• Tidak ada hasil yang ditemukan

TIGA KELUARGA DI DESA PERLIS

4.1 Pola Konsumsi di Desa Perlis

Gaya hidup merupakan karakteristik seseorang yang bisa diamati dan yang menandai sistem nilai serta sikap terhadap diri sendiri dan lingkungan sosialnya. Karakteristik tersebut erat kaitannya dengan pola pemanfaatan waktu, ruang dan objek – objek yang berkaitan dengan semuanya. Misalnya cara berbicara, cara berpakaian, cara makan, kebiasaan dirumah, kebiasaan di kantor, pemilihan teman dan sebagainya. Oleh karena itu gaya hidup dengan demikian merupakan perpaduan dari cara, tata, kebiasaan pilihan serta objek – objek yang mendukungnya, dimana dalam pelaksanaanya didasari oleh sistem nilai atau sistem kepercayaan dan budaya tertentu. Begitu juga dengan masyarakat nelayan Desa Perlis, gaya hidup nelayan tidak lepas dengan segala aspek lingkungan sosial dan budayanya (Satria, 2015:8 – 10).

Pola hidup masyarakat nelayan pada umunya terkenal dengan perwatakannya yang sangat keras. Hal ini dikarenakan pola hidup mereka yang sangat tergantung dengan alam. Kehidupannya dalam penghasilan tiap hari, tingkat pendidikannya yang rendah, berhubungan dengan ekonomi tukar – menukar, permodalan perikanan membutuhkan investasi yang besar dan beresiko besar. Karakteristik tersebut telah mendarah daging dalam kehidupan nelayan.

Walaupun pada musim tertentu pendapatan nelayan sangat tinggi, tetapi pada musim – musim berikutnya pendapatan nelayan sangat kecil bahkan tidak ada.

Hal ini yang menyebabkan atau mendorong nelayan berada di dalam kehidupan kelas sosialnya yang rendah bahkan untuk kebutuhan sehari – harinya

berkecukupan. Namun nelayan juga mempunyai pola hidup konsumtif. Jadi, pada saat pendapatan mereka tinggi pola konsumsi mereka juga ikut tinggi.

Pendapatan nelayan umunya ditentukan dengan cara bagi hasil, sehingga jarang sekali ada sistem gaji/upah tetap yang diterima oleh nelayan. Dalam sistem bagi hasil ini, yang menjadi pendapatan nelayan adalah pendapatan setelah dikurangi ongkos – ongkos eksploitasi yang telah dikeluarkan pada waktu beroperasi ditambah ongkos penjualan hasil. Sistem bagi hasil ini seringkali cenderung kurang menguntungkan nelayan terutama nelayan buruh

Pola konsumsi sering digunakan sebagai salah satu indikator untuk mengukur tingkat kesejahteraan. Pergeseran pola pengeluaran untuk konsumsi rumah tangga dari makanan ke non makanan dapat dijadikan indikator peningkatan kesejahteraan masyarakat, dengan anggapan bahwa setelah kebutuhan makanan telah terpenuhi, kelebihan pendapatan akan digunakan untuk konsumsi bukan makanan.

Faktor yang paling penting yang mempengaruhi perilaku konsumsi adalah pendapatan dan budaya. Pendapatan mencerminkan kemampuan seseorang dalam melakukan konsumsi baik secara kualitas maupun kuantitas. Semakin besar pendapatan yang diperoleh maka kemampuan untuk memenuhi kebutuhan pangan maupun non pangan semakin meningkat begitu pula sebaliknya.

Selain pendapatan, konsumsi juga dipengaruhi oleh jumlah anggota keluarga. Semakin banyak anggota keluarga berarti semakin banyak pula jumlah kebutuhan keluarga yang dipenuhi. Begitu pula sebaliknya. Semakin sedikit anggota keluarga berarti semakin sedikit pula kebutuhan yang harus dipenuhi

keluarga. Banyaknya anggota keluarga menyebabkan pola konsumsi keluarga akan semakin bervariasi karena masing – masing anggota keluarga belum tentu memiliki pola konsumsi yang sama.

Konsumsi adalah pembelanjaan atas barang – barang dan jasa – jasa yang dilakukan oleh rumah tangga dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan dari orang yang melakukan pembelanjaan tersebut. Pembelanjaan masyarakat atas makanan, pakaian, dan barang – barang kebutuhan mereka yang lain digolongkan pembelanjaan atau konsumsi. Barang – barang yang diproduksi untuk digunakan oleh masyarakat untuk memenuhi kebutuhannya dinamakan barang konsumsi.

Mankiw (2006:11), mendefinisikan konsumsi sebagai pembelanjaan barang dan jasa oleh rumah tangga. Barang mencakup pembelanjaan rumah tangga pada barang yang tahan lama, kendaraan dan perlengkapan dan barang tidak tahan lama sama seperti makanan dan pakaian. Jasa mencakup barang yang tidak berwujud konkrit, termasuk pendidikan dan kesehatan. Sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa komsumsi dapat didefinisikan sebagai kegiatan pembelian barang dan jasa untuk memenuhi kebutuhan akan makanan dan minuman rumah tangga konsumen.

Desa Perlis merupakan desa yang mayoritas masyarakatnya bermata pencaharian sebagai nelayan. Hasil tangkap masyarakat nelayan yang tidak pasti dipengaruhi oleh keadaan alam. Mengingat pendapatan yang tidak tetap akan mempengeruhi pola konsumsi masyarakat nelayan. Pendapatan yang tidak pasti membuat kebutuhan dengan pendapatan tidak seimbang. Tetapi terkadang juga pada saat pendapatan nelayan meningkat kebutuhan dengan pendapatan juga

seimbang. Pada saat pendapatan rendah masyarakat nelayan juga memperkecil pengeluaran konsumsinya.

Dalam lingkungan masyarakat di Desa Perlis, untuk ibu melahirkan jarang dilakukan di rumah sakit dan biasanya di Puskesmas setempat, bagi yang melahirkan normal di rumah sakit mereka adalah ibu – ibu yang menggunakan BPJS. Setelah bayi lahir, selama 6 bulan orang tua di Desa Perlis sering memberikan buah seperti pisang dan pepaya sebagai pengganti susu. Keluarga nelayan di Desa Perlis akan membeli susu formula jika pendapatan mereka berlebih, dan terkadang jika keuangan mereka menipis, bayi hanya diberi air hangat dicampur gula sebagai pengganti susu. Anak dengan usia 5 – 6 tahun, ibu – ibu di Desa Perlis memberi makan kepada anak dengan cara memberikan makan secara paksa, memaksa anak menghabiskan makanan tersebut, dan tidak membatasi minuman yang manis. Bahkan jika pendapatan nelayan berlebih mereka tidak membatasi keluarga untuk membeli makanan apapun.

Berdasarkan wawancara dari informan diketahui pola konsumsi di keluarga sebagai berikut:

1. Informan pertama yaitu Keluarga Bapak Mahmud, di kehidupan sehari – hari mereka melakukan pola konsumsi pada anak dengan cara: anak – anak akan dibelikan jajanan yang belum pernah dimakan oleh mereka ketika bapak Mahmud memperoleh pendapatan yang lebih dari hasil nelayan dan anak – anak tidak dibatasai dan dibiasakan untuk mengkonsumsi jajanan yang ada di warung.

2. Informan kedua yaitu Keluarga Bapak Anto, dalam melakukan pola konsumi pada anak mereka melakukan dengan cara: anak – anak harus hemat dalam membeli makanan, makanan yang boleh dibeli adalah makanan yang paling disukai atau makanan yang paling diinginkan untuk dimakan pada saat tertentu, bapak Anto melakukan hal ini dikarenakan mengingat susahnya dalam mencari uang dan uang yang diperoleh lebih baik digunakan untuk biaya pendidikan anak anak mereka.

3. Informan ketiga yaitu Keluarga Bapak Supriyadi, dalam melakukan pola konsumsi pada anak, mereka melakukan cara sebagai berikut: anak anak tidak dibiasakan untuk membeli jajanan/cemilan, apabila anak lapar akan langsung diberikan nasi atau masakan dari ibu, dan hal ini dilakukan agar anak terhindar dari makanan yang tidak sehat.

Dokumen terkait