• Tidak ada hasil yang ditemukan

2 KAJIAN PUSTAKA Indeks Kerentanan

3. Kapasitas Adaptif

Kejadian-kejadian yang mengganggu kehidupan manusia memiliki keterkaitan antara sistem ekologi (terjadinya bencana) dan sistem sosial (nilai, kebijakan, aspek ekonomi) (Perman et al. 2003; Dolan dan Walker. 2004; Manatsa 2013, Ross 2008). Untuk mengkaji tentang kerentanan tersebut maka penting untuk melihat keterkaitan antara konsep kapasitas adaptif dan daya lenting.

Daya lenting yang secara sederhana didefinisikan Holing dalam Peterson et al. (1998) sebagai kemampuan untuk kembali ke kondisi semula. Kemudian Berkes et al. (2003) mendefinisikan daya lenting sebagai kemampuan sistem untuk bertahan dari gangguan yang muncul agar tetap menjalankan fungsinya. Definisi yang tak jauh berbeda disebutkan oleh Walker et al. (2000) dan Folke et al. (2004) yang menyebutkan daya lenting sebagai kemampuan sebuah sistem untuk

menyerap gangguan dan mengetahuinya ketika perubahan terjadi dimana fungsi sistem juga terus berlangsung. Sedikit berbeda SOPAC (2004) mendefinisikan daya lenting sebagai kemampuan suatu entitas untuk pulih dengan cara melakukan perubahan untuk mencapai atau memelihara suatu batas yang dapat diterima agar fungsi sistem dapat tetap berjalan dari suatu kerusakan.

Kemudian definisi yang juga sedikit berbeda tentang daya lenting didefinisikan oleh Elis dan Freeman (2005). Daya lenting adalah kemampuan manusia dalam menghadapi kerentanan (faktor-faktor yang menjadi resiko) dalam bentuk manajemen resiko dengan aktivitas yang bertujuan untuk mengatasi permasalahan.

Terakhir definisi kapasitas adaptif itu sendiri, namun sebelum mendefinisikan kapasitas adaptif perlu untuk melihat definisi dari adaptasi dan kapasitas. Definisi adaptasi memiliki esensi pada usaha dalam menanggapi resiko dan kerenantan. Adaptasi adalah ketahanan itu sendiri yaitu usaha untuk mencari kondisi aman untuk keberlanjutan fungsi sistem sampai masa yang akan datang dalam menghadapi perubahan dan melakukan perlawanan dari kerentanan dengan menggunakan apa yang dapat digunakan (kemampuan dan sumber daya) melalui dilakukannya usaha untuk mengurangi kerentanan dan resiko yang muncul (Hulme 2002). Adaptasi juga dapat direncanakan atau terjadi secara otomatis. Perencanaan adaptasi adalah suatu perubahan dalam mengantisipasi suatu variasi dari perubahan yang terjadi. Perencanaan adaptasi ini sudah merupakan suatu ciri dari suatu upaya untuk meningkatkan kapasitas suatu sistem untuk mengatasi konsekuensi perubahan yang terjadi (Allen Consulting Group 2005).

Kapasitas atau sumber daya yang menentukan besarnya ketahanan merupakan faktor penentu yang penting untuk pelaksanaan pada upaya mengurangi ancaman. Kemudian kapasitas diartikan sebagai aset atau sumber daya yang dimiliki oleh sistem baik dari kemampuan atau pun dalam bentuk material (Smit & Wandel 2006; Fauzi 2010; Hendarsah 2012). Hal senada juga disebutkan oleh Locatelli (2014) bahwa kapasitas adaptif memiliki unsur pada kesiapan sumber daya yang mempengaruhi ketahanan suatu sistem dan tindakan adaptasi yang dapat dilakukan untuk menanggulangi dan mengurangi kerentanan. Dari definisi adaptasi dan kapasitas tersebut disebutkan oleh beberapa tokoh tentang kapasitas adaptif yang didefinisikan sebagai kemampuan untuk beradaptasi dari gangguan yang berasal dari luar agar fungsi sistem dapat terus berjalan (Tahir 2010). Menurut Eakin et al. (2006), kapasitas adaptif merujuk pada potensi untuk beradaptasi dan mengurangi kerentanan suatu sistem. Terakhir disebutkan oleh Sumaryanto (2012) bahwa kapasitas adaptif merupakan hasil dari kapasitas-kapasitas (sumber daya) yang dimiliki disertai dengan tindakan terhadap ancaman yang muncul. Pada tataran konsep berikut pemahaman kapasitas adaptif dan daya lenting yang disajikan pada Tabel 4.

Tabel 4 Pemahaman kapasitas adaptif (Adaptive Capacity) dan daya lenting (Resilience)

Kapasitas Adaptif (Adaptive Capacity)

Daya Lenting (Resilience)

- Usaha untuk mencari kondisi aman untuk keberlanjutan fungsi sistem sampai masa yang akan datang dalam menghadapi perubahan dan melakukan perlawanan dari kerentanan dengan menggunakan apa yang dapat digunakan

(kemampuan dan sumber daya) melalui dilakukannya usaha (adaptasi) untuk mengurangi kerentanan dan resiko yang muncul (Hulme 2002).

- Kemampuan untuk beradaptasi dari gangguan yang berasal dari luar agar fungsi sistem dapat terus berjalan (Tahir 2010).

- Penjumlahan dari keberagaman kapasitas dan tindakan terhadap ancamanan yang muncul

(Sumaryanto 2012).

- Kondisi kegigihan sistem alam dalam menghadapi perubahan variabel

ekosistem karena penyebab alami atau antropogenik (Holling 1973).

- Kemampuan sistem untuk bertahan dari gangguan yang muncul dan pulih dari gangguan (Berkes et al. 2003).

- Kemampuan ekosistem untuk menanggapi gangguan yang disertai kerusakan dan pulih dengan cepat. (Folke et. al 2004). - Kemampuan dari suatu

entitas untuk bertahan atau pulih adaptasi dari suatu kerusakan (SOPAC 2004). - Kemampuan manusia

dalam menghadapi kerentanan (faktor-faktor yang menjadi resiko) dalam bentuk manajemen resiko dengan aktivitas yang bertujuan untuk mengatasi permasalahan (Ellis dan Freeman 2005).

- Mengacu pada kemampuan untuk bertahan dan pulih atau bahkan berkembang. (Sumaryanto 2012). Dari pembahasan kedua konsep tersebut dapat dilihat bahwa antara konsep daya lenting dan kapasitas adaptif memiliki kesamaan esensi yaitu untuk pulih dari kerusakan. Konsep kapasitas adaptif secara lebih lanjut menjelaskan ketahanan suatu sistem dapat terbentuk yang dilihat pada kapasitas atau sumber daya yang dimiliki oleh suatu entitas atau sistem dan pada proses upaya-upaya yang dilakukan melalui cara-cara baru (inovasi) dan pembelajaran. Untuk itu pada penelitian ini penggunaan konsep kapasitas adaptif digunakan karena lebih komprehensif dari pada konsep daya lenting. Untuk itu penting melihat faktor-faktor yang

menentukan kapasitas adaptif suatu sistem. Faktor-faktor tersebut menjadi faktor spesifik dan faktor general/umum yang berdasarkan faktor endogenous dan exogenous (Brooks 2003). Faktor penentu yang bersifat umum dalam sistem sosial adalah sumberdaya ekonomi, teknologi, informasi dan keahlian serta infrastruktur. Adapun faktor endogenous merujuk pada karakteristik dari perilaku penduduk atau masyarakat. Polsky et al. (2007), Hahn et al. (2009) dan Preston dan Smith (2009) telah menginventarisir parameter dari dimensi ini seperti disajikan pada Tabel 5. Tabel 5 Parameter dimensi/komponen kapasitas adaptif

Hahn et al. (2009) Polsky et al. (2007) Preston dan Smith (2009) Tahir (2010) Rasio ketergantungan Konservasi

laut

Kohesi sosial Pembuatan kawasan konservasi Jumlah kepala RT perempuan Proporsi habitat pesisir Prioritas dan keberpihakan kebijakan Tingkat pendidikan kepala RT Luas dan kerapatan mangrove Kesetaraan Jumlah RT dengan anggota keluarga yg merantau Kapasitas kepemimpinan Jumlah RT yang bertani, Jumlah RT yang meminjam uang

Perencanaan dan informasi

Dari sejumlah indikator pada tabel atas, beberapa indikator di dimensi kapasitas adaptif relevan untuk kajian ini yakni: a) jumlah kepala rumah tangga perempuan; b) tingkat pendidikan kepala rumah tangga; c) jumlah rumah tangga yang meminjam uang; d) kohesi sosial; e) prioritas kebijakan; serta f) perencanaan dan informasi.

Untuk mengkuantifikasi kerentanan akan sangat sulit dilakukan bila tidak memungkinkan mengidentifikasi secara sistematis sistem yang paling rentan (Downing et al. 2005). Dalam kasus tertentu, sangat tergantung pada jenis tekanan dan keluaran variabel yang menjadi perhatian. Dampak tekanan relatif pada suatu wilayah dapat digunakan sebagai objek untuk mengukur kerentanan (Luers et al. 2003). Pengukuran kerentanan hanya dapat dilakukan secara akurat jika berhubungan dengan spesifik variabel dibandingkan dengan menganalisis suatu tempat/lokasi. Hal ini disebabkan karena sistem yang paling sederhanapun cukup kompleks dan akan sulit untuk menghitung seluruh variabel, proses-proses dan gangguan yang dicirikan oleh kerentanan tersebut (Luers et al. 2003). Suatu sistem dapat menurunkan atau mengurangi kerentanan dengan memodifikasi hal- hal berikut (1) bergerak kepada fungsi yang lebih baik yang dapat mengurangi sensitivitasnya terhadap tekanan yang kritis, (2) mengubah posisi relatif terhadap ambang batas dari suatu dampak, dan (3) memodifikasi ketersingkapan sistem terhadap tekanan.

3 METODE PENELITIAN

Dokumen terkait