Nilai 5 Pendidikan Agama
D.3 Latar Belakang Sosial
Dalam memahami konteks kehidupan penghayat, maka peneliti juga mencari tahu mengenai latar belakang sosial. Dalam hal ini perilaku lingkungan dapat berdampak terhadap penghayat maka penting untuk melihat bagaimana latar belakang sosial sebagai konteks kehidupan penghayat.
D.3.1 Jogja yang Toleran
Lokasi tempat tinggal informan saat ini adalah kota Jogja.
Melalui hasil wawancara, peneliti menemukan bahwa informan meyakini kota Jogja sebagai lokasi yang toleran. Hal ini dapat terlihat dalam kutipan wawancara sebagai berikut:
“Ya ini menerima, buktinya saya jadikan RW. Sudah 3 periode ini berarti kan menerima.”
(I1 B:232-233)
“Ya mungkin saya hidup di sini itu semuanya sudah toleran ya. Kalau yang teman saya yang di tempat lain tidak toleran.
Karna di Jogja itu toleransinya tinggi.”
(I1 B:253-255)
“Justru kalau disini gak ada diskriminasi, yang ada diskriminasi justru di level bawah mas.”
(I3 B: 215-216)
“Kalau masyarakat sini cukup menerima kemudian lingkungan masyarakat yang saya punya KTP itu justru sekarang itu berbanding terbalik.”
(I3 B:331-333) Informan 1 menyatakan bahwa daerah lingkungan tempat beliau menetap mau menerima keberadaan dirinya sebagai penghayat. Hal ini ditunjukkan oleh diterimanya peran beliau sebagai RW selama 3 periode. Beliau juga menyatakan bahwa daerah Jogja memiliki toleransi yang tinggi, berbeda dengan lokasi lain yang tidak toleran terhadap keberadaan penghayat.
Informan 3 juga menyatakan bahwa ia diterima di lingkungan yang sekarang (Jogja), berbeda dengan lingkungan asalnya (Gunung Kidul, sesuai informasi KTP di Latar Belakang Diri) yang dahulu menolak keberadaan dirinya. Ia juga menambahkan bahwa diskriminasi terjadi di tingkat masyarakat bawah (perdesaan) yang kontras dengan Jogja (daerah perkotaan) yang cenderung toleran.
D.4. Kesulitan
Setelah memahami konteks kehidupan penghayat yang telah dijabarkan berdasarkan temuan data dari informan, maka perlu melihat kejadian apa sajakah yang menjadi kesulitan bagi para penghayat. Kesulitan dalam ini dapat beragam dari yang dapat ditangani, hingga mengancam kesehatan jiwa dan/atau fisik individu Peneliti kemudian menemukan kesulitan-kesulitan apa sajakah yang pernah/sedang dialami oleh penghayat.
Temuan kesulitan muncul dalam beberapa tema sebagai berikut.
D.4.1. Interaksi Komunitas Kala Pandemi COVID-19
Dampak dari pandemi COVID-19 adalah ruang temu yang terbatas dalam interaksi komunitas paguyuban. Kegiatan pertemuan yang seharusnya rutin dilakukan jadi dihilangkan atau dibatasi jumlah orangnya. Hal ini dapat terlihat dalam kutipan wawancara sebagai berikut:
“Tapi sejak pandemi ini kan kita belum berani ya, karna situasi belum mendukung, jadi sudah beberapa bulan ini ya kita berdoa saja di rumah masing-masing.”
(I2 B:206-210)
“Intens, ini hmmm tidak aktif malam Jumat Kliwon dan Jumat Legi karena Covid. Jadi kami batasi yang dateng paling banyak 15-20 orang.”
(I3 B:378-380)
Informan 2 menyatakan bahwa semenjak pandemi terjadi, situasi tidak mendukung untuk diadakan pertemuan komunitas yang seharusnya rutin. Alih-alih penghayat komunitas informan 2 memilih untuk berdoa di rumah masing-masing dan sudah terjadi selama beberapa bulan.
Informan 3 juga menyuarakan hal yang sama. Pertemuan intens komunitas informan 3 yang seharusnya terjadi setiap malam Jumat Kliwon dan Jumat Legi menjadi tidak seaktif dahulu.
Pembatasan anggota yang datang diberlakukan dan maksimal 15-20 orang yang diperbolehkan datang. Meski sebenarnya banyak yang ingin ikut hadir dan terlibat.
D.4.2. KTP Masih menjadi Masalah
Kesulitan yang muncul adalah KTP yang masih menjadi masalah. Meskipun secara hukum, penghayat telah diperbolehkan mengganti kolom agama dengan mengisi penghayat, namun masalah-masalah baru kemudian muncul. Kutipan wawancaranya sebagai berikut:
“Ha ini SK dari menkumham ini bisa jadi pemantik untuk perang sesama penghayat. “Ha kamu hurung ganti KTP”
gitu kan, sudah terjadi clash kan, ini saya gak mau. Saya takut dan khawatir juga, SK dari MK itu bermata dua. Satu membina satunya membinasakan. Kok bisa membinasakan, lha ini tarung do mati semua.”
(I1 B:404-410)
“Yaaa saya selalu, ee ya ketika putusan MK saya terus memberitahu warga-warga. Warga-warga kami, tentang adanya begini, kamu sudah diakui, kalo mau mengganti KTP, silakan e tapi kalo misalnya belum bisa tidak apa-apa, itu hak kamu. Itu saya bilang begitu. Karna implikasinya banyak, implikasi banyak dan sebetulnya juga fasilitas juga ada dengan KTP kamu yang belum menikah, mau menikah bisa lewat kepercayaan, pendidikan bisa, nanti meninggal juga bisa ya kan.”
(I2 B:462-464)
“Kalau saya antisipasi tolong yang belum berani mengubah KTP menjadi kepercayaan jangan gabung dulu. Harus ada jarak, jadi ketika ada yang sweeping taraf saya cuma memperhatikan. Jika sudah masuk ke lingkaran yang paling dalam nanti dia akan kecelik kalau Yah katanya, yah hatinya, yah KTPnya jadi tidak akan ada masalah. Tapi ya kalau kepercayaan katanya tapi KTPnya kepercayaan tapi begitu mas. Jadi berbudi mawa laksono kalian itu kalau mau kepercayaan ya harus utuh, diluar takut mendapat pandangan yang negatif waktu ritual kan banyak terjadi.”
(I3 B:677-689) Informan 1 menyatakan bahwa SK dari Menkumham yang memperbolehkan penghayat mengganti isi di kolom KTP justru bisa memicu permasalahan. Konflik identitas antara penghayat yang belum dan sudah mengganti KTP bisa saja terjadi dan justru menjadi akhir dari penghayat.
Sesuai dengan ketakutan informan 1, informan 2 juga menekankan bahwa mengganti KTP tidaklah perkara mudah,
melainkan dapat berimplikasi banyak. Meskipun fasilitas untuk hak-hak sipil yang dahulu dipersulit sekarang sudah mulai dapat diakses, informan 2 tetap menekankan bahwa mengganti KTP adalah hak setiap penghayat. Implikasinya yang banyak perlu menjadi pertimbangan lebih untuk berani mengambil identitas yang diakui negara sebagai penghayat di KTP.
Informan 3 lebih mengambil antisipasi bagi anggotanya yang belum berani untuk mengganti KTP untuk tidak bergabung atau mengambil jarak apabila ada kegiatan bersama. Hal ini dikarenakan kemungkinan adanya sweeping yang dilakukan oleh kelompok (yang seringkali) intoleran terhadap penghayat. Apabila ditemukan adanya penghayat yang belum mengganti KTP dan berada di tengah-tengah kegiatan komunitas, maka ada kemungkinan munculnya stigma negatif bahwa komunitas tersebut sedang menyebarkan ajaran sesat. Bagi informan 3, menjadi penghayat harus sesuai dengan isi pikiran dan tingkah laku, maka kalau benar-benar mengaku penghayat ya baiknya ikut mengganti KTP juga.
D.4.3. Kelengkapan Undang-undang Yang Rancu
Salah satu kesulitan dalam masa transisi kepercayaan diakui adalah kelengkapan undang-undang pendukung yang masih rancu.
Hal ini terlihat dalam kutipan wawancara di halaman berikutnya:
“Ya itu masalahnya tu kayaknya kalo saya sih pemerintah belum sepenuh hati ya, dalam arti peraturan tu hanya sebatas peraturan Mendagri misalnya, ha Keputusan MK, tapi undang-undangnya sendiri kan belum ada, yo belum, undang-undang Adminduk tu kan e kadang masih rancu, dilaksanakannya kan, nah itu untuk pemimpin kita sepertinya belum begitu merespon.”
(I2 B:527-534) Bagi informan 2, pemerintah dinilai belum sepenuh hati dalam mendukung keputusan penghayat diakui secara identitas.
Dalam praktiknya memang sudah ada Keputusan MK, namun kelengkapan UU Adminduk untuk mendukung penghayat kepercayaan belum ada. Informan 2 beserta dengan organisasi sudah mencoba mengontak pemimpin (Presiden) namun belum ada respon.
D.4.4. Diakui Secara Hukum, Dipersulit Lingkungan
Selain kelengkapan undang-undang pendukung yang masih rancu, pengakuan secara hukum ternyata tidak memperlancar pengakuan secara lingkungan. Beberapa penghayat masih dipersulit oleh lingkungan. Kutipan wawancara sebagai berikut:
“Ketakutan. Ketakutan terhadap lingkungan. Ketakutan terhadap keluarga. Ya ada temen saya “wah aku ini e…
keluargaku malah gini, gak berani aku”.”
(I1 B:418-420)
““Kalau aku mati gimana ini, ada yang menguburkan ndak?”. Nah ini yang sedang kita rintis bagaimana misalnya
ada kematian, kalau misalnya ada yang mau dikuburkan secara penghayat ya kita harus melayani. Kalau nggak ya kembali ke dulu, orang tidak berani jadi penghayat. Kalau mati tidak ada yang menguburkan, memilih ganti KTP, pindah agama.”
(I1 B:421-428)
“Ya biasanya nomer satu paling menurut saya yang paling anu tu lingkungan, karna kalo kalo secara e institusi tu kan kita sudah diakui, otomatis aparat-aparat kan harus mengakui ya. Tapi ketika e lingkungan tidak mendukung, lha itu dari diri sendiri kadang mau bergerak juga sulit, ya kan, tidak ada keberanian. Biasanya hambatannya seperti itu.”
(I2 B:678-684)