Dinamika perkembangan harga gabah bulanan di tingkat petani dan tingkat penggilingan selama periode tahun 2008 – 2015 dapat dilihat pada Gambar 2.22. Data bulanan gabah kering panen (GKP) di tingkat petani selama periode tahun 2008 – 2015 menunjukkan kecenderungan yang terus meningkat. Harga GKP di tingkat petani dapat dikatakan dapat memberikan keuntungan yang wajar mengingat semenjak tahun 2008 harga GKP di tingkat petani belum pernah di bawah harga pembelian pemerintah (HPP) GKP di tingkat petani. Dengan demikian selama periode pengamatan dapat dikatakan bahwa kebijakan HPP dinilai efektif sebagai instrumen untuk menjaga agar petani mendapatkan keuntungan usaha tani padi yang wajar.
Gambaran serupa juga terjadi pada dinamika harga bulanan gabah kering giling (GKG) di tingkat penggilingan. Secara umum dapat dikatakan bahwa selama periode tahun 2008 – 2015 harga bulanan GKG di tingkat penggilingan cenderung meningkat
26 dan berada di atas HPP yang telah ditetapkan. Perkecualian terjadi pada bulan Maret s/d April tahun 2008, bulan April tahun 2009, dan bulan April tahun 2010, yaitu pada saat harga GKG tingkat penggilingan jatuh di bawah HPP GKG. Sebagaimana diketahui bahwa pada bulan Maret s/d April di Indonesia umumnya terjadi musim panen raya.
Kondisi pola perkembangan harga GKG tingkat penggilingan yan umumnya berada di atas HPP juga dapat dikatakan bahwa kebijakan HPP GKG sampai saat ini dapat dikatakan sebagi instrumen kebijakan yang efektif menyangga harga GKG di tingkat penggilingan agar pengusaha penggilingan padi dapat memperoleh keuntungan yang wajar.
Sumber: BPS (2015)
Gambar 2.22. Perkembangan Harga Gabah di Tingkat Petani dan Penggilingan Tahun 2008 – 2015.
Perkembangan harga bulanan beras di tingkat konsumen selama periode tahun 2008 – 2015 dapat dilihat pada Gambar 2.23. Harga beras di tingkat konsumen
27 cenderung meningkat dari tahun ke tahun selama periode pengamatan dengan laju pertumbuhan rata-rata 0,88 persen per tahun. Namun demikian harga bulanan beras di tingkat konsumen juga cenderung bervariasi dengan angka CV sebesar 28,92 persen.
Walaupun secara umum harga beras domnestik cukup bervariasi, namun harga beras dalam negeri relatif stabil jika dibandingkan dengan harga beras dunia yang melambung tinggi pada tahun 2008 dan tahun 2011. Kondisi ini mengindikasikan bahwa kebijakan stabilitas harga beras dalam negeri dinilai cukup efektif. Keadaan ini juga mengindikasikan bahwa walaupun Indonesia masih memerlukan impor beras, tetapi kebijakan yang mempertahankan agar tingkat ketergantungan impor beras di bawah 4 persen setahun, mengindikasikan bahwa tingkat kemandirian dalam produksi beras nasional telah tercapai secara berkelanjutan.
Sumber: BPS (2015)
Gambar 2.23. Perkembangan Harga Beras Bulanan di Indonesia Tahun 2005 – 2015
28 Walaupun harga beras dalam negeri relatif stabil dibandingkan dengan harga beras di pasar dunia, yang dalam hal ini adalah harga beras Thailand, tetapi data menunjukkan bahwa harga beras di dalam negeri semenjak bulan April 2010 harga beras di dalam negeri menjadi lebih tinggi dibandingkan dengan harga paritas beras eks Thailand (Gambar 2.24.). Keadaan ini diperkirakan karena adanya dampak dari kombinasi dari kebijakan pengendalian impor beras dengan kebijakan stabilisasi harga beras di dalam negeri.
Kebijakan pengendalian impor beras dimaksud adalah bahwa pemerintah melakukan importasi beras untuk memperkuat stok dalam negeri, bukan langsung untuk dijual ke pasar. Penguatan stok beras Pemerintah inilah yang digunakan untuk melakukan stabilisasi harga beras di dalam negeri. Sebagai hasilnya, adalah bahwa harga beras di dalam negeri relatif stabil di banding dengan harga beras di pasar dunia, tetapi pada tingkatan harga yang relatif lebih tinggi dibandingkan dengan harga beras di pasar dunia. Namun demikian, mengingat Indonesia sebagai negara importir beras yang besar di Asia Tenggara, jika impor beras Indonesia hanya diserahkan kepada ekonomi pasar maka kemungkinan yang akan terjadi adalah harga beras di pasar dunia akan meningkat, dan harga beras di Indonesia akan relatif menurun.
29 Sumber: Badan Ketahanan Pangan (2014)
Gambar 2.24. Perbandingan Harga Paritas Beras Thailand 5% dengan Harga Beras IR I di Jakarta Tahun 2008 – 2013.
2.3. Prediksi Produksi, Konsumsi, Impor dan Harga Beras Nasional 2.3.1. Prediksi Produksi, Konsumsi, dan Impor Beras
Kajian tentang prediksi produksi, konsumsi dan impor beras ini dilakukan berdasarkan hasil penelitian tentang Outlook Pertanian 2015 – 2019 (Setiyanto et al.
2014) dengan menggunakan multimarket model. Analisis outlook menggunakan base line data tahun 2013 dengan tiga skenario, yaitu: (i) Skenario I: tidak terjadi perubahan iklim, dan pada periode 2015 – 2019 terpengaruh kebijakan kenaikan harga BBM 2014; (ii) Skenario II: kondisi iklim tidak normal dan terjadi gangguan iklim yang cenderung ke arah La Nina, dan pada periode 2015 – 2019 terpengaruh kebijakan kenaikan harga BBM 2014; dan (iii) Skenario III: kondisi iklim tidak normal dan terjadi gangguan iklim yang cenderung El Nino, dan pada periode 2015 – 2019 terpengaruh kebijakan kenaikan harga BBM 2014.
30 Gambar 2.25. menunjukkan prediksi perkembangan produksi beras nasional tahun 2015. Untuk Skenario I diprediksikan bahwa produksi padi nasional dalam kondisi iklim normal (tanpa adanya El Nino dan La Nina) akan mencapai 72,32 juta ton, dengan skenario yang sama produksi padi pada tahun 2019 akan mencapai 81,19 juta ton, atau tumbuh dengan laju pertumbuhan rata-rata per tahun 2,93 persen per tahun. Prediksi ini ternyata lebih rendah dari angka produksi sementara (Aram I) tahun 2015 yang diterbitkan oleh BPS sebesar 74,99 juta ton. Jika di Indonesia selama periode 2015 – 2019 mengalami gejala La Nina (Skenario II) maka pada tahun 2015 produksi padi nasional akan turun menjadi 71,82 juta ton (turun sekitar 0,69 persen dibandingkan Skenario I). Dengan skenario yang sama pada tahun 2019 produksi padi nasional akan mencapai 82,35 juta ton (lebih tinggi sekitar 1,43 persen dibandingkan Skenario I).
Dengan demikian pertumbuhan produksi padi nasional berdasarkan Skenario II adalah 3,48 persen per tahun. Adapun jika Indonesia menghadapi musim kering berkepanjangan sebagaimana terjadi pada gejala El Nino (Skenario III), maka produksi padi nasional pada tahun 2015 diprediksikan akan mencapai 71,04 juta ton, atau lebih kecil sekitar 1,77 persen. Dengan skenario yang sama produksi padi nasional diprediksikan mencapai 75,59 juta ton, atau lebih kecil sekitar 6,90 persen. Dengan demikian pertumbuhan produksi berdasarkan Skenario III akan tumbuh sekitar 1,56 persen per tahun.
31 Sumber: Setiyanto et al. (2014)
Gambar 2.25. Prediksi Perkembangan Produksi Beras Nasional Tahun 2015 – 2019.
Gambar 2.26 menunjukkan hasil prediksi konsumsi atau pemanfaatan beras di dalam negeri untuk tahun 2015 s/d tahun 2019. Hasil prediksi menunjukkan bahwa pada Skenario I (kondisi iklim normal) konsumsi beras dalam negeri akan mencapai 73,83 juta ton. Dengan skenario yang sama konsumsi beras dalam negeri pada tahun 2019 akan mencapai 82,48 juta ton., atau dengan pertumbuhan konsumsi rata-rata sebesar 2,81 persen per tahun. Pada Skenario II (ada gangguan La Nina) konsumsi beras dalam negeri pada tahun diprediksi kan sebesar 73,72 juta ton, lebih rendah 0,15 persen dari konsumsi Skenario I. Dengan laju pertumbuhan rata-rata 2,53 persen per tahun, konsumsi beras dalam negeri pada tahun 2019 diprediksikan sebesar 81,45 juta ton. Sedangkan pada Skenario III (gangguan El Nino), konsumsi beras dalam negeri diprediksikan sebesar 72,48 juta ton, lebih rendah dari prediksi Skenario I dan II.
Dengan laju pertumbuhan sekitar 1,56 persen per tahun, prediksi konsumsi beras dalam negeri pada tahun 2019 menjadi 77,10 juta ton.
32 Sumber: Setiyanto et al. (2014)
Gambar 2.26. Prediksi Perkembangan Konsumsi Beras Nasional Tahun 2015 – 2019.
Gambar 2.27 menunjukkan prediksi suplus/defisit beras, yaitu selisih antara produksi dalam negeri dengan konsumsi dalam negeri. Pada Skenario I (iklim normal) Indonesia selama periode 2015 – 2019 diprediksikan akan mengalami defisit beras berkisa antara 1,29 juta ton sampai 1,50 juta ton. Pada Skenario II (ada gangguan La Nina) selama periode 2015 – 2019 Indonesia diprediksikan akan mengalami defisit beras berkisar antara 0,47 juta ton sampai 1,90 juta ton, tetapi juga akan mengalami surplus beras sebesar 0,026 juta ton sampai dengan 0,90 juta ton. Sedangkan untuk Skenario III (ada gangguan El Nino) diprediksikan Indonesia akan mengalami defisit beras antara 0,72 juta ton sampai dengan 1,51 juta ton.
Untuk menutupi defisit kebutuhan beras dalam negeri, Indonesia masih harus melakukan importasi beras. Gambar 2.28 menunjukkan prediksi kebutuhan impor beras nasional. Untuk Skenario I (iklim normal), Indonesia diprediksikan akan memerlukan impor beras berkisar antara 1,56 juta ton sampai dengan 1,72 juta ton selama periode 2015 - 2019. Untuk Skenario II (ada gangguan La Nina) Indonesia diprediksikan akan memerlukan impor beras berkisar antara 1,54 juta ton sampai dengan 1,65 juta ton selama periode 2015 – 2019. Adapun pada Skenario III (ada gangguan El Nino),
33 Indonesia diprediksikan perlu impor beras berkisar antara 1,57 juta ton sampai dengan 1,75 juta ton selama periode 2015 – 2019.
Sumber: Setiyanto et al. (2014)
Gambar 2.27. Prediksi Perkembangan Surplus/Defisit Beras Nasional Tahun 2015 – 2019
Sumber: Setiyanto et al. (2014)
Gambar 2.28. Prediksi Perkembangan Net Impor Beras Nasional Tahun 2015 – 2019
34 2.3.2. Prediksi Harga Beras dan Gabah
Tabel 2.1 menunjukkan hasil prediksi harga beras di tingkat konsumen selama periode 2015 – 2019. Hasil prediksi harga beras di perkotaan dengan Skenario I (iklim normal) berkisar antara Rp 10.412,- per Kg sampai dengan Rp 12.484,- per Kg dengan rata-rata perkembangan sebesar 4,71 persen per tahun. Pada Skenario II (ada gangguan La Nina) harga beras pada tingkat konsumen perkotaan berkisar antara Rp 10.556,- per Kg sampai dengan Rp 11.701,- per Kg, atau dengan pertumbuhan rata-rata 2,62 persen per tahun. Sedangkan pada Skenario III (ada gangguan El Nino) harga beras di perkotaan diprediksikan berkisar antara Rp 10.630,- per Kg sampai dengan Rp 11.620,- per Kg, dengan laju pertumbuhan sekitar 2,26 persen per tahun.
Tabel 2.1. Prediksi Perkembangan Harga Beras di Tingkat Konsumen Tahun 2015 -2019.
Tahun
Harga Konsumen Beras di
Perkotaan Harga Konsumen Beras di
Pedesaan Jawa Harga Konsumen Beras di Pedesaan Luar Jawa 2016 10701.51 10781.4 10822.18 9305.67 9375.13 9410.59 9908.81 9982.78 10020.54 2017 11086.75 11096.48 11101.8 9640.65 9649.11 9653.74 10265.51 10274.52 10279.44 2018 11212.98 11189.36 11177.99 9750.42 9729.88 9719.99 10382.39 10360.52 10349.99 2019 12483.85 11700.61 11619.74 10316.26 10174.45 10104.12 10984.91 10833.9 10759.02
Growth 4.71 2.62 2.26 3.33 2.62 2.26 3.33 2.62 2.26
Sumber: Setiyanto et al. (2014).
Tabel 2.1 juga menunjukkan prediksi harga beras di pedesaan Jawa. Pada Skenario I harga beras di pedesaan Jawa pada tahun 2015 akan mencapai Rp 9.053,- per Kg adan akan tumbuh dengan laju pertumbuhan 3,33 persen setahun, sehingga pada tahun 2019 diprediksikan harga beras di wilayah ini akan mencapai harga Rp 10.316,- per Kg. Pada Skenario II harga beras di pedesaan Jawa pada tahun 2015 akan mencapai Rp 9.179,- per Kg, dan akan tumbuh dengan laju pertumbuhan 2,62 persen setahun, sehingga pada tahun 2019 diprediksikan harga beras di wilayah ini akan
35 mencapai harga Rp 10.174,- per Kg. Adapun pada Skenario III harga beras di pedesaan Jawa pada tahun 2015 akan mencapai Rp 9.244,- per Kg adan akan tumbuh dengan laju pertumbuhan 2,26 persen setahun, sehingga pada tahun 2019 diprediksikan harga beras di wilayah ini akan mencapai harga Rp 10.104,- per Kg.
Perkembangan prediksi harga beras pada tingkat konsumen di daerah pedesaan Luar Jawa juga dapat dilihat pada Tabel 2.1. Pada Skenario I harga beras di pedesaan Luar Jawa pada tahun 2015 akan mencapai Rp 9.640,- per Kg adan akan tumbuh dengan laju pertumbuhan 3,33 persen setahun, sehingga pada tahun 2019 diprediksikan harga beras di wilayah ini akan mencapai harga Rp 10.985,- per Kg. Pada Skenario II harga beras di pedesaan Luar Jawa pada tahun 2015 akan mencapai Rp 9.774,- per Kg, dan akan tumbuh dengan laju pertumbuhan 2,62 persen setahun, sehingga pada tahun 2019 diprediksikan harga beras di wilayah ini akan mencapai harga Rp 10.834,- per Kg. Adapun pada Skenario III harga beras di pedesaan Luar Jawa pada tahun 2015 akan mencapai Rp 9.843,- per Kg, dan akan tumbuh dengan laju pertumbuhan 2,26 persen setahun, sehingga pada tahun 2019 diprediksikan harga beras di wilayah ini akan mencapai harga Rp 10.759,- per Kg.
Dari simulasi model prediksi ini dapat diketahui bahwa harga beras di tingkat konsumen pada kondisi ada gangguan La Nina ataupun El Nino pada tahun 2015 relatif lebih tinggi dari pada harga beras dalam kondisi iklim normal. Pada tahun 2015 harga beras pada gangguan El Nino relatif lebih tinggi dibandingkan dengan harag beras dalam kondisi ada gangguan La Nina. Namun demikian hasil prediksi menunjukkan pertumbuhan harga pertahun pada kondisi iklim normal lebih tinggi dari pada pada kondisi ada gangguan La Nina dan pada kondisi ada gangguan El Nino.
Perkembangan prediksi harga gabah di tingkat produsen di daerah pedessan Jawa selama periode 2015 – 2019 dapat dilihat pada Tabel 2.2. Hasil prediksi menunjukkan bahwa harga gabah di tingkat produsen di daerah pedesaan Jawa dengan Skenario I pada tahun 2015 adalah Rp 4.636,- per Kg, dan tumbuh dengan laju pertumbuhan 1,20 persen, sehingga pada tahun 2019 harga gabah di wilayah ini diprediksikan akan mencapai Rp 4.862,- per Kg. Pada Skeranio II harga gabah di
36 tingkat produsen di pedesaan Jawa pada tahun 2015 diprediksikan sebesar Rp 4.766,- per Kg, dan tumbuh dengan laju pertumbuhan 3,04 persen, sehingga pada tahun 2019 harga gabah di wilayah ini diprediksikan akan mencapai Rp 5.372,- per Kg. Adapun pada Skeranio III harga gabah di tingkat produsen di pedesaan Jawa pada tahun 2015 diprediksikan sebesar Rp 4.728,- per Kg, dan tumbuh dengan laju pertumbuhan 3,95 persen, sehingga pada tahun 2019 harga gabah di wilayah ini diprediksikan akan mencapai Rp 5.520,- per Kg.
Tabel 2.2 juga menunjukkan perkembangan prediksi harga gabah di tingkat produsen di pedesaan Luar Jawa. Hasil prediksi menunjukkan bahwa harga gabah di tingkat produsen di daerah pedesaan Luar Jawa dengan Skenario I pada tahun 2015 adalah Rp 4.936,- per Kg, dan tumbuh dengan laju pertumbuhan 1,20 persen, sehingga pada tahun 2019 harga gabah di wilayah ini diprediksikan akan mencapai Rp 5.177,- per Kg. Pada Skeranio II harga gabah di tingkat produsen di pedesaan Luar Jawa pada tahun 2015 diprediksikan sebesar Rp 5.074,- per Kg, dan tumbuh dengan laju pertumbuhan 3,04 persen, sehingga pada tahun 2019 harga gabah di wilayah ini diprediksikan akan mencapai Rp 5.720,- per Kg. Adapun pada Skeranio III harga gabah di tingkat produsen di pedesaan Luar Jawa pada tahun 2015 diprediksikan sebesar Rp 5.035,- per Kg, dan tumbuh dengan laju pertumbuhan 3,95 persen, sehingga pada tahun 2019 harga gabah di wilayah ini diprediksikan akan mencapai Rp 5.878,- per Kg.
Tabel 2.2. Perkembangan Prediksi Harga Gabah di Tingkat Produsen di Jawa dan Luar Jawa Tahun 2015 - 2019
Tahun Harga Produsen Gabah di Pedesaan
Jawa Harga Produsen Gabah di Pedesaan Luar Jawa
Skenario I Skenario II Skenario III Skenario I Skenario II Skenario III
2015 4635.55 4765.56 4728.37 4936.01 5074.44 5034.83
2016 4702.36 4912.43 4920.23 5007.14 5230.82 5239.14
2017 4759.55 5025.28 5073.6 5068.04 5350.99 5402.44
2018 4812.48 5253.83 5364.53 5124.40 5594.35 5712.23
2019 4861.50 5371.69 5520.42 5176.60 5719.85 5878.23
Growth 1.20 3.04 3.95 1.20 3.04 3.95
Sumber: Setiyanto et al. (2014).
37 Hasil simulasi prediksi harga gabah di pedesaan pada tingkat petani menunjukkan bahwa harga gabah pada situasi iklim normal relatif lebih rendah dibandingkan dengan pada saat ada gangguan iklim. Prediksi harga gabah pada saat adsa gangguan El Nino diprediksikan akan lebih tinggi jika dibandingkan dengan harga gabah pada saat ada gangguan La Nina. Demikian halnya dengan tingkat pertumbuhan harganya, tingkat pertumbuhan harga manakala ada gangguan El Nino akan lebih cepat dibandingkan dengan pada saat ada gangguan La Nina. Tingkat pertumbuhan harga gabah pada iklim normal merupakan angka pertumbuhan terendah di antara tiga skenario tersebut.
2.4. Kebijakan Perberasan Nasional 2.4.1. Kebijakan Peningkatan Produksi
Dalam rangka meningkatkan produksi padi/beras nasional Pemerintah telah mencanangkan untuk mencapai swasembada beras pada tahun 2017. Untuk mencapai tujuan tersebut Pemerintah telah melaksanakan Program Upaya Khusus (UPSUS) Peningkatan Produksi Padi Jagung dan Kedelai yang tertuang dalam Peraturan Menteri Pertanian Republik Indonesia Nomor: 03/Permentan/OT.140/2/2015.
Permasalahan subtantif yang dihadapi dalam pencapaian swasembada pangan antara lain adalah: (1) alih fungsi dan fragmentasi lahan pertanian; (2) rusaknya infrastruktur/jaringan irigasi; (3) semakin berkurangnya dan mahalnya upah tenaga kerja pertanian; (4) kurangnya pemanfaatan mekanisasi pertanian; (5) masih tingginya kehilangan hasil pertanian; (6) belum terpenuhinya kebutuhan pupuk dan benih sesuai dengan rekomendasi spesifik lokasi, serta belum terpenuhinya penyediaan pupuk dan benih secara enam tepat; (7) kuarngnya akses petani terhadap sumber permodalan;
dan (8) kurangnya jaminan harga produksi dan akses pasar.
Untuk mengatasi berbagai masalah tersebut, Pemerintah melaksanakan program UPSUS untuk peningkatan produksi padi dengan cakupan sebagai berikut: (1) Pengembangan jaringan irigasi, (2) Optimasi lahan, (3) Pengembangan System of Rice Intensification (SRI); (4) Gerakan Penerapan Pengelolaan Tanaman terpadu (GPPTT);
38 (5) Penyediaan bantuan benih dan pupuk; (6) Penyediaan bantuan alat dan mesin pertanian (alsintan); (7) Pengendalian OPT dan dampak perubahan iklim; (9) Asuransi pertanian; dan (10) Pengawalan/pendampingan.
Adapun strategi dasar UPSUS difokuskan kepada: (1) Peningakatn produktivitas dan indeks pertanaman melalui ketersediaan air irigasi, benih, pupuk dan alsintan; (2) Pemberian fasilitas pendampingan dari penyuluh pertanian, peneliti, perguruan tinggi dan TNI; (3) Pengembangan irigasi, optimalisasi lahan dan GPPTT Padi; dan (4) Optimalisasi lahan pada sentra produksi padi tidak dialokasikan bantuan benih.
Indikatror pencapaian kinerja program UPSUS Padi adalah sebagai berikut: (1) Meningkatnya Indeks Pertananaman (IP) minimal sebesar 0,5; dan (2) Meningkatnya produktivitas padi minimal sebesar 0,4 ton/ha.