4 HASIL DAN PEMBAHASAN
5. Dimensi Infrastruktur dan Teknolog
Di semua lokasi penelitian (pulau Solor, Ende dan Semau) mempunyai skor keberlanjutan yang sama yaitu 36,5, seperti yang terlihat pada Gambar 24 sehingga termasuk ke dalam katogori kurang keberlanjutannya. Infrastruktur yang terbatas di pulau-pulau kecil mempengaruhi ketersediaan air bersih. Hal ini juga terkait dengan kondisi ekologi di suatu daerah. Selain lokasi sumber air yang jauh juga infrastruktur yang tidak memadai semakin mempengaruhi ketersediaan air bagi masyarakat di masing-masing pulau tersebut. Begitupun dengan teknologi penyediaan air bersih. Kurangnya sumber daya manusia untuk memelihara teknologi tersebut mengakibatkan kurang efisiennya dan kurang bermanfaat bagi masyarakat. Selain itu masyarakat bisa dikatakan belum melakukan kegiatan
pengolahan seperti re-use dan recycling dari air yang dipegunakan.
Gambar 24 Ordinasi Rap Water Dimensi Infrastruktur
Analisis leverage atribut infrastruktur dan teknologi yang menjadi bagian dari analisis Rap-water dalam penelitian ini dapat dilihat pada Gambar 25. Atribut
yang paling sensitif adalah teknologi pengolahan air baik dalam bentuk Re-use, Re-
cycling, ataupun pengolahan air laut menjadi air tawar. Sampai saat ini belum
banyak teknologi seperti itu diperkenalkan di kawasan pulau-pulau kecil di wilayah penelitian.
Gambar 25 Leverage Atribut Keberlanjutan Untuk Dimensi Infrastruktur/
Teknologi
0.00 2.00 4.00 6.00 8.00 10.00 12.00 14.00 16.00
Infrastruktur penyedia air baku Teknologi pengelolaan air Infrastruktur sumber daya air
Selanjutnya analisis Monte Carlo melalui yang dilihat dari persentase skor MDS dan Monte Carlo yang mencerminkan ketidakpastian model dapat dilihat pada Tabel 25. Persentase selisih skor dari kedua analisis berkisar antara 0,18-1,64 %. Nilai yang kecil ini mencerminkan ketidakpastian Rap-Water pada dimensi ini
rendah. Selain itu analisis melalui Monte Carlo Scatter Plot, seperti yang terlihat
pada Gambar 26, juga semakin membuktikan ketidakpastian yang rendah yang ditandai dengan berkumpulnya atau terkonsentrasinya skor keberlanjutan dari dimensi ini apabila melalui pengulangan 25 kali. Rendahnya ketidakpastian membuktikan bahwa skor keberlanjutan dari dimensi Infrastruktur dan teknologi dapat dipergunakan dalam model ini.
Tabel 25 Skor Ketidakpastian Monte Carlo Dimensi Insfrastruktur dan Teknologi Wilayah Hasil MDS Hasil Monte Carlo Selisih %
Pulau Ende 36.50 37.02 0.52 1.42
Pulau Solor 36.50 35.90 0.60 1.64
Pulau Semau 36.50 36.56 0.06 0.18
Gambar 26 Monte Carlo Analisis Dimensi Insfrastruktur dan Teknologi
Formulasi Indeks Kerentanan Untuk Pemenuhan Kebutuhan Air Bersih di Pulau-Pulau Kecil
Penyusunan indeks kerentanan pemenuhan kebutuhan air bersih di pulau- pulau kecil berdasarkan pertimbangan lima dimensi yang sudah teruji dengan RAP- Water sangatlah penting, apalagi semuanya menunjukkan indikasi keberlanjutanya yang kurang. Hasil pengujian menunjukkan bahwa pada dimensi ekologi, atribut
yang paling sensitif adalah catchment area/tutupan lahan, proximasi geografis
terhadap sumber air, dan curah hujan. Pada dimensi ekonomi, atribut yang paling sensitif adalah harga air bersih, tingkat kemiskinan, dan WTP masyarakat terhadap air bersih. Pada dimensi sosial, atribut yang paling sensitif adalah konflik pemanfaatan sumber daya air dan peran CSR dalam penyediaan air bersih. Pada dimensi institusi, atribut yang paling sensitif adalah perencanaan pengelolaan air baku dan peraturan pengelolaan (tata kelola). Pada dimensi infrastruktur/teknologi, atribut yang paling sensitif adalah teknologi pengelolaan air. Sensitifnya atribut pada berbagai dimensi tersebut menjadikan pertimbangan dalam memformulasikan indeks kerentanan pemenuhan air bersih bagi masyarakat di pulau-pulau kecil dengan berdasar pada model yang telah disusun.
Hubungan fungsional parameter terpilih terhadap kerentanan yang digunakan di dalam perhitungan indeks dibagi ke dalam 3 dimensi, yaitu kapasitas adaftif, sensitivitas dan ketersingkapan. Dimensi kapasitas adaptif terdiri dari parameter jumlah tanggungan keluarga, tingkat pendapatan, tingkat pendidikan, Willingness to Pay (WTP), persepsi terhadap perubahan iklim, peran perempuan dalam pengelolaan air dan modal sosial. Dimensi Sensitivitas terdiri dari parameter keragaman sumber air, waktu yang diperlukan ke sumber air dan penggunaan air. Adapun dimensi ketersingkapan terdiri dari parameter curah hujan tahunan, kepadatan penduduk dan jumlah kejadian bencana. Bagian ini memfokuskan pada bahasan tentang hubungan antar parameter yang ada dikaitkan dengan kerentanan yang ditemui di lapangan. Fungsi dari masing-masing parameter terhadap kerentanan secara lengkap disajikan pada Tabel 26.
Tabel 26 Fungsi variabel/indikator terhadap kerentanan sumber daya air
Dimensi Kode Indikator Fungsi
Kapasitas Adaptif
KA1 Jumlah Tanggungan Keluarga
KA2 Pendapatan
KA3 Pendidikan
KA4 WTP (Rp/lt)
KA5 Persepsi thd perubahan iklim
KA6 Peran Perempuan Dalam
Pengelolaan Air
KA7 Modal Sosial
Sensitivitas
S1 Keragaman sumber air (tipe)
S2 Waktu yang diperlukan ke
Sumber Air
S3 Penggunaan air
Ketersingkapan
K1 Curah Hujan Tahunan
K2 Kepadatan Penduduk
K3 Jumlah Kejadian Bencana
K4 Tutupan Hutan
Tanda ↑, artinya semakin tinggi nilai dari variabel tersebut maka semakin rentan
pulau tersebut terhadap krisis sumber daya air. Tanda ↓ berarti semakin tinggi nilai
variabel tersebut makan semakin tidak rentan terhadap krisis.
Berikut rekap nilai setiap parameter dari ketiga pulau yang dapat dilihat pada Tabel 27.
Tabel 27 Rekap nilai setiap parameter untuk perhitungan indeks No Parameter Pulau Ende Pulau Solor Pulau Semau 1 KA1 4,2 4,0 3,9 2 KA2 726.119,40 491.818,18 840.719,70 3 KA3 6,18 5,37 7,82 4 KA4 244 308 54 5 KA5 1,20 1,05 1,05 6 KA6 74,63 77,78 53,65 7 KA7 19,81 31,63 28,09 8 S1 5 3 3 9 S2 43,08 91,93 74,31 10 S3 59,22 72,80 174,07 11 K1 1.528 1.364 1.567 12 K2 79,19 203,95 43,31 13 K3 3 1 1 14 K4 0 7.306 2.733
Sumber : Hasil survey dan data sekunder
Pada dimensi kapasitas adaptif, untuk indikator tanggungan keluarga kisaran rata-rata jumlah tanggungan keluarga adalah 3,9 sampai dengan 4,2 orang, hubungan fungsional menunjukkan semakin tinggi jumlah tanggungan keluarga maka semakin tinggi juga kerentanan penduduk pulau tersebut terhadap krisis air. Hal ini dikarenakan semakin banyak jumlah tanggungan (anak dan cucu) akan semakin banyak beban belanja yang dikeluarkan untuk kelangsungan hidup keluarga. Kondisi berbeda jika jumlah tanggungan semakin sedikit, maka tentu beban belanja keluarga juga akan semakin kecil.
Pendapatan mempunyai hubungan fungsional berbanding terbalik, artinya semakin rendah pendapatan maka semakin tinggi kerentanan pulau tersebut terhadap krisis air. Pendapatan mempunyai kisaran dari Rp. 491.818,18 (Pulau Solor) sampai dengan Rp. 840.719,70 (Pulau Semau). Jumlah pendapatan yang rendah menyebabkan kemampuan untuk memenuhi berbagai kebutuhan menjadi rendah. Dengan kata lain, daya beli penduduk yang memiliki pendapatan yang rendah menjadi kecil. Hal ini tentu berbeda jika pendapatan penduduk cukup tinggi, maka kemampuan dan daya belinya juga tinggi.
Pulau dengan rata-rata pendidikan terkecil adalah pulau solor yaitu 5,37 th
≈ 5 tahun, sedangkan pulau dengan rata-rata pendidikan tertinggi adalah pulau
semau dengan jumlah tahun yang ditempuh rat-rata 7,82 tahun ≈ 8 tahun, hubungan
fungsional pendidikan berbanding terbalik dengan kerentanan terhadap sumber
daya air. Tingkat pendidikan yang rendah menyebabkan tingkat pengetahuan
penduduk juga minim. Semakin rendah pendidikan seseorang, maka terdapat kecenderungan akan semakin terbatas pula peluang untuk berusaha di berbagai sektor. Hal ini akan berbeda jika tingkat pendidikan penduduk tinggi, maka secara otomatis mereka juga memiliki peluang berusaha yang luas.
Indikator WTP menunjukkan hubungan fungsional berbanding lurus, nilai WTP terkecil adalah Rp 54,00 per liter yaitu Pulau Semau dan nilai WTP terbesar adalah pulau Solor dengan nilai Rp 77,38 per liter. WTP pada dasarnya merupakan
gambaran kemampuan untuk membayar atau membeli. Artinya, semakin WTP kecil, maka tingkat kerentanannya semakin tinggi karena kemampuan membayarnya kecil. Hal berbeda jika semakin tinggi WTP, maka tingkat kerentanannya juga rendah karena mereka memiliki kemampuan membayar yang tinggi.
Indikator selanjutnya adalah persepsi masyarakat di pulau terhadap perubahan iklim, indikator ini mempunyai hubungan berbanding terbalik, dengan asumsi semakin mengerti masyarakat apa yang dihadapinya maka semakin tidak rentan terhadap krisis air, karena setiap pulau jumlah respondennya beragam, maka untuk menyamakan unit, nilai yang digunakan adalah perbandingan nilai total persepsi dibagi dengan jumlah jawaban dari masing-masing pulau. Semakin tinggi nilainya berarti semakin tinggi pula persepsi masyarakat terhadap perubahan iklim, nilai tertinggi adalah pulau ende dengan nilai persepsi sebesar 1,20 sedangkan pulau Solor dan pulau semau mempunyai nilai persepsi yang sama yaitu 1,05. Persepsi masyarakat tersebut pada dasarnya mengandung nilai pengetahuan dan pemahaman terhadap perubahan iklim. Dengan nilai persepsi yang semakin tinggi, maka pengetahuan dan pemahaman mereka terhadap perubahan iklim juga semakin baik. Dengan semakin baiknya pengetahuan dan pemahaman masyarakat, maka mereka sudah memiliki konsep pemikiran dan langkah-langkah strategis dalam rangka mengantisipasi perubahan iklim tersebut. Hal ini berbeda jika penduduk memiliki nilai persepsi yang rendah, juga menunjukkan bahwa mereka memiliki pengetahuan dan pemahaman terhadap perubahan iklim yang minim. Orang yang memiliki tingkat pengetahuan dan pemahaman yang rendah tentu akan lebih rentan karena konsep pemikiran dan upaya antisipasi juga sangat minim.
Selanjutnya adalah indikator peran perempuan dalam pengelolaan air, nilai yang digunakan berasal dari data primer dimana nilai tersebut berasal dari persentasi rata- rata peran perempuan dalam mengalokasi dan mengambil air pada masing-masing pulau. Pulau Solor, peran perempuannya sangat tinggi yaitu 77,78%, disusul oleh Pulau Ende dengan persentase perannya 74,63% sedangkan pulau Semau peran pengelolaan air oleh wanita hanya 53,65 % artinya hampir sama besar dengan peran laki-laki. Variabel peran perempuan sangat vital dalam pengalokasian dan pengambilan air. Hal sangat penting penting karena masih terdapat semacam tradisi bahwa pemenuhan air untuk kebutuhan domestik rumah tangga akan lebih baik jika dilakukan oleh perempuan. Oleh karena itu, jika dalam suatu keluarga atau kelompok masyarakat peran perempuan dalam pengelolaan air rendah, maka tingkat kerentanan keluarga atau kelompok masyarakat tersebut akan tinggi. Sebaliknya, semakin tinggi peran perempuan dalam pengelolaan air, maka tingkat kerentanan juga akan semakin rendah. H
Indikator Selanjutnya adalah modal sosial yang merupakan penjumlahan nilai dari setiap pertanyaan yang diajukan mengenai modal sosial, hubungan fungsional dengan kerentanan pada indikator ini adalah berbanding terbalik, nilai modal sosial tertinggi adalah Pulau Solor yaitu 31,63, disusul oleh Pulau Semau dengan nilai 28,09 dan terakhir adalah Pulau Ende dengan nilai 19,81. Dapat dijelaskan bahwa semakin tinggi modal sosial suatu keluarga, maka tingkat kerentanannya rendah. Sebaliknya, semakin rendah modal sosial suatu keluarga, maka tingkat kerentanannya semakin tinggi. Peran modal sosial ini sangat penting
di antara sesama warga, jaringan sosial, baik internal komunitas maupun eksternal di luar komunitas, dan norma yang berlaku di antara warga.
Pada dimensi sensitivitas ada tiga indikator, pada indikator pertama yaitu keragaman sumber air (tipe) mempunyai hubungan fungsional dengan kerentanan berbanding terbalik, pulau dengan keragaman terbanyak adalah Pulau Ende yang mempunyai 5 tipe sumber air yaitu sumur pribadi halaman rumah, sumur umum, Penampungan air hujan (PAH), dan air gallon, sedangkan sisanya hanya 3 tipe sumber air, untuk pulau solor adalah sumur umum, penampungan air hujan (PAH) dan membeli ke pulau sebelah (Pulau Adonara) terutama untuk daerah dengan lokasi di sekitar pantai. Pulau Semau sumber air bersih berasal dari embung, penampungan air hujan dan membeli tangki air dari Desa Uitao dusun Oeleak. Indikator keragaman sumber air mengindikasikan bahwa semakin sedikit jumlah tipe sumber air, maka semakin tinggi tingkat kerentanannya terhadap sumber air. Sebaliknya, semakin banyak jumlah tipe sumber air, akan semakin rendah tingkat kerentanannya. Dengan kata lain, jika tipe sunber air yang satu tidak tersedia, maka dapat menggunakan tipe sumber air lainnya.
Indikator kedua yaitu waktu tempuh rata-rata dari rumah ke sumber air terutama pada saat musim kemarau, hubungan fungsional kategori terhadap kerentanan adalah berbanding lurus. Berdasarkan survey pulau Solor mempunyai waktu rata-rata paling tinggi yaitu 91,93 menit, disusul oleh pulau Semau dengan waktu tempuh rata-rata sebesar 74,31 menit dan terakhir pulau Ende dengan rata- rata waktu tempuh sebesar 43,08 menit. Indikator waktu tempuh dari umah ke sumber air ini sangat penting karena akan berimplikasi terhadap kecepatan pemenuhan kebutuhan air. Di samping itu, semakin lama waktu tempuh yang digunakan akan memiliki konsekuensi terhadap biaya dan tenaga. Dengan kata lain, semakin waktu tempuh dari rumah ke sumber air lama, maka akan tingkat kerentanannya semakin tinggi. Sebaliknya, semakin waktu tempuhnya rendah, maka akan semakin rendah pula tingkat kerentanannya.
Indikator ketiga yaitu penggunaan air dengan hubungan fungsional berbanding lurus dengan kerentanan, data menunjukkan bahwa rata-rata terbanyak yang digunakan perkeluarga adalah di Pulau Semau dengan jumlah penggunaan air untuk kegiatan minum, mandi, mencuci, dan masak masing-masing keluarga perhari sebesar 174,07 liter, disusul pulau Solor dengan rata-rata penggunaan air sebesar 91,93 liter, dan terakhir adalah pulau Ende dengan rata-rata penggunaan air sebesar 59,22 liter. Indikator volume penggunaan air juga penting untuk melihat tingkat kerentanan. Hal ini dikarenakan semakin besar volume air yang digunakan, maka secara otomatis akan semakin tinggi pula keharusan pemenuhan kebutuhan penggunaannya. Sementara itu, untuk memenuhi kebutuhan akan air, maka akan semakin tinggi pula persyaratan atau konsekuensi yang dipenuhi. Dengan demikian, semakin volume penggunaan air, maka akan semakin tinggi pula tingkat kerentanannya. Sebaliknya, semakin rendah volume penggunaan air, maka akan semakin rendah pula tingkat kerentanannya.
Indikator-indikator atau variabel yang ada pada dimensi ketersingkapan ada 4 variabel. Pertama adalah curah hujan tahunan, pulau Semau mempunyai curah hujan terbanyak yaitu 1.567 mm per tahun, disusul oleh pulau Solor dengan curah hujan sebesar 1.528 mm/th dan terakhir adalah Pulau Ende dengan jumlah curah hujan sebesar 1.364 mm/th. Indikator tinggi-rendahnya curah hujan tahunan menjelaskan bahwa semakin rendah curah hujan tahunan di suatu wilayah, maka
akan semakin tinggi tingkat kerentanan masyarakat di wilayah tersebut. Sebaliknya, semakin tinggi curah hujan tahunan di suatu wilayah, maka akan semakin rendah tingkat kerentanannya.
Indikator kedua adalah kepadatan penduduk yang mempunyai hubungan fungsional berbanding lurus dengan kerentanan sumber daya air. Kepadatan
penduduk tertinggi adalah pulau Solor yaitu 203,95 jiwa/km2, disusul oleh pulau
Ende dengan kepadatan 79,19 jiwa/km2 dan terakhir adalah pulau Semau dengan
kepadatan penduduk sebesar 43,43 jiwa/km2. Tingkat kepadatan penduduk tersebut
menunjukkan banyaknya orang yang membutuhkan air dalam suatu wilayah. Oleh karena itu, semakin padat penduduk di suatu wilayah, maka akan semakin tinggi pula tingkat kerentanannya. Sebaliknya, semakin rendah tingkat kepadatannya, tingkat kerentanannya juga akan semakin rendah.
Indikator ketiga adalah jumlah kejadian bencana di pulau tersebut, hubungan fungsional indikator ini berbanding lurus dengan kerentanan, Pulau dengan jumlah bencana terbanyak adalah Pulau Ende yaitu kekeringan, gelombang tinggi dan abrasi pantai, sedangkan sisanya yaitu pulau Solor dan Semau bencana yang dihadapi hanya kekeringan. Banyaknya jumlah kejadian bencana tersebut akan berakibat pada banyak harta benda warga yang tidak berfungsi atau rusak. Bencana telah menyebabkan kondisi sosial ekonomi masyarakat akan menurun. Dengan demikian, semakin banyak jumlah kejadian bencana di lokasi, maka akan semakin tinggi pula tingkat kerentanannya. Sebaliknya, semakin sedikit jumlah kejadian bencana, maka akan semakin rendah pula tingkat kerentanannya.
Indikator keempat adalah tutupan hutan yang mempunyai hubungan fungsional berbanding terbalik. Pulau Solor mempunyai jumlah tutupan hutan yang paling besar sebanyak 7.306 Ha, kemudian disusul pulau Semau sebanyal 2.733 Ha. Adapun pulau Ende yang juga merupakan pulau paling kecil diantara 2 pulau lainnya yang menjadi wilayah penelitian tidak mempunyai hutan.
Setelah diperoleh data-data yang dibutuhkan, tahapan selanjutnya adalah melakukan normalisasi data sesuai dengan fungsi dari masing-masing variabel. Cara perhitungannya seperti sudah dijelaskan pada bab metodologi penelitian. Dari data Tabel 27, dapat diperoleh data yang sudah dinormalisasi seperti yang disajikan dalam Tabel 28.
Tabel 28 Normalisasi Data Berdasarkan Hubungan Fungsional Variabel dan Kerentanan No Parameter Pulau Ende Pulau Solor Pulau Semau Kapasitas Adaptif 1 KA1 1,00 0,25 0,00 2 KA2 0,33 1,00 0,00 3 KA3 0,67 1,00 0,00 4 KA4 0,75 1,00 0,00 5 KA5 0,00 1,00 0,97 6 KA6 0,13 0,00 1,00 7 KA7 1,00 0,00 0,30 Sensitivitas 8 S1 0,00 1,00 1,00 9 S2 0,00 1,00 0,64 10 S3 0,00 0,12 1,00 Ketersingkapan 11 K1 0,19 1,00 0,00 12 K2 0,22 1,00 0,00 13 K3 1,00 0,00 0,00 14 K4 1,00 0,00 0,63
Dari data pada Tabel 28, secara umum skor dari ketiga dimensi, pulau Solor mempunyai nilai tertinggi yaitu 8,37 dikuti oleh Pulau Ende dengan skor total 6,29 dan terakhir adalah Pulau Semau dengan skor yang tidak berbeda signifikan dengan Pulau Ende yaitu sebesar 5,54. Rata-rata skor tertinggi adalah Pulau Solor dengan rata-rata sebesar 0,59 disusul oleh pulau Ende 0,45 dan Pulau Semau dengan skor rata-rata sebesar 0,39.
Selanjutnya dilakukan pembobotan, adapun metode pembobotan yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode Iyengar dan Sudarshan (1982). Pembobotan dengan metode ini akan memastikan bahwa variasi yang besar pada salah satu variabel atau indikator tidak akan terlalu mendominasi kontribusi dari sisa indikator dan mendistorsi perbandingan antara pulau. Standar deviasi dari skor normalisasi pada ketiga ketiga pulau, resiprokal dan bobot untuk masing-masing variabel/indikator dihitung dengan menggunakan nilai dari Tabel 28.
Tabel 29 Standar Deviasi dan Bobot dari Masing-masing Variabel
No Parameter Standar Deviasi 1/Stdev Bobot Kapasitas Adaptif 1 KA1 0,52 1,92 0,073 2 KA2 0,51 1,96 0,074 3 KA3 0,51 1,96 0,074 4 KA4 0,52 1,92 0,073 5 KA5 0,57 1,76 0,067 6 KA6 0,54 1,84 0,070 7 KA7 0,51 1,95 0,074 Sensitivitas 8 S1 0,58 1,73 0,066 9 S2 0,51 1,97 0,075 10 S3 0,55 1,83 0,069 Ketersingkapan 11 K1 0,53 1,88 0,071 12 K2 0,52 1,91 0,072 13 K3 0,58 1,73 0,066 14 K4 0,51 1,98 0,075
Pada Tabel 29 dapat dilihat bahwa kisaran standar deviasi dari semua indikator berkisar antara 0,51 sampai dengan 0,58 sehingga pembobotan dari masing-masin kategori tidak begitu berbeda jauh yaitu 0,066 dan 0,075, pembobotan ini jika dijumlahkan dari semua indikator harus bernilai 1. Dengan menggunakan rumus dan dengan menggunakan data pada Tabel 28 dan Tabel 29, maka akan diperoleh nilai normalisasi yang sudah dibobot yang dapat dilihat pada Tabel 30.
Tabel 30 Skor masing-masing Indikator/ Variabel setelah Pembobotan
No Parameter Pulau Ende Pulau Solor Pulau Semau Kapasitas Adaptif 1 KA1 0,073 0,018 0,000 2 KA2 0,024 0,074 0,000 3 KA3 0,050 0,074 0,000 4 KA4 0,055 0,073 0,000 5 KA5 0,000 0,067 0,065 6 KA6 0,009 0,000 0,070 7 KA7 0,074 0,000 0,022 Sensitivitas 8 S1 0,000 0,066 0,066 9 S2 0,000 0,075 0,048 10 S3 0,000 0,008 0,069 Ketersingkapan 11 K1 0,014 0,071 0,000 12 K2 0,016 0,072 0,000 13 K3 0,066 0,000 0,000 14 K4 0,075 0,000 0,047
Pada Tabel 30 dapat kita lihat bahwa skor yang telah dibobot berkisar antara 0 sampai dengan 0,075. Tabel 31 menjelaskan indeks kerentanan pada masing- masing dimensi dengan kisaran nilai antara 0-1, semakin mendekati satu berarti semakin rentan pulau tersebut.
Tabel 31 Indeks Kerentanan Krisis Air Pulau-Pulau Kecil Per Dimensi
Pulau Kapasitas
Adaptif Sensitivitas Singkapan
Pulau Ende 0,564 0,000 0,599
Pulau Solor 0,608 0,709 0,505
Pulau Semau 0,310 0,871 0,165
Pada Tabel 31 dapat kita lihat indeks kerentanan dari masing-masing dimensi sesuai dengan pembobotannya. Dapat kita lihat bahwa jika dilihat dari dimesi kapasitas adapatif, Pulau Solor dan Pulau Ende merupakan yang paling rentan, sedangkan untuk dimensi sensitifitas Pulau Semau merupakan yang paling rentan dan jika dilihat dari dimensi singkapan Pulau Ende merupakan yang paling rentan.
Pulau Solor merupakan pulau yang rentan terhadap pemenuhan kebutuhan air bersih baik dari dimensi sensitivitas maupun kapasitas adaptif. Kondisi ini karena Pulau Solor hanya mengandalkan air hujan yang ditampung di PAH dan jika air PAH sudah tidak mencukupi maka harus membeli air dari pulau lainnya (Pulau Adonara). Selain itu sumur umum yang ada jaraknya cukup jauh sehingga memerlukan usaha dan waktu yang cukup lama. Hal lain yang menyebabkan Pulau Solor rentan dari dimensi kapasitas adalah tingkat pendapatan yang rendah dan WTP yang tinggi.
Pulau Semau merupakan pulau yang rentan terhadap pemenuhan kebutuhan air bersih dari dimensi sensitivitas. Kondisi ini disebabkan penggunaan air yang boros dari masyarakat dibandingkan pulau lainnya. Masyarakat Pulau Semau punya kemampuan lebih untuk membeli air, sehingga merasa tidak perlu berhemat dalam menggunakan. Perbedaan karateristik mata pencaharian masyarakat mempengaruhi perolehan skor indeks kerentanan. Di pulau Semau yang sebagian besar masyarakatnya mendapatkan tambahan penghasilan dari budidaya rumput laut menyebabkan nilai kapasitas adaptasi menjadi paling tidak rentan, karena nilai pendapatan dan WTP kecil,
Pulau Ende merupakan pulau yang rentan terhadap pemenuhan kebutuhan air bersih dari dimensi singkapan. Kerentanan ini secara umum disebabkan Pulau Ende luasannya sangat kecil dibandingkan pulau lainnya. Kondisi ini menyebabkan curah hujan kecil, karena semakin kecil pulau maka curah hujannya juga semakin sedikit. Dengan luasan pulau yang kecil maka faktor kebencanaan juga besar, seperti gelombang tinggi, abrasi pantai dan kekeringan dengan frekuensi yang sering. Selain itu, tutupan hutan di Pulau Ende sama sekali tidak ada sehingga semakin rentan dilihat dari dimensi singkapan.
Selanjutnya Untuk mengetahui berapa indeks kerentanan total dari masing- masing pulau, menurut Iyengar dan Sudarshan caranya adalah dengan merata-
ratakan semua skor pada semua indikator/variabel, hasil ini dapat kita lihat pada Tabel 32.
Tabel 32 Indeks Kerentanan Krisis Air Pulau-Pulau Kecil dan Peringkatnya Daerah/ Pulau Indeks Kerentanan Peringkat
Pulau Ende 0,46 2
Pulau Solor 0,60 1
Pulau Semau 0,39 3
Pada Tabel 32 dapat dilihat bahwa jika dilihat secara komprehensif, Pulau Solor merupakan pulau yang paling rentan terhadap krisis air, kemudian disusul oleh Pulau Ende dan terakhir adalah Pulau Semau.
Pulau Solor paling rentan dalam pemenuhan kebutuhan air bersih dikarenakan hanya mengandalkan air hujan yang ditampung di PAH, ditambah dengan tingkat pendapatan yang rendah sehingga kemampuan untuk membeli air juga terbatas. Walaupun di sisi lain dari parameter modal sosial, peran perempuan dalam mengelola air dan WTP memiliki indeks yang lebih bagus dibandingkan dengan pulau lainnya.
Pada parameter modal sosial, terkait dengan pola bantuan penyediaan air bersih dari luar yang dapat dikategorikan sebagai pola yang bersifat komunal atau