jadi sifat keras orang tua terutama ayah terhadap anak tercermin dalam mendidik.
Berikut informan yang diwawancarai mengenai didikan anak di dalam keluarga:
1. Informan pertama yaitu Keluarga Bapak Mahmud, dalam kehidupan sehari – hari memberikan pola didikan anak dengan cara:
b) Menanamkan sikap keras terhadap anak – anak mereka dalam bekerja maupun belajar.
c) Menanamkan rasa hormat kepada orang yang lebih tua,
d) Bapak Mahmud dan istri tidak segan – segan untuk memukul anak – anak mereka ketika anak ketahuan melakukan hal – hal yang dianggap kurang sopan dan merugikan orang lain seperti mencuri sesuatu barang di rumah tetangga karena pengaruh dari teman – temannya.
e) Untuk memberi peringatan terhadap anak mereka, maka bapak Mahmud dan istri memberikan nasehat dan perjanjian hukuman kepada anak agar mereka tidak melakukan hal yang sama dan melakukan yang merugikan diri sendiri dan orang lain.
2. Informan kedua yaitu Keluarga Bapak Anto, dalam mendidik anak – anak mereka melakukan didikan dengan cara:
a) Menanamkan sifat keras hal itu terbukti dari setiap arahan dan teguran kepada anaknya ketika anak melakukan kesalahan dalam belajar, apalagi ketika menasehati anak tentang pelajaran di sekolah, anak seakan tidak diberi pilihan untuk menentukan kemana arah yang diinginkan oleh anak dan beliau selalu menentukan sendiri agar anak menjadi orang yang sesuai dengan cita – cita beliau, hal ini dikarenakan beliau tidak ingin anaknya seperti orang tuanya yang bekerja sebagai nelayan.
b) Apabila anak melakukan kesalahan, bapak Anto selalu menanyakan kenapa anak berbuat salah dan jika terbukti salah maka anak diberikan hukuman untuk membersihkan rumah.
3. Informan ketiga yaitu Keluarga Bapak Supriyadi, dalam mendidik anak – anak, mereka melakukan cara sebagai berikut:
a) Memberi batasan – batasan tertentu seakan beliau sudah menganggap anaknya cukup dewasa dalam menentukan sikap, beliau hanya melakukan pengawasan saja ketika anak melakukan kegiatan di luar rumah
b) Memukul anaknya jika anak melakukan hal – hal yang dianggap salah dan melampaui batas – batas yang ditentukan oleh orang tua, batasan – batasan tersebut, seperti: harus ngaji pada waktu ngaji, tidak boleh
pulang larut malam ketika bermain, tidak boleh merokok atau narkoba dan berjudi serta tidak boleh masuk ke hiburan malam.
Dari informasi di atas dapat diambil kesimpulan bahwa peranan keluarga dalam mendidik anak merupakan suatu hubungan yang tidak dapat dipisahkan.
Keluarga merupakan lingkungan yang pertama bagi anak, dimana anak akan belajar berinteraksi dan dilatih untuk berkembang di lingkungan keluarga sebelum terjun di tengah masyarakat.
Dari hasil wawancara dan observasi informan kunci dan didukung informan pendukung dapat dikatakan bahwa sebagaian besar warga Desa Perlis masih menggunakan pola asuh otoriter dalam mendidik anaknya dan sedikit bercampur dengan pola asuh permisif, hal ini masih terbukti dengan orang tua yang menggunakan 1) pola asuh otoriter yakni cenderung bersifat kaku, suka bersikap memaksakan kehendak, selalu mengatur tanpa memperhatikan kemauan dan perasaan anak, menghukum bila anak bertindak tidak sesuai dengan kehendaknya dan kurang adanya komunikasi dengan baik; 2) pola asuh permisif yang cenderung selalu memberikan kebebasan pada anak ada memberikan pengawasan dan tanpa memberikan pengawasan sama sekali; dan 3) Untuk pola asuh demokrasi kebanyakan orang tua di Desa Perlis tidak menunjukkan pola asuh demokrasi karena tidak adanya sikap terbuka antara orang tua dengan anaknya dan orang tua tidak terlalu mendengarkan keluhan dan memberikan pandangan atau pendapat serta orang tua juga tidak menghargai pendapat anak – anaknya.