Oleh : Desna Yuhana, S.IKom *)
Direktorat Jenderal Planologi Kehutanan pada tanggal 13 – 15 April 2011, bertempat di Inna Grand Bali Beach Hotel, Denpasar, Bali melaksanakan Pertemuan Konsultasi (Mukon) dengan tema ”SINKRONISASI DAN PERCEPATAN PEMANTAPAN KAWASAN HUTAN GUNA MENDUKUNG TERWUJUDNYA PENGELOLAAN HUTAN LESTARI”.
Mukon ini merupakan agenda rutin yang diadakan setahun sekali, dengan maksud untuk merumuskan implementasi dan perkembangan pelaksanaan Rencana Kerja Pembangunan Bidang Planologi Kehutanan Tahun 2011, permasalahan yang dihadapi dan langkah strategis yang perlu ditempuh dalam mengatasi permasalahan, serta tersusunnya arahan Rencana Kerja Pembangunan Planologi Kehutanan tahun 2012.
Acara pembukaan Mukon dilaksanakan pada tanggal 13 April 2011 oleh Ir. Bambang Soepijanto, MM., Direktur Jenderal Planologi Kehutanan, yang dihaditi peserta berjumlah ± 120 orang, terdiri dari Pejabat Esselon II, III, dan IV lingkup Ditjen Planologi Kehutanan, serta Kepala BPKH Wilayah I - XVII dan beberapa pejabat IV lingkup BPKH tersebut.
Penyelenggaraan mukon ini, pada dasarnya menindaklanjuti beberapa peraturan
perundangan terkait, khususnya: 1). PP No. 21 tahun 2004 tentang Penyusunan Rencana Kerja dan Anggaran Kementrian Negara/Lembaga, 2). Permenhut No. P.01/Menhut-II/2006 tentang Mekanisme Penyusunan Rencana Kerja dan Anggaran Departemen Kehutanan; dan 3). Keputusan Dirjen Planologi Kehutanan No. SK9/VII-SET/2011 Tentang Pembentukan Panitia Penyelenggara Pertemuan Konsultasi Direktorat Jenderal Planologi Kehutanan Tahun 2011. Dalam acara Mukon diadakan Warung Konsultasi oleh masing-masing Direktorat untuk membahas kegiatan masing-masing UPT lingkup Ditjen Planologi Kehutanan.
Melalui Mukon diharapkan dapat terjalin komunikasi dan diskusi yang intensif dalam rangka pelaksanaan tugas-tugas serta sinkronisasi dan sinergitas kegiatan pembangunan bidang planologi kehutanan sesuai tupoksi masing-masing.
Di penghujung acara pada tanggal 15 April 2011 Dr. Ir. Sylvana Ratna, M.Si membacakan Rumusan Mukon Ditjen Planologi Kehutanan, kemudian penutupan dilaksanakan oleh DR. Ir. Dwi Sudharto, M.Si., Sekretaris Direktorat Jenderal Planologi Kehutanan.
*) Bagian Program dan Evaluasi
33
RUMUSAN
PERTEMUAN KONSULTASI DITJEN PLANOLOGI KEHUTANAN TAHUN 2011
Denpasar, 13 s/d 15 April 2011 Memperhatikan arahan Dirjen Planologi
Kehutanan, paparan dari Direktur Kehutanan dan Konservasi Sumber Daya Air Bappenas, paparan Kepala Biro Perencanaan Setjen Kementerian Kehutanan, paparan wakil Ditjen Perbendaharaan Negara, sidang komisi regional I s/d V, tanggapan masing-masing Eselon II lingkup Ditjen Planologi Kehutanan, dapat dirumuskan sebagai berikut: A. KESEKRETARIATAN
1. Kaderisasi tenaga pengelola DIPA di Pusat dan BPKH melalui pelatihan.
2. Penyelenggaraan diklat pengadaan barang dan jasa untuk tenaga di Pusat dan BPKH.
3. Penyelenggaraan diklat tenaga inventarisasi hutan dan penafsiran citra penginderaan jauh.
4. Penggantian peralatan perpetaan yang rusak dilakukan sepanjang anggaran tersedia.
5. Sambil menunggu payung hukum pelimpahan sarpras KPH kepada pengelola untuk sementara menjadi Aset BPKH dan masuk Simak BMN BPKH.
6. Pola karir pejabat dan staf lingkup Ditjen planologi dengan melakukan rotasi/ mutasi maksimal 5 tahun.
7. Percepatan pencairan tanda bintang dengan melengkapi persyaratan yang diminta DJA.
8. Perbaikan Standar biaya dan kegiatan untuk TSP/PSP, tata batas dan NSDH sesuai dengan jarak, tingkat kesulitan lokasi dan perkembangan teknologi dan waktu penyelesaiannya kurang dari 30 hari. 9. Koordinasi dengan Itjen terkait dengan
audit kinerja.
10. Setiap eselon II dan BPKH harus menyusun Renstra.
B. PERENCANAAN KAWASAN HUTAN
1. Perencanaan kehutanan dilakukan berbasis spasial.
2. BPKH agar mengambil peran aktif dalam penyusunan RKTP.
3. BPKH agar lebih berperan dalam proses review tata ruang denbgan menjadi
anggota BKPRD. Pusat akan membuat surat ke Gubernur dan Bupati/ Walikota. 4. Percepatan penyelesaian review tata ruang
akan mempengaruhi penyelesaian target tata batas dan pembangunan KPH.
5. Review tata ruang kabupaten tetap mengacu pada tata ruang provinsi.
C. PENGUKUHAN DAN PENATAGUNAAN KAWASAN HUTAN
1. Komunikasi yang lebih intens dari BPKH untuk memberikan pemahaman tugas dan kewenangan PTB kepada para bupati/ walikota.
2. Pengembangan metode tata batas dan pelibatan pihak ke 3 dan penyelesaian klaim hak-hak pihak ke 3 akan diatur dalam revisi SK menhut 32/2001 yang akan diselesaikan paling lambat Juni 2011.
3. Untuk mengatasi kebutuhan jumlah dan kompetensi SDM dalam pelaksanaan tata batas dilakukan dengan mobilisasi juru ukur (melalui) dari BPKH yang sudah selesai tata batasnya, penyelenggaraan diklat dan sertifikasi juru ukur.
4. Untuk sementara target tata batas masih ditetapkan sepanjang 63.000 km sampai dengan tahun 2014.
5. BPKH menyiapkan lokasi/ sasaran target tata batas tahun 2012 sepanjang 16.000 km paling lambat awal Juni 2011.
6. BPKH mencermati lagi rekalkulasi, untuk meningkatkan akurasi data target tata batas.
D. BIDANG WILAYAH PENGELOLAAN DAN PENYIAPAN AREAL PEMANFAATAN
1. Peningkatan pemahaman mengenai KPH yang meliputi 3 aspek yaitu wilayah, kelembagaan dan perencanaan pengelolaan serta sosialisasinya.
2. Kriteria KPH yang sudah beroperasi sekurang-kurangnya telah memiliki wilayah, kelembagaan (Sarpras, SDM, Dana) dan rencana pengelolaan.
3. Peran BPKH dalam pembangunan KPH disesuaikan dengan tupoksi dan anggaran yang tersedia.
BPKH mengidentifikasi isu utama untuk percepatan pembangunan KPH di regionnya mengingat setiap region. 4. mempunyai kekhasan tersendiri dan
melaporkan ke Dirjen Planologi Kehutanan. E. PENGGUNAAN KAWASAN HUTAN
1. BPKH memberikan analisa fungsi kawasan hutan dalam rangka pemberian rekomendasi Gubernur untuk proses penerbitan izin penggunaan kawasan (Permenhut 18/2011).
2. Direktorat Penggunaan Kawasan melakukan sosialisasi Permenhut 18/2011 ke BPKH dan daerah.
3. BPKH agar menganggarkan kegiatan verifikasi areal terganggu penggunaan kawasan sebanyak wajib bayar yang ada di wilayahnya.
4. Menyelesaikan masalah-masalah yang bersifat teknis dalam.
5. pelaksanaan supervisi tata batas IPPKH.
F. INVENTARISASI DAN PEMANTAUAN SDH 1. Standar kegiatan TSP/PSP akan dikaji
ulang terkait dengan perkembangan teknologi.
2. Pelaksanaan redesign TSP/PSP harus dilakukan secara nasional. Penambahan klaster dilakukan bukan hanya karena redesign saja akan tetapi berdasarkan periode lima tahunan inventarisasi hutan nasional.
3. Entri data untuk pengolahan data TSP/PSP dengan menggunakan piranti lunak sesuai pelatihan tahun 2011.
4. Piranti lunak pengolah data NSDH akan disempurnakan sebelum Juni 2011.
Demikian hasil rumusan Musyawarah Konsultasi Ditjen Planologi Kehutanan (Mukon) tahun 2011.