• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN

E. Diskriminasi 1. Diskriminasi Hukum

Dipaksa Memilih Agama yang diakui negara

I2: “KTP-KTP selanjutnya itu tahun 80, tahun 90an itu ada peraturan yang selain dari 5 agama waktu itu, itu ditulis muslim semua, maaf ini ya, jadi kami tidak bisa menuliskan lagi istilah kepercayaan, termasuk punya saya.”

237-245 I3: “Waktu itu ditekan-tekan oleh pemerintah waktu itu eranya masih orde

baru, untuk memilih salah satu dari lima agama yang diakui oleh negara.” 25-27 I3: “Ketika itu Muspika, ada camat, ada kapolsek, ada koramil, ada dari

depag selalu memberikan pengarahan agar waktu itu bilangnya orang-orang kejawen untuk memilih salah satu dari lima agama itu.”

31-35

Semua Anak Penghayat Harus Belajar Agama yang Diakui Negara

I2: “Ya kesulitan kalo kesulitan secara sosialisasi tidak, tapi untuk e untuk pelajaran memang iya, karna jaman saya dulu kan belum ada pendidikan kepercayaan, jadi saya waktu itu masih SD, SMP, mengikuti pendidikan agama Islam. Kemudian SMA dan Kuliah saya Kristen. Ya karna memang dari sekolah memang belum ada, dan memang peraturannya belum ada.”

214-221

I2: “Seperti kita di penghayat kita, di ASK ini ya juga loss generasi juga, orang tuanya iya tetep bertahan dengan keadaan apapun tapi usia yang sekarang udah lulus SMA, SMA, SMP itu tidak bisa, belum punya keberanian, karna dari SD sudah di lingkungannya sudah bukan kepercayaan, pendidikannya ya kan, dan seperti juga di sekolah misalnya kalo mengajukan suatu pendidikan kepercayaan itu ininya awal dari sekolah, misalnya kelas 1, gitu ya, 1 SD, 1 SMP, 1 SMA tapi kalo putus tengah jalan biasanya sulit.”

717-726

I3: “Nah kalau sudah setiap tahun gak pandang bulu itu anak agamanya penghayat harus menandatangani surat seperti itu, otomatis anak itu akan belajar agama. Apakah disitu negara memberikan kesempatan anak orang penghayat belajar penghayat?”

542-547

Kesulitan Mengurus Pernikahan (dan Kematian)

I1: “Lha ya itu tadi masalah perkawinan kan pernah dulu. Jadi perkawinan itu harus dari orang yang seagama. Padahal perkawinan itu janji antara sepasang suami istri di hadapan Tuhan. Nah bagi saya yang namanya janji ya janji gak perlu diurusin orang lain kan begitu. Ini emang menjadi apa ya… ya ada unsur politis lah. Ya mayoritas harus begini begitu, politik identitas ya karna mayoritas.”

344-351

I3: “Tetapi di kami di palang putih ini justru hmm kolom agamanya belum bisa diisi sesuai keinginan tetapi harus masih diisi dengan salah satu agama justru kami demonya dengan menjawab pertanyaan “nanti nek ora ono agama nikahe piye?””

81-86

I3: ““kalau mati gimana?” itu pertanyaan-pertanyaan yang dikira kami

tidak punya ajaran.” 89-91

Proses Panjang Perkembangan Pencatatan Sipil Penghayat.

I2: “Tapi, pendataan di komputernya tidak bisa. Nah itu, itu kendalanya.

Itu tentang administrasi kependudukan gitu. Nah ya terus sampe seperti itu, tapi sekitar tahun 2006, ketika ada peraturan, sudah ada ya peraturan dari Menteri Dalam Negeri, itu bisa tapi ditulisnya ya hanya kosong. Iya warga kami juga hanya kosong, terus e setelah apa namanya, ada MK, putusan MK baru ya prosesnya kita.”

237-245

Politik Identitas

I1: “Agama belum jelas sekarang definisinya, definisi itu sekarang yang membuat itu adalah pemerintah, penguasa. Lha penguasa itu membuat sesuai dengan yang diyakini dia kan begitu.”

308-312 I1: “Lha itu kan yang buat nganu penguasa, coba kalau penguasanya saya,

agama itu orang yang begini-begini bisa, tidak perlu ada kitab suci, tidak perlu ada nabi.”

320-323 I2: “Kemudian juga secara politis, kita masih istilahnya setara tapi bukan

sama, ya kan, gitu.” 347-348

I3: “Gak perlu ditanya, agama kalau di kami sudah kami suarakan jangan

kembangkan politik identitas tapi negara sendiri sudah kadung.” 547-577

Regenerasi Bermasalah karena Penguasa

I1: “jadi pendefinisian agama ini masih sepihak. Sejak dulu jamannya Pak

Harto, “dan tidak akan pernah menjadi agama”. Lha saya harus gimana.” 361-364 I1: “Lha ini menjadi… apa… pengahayat itu menjadi dalam

penggenerasian jadi bermasalah ya karna penguasa.” 338-340

Tidak Diakuinya Agama Budi sebagai Agama

I3: “memperjuangkan hak-hak keyakinan ini mulai dari Kementerian Dalam Negri tentang Adminduk, lalu Kementerian Agama. Dulu kalau agama leluhur kami itu agama budi jadi permintaannya yah tolong diakui

153-160

agama budi kalau ajaran leluhur itu bisa dianggap sebagai agama dan bisa ditulis dalam administrasi kependudukan itu.”

E.2. Diskriminasi Sosial Penghayat Dipertanyakan dan Dipersulit

I2: “kami mengeluh kalo dikosongkan ini nyari pekerjaan agak sulit ya.

Selalu bertanya kan, kepercayaan tu apa, kan nggak ada di sini, daripada nanti bikin ribut, mbok sudah ha itu. Lha, sekarang jadi gini lho, itu masalah administrasi tidak sesederhana itu ya, hanya sekedar menulis ini, tapi implikasi dan dampaknya itu yang lebih e lebih banyak dipikirkan mas, e pada warga.”

287-294

Lingkungan Tidak Mendukung Hak Penghayat

I2: “Kadang maaf lingkungan ada yang kurang simpatik ya kalo ini. Lha tiba-tiba ketika perpindahan suatu identitas, kan mempengaruhi juga. Itu nanti bagaimana itu nanti misalnya lho, kalo yang tidak suka, RT-nya di situ, wah ada wargaku ganti gitu kan. Kok ada wargamu yang pindah, nanti bagaimana.”

308-314

I2: “Ha itu itu jadi tanda tanya, akhirnya dia nggak pernah datang, gitu.” 417-418 I2: “Gitu, jadi masih ngumpet-ngumpet. Tapi padahal dulu situasinya dulu

terbuka sekali, tapi situasi sekarang, ya akhirnya ya terpaksa mengumpet, tidak mengatakan sebenarnya, karna di daerah itu, di kampung jadi sensitif, gitu. Kalo di kota sendiri lebih terbuka, kalo di daerah kampung-kampung itu biasanya memang ya gitulah.”

421-427

Penghayat Di PKI-kan & di Kafir-kan

I1: “Oh pernah dulu ada cerita yang begitu. “Oh ini orang PKI” tahun 65 an gitu. Ya ini banyak orang yang di stigma begitu, “oh ini tidak beragama”. Nah stigma ini yang bikin banyak pindah agama. Dulu banyak orang kepercayaan, sekarang di stigma begitu. Oh itu rugi besar itu. Mau membangkitkan sulit, mau dan tidak berani.”

393-400

I2: “Ya kebetulan, em begini, kan dulu ibu saya kan masih di Purworejo.

Ibu saya itu dulu pernah dipanggil tiba-tiba oleh Kejaksaan ya, Kejaksaan Negeri Purworejo, bu ini, kan ibu saya namanya Sumarni, semua tu sudah tahu dikiranya ibu saya maaf Gerwani, namanya ada tunjukin Sumarni, nah itu. Nah dipanggil Kejaksaan, dah pokoknya pikirannya orang sana tu sudah nggak karuan ya, terutama ibu saya mau di gini-gini, dianggap Gerwani.”

803-812

I3: “Jadi kalau saya intimidasinya lebih ke cap. Dicap PKI karena tidak

beragama, dicap kafir karena bukan muslim.” 277-279

Penghayat =Klenik

I2: “Ya jadi itu tadi muncul stigma itu kalo penghayat begini, kejawen

begini, klenik gitu ya.” 460-462

Penghayat Murni dan Non-murni

I2: “Tapi memang warga kami juga ada 2 paham tadi, 1 memang dia bener-bener penghayat murni, penghayat hanya menghayati lho maksud saya, bukan, saya menghindari kata murni dan tidak murni. Tetapi penghayat hanya menghayati, satunya memang dia memang beribadah. Dia juga apa namanya secara aktif ke gereja, ke masjid, nah itu otomatis kan jadi tidak bisa ya, tidak bisa mengganti, karna dia statusnya tetap beragama,”

491-500

I2: “Ya itu balik lagi sih mas, politik identitas itu tidak lepas dari diri sendiri ya, bagaimana dia mau mengaku dirinya sendiri. Itu juga jadi perdebatan di MLKI, dalam arti jangan mengaku penghayat kalo masih beragama. Ya karna dia dalam arti dia hanya agen, gitu kan hehe, karna yang lebih penting lagi identitasnya. Tapi ada juga ya itu tadi, yang menganggap penghayat hanya sebagai budaya saja.”

742-749

Direndahkan Karena Seorang Wanita

I2: “Ya itu perjuangan juga ya kan, diskriminasi Ibu saya di Purworejo banyak, karna Ibu saya wanita, termasuk yang itu tadi ya kan. Terus direndahkan karna wanita, maaf lho ini. Kenapa kok wong ada laki-laki, kenapa yang mimpin perempuan, Ibu saya ketua di Purworejo, ketua SKK, Sekretariat Kerja Sama, dulu belum ada ABK, belum ada lain-lain. Si ketua SKK, itu lah kenapa itu e di antara beberapa paguyuban memang ada pro-kontra juga.”

845-854

Penghayat Dikucilkan

I2: “Ya, tapi kan orang jaman sekarang, ya kan, terutama di daerah-daerah yang maaf yang masih e kuat, masih, masih kurang kondusif terhadap penghayat kan,”

390-393 I2: “Seperti kita pernah warga kami di daerah e Lendah, Kulonprogo, itu

juga begitu,” 394-396

I2: “Akhirnya dia nangis ke sini, dia merasa dikucilkan, nggak ada temennya yang kebetulan yang sudah sepuh-sepuh warga kami sudah meninggal, anaknya pada di Jakarta semua. Jadi dia tidak ada teman.”

397-401

Intimidasi karena Beda Golongan

I2: “Ya ada tempat tertentu yang saya bilang ada, lokasi-lokasi tertentu yang seperti saya katakan, warga saya direndahkan, kamu ke sana dapet apa, kalo ke sini kan dapet bantuan, dah politisasi ini, apa namanya ketuanya kan. Kalo nggak segolongan dia, nggak dapet bantuan, nggak dicatat dapet KLS misalnya begitu. Padahal dia sendirian di situ, nggak ada anak-anaknya, dah nggak di situ. Nah itu, termasuk diskriminasi ya kan, dan itu sulit ya kan, karna lingkungan ya.”

785-794

Cibiran, Intimidasi Kata-kata

I3: “Jadi seperti itu sekedar cibiran, intimidasi dari kata-kata.” 200-221

Dikeroyok karena Dikira Membantu PKI

I2: “Nah itu, itu waktu itu mau tahun 65 itu, bayi saya kan 65, 3 Oktober, ya pas habis peristiwa itu, itu itu masih rame waktu itu. Rumah saya kan di Kutoarjo, yang di depannya itu alun-alun. Alun-alun itu sampe ada di-gruduk ke situ, Untung sini, Untung rene. Maksudnya tu dikira Untung lari ke tempat bapak saya, bapak saya kan di situ termasuk bapak-bapak terpandang ya, lha itu. Untung marep rene, Untung rene. Lha bapak saya nggak tahu apa-apa ya, seperti itu. Karna kan dulu yang namanya Untung itu kan ya kan, di apa namanya, diburu ya. Kan nyamar-nyamar, itu dikita masuk ke rumah saya.”

818-831

Pemboikotan Pernikahan keJawen

I3: “Dan yang paling parah itu saya ingin menikahkan salah seorang tetangga saya di boikot. Jadi punya gawe yang bantu kan biasa lingkungan.

Dan karena nikahnya mau nikah kejawen, itu ada yang jadi provokator dan seluruh kampung itu mau boikot.”

410-415

Sanggar Dibakar, Kepala Dipedang

I3: “Tetapi teman-teman kami yang domisilinya di Jawa Tengah diskriminasinya lebih dahsyat, ada yang kami kan tempat semedinya namanya sangkar Pamelengan ada yang sangkar Pamelengan dibakar massa.”

221-225

I3: “Kecamatan Windusari Magelang itu sampe ke pembakaran sanggar sampe ke penganiyayaan secara fisik tapi untungnya temen saya ada yang di pedang gak mempan.”

229-233

Dikeroyok Oleh Kelompok Intoleran

I3: “Nek menurut temen-temen saya yang seperti itu, yang mengeroyok itu bukan orang situ. Karena ketika beliau berlarian ketika berhadap-hadapan itu mereka gak ada yang kenal.”

280-283