• Tidak ada hasil yang ditemukan

Dinamika dan Struktur Kepribadian Dewi Ayu

BAB I PENDAHULUAN

II.1 Dinamika dan Struktur Kepribadian Dewi Ayu

Dewi Ayu dibesarkan oleh kakek dan neneknya setelah kedua orang tuanya meninggalkannya di muka pintu rumah. Cerita cinta tentang kedua orang tuanya diketahuinya dengan baik. Ia mengetahui bahwa kedua orang tuanya memiliki hubungan saudara, mereka memiliki ayah yang sama, yaitu kakek Dewi Ayu. Ia juga mengetahui dengan baik kisah cinta neneknya Ma Iyang dengan kekasihnya Ma Gedik yang dipisahkan oleh kakeknya sendiri. Ia bahkan mengagumi kedua orang tuanya dengan mengatakan bahwa mereka petualang-petualang sejati.

Ia tumbuh menjadi gadis yang keras kepala, bahkan pada kehidupan sekolahnya. Ketika Jepang datang, seluruh keluarganya memutuskan untuk meninggalkan Indonesia, tetapi Dewi Ayu memutuskan untuk tetap tinggal di rumah mereka dengan alasan yang tak masuk akal, agar ketika kakeknya pulang

mengetahui tempat yang ditujunya untuk pulang. Dewi Ayu bersahabat dengan Ola dalam penjara Blodenkamp. Ia bahkan menggantikan posisi Ola untuk tidur dengan komandan Jepang demi mendapatkan obat bagi ibu Ola. Dewi Ayu bersama perempuan-perempuan Belanda terpilih lainnya dijadikan pelacur bagi para perwira Jepang. Ketika itu hanya Dewi Ayu yang tidak melakukan pemijatan penghambat kehamilan hingga Alamanda lahir.

Ketika Dewi Ayu berhasil lepas dari semuanya, ia kembali ke rumahnya yang sudah dimiliki seorang pribumi. Ia bahkan rela menjadi pelacur untuk merebut kembali rumahnya demi mengumpulkan uang. Dewi Ayu memberikan pendidikan yang baik bagi anak-anaknya termasuk pendidikan agama. Dewi Ayu merupakan ibu yang sangat memperhatikan anak-anaknya. Ia bahkan menikahkan Maya Dewi pada usia 12 tahun untuk menghindarkannya dari nasib buruk seperti kedua kakaknya dengan kekasihnya sendiri, Dewi Ayu bahkan bersedia mati dan bangkit kembali setelah dua puluh satu tahun kematiannya untuk menyelamatkan kehidupan putri-putrinya. Dewi Ayu memiliki dua orang anak perempuan lagi yang kesemuanya berwajah cantik, yaitu Adinda dan Maya Dewi. Namun, pada kehamilannya yang keempat ia mengharapkan anak yang jelek pada putri bungsunya agar nasibnya tidak seperti kakak-kakaknya. Harapannya terkabul, ia memiliki putri yang sangat buruk rupa yang ia beri nama Cantik.

Rasa keakuan yang menonjol hampir di seluruh kisah cukup memberi gambaran bahwa segala peristiwa dilihat dari sudut pandang tokoh Dewi Ayu. Alasan yang diberikan merupakan upaya pembenaran atas segala tindakannya.

Tokoh Dewi Ayu mengatakan bahwa setelah perang selesai, ia menjadi pelacur bukan semata-mata membayar hutangnya pada Mama Kalong, tapi karena ia tak mau apa yang terjadi atas Ma Iyang dan Ma Gedik terulang pada pasangan-pasangan penuh cinta yang lain (Kurniawan 2004:395).

Alasan yang diungkapkan Dewi Ayu di atas hanyalah pembenaran atas tindakannya karena saat perang usai, ia tak mempunyai pilihan lain selain menjadi pelacur untuk melunasi hutangnya. Hal ini merupakan sikap narsisme dalam diri Dewi Ayu untuk mempertahankan citra egonya. Ia menjadi pelacur agar dekat dengan figur ayah.

Berdasarkan pembacaan terhadap teks manifes, Dewi Ayu terlihat baik-baik saja dan menguasai diri, namun ketika dilakukan pembacaan terhadap teks laten, ia memiliki sedikit masalah gangguan psikis ringan. Dewi Ayu mengalami masa kecil tanpa didampingi ayah-ibu, mengalami masa perang ketika Jepang datang dan ia merupakan salah satu korban perang yang pernah dipenjara. Mengenai orang yang baru mengalami trauma perang, Freud seperti yang dikutip oleh Djokosujatno (2003:112) sendiri pernah menulis dan menyebutnya sebagai nevrose de guerre, orang yang menderita perubahan psikis akibat tekanan realita yang berlebihan yaitu ketakutan dan ketegangan yang terus-menerus atau dalam waktu yang lama.

Dewi Ayu bukan seorang penderita neurosis yang parah. Dia tidak bermimpi seperti orang gila. Dia terlihat baik-baik saja, bahkan terlihat sangat menguasai diri ketika menjadi orang yang pertama kali menyadari bahwa ia dan teman-temannya dari penjara Bloden kamp akan dijadikan pelacur. Gangguan

psikis pada Dewi Ayu terlihat dari sikap-sikapnya yang sangat spontan, bahkan terkadang tak masuk akal.

Dewi Ayu berpikir untuk mengawinkan Maya Dewi secepatnya, sebelum ia tumbuh dewasa dan menjadi binal. Selama bertahun-tahun ia memecahkan masalah-masalahnya dengan pikiran cepat, dan gagasan yang muncul di otaknya selalu merupakan hal yang kemudian ia lakukan (Kurniawan 2004:280).

Dewi Ayu mengalami kompleks elektra, yaitu kompleks oedipus anak perempuan, seluruh hasrat perasaan cinta dan benci anak terhadap orang tua,yang dialaminya pada tahap phalik ketika anak berusia tiga atau empat tahun. Kompleks elektra membuat Dewi Ayu tetap tinggal di Indonesia. Ia bahkan menikahi lelaki tua Ma Gedik hingga memutuskan menjadi pelacur. Karena hasrat cinta pada orang tua pula ia kemudian berhubungan seksual yang pertama kali dengan seorang Komandan Jepang untuk mendapatkan obat dan dokter bagi ibu sahabatnya, Ola. Kompleks elektra pula yang memunculkan narsisme dalam dirinya.

Dewi Ayu mencintai dan mengagumi kedua orang tuanya. Ia sama sekali tak membenci keduanya meskipun mereka membuangnya di depan pintu rumah kakek dan neneknya.

Sejak awal ia memang telah dibuat heran kenapa ia tak punya orang tua, dan hanya punya Opa dan Oma dan Tante. Tapi ketika ia mengetahui bahwa suatu pagi ayah dan ibunya kabur di suatu pagi, bukannya marah, sebaliknya ia sedikit mengagumi keduanya.

“Mereka petualang-petualang sejati,” katanya pada Ted Stammler. “Kau terlalu banyak membaca buku cerita, Nak,” kata kakeknya.

“Mereka orang-orang religius,” katanya lagi.”Di dalam kitab suci diceritakan seorang ibu membuang anaknya ke Sungai Nil.”

“Itu berbeda.”

“Ya, memang. Aku dibuang di depan pintu.” (Kurniawan 2003:46)

Dewi Ayu terlihat sangat mencintai rumah tempat tinggalnya. Ia bahkan rela berpisah dengan keluarganya ketika Jepang datang untuk tetap tinggal di rumah itu. Setelah ia terbebas dari Jepang, ia bahkan rela menjadi pelacur untuk menembus kembali rumahnya.

Rumah itu merupakan sebuah simbol perjalanan hidupnya dari kecil. Ia ditinggalkan oleh kedua orang tuanya di muka pintu rumah itu. Makna rumah yang sedemikian besar bagi hidupnya itu diperlihatkan ketika ia kembali ke rumah itu bersama si kecil Alamanda dan Adinda. Dewi Ayu menceritakan detail foto-foto yang tergantung di dinding kepada putri-putrinya. Rumah sebagai simbol keberadaan orang tuanya. Suatu tempat yang mendekatkannya dengan mereka.

Dewi Ayu menikahi seorang pria tua yang tinggal di sebuah rawa. Hal ini dianggap aneh oleh orang-orang di sekitarnya mengingat saat itu usia Dewi Ayu masih sangat belia dan mempesona. Keputusannya ini dikatakannya untuk memberikan cinta pada lelaki tua Ma Gedik, kekasih neneknya yang direnggut oleh kakeknya. Alasan ini hanyalah pembenaran atas gangguan psikisnya.

Dewi Ayu tidak mengenal orang tuanya. Ia dibesarkan oleh kakeknya. Menurut Apsanti (2003:115), kehilangan orang tua merupakan peristiwa besar dimasa kecilnya yang menyebabkan trauma padanya yang mudah sekali dipicu oleh peristiwa yang lebih baru yang sama traumatisnya. Hal inilah yang menjadi dorongan bagi Dewi Ayu untuk membina keluarga yang utuh. Dewi Ayu sangat mendambakan figur sosok ayah dalam hidupnya. Hal inilah yang ia lihat dalam diri Ma Gedik. Ini merupakan oedipus kompleks dalam dirinya, yaitu rasa cinta terhadap bapak.

Rasa cinta terhadap orang tua juga terlihat saat ibu Ola sakit, dan untuk mendapatkan obat, ia rela tidur dengan lelaki untuk pertama kalinya. Sikapnya yang spontan untuk membantu orang tua Ola itu merupakan refleksi bahwa ibu Ola merupakan figur ibunya yang sangat ingin ia tolong,yang tak ia kenal sama sekali. Sikapnya ini sangat berlebihan mengingat peristiwa ini pertama kalinya ia berhubungan seksual dengan lelaki.

…”Aku gantikan gadis yang tadi, Komandan. Kau tiduri aku tapi beri ibunya obat dan dokter. Dan dokter!” (Kurniawan 2004:76).

Dalam peristiwa ini ia mengikuti idnya yaitu harus menolong seorang ibu yang sedang sekarat dan ia mengabaikan superegonya yang mengharuskan untuk melakukan hubungan badan dengan lelaki yang telah dinikahinya.

Ada semacam gejala narsisme primer pada diri Dewi Ayu yang terlihat dari awal ia menjadi pelacur di rumah tahanan. Ketika semua wanita melakukan pemijatan untuk mencegah kehamilan, hanya dia seorang diri yang tidak melakukannya dengan alasan seorang hamil karena disetubuhi, bukan karena tidak dipijat. Bayi dalam kandungannya merupakan identifikasi dirinya sendiri yang dapat ditafsirkan sebagai perwujudan hasrat untuk bersatu dengan ibu yang sudah disesuaikan dengan tuntutan realita. Suatu hasrat yang masuk ke masa prenatal, suatu hasrat ketika masih di dalam kandungan.

Dewi Ayu bahkan menyerahkan rumahnya yang menyimpan memori masa kecilnya kepada Maya Dewi sesudah menikah. Pemujaan orang tua pada anaknya merupakan narsisme primer mereka sendiri yang telah ditinggalkan. Menurut Freud seperti yang dikutip oleh Djokosujatno (2003:115), cinta orang

adalah narsisme mereka sendiri yang muncul kembali, dan tidak kehilangan sifat aslinya meskipun disamarkan menjadi cinta terhadap objek.

Sikap ini juga terlihat pada perhatiannya yang begitu besar pada anak-anaknya. Ia memberikan pendidikan yang baik pada mereka. Ia bahkan memikirkan benar-benar tentang masa depan anak-anaknya. Dewi Ayu bahkan menikahkan Maya Dewi dengan orang yang sangat ia percaya, kekasihnya sendiri Maman Gendeng.

Dewi Ayu menyuruh kekasihnya, Maman Gendeng untuk menikahi putrinya Maya Dewi yang masih berusia dua belas tahun. Ia berpikir dengan melakukan ini nasib Maya Dewi tak seperti kakaknya, Alamanda yang menikah tanpa cinta.

Dalam peristiwa ini ia mengabaikan superegonya yaitu aturan untuk menikahkan gadis dengan orang yang dicintainya ketika usianya telah matang dan siap untuk menikah. Dewi Ayu mengikuti idnya untuk menyerahkan putrinya pada orang yang sangat ia percaya dan dekat dengannya.

Ia tak ingin melihat Maya Dewi tumbuh menjadi dewasa dan menerima nasibnya yang tragis sebagaimana dialami Alamanda, dan mungkin akan dialami pula oleh Adinda. Tapi ia tak tahu dengan siapa ia akan mengawinkan gadis dua belas tahun itu, sebab ia pun tak ingin memberikan si bungsu pada sembarangan orang (Kurniawan 2004:280). Dewi Ayu terlihat sangat mencintai putri-putrinya. Ia bahkan bersedia mati dan bangkit kembali setelah dua puluh satu tahun kematiannya untuk menyelamatkan kehidupan mereka. Ungkapan yang bersifat mistis ini merupakan idelogi pengarang yang dimasukkan dalam karya sastra. Penelitian ini terfokus

pada psikologi yang dikaitkan dengan karya sastra. Oleh karena itu peneliti tidak menganalisis lebih jauh peristiwa mistis di atas.

Dewi Ayu melahirkan tiga orang gadis yang kesemuanya cantik, mewarisi semua kecantikannya. Ketika ia hamil putrinya yang ke empat, ia berdoa agar anaknya yang terakhir ini buruk rupa, dan doanya ini terkabulkan.

Dewi Ayu sangat membenci kecantikannya. Kecantikan membuatnya menderita, ia kemudian membenci perempuan cantik. Baginya, perempuan cantik hanya akan menjadi sasaran lelaki di dunia ini. Hal ini dapat terungkap dalam kutipan teks berikut.

“Tak ada kutukan yang lebih mengerikan daripada mengeluarkan bayi-bayi perempuan cantik di dunia laki-laki mesum seperti anjing di musim kawin.” (Kurniawan 2004:5).

Dewi Ayu berpendapat bahwa wanita cantik itu menggoda para lelaki, baik hal itu diinginkan atau tidak.

Maka ia berkata pada Rosinah,”Aku bosan punya anak cantik” “Kalau begitu berdoalah minta bayi buruk rupa,”

Ia harus berterimakasih pada perempuan bisu itu, sebab doanya terkabul dan untuk pertamakalinya ia memiliki perempuan buruk rupa. Lebih buruk rupa dari perempuan manapun yang kau temui, meski sacara ironik, ia memberinya nama Si Cantik. Dengan wajah dan tibuh seperti itu, tak akan ada siapa pun yang mencintainya, lelaki maupun perempuan. Ia akan terbebas dari kutukan roh jahat tersebut. Ia harus berterima kasih pada Rosinah (Kurniawan 2004:512).

Kebencian Dewi Ayu terhadap perempuan cantik sedemikian besar hingga ia menganggap memiliki wajah buruk rupa itu merupakan anugerah dan memiliki wajah cantik merupakan sebuah malapetaka.

“Gadis yang malang,” kata ibunya malam itu, malam pertama mereka berjumpa.

“Kau seharusnya menari dengan riang karena anugerah tersebut. Masuklah” (Kurniawan 2004:24).

“Yah, bayi yang malang,” kata Dewi Ayu sambil menggeliat di atas tempat tidur. “Segala telah kulakukan untuk membunuhnya. Seharusnya kutelan sebutir granat dan meledakkannya di dalam perut. Si kecil yang malang, seperti para penjahat, orang-orang malang juga susah mati.” (Kurniawan 2004:4)

Dokumen terkait