• Tidak ada hasil yang ditemukan

Dinamika Hubungan Antara Social Comparison Tubuh Dan Kecenderungan Ketidakpuasan Tubuh Anak Perempuan Usia 8-11Kecenderungan Ketidakpuasan Tubuh Anak Perempuan Usia 8-11

TINJAUAN TEORITIS

D. Dinamika Hubungan Antara Social Comparison Tubuh Dan Kecenderungan Ketidakpuasan Tubuh Anak Perempuan Usia 8-11Kecenderungan Ketidakpuasan Tubuh Anak Perempuan Usia 8-11

Tahun

Memasuki usia 8 hingga 11 tahun, anak dikategorikan memasuki tahap Preadolesence atau usia menjelang remaja. Usia ini adalah usia dimana anak akan menghabiskan sebagian besar waktunya untuk berada diluar rumah dan lingkungan bermainnya, seperti di sekolah, dan lingkungan masyarakat. Pada usia ini, anak akan disibukkan dengan tugas-tugas perkembangan berupa pembentukan pengetahuan, keterampilan, kemampuan sosial, mengembangkan tubuh dan otak serta mempersiapkan kehidupan remajanya (Papalia, 2006). Hurlock (1978) mengatakan bahwa karakteristik utama perkembangan anak usia sekolah dasar adalah berkelompok, pada usia ini penerimaan dan penghargaan dari teman bermain menjadi hal penting bagi anak sehingga anak cenderung mencari kepopuleran di lingkungan bermainnya. Dengan demikian, anak-anak sering memikirkan bagaimana cara menyesuaikan diri agar mendapatkan teman yang banyak dan mendapatkan penghargaan tertinggi dari teman-teman bermainnya (Hurlock, 1978).

Untuk mampu memahami lingkungannya, anak akan melakukan evaluasi terhadap dirinya melalui kemampuan dan pendapatnya berdasarkan kemampuan dan pendapat teman-temannya. Santrock (2011), mengatakan anak akan membentuk identitas dirinya dipengaruhi oleh aspek sosial dan pendapat kelompok, karena saat memahami diri, anak cenderung sadar

terhadap perspektif orang lain yang mempengaruhi pandangan diri dan orang satu sama lain (Santrock, 2006). Santrock (2011) juga menambahkan bahwa pemikiran anak usia sekolah dasar mulai terfokus pada dirinya sendiri, sehingga self esteem anak muncul dalam tiga bentuk yaitu, fisik, akademis, dan sosial yang dipengaruhi oleh adanya proses evaluasi.

Pada masa inilah, anak mulai mampu menggambarkan karakteristik fisik mereka, dan mulai membentuk gambaran baru tentang ideal atau tidak ideal dirinya sendiri pada aspek sikap dan tampilan fisik berdasarkan proses evaluasi yang berasal dari social comparison dengan lingkungannya. Proses ini berkaitan dengan bagaimana proses perkembangan kognitif anak dalam menangkap informasi yang masuk, sebab pada masa ini anak lebih memahami konsep ruang dan sebab akibat. Penilaian tentang diri menjadi lebih realistik dan komperhensif yang mempengaruhi berbagai aspek dalam kehidupan, hal ini dikarenakan anak memiliki kemampuan untuk membedakanreal selfdanideal self.

Perkembangan anak, tidak terlepas dari adanya perubahan fisik pada anak yang menimbulkan minat anak terhadap perubahan tubuhnya. Minat terhadap tubuh ini muncul karena anak mulai bermain dengan lingkungan sosialnya (Hurlock, 1978). Usia ini anak mulai membandingkan tubuh gemuk yang dinilai lambat dengan tubuh kurus yang terlihat lincah. Selain itu, minat terhadap tubuh juga berkaitan dengan minat anak terhadap penampilan yang muncul ketika memasuki usia akhir anak-anak dan menjadi obsesi ketika memasuki remaja. Anak mulai melihat apakah mereka terlihat rapih dalam

berpakaian atau tidak, apakah gigi mereka bersih atau tidak. Hurlock (1978) mengatakan bahwa minat terhadap penampilan muncul karena beberapa faktor, diantaranya adalah kritik dan komentar positif atau negatif dari teman sebaya mengenai penampilan menarik dan tidak menarik, kesadaran sikap lingkungan yang postif terhadap orang yang berpenampilan menarik, tekanan kelompok untuk berpenampilan sesuai jenis kelamin, dan kesadaran terhadap fungsi pakaian sebagai identitas diri. Pada proses inilah anak sering melakukan perbandingan dengan teman-temannya, kecenderungan membandingkan bisa saja kepada anak yang dinilai baik dan bagus oleh lingkungan atau membandingkan kepada anak yang dinilai buruk atau jelek dilingkungannya.

Seperti yang telah dijelaskan, social comparison bagi anak penting sebagai sarana evaluasi diri, sehingga perilaku membandingkan pada anak dapat membantu mereka untuk mencapai tujuan dan aspirasi terutama yang berhubungan dengan sekolah yaitu kemampuan dan pendapat mereka dikelas terkait intelektual dan sosial, selain itu menurut Kruglanski dan Mayseless (dalam Corcoran dkk, 2011) perbandingan dilakukan untuk memenuhi kebutuhan dasar seperti meningkatkan diri (self enchacement), dan perbaikan diri. Smolak (dalam Cash 2011) menjelaskan social comparison pada anak usia ini, juga terjadi pada kemampuan fisik dan penampilan fisiknya. Kemampuan fisik dan penampilan fisik adalah atribut yang terkait dengan body imageanak.

Ketidakpuasan tubuh pada anak menurut Cash dan Smolak (2011) berkaitan dengan citra tubuh yang dipengaruhi oleh perkembangan dan perubahan mental anak-anak. Anak usia akhir mulai mengalami pubertas, pubertas dapat mempengaruhi ukuran dan volume tubuh. Fase inilah banyak anak perempuan mulai merasakan kakhwatiran terhadap perubahan tubuhnya karena pubertas meningkatkan masa lemak tubuh pada anak perempuan sehingga citra tubuh yang dimunculkan kemungkinan negatif (Smolak, dalam Holmqvist dkk, 2014). Selain itu, Holmqvist dkk (2014) mengatakan bahwa perkembangan juga menimbulkan peningkatan kapasitas kognitif dan timbulnya kepentingan romantis yang memperkuat fungsi penampilan fisik dan berkaitan dengan isu ketidakpuasan tubuh. Collins (dalam Pine, 2001) mengungkap anak perempuan usia 6 atau 7 tahun sudah terpengaruh bias terhadap standar tubuh langsing, hal ini dikarenakan anak belajar sebelum memasuki puber tentang dimensi aturan gender feminine. Mendukung hal tersebut, penelitian Pine (2001) mengungkap bahwa anak laki-laki dan perempuan usia 5 hingga 11 tahun memiliki persepsi yang berbeda terhadap standar ideal, anak perempuan menunjukkan kesukaan pada figur gambar perempuan yang langsing, tetapi pada anak laki-laki ini tidak berpengaruh. Penelitian ini juga mengungkap bahwa pada usia tersebut anak sudah mampu memikirkan tentang sifat feminine yang digambarkan dengan memiliki tubuh yang kurus dan langsing. Beberapa hasil penelitian itu, menjelaskan bahwa fokus tubuh anak ditentukan oleh adanya kekuatan untuk mengutamakan penampilan dan bentuk fisik sebagai suatu hal yang penting

dalam penilaian dan penerimaan anak di lingkungan. Perasaan ini disebut dengan objektifikasi diri. Helena dan Aditomo (2007) mengatakan bahwa social comparison terhadap tubuh berkaitan dengan objektifikasi diri pada perempuan. Objektifikasi diri perempuan dimedia masa berkaitan dengan ketidakpuasan tubuh yang dialami oleh perempuan. Teori objektifikasi menjelaskan tentang tubuh perempuan yang dinilai berdasarkan bagaimana penampilannya bukan berdasar kepada siapa mereka. Objektifikasi ini, akan membuat perempuan lebih mementingkan penampilannya dibandingkan kemampuannya sebagai manusia (Heelena dan Aditmo, 2007).

Mengutamakan penilaian dan penerimaan pada penampilan dan bentuk fisik oleh anak, tentunya sebagai bentuk dari adanya perbandingan penampilan fisik dan kemampuan fisik yang juga berkaitan dengan perbandingan bentuk dan fungsi tubuh. Schutz, Paxton dan Wetheim (dalam Berg dkk, 2007) mengatakan social comparisonterhadap tubuh adalah proses membandingkan tubuhnya dengan tubuh orang lain. Dengan demikian perbandingan ini akan menciptakan citra tubuh, yaitu pandangan individu mengenai penampilan dan aspek tubuhnya yang didasari oleh persepsi individu terhadap dirinya. Pandangan ini berbentuk kepercayaan dan perasaan yang mengarah pada bagaimana orang lain melihatnya. Seperti yang dijelaskan, Smolak (dalam Cash, 2011) mengatakan bahwa pada citra tubuh anak, bagian yang sering dibandingkan anak adalah kemampuan fisik dan penampilan fisik. Evaluasi terhadap kemampuan fisik dan penampilan fisik yang terjadi pada anak inilah yang memungkinkan terdapat kecenderungan

pada anak untuk membentuk konsep perbandingan terhadap tubuhnya dengan orang lain.

Anak yang membandingkan penampilan fisik dan kemampuan fisiknya dengan orang yang memiliki standar dibawah standarnya (downward comparison) umumnya memiliki dampak positif sebab dia akan bangga pada kemampuannya yang melebihi objek pembandingnya, tetapi juga akan mengalami dampak negatif jika anak terlalu mengkhawatirkan dirinya menjadi seperti target pembandingnya sehingga mengakibatkan anak terus mendorong dirinya untuk menghindari terjadinya persamaan dengan objek pembanding yang memungkinkan menimbulkan kecemasan yang berlebihan terhadap penilaian orang pada kemampuan fisik dan penampilan fisiknya. Konsep perbandingan lain, yaitu kecenderungan anak membandingkan kemampuan fisik dan penampilan fisik dengan orang yang memiliki kemampuan dan penampilan melebihi standarnya (upward comparison), perbandingan ini memberikan dampak positif, jika anak berusaha memperbaiki dirinya dan meningkatkan dirinya. Perbandingan ini juga akan memberikan dampak negatif jika perbandingan ini memiliki kecenderungan timbulnya distorsi persepsi tubuh yang mengakibatkan ketidakpuasan tubuh, karena pada umumnya objek perbandingan merupakan orang yang mendapatkan banyak feedback positif dan penerimaan dari lingkungannya yang berhubungan dengan penampilan fisik dan kemampuan fisik. Berdasarkan penjabaran tersebut, tipe perbandingan yang dilakukan oleh anak-anak umumnya memiliki kecenderungan negatif yang dapat

menimbulkan kecemasan serta distorsi persepsi pada kemampuan dan penampilan fisik yang mengakibatkan ketidakpuasan tubuh, sehingga dapat disimpulkan bahwa kecenderungan untuk melakukan social comparison dengan intensitas yang tinggi kemungkinan dapat menimbulkan ketidakpuasan tubuh.

E. HIPOTESIS

Berdasarkan uraian diatas, peneliti memiliki hipotesis yaitu terdapat hubungan positif antara social comparison tubuh dengan kecenderungan ketidakpuasan tubuh pada anak perempuan usia 8-11 tahun. Semakin tinggi social comparison tubuh pada anak maka semakin tinggi kecenderungan ketidakpuasan tubuh. sebaliknya semakin rendah social comparison tubuh pada anak , maka semakin rendah kecenderungan ketidakpuasan tubuh.

F. Bagan Dinamik Hubungan Antara Social Comparison Tubuh Dengan

Dokumen terkait