• Tidak ada hasil yang ditemukan

Dimensi-dimensi Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) di PT TMS

Dalam dokumen M01939 (Halaman 155-158)

ANALISIS KEPUASAN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA (K3) PADA KARYAWAN TETAP DAN TIDAK TETAP

4. Hasil Penelitian dan Pembahasan

4.1 Dimensi-dimensi Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) di PT TMS

Pada PT TMSI terdapat 3 bagian produksi utama, yaitu twisting, weaving, dan finishing.Potensi bahaya keselamatan dan kesehatan (K3) pada karyawan di departemen twisting I, II dan III.

1. Pendengaran, karyawan wajib memakai alat pelindung diri air plug headset tetapi sekarang karyawan lebih memilih memakai kapas yang disumpal ke telinga karena lebih praktis.

2. Karyawan wanita yang berambut panjang wajib mengikatkan rambutnya agar menghindari risiko kecelakaan pada saat mengoperasikan alat mesin kerja.

Alat pelindung diri yang harus digunakan pada departemen twisting dan finishing adalah: Kapas untuk melindungi pekerja dari kebisingan, masker untuk menutupi hidung dari bau zat-zat bahan kimia.

Potensi bahaya keselamatan dan kesahatan pada karyawan di departemen weaving: 1. Karyawan wajib memakai masker karena bau bahan-bahan kimia

3. Tertimpa bahan-bahan muatan.

Alat pelindung diri yang harus digunakan di departemen weaving dan finishing adalah: Kapas untuk melindungi pekerja dari kebisingan, masker untuk menutupi hidung dari bau zat-zat bahan kimia, helm untuk melindungi pekerja atas muatan barang.

4.1.1 Pendidikan dan Pelatihan K3

Departemen twisting adalah bagian proses pemintalan dari bahan baku menjadi gulungan dalam skala kecil, oleh karena itu karyawan yang bekerja pada bagian ini wajib memakai alat pelindung diri dalam bekerja seperti masker, kapas untuk melindungi dari kebisingan. Bagi karyawan baru diberikan pelatihan tentang risiko K3.Langkah itu wajib dipenuhi agar karyawan di departemen twisting mendapakan informasi tentang cara operasional mesin yang sedang bekerja sehingga terhindar dari kecelakaan.

Pendidikan dan Pelatihan K3 bagi karyawan adalah langkah awal dalam melakukan aktifitas kerja dan berguna untuk melindungi mereka dalam berproses, karena jika tidak diberikan pendidikan dan pelatihan K3 maka hal-hal seperti kecelakaan dan kesehatan pekerja akan terjadi. SOP menjadi pedoman bagi perusahaan dalam melindungi pekerjanya.

Pelatihan pengunaan mesin pada departemen ini harus diawasi P2K3 (Panitia Pembina K3) yang mempuyai kewenangan dan bertugas memantau aktifitas pekerjanya bila tidak diawasi maka kecelakaan akan terjadi. Sifat pekerjaan yang berbeda dan penggunaan mesin yang berbeda untuk setiap departemen, maka pada bagian twisting, weaving, dan finishing membutuhkan pendidikan dan pelatihan K3-nya juga berbeda disesuaikan dengan sifat pekerjaannya.

4.1.2 Publikasi dan kontes K3

Pada setiap sudut departemen ini terpasang spanduk yang berisi tentang budaya K3 pada tempat kerja hal ini bertujuan agar setiap pekerja dalam bekerja tidak menyepelekan tentang pengunaan alat pelidung diri sikap pekerja dalam bekerja, tetapi masih ada beberapa spanduk atau poster yang sudah lama serta usang.Tentunya hal tersebut haruslah mendapatkan perhatian juga oleh perusahaan sebab bila usang kurang mendapatkan perhatian dari karyawan karena huruf-huruf poster K3 yang sudah tidak terlihat masih terdapat di departemen ini.

Tidak hanya spanduk tentang K3, SOP juga terpasang di tiap dinding-dinding di seluruh bagian area twisting yang berisi tentang standar-standar aturan dalam proses produksi. SOP merupakan pencegah dan sebagai rambu-rambu perigatan agar pekerja menaati dan tidak melakukan kesalahan keteledoran dalam bekerja.

Publikasi dan kontes K3 pada departemen ini sudah tertata dengan baik tetapi masih ada poster-poster K3 yang harus diganti dengan baru, tentunya hal tersebut dapat mendorong pekerja dalam tertib dan berbudaya K3. Peraturan kerja dan data materi tentang standar pengunaan mesin kerja terpajang pada setiap dinding unit ini. Terdapat juga papan-papan yang terpanjang di dinding yang berkenaan dengan budaya K3. Standar nilai ambang batas kebisingan juga terdapat pada seluruh bagian.

Pembuatan desain untuk Safety Sign dan Safety poster di PT TMSI dengan tujuan agar setiap pekerjaan atau tempat kerja tentu memiliki potensi bahaya yang berbeda-beda. Sehingga diperlukan suatu safety sign

atausafety poster sebagai salah satu upaya mencegah terjadinya kecelakaan di tempat kerja. Ruang lingkup atau sasaran penerapan prosedur tersebut pada area proses produksi yaitu twisting, weaving dan finishing. Prosedur yang ditentukan sebagai berikut:

b. Pemasangan safety sign berdasrkan bentuk dan warna menurut American National Institute (ANSI), sebagai berikut:

1) Warna merah: Menandakan bahaya yang dapat menyebabkan cedera atau kematian, seperti tanda “DANGER”.

2) Warna Oranye : Menandakan bahaya berupa unsafe condition, seperti tanda “WARNING”.

3) Warna Kuning : Menandakan bahaya kecil atau sedang yang dapat timbul akibat unsafe act, seperti tanda “CAUTION”.

4) Warna Hijau: Menandakan tanda pintu darurat atau jalan darurat, kotak P2K3 dan peralatan safety

lainya.

5) Warna Biru: Menandakan informasi mengenai safety.

Di PT TMSI sebenarnya sudah terdapat safety sign dan safety poster, namun sebagian besar safety sign dan safety poster yang sudah lama terpasang terlihat usang. Safety sign dan safety poster yang ada juga kurang lengkap dan kurang tegas. Maka dari itu perlu membuat safety sign dan safety poster yang baru agar karyawan lebih waspada dan termotivasi untuk bekerja dengan aman.

4.1.3 Kontrol Lingkungan Kerja

Twisting terbagi atas tiga unit produksi twisting I, twisting II dan twisting III alat pelindung diri seperti alat pemadam kebakaran kotak P3K mudah dijangkau bila terjadi kecelakaan. Ketersediaan alat pelindung diri pada tiap departemen sudah ditetapkan oleh perusahaan hal ini menjadi pencegah bila tejadi kecelaakaan kerja dan sakit akibat kerja, maka alat pemadam kebakaran dan kotak P3K sudah ditepatkan secara efektif dan tepat oleh perusahaan.

Alat pemadam kebakaran pada unit ini tertata dengan baik mudah dijangkau oleh pekerja kondisi cahaya di dalam ruangan kerja juga terang. Sirkulasi asap dan limbah dikelola dengan dengan benar agar tidak mencemari lingkungan sekitar.

Kondisi ventilasi dan pencahayaan ruangan di tempat kerja tidak gelap dan cahaya dapat masuk ke dalam ruangan.Kebersihan dan penataan di seluruh unit weaving sudah tertata dengan baik tidak ada sampah di ruang kerja serta perlatan kerja tertata dengan rapi dan tidak berserakan.Mesin kerja selalu diservis secara rutin agar tidak membahayakan bagi pekerja dan proses produksi tidak terhambat.

4.1.4 Pengawasan dan displin

CCTV dan P2K3 selalu mengkontrol dan mengawasi bila mesin sedang berjalan karena bila hal tersebut lengah dalam pengawasan maka kecelakaan dan kesehatan karyawan akan terjadi. Apabila sedang maintance

(perbaikan) mesin kerja selalu diperiksa secara rutin.Hal ini adalah salah satu upaya menjaga mesin dalam keadaan baik.

4.1.5 Peningkatan Kesadaran K3

P2K3 selalu mengawasi atas tindakan dan keselamatan dan kerja pada bagian twisting hal tersebut juga tidak terlepas SOP yang terpasang pada setiap dinding departemen twisting hal ini membawa dampak penting bagi pekerja karena mereka selalu melihat SOP di area kerja mereka, hal tersebut merupakan pencegah aturan yang sudah dibuat dan diawasi oleh pemerintah.

Perusahaan sangat memperhatikan keselamatan dan kesehatan kerja, hal ini dapat dilihat karyawan pada departemen weaving tertib dalam mengunakan alat pelindung diri. Serta mereka terampil dalam mengoperasikan

mesin yang berpotensi berbahaya. K3 untuk unit weaving dari segi tata letak ruang sudah tersusun dengan baik alat pemadam kebakaran, poster K3, P3K, SOP pada setiap bagian ada.

Dalam dokumen M01939 (Halaman 155-158)