• Tidak ada hasil yang ditemukan

Potensi Permintaan

Dalam dokumen OUTLOOK KOMODITAS PANGAN STRATEGIS TAHUN (Halaman 140-144)

4.4. Outlook Komoditas Kedelai

5.2.11. Potensi Permintaan

Peningkatan imbal hasil akibat permintaan minyak nabati yang tinggi secara global diperkirakan akan meningkatkan investasi/ penanaman modal pada industri minyak sawit. Menjelang tahun 2020, konsumsi minyak sawit dunia diperkirakan meningkat menjadi 60 juta ton. Keamanan pangan dan daya saing harga minyak sawit yang dibarengi dengan potensi perannya dalam energi terbarukan, diperkirakan ikut menyebabkan pertumbuhan lebih dari 30 persen pada dasawarsa mendatang. Selama ini pertumbuhan industri minyak sawit relatif tinggi disebabkan oleh keunggulan biaya produksi dalam budidaya kelapa sawit karena harga lahan yang rendah serta masukan energi yang rendah selain itu minyak sawit juga kaya akan lemak-mono tak jenuh yang dipandang bermanfaat menurunkan risiko penyakit jantung.

Kecuali itu, dengan peningkatan harga CPO di pasar internasional, harga produk hilirnya pun tentu juga mengalami peningkatan. Sekadar gambaran, untuk produk hilirisasi minyak goreng, harga rata-rata minyak goreng curah dan minyak goreng kemasan dalam dua tahun terakhir mengalami peningkatan cukup signifikan.

5.3. Peluang dan Kendala Pengembangan Industri Sawit Berkelanjutan Pengembangan industri hilir (agroindustri) akan sangat strategis jika dijalankan secara terpadu dan berkelanjutan. Terpadu artinya ada keterkaitan anatara usaha sektor hulu dan hilir secara sinergis dan produktif serta ada keterkaitan antar wilayah, antar sektor bahkan antar komoditas (Djamhari, 2004).

Berkelanjutan, sebagaimana dirumuskan oleh World Commission on Environment and Development (WCED) tahun 1987, adalah ―Pembangunan yang sesuai dengan kebutuhan sekarang tanpa mengurangi kemampuan generasi berikutnya untuk memenuhi kebutuhannya‖ (Plummer, 2005).

128 Saat ini masalah yang dihadapi oleh industri CPO nasional terutama infrastruktur termasuk akses jalan dan konektivitasnya dengan pengangkutan di pelabuhan untuk mendukung industri pengolahan CPO. Masalah lain yang dihadapi adalah tidak selarasnya dengan pertumbuhan industri turunannya. Pertumbuhan industri CPO dan produk CPO selama ini hanya diikuti pertumbuhan industri hulu.

Seperti, industri fatty acid, fatty alcohol, glycerine, methyl esther. Sampai saat ini CPO belum dimanfaatkan secara optimal untuk pengembangan industri hilir. Produk industri hilir hasil olahan CPO yang pengembangannya masih minim seperti surfactant, farmasi, kosmetik, dan produk kimia dasar organik. Padahal dengan mengembangkan industri hilir, maka nilai mata rantai dan nilai tambah produk CPO akan semakin tinggi. Apalagi, produk turunan CPO mempunyai hubungan dengan sektor usaha dan kebutuhan masyarakat di bidang pangan. Misalnya, pupuk, pestisida, bahan aditif makanan, pengawet makanan, penyedap makanan, kemasan plastik (Afifuddin dan Kusuma, 2007; Dou, 2009; ICN, 2009a).

Menurut Bappenas (2010), permasalahan pembangunan kelapa sawit di Indonesia dapat diatasi dengan menerapkan 8 alternatif kebijakan pembangunan kelapa sawit, yaitu : (i) pengembangan produk (hilir dan samping) dan peningkatan nilai tambah produk kelapa sawit, (ii) transparansi informasi pembangunan kebun kelapa sawit, (iii) promosi, advokasi dan kampanye publik tentang industri kelapa sawit berkelanjutan, (iv) mendorong penerapan prinsip dan kriteria RSPO, (v) pengembangan mekanisme resolusi konflik, (vi) pengembangan aksessibilitas petani terhadap sumber daya, (vii) penguatan dan penegakan hukum pembangunan kelapa sawit berkelanjutan melalui penerapan Indonesia Sustainable Palm Oil (ISPO) dan tata kelola perizinan dan (viii) pengendalian konversi hutan alam primer dan lahan gambut.

Standarisasi internasional untuk produk Sustainable Palm Oil pun telah ditetapkan melalui Sertifikasi RSPO (Roundtable on Sustainable Palm Oil) dimana sertifikasi ini berperan untuk menjembatani negara produsen dengan negara konsumen terkait pemenuhan isu lingkungan. RSPO adalah suatu asosiasi, didirikan 8 April 2004, di bawah Article 60 Swiss Civil Code, merupakan sebuah aturan dengan standar internasional dalam pengelolaan perkebunan sawit secara

129 berkesinambungan dan berkelanjutan. RSPO bertujuan untuk mempromosikan produksi dan penggunaan minyak sawit berkelanjutan melalui kerjasama di sepanjang rantai pasok serta mengalokasikan dialog terbuka dengan para pemangku kepentingan. Menerapkan SPO adalah kewajiban bagi pelaku perkebunan kelapa sawit demi kepentingan kelangsungan bisnis karena sebagian importir seperti negara-negara Eropa Barat mulai memberlakukan standarisasi RSPO dalam penerimaan produk olahan kelapa sawit, tak jarang para importir menolak membeli produk yang tidak menerapkan SPO dalam proses produksinya.

Berdasarkan keragaan perkebunan dan industri kelapa sawit saat ini, Indonesia menghadapi tantangan dari luar maupun dari dalam negeri. Tantangan luar negeri dalam bentuk kampanye negatif tentang produksi minyak sawit Indonesia yang tidak sehat. Kampanye negatif sudah dimulai dari tahun 1970 seperti yang diterbitkan oleh New York Times dan Washington Post dengan topik Minyak Tropis Meracuni Amerika. Kampanye negatif ini terus berlangsung dan dapat dikelompokkan kedalam 5 isu penting tentang penebangan hutan, kesehatan, ancaman keanekaragaman hayati, hak asazi manusia, hak tanah dan pelaksanaan kebijakan dumping.

Sementara tantangan dalam negeri antara lain: dominasi pemilikan atau pengusahaan perkebunan sawit oleh pengusaha besar (konglomerat). Teknologi penanaman sawit hanya dimiliki oleh perkebunan besar dan tidak ada Processing Unit Palm Oil ingin menerima Tandan Buah Segar (TBS) dari luar perusahaan.

Tantangan lainnya berupa: sengketa identifikasi ekspor minyak sawit, penanganan di pelabuhan Indonesia, gambar eksklusivitas minyak sawit di pasar domestik, Green Palm and Sustainable Palm Oil, isu deforestasi dan kesehatan, menurunkan dampak Green House Gas dan keterampilan tenaga kerja serta research and development.

Pemerintah telah mengeluarkan Peraturan Menteri Pertanian No. 98 tahun 2013 Tentang Pedoman Perizinan Usaha Perkebunan. Kebijakan berisikan tentang pemberian izin untuk perusahaan perkebunan yang melakukan usaha budidaya perkebunan dalam bentuk Izin Usaha Perkebunan untuk Budidaya (IUP-B) dan Surat Tanda Daftar Usaha Perkebunan (STD-B). Izin Usaha Perkebunan untuk Pengolahan (IUP-P) dan Surat Tanda Daftar Usaha Perkebunan (STD-P) untuk perusahaan

130 perkebunan yang melakukan usaha industri pengolahan hasil perkebunan. Izin Usaha Perkebunan (IUP) untuk perusahaan perkebunan yang melakukan usaha budidaya perkebunan dan terintegrasi dengan usaha industri pengolahan hasil perkebunan.

Adapun izin usaha yang diberikan dengan ruang lingkup peraturan yang meliputi: (i) jenis dan perizinan usaha perkebunan, (ii) syarat dan tata cara permohonan izin usaha perkebunan, (iii) kemitraan, (iv) perubahan luas lahan, jenis tanaman dan/atau perubahan kapasitas pengolahan serta diversifikasi usaha, (v) rekomendasi teknis usaha perkebunan, (vi) kewajiban perusahaan perkebunan, (vii) pembinaan dan pengawasan, serta (viii) sanksi administrasi.

Kemitraan yang dimaksud dalam kebijakan ini adalah kemitraan usaha perkebunan antara perusahaan perkebunan dengan pekebun, karyawan dan masyarakat sekitar. Pola kemitraan yang diberikan dalam bentuk : (i) Penyediaan sarana produksi, (ii) Produksi, (iii) Pengolahan dan pemasaraan, (iv) Transportasi, (v) Operasional, (vi) Kepemilikan saham dan (vii) Jasa pendukung lainnya.

Saat ini, perkebunan kelapa sawit mampu menampung sekitar 16 juta tenaga kerja, 43 persen diantaranya merupakan perkebunan rakyat. Selain itu, kelapa sawit juga berkontribusi menyumbang ke sektor pendapatan negara (15% GDP) yang artinya sub-sektor ini memberi kontribusi penting terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat. Pertumbuhan sub-sektor kelapa sawit yang telah menghasilkan angka-angka pertumbuhan ekonomi ini, sering digunakan pemerintah untuk mendatangkan investor ke Indonesia.

Pesatnya perkembangan perkebunan kelapa sawit dan banyaknya manfaat yang diperoleh baik dari penyerapan tenaga kerja maupun sumbangan devisa, perlu disadari ini membawa berbagai dampak pada aspek ekonomi maupun sosial, baik yang bersifat manfaat maupun kerugian sebagai konsekuensi langsung dan tidak langsung dari perkembangan tersebut. Dampak ini bisa terhadap masyarakat sebagai aktor-aktor pelaku atau aktor terimbas maupun sektor-sektor lain diluar perkebunan kelapa sawit. Hal ini yang akan menjadi fokus kajian dari penelitian ini.

Dampak yang diamati akan kait mengkait dengan keluarnya kebijakan pemerintah melalui Permentan No. 98 tahun 2013 tentang perijinan usaha perkebunan dan

131 membangun kemitraan dengan karyawan, pekebun local. Respon perusahaan kelapa sawit dalam mensikapi kebijakan tersebut termasuk dalam salah satu fokus kajian.

Dalam dokumen OUTLOOK KOMODITAS PANGAN STRATEGIS TAHUN (Halaman 140-144)

Dokumen terkait