• Tidak ada hasil yang ditemukan

DIRUT PT PERKEBUNAN NUSANTARA III (PERSERO):

Dalam dokumen DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA (Halaman 24-37)

Ya nanti kami jelaskan yang mengenai direkturnya, komisaris ada satu, dua orang dikurangi Pak, dari 40 menjadi 32 kalau enggak salah.

F-PDIP (DARMADI DURIANTO):

Jadi satu PTPN ada yang lebih dari satu?

DIRUT PT PERKEBUNAN NUSANTARA III (PERSERO):

Komisaris minimal dua, ada yang dua, ada yang tiga.

F-PDIP (DARMADI DURIANTO):

Nah, itu kan aneh juga, dua komisaris ngawasin satu direksi Pak kan.

Kalau mau sekalian dikurangin aja tinggal satu-satu kan mestinya kan, katanya mau efisiensi. Seingat saya Pak, dulu Pak pernah mau re-grouping berdasarkan wilayah Pak, hanya tinggal 6 PTPN, Sumatera dua, Jawa Barat satu, Jawa Tengah satu, Kalimantan Sulawesi digabung, sama Jawa Timur satu. Nah, kalau pemikirannya inefisiensi tuh, berapa banyak bisa dipangkas kan. Nah, Bapak jelaskan pada kami apakah itu masih berlanjut atau tidak, nanti bahwa nanti ada re-grouping jadi 6 PTPN aja dari 14. Karena secara wilayah katanya mempermudah koordinasi, kalau dianalisis gitu, nah nanti Bapak jelaskan, apa arahnya nanti ke sana Pak. Jadi itu yang ingin saya tanya. Nah, PTPN III masih berbisnis enggak?

DIRUT PT PERKEBUNAN NUSANTARA III (PERSERO):

PTPN III sendiri Pak sekarang justru meningkat menjadi operating holding Pak, maka fungsi-fungsi di anak perusahaan kita perkecil, nanti saya jelaskan ya Pak, sekalian Pak.

F-PDIP (DARMADI DURIANTO):

Karena konsepnya dulu seinget saya bahwa kalau dia tidak punya bisnis, berarti dia PTPN III sebagai holding itu strategic holding Pak. Kalau dulu dia punya bisnis itu dia operating holding gitu lho. Nah, ini diperjelas saja ke arah mana nanti mau bergeraknya begitu, tapi intinya adalah sebetulnya dengan melakukan restrukturisasi itu tujuannya apa sih ya, yang saya khawatir ini satu direksi, ngurus begitu gede, biaya nggak, nanti ada yang nggak keurus, cost-nya jauh besar enggak nanti. Nah, ini mohon nanti perhatian daripada PTPN III.

Yang ketiga adalah soal Perumnas. Sebenarnya saya agak bingung tadi Pak, istilah Bapak itu, itu dijadikan, dijadikan equity, ataukah bagaimana pinjaman itu, kalau equity ya PMN Pak, karena dia langsung nambah di-ekuitas, kalau pinjaman yang dimasuk peminjaman gitu. Nah itu pertanyaan semuanya, kenapa bayarnya di ujung semua ya, kenapa enggak di-installment saja, semua di tahun ketujuh, delapan, sembilan gitu loh, FGD.

Jadi kenapa tuh semuanya didorong ke belakang gitu, seolah enggak ada tanggung jawab di depan, begitu Bapak selesaikan bukan tanggung jawab Bapak, Bapak udah diganti, yang ngurusin, yang bayar ini di direksi yang 7 tahun, yang mungkin yang mungkin kita sudah nggak di DPR gitu loh, Menteri BUMN gitu loh jangan dibunyiin Dre, habis kita nanti. Jadi, ini yang aneh gitukan.

Nah, yang kedua tadi corp perpetual notes Pak, Pak itu kan konsepnya bunga rendah, kaya gitu bunga rendah dan profit sharing Pak, biasanya. Nah ini maksudnya Bapak ini gimana gitu lho, malah tadi dibilang jadi equitas, tambah bingung juga kita nih Pak. Tadi konsepnya sudah PMN bukan lagi pinjaman Pak gitu. Nah, ini mohon dijelaskan kepada kami, supaya kami tahu seperti apa. Terus tadi 380 yang aktif, ya betul ya, tadi apa. Nah, 81 satu yang aktif, terus yang nggak aktif di mal proyek kami ini ya, apa yang terjadi dengan yang dari 300 itu. Nah, mohon dijelaskan kepada kami.

Saya pikir itu, Pak, terima kasih, Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Merdeka!

KETUA RAPAT:

Saya lihat pas 11 menit tadi, jadi tadi jadi saya coba hitung-hitung Pak, jadi saya mencoba ini apa, tadi pakai stopwatch untuk melihat berapa lama kawan-kawan ini bertanya, melanggar undang-undang nggak, Undang-Undang MKD nggak, saya pingin tahu saja.

Silakan Pak Andre.

Karena kalau habis Pak Deddy terus (suara tidak jelas) nanti jadinya Rapat Fraksi ya.

F-P.GERINDRA (ANDRE ROSIADE):

Mufti dulu

KETUA RAPAT:

Pak Andre, Pak Andre. kalau enggak PDI Perjuangan semua.

F-P.GERINDRA (ANDRE ROSIADE):

Siap, siap Pimpinan, kalau enggak PDI Perjuangan semua, pertama, saya enggak mau panjang-panjang mudah-mudahan 3 menit kelar.

Pertama, Pak, soal PTPN III dulu, saya baca tadi, uang Bapak yang 4 triliun itu kan dipakai banyak hal nantikan, ada perbaikan aset biologis atau replanting 413 milliar, ada perbaikan atau pemupukan 965 miliar. Lalu banyaklah, mau perbaikan sarana infrastruktur 652 miliar, lalu pembelian TBS dan lain-lain totalnya kan 4 triliun lebih Pak. Saya mau tanya saja, mengingatkan Bapak, dulu waktu rapat beberapa minggu yang lalu di sini, bahwa ada oknum yang namanya Suwanto Salim ya kalau enggak salah, itu yang bermain proyek di tempat Bapak. Nah, harapan saya, di tempat beliau, Suwanto Salim, beliau tahu kok, beliau sudah dicek di lapangan, jadi beliau sudah cek saya yakin, Pak Dirut juga sudah mendengarkan isu itu setelah masuk di PTPN III. Harapan saya uang yang akan turun 4 triliun ini jangan sampai dipakai aneh-aneh oleh yang bersangkutan Pak, itu yang pertama.

Yang kedua adalah ya, saya ingin Bapak pastikan penggunaannya ini betul-betul sesuai peruntukan. Yang ketiga tentu perhatikan kepentingan rakyat kecil, para petani plasma kelapa sawit. Nah, ini Pak, jangan sampai harga pembelian TBS oleh PTPN ditekan, sehingga mereka tidak bisa memperoleh manfaat dan kehadiran PTPN, ini penting Pak. Karena banyak anak buah Bapak suka nakal di lapangan, duit sudah ada, anggaran sudah ada, nekan-nekan petani supaya belinya TBS dengan harga murah. Nah, ini juga penting Pak, saat ini sedang musim giling tebu di Jawa.

Nah, harapannya tentu dengan adanya pinjaman PTPN ini, PTPN bisa membeli, memberikan harga beli tebu yang menguntungkan petani, tadi Bapak sudah bilang akan ada 1.000 lebih tinggi harga dari tahun sebelumnya.

Nah, mudah-mudahan itu bisa terealisasi Pak, karena terus terang di Jawa ini kan mereka sudah rela sawahnya ditanam tebu untuk membantu ketahanan gula nasional, namun nasib mereka masih memprihatinkan. Nah, saya harapkan uang 4 triliun itu juga dipakai untuk itu. Yang terakhir untuk PTPN, harus bisa berpihak kepada mitra UMKM, bantu mereka menjadi pengusaha yang bersaing, jangan hanya mengutamakan rekanan-rekanan besar saja.

Jadi, uang itu benar-benar menetes, mengalir, dan bermanfaat, dan saya yakin Pak Dirut mampu dan bisa melakukan itu, itu untuk untuk PTPN.

Untuk Krakatau Steel. Nah, Krakatau Steel tuh kalau kita baca proposalnya, ini kan tulisannya, ini halaman kedua itu, kebutuhan pinjaman dan garis miring atau PMN. Sebenarnya, saya melihat pinjaman ini kurang tepat bagi Krakatau Steel, KS kan baru direstrukturisasi ya, hampir 40 triliun ya restrukturisasi terbesar dalam sejarah Republik Indonesia. Nah, Pimpinan

kita tanya saja sama KS, KS ini sebenarnya pengen dapat pinjaman atau dapat PMN, karena apa? Karena mereka baru selesai melakukan restrukturisasi, apalagi proposalnya saya lihat ada garis miringnya ya.

Nah, kedua, ini penting juga ini, yang perlu kita jadikan catatan, jangan rencana penyelamatan yang ditujukan kepada industri hilir baja dan industri pengguna baja melalui Krakatau Steel, tapi yang menikmati lebih besar itu adalah lembaga seperti LPI itu, karena kan uangnya dari pemerintah dialirkan ke SNI, LPI apalagi tuh. Nah, kenapa uangnya enggak langsung saja, dari Pemerintah langsung ke Krakatau Steel. Nah, ini pertanyaan saya ya, apalagi kita tahu seperti LPI ini, Prof lebih tahu, MPL-nya per Maret sudah tinggi Prof, 25,84%, nah itulah. Jadi ini jadi catatan Pimpinan untuk KS ini, kita tanya apakah lebih baik PMN karena mereka baru melakukan restrukturisasi besar-besaran, ya ini mungkin jadi catatan nanti di kesimpulan ya.

Lalu Perumnas Pak. Satu menit, satu menit, ini menit ketiga, Perumnas.

KETUA RAPAT:

Nggak, ini sudah 5 menit, 5 menit 30 detik.

F-P.GERINDRA (ANDRE ROSIADE):

Oh 5 menit, kalau gitu itu terakhir sebentar Pimpinan, Perumnas pendek aja.

Saya ingin tahu soal Perumnas itu Pak singkat saja, koordinasi dan sinergi Perumnas dengan program kapora, tabungan perumahan rakyat yang baru itu seperti apa Pak, ya Pak, itu yang paling penting. Lalu tadi Bapak, saya ingatkan lagi Pak, harapan kami Bapak kembali fokus kepada tugas dan fungsi Perumnas sejak awal didirikan Pak, tidak usah pindah bisnis-bisnis lain lain itu, akibatnya itu menyebabkan Bapak punya hutang banyak ya, perusahaan tidak sehat, karena Bapak tidak fokus di bisnis yang yang mengurus masyarakat berpenghasilan rendah. Nah, tolong manajemen baru ini saya minta benar-benar fokus urus MBR saja, enggak usah ke mana-mana Pak gitulah.

Apalagi kan Bapak dapat dukungan penuh dari Menteri PUPR sampai Kepala Dewan Pengawas Bapak kan tangan kanan Menteri PUPR betul lho, harapan saya manfaatkan itu Pak, jangan sampai Perumnas lari ke mana-mana itu loh, pasti dukungan Kementerian PUPR itu ada di depan Bapak ya, Bapak dapat keuntungan banyaklah, punya Ketua Dewan Pengawas yang saya dengar namanya itu.

Mungkin itu saja, terima kasih Pimpinan.

Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

KETUA RAPAT:

Pak Mukhtarudin, karena di sini banyak, jadi kiri satu, dua sana gitu Pak.

F-PG (Drs. MUKHTARUDIN):

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Pimpinan dan Anggota Komisi IV.

Para Direktur Utama yang hadir pada kesempatan hari ini.

Saya satu saja yang ingin saya tanyakan terkait dengan PTPN saja Pak, yang lain-lain saya kira teman-teman lain sudah mendalami. Saya satu saja.

Pertama, PTPN ini kan konsepnya yang diajukan adalah talangan Pak ya, pinjaman. Artinya ini harus dikembalikan dengan skema yang disampaikan tadi. Saya pengen nanya aja keyakinan Pak Dirut, apakah ini dengan talangan ini tidak menjadi beban ya, atau dengan skema yang ada itu memungkinkan lancar untuk pengembalian, karena ini kan namanya pinjaman ya harus dibalikin beda sama PMN. Jadi minta keyakinan saja pada Dirut, tapi bukan soal keyakinan saya tapi secara hitung-hitungan bisnislah, hitungan bisnisnya tolong disampaikan kepada kita, agar kami yakin betul apa yang diajukan Pak Dirut ini, kita bisa yakin gitu ya, tolong yakinkan kami.

Yang kedua, PTPN ini kan dulu-dulu kan engak pernah selesai-selesai masalahnya Pak, dari udah lama banget, aset banyak, tetapi semuanya mayoritas merah, kan gitu ya anunya, portofolinya ini. Kira-kira apa sih Pak penyebabnya ini, apa Pak? Dan kira-kira apa langkah Bapak ke jajaran direksi untuk membalik fakta ini, membalik kenyataan ini, menjadi PTPN menjadi perusahaan yang positif, seperti yang disampaikan tadi bahwa ini bisa menjadi bisnisnya semakin bagus, kemudian berkontribusi terhadap PEN ya, pemulihan ekonomi nasional, seperti yang ada satu, dua, tiga itu, dengan dengan dengan adanya dana talangan yang diajukan ini. Dua soal itu saja Pak, mohon dijelaskan.

Terima kasih, Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

KETUA RAPAT:

Selanjutanya Pak Nasril Bahar.

F-PAN (H. NASRIL BAHAR, S.E.):

Ya, terima kasih Pimpinan.

Pimpinan, Anggota Komisi yang kami hormati dan kami banggakan.

Para jajaran Dirut dan Direksi BUMN yang hadir di ruangan Komisi VI.

Untuk perumahan saya minta dipresentasi kembali Pak ya, karena saya melihat Bapak ini kan Perum ya, bukan Persero, lebih banyak lebih banyak Bapak diberikan penugasan oleh negara. Saya khawatir kemampuan bayar Bapak rendah, kompetitif daripada perumahan sangat luar biasa, saya, sebaik apapun presentasi Bapak, tak mampu meyakinkan saya. Justru karena itu kemampuan dana talangan ini memang apa yang dikatakan oleh

teman-teman terdahulu, Bapak sudah keburu pensiun baru pembayaran. Nah, ini mumpung Perum yang dimiliki 100%, masih saham RI ya.

Saya minta dipresentasikan ulang skenario PMN dengan skenario dana talangan, yang mana yang lebih menguntungan. Keberpihakan ini kan tentu keberpihakan negara, negara untuk rakyat, kan gitu. Perumnas memang harus bangkit, ya kan gitu, salah satunya instrumen, apakah nanti pada akhirnya akan dijadikan holding, holding properti dari BUMN itu lain soal.

Dulu kan kita mendengar bahwa Perumnas akan menjadi holding properti dari BUMN. Nah, ini yang kami melihat tidak punya skenario besar untuk itu, karena ini penugasan negara, itu satu hal, tolong presentasi.

Yang kedua, untuk Krakatau Steel ya. Saya pikir Krakatau Steel kami memberikan apresiasi terhadap apa yang anda lakukan untuk restrukturisasi.

Tapi tolong yakinkan kami dan kami akan pantau tiga tahun, sukses restrukturisasi ini tentu akan kita lihat setelah 3 tahun. Q1 anda kemarin tuh sedikit ada untung tapi itu kan dari bahan baku yang pada tahun sebelum-sebelumnya. Nah, ini sesungguhnya kita, saya melihat selama perjalanan 10 tahun ini belum menggembirakan Krakatau Steel.

Saya berharap kalau memang di di,bawah kepemimpinan Anda ini, kita akan melihat ya. Dan yang kedua, perihal terhadap kontribusi kerugian di POSCO masih ada enggak untuk Krakatau Steel kan gitu. Yang kedua bagaimana report ya operasional di POSCO hari ini. Dan yang ketiga ya dengan sistem dana talangan ini tentunya ya, tentunya mau tidak mau harus dijalani ya ya, tapi kalau memang ada kegalauan ya tentu kami perlu diyakinkan, kalau Anda memberikan saham baru nanti ke depan, apakah melalui right issue dan sebagainya tentunya dengan pernyataan modal kembali oleh negara. Ini juga perlu juga kita minta presentasinya.

Dan untuk PTPN III Pak. Saya pikir saya memberi apresiasi terhadap apa yang terjadi perubahan restrukturisasi di jajaran komisaris. Kami melihat banyak pemain-pemain handal yang menempatkan orang-orang yang punya sejarah di republik ini ya, tentunya SDM ini apa yang disampaikan oleh Pak Darmadi tadi, sejauh mana pemanfaatan kemampuan mereka kembali. Ini kan seperti kekuatan baru ya orang-orang terdahulu, ini ini Bapak hidupkan, saya salut itu, sehingga ini benar-benar bisa menciptakan kinerja baru untuk PTPN. Namun, daripada itu ya, kami menginginkan ya, saya kalau untuk sawit ya so so lah Pak ya, so so lah, artinya ya persaingan lahan dan sebagainya cukup alot hari ini, tapi saya ingin menginginkan terhadap gula kristal putih Pak.

Nah, penempatan dana talangan ya, di gula kristal putih ini cukup ya, tapi tapi saya tidak melihat ada posisi ininya Pak, di sisi on farm-nya, Bapak di sini sisi off farm yang Bapak perbaiki kan gitu, pupuk dan sebagainya. Nah, saya mempunyai apa, mempunyai usul coba Bapak buat kajian khusus untuk off farm ya, ini ini kan kekuatan Bapak sesungguhnya, petani malas jual tebu ke Bapak, karena pabrik Bapak itu kan pabrik lama semua. Nah, ini off farm harus selesai dulu, bila perlu ke depan khusus off farm ini perlu IPO nggak ada masalah, asalkan jangan on farm, janganlah Anda IPO, tapi pabrik khusus di IPO melawan ini, melawan para swasta yang cukup canggih dan modern pabrik gula mereka, karena mereka tidak mampu, rendemen Bapak pasti rendah, rendah rendemen Bapak karena pabrik yang tidak mampu untuk

mengelola rendemen tinggi. Dan inilah sesungguhnya harapan Komisi VI sesungguhnya, bukan Komisi VI ini anti impor, tidak, tetapi ketika ada penempatan impor itu PTPN enggak dipandang.

Sesungguhnya, apa yang dikatakan oleh Nusron pada rapat yang terdahulu, bahwa kalau ada penempatan impor raw sugar itu seharusnya PTPN yang harus didahulukan, karena memandang ada mengayomi 75%

petani tebu. Nah, ini Bapak harus ini, Bapak harus menaikkan gairah daripada para para petani tersebut.

Dan yang terakhir Pak ya, ini kan ada dari beberapa bulan ini ada opsi talangan dan PMN, talangan dan PMN kan gitu. Saya melihat memang benar kemampuan bayar Bapak cukup tinggi, tapi itu kan hanya membayar membayar dengan menjual aset, tidak daripada akumulasi keuntungan. Ini kan PTPN ini ada sisi-sisi lebihnya di sini ada, sisi lebihnya adalah ya. Ini kan memang padat karya Pak, kelahiran BUMN filosofinya itu kan menempatkan para para pekerja yang sesungguhnya ini para transmigran dan sebagainya di zaman Soeharto dulu. Nah, ini mumpung masih 100% saham pemerintah ya, kenapa opsi talangan itu tidak ditempatkan opsi PMN, karena apa saya yakin kemampuan bayar Bapak tidak mampu kecuali menjual aset, makanya pada rapat terdahulu saya katakan, kenapa nggak di, kenapa PTPN III tidak meminta PMN saja, karena utang Bapak lebih kurang ya something 50 triliun.

Nah, ini sesungguhnya kerisauan kita, kemampuan bayar Bapak. Nah, ini pemikiran saya, usul-usul saya, semoga bisa menjadi bagian daripada pengambilan kesimpulan kita ke depan.

Terima kasih Pimpinan.

KETUA RAPAT:

Terima kasih cukup jelas padat.

Pak Kyai muda, Pak Mufti Anam.

F-PDIP (dr. H. MUFTI A. N. ANAM):

Assalamualaikum Warahmatullah Wabarakatuh.

Terima kasih Pimpinan atas kesempatan yang telah diberikan.

Yang pertama tentu kami mengapresiasi kerja luar biasa dari panjenengan semua bagaimana BUMN ini sampai hari ini masih tetap berdiri tegak di tengah pandemi yang memang tidak mudah untuk kita hadapi bersama begitu.

Yang pertama untuk PTPN III. Jadi, Pak yang terkait restrukturisasi utang ya kan, bagaimana semua grup PTPN ini kan utangnya puluhan triliun Pak begitu. Nah, ini bagaimana rapotnya ke depan penyelesaiannya Pak.

Karena kalau kami lihat Bapak dari utang saja yang tahun 2020 ini baru di tahun 2028, kami yang pertama tanyakan Pak, kenapa baru bisa bayar tahun 2028 Pak. Ini teman-teman di daerah yang lagi nyari utang itu pada cemburu nanti Pak ya. Jadi, kita pengen penjelasan dari panjenengan, kenapa baru bisa dibayar yang akan utangi baru tahun 2028 yang akan dibayar begitu.

KETUA RAPAT:

Pak Mufti nggak keliatan di TV, jadi tolong di Pak Nusron geser dikit, Pak Nusron geser dikit, biar kelihatan di TV Pak.

F-PDIP (dr. H. MUFTI A. N. ANAM):

Nah, terus kemudian, nggak penting Pak.

KETUA RAPAT:

Nggak, ini konstituennya dianu banyak yang nonton ini.

F-PDIP (dr. H. MUFTI A. N. ANAM):

Nah, kemudian terus yang 40 triliun itu kapan Pak rencana akan dibayar ya Pak ya, dan lain harapan kami sebagai pembelajaran yang 40 triliun Pak, mohon untuk dilakukan investigasi Pak agar ke depan bisa jadi pembelajaran untuk PTPN III karena ada beban utang 40 triliun juga nggak sedikit Pak. Perlu investigasi kalau perlu melibatkan BPK, kenapa sih kok bisa utang 40 triliun tapi tidak berdampak terhadap kinerja PTPN selama ini begitu.

Nah, kemudian yang kedua tentu tentang penjualan aset PTPN, Pak.

Ini yang PTPN itu pendapat kalau boleh jujur dan hanya dari disposal aset aja Pak. Jadi kan kami pengen tahu semua sudah dijual berapa dan ke depan ini, kemudian perlu jual berapa triliun aset lagi Pak untuk memenuhi utang-utangnya begitu, dan aset apa saja yang akan dijual ke depan Pak kami perlu tahu soal itu.

Kemudian yang ketiga, terkait soal aset juga ini, yaitu pelepasan saham begitu. Nah, saham-saham dari PTPN ini kami lihat sudah banyak yang dilepas, di rumah sakit misalnya Pak, Rumah Sakit PTPN X, XI, XII yang ini kalau kita boleh jujur pendapatan PTPN selama ini paling banyak kan di situ Pak ya, karena kalau mengandalkan industri gula, apa sawit, yang seperti Bapak sampaikan tadi belum bisa diandalkan untuk perbaikan terhadap keuangan PTPN ke depan. Nah, harapan kami hal-hal ini untuk dipikiran lagi Pak apa sih ke depan ini prioritas dari apa PTPN III ini Pak, begitu.

Kemudian yang keempat, terkait gula petani tadi Pak, terkait tebu petani harapan kami untuk bisa dibeli dengan layak Pak, ya kan. Ini kan bagian dari mensejahterakan petani. Kemudian, mungkin Bapak bisa juga nanti bekerja sama dengan Kementerian Perdagangan untuk bagaimana bisa mengimpor beberapa, untuk bisa disubsidi Pak, agar apa namanya petani tebu kita bisa apa terbeli dengan harga layak, seperti keberanian para swasta ketika membeli tebu petani begitu Pak, agar kesejahteraan bisa sampai kepada mereka begitu.

Kemudian terkait KS, ya kami mengapresiasi atas keuntungan 1 triliun tadi begitu, atas periode sebelumnya. Tapi kami pengen tahu ini apa betul untung atau jangan-jangan hanya diolah-olah saja begitu Pak. Kita pengen tahu penjelasan apa soal itu, jangan sampai seperti terjadi pada

perusahaan-perusahaan sebelumnya, Garuda misalnya, yang ternyata hanya diapa namanya, manipulasi semata begitu, kami perlu penjelasan masalah itu.

perusahaan-perusahaan sebelumnya, Garuda misalnya, yang ternyata hanya diapa namanya, manipulasi semata begitu, kami perlu penjelasan masalah itu.

Dalam dokumen DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA (Halaman 24-37)

Dokumen terkait