Perkembangan luas panen padi di Indonesia dapat dilihat pada Gambar 2.16.
Luas panen padi di Indonesia pada tahun 1993 adalah sekitar 11,0 juta hektare, sekitar 5,51 juta hektare ada di Jawa dan 5.48 juta hektare ada di Luar Jawa. Sementara itu, pada tahun 2015 data menunjukkan bahwa luas panen di Indonesia sudah berkembang menjadi 14,18 juta hektare (angka sementara). Dari luasan tersebut, luas panen di Jawa mempunyai kontribusi sekitar 6,40 juta hektare, sedangkan luas panen di Luar Jawa sudah melebihi luas panen di Jawa, yaitu 7,78 juta hektare.
Sehubungan dengan dinamika pola luas panen padi di Jawa dibanding dengan di Luar Jawa, maka telah terjadi pergeseran dominasi luas panen padi di Indonesia selama periode 1993 – 2015. Pada tahun 1993 data menunjukkan bahwa pangsa luas panen padi di Jawa yaitu masih 50 persen, atau sama dengan pangsa luas panen di Luar Jawa (Gambar 2.17). Seiring dengan semikin tingginya biaya korbanan (opportunity costs) penggunaan lahan pertanian di Jawa. Oleh karena itu perkembangan luas panen padi di Jawa mengalami berbagai keterbatasan, dan perkembangan luas panen padi bergeser ke luar Jawa. Dengan demikian pada tahun 2015 pangsa luas panen padi di Luar Jawa
20 menjadi 55 persen, lebih besar dari pangsa luas panen di Jawa yang tinggal 45 persen (Gambar 2.17).
Sumber: BPS (2015)
Gambar 2.16. Perkembangan Luas Panen di Jawa dan Luar Jawa Tahun 1993 – 2015.
Sumber: BPS (2015)
Gambar 2.17. Pangsa Luas Panen Padi di Jawa dan di Luar Jawa Tahun 1993 dan Tahun 2015.
21 Perkembangan produktivitas padi di Indonesia, Jawa dan Luar Jawa dapat dilihat pada Gambar 2.18. Setelah mengetahui perkembangan produksi dan luas panen padi dapat dikatakan behwa faktor yang menentukan dominasi produksi padi di Jawa adalah tingginya produktivitas padi di Jawa. Data menunjukkan bahwa pada tahun 1993 produkstivitas padi di Jawa telah mencapai 51,3 kwintal per hektare, jauh lebih tinggi dibandingkan dengan produkstivitas padi di Luar Jawa sebesar 36,2 kwintal per hektare, sehingga rata-rata produktivitas padi di Indonesia pada tahun 1993 adalah 43,7 kwintal per hektare. Pada tahun 2015 produktivitas padi di Jawa meningkat menjadi 59,9 kwintal per hektare, sementara produktivitas padi di Luar Jawa baru mencapai 47,0 kwintal per hektare, sehingga produktivitas padi rata-rata di Indonesia pada tahun 2015 menjadi 52,8 kwintal per hektare (angka sementara).
Sumber: BPS (2015)
Gambar 2.18. Perkembangan Produktivitas Padi di Indonesia, Jawa, dan Luar jawa Tahun 1993 – 2015.
Gambar 2.19. menunjukkan perkembangan pertumbuhan luas panen dan produktivitas padi di Indonesia menurut beberapa periode waktu selama rentang waktu tahun 1993 s/d tahun 2015. Dalam Gambar dapat diketahui bahwa selama
22 periode 1993 – 1999 dan tahun 2005 – 2011, pertumbuhan luas panen padi lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan produktivitasnya. Dan ini berarti bahwa dalam periode tahun tersebut pertumbuhan luas panen padi merupakan faktor dominan dalam menentukan pertumbuhan produksi padi di Indonesia. Sebaliknya pada periode tahun 1999 – 2005 dan 2011 – 2015 pertumbuhan produktivitas padi merupakan faktor penentu bagi pertumbuhan produksi padi nasional. Namun secara rata-rata, selama periode tahun 1993 – 2015 pertumbuhan luas panen padi, yaitu 1,20 persen per tahun relatif lebih besar dari laju pertumbuhan produkstivitas padi sebesar 0,75 persen per tahun. Kondisi demikian cukup mengkhawatirkan bagi pertumbuhan produksi padisecara berkelanjutan dalam jangka panjang, karena kapasitas untuk perluasan areal pertanaman padi yang semakin terbatas. Kedepan sumber pertumbuhan produksi padi seharusnya bertumpu pada pertumbuhan peningkatan produktivitasnya.
Sumber: BPS (2015)
Gambar 2.19. Pertumbuhan Luas Panen dan Produktivitas Padi di Indonesia Tahun 1993 – 2015.
23 2.2.3. Dinamika Neraca Produksi dan Perdagangan Beras
Perkembangan neraca produksi dan pemanfaatan beras nasional selama periode tahun 1993 – 2013 dapat dilihat pada Gambar 2.20. Dari Gambar tersebut dapat diketahui bahwa selama periode tahun 1993 – 2013 secara umum dapat dikatakan bahwa produksi beras nasional relatif lebih kecil dibandingkan dengan pemanfaatan beras nasional, kecuali yang terjadi pada tahun 1993. Pada tahun 1993 produksi beras domestik sebesar 28,75 juta ton relatif lebih besar dibandingkan pemanfaatannya yaitu 28,42 juta ton. Dengan demikian secara umum dapat dikatakan bahwa Indonesia masih mengalami defisit beras, walaupun angka rata-rata defisit beras nasional selama periode tahun 1993 – 2013 adalah 3,59 persen pertahun.
Mengingat bahwa Indonesia merupakan negara produsen yang sekaligus merupakan negara konsumen terbesar di Asia Tenggara, maka stabilitas pasokan beras nasional didukung oleh dua sumber utama. Sumber pertama adalah sumber dari dalam negeri, yaitu berupa cadangan pangan atau dalam terminologi neraca bahan makanan dengan stok. Pada Gambar 2.21. data yang tersedia adalah perubahan stok beras nasional, yaitu selisih antara stok awal tahun dengan stok beras akhir tahun. Jika perubahan stok bernilai positif berarti pada tahun yang bersangkutan ada penambahan stok nasional beras nasional, yang dapat berupa stok dari produksi beras dalam negeri ditambah dengan sisa impor beras yang tidak digunakan pada tahun yang berasangkutan. Selama periode 1993 – 2013, atau selama 21 tahun, telah terjadi 10 kali Indonesia mengalami tahun yang perubahan stok beras nasionalnya negatif. atau boleh dikatakan bahwa dalam jangka menengah panjang risiko defisit stok beras nasional adalah sekitar 48 persen.
24 Sumber: BPS (2015)
Gambar 2.20. Perkembangan Neraca Produksi dan Pemanfaatan Beras Indonesia Tahun 1993 – 2013.
Sumber utama kedua untuk stabilisasi pasokan peras dalam negeri adalah impor beras. Gambar 2.21. juga menggambarkan dinamika impor (nett import) beras nasional selam periode 1993 – 2013. Selama periode tahun 1993 – 2013 secara nasional dapat dikatakan selalu ada sejumlah impor beras. Indonesia pernah menjadi negara nett exporter beras yaitu pada tahun 1993, yaitu pada sebesar 327 ribu ton. Tahun-tahun selanjutnya Indonesia menjadi negara nett impoter beras. Impor terkecil terjadi pada tahun 2005, yaitu sebesar 146 ribu ton. Adapun jumlah impor terbesar terjadi pada tahun 1999 yaitu sebesar 4,74 juta ton, yaitu setahun setelah Indonesia mengalami krisis beras pada tahun 2008. Dengan demikian rata-rata impor beras nasional selama periode pengamatan adalah 1,22 juta ton, atau dengan rasio ketergantungan impor rata-rata adalah 3,69 persen.
25 Sumber: BPS (2015)
Gambar 2.21. Perkembangan Impor dan Stok Beras Indonesia Tahun 1993 – 2013.