• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN PUSTAKA

A. Definisi Agama

A.2. Kesulitan dalam Pendefinisian Agama

Menurut Connolly (2002), pertentangan mengenai definisi agama kurang lebih mengenai jangkauan tentang apa saja yang bisa secara sah, dapat dan tidak dimasukkan dalam batasan istilah agama. Apabila batasan mendefinisikan agama muncul secara rapat dan sempit, maka apa yang dianggap sebagian orang dapat dikategorikan sebagai agama, bisa jadi tidak terdefinisikan sebagai agama. Sebaliknya, apabila definisi dibuat terlalu longgar maka akan sulit untuk memahami dan mengenali apa yang sedang diacu ketika definisi tersebut digunakan. Cline (2019), juga mengungkapkan hal yang serupa. Dalam mendefinisikan agama seringkali dijumpai dua permasalahan; satu terlalu sempit dan mengecualikan banyak

sistem kepercayaan yang kebanyakan orang sepakat termasuk dalam agama, atau terlalu luas dan menjadi ambigu, sehingga secara tidak langsung menyatakan bahwa semua hal dapat dikatakan sebagai agama.

Salah satu tokoh yang peneliti gunakan sebagai contoh pendefinisian agama di atas adalah Emile Durkheim. Durkheim berupaya memberikan kesimpulan yang menyeluruh dalam mengatasi permasalahan pendefinisian agama. Hal ini ia tunjukkan dengan definisi yang ia kemukakan dalam esai pembahasannya akan bentuk dasar dari agama. Tujuan utama Durkheim melihat agama paling primitif yang diketahui manusia lebih dari sekedar merekonstruksi ulang budaya leluhur yang telah lama ada, namun justru memberikan gambaran yang kekinian dan praktis mengenai agama (Jones, 1986). Apabila kita menggunakan agama paling primitif sebagai subjek, hal ini dikarenakan kenyataan agama primitif telah beradaptasi dengan baik selama ini. Agama paling primitif juga mampu mengarahkan sebuah pemahaman mengenai sifat religius yang dimiliki seseorang dibandingkan temuan lainnya yang membahas hal serupa. Maka dari itu kita dapat melihat aspek yang lebih esensial dan permanen dari kemanusiaan (Durkheim, 1912).

Tujuan utama Durkheim memang dapat dipertanyakan, melihat agama primitif dalam rangka memahami manusia saat ini, namun tujuan ini tidak berangkat tanpa alasan yang mendasar. Durkheim seringkali melihat ketika para peneliti yang berfokus pada agama primitif, mendiskreditkan agama primitif dengan pandangan agama yang lebih modern (Jones, 1986).

Durkheim kemudian menolak pandangan yang mengalami pengaruh

"Voltairean" (merujuk penulis dari Prancis, Voltaire) atas dua alasan.

Pertama, Durkheim melihat pandangan tersebut tidak berdasarkan penelitian ilmiah yang kemudian membuat munculnya prasangka dari hasil penelitian terhadap subjek penelitian. Kedua, Durkheim merasa pandangan tersebut tidak berdasar pandangan sosiologis dari manusia, bahwa pernyataan logis yang muncul dalam sosiologi menunjukkan tidak ada temuan pemahaman akan kemanusiaan yang berdasarkan suatu kebohongan atau kesalahan (Jones, 1986).

Apabila suatu temuan pemahaman tidak didasari oleh hal-hal yang secara alamiah ada di dunia, temuan tersebut akan mengalami penolakan dari alam yang kemudian akan menghancurkannya. Maka dari itu keberadaan agama primitif dapat memberikan gambaran bahwa ia hadir dan bertahan secara alamiah (Jones, 1986).

Dalam pemahaman ini, dapat dikatakan bahwa semua agama adalah benar. Maka dari itu dalam menjelaskan agama paling primitif di dunia, Durkheim mengharuskan adanya pemahaman akan definisi "agama" itu sendiri. Bagi Durkheim, apabila tidak ada pendefinisian akan apa itu agama, akan muncul risiko apa yang kemudian digambarkan atau dijelaskan adalah kepercayaan dan praktik yang tidak ada hubungan dengan religiositas sama sekali (Durkheim, 1912, merujuk esai James Frazer, "The Origin of Totemism", 1899). Definisi yang kemudian dikemukakan Durkheim dicapai melalui dua tahap. Pertama, membebaskan diri dari semua pemahaman yang

telah dimiliki akan agama. Kedua, memeriksa beberapa sistem religi yang kita ketahui pada kenyataan konkretnya, agar dapat menentukan elemen apa saja yang sekiranya sama dan ada di beberapa agama tersebut (Jones, 1986, merujuk definisi Durkheim, 1912).

Melalui berbagai macam kesulitan pendefinisian agama, ditemukan tiga alasan mendasar dalam kesulitan mendefinisikan agama yakni;

etnosentrisme, kompleksitas, dan keragaman (Rakhmat, 2003).

Etnosentrisme menurut KBBI merupakan sebuah sikap maupun pandangan yang berpangkal pada masyarakat dan kebudayaan sendiri, biasanya juga disertai dengan sikap dan pandangan yang cenderung meremehkan masyarakat dan kebudayaan lain. Hal ini yang kemudian diusahakan Durkheim dalam tahapan pertama mendefinisikan agama, yaitu membebaskan diri dari pemahaman yang telah ia miliki sebelumnya mengenai agama (Durkheim, 1912).

Rakhmat (2003) kemudian memberikan contoh praktik etnosentrisme yang terjadi ketika Mantan Menteri Agama Indonesia, Mukti Ali, membuat tulisan bahwa "Agama adalah percaya akan adanya Tuhan Yang Esa dan hukum-hukum yang diwahyukan kepada kepercayaan utusan-utusan-Nya untuk kebahagiaan hidup manusia di dunia dan akhirat". Dalam hal ini, menurut Rakhmat, Mukti Ali tidak sedang mendefinisikan agama dengan merujuk pada agama di dunia secara umum, melainkan berdasarkan pengalaman Ali sebagai seseorang yang beragama Islam. Bagi Rakhmat, apabila definisi seperti ini digunakan secara konsisten, maka agama yang

tidak meyakini Tuhan Yang Esa tidak dapat dikatakan sebagai agama, contohnya agama Hindu.

Connolly (2002) juga mengungkapkan praktik etnosentrisme yang serupa dengan mengambil contoh dari Cambridge International Dictionary of English, yang mendefinisikan agama sebagai kepercayaan dan pemujaan terhadap Tuhan atau dewa-dewa, maupun sistem kepercayaan dan pemujaan yang serupa. Bagi Connolly, definisi ini akan menyebabkan agama seperti;

sebagian besar aliran Buddhisme, Jainisme, Taoisme, dan Konfusianisme, tidak dapat dimasukkan dalam lingkup definisi agama tersebut (karena tidak adanya konsep teologi atau ketuhanan).

Permasalahan kedua yang kemudian diungkapkan oleh Rakhmat (2003) adalah kompleksitas. Selain karena pandangan untuk mendefinisikan agama seringkali sangat dipengaruhi oleh etnosentrisme, setiap definisi agama tidak pernah cukup komprehensif. Bagi Rakhmat, definisi adalah batasan, dan selama ini definisi yang telah dikemukakan hanya dapat menangkap sebagian kecil dari realitas agama yang ada. Hal ini dikarenakan agama sangat sulit dibatasi dengan sifatnya yang begitu kompleks.

Dikarenakan sifat agama yang begitu kompleks, Cline (2019) menganjurkan untuk melihat agama berdasarkan karakteristik dasarnya.

Maka ada 9 karakteristik ciri-ciri khas dari sebuah agama;

1. Kepercayaan kepada wujud supranatural

2. Pembedaan antara objek, tempat, dan kejadian yang sakral atau profan

3. Tindakan ritual yang berpusat pada objek sakral, tempat, atau kejadian

4. Tuntutan moral yang diyakini ditetapkan oleh wujud supranatural

5. Perasaan keagamaan yang khas (ketakjuban, perasaan akan misteri, perasaan bersalah, pemujaan)

6. Doa, sembahyang, serta bentuk komunikasi lainnya 7. Pandangan dunia maupun gambaran umum akan dunia 8. Pengelolaan kehidupan yang bersifat menyeluruh

berdasarkan pandangan dunia tersebut

9. Kelompok sosial yang terikat oleh hal-hal di atas.

Agama-agama besar di dunia seperti Kristen, Katolik, dan Islam memiliki seluruh ciri-ciri tersebut, sedangkan beberapa sistem kepercayaan mungkin hanya memiliki 5 hingga 6 dari 9 ciri-ciri tersebut. Permasalahan ketiga yang diungkapkan oleh Rakhmat (2003) adalah keragaman. Rakhmat mengungkapkan ada ribuan agama di dunia ini dan seperti yang Cline (2019) katakan, tidak semua 9 karakteristik dimiliki oleh setiap agama.