1. Pengertian E-Commerce
Istilah e-commerce yang selama ini digunakan untuk menyebut perdagangan elektronik atau perdagangan online, sesungguhnya terbentuk dari dua kata yang berbeda, yaitu kata electronic (kemudian disingkat dengan huruf “e”) yang bermakna segala hal yang berhubungan dengan elektronika dan teknologi, dan kata commerce
yang bermakna pedagangan atau perniagaan.1 Apabila dua makna kata ini digabung, maka e-commerce secara umum dapat dimaknai sebagai perdagangan melalui perantara teknologi.
Sementara itu menurut istilah, e-commerce memiliki definisi yang beragam, di antaranya adalah sebagai berikut;
Menurut Zheng Qin dari Tsinghua University, Beijing mendefinisikan bahwa e-commerce adalah berbagai aktivitas komersial yang bersifat online yang berfokus pada pertukaran komoditas secara elektronik, baik dilakukan oleh perusahaan, pabrik, industri, dan perusahaan komersial lainnya, dengan memanfaatkan komputer dan jaringan internet.2
Sementara itu, Amir Manzoor memberikan pengertian bahwa e-commerce adalah penggunaan sarana dan teknologi elektronik untuk melakukan kegiatan perdagangan yang meliputi penjualan, pembelian, pengalihan, atau pertukaran produk, layanan, dan informasi. Menurutnya, secara lebih spesifik e-commerce melibatkan tiga jenis integrasi, yaitu (1) integrasi vertikal yang terjadi antara front-end
website sebuah perusahaan dengan sistem transaksi, (2) integrasi bisnis yang menghubungkan perusahaan dengan pelanggan dan pemasok; dan
1 Ahmad Hafidz Safrudin, “Transaksi E-Commerce dalam Perspektif Hukum Islam dan Kitab Undang-Undang Hukum Perdata” Jurnal el-Faqih, Volume 1, Nomor. 1 (April: 2015), 4.
62
(3) integrasi teknologi yang mengatur persoalan pemesanan, pembelian, dan layanan kepada pelanggan.3
Selain itu, Mamta Bhusry juga mendefinisikan c-commerce
sebagai sebuah konsep yang menggambarkan proses jual beli atau pertukaran produk, jasa, dan informasi melalui jaringan telekomunikasi dan komputer jaringan atau internet.4
Mc Leod dan Schell sebagaimana dikutip oleh Lydia Mutiara Dewi mendefinisikan e-commerce sebagai bentuk transaksi-transaksi bisnis yang melibatkan beberapa penjual dan pembeli, di mana para penjual dan pembeli yang terlibat saling terhubung melalui internet.5
Abdul Halim Barakatullah juga memberikan definisi bahwa e-commerce adalah kegiatan bisnis yang menyangkut konsumen (comsumer), services provider, dan pedagang perantara (intermediary) dengan menggunakan jaringan komputer internet.6
Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) juga turut memberikan definisi mengenai e-commerce. Berdasarkan catatan program kerja WTO tentang perdagangan elektronik, WTO mendefinisikan e-commerce sebagai proses perdagangan elektronik yang meliputi proses produksi, distribusi, pemasaran, penjualan, atau pengantaran barang dan jasa dengan menggunakan alat bantu secara elektronik.7
Dari berbagai definisi e-commerce sebagaimana yang telah diuraikan di atas, terdapat beberapa kesamaan dari setiap definisi tersebut. Kesamaan-kesamaan tersebut menunjukkan bahwa e-commerce memiliki karakteristik sebagai berikut8:
1. Terjadinya transaksi antara dua belah pihak. 2. Adanya pertukaran barang, jasa, dan informasi.
3. Menggunakan media internet dalam proses dan mekanisme perdagangan tersebut.
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa e-commerce adalah proses transaksi bisnis baik berupa barang, jasa, dan informasi yang terjadi antara penjual, pembeli, dan pihak lainnya dengan mengguanakan perantara media internet.
3 Amir Manzoor, E-Commerce An Introduction (Berlin: LAP LAMBERT Academy Publishing GmbH & Co. KG, 2010), 2.
4 Mamta Bhusry, E-Commerce (New Delhi: Firewall Media, tt), 3.
5 Lydia Mutiara Dewi “E-Commerce: Pasar Maya di Dunia Nyata”, Bina Ekonomi Majalah
Ilmiah Fakultas Ekonomi Universitas Katolik Parahyangan, Volume 12, Nomor 1 (Januari:
2008), 67
6 Abdul Halim Barakatullah dan Teguh Prasetyo, Bisnis E-Commerce Studi Sistem
Keamanan dan Hukum di Indonesia (Yogyakarta: Pustaka Setia, 2006), 10.
7 WTO - Program kerja tentang Perdagangan Eelektronik http://www.wto.org/english/tratop_e/ecom_e/wkprog_e.htm (diakses pad a tanggal 26 Juli 2017 pukul 13.30 WIB)
8 Soon-Yong Choi dkk, The Economics of Electronic Commerce (Indiana: Macmilan Technical Publishing, 1997), 3.
63 2. Jenis E-Commerce
Secara umum, e-commerce sesungguhnya adalah salah satu bentuk strategi baru dalam dunia perdagangan. Strategi tersebut mengarah pada upaya untuk meningkatkan kualitas produk dan layanan serta efisiensi biaya.9 Atau dengan kata lain, e-commerce menjadi pendekatan baru dalam dunia bisnis.
Tanpa disadari, e-commerce telah berperan sebagai sa lah satu motor utama penggerak pertumbuhan perdagangan melalui internet dalam kurun waktu 15 tahun terakhir. Urgensi hal tersebut tergambar dalam dokumen kerangka kerja bagi perdagangan elektronik global pada tahun 1997 yang sekaligus mengawali reformasi tata kelola internet di dunia, yang menyatakan bahwa fungsi utama tata kelola internet adalah dalm rangka menghasilkan lingkungan yang terukur dan konsisten bagi perdagangan elektronik.10
Seiring dengan perkembangan teknologi informasi, e-commerce
juga mengalami perkembangan dan variasi yang sangat beragam. Menurut perusahaan teknologi Progres Tech, e-commerce terbagi menjadi beberapa jenis:11
a. Business to Business (B2B)
Yaitu transaksi bisnis e-commerce yang terjadi antara pelaku bisnis dengan pelaku bisnis lainnya, atau dengan kata lain e-commerce B2B adalah jenis transaksi yang terjadi antar perusahaan. Beberapa contoh e-commerce B2B di Indonesia adalah Bizzy12 (www.bizzy.co.id) dan Ralali13 (www.ralali.com).
b. Business to Consumer (B2C)
Yaitu transaksi bisnis e-commerce yang terjadi antara pelaku bisnis (perusahaan atau produsen) dengan konsumen secara langsung. Situs e-commerce ini menyediakan produk-produk tertentu dan dijual langsung kepada masyarakat atau konsumen akhir. Beberapa contoh e-commerce B2C di Indonesia adalah situs penyedia peralatan elektronik Bhineka (www.bhineka.com), situs
9 M. Shaw, R. Blanning, T. Strader & A. Whinston (Ed), Handbook and Eelectronic
Commerce (Spriger Science & Business Media, 2012), 4.
10 Jovan Kurbalija, Sebuah Pengantar tentang Tata Kelola Internet (Jakarta: APJII, 2010), 111.
11 http://www.progresstech.co.id/blog/jenis-e-commerce/ (diakses pada tanggal 27 Juli 2017 pukul 16.20 WIB)
12 Dalam situs resminya, bizzy mengkalim bahwa ia adalah situs pelopor layanan B2B pertama di Asia Tenggara, dengan beragam produk mulai dari peralatan kantor sampai dengan peralatan industri. Lihat: https://www.bizzy.co.id/ (diakses pada tanggal 27 Juli 2017 pukul 16.30 WIB)
13 Ralali adalah layanan B2B untuk produk-produk MRO (Maintenance, Repair, dan Operational). Lihat: https://www.ralali.com/ (diakses pada tanggal 27 Juli 2017 pukul 16.45 WIB).
64
pemesanan tiket online Tiket.com (www.tiket.com), serta situs traveling dan tiketing Traveloka (www.traveloka.com).
c. Consumer to Consumer (C2C)
Yaitu transaksi bisnis e-commerce yang dilakukan oleh individu (konsumen) langsung kepada individu (konsumen) lainnya. Secara teknis, pihak yang berperan sebagai penjual dan sekaligus sebagai pembeli adalah konsumen perseorangan. Situs e-commerce
C2C umumnya hanya berfungsi sebagai mediator antara individu-individu yang bertransaksi. Beberapa contoh situs e-commerce
C2C di Indonesia adalah situs Elevenia (www.elevenia.co.id), Blanja (www.blanja.com), Bukalapak (www.bukalapak.com), dan Tokopedia (www.tokopedia.com).
d. Consumer to Business (C2B)
Yaitu transaksi bisnis e-commerce yang terjadi di mana individu (konsumen) menciptakan dan membentuk nilai serta proses bisnis dengan suatu perusahaan. Model bisnis ini terjadi dalam bentuk kelompok individu yang menyediakan layanan jasa atau produk kepada perusahaan. Beberapa contoh situs e-commerce
C2B di Indonesia adalah situs IstockPhoto (www.istockphoto.com) yang merupakan wadah bagi para fotografer dan situs Sribu (www.sribu.com) yang merupakan wadah bagi para kreatif dan ahli desain.
e. Business to Administration (B2A)
Yaitu jenis transaksi e-commerce yang terjadi antara perusahaan dengan administrasi publik dan pemerintah. Jenis ini juga disebut juga dengan e-commerce B2G (Business to Goverment) yang merupakan turunan dari jenis B2B, hanya saja pelaku transaksi pada jenis ini adalah pelaku bisnis dan pemerintah. Contoh situs e-commerce B2A di Indonesia adalah situs BPJS Ketanagakerjaan (www.bpjsketenagakerjaan.go.id/).
f. ConsumertoAdministration (C2A)
Yaitu jenis transaksi c-commerce yang terjadi antara individu (masyarakat) dengan administrasi publik dan pemerintah. Model bisnis C2A sebenarnya sama dengan model B2A hanya saja bisnis C2A melibatkan transaksi antara konsumen atau individu dengan penyedia layanan administrasi publik14. Contoh situs e-commerce
C2A di Indonesia adalah situs Pajak Online (www.pajak.go.id). g. Online to Offline (O2O)
Yaitu jenis transaksi e-commerce terbaru yang memungkinkan masyarakat berbelanja secara online, tetapi dapat membayar,
14 https://www.sirclo.com/blog/2017/08/mengenal-jenis-jenis-website-e-commerce-berdasarkan-model-bisnisnya (diakses pada tanggal 27 Juli 2017 pukul 20.15 WIB)
65
mengambil, dan mengembalikan produk pesanan secara offline.15 Beberapa contoh situs e-commerce O2O di Indonesia adalah situs AlfaCart yang merupakan bentuk pengembangan dari perusahaan retail Alfamart (www.alfacart.com), KlikIndomaret yang merupakan pengembangan dari Indomaret (www.klikindomaret.com), Grab Kios (dulu bernama KUDO), dan MatahariMall (www.mataharimall.com).
Dalam transaksi bisnis dengan model O2O, proses pembelian dilakukan secara online, baik melalui channel maupu situs terrtentu atau melalui outlet jaringannya di berbagai daerah. Adapun pembayarannya dilakukan secara langsung melalui agen atau outlet di mana konsumen membeli. Sesungguhnya, sasaran utama bisnis ini adalah masyarakat yang belum mendapatkan akses perbankan untuk bertransaksi (unbanking people) atau masyarakat yang belum dapat memanfaatkan internet dalam bertransaksi.16
Tabel 3.1 Jenis E-Commerce
No Jenis Uraian Contoh
1 B2B Terjadi antara pelaku bisnis dengan
pelaku bisnis (antar perusahaan) Bizzy, Ralali 2 B2C Terjadi antara pelaku bisnis dengan
individu (konsumen) Tiket.com, Traveloka 3 C2C Terjadi antara individu (konsumen)
dengan individu (konsumen) Bukalapak, Elevenia 4 C2B Terjadi antara individu (konsumen)
dengan pelaku bisnis (perusahaan) IstockPhoto, Sribu 5 B2A Terjadi antara pelaku bisnis
(Perusahaan) dengan pelayanan administrasi publik (Pemerintah)
Situs BPJS Ketanagaker jaan
6 C2A Terjadi antara individu (konsumen) dengan layanan administrasi publik (pemerintah)
Pajak.go.id
7 O2O Transaksi yang terjadi secara online tetapi dapat melakukan pembayaran dan pengambilan barang secara ofline.
Grab Kios, Alfacart
15 http://selular.id/news/e-commerce/2017/04/e-commerce-usung-konsep-o2o-untuk-peroleh-kepercayaan-konsumen/ (diakses pada tanggal 27 Juli 2017 pukul 20.40 WIB)
16 https://seword.com/ekonomi/pergeseran-bisnis-e-commerce-indonesia-tren-online-to-offline-o2o/ (diakses pada tanggal 29 Juli 2017 pukul 10.00 WIB)
66
Sementara itu, majalah online Teknologi Asia, Tech in Asia
secara lebih spesifik memberikan klasifikasi yang berbeda mengenai jenis-jenis e-commerce yang ada di Indonesia. Secara garis besar, e-commerce di Indonesia memiliki 5 model bisnis yang berbeda-beda, yaitu17;
1. Model Clasified/Listing/Iklan baris
Yaitu model bisnis yang terjadi di mana situs e-commerce
hanya memberikan tempat bagi masyarakat untuk memasang dan menjual produk melalui sebuah situs internet. e-commerce model
listing atau iklan baris ini tidak memfasilitasi kegiatan transaksi, melainkan hanya menyediakan tempat untuk pemasangan produk atau jasa.18E-commerce dengan model listing atau iklan baris ini memiliki dua kriteria utama, yaitu;
- Website e-commerce listing atau iklan baris tidak memfasilitasi transaksi online yang terjadi.
- Penjual dapat melakukan proses penjualan barang kapan saja dan dimana saja secara gratis.
Beberapa contoh e-commerce model listing atau iklan baris yang ada di Indonesia adalah situs jual beli barang bekas OLX (gabungan antara berniaga dan tokobagus) dan Jualo.
2. Model Marketplace C2C
Yaitu model bisnis di mana website e-commerce tidak hanya membantu melakukan promosi terhadap barang yang dipasang oleh para penjual, tetapi juga sekaligus memfasilitasi proses transaksi jual beli yang terjadi antara penjual dan pembeli, yang melakukan transaksi melalui website tersebut. Contoh e-commerce dengan model marketplace C2C yang popular di Indonesia adalah Bukalapak dan Tokopedia.
3. Model Shopping Mall
Model bisnis ini sangat mirip dengan model bisnis marketplace, hanya saja pihak yang dapat berjualan di website ini haruslah penjual besar atau brand-brand yang telah memiliki nama besar. Situs e-commerce dengan model ini memberikan tempat berjualan kepada penjual-penjual besar serta brand-brand ternama sebagaimana layaknya Mall dalam kehidupan nyata. Contoh situs
e-commerce yang menggunakan model shopping mall yang ada di Indonesia adalah situs blibli.com.
4. Model Toko Online B2C
Model bisnis ini cukup sederhana, yakni toko online dengan alamat situs tertentu (menggunakan nama domain sendiri), di mana 17 https://id.techinasia.com/5-model-bisnis-ecommerce-di-indonesia (diakses pada tanggal 29 Juli 2017 pukul 16.15 WIB)
18 https://swa.co.id/swa/trends/marketing/ini-tiga-model-bisnis-e-commerce (diakses pada tanggal 29 Juli 2017 pukul 20.00 WIB)
67
toko online tersebut memiliki persediaan produk yang memadai serta menjual produknya secara langsung kepada pembeli. Sebagian besar e-commerce di Indonesia menggunakan model bisnis B2C ini. Contoh e-commerce B2C adalah Lazada Indonesia, Tiket.Com, dan Traveloka.com
5. Model Toko Online Media Sosial
Di Indonesia, media sosial memang tidak hanya berfungsi sebagai media jejaring dan pertukaran informasi semata, tetapi juga telah bergeser menjadi media untuk berdagang. Tidak sedikit akun di media sosial facebook, instagram, dan twitter yang berubah menjadi akun yang digunakan untuk berdagang.
Akan tetapi, beberapa waktu terakhir di luar dari model e-commerce sebagaimana yang telah disebutkan di atas, muncul
e-commerce yang menggabungkan antara konsep berjualan dengan
konsep media sosial. Proses tawar menawar yang terjadi dalam situs e-commerce tersebut seperti proses chatting dan comment di media sosial. Contoh e-commerce model ini di Indonesia adalah Shopee dan Carousell.
Tabel 3.2
Model Bisnis E-Commerce di Indonesia
No Model Uraian Contoh
1 Clasified/Listin g/Iklan baris Memberikan tempat untuk pemasangan produk tanpa memfasilitasi transaksi OLX, Jualo
2 MarketPlace Memberikan tempat pemasangan produk, sekaligus memberikan memfasilitasi transaksi.
Bukalapak, Tokopedia
3 Shopping Mall Mirip engan model Marketplace, hanya saja yang dapat berjualan harus penjual atau brand besar.
Blibli.Com
4 Model B2C Berperan sebagai penjual yang telah memiliki stock produk sendiri.
Lazada, Tiket, Traveloka 5 Model Media
Sosial Memiliki cara kerja seperti media sosial, bisa
Chatting dan komentar.
Shopee, Carousell
68 B. Perkembangan E-Commerce di Indonesia
Sejarah perkembangan e-commerce di berbagai negara, termasuk Indonesia tentu tidak bisa dilepaskan dari perkembangan internet dan teknologi informasi yang menyertainya. Sebab, melalui internetlah, perdagangan online atau e-commerce dapat dijalankan dan berkembang sampai dengan saat ini.
Perkembangan teknologi di dunia termasuk di Indonesia diawali sejak revolusi industri yang terjadi antara tahun 1750 – 1850 atau yang dikenal dengan revolusi 1.0. Revolusi ini ditandai dengan terjadinya perubahan besar-besaran di sektor pertanian, pertambangan, transportasi, manufaktur, dan teknologi. Revolusi ini melahirkan sejarah baru yakni ketika tenaga manusia dan hewan digantikan oleh mesin. Perkembangan selanjutnya disebut sebagai revolusi teknologi atau revolusi 2.0. Revolusi ini ditandai dengan kemunculan tenaga listrik dan motor pembakaran dalam (combustionchamber). Penemuan inilah yang kemudian memicu kemunculan pesawat telepon, mobil, dan pesawat terbang yang akhirnya mengubah wajah dunia secara signifikan. Perkembangan berikutnya adalah revolusi 3.0 yang ditandai dengan kemunculan teknologi digital dan internet. Revolusi ini disebut dengan istilah revolusi digital di mana ruang dan waktu tidak lagi berjarak. Sosiolog Inggris David Harvey menyebut bahwa revolusi ini sebagai proses pemampatan ruang dan waktu. Jika revolusi industri 2.0 membuat waktu dan jarak semakin dekat, revolusi 3.0 telah berhasil menyatukan keduanya, sehingga segala informasi bersifat kekinian atau real time.19
Perkembangan teknologi selanjutnya terjadi pada tahun 2012 atau yang disebut sebagai revolusi industri 4.0. Revolusi ini muncul ketika pemerintah Jerman mulai memperkenalkan strategi pemanfaatan teknologi yang disebut sebagai industri 4.0 yang merupakan salah satu bagian dari project strategi teknologi modern Jerman 2020. The Word Economic Forum (WEF) menyebut bahwa revolusi industri 4.0 ditandai dengan pembauran (fusion) teknologi yang mampu menghapus batas-batas penggerak aktivitas ekonomi, baik dari perspektif fisik, digital, maupun biologi. Karakteristik industri 4.0 ditandai dengan berbagai teknologi terapan yang semakin canggih, seperti advanced robotic, artificial intelligence, internet of things, virtual and augmented reality, additive manufacturing, serta distributed manufacturing.20
Menurut sejarah, internet mulai masuk ke Indonesia dimulai pada awal tahun 1990-an. Pada awal kemunculannya, jaringan internet di Indonesia penuh dengan nuansa kebersamaan dan semangat kerjasama, kekeluargaan, serta gotong royong di antara para penggunanya. Pada masa 19 http://otomasi.sv.ugm.ac.id/2018/10/09/sejarah-revolusi-industri-1-0-hingga-4-0/ (diakses pada tanggal 1 Agustus 2018 pukul 15.30 WIB)
20 http://www.ajaranekonomi.com/2018/05/perkembangan-revolusi-industri-40.html (diakses pada tanggal 1 Agustus 2018 pukul 16.15 WIB)
69
awal inilah, jejaring internet di Indonesia dikenal sebagai “paguyuban
network” yang di dalamnya hampir tidak ada nuansa komersial sama sekali. Namun, pada perkembangan berikutnya, jaringan internet berubah menjadi lebih komersial dan individual di sebagian aktivitasnya, utamanya yang menyangkut perdagangan internet.21
Namun demikian, internet di Indonesia baru benar-benar menjadi sesuatu yang komersial pada awal tahun 1994, yang ditandai dengan berdirinya ISP (Internet Service Provider) komersial pertama di Indonesia, yaitu IndoNet yang dimiliki oleh PT Indo Internet. Namun, sekalipun telah muncul ISP yang komersial yang beroperasi di Indonesia, ternyata pada saat itu pemerintah Indonesia belum memiliki kesadaran yang besar tentang potensi nilai ekonomi dari internet yang begitu besar. Hal tersebut sangat wajar mengingat jumlah pengguna internet di Indonesia pada saat itu memang masih sangat sedikit, yakni hanya sebesar 1.9% dari total penduduk Indonesia atau sekitar 4.38 juta jiwa.22
Seiring dengan bertambahnya ISP komersial yang beroperasi di Indonesia, Pada tahun 1996 terbentuklah Asosiasi Pengusaha Jasa Internet Indonesia (APJII) yang merupakan wadah bagi ISP komersial untuk saling berdiskusi dan menjalin kerjasama. Sepanjang tahun 1996 – 1999 sedikitnya sudah ada sekitar 46 ISP yang tergabung dalam asosiasi APJII. Fakta ini sekaligus memberikan sinyal bahwa pengguna internet d i Indonesia sudah mulai menunjukkan peningkatan.23 Peningkatan jumlah pengguna internet ini akhirya memicu lahirnya usaha warung internet (warnet) sebagai satu-satunya media bagi masyarakat untuk dapat terhubung dengan internet. Seiring dengan pertumbuhan bisnis warung internet yang semakin tinggi, akhirnya pada tahun 2002 dibentuklah sebuah Asosiasi untuk pengusaha warung internet Indonesia yang disingkat AWARI.
Pada pekembangan berikutnya, jumlah ISP yang beroperasi di Indonesia semakin bertambah banyak. Perumbuhan jumlah ISP ini dipicu oleh kemunculan berbagai jenis telepon genggam yang sebagian besar membutuhkan koneksi internet dalam operasionalisasinya. Berdasarkan catatan Badan Pusat Statistik (BPS) dalam dokumen Statistik Telekomunikasi Indonesia tahun 2015, menyebutkan bahwa jumlah ISP di Indonesia yang terdaftar pada tahun 2015 sudah mencapai 281 perusahaan.
21 Yuhefizar, 10 Jam Menguasi Internet: Teknologi dan Aplikasinya (Jakarta: PT. Elex Media Komputindo, 2008), 6.
22 Hanni Sofia dan Budhi Prianto, Panduan Mahir Akses Internet (Jakarta: Kriya Pustaka, 2010), 11.
23 Handi Irawan D, Indonesian Customer Satisfaction Membedah Strategi Kepuasan
70
Jumlah tersebut meningkat sebesar 17% dari tahun sebelumnya yang hanya 240 perusahaan.24
Gambar 3.1
Perbandingan jumlah Pelanggan dan Perusahaan ISP Di Indonesia Tahun 2012 – 2015
Sumber: Katadata.co.id
Perkembangan internet, akhirnya juga berdampak pada sektor perdagangan, yakni bergerak dari model perdagangan offline ke pedagangan online dengan memanfaatkan internet. Pergeseran tersebut dimulai sejak tahun 1999, ketika majalah Time menetapkan Jeff Bezos sebagai person of the year. Banyak orang yang terkejut dengan penetapan ini. Pasalnya, selama ini yang menjadi person of the year umumnya adalah tokoh politik terkenal yang memiliki banyak pengaruh. Namun walaupun demikian, penetapan Jeff Bezos sebagai person of the year oleh majalah Time ternyata memiliki alasan yang sangat mendasar. Jeff Bezos memang sengaja dipilih karena ia adalah seorang entreprenur yang luar biasa, ia disebut-sebut sebagai peletak dasar e-economy melalui situs pedagangan online yang ia dirikan, yaitu Amazon.com.25 Pada perkembangannya, langkah Jeff Bezos inilah yang disebut-sebut menjadi pemicu maraknya
24 http://databoks.katadata.co.id/datapublish/2016/12/06/2012-2015-penyedia-dan-pelanggan-internet-meningkat (diakses pada tanggal 1 Agustus 2017 pukul 10.00 WIB)
25 David Silver and Adrienne Massanari, Critical Cyberculture Studie, (New York: New Yok University Press, 2006), 279.
71
bisnis di dunia online, dengan lahirnya beragam situs e-commerce, seperti
e-Bay dan Paypall.26
Perkembangan e-commerce tersebut akhirnya meluas dan menyebar ke berbagai negara, tidak hanya Amerika, tetapi juga negara-negara di Asia, termasuk Indonesia. Dalam konteks Indonesia, perkembangan e-commerce dalam negeri bahkan terus meningkat dari tahun ke tahun seiring dengan peningkatan jumlah pengguna internet di berbagai daerah di Indonesia. Tidak hanya itu, Indonesia juga diprediksi akan menjadi pemimpin pasar e-commerce di kawasan Asia Tenggara.27
Berkaitan dengan siklus perkembangan e-commerce, khususnya di Indonesia ketua idEA (Indonesia E-Commerce Association) Daniel Tumiwa dalam pembukaan Indonesia E-Commerce Summit and Expo
tahun 2016, secara detail menyebutkan bahwa laju perkembangan e-commerce di Indonesia kurang lebih adalah sebagai berikut:28
Tebel 3.4
Perkembangan E-Commerce di Indonesia Tahun Uraian
1994 Internet Service Provider (ISP) komersial Indonesia pertama berdiri, yakni IndoNet.
1999 Andrew Darwis mendirikan portal Kaskus (Kasak Kusuk) 2001 Pemerintah mulai menyusun draft Undang-Undang tentang
e-commerce
2005 Portal juali beli / iklan baris “TokoBagus” didirikan.
2007 Layanan dompet elektronik DOKU Wallet resmi diluncurkan 2010 Layanan ojek On demand, GoJek didirikan.
2011 Situs pemesanan tiket online, Tiket.com diluncurkan 2012 Situng Booking tiket dan hotel, Travelola diluncurkan
Asosiasi E-Commerce Indonesia (idEA) resmi didirikan
2014 Tokopedia mendapatkan investasi yang fantastis, mencapai US$ 100 juta.
2015 Situs TokoBagus dan Berniaga dilebur menjadi satu dengan nama OLX.CO.ID
2016 Pemerintah mengeluarkan roadmap e-commerce Indonesia 2020 Indonesia dengan jumlah penduduk yang besar dan potensi pasar yang besar, akhirnya menjadi primadona bagi para pemain e-commerce,
26 Salahuddien Gz, Hernawan Kertajaya On Selling Sei 9 Elemen Marketing (Jakarta: Mizan, 2006), 75-76.
27 http://sis.binus.ac.id/2016/10/24/e-commerce-di-indonesia-dan-perkembangannya/ (diakses pada tanggal 3 Agustus 2017 pukul 13.20 WIB)
28 http://tekno.liputan6.com/read/2493747/simak-perkembangan-e-commerce-dari-masa-ke-masa (diakses pada tanggal 3 Agustus 2017 pukul 13.55WIB)
72
baik yang berasal dari dalam maupun luar negeri. Para pelaku e-commerce
tersebut datang dari berbagai latar belakang dengan sokongan dana yang tidak sedikit. Akhirnya persaingan bisnis di dunia e-commerce Indonesia semakin dinamis dan memunculkan berbagai macam situs e-commerce. Namun, berdasarkan data dari iPrice (sebuah situs agregator belanja online) menyebutkan bahwa e-commerce di Indonesia mengerucut pada beberapa pemain besar yang bersaing ketat. Di antaranya adalah Lazada, Tokopedia, Elevenia, dan Bukalapak.29
Gambar 3.2
Perbandingan Jumlah Pengunjung situs
e-commerce di Indonesia
Sumber: cnnindonesia.com
Perkembangan teknologi yang kian cepat juga turut memberikan sumbangan besar dalam perkembangan e-commerce. Pada awalnya, teknologi hanya berfungsi sebagai media untuk mempermudah transaksi semata, tetapi saat ini teknologi juga ikut serta dalam memberikan pertimbangan-pertimbangan tertentu dalam penentuan arah kebijakan, sehingga pengelola e-commerce mampu mengambil keputusan secara cepat dan tepat. Salah satu perkembangan tersebut adalah adanya teknologi