• Tidak ada hasil yang ditemukan

Atribut personal yang juga dapat menguatkan resiliensi penghayat adalah adanya hubungan sosial. Memahami orang-orang penting yang berdampak serta mengikuti kegiatan-kegiatan paguyuban dapat memperkuat resiliensi penghayat. Peneliti menemukan beberapa sub kategori dalam atribut personal hubungan sosial, yaitu panutan, kegiatan spiritual, dan kegiatan sosial.

D.9.1. Panutan

Ketika penghayat memiliki figur penting yang berdampak dalam hidupnya, ia memiliki arahan dalam mengatasi kesulitan maupun diskriminasi. Figur penting dalam hidup dapat memotivasi serta menguatkan individu. Mengingat rekam jejak penghayat yang cukup lama, tidak menutup kemungkinan bahwa akan ada pergantian dari yang dulu mengikuti panutan, sekarang menjadi panutan. Uraian tema yang peneliti temukan sebagai berikut.

D.9.1.1. Menjadi Panutan Bagi Paguyuban

Beberapa penghayat kemudian akan mengambil posisi sebagai panutan dalam paguyuban. Ketika telah lama menghayati dan aktif di paguyuban maka lingkungan akan memandang individu tersebut sebagai panutan. Hal ini dapat ditunjukkan dalam kutipan wawancara di halaman berikutnya:

“Wah sudah pada mati semua e, sudah mati semua.”

(I1 B:256)

“Kalau saya di Sapta Darma sendiri malah saya ditinggikan, disepuhke. Padahal saya ya gak… saya hanya karna aktif nyambut gawe, sering nyambut gawe gitu aja.”

(I1 B:258-261)

Informan 1 menjelaskan bahwa figur-figur yang dahulu menjadi panutan bagi dirinya telah meninggal. Kini ia justru dianggap sebagai tetua dalam paguyuban. Informan 1 menjadi panutan bagi paguyubannya karena ia aktif dalam membantu paguyuban.

D.9.1.2. Ingin Belajar dari Panutan yang Inspiratif

Penghayat kepercayaan juga dapat belajar dan mengembangkan dirinya ketika memiliki sosok panutan yang inspiratif. Hal ini dapat terlihat dalam kutipan wawancara sebagai berikut:

“saya fokuskan saya ketika itu untuk belajar dari pimpinan atau panutan kejawen urip sejati yang sekaligus beliau seorang akademisi jadi saya putuskan ke orang tua saya “pak, kulo tak nderek

wonten padepokan mawon biar saya bisa belajar dengan Romo Wisnoe setiap hari” begitu ceritanya.”

(I3 B:55-61)

Informan 3 menceritakan bagaimana ia memilih untuk belajar dari pemimpin paguyuban pada waktu itu. Hal ini didasari karena figur pemimpin yang menjadi panutan juga seorang akademisi. Informan 3 kemudian memutuskan untuk pamit kepada orang tuanya dan mengikuti figur panutannya untuk belajar setiap hari.

D.9.1.3. Dipercaya dan Diangkat sebagai Orang

Kepercayaan oleh Panutan

Beberapa penghayat kemudian dipercaya dan diangkat menjadi orang kepercayaan oleh panutannya. Hal ini ditunjukkan dalam kutipan wawancara sebagai berikut:

“Saya berangkat itu dari perjuangan keluar bukan saya berusaha bisa masuk sampai ke pusat. Tapi justru Romo Wisnoe ngerti sepak terjang saya ketika memperjuangkan hak-hak orang tua saya waktu itu.

Lalu Romo Wisnoe prikso tentang itu kemudian udah kamu disini.”

(I3 B:196-202)

Informan 3 menjelaskan bahwa panutannya memahami perjuangan hak-hak untuk orang tua yang ia lakukan. Maka dari itu panutan informan 3 meminta untuk dirinya menjadi orang kepercayaan dalam menjaga dan mengembangkan lokasi yang menjadi tempat berkumpulnya paguyuban.

D.9.2. Kegiatan Spiritual

Peneliti juga menemukan dalam atribut personal hubungan sosial, kegiatan spiritual yang penghayat lakukan dapat memperkuat penghayat. Kegiatan spiritual yang dilakukan penghayat dalam paguyuban sebagai kegiatan kelompok rutin dapat meningkatkan hubungan sosial antar penghayat serta memperkuat resiliensi individu. Uraian tema yang peneliti temukan sebagai berikut.

D.9.2.1. Menerapkan Ajaran Penghayatan dengan Saling

Membantu

Melalui saling membantu, penghayat dapat menerapkan ajaran yang didapat dalam kegiatan spiritual.

Hal ini terlihat dalam kutipan wawancara sebagai berikut:

“Kegiatannya kita biasanya istilahnya kami wungon ya apa namanya melek-melek ya, dengan dengan

wungon itu, melek-melek itu ya membahas, membahas ajaran kemudian penerapannya, misalnya ada masalah, 1 warga mempunyai masalah, nanti warga lain saling e menolong, saling mendukung atau bisa juga tukar pengalaman.”

(I2 B:195-201)

Informan 2 menjelaskan dalam paguyubannya ada kegiatan spiritual untuk membahas ajaran beserta penerapannya. Dalam kegiatan tersebut, informan 2 dan anggota akan saling bertukar pengalaman, dan tolong-menolong maupun berbagi dukungan apabila ada anggota yang sedang menghadapi sebuah masalah.

D.9.2.2. Sembahyang Bersama-sama dalam Paguyuban

Beberapa penghayat juga menguatkan hubungan sosial melalui kegiatan spiritual berdoa bersama-sama. Hal ini dapat terlihat dalam kutipan wawancara sebagai berikut:

“Kita punya ajaran sembahyang, kita sembahyang itu bisa dilaksanakan secara mandiri atau sendiri tapi bisa juga dilaksanakan secara bersama-sama.”

(I3 B:100-104)

Informan 3 menjelaskan dalam paguyubannya ada kegiatan spiritual berbentuk ajaran berdoa. Kegiatan ini dapat dilakukan secara bersama-sama maupun sendiri.

D.9.3. Kegiatan Sosial

Selain kegiatan spiritual, peneliti juga menemukan dalam atribut personal hubungan sosial, penghayat memiliki kegiatan sosial sebagai sarana meningkatkan hubungan sosial untuk memperkuat resiliensi. Uraian tema yang peneliti temukan sebagai berikut.

D.9.3.1. Membantu Tanpa Pandang Bulu

Salah satu kegiatan sosial yang dilakukan oleh penghayat adalah membantu tanpa memandang apakah yang ditolong merupakan sesama penghayat atau tidak. Hal ini dapat terlihat dalam kutipan wawancara sebagai berikut:

“Ya justru itu anu, malah kegiatan sosialnya banyak.

Waktu itu ketika saya masih mahasiswa, itu apa…

karna berkomunal itu ya malah sering membantu orang lain, ada acara apa… misalnya mantenan, kita nyiapkan tenaga untuk mbantu-mbantu. Misal gitu, kayak siapa punya manten, ya tidak terbatas di Sapta Darma, tempat lain juga gitu kita siap meladeni.”

(I1 B:267-273)

Informan 1 menjelaskan dahulu ketika masih menjadi mahasiswa, ia dan teman-teman di paguyuban sering melakukan kegiatan sosial. Ia sering membantu acara-acara yang digelar oleh warga, seperti pernikahan. Ketika ada acara demikian, informan 1 bersama teman-teman dari paguyuban akan menyumbang tenaga untuk membantu tanpa memandang yang menggelar acara adalah anggota paguyuban atau bukan.

D.9.3.2. Tukar Pengalaman Menyelesaikan Masalah

Kegiatan sosial lainnya yang dilakukan oleh penghayat adalah saling bertukar pengalaman untuk menyelesaikan masalah. Hal ini dapat terlihat dalam kutipan wawancara sebagai berikut:

“Ya kita sesama warga itu sebenarnya saling tukar pengalaman, saling asah, asih, asuh ya. Jadi siapapun tidak melihat usia, itu kalo punya pengalaman dan e bisa saling e membantu ya, bisa.”

(I2 B:432-435)

“oh ya berarti ada yang suatu masalah yang hampir sama dengan saya, oh menyelesaikannya sebaiknya begini tu ya bisa juga seperti itu.”

(I2 B:441-443)

Informan 2 menekankan sebagai sebuah paguyuban harus saling membantu dan tolong menolong. Hal ini dilakukan dengan saling bertukar pengalaman, terlepas usia dan latar belakang. Bagi informan 2, selama ada pengalaman dan bisa dibagi maka bisa digunakan untuk membantu yang membutuhkan. Ketika pengalaman tersebut menghadapi masalah yang serupa, pribadi tersebut bisa membagikan sehingga penghayat yang lain memahami solusi penyelesaian masalah tersebut.