• Tidak ada hasil yang ditemukan

DIDIKAN POLA ASUH ANAK DI TIGA KELUARGA DESA PERLIS

4.5 Gaya Komunikasi di Desa Perlis

Tradisi masyarakat pesisir sangat kental dengan aktivitas bahari, jauh sebelum teknologi mesin modern digunakan pada perahu – perahu nelayan. Bagi masyarakat daerah pesisir, menangkap ikan dengan cara yang tradisional selain untuk melestarikan budaya pendahulu juga dianggap sebagai cara yang tepat untuk tetap bisa bersahabat dengan alam sekitar yang telah menjadi tempat penghasilan kehidupan nelayan. Jika secara demografi, masyarakat pesisir dianggap berkarakter keras, tegas dan tidak mudah diatur menjadi sebuah ciri masyarakat di desa tersebut dalam berinteraksi dan berkomunikasi dengan orang lain. Tentunya, masyarakat pesisir juga mempunyai gaya atau model sendiri dalam berkomunikasi dengan orang lain, maupun orang luar wilayah pesisir.

Walaupun demikian, masyarakat pesisir tetap menjadi bagian dari masyarakat Indonesia yang masih mempertahankan budaya dan tradisi pesisiran.

Jika melihat kondisi lingkungan dan masyarakat pesisir Desa Perlis, tentunya gaya komunikasi masyarakat Desa tersebut bisa juga berbeda dengan gaya komunikasi masyarakat perkotaan. Gaya komunikasi pada dasarnya dipengaruhi oleh situasi, bukan kepada tipe seseorang, gaya komunikasi bukan tergantung pada tipe seseorang melainkan kepada situasi yang dihadapi. Setiap orang akan menggunakan gaya komunikasi yang berbeda – beda ketika mereka sedang gembira, sedih, marah, tertarik, atau bosan. Begitu juga dengan seseorang yang berbicara dengan sahabat baiknya, orang yang baru dikenal dan dengan anak

– anak akan berbicara dengan gaya yang berbeda. Selain itu gaya yang digunakan dipengaruhi oleh banyak faktor, gaya komunikasi adalah sesuatu yang dinamis dan sangat sulit untuk ditebak. Sebagaimana budaya, gaya komunikasi adalah sesuatu yang relatif.

Berdasarkan penjelasan di atas, menunjukkan bahwa gaya komunikasi ditentukan dan dipengaruhi oleh situasi dan kondisi dimana seseorang berada. Jika dikaitkan dengan masyarakat nelayan Desa Perlis yang secara geografis merupakan masyarakat yang berdomisili di pesisir pantai dan umumnya mempunyai plurarisme budaya, sehingga masyarakat pesisir cenderung agresif karena kondisi lingkungan pesisir yang panas dan terbuka, selain itu keluarga nelayan mudah diprovokasi (dipengaruhi), dan salah satu kebiasaan di kalangan nelayan (masyarakat pesisir) adalah karena kemudahan mendapatkan uang menjadikan hidup mereka lebih konsumtif. Secara umum dapat dikatakan bahwa masyarakat pesisir memiliki karakter yang keras dan tidak mudah diatur (Kusnadi, 2002:36).

Kondisi geografis inilah yang menjadikan masyarakat pesisir cenderung keras karakternya dan mempengaruhi gaya komunikasinya. Hal ini nampak jika masyarakat nelayan Desa Perlis sedang berbicara dengan orang lain. Suara yang dikeluarkan sangat lantang dan tegas. Sehingga berdampak pada respon dari lawan bicara (orang yang mendengarkan) juga akan berbeda dalam menanggapinya.

Menurut hasil obervasi dan interaksi penulis selama melakukan wawancara kepada Bapak Mahmud, Bapak Anto dan Bapak Supriyadi serta

pengamatan di lokasi penelitian dan berinteraksi dengan masyarakat Desa Perlis ditemukan data bahwa:

.

a) Bahasa yang digunakan adalah Bahasa Indonesia yang baik dan terkadang dicampur dengan Bahasa Melayu.

Rasa ingin tahu masyarakat pesisir Desa Perlis sangat tinggi terhadap sesuatu yang baru dan seseorang yang baru ditemuinya.

b) Tidak selamanya dan semua respon dan komunikasi masyarakat pesisir Desa Perlis baik dan sopan, terkadang mereka juga bersikap kasar, acuh dan tidak mau tahu bahkan tidak memberi respon apapun jika diajak berkomunikasi dan berhadapan dengan orang asing atau orang luar wilayahnya.

c) Komunikasi masyarakat pesisir Desa Perlis baik jika dengan orang asing dan orang luar wilayahnya. Namun, jika orang asing atau orang luar wilayah Desa Perlis tersebut sudah menetap atau tinggal berhari – hari di wilayah Desa Perlis dan masyarakat sekitar sudah mengetahui sifat dan karakter jelek orang asing tersebut, maka masyarakat pesisir Desa Perlis akan langsung mengambil sikap tidak suka dan membatasi pergaulan (interaksi sosialnya).

d) Komunikasi yang dilakukan oleh masyarakat pesisir Desa Perlis pada dasarnya tergantung pada komunikator (orang yang menyampaikan pesan). Jika komunikatornya memulai komunikasi dengan baik dan sopan maka masyarakat pesisir Desa Perlis juga akan menanggapi dengan baik

dan halus. Begitu sebaliknya, jika dari awal berkomunikasi menggunakan bahasa yang tidak sopan dan kasar, masyarakat pesisir Desa Perlis juga akan merespon dengan kasar pula. Pada dasarnya masyarakat pesisir Desa Perlis dalam berkomunikasi terbilang baik dan sopan, walaupun masih ditemukan respon yang tidak baik dan acuh. Namun, ditemukan hanya pada beberapa orang saja, dan hal ini bisa dikarenakan pendidikan dan faktor psikologis yang berbeda – beda.

Pada dasarnya masyarakat pesisir Desa Perlis mempunyai sifat terbuka dalam komunikasi, namun hal ini jika ditunjang dengan kondisi dan situasi yang baik, rileks, santai dan informal. Dengan kondisi demikian, masyarakat pesisir Desa Perlis dalam berkomunikasi lebih dapat memahami pesan yang disampaikan komunikator dengan baik, terjadinya kesamaan makna serta menjalin hubungan dengan baik, sehingga dapat memelihara empati dan kerjasama. Seperti telah dijelaskan penulis di atas, bahwa dalam berkomunikasi masyarakat pesisir Desa Perlis lebih tergantung pada komunikatornya. Hal ini dapat menjadikan komunikasi yang terjalin baik dan tidak, jika komunikator pandai menentukan sikap dan situasi yang tepat serta cara penyampaian pesan yang baik dan sopan, maka masyarakat pesisir Desa Perlis sebagai komunikannya juga akan menerima dengan baik dan feedback (respon) yang baik pula.

Kondisi Sosial Budaya Terkait Pola Didikan Anak Nelayan di Desa Perlis Sistem budaya yang tumbuh dan berkembang di masyarakat tidak lepas dari nilai – nilai yang telah dibangun oleh masyarakat yang bersangkutan. Nilai nilai budaya merupakan konsep – konsep yang hidup dalam pikiran sebagian besar warga suatu masyarakat mengenai apa yang dianggap bernilai, berharga, dan penting dalam hidup, sehingga dapat berfungsi sebagai suatu pedoman yang memberi arah dan orientasi kepada warga suatu masyarakat tersebut.

Budaya sebagai kumpulan aturan yang diterima bersama dan mengatur perilaku seseorang dalam masyarakat atau komunitas tertentu, seperangkat nilai, kepercayaan, dan kebiasaan yang diterima oleh sebagian anggota masyarakat yang akan diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Budaya merupakan faktor penting yang mempengaruhi orang tua dalam tata cara mendidik anak.

Kebanyakan orangtua mempelajari praktek pengasuhan dari orangtua mereka sendiri. Sebagian praktek tersebut mereka terima, namun sebagian lagi mereka tinggalkan. Atau terkadang membawa pandangan yang berbeda mengenai pengasuhan anak (Santrock, 2007:163).

Pengasuhan dan cara didik anak merupakan keunikan budaya suatu masyarakat, oleh karena itu pola didikan akan berbeda dari suatu masyarakat ke masyarakat lain, sesuai dengan sistem nilai budaya yang mereka miliki. Keluarga merupakan kesatuan terkecil yang berperan melakukan pola pengasuhan anak sesuai dengan nilai budaya yang dianut oleh keluarga tersebut (Iriani, 2014:265).

Pola didikan dalam keluarga tidak lain adalah untuk mendidik anak dari awal pertumbuhan hingga terbentuk personalitynya. Anak-anak lahir yang tanpa bekal

sosial, maka agar dapat berpartisipasi, orangtuanya perlu mensosialisasi tentang nilai-nilai yang ada dalam masyarakat. Pada dasarnya pola didik atau proses sosialisasi ini merupakan wadah pembentukan watak, kepribadian, dan budi pekerti yang diharapkan dapat membentuk anak berprilaku sesuai dengan norma atau nilai yang dianut oleh masyarakat setempat.

Dari hasil supervisi dan penelitian yang dilakukan di Desa Perlis kecamatan Brandan Barat mengenai kondisi budaya dan kaitannya dengan pendidikan anak nelayan, jika dilihat dari budaya masyarakat tersebut, maka pendidikan formal anak-anaknya kurang diperhatikan. Faktor sosial budaya kemiskinan juga menjadi hambatan dalam pertumbuhan ekonominya. Kurangnya keiginan untuk kerja keras dan kecendrungan untuk hidup santai, dan cepat puas dengan hasil yang diperoleh juga merupakan faktor budaya kemiskinan.

Anak yang bekerja pada masyarakat nelayan di desa Perlis Kecamatan Brandan Barat, juga dipengaruhi oleh beberapa faktor. Salah satu faktor penyebabnya adalah faktor lingkungan. Lingkungan sosial budaya yang sedikit banyaknya akan mempengaruhi seorang anak untuk bekerja dan putus sekolah, dan tentunya anak – anak akan merasakan apa yang dilakukannya merupakan hal yang baik untuk dirinya.

Oleh karena itu, anak memerlukan nasehat, bimbingan dari orang yang lebih dewasa dalam hal ini orang tua dan masyarakat sekitar tempat tinggal anak.

Hal yang memungkinkan jika anak sering melihat teman sebayanya bekerja akibatnya lama – kelamaan anak tersebut akan terpengaruh untuk bekerja setelah melihat temannya bekerja dan mendapat upah.

Orang tua dan masyarakat yang menganggap biasa jika seorang anak bekerja pada masyarakat nelayan karena menurut mereka sudah tradisi kalau orang tuanya kerja sebagai nelayan maka anaknya pun akan menjadi nelayan kelak. Jadi menurut orang tua biarlah sejak kecil anak terbiasa bekerja di laut agar nantinya anak lebih terampil lagi. Sehingga tak bisa dipungkiri lagi, anak nelayan menjadi nelayan adalah realitas kehidupan komunitas nelayan.

Berdasarkan perumusan masalah dan tujuan penelitian yang telah dikemukakan pada bagian pendahuluan, ada tiga hal diteliti dan dibahas dalam penelitian ini secara umum yaitu:

1. Pertama adalah pendidikan responden dalam penelitian ini dapat dilihat rata – rata tamat sekolah dasar dan ada yang tidak tamat sekolah dasar.

Pendidikan orang tua yang hanya tamat sekolah dasar apalagi tidak tamat sekolah dasar, hal ini sangat berpengaruh terhadap cara berpikir orang tua untuk mendidik dan menyekolahkan anaknya, dan akan mempengaruhi perspektif orang tua terhadap arti pentingnya dunia pendidikan bagi anak-anaknya. dan begitu juga dengan orang tua yang mempunyai jenjang pendidikan formal yang mempunyai pengetahuan luas dan mengerti tentang arti penting pendidikan bagi anak-anaknya. Pola pikir yang tertanam dalam pikiran masyarakat nelayan yang kurang memaknai arti penting pendidikan sehingga membuat masyarakat kurang perhatian terhadap pendidikan anak – anaknya.9

9

2. Kedua adalah faktor orang tua yang hanya tamat sekolah dasar atau tidak tamat sekolah dasar cenderung kepada hal – hal tradisional dan kurang menghargai arti pentingnya pendidikan. Masyarakat nelayan menyekolahkan anaknya hanya sebatas bisa membaca dan menulis saja.

Rendahnya jenjang pendidikan formal orang tua dan usia orang tua juga menjadi salah satu penyebab ketidak berdayaan nelayan. Dengan pendidikan yang rendah, masyarakat nelayan tidak mampu menyelesaikan persoalan yang mereka hadapi. Pendidikan berfungsi untuk mengembangkan kemampuan, meningkatkan mutu kehidupan dan martabat manusia baik individu maupun kelompok. Melalui pendidikan, pemberdayaan individu dan masyarakat dapat membawa masyarakat nelayan ke masa depan yang lebih baik. Semua orang dikenai pendidikan dan melaksanakan pendidikan. Sebab pendidikan tidak pernah terpisah dengan kehidupan manusia.

3. Ketiga adalah anak – anak menerima pendidikan dari orang tua, pendidikan formal dari sekolah dan masyarakat sekitarnya ketika anak-anak ini sudah dewasa. Pendidikan dapat didefinisikan sebagai suatu proses transformasi nilai, keterampilan atau informasi (pengetahuan) yang disampaikan baik itu secara formal maupun non formal, dari suatu pihak ke pihak yang lain. Pendidikan formal yaitu suatu usaha sadar manusia untuk mencapai keterampilan dan model pemikiran yang dianggap penting dalam menjalankan fungsi – fungsi sosial. Sedangkan pendidikan informal yaitu suatu proses transformasi nilai, keterampilan dan pengetahuan yang

berjalan alamiah dan menghasilkan efek yang tetap dari lingkungan.

Tingkat pendidikan seseorang itu tergantung pada bagaimana orang itu memandang pendidikan dan keadaan ekonomi mereka. Pendidikan itu sangat penting bagi kehidupan baik kehidupannya maupun kehidupan anaknya.

Pendidikan bagi anak itu sangat penting dan perlu sekali, sebab tanpa pendidikan maka ia tidak punya arah atau pegangan terutama sekali pendidikan mengenai agama. Untuk itu manusia harus mempunyai bekal ilmu agar ia mempunyai pegangan dalam hidupnya sehingga ia bermoral dan berakhlak baik, demi menjalin kerjasama antar individu maupun kelompok.

Berdasarkan hasil wawancara pada tanggal 23 september 2019 dengan Bapak Junaidi Salim selaku Kepala Desa Perlis dan informan lainnya, beliau mengatakan bahwa, “Pendidikan bagi anak itu sangat penting apalagi di zaman yang penuh dengan teknologi. Harapan kami untuk menyekolahkan anak ke jenjang lebih tinggi itu ada, akan tetapi karena penghasilan masyarakat yang pas – pasan itu membuat mereka menyekolahkan anak ke jenjang yang lebih tinggi itu sebagai mimpi. Karena biaya sekolah yang cukup mahal”.

Tetapi biaya pendidikan yang begitu mahal membuat masyarakat mempunyai perspektif lain terhadap pendidikan, karena mempunyai pendapatan yang rendah membuat masyarakat untuk tidak menyekolahkan anaknya dan anak diajak ikut mencari ikan atau bekerja untuk membantu orang tuanya untuk memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga sehari-hari.

Kebudayaan dapat dipahami sebagai salah satu sumber utama sistem tata masyarakat yang diharapkan dapat membentuk sikap mental atau pola pikir manusia. Kondisi ini sering terpantul pada pola sikap dan tingkah laku dalam berbagai segi kehidupan. Budaya masyarakat dalam penelitian ini adalah aktivitas masyarakat yang membiarkan anak – anak bekerja membantu orang tuanya untuk memenuhi kebutuhan ekonomi dan kurang perhatian terhadap pendidikan formal anak – anaknya.

Budaya masyarakat dalam menyekolahkan anak merupakan hal yang sering kita dengar dalam kehidupan sehari – hari. Pengaruh budaya masyarakat dengan tingkat pendidikan anak di desa Perlis Kecamatan Brandan Barat menunjukkan rendahnya perhatian orang tua terhadap pendidikan anak – anaknya.

Kondisi sosial budaya dan ekonomi nelayan yang berhubungan dengan pendapatan nelayan, mempengaruhi perspektif nelayan sehingga akan mempengaruhi moivasi anak untuk belajar.

Motivasi belajar dapat berasal dari diri pribadi anak nelayan itu sendiri (motivasi internal) dan/atau berasal dari luar diri pribadi anak nelayan (motivasi eksternal). Kedua jenis motivasi ini jalin – menjalin atau kait mengait menjadi satu membentuk satu sistem motivasi yang menggerakkan anak nelayan untuk belajar atau sekolah. Faktor internal yang mempengaruhi motivasi anak nelayan untuk sekolah adalah berasal dari minat anak tersebut dan faktor eksternal berasal dari faktor lingkungan dan infrastruktur yang ada. Selain itu, faktor lain yang mempengaruhi adalah kondisi sosial budaya dan ekonomi nelayan seperti

pendapatan, lingkungan tempat permainan anak sangat mempengaruhi perspektif orangtua terhadap mendidik dan pendidikan anak-anaknya.

Lingkungan tempat tinggal anak merupakan faktor yang sangat berpengaruh terhadap terjadinya kegiatan dan proses belajar/pendidikan. Oleh sebab itu lingkungan masyarakat atau kondisi sosial budaya masyarakat sangat berperan penting dalam membina kepribadian anak – anak ke arah yang lebih positif. Anak putus sekolah bukan hanya disebabkan lingkungan tempat tinggal masyarakat nelayan, latar belakang pendidikan formal orang tua rendah dan karena lemahnya perekonomian keluarga serta juga datang dari dirinya sendiri yaitu kurang minatnya anak untuk bersekolah atau melanjutkan sekolah.

Anak usia wajib belajar semestinya bersemangat ingin menuntut ilmu pengetahuan, namun karena sudah terpengaruh oleh lingkungan yang kurang baik terhadap perkembangan pendidikan anak, sehingga minat anak untuk bersekolah kurang mendapat perhatian sebagaimana mestinya anak yang bersemangat untuk melanjutkan sekolah untuk ke jenjang yang lebih tinggi. Adapun yang menyebabkan anak kurang berminat untuk bersekolah adalah anak kurang mendapat perhatian orang tua tentang pendidikannya, di desa Perlis Kecamatan Brandan Barat dimana orang tua mengajak anak-anaknya untuk berlayar ke laut atau bekerja membersihkan jaring penangkap ikan, perahu dan lain – lain.

Ryan siswa SMP Negeri 1 Babalan kelas 8, jarang masuk sekolah dalam waktu satu minggu hanya masuk sekolah antara tiga atau empat hari dan kadang hanya dua hari. Berdasarkan hasil observasi, Andi bekerja membantu orang tuanya (Bapak Anto) dengan masyarakat nelayan yang ada di desa Perlis tersebut

dengan membersihkan jaring penangkap ikan dan perahu, kalau Andi bekerja dengan orang lain, maka ia akan mendapatkan upah, dan sekarang Andi sudah tidak sekolah lagi karena sering tinggal kelas. Padahal anak tersebut masih dalam taraf belajar atau sekolah. Hal ini disebabkan karena rendahnya pendapatan ekonomi keluarga sehingga membuat orang tua tidak lagi memperhatikan arti penting pendidikan pada anak – anaknya yang masih dalam taraf belajar untuk mendapatkan pendidikan yang layak di sekolah seperti anak – anak yang lain di Desa Perlis.

Lingkungan masyarakat yang kurang mengerti tentang arti pendidikan juga mempengaruhi anak untuk tidak sekolah dan minat anak untuk sekolah sangat kurang. Begitu juga sebaliknya seperti anak – anak yang ada di kota Pangkalan Branda yang berlomba – lomba untuk bersekolah untuk mendapatkan pendidikan, kalau tidak dapat disekolah negeri mereka juga berlomba – lomba ke sekolah, yayasan atau swasta untuk mendapatkan pendidikan. Dan hal ingin akan membuat anak – anak besemangat untuk sekolah dan melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebihtinggi. Anak seusia wajib belajar sudah mengenal bahkan sudah mampu untuk mencari uang terutama untuk keperluannya sendiri seperti jajan dan lain – lain, hal ini akan mempengaruhi sikap dalam bertindak dan berbuat.

Berdasarkan hasil wawancara dengan Bapak Junaidi Salim sebagai Kepala Desa Perlis pada tanggal 23 September 2019.mengatakan bahwa: “Anak – anak lebih memilih bekerja membersihkan perahu, hasil tangkap ikan dan jaring yang diberikan upah dari pada pergi ke sekolah”. Kondisi ekonomi keluarga dapat diukur dengan tingkat kesejahteraan keluarga. Salah satu indikator tingkat

kesejahteraan keluarga adalah tingkat pendapatan keluarga. Di satu sisi pendidikan formal diperlukan oleh masyarakat nelayan, namun di sisi lain pendidikan formal memerlukan biaya yang tidak sedikit. Biaya yang tinggi menjadi salah satu faktor penghambat bagi para nelayan dengan status sebagai masyarakat miskin yang memiliki keterbatasan dalam memenuhi kebutuhan dasar hidupnya akibat dari ketidakpastian berusaha.

Keadaan ekonomi keluarga ini erat hubungannya dengan pendidikan anak.

Anak yang sekolah selain harus terpenuhi kebutuhan pokoknya (misalnya makan, pakaian, perlindungan kesehatan anak dan lain – lain), juga membutuhkan fasilitas belajar seperti ruang belajar, meja, kursi, penerangan, alat tulis – menulis, buku – buku dan lain – lain. Fasilitas belajar itu hanya dapat terpenuhi jika keluarga mempunyai cukup ekonomi.

Jika anak hidup dalam keluarga yang miskin, kebutuhan pokok anak kurang terpenuhi, akibatnya kesehatan anak terganggu, sehingga belajar anak juga terganggu. Akibat yang lain anak selalu direndung kesedihan sehingga anak merasa minder dengan teman lainnya, hal ini pasti akan mengganggu belajar anak bahkan mungkin anak harus bekerja mencari nafkah sebagai pembantu orang tuanya walaupun sebenarnya anak belum saatnya untuk bekerja, hal yang begitu juga akan menggangu pendidikan anak.

Jika orang tua mempunyai pendapatan yang tinggi maka kemampuannya untuk memperoleh barang – barang yang lebih dalam mencukupi kebutuhan sosial ekonomi akan terpenuhi dan tidak perlu anaknya bekerja membantu orang tua mencari kayu atau membersihakn kapal dan ikut berlayar seperti uraian di atas.

Semakin tinggi tingkat pendapatan orang tua, maka semakin lebih mudah baginya dalam melakukan segala sesuatu. Termasuk di dalamnya pemenuhan kebutuhan akan pendidikan yang tinggi, karena dengan uang yang dimilikinya seseorang dapat melakukan berbagai pendidikan tambahan. Pengaruh pendapatan orang tua terhadap pendidikan anak di Desa Perlis Kecamatan Brandan Barat sangat mempengaruhi pendidikan anak karena kebutuhan ekonomi keluarga yang pas – pasan.

4.6 Kendala yang dihadapi keluarga Nelayan Desa Perlis dalam mendidik

Dokumen terkait