• Tidak ada hasil yang ditemukan

DIRUT PT KRAKATAU STEEL (PERSERO) : Bagaimana Pak?

Dalam dokumen DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA (Halaman 73-78)

F-PAN (H. NASRIL BAHAR, S.E.):

Bea masuk anti dumping ya.

DIRUT PT KRAKATAU STEEL (PERSERO):

Ini jalan, yang nanganin KADI Pak.

F-PAN (H. NASRIL BAHAR, S.E.):

KADI.

DIRUT PT KRAKATAU STEEL (PERSERO):

Ini kita hubungan terus tapi ya memang kita harus telaten Pak untuk menjaga supaya kita dilindungi.

KETUA RAPAT:

Kita kembali ke laptop dulu deh.

F-PD (DR. Ir. H.E. HERMAN KHAERON, M.Si.):

Saya kira usulan ini kan bagus di mendalami KS ini, kita on spot aja ke sana nanti, jadwalkan.

KETUA RAPAT:

Nanti kapan kita on spot ke situ, nanti biar kita tahu pabriknya, apa itu alloy, apa, yang kita tahu alloy, alay.

F-PDIP (dr. H. MUFTI A. N. ANAM):

Yang saya tahu itu kan kunspek ada ke Banten, saya usul ke Krakatau Steel aja Pimpinan.

ANGGOTA:

Pimpinan ini perlu kita dalami memang, kita perlu ada waktu khusus untuk bisa diskusi sama beliau Pimpinan.

F-PDIP (dr. H. MUFTI A. N. ANAM):

Kita enggak sepakat sebenarnya industri hilir sama dia, katanya apa namanya dalam rangka men, apa namanya menjaga industri hilir begitu.

Tapi dalam kenyataanya sebenarnya industri hilir ini juga dengan adanya panjenengan mereka terugikan juga, mereka ambil barang di panjengan juga nggak murahan kan. Nah, jadi kami pengen tahu sebenarnya sisi hilir mana sih yang panjenengan jaga ini gitu, kita pingin tanya itu.

KETUA RAPAT:

Nanti kita dalami lagi, nanti berikutnya kita dalami, saya juga ingin tahu, karena yang saya tahu alloy itu, sekarang Deputi sekarang Wadir itu HK.

F-PG (NUSRON WAHID):

Pak, Pak sebentar Pak, makanya inikan relevan dengan pertanyaan saya tadi. Sebetulnya total kebutuhan baja nasional itu berapa, terus KS tuh produksi nasionalnya berapa, KS ada di posisi berapa, terus kebutuhan impornya itu berapa. Kalau memang itu relevan ya kita desak pemerintah untuk melarang impor supaya kembali kaya dulu, kalau toh nggak melarang impor, ya dibuat kuota iya kan supaya enggak menganggu industri nasional, ini memang sudah dalam posisi gawat, bayangkan galvalum yang perkara kecil aja, steel peletnya dari Vietnam, bukan dari Krakatau Steel atau dari yang lain, galvalum yang tempat bangun rumah RSS, rumah sangat strategis dekat rumah, dekat anu, deket kamar sama deket mandi.

KETUA RAPAT:

Oh iya saya setuju sangat strategis rumah itu, karena semuanya dekat kamar mandi sama itu dekat.

F-PG (NUSRON WAHID):

Kamar tamu dekat itu kan.

KETUA RAPAT:

Oke, nanti yah kita dalami ini ya, kita dalami dan kita.

F-PDIP (DARMADI DURIANTO):

Vietnam memang bagus .

KETUA RAPAT:

Okay ya, sudah cukup komentarnya, jadi selesai dulu komentar, ini

ini enggak selesai-selesai kita nih. Ini masih ada 1, 2, 3, ini ya.

F-PD (DR. Ir. H.E. HERMAN KHAERON, M.Si.):

Keputusannya dulu. Keputusannya kita kunjungan.

KETUA RAPAT:

Ya kita kunjungan yah, Pendalaman kita kunjungan ke sana ya, biar tahu alloy.

Ya silakan Pak Ghani.

DIRUT PT PERKEBUNAN NUSANTARA III (PERSERO):

Baik.

Terima kasih, Bapak Pimpinan.

Bapak Ibu sekalian,

Jadi, tadi saya akan rangkum aja ya Pak ya, mungkin nanti kalau enggak pas tolong ditanyain lagi. Jadi, gini Bapak Ibu sekalian, jadi kami telah menyusun program sampai 10 tahun ke depan dalam kaitan transformasi holistik, saya anggap, saya sampaikan transformasi kami holistik, tadi disampaikan oleh Pak Prof Darmadi. Kita mengindentifikasi banyak masalah, tapi secara pokok ada dua hal pertama, kinerja operasional, yang kedua adalah masalah beban finansial. Untuk beban finansial itu ada yang sustain loan, ada yang unsustain loan.

Untuk unsustain loan untuk ter 17 triliun, kita akan tutup dengan divestasi aset dan apa namanya kerjasama aset Pak, misalkan kita ada berapa proyek-proyek terkait pembangunan kawasan industri, kawasan lengkap, dan sebagainya. Di Sumatera Utara ada 8 ribu, kemudian di Jawa Barat nanti di Walini, kemudian kawasan industri Subang, di Batam, kemudian di Sulawesi Utara, kemudian ada di Nusa Tenggara Timur dan sebagainya. Itu kemudian aset-aset yang kami jual itu Bapak Ibu sekalian, divestasi, bukan aset-aset yang terkait kebun Pak, tapi aset-aset di tengah kota. Seperti contoh di Jakarta itu banyak kali kantor-kantor perwakilan yang menurut saya itu terlalu boros, Pak.

Nah, itu kita yang seperti itu ada kantor seperti Gedung Gula itu untuk apa kita Gedung Gula, peruntukannya juga nggak nggak nggak mendukung proses bisnisnya, itu sebagai contoh.

Jadi penjualan dan penjualan didedikasikan, namun untuk menutup hutang yang unsustain Pak.

F-PDIP (dr. H. MUFTI A. N. ANAM):

Tapi jangan dijual Pak ya, nanti dijual juga aset strategis itu, Gedung Gula ya, enggak ya.

DIRUT PT PERKEBUNAN NUSANTARA III (PERSERO):

Enggak, oh enggak enggak. Terus saya sampaikan Pak tadi. Jadi persoalan terkait dengan kinerja operasional. Saya, saya ingin sampaikan pada Bapak parameter-parameterannya. COGS kami Pak, itu 70% Pak.

COGS itu beban biaya produksi terhadap dibandingkan sales tuh sudah 70%, padahal best practice di situ di bawah 60. Kemudian kalau kita SJNE-nya kita itu di atas 15, best practice 6%, persoalanSJNE-nya di mana kan gitu Pak.

Persoalan pertama, itu kinerja operasional yang berefek kepada kinerja keuangan. Persoalnya adalah tadi, dari mulai struktur, strukturnya gemuk Pak, land to man ratio kita untuk kelapa sawit itu masih sekitar 6, 7, padahal best practice sudah 10, 11. Nah, itu kan kita selesaikan cuma kita tidak mau bergaduh-gaduh dengan BAK, karena tidak sesuai dengan apa namanya, tugas, apa namanya, pemerintah ya, BUMN. Jadi, kita kebetulan dalam 5 tahun ke depan akan terjadi pension secara alamiah 25%, 25% itu sekitar 25 ribu karyawan kami akan pensiun.

Jadi, itu akan kita sesuaikan mengurangi beban selama 5 tahun ke depan, seperempat karyawan kita pensiun. Jadi kita lakukan streamline-nisasi SDM. Lalu orgastreamline-nisasi juga tadi saya bilang sampaikan ke Bapak culture. Maka kami sampai masalah bagaimana menyusun SDM kemarin-kemarin seperti, kenapa di di anak perusahaan itu hanya satu direktur, karena memang fungsinya diperkecil Pak, jadi fungsi-fungsi ter (suara tidak jelas) dulu pemasaran diambil alih, ee pemasaran dikerjakan oleh anak perusahaan Pak, sekarang pemasaran kami tarik Pak, pendanaan dulu di masing-masing, masing-masing anak perusahaan punya pinjaman ke bank, banknya sampai 33 Pak ya, dengan jumlah krediturnya sampai disparitasnya luar biasa Pak, PTPN II cuma 14 ton, PTPN IV 20 ton, PTPN III hampir 26 ton. Artinya apa? Ketika kekuatan kita mengontrol enggak ada diapa namanya di-holding. Kami sekarang nih Pak baik dalam pemilihan direktur, maupun SEVP itu, Pak Menteri menyerahkan 100% ke kita. Kemudian kita sudah menyusun charter interaction bahwa tugas pokok, fungsinya itu, sudah sudah berbeda, garis komandonya jelas, maka saya pastikan kita bisa men-deliver apa nama program kebijakan kepada anak perusahaan, kita grib-nya kuat Pak.

Lha terkait dengan masalah SDM di samping masalah jumlahnya juga culture, betul Bapak yang Pak Nusron sampaikan. Makanya terkait dengan culture itu, itu yang kita perbaiki duluan Pak, maka tadi

disampaikan oleh Pak Nasril Bahar kita juga sampai beberapa orang pakar-pakar senior yang dulu pernah, orang bereputasi baik, kita minta sebagai komisaris mendukung agar proses transformasi kultural itu bisa terlaksana. Kemudian kita juga di dalam pengawasan KPI Pak, kita melibatkan juga dari PWC Pak, jadi kita dukungan PWC, kita minta dukungan mereka kita terapkan inspektur-inspektur yang bukan diambil dari dalam, dari luar, supaya ada transfer of value, transfer of knowledge gitu Pak. Jadi tuh bagian daripada apa namanya memperbaiki culture. Jadi saya Pak Nusron, saya justru sangat optimis ini bisa bisa bisa.

INTERUPSI F-PD (DR. Ir. H.E. HERMAN KHAERON, M.Si.):

Saya interupsi dulu Pak mungkin tidak semata-mata culture Pak ya, karena karena di PTPN itu seperti kerajaan.

DIRUT PT PERKEBUNAN NUSANTARA III (PERSERO):

Dulu Pak ya, sekarang tidak.

F-PD (DR. Ir. H.E. HERMAN KHAERON, M.Si.):

Seperti kerajaan, sekarang tuh sekarang gitu ya, sebelumnya kan seperti kerajaan. Kedua, lambannya peremajaan, yang ketiga, semuanya dilakukan dengan cara-cara maling, gitu ya. Pinggir-pinggirnya saja, tengahnya kosong, yang tidak terlewati dikosongin, investasinya full untuk semuanya gitu loh, itu-itu disebutkan aja, memang begitu.

DIRUT PT PERKEBUNAN NUSANTARA III (PERSERO):

Jadi gitu begitu betul Pak Khaeron.

F-PDIP (DARMADI DURIANTO):

Sedikit Pak tadi pertanyaan saya itu sebetulnya ada ada juga kenapa diputuskan satu, sudah dihitung belum.

DIRUT PT PERKEBUNAN NUSANTARA III (PERSERO):

Sudah Pak.

F-PDIP (DARMADI DURIANTO):

Inikan cost benefit, inikan ada cost pembiaran yang tidak terurus Pak, karena dulunya berapa jadi satu gitu kan. Nah, ini menjadi masalah nggak di kemudian hari nanti malah mau efisien malah inefisien.

DIRUT PT PERKEBUNAN NUSANTARA III (PERSERO) :

Dalam dokumen DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA (Halaman 73-78)

Dokumen terkait