PENERAPAN PRINSIP-PRINSIP JUAL BELI ONLINE
DALAM ISLAM
(STUDI KASUS PADA SITUS
E-COMMERCE
ISLAM
DI INDONESIA)
Tesis
Diajukan kepada Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
sebagai Salah satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Magister Agama
dalam Bidang Ekonomi Islam
Oleh:
Misbahul Ulum
NIM. 2117 12 00000 172
Pembimbing:
Prof. Dr. M. Nur Rianto Al Arif, SE., M.Si
KONSENTRASI EKONOMI ISLAM
SEKOLAH PASCASARJANA UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN)
SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA
i
LEMBAR PERSETUJUAN PEMBIMBING
Tesis yang berjudul Penerapan Prinsip-Prinsip Jual Beli Online dalam Islam (Studi Kasus pada Situs E-Commerce Islam di Indonesia) ditulis oleh M isbahul U lum dengan NIM: 21171200000172 telah melalui pembimbingan dan work in progress
sebagaimana ditetapkan Sekolah Pascasarjana UIN Jakarta sehingga layak diajukan untuk Ujian Tesis.
Jakarta, 24 Agustus 2020 Pembimbing
ii
PERNYATAAN BEBAS PLAGIARISME Yang bertanda tangan di bawah ini:
Nama : Misbahul Ulum NIM : 21171200000172 No. Kontak : 085740274741
Menyatakan bahwa tesis yang berjudul Penerapan Prinsip-Prinsip Jual Beli Online dalam Islam (Studi Kasus pada Situs e-Commerce Islam di Indonesia) adalah hasil karya saya sendiri. Ide / gagasan orang lain yang ada dalam karya ini saya sebutkan sumber pengambilannya. Apabila di kemudian hari terdapat hasil plagiarisme maka saya bersedia menerima sanksi yang ditetapkan dan sanggup mengembalikan gelar dan ijazah yang saya peroleh sebagaimana peraturan yang berlaku.
Jakarta, 3 September 2020 Yang Menyatakan,
iii
KATA PENGANTAR
ميِحهرلا ِنَْحْهرلا ِهللَّا ِمْسِب
Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan kekuatan, kemudahan, dan rahmat-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan tesis dengan judul “Penerapan Prinsip-Prinsip Jual Beli Online dalam Islam (Studi Kasus pada E-Commerce Islam di Indonesia). S}olawat dan salam selalu tercurah kepada Nabi Muhammad SAW, semoga kelak kita semua mendapat syafaatnya, serta termasuk dalam umat yang selalu berpegang teguh pada sunah-sunahnya.
Tesis ini adalah karya penulis yang merupakan bentuk tugas akhir dalam rangka menyelesaikan pendidikan di Program Magister Pengkajian Islam Sekolah Pascasarjana Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. Tesis ini mengkaji bentuk prinsip-prinsip jual beli online dalam Islam dan penerapannya pada situs e-commerce Islam di Indonesia. Melalui penulisan tesis ini, penulis berharap agar prinsip-prinsip jual beli online dalam Islam dapat menjadi salah satu rujukan untuk menciptakan tata kelola transaksi jual beli online yang lebih baik dan islami.
Penulis sepenuhnya menyadari bahwa tesis ini tidak akan dapat terselesaikan tanpa bantuan dari berabagai pihak. Untuk itulah penulis menyampaikan terimakasih dan rasa hormat kepada seluruh pihak yang telah membantu menyelesaikan tesis ini. Secara khusus, penulis menyampaikan rasa hormat dan terimakasih kepada:
1. Ibu Prof. Dr. Hj. Amany Buhanuddin Umar Lubis, LC., MA selaku rektor Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
2. Bapak Prof. Dr. Phil. Asep Saepudin Jahar, MA sekalu Direktur Sekolah Pascasarjana Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
3. Bapak Arif Zamhari, M.Ag., Ph.D sekalu Ketua Program Magister Sekolah Pascasarjana Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
4. Bapak Prof. Dr. M. Nur Rianto Al Arif, SE., M.Si sekalu Promotor dan pembimbing penulis tesis yang telah memberikan arahan dan bimbingan sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan tesis dengan penuh semangat.
5. Bapak Dr. Anwar Abbas, M.Ag selaku pembimbing pertama yang telah banyak memberikan arahan dan motivasi kepada penulis.
6. Seluruh dewan penguji; Prof. Dr. Muhammad Bin Said, Dr. Imam Sujoko, MA, Dr. Arief Mufraini, M.Si, Dr. JM Muslimin, MA., Prof. Dr. Zainun Kamal, MA., Dr. Herni Ali, SE, MM., Prof. Dr. Abuddin Nata, MA., Dr. Usep Abdul Matin, MA., Dr. Kusmana, MA., Dr. Kamarusdiana, MA., Prof. Dr. Iik Arifin Masrurnoor, MA yang telah memberikan masukan dan koreksi dalam rangka perbaikan dan penyempurnaan tesis ini.
iv
7. Bapak dan Ibu Dosen pada Program Magister Pengkajian Islam Sekolah Pascasarjana Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. 8. Seluruh pegawai dan staff Sekolah Pascasarjana Universitas Islam
Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta yang telah banyak membantu proses administrasi akademik.
9. Keluarga besar penulis Ibu Umi Sa’diyah yang telah banyak memberikan do’a dan nasehat kepada penulis, Bapak Zainuri (alm) yang menjadi motivator dan pengingat bagi penulis tentang pentingnya perjuangan, serta kakak Munajihah dan adik Abdul Jamil Maihmmy. 10. Teruntuk istri tercinta Diana Susanti yang tidak pernah lelah
memberikan semangat dan dorongan kepada penulis untuk dapat menyelesaikan penulisan tesis ini, serta untuk putri tercinta Adila Shidqia Humaira yang selalu menjadi penyemangat bagi penulis. 11. Rekan-rekan kerja Tenaga Ahli Fraksi dan Tenaga Ahli Anggota Fraksi
Partai Amanat Nasional DPR RI dan teman-teman satu organisasi di Pemuda Muhammadiyah dan Himpunan Mahasiswa Islam yang tidak dapat penulis sebut satu persatu.
Penulis juga sekaligus memohon maaf apabila tidak dapat menuliskan semua nama yang turut serta membantu secara keseluruhan. Akhirnya, melalui karya tulis sederhana ini Penulis mengharapkan saran dan masukan, agar tesis ini dapat bermanfaat bagi pengembangan keilmuan ekonomi Islam.
Jakarta, 3 September 2020
v ABSTRAK
Tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk mengetahui prinsip -prinsip jual beli online yang sesuai dengan syariat Islam, serta untuk menganalisis kesesuaian antara praktik jual beli online yang terjadi pada situs e-commerce Islam di Indonesia dengan prinsip-prinsip jual beli online yang sesuai dengan syariat Islam.
Penelitian ini merupakan jenis penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Sumber data yang digunakan adalah sumber data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh dari hasil wawancara dengan pengelola situs e-commerce Islam dan dari hasil observasi langsung pada masing-masing e-commerce
Islam yang menjadi objek penelitian. Sementara data sekunder diperoleh dari literatur-literatur yang berhubungan dengan e-commerce Islam di Indonesia, baik melalui literatur cetak maupun literatur online. Teknik analisis data dalam penelitian ini menggunakan teknik analisis yang dikembangkan oleh Miles dan Huberman, yaitu dengan teknik pengumpulan data, reduksi data (data reduction), penyajian data (data display), dan penarikan kesimpulan atau verifikasi (conclusion drawing / verification).
Penelitian ini menunjukkan bahwa prinsip-prinsip jual beli online dalam Islam telah terimplementasi pada praktik jual beli melalui situs e-commerce Islam di Indonesia. Prinsip-prinsip tersebut meliputi prinsip kerelaan (rid{aiyah), prinsip kemanfaatan atau kemaslahatan, prinsip keadilan, ketuhanan (tauhid), prinsip kejujuran, prinsip kebebasan, prinsip etika (akhlak), serta prinsip kebenaran (s}ahih). Selain itu, penelitian ini juga menunjukkan bahwa penerapan prinsip -prinsip jual beli online pada masing-masing e-commerce terjadi secara unik sesuai dengan kekhasan masing-masing e-commerce.
Penelitian ini mendukung laporan State of the Global Economy tahun 2015 yang dirilis oleh Thomson Reuters, yang menunjukkan bahwa Islamic Digital Economy telah mengalami perkembangan di negara-negara muslim termasuk Indonesia. Selain itu, penelitian ini juga mendukung penelitian Hanudin Amin (2008) yang menyatakan bahwa suatu transaksi elektronik dapat disebut sebagai e-bisnis Islam jika dalam praktik pengelolaanya menerapkan prinsip-prinsip sebagaimana ajaran Islam, serta penelitian Muhammed Khalil (2013) yang menyatakan bahwa konsep jual beli melalui e-commerce dapat diterapkan dalam Islam.
vi
ا صلختسم
ثحبل
كللإا ءارشلاو عيبلا ئدابم ةفرعم لىإ ثحبلا اذه فدهي
ليلحتلو ،ةيملاسلإا ةعيرشلل اًقفو نيوتر
ئداببم ايسينودنإ في ةيملاسلإا ةينوتركللإا ةراجتلا في هب تم يذلا نيوتركللإا ءارشلاو عيبلا قيبطت ينب ةمئلالما
لإا ةعيرشلل اًقفو تنترنلإا ىلع ءارشلاو عيبلا
.ةيملاس
ارد هعونو ،يفيكلا لخدلما وه ثحبلا اذه في مدختسلما لخدلما
تناايبلا ردصمو .ةيفصو ةس
عم ةلباقلما نم ةلوصمح ةيساسلأا تناايبلا .ةيوناثلاو ةيساسلأا تناايبلا اهم ،ناعون ثحبلا اذه في مدختسلما
لع ةرشابلما ةظحلالما نمو ةيملاسلإا ةينوتركللإا ةراجتلا عقوم ريدم
تلا لك ى
لإا ةراج
تيلا ةيملاسلإا ةينوتركل
ناايبلاو .ثحبلا عوضوم تناك
ةيملاسلإا ةينوتركللإا ةراجتلبا ةقلعتلما عجارلما نم ةلوصمح ةيوناثلا ت
في
تناايبلا ليلحتل ةمدختسلما ةقيرطلاو .تنترنلإا ىلع وأ بتكلا ةسارد للاخ نم تناك ءاوس ،ايسينودنإ
ع تناايبلا ليلتح ةقيرط يه
سيلم دن
Milesنامربوهو
Hubermanيلعافتلا تناايبلا ليلتح ةقيرط يهو
ة
تيلا
.جاتنتسلااو ،تناايبلا ضرعو ،تناايبلا ضيفتخو ،تناايبلا عجم يهو لحارم عبرأ ىلع نوكتت
عيبلا ةسرامم في اهقيبطت تم دق ملاسلإا في نيوتركللإا ءارشلاو عيبلا ئدابم نأ ثحبلا اذه جتنتسا
ءارشلاو
للاخ نم
تلا عقوم
إ في ةيملاسلإا ةينوتركللإا ةراج
أدبلما ىلع ئدابلما هذه لمشتو .ايسينودن
أدبلماو ،يرلحا أدبلماو ،يقدصلا أدبلماو ،يلهلإا أدبلماو ،ليدعلا أدبلماو ،يحلصلما وأ يعفنلا أدبلماو ،يئاضرلا
نأ ثحبلا اذه رهظأ ،كلذ لىإ ةفاضلإبا .يحيحصلا أدبلماو ،يقلاخلأا
بم قيبطت
يبلا ئدا
ءارشلاو ع
جتلا لك في نيوتركللإا
.ةينوتركلإ ةراجتلا لك صئاصلخ اقفو عادبإ هيف ةينوتركلإ ةرا
ماع يلماعلا داصتقلاا ةلود نايب ىلع ثحبلا اذه ديأو
2015يذلا زتريور نوسموت َبرخُأ يذلا
و ةيملاسلإا نادلبلا في رّوط دق يملاسلإا يمقرلا داصتقلاا نأ رهظأ
في كلذك
يسينودنإ
لىإ ةفاضلإبا .ا
ا اذه دّيأ ،كلذ
ينمأ ندوناه هثبح يذلا اثبح ثحبل
( 2008 )نأ نكتم ةينوتركللإا ةلماعلما نأ ىلع ّلد يذلا
ليلخ دملمح ثحبلا كلذكو ،ةيملاسلإا ئدابلمبا اتهرادإ ةسرامم تناك اذإ ةيملاسإ ةينوتركلإ ةراجتلبا يمست
( 2013 )ا موهفم نأ ررق يذلا
لاو عيبل
نم ءارش
للاخ
ت نكيم ةينوتركللإا ةراجتلا
.ملاسلإا في هقيبط
ةينوتركللإا ةراجتلا، ةينوتركللإا ةلماعلما ،ءارشلاو عيبلا :ةيحاتفلما تاملكلا.
vii ABSTRACT
The main purpose of this research is to know the principles of online buying and selling following Islamic Sharia, as well as to analyze the fit between the practice of buying and selling online on the site Islamic e-commerce in Indonesia with the principles of online buying and selling following Islamic law.
The research is the kind of research descriptive with a qualitative approach. The data used is the source of primary and secondary data. The primary data were obtained from interviews with the site Islamic e-commerce and the observation directly on each Islamic e-commerce. While secondary data obtained from the literature relating to Islamic e-commerce in Indonesia, either through printed literature and online literature. The data analysis techniques in this study used analytical techniques developed by Miles and Huberman, namely with data collection, data reduction techniques, data presentation (data display ), and draw conclusions or conclusion drawing (verification).
The research indicated that the principles of buying and selling online in Islam have been implemented in practice trade through Islamic e-commerce in Indonesia. These principles include the principles of willingness, principles of integrity or benefit, the principles of justice, the principles of the godhead, the principles of honesty, the principles of freedom, the principles of ethics (morality), and the principles of truth. Besides, the study also showed that the application of online buying and selling principles on each e-commerce occurred uniquely according to the peculiarities of each e-commerce.
This study supports the state of the Global Economy in 2015 released by Thomson Reuters, indicating that Islamic development of the digital economy has experienced in Muslim countries including Indonesia. Besides, the research also supports the research of Hanudin Amin (2008) stating that an electronic transaction can be referred to as Islamic e-business if the practice of management applies the principles of Islamic teachings, as well as the research of Muhammed Khalil (2013) stating that the concept of buying and selling through e-commerce can be applied in Islam.
viii
PEDOMAN TRANSLITERASI ARAB-LATIN
Pedoman transliterasi Arab-Latin yang digunakan dalam karya ilmiah ini adalah sebagai berikut:
A. Konsonan
Huruf Lambang Huruf Lambang
ا
tidak dilambangkanط
Ṭب
Bظ
ẓت
Tع
‘ث
Ṡغ
Gج
Jف
Fح
Ḥق
Qخ
Khك
Kد
Dل
Lذ
Żم
Mر
Rن
Nز
Zو
Wس
Sه
Hش
Syء
‘ص
Ṣي
Yض
ḍ B. Vokal TunggalAksara Arab Aksara Latin
Simbol Nama (Bunyi) Simbol Nama (Bunyi)
َا
fathah A aا
kasrah I iُا
dhammah U uC. Vokal Rangkap
ix
Simbol Nama (Bunyi) Simbol Nama (Bunyi)
َي
fathah dan ya Ai a dan iَو
kasrah dan waw Au a dan uContoh :
ََفْيَك : kaifa ََل ْوَه : haula
D. Maddah
Aksara Arab Aksara Latin
Harakat
Huruf Nama (Bunyi) Simbol Nama (Bunyi)
و َ اََ
fathahََdan alif, fathah danwaw Ā a dan garis di atas
ي َ
kasrah dan ya Ī i dan garis di atasيَُ
dhammah dan ya Ū u dan garis di atasContoh :
ََتاَم : ma>ta َُت ْوُمَي : yamu>tu
E. Ta’ Marbûtah
Transilterasi ta’ marbu>t}ah ditulis dengan “h”, baik dirangkai dengan kata sesudahnya maupun berdiri sendiri.
Contoh
َُةَل ِضاَفْلاَُةَنْيِدَمْلَا : al-madânah al-fâḍilah
F. Syaddah (Tasydid)
Syaddah atau tasydid yang dalam sistem tulisan Arab dilambangkan dengan sebuah tanda tasydid (َ ّ), maka dalam translitera si ini dilambangkan dengan perulangan huruf (konsonan ganda) yang diberi tanda syaddah.
Contoh :
اَنَّب َر : rabbanâ
G. Tanda Sandang ( لا)
kata sandang yang dilambangkan dengan huruf لا (alif lam ma’arifah) ditransliterasi seperti biasa, al-, baik ketika diiku ti oleh huruf
syamsiah maupun huruf qamariah. Kata sandang ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya dan dihubungkan dengan garis mendatar (-).
Contoh :
َُسْمَشْلَا : al-syamsu (bukan asy-syamsu) ََزْل َّزلَا
x DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ... iii
ABSTRAK ………. v
PEDOMAN TRANSLITERASI ... viii
DAFTAR ISI ……….. x
DAFTAR TABEL ... xii
DAFTAR GAMBAR ... xiii
BAB I: PENDAHULUAN A. Latar Belakang ...………. 1
B. Permasalahan ……….. 11
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian ……….. 14
D. Kajian Pustaka ………. 15
E. Metodologi Penelitian ………. 25
F. Sistematika Penulisan ………. 30
BAB II: DISKURSUS JUAL BELI ONLINE DALAM ISLAM A. Jual Beli dalam Islam ……….. 31
1. Pengertian Jual Beli ……….. 31
2. Dasar Hukum Jual Beli ………. 33
3. Syarat dan Rukun Jual Beli ……….. 36
4. Jenis Jual Beli ……… 42
5. Jual Beli yang diperbolehkan dan jual beli yang dilarang ………. 43
B. Prinsip-Prinsip Jual Beli dalam Islam ………... 45
1. Prinsip Ekonomi Islam ……… 45
2. Prinsip Jual Beli dalam Islam ……….. 49
3. Etika dan Moral dalam Jual Beli ………. 56
C. Jual Beli Online dalam Islam ………. 59
BAB III: E-COMMERCE DAN E-COMMERCE ISLAM DI INDONESIA A. Diskursus E-Commerce ………. 61
1. Pengertian E-Commerce ………. 61
2. Jenis E-Commerce ………... 63
B. Perkembangan e-Commerce di Indonesia ………. 68
C. Diskursus E-Commerce Islam ……… 74
D. E-Commerce Islam di Indonesia ……… 80
E. Ulasan Tentang Objek Penelitian ……….. 83
1. Hijup.Com ……… 83
2. Saqina.Com ……….. 86
3. MusliMarket.Com ……… 87
BAB IV: PENERAPAN PRINSIP-PRINSIP JUAL BELI DALAM ISLAM PADA PRAKTIK E-COMMERCE A. Penerapan Prinsip-Prinsip Jual Beli dalam Islam ……….. 91
xi
B. Praktik Jual Beli pada e-Commerce Islam di Indonesia ………... 113
1. Praktik Jual beli pada Hijup.Com ……… 111
2. Praktik Jual beli pada Saqina.Com ………. 120
3. Praktik Jual beli pada MusliMarket.Com ………... 127
C. Analisis Penerapan Prinsip-Prinsip Jual Beli dalam Islam pada Praktik e-Commerce Islam. ………. 137
1. Penerapan Prinsip Jual Beli dalam Islam pada e-commerce Hijup.com ………. 137
2. Penerapan Prinsip Jual Beli dalam Islam pada e-commerce Saqina.com ……… 146
3. Penerapan Prinsip Jual Beli dalam Islam pada e-commerce Muslimarket.com ……….. 156
BAB V: PENUTUP A. Kesimpulan ……… 179 B. Saran ……….. 180 DAFTAR PUSTAKA ……….. 181 GLOSARI ...……….. 198 INDEKS ...……….. 202 BIODATA PENULIS ..………... 204
xii
DAFTAR TABEL
Tabel 1.1 Penelitian Terdahulu yang Relevan 19 Tebel 2.1 Prinsip-Prinsip Jual Beli dalam Islam 59
Tabel 3.1 Jenis E-Commerce 65
Tabel 3.2 Model Bisnis E-Commerce di Indonesia 67 Tabel 3.4 \Perkembangan E-Commerce di Indonesia 71 Tabel 3.5 Negara Muslim teratas di berbagai kategori bisnis syariah 77 Tabel 3.6 Katagori Usaha “Islamic Digital” di berbagai sektor bisnis 79 Tabel 4.1 Penerapan Prinsip Jual Beli Islam 171
xiii
DAFTAR GAMBAR
Gambar 3.1 Perbandingan jumlah Pelanggan dan Perusahaan ISP di Indonesia Tahun 2012 – 2015 70 Gambar 3.2 Perbandingan Jumlah Pengunjung situs e-commerce
di Indonesia 72
Gambar 3.3 Peringkat negara-negara muslim di berbagai katagori bisnis syariah tahun 2014-2015 76 Gambar 3.4 Perkembangan katagori bisnis syariah di negara-negara
muslim tahun 2014-2015 76
Gambar 4.1 Halaman login situs Hijup.com 118 Gambar 4.2 Halaman utama situs Hijup.com 118 Gambar 4.3 Halaman deskripsi produk situs Hijup.com 119 Gambar 4.4 Halaman Tas Belanja situs Hijup.com 119 Gambar 4.5 Halaman Shipping situs Hijup.com 120 Gambar 4.6 Halaman Pembayaran situs Hijup.com 120 Gambar 4.7 Informasi Order via email oleh Hijup.com 121 Gambar 4.8 Halaman Konfirmasi Pembayaran situs Hijup.com 121 Gambar 4.9 Halaman Login situs Saqina.com 126 Gambar 4.10 Halaman deskripsi produk situs Saqina.com 126 Gambar 4.11 Halaman Keranjang Belanja situs Saqina.com 127 Gambar 4.12 Halaman Chekout situs Saqina.com 127 Gambar 4.13 Tagihan Pembayaran via email oleh Saqina.com 128 Gambar 4.14 Halaman Konfirmasi pembayaran situs Saqina.com 128 Gambar 4.15 Halaman Login situs Muslimarket.com 134 Gambar 4.16 Halaman deskripsi produk situs Muslimarket.com 134 Gambar 4.17 Halaman Keranjang Belanja situs Muslimarket.com 135 Gambar 4.18 Halaman Info Pengiriman situs Muslimarket.com 135 Gambar 4.19 Halaman detail Pengiriman situs Muslimarket.com 136 Gambar 4.20 Halaman Chekout situs Muslimarket.com 136
1 BAB I PENDAHULUAN
Uraian pada Bab I ini menjelaksan tentang urgensi penelitian ini dilakukan. Di dalamnya membahas topik seputar alasan atau latarbelakang penelitian, rumusan masalah yang meliputi identifikasi masalah, perumusan masalah, dan pembatasan masalah, tujuan penelitian, siginifikansi dan manfaat penelitian, penelitian terdadulu yang memiliki relevansi, metode penelitian, serta sistematika penulisan. A. Latar Belakang
Seiring dengan perkembangan dan kemajuan peradaban ummat manusia, tuntutan manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya juga semakin berkembang. Jenis kebutuhan manusia akhirnya semakin beragam pula, sehingga cara untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan tersebut juga semakin beragam dan variatif. Salah satu cara manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya adalah dengan melakukan tukar menukar barang serta transaksi jual beli dengan manusia yang lain. Transaksi ini terjadi karena manusia sadar bahwa ia tidak mampu memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri.1
Pada awalnya, untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, manusia hanya mengandalkan alam sebagai sarana pemenuh kebutuhan mereka atau membuat sendiri segala sesuatu yang mereka butuhkan2. Namun, dalam perkembangan berikutnya, seiring dengan semakin berkurang pasokan sumber daya alam serta semakin berkembang tingkat berfikir manusia, dalam memenuhi kebutuhan hidupnya akhirnya manusia melakukan transaksi dengan manusia lain, salah satunya adalah dengan melakukan praktik tukar menukar barang dengan barang (barter)3. Praktik barter ini terjadi sebelum manusia mengenal uang sebagai alat tukar menukar4, baru setelah kebutuhan manusia semakin beragam dan kompleks, praktik barter mulai ditinggalkan dan kemudian berkembang
1 Sri Nurhayati dan Wasilah, Akuntansi Syariah di Indonesia - Edisi 4 (Jakarta: Penerbit
Salemba Empat, 2015), 160.
2 Cara pemenuhan kebutuhan dengan sepenuhnya menggantungkan alam (in natural) adalah
bentuk cara pemenuhan kebutuhan manusia yang paling tua. Bentuk dari cara ini adalah budaya berburu dan meramu. Lihat: Tedi Sutardi, Antropologi - Mengungkap Keragaman
Budaya (Bandung: PT. Setia Purna Inves, 2003), 39.
3 Sistem barter (pertukaran langsung) adalah bentuk perdagangan yang pertama kali dikenal
oleh manusia. Sistem ini terjadi apabila ada dua pihak yang memiliki kepentingan dan minat yang sama untuk melakukan pertukaran barang. Namun, sistem ini seringkali gagal akibat ketiadaan dukungan informasi dan transportasi yang memungkinkan terjadinya pertemuan antara pihak-pihak yang melakukan barter. Lihat: Eduardus Tandelilin,
Portofolio dan Investasi, Teori dan Aplikasi - Edisi Pertama (Yogyakarta: Penerbit
Kanisius, 2010), 464.
4 Imamul Arifin, Membuka Cakrawala Ekonomi – Untuk Kelas X Sekolah Menengah Atas
2
menjadi tukar menukar barang dengan uang atau yang lebih dikenal sebagai bentuk transaksi jual beli.5
Transaksi jual beli sesungguhnya memiliki posisi yang sangat penting dalam kehidupan ummat manusia. Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, manusia tidak bisa menghindarkan diri dari proses jual beli. Melalui transaksi jual beli inilah manusia dapat mendapatkan barang-barang yang dibutuhkan untuk menunjang kehidupannya dengan lebih mudah dan efisien. Tidak hanya itu, melalui transaksi jual beli ini pula, manusia mampu mendapatkan kuntungan atau nilai lebih guna meningkatkan taraf dan kualitas hidup mereka. Sebagaimana diketahui bahwa jual beli sejatinya adalah proses perolehan keuntungan yang didasarkan atas supply dan demand, yakni pembeli memperoleh manfaat untuk menggunakan suatu produk dengan membayar harga tertentu, sementara penjual memperoleh keuntungan dari harga jual produk yang diinginkan pembeli.6
Bahkan, dalam perkembangannya hingga saat ini, transaksi jual beli tidak sekedar menjadi sarana untuk saling memenuhi kebutuhan hidup manusia semata. Tetapi lebih dari itu, transaksi jual beli juga sekaligus menjadi cara untuk mencari keuntungan ekonomi dengan cara-cara yang beragam. Sejalan dengan hal tersebut, transaksi jual beli saat ini juga tidak lagi berpusat pada persoalan pemenuhan kebutuhan mendasar manusia seperti kebutuhan sandang, papan dan pangan semata, melainkan juga telah menyentuh pada pemenuhan kebutuhan lain yang tidak mendasar (kebutuhan penunjang), seperti pemenuhan kebutuhan atas keinginan atau hobi, sampai pada kebutuhan atas pengakuan yang dapat menunjang performa seseorang.7
Dalam pandangan Islam, jual beli juga memiliki posisi yang cukup penting. Ummat Islam sangat dianjurkan untuk melakukan transaksi jual beli guna memenuhi kebutuhannya. Namun, di saat yang sama Islam memberikan syarat dan batasan bahwa jual beli harus dilakukan dengan prinsip saling rela, yakni jual beli itu dilakukan dengan penuh kesadaran di atas landasan sikap saling rela di antara pihak penjual dan pembeli8, sebagaimana firman Allah dalam QS al-Baqarah ayat 275 dan QS an-Nisa’ ayat 29.
5 T. Gilarso, Pengantar Ilmu Ekonomi Makro Edisi Revisi (Yogyakarta: Penerbit Kanisius,
2004), 26.
6 Muhammad Sulaiman dan Aizuddinur Zakaria, Jejak Bisnis Rasul (Jakarta: Penerbit
Hikmah, 2010), 362.
7 Berdasarkan teori segitiga ekonomi, kebutuhan manusia terbagi menjadi 3 hal, yakni
kebutuhan primer, kebutuhan sekunder, dan kebutuhan tersier. Teori segitiga ekonomi ini dapat didefinisikan sebagai suatu model imajiner dari kebutuhan hidup dasar manusia yang menjadi motif ekonomi paling pokok bagi setiap manusia. Lihat: Muhammad Arfah Rahman, Teori Segitiga Ekonomi (Yogyakarta: Penerbit Garudhawaca, 2016), 37.
8 Ahmad bin ‘Abdurrazaq ad-Duwaisy (terj), Fatwa-Fatwa Jual Beli oleh Ulama’-ulama’
3
ُموُقَ ي اَمَك َّلا إ َنوُموُقَ ي َلا
۟اٰوَ بّ رلا َنوُلُكَْيَ َني ذَّلا
ْمَُّنََّ بِ َك لٰذ ّ سَمْلا َن م ُنٰطْيَّشلا ُهُطَّبَخَتَ ي ى ذَّلا
۟آوُلاَق
َُّللَّا َّلَحَأَو ۟اٰوَ بّ رلا ُلْث م ُعْيَ بْلا اََّنَّ إ
َم ۥُهَءٓاَج نَمَف ۟اٰوَ بّ رلا َمَّرَحَو َعْيَ بْلا
َفَلَس اَم ۥُهَلَ ف ٰىَهَ تناَف ۦ هّ بَّر نّ م ٌةَظ عْو
ُبٰحْصَأ َك ئٰٓل۟وُأَف َداَع ْنَمَو َّللَّا َلى إ ٓۥُهُرْمَأَو
ْمُه راَّنلا
ٰخ اَهي ف
َنوُد ل
“Orang-orang yang memakan riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan setan karena gila. Yang demikian itu, mereka berkata bahwa jual beli sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Barang siapa mendapat peringatan dari Tuhannya, lalu ia berhenti, maka apa yang telah diperolehnya dahulu menjadi miliknya, dan urusannya (terserah) kepada Allah. Barangsiapa mengulangi, maka mereka itu penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya”. (QS al-Baqarah: 275)9
طٰبْل با مُكَنْ يَ ب مُكَلٰوْمَأ
۟آوُلُكَْتََلا ۟اوُنَماَءَني ذَّلااَهُّ يَٰٓيَ
ْمُكَسُفنَأ ۟آوُلُ تْقَ ت َلاَو ْمُكنّ م ٍضاَرَ ت نَع ًةَرٰ تِ َنوُكَت نَأ َّٓلا إ ل
اًمي حَر ْمُك ب َناَك ََّللَّا َّن إ
“Wahai orang-orang yang beriman. janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dalam perdagangan yang berlaku atas dasar suka sama-suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu”. (QS an-Nisa: 29)10Bahkan lebih jauh, Islam juga menganjurkan manusia untuk bekerja dan melakukan perniagaan serta menghindarkan diri dari sikap meminta-minta dalam mencari harta untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Sejalan dengan hal tersebut, terdapat sebuah hadits yang sangat populer yang selama ini dijadikan sebagai dasar tentang urgensi perniagaan, yakni sebuah hadits yang menyatakan bahwa 9 dari 10 pintu rizki adalah perniagaan.11 Selain itu, dalam sebuah hadits lain yang diriwayatkan oleh al-Bazzar al-T}abrani dinyatakan bahwa suatu ketika Rasulullah ditanya tentang jenis pekerjaan apa yang paling utama, lalu Rasulullah menjawab bahwa pekerjaan yang paling utama adalah perniagaan yang baik dan pekerjaan seseorang dengan tangan nya sendiri.12 Sejalan dengan hadits tersebut, dinukil dari kitab Muhktashar Sahih Bukhari, 9 Kementerian Agama Republik Indonesia, Al-Quran dan Terjemahannya (Bandung: PT.
Sigma Examedia Arkanleema, 2012), 47
10 Kementerian Agama Republik Indonesia, Al-Quran dan Terjemahannya (Bandung: PT.
Sigma Examedia Arkanleema, 2012), 83
11 Hadits tersebut selama ini sering dijadikan sebagai dasar dan penguat untuk menunjukkan
arti penting pernigaan. Tetapi menurut beberapa penelitian, hadits ini adalah hadits Mursal. http://www.anjrahuniversity.com/sembilan-dari-sepuluh-9-dari-10-pintu-rejeki-dipegang-pengusaha-benarkah-ini-hadis/ (diakses pada tanggal 11 Agustus 2016 pukul 11.25 WIB).
4
diriwayatkan dari Miqdam bahwa Rasulullah SAW bersabda, tidak ada makanan yang lebih baik bagi seseorang kecuali makanan yang diperoleh dari keringatnya sendiri (dari usahanya sendiri), bahkan Nabi Daud AS juga makan dari hasil keringatnya sendiri;
اَم
َلَكَأ
ٌدَحَأ
اًماَعَط
ُّطَق
اًْيَْخ
ْن م
ْنَأ
َلُكَْيَ
ْن م
لَمَع
ه دَي
،
َّن إَو
َّ بَن
َّللَّا
َدُواَد
–
هْيَلَع
ُمَلاَّسلا
–
َناَك
ُلُكَْيَ
ْن م
لَمَع
ه دَي
“tidak ada makanan yang lebih baik bagi seseorang kecuali makanan yang diperoleh dari keringatnya sendiri, Nabi Daud juga makan dari hasil keringatnya sendiri” (HR Imam Bukhari)13
Berdasarkan hadits tersebut di atas, paling tidak dapat disimpulkan bahwa perniagaan (jual beli) memang menjadi hal yang sangat diperhatikan dalam Islam. Lebih dari itu, Islam memberikan ketentuan yang cukup ketat dalam praktik peniagaan atau jual beli. Dalam pelaksanaan kegiatan jual beli, Islam sangat mengedepankan prisip saling rela (rid}a) dan juga menghindari riba. Sebagaimana firman Allah “Allah menghahalkan jual beli dan mengharamkan riba” (QS al-Baqarah: 275). Dalam menjalankan proses perniagaan, Islam juga memiliki panduan yang sangat tegas. Al-Qur’an sebagai sumber hukum Islam dan sebagai pedoman hidup ummat Islam telah mengatur secara tegas mengenai kegiatan perniagaan. Al-Qur’an sangat mendorong dan memberikan motovasi kepada ummat Islam untuk melakukan perniagaan dalam kehidupan mereka. Di saat yang sama, al-Qur’an juga memberikan pengakuan dan legitimasi atas kegiatan perniagaan serta memberikan kaidah-kaidah pokok yang dapat dijadikan sebagai rujukan dalam kegiatan perniagaan tersebut. Beberapa di antaranya adalah bahwa al-Qur’an mengakui hak individu dan kelompok untuk memiliki kekayaan tanpa paksaan, al -Qur’an mengakui otoritas delegatif14 harta yang dimiliki secara legal oleh individu maupun kelompok, al-Qur’an memberikan kemerdekaan penuh untuk melakukan transaksi apa saja sesuai dengan batas-batas yang ditentukan oleh syariat Islam, serta al-Quran memandang bahwa kekayaan adalah sesuatu yang tidak bisa diganggu gugat dan tindakan penggunaan harta orang lain melalui cara yang tidak halal tanpa izin pemilik yang sah merupakan perbuatan yang dilarang.15
Seiring dengan perkembangan ummat manusia, berbagai perkembangan di berbagai bidang turut pula mengikutinya, termasuk
13 Imam Az-Zabidi, Ringkasan Shahih Bukhari (Bandung: Penerbit Jabal, 2015), 300. 14 Istilah otoritas delegatif bermakna kepemilikan kekuasaan untuk memerintahkan sesuatu.
Pemaknaan ini diambil dari makna kata otoritas yaitu hak untuk melakukan tindakan atau peraturan untuk memerintah orang lain, dan delegasi bermakna penyerahan atau pelimpahan wewenang. www.kbbi.web.id/otoritas dan www.kbbi.web.id/delegasi (diakses pada tanggal 12 Agustus 2016 pukul 12.30 WIB)
15 Veithzal Rivai, dkk, Islamic Transaction Law in Bussiness – dari Teori ke Praktik
5
perkembangan di bidang teknologi dan informasi. Oleh karenanya, perniagaan sebagai bagian dari kehidupan ummat manusia akhirnya mau tidak mau harus bersentuhan langsung dengan perkembangan teknologi, tidak terkecuali aspek perdagangan dalam Islam. Walaupun sesungguhnya perkembangan teknologi memberikan pengaruh pada seluruh aspek kehidupan dan kepada seluruh lapisan masyarakat, tidak hanya terbatas pada proses perniagaan tertentu dan pada masyarakat tertentu semata. Namun, Islam dan masyarakat muslim sebagai bagian dari masyarakat dunia, tentu tidak bisa menghindarkan diri dari perkembangan teknologi, termasuk dalam persoalan perniagaaan yang dilakukan oleh masyarakat muslim.
Perkembangan teknologi informasi yang berlangsung sangat pesat seperti saat ini, akhirnya memberikan pengaruh yang luar biasa dalam kehidupan ummat manusia. Kecanggihan teknologi modern dan keterbukaan jaringan informasi global yang semakin transparan telah membawa manusia ke dalam suatu peradaban yang oleh Toffler disebut sebagai gejala masyarakat gelombang ketiga16. Masyarakat gelombang ketiga ini ditandai dengan munculnya internet yang memungkinkan adanya transformasi secara cepat ke seluruh jaringan dunia melalui dunia maya. Dengan teknologi internet inilah, perilaku manusia (human action), interaksi antar manusia (human interaction), serta hubungan kemanusian (human relation) mengalami perubahan yang sangat singnifikan. Jaringan komunikasi global yang semakin canggih akhirnya menciptakan tantangan-tantangan baru terhadap tata cara pengaturan transaksi sosial maupun transaksi ekonomi.17
Sejatinya teknologi adalah sesuatu yang objektif dan netral. Baik dan buruknya sangat ditentukan oleh siapa yang menggunakan teknologi tersebut, serta situasi dan kondisi yang melingkupinya. Teknologi dapat membawa dampak positif bagi kesejahteraan manusia, demikian pula sebaliknya, teknologi juga dapat memberikan dampak negatif berupa ketimpangan dalam kehidupan manusia dan kerusakaan alam. Istilah “Man behind the Gun” sangat tepat untuk menggambarkan netralitas teknologi tersebut.18
16 Menurut Alvin Toffler dalam bukunya The Third Wave tahun 1980 sebagaimana dikutip
oleh Agus Dharma menyatakan bahwa perkembangan masyarakat dibagi menjadi tiga gelombang; yakni masyarakat gelombang pertama yang ditandai sebagai masyarakat yang menggunakan sumber alam sebagai sumber utama, masyarakat gelombang kedua yang sering disebut sebagai masyarakat industri, serta masyarakat gelombang ketiga yang juga disebut sebagai masyarakat peradaban informasi. Lihat: Agus Dharma, “Peran Sains dan Teknologi dalam Percepatan Pembangunan” (Fakultas Teknik Sipil Univ ersitas Gunadarma),
http://agus_dh.staff.gunadarma.ac.id/Downloads/files/3699/Peran+Sains+%26+Teknologi+ dlm+Percepatan+Pembangunan.pdf (diakses pada tanggal 14 Desember 2016).
17 M. Husnaini, “Bisnis e-Commerce dalam Perspektif Islam”, Jurnal Ilmu Dakwah dan
Pengembangan Komunitas, Vol 9, No 2 (Juli 2014): 187.
18 Wahyuddin Achmad dan Saifulloh Z Muhibbin, Pendidikan Agama Islam untuk
6
Sebagaimana disitir oleh Toffler di atas, pemanfaatan teknologi dalam kehidupan masyarakat sungguh tidak bisa lagi dihindarkan. Keterlibatan internet dengan segala variannya juga turut mewarnai perilaku dan pola interaksi manusia satu dengan manusia yang lain, yang pada perkembangannya, juga berlaku dalam transaksi ekonomi antara manusia satu dengan manusia yang lain. Berbagai kemudahan yang melekat pada teknologi modern memberikan alternatif baru bagi manusia dalam memenuhi kebutuhan mereka. Tanda-tanda keterlibatan internat dalam transaksi ekonomi sungguh telah nyata di depan mata. Pergeseran cara jual beli masyarakat dari tatap muka ke online adalah sebuah fenomena yang tidak bisa terbantahkan. Hal ini semakin diperkuat dengan munculnya situs-situs jual beli online yang semakin hari semakin menunjukkan eksistensinya. Pergeseran cara jual beli tersebut didorong oleh pertumbuhan pengguna smartphone dan internet yang semakin tinggi.19
Kemunculan situs-situs perdagangan online atau yang lazim disebut e-commerce seperti Amazon, Alibaba, e-Bay, dan sederet nama e-commerce
besar lainnya semakin menunjukkan bahwa keterlibatan internet dalam transaksi ekonomi adalah suatu keniscayaan. Bahkan, dalam perkembangan terbaru, khususnya di Indonesia, nama-nama perusahaan retail besar seperti Matahari Mall telah merambah dunia online sebagai bentuk perluasan bisnis dengan mendirikan situs mataharimall.com. Tidak hanya itu, beberapa layanan keuangan di Indonesia juga mulai melirik pasar digital sebagai upaya untuk memperbesar dan memperluas usaha yang mereka lakukan.20
Beberapa negara berkembang dewasa ini mulai menyadari tentang urgensi pengaturan e-commerce dalam rangka peningkatan perekonomian di suatu negara. Malaysia misalnya, dalam memberikan respon terhadap perkembangan e-commerce, Pemerintah Malaysia ikut serta dalam membangun infrastruktur teknologi agar sistem e-commerce dapat dinikmati oleh seluruh masyarakat Malaysia.21 Tidak hanya itu, negara Bangladesh yang sedang berkembang juga turut merasakan perubahan dengan keterlibatan e-commerce dalam kegiatan perekonomian. Bahkan berdasarkan penelitian yang dilakukan SM Faridul Islam dari Khwaja Yunus Ali University of Enayetpur menyebutkan bahwa, bisnis e-commerce telah memberikan dampak yang cukup luas dalam dinamika bisnis di Bangladesh. Diantaranya adalah
19
http://www.antaranews.com/berita/442347/pergeseran-transaksi-konvensional-ke-online-semakin-nyata (diakses pada tanggal 15 Agustus 2016 pada pukul 15.00 WIB ).
20 https://id.techinasia.com/talk/bagaimana-tren-startup-di-tahun-2016-mendatang (diakses
pada tanggal 15 Agustus 2016 pukul 15.30 WIB)
21 Che Mohd Zulkifli Che Omar and Anas.T, “E-commerce in Malaysia: Development,
Implementation, and Challenges”, International Review of Management and Business
7
perubahan model bisnis di beberapa bidang kehidupan seperti pendidikan, transporasi, pemasaran, jasa, dan layanan pembayaran keuangan.22
Selain itu, keterlibatan internet dalam transaksi ekonomi juga sangat dirasakan oleh masyarakat Indonesia. Sebagai negara dengan jumlah penduduk yang besar serta ditopang dengan layanan internet yang semakin membaik, membuat situs-situs perdagangan online di Indonesia tumbuh dengan sangat cepat. Bahkan, jumlah transaksi yang tercatat di pasar online Indonesia terbilang sangat fantasis. Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia mencatat nilai transksi online pada tahun 2014 sebesar US$ 12 miliar atau sekitar Rp 150 Triliun23 dan pada tahun 2016 meningkat hingga US$ 30 miliar atau setara dengan Rp 394 triliun.24
Sejalan dengan hal tersebut, e-commerce di Indonesia juga mengalami perkembangan yang sungguh luar biasa cepat. Situs-situs e-commerce dengan beragam corak mulai bermunculan, mulai dari e-commerce berjenis
marketplace seperti Tokopedia.com dan Bukalapak.com, e-Commerce B2B, B2C, C2C, hingga metamorfosa perusahaan-perusahaan offline menjadi onlie seperti matahari yang memiliki mataharimall.com, alfamart yang memiliki situs alfacart.com, serta indomaret yang memiliki situs klikindomaret.com. Melihat perkembangan e-commerce yang sedemikian besar, pemerintah akhirnya turun tangan dengan memberikan perhatian yang khusus dan serius dalam model bisnis e-commerce ini. Salah satunya yaitu dengan program Harbolnas (hari belanja online nasional) yang selalu rutin dilaksanakan setiap tahun pada pertengahan bulan Desember sejak tahun 2012, yang tujuan utamanya adalah untuk memberikan edukasi kepada masyarakat tentang belaja online.25
Apabila dilihat secara utuh, semua e-commerce di Indonesia menyasar dan menjadikan seluruh penduduk Indonesia sebagai target calon pembeli yang sangat potensial. Tidak ada batasan mengenai agama, suku, maupun ras tertentu. Sekalipun terjadi pembatasan, hal itu lebih dilatarbelakangi oleh pertimbangan jenis produk yang dijual, sehingga situs e-commerce harus membatasi diri untuk memilih segmen masyarakat tertentu. Ketiadaan pembatasan tersebut tentu sangat bisa difahami dan dimaklumi mengingat e-commerce di Indonesia tunduk dan patuh pada Undang-Undang tentang Informasi dan Transaksi Elektronik, yang di dalamnya juga tidak memberikan batasan mengenai jenis e-commerce yang harus terbatas pada agama, suku, maupu ras tertentu. Konsekuensinya, pertimbangan-pertimbangan nilai-nilai
22 SM Faridul Islam, “E-commerce: Its Status and Impact on Business in Bangladesh”,
Scholar Journal of Business and Social Sciense, Vol.1 No. 1 (2015), 65-72.
23https://kominfo.go.id/index.php/content/detail/4540/Pemerintah+Akan+Tingkat+Transaks
i+E-Commerce/0/berita_satker (diakses pada tanggal 26 Agustus 2016 pukul 13.25 WIB)
24http://www.cnnindonesia.com/teknologi/20160427160429
-185-126999/transaksi-e-commerce-indonesia-di-2016-ditaksir-rp394-triliun/ (diakses pada tanggal 26 Agustus 2016 pukul 13.40 WIB)
8
agama akhirnya tidak menjadi hal yang penting untuk diterapkan dalam transaksi e-commerce. Padahal, jika merujuk pada data statistik, jumlah penduduk di Indonesia mayoritas beragama Islam.26 Hal tersebut tentu seharusnya dijadikan sebagai bahan pertimbangan apabila suatu e-commerce
memilih segmen umat Islam sebagai target pasar mereka. Selain itu, persoalan jual beli (baik offline maupun online) adalah bagian dari mua’amalah yang telah diatur ketentuan dan prinsip-prinsip umumnya oleh Islam27.
Di saat yang sama, potensi pasar online bagi masyarakat muslim di Indonesia sungguh sangat besar. Komunitas teknologi asia, Tech in Asia
mencatat bahwa nilai pasar gaya hidup ummat Islam di Indonesia pada tahun 2012 mencapai angka USD 235 miliar.28 Bahkan, selain itu dari sisi sosiologis, ummat Islam di Indonesia adalah ummat Islam yang yang selama ini dikenal memiliki karakter tawassut} (moderat). Sifat inilah yang yang menjadikan Islam di Indonesia memiliki nilai lebih dalam konteks pengembangan ekonomi syariah di masa mendatang. Atau dengan kata lain, Islam Indonesia menjadi tempat yang sangat aman bagi para pelaku investasi di bidang pengembangan ekonomi syariah.29 Hal tersebut tentu tidak bisa dipandang sebelah mata. Apabila potensi sebesar itu tidak dimanfaatkan oleh ummat Islam, tentu ummat Islam hanya akan menjadi pengguna dan penikmat semata tanpa ikut merasakan nilai potensi ekonomi yang bersumber dari kekuatan masyarakat muslim Indonesia.
Seiring perjalanan waktu, situs e-commerce yang bercorak Islam perlahan mulai bermunculan. Situs-situs e-commerce tersebut menjadi pendatang baru di tengah dinamika persaingan antar situs e-commerce besar yang sudah lebih dulu ada di Indonesia. E-commerce yang bercorak Islam tersebut mucul dengan kekhasan masing-masing. Berdasarkan pengamatan penulis, terdapat tiga jenis e-commerce yang bercorak Islam. Pertama, e-commerce yang mengindentifikasi diri sebagai e-commerce Islam dengan menjadikan ummat Islam sebagai target dan market utama mereka. E-commerce jenis ini menjual segala perlengkapan dan kebutuhan masyarakat muslim sebagai basis utama produk yang diperjualbelikan. Kedua, e-commerce
yang memberikan layanan jasa seputar kegiatan-kegiatan Islam, seperti Ibadah
26 Yayasan Rumah Peneleh mencatat bahwa jumlah ummat Islam di Indonesia saat ini
sebesar 85 persen dari total keseluruhan penduduk. Lihat: http://nasional.republika.co.id/berita/nasional/umum/16/01/09/o0ow4v334 -persentase-umat-islam-di-indonesia-jadi-85-persen (diakses pada tanggal 26 Agustus 2016 pukul 14.00 WIB).
27 Ahmad bin ‘Abdurrazaq ad-Duwaisy (terj), Fatwa-Fatwa Jual Beli oleh Ulama’-ulama’
Besar Terkemuka (Bogor: Pustaka Imam Asy-Syafi’I, 2005), X.
28 https://id.techinasia.com/lima-startup-menyasar-kelas-menengah-muslim (diakses pada
tanggal 21 September 2016 pukul 20.10 WIB)
29 Mustafa Kamal Rokan, Bisnis Ala Nabi, Teladan Rasulullah SAW dalam Berbisnis
9
haji, umrah, serta ritual Islam lainnya. Ketiga, e-commerce yang menjadikan identitas Islam sebagai bagian dari nama usaha yang dijalankan.30
Dari beberapa uraian di atas dapat dimaknai bahwa kehadiran situs e-commerce yang bercorak Islam di Indonesia sesungguhnya adalah sebuah fenomena yang tidak bisa dipandang sebelah mata, apalagi diabaikan begitu saja. Potensi besar ummat Islam ditambah dengan perkembangan teknologi informasi yang kian pesat adalah modal yang sangat kuat untuk menciptakan ekosistem baru perekonomian ummat Islam yang lebih kuat melalui jalur teknologi informasi.
Oleh karena itulah, kehadiran e-commerce yang dikelola berdasarkan prinsip-prinsip Islam sesungguhnya adalah kebutuhan mutlak yang tidak bisa ditawar. Terlebih lagi, situs-situs e-commerce yang bercorak Islam sudah mulai berkembang dan semakin menunjukkan eksitensinya masing-masing. Kesadaran masyarakat muslim di Indonesia dalam memanfaatkan perkembangan teknologi juga telah mengalami peningkatan yang cukup pesat.31 Untuk itulah, jangan sampai situs-situs e-commerce yang bercorak Islam itu tidak dikelola berdasarkan prinsip Islam dan hanya sekedar menjadikan Islam dan masyarakat muslim sebagai komoditas ekonomi yang dapat dikapitalisasi. Sejalan dengan kekhawatiran tersebut, persoalan jual beli haruslah tetap dijalankan dengan prinsip-prinsip Islam, sebab Islam telah memberikan perhatian yang sangat cukup serius dalam persoalan jual beli, sekalipun jual beli tersebut dijalankan secara online. Secara lebih spesifik, Islam mengisyaratkan agar jual beli tidak merugikan salah satu pihak, oleh karena itu, aspek material dan aspek moral harus berjalan beriringan dalam rangka mencapai perekonomian yang sehat.32 Dari sini, terlihat bahwa urgensi
e-commerce yang berbasis prinsip-prinsip Islam (Syariah) adalah hal yang sangat diperlukan.
Namun, walaupun demikian, dari beberapa situs e-commerce yang bercorak Islam tersebut tidak ada satupun yang secara tegas menamakan diri sebagai e-commerce syariah, sebagaimana unit dan jenis usaha lain yang secara tegas terdapat dikotomi antara jenis usaha konvensional dan syariah. Misalnya yang terjadi pada lembaga keuangan, baik lembaga keuangan bank maupun 30 Berdasarkan penelusuran penulis, e-commerce yang mengindentifikasi sebagai
e-commerce Islam dan menjual kebutuhan masyarakat muslim di antaranya adalah situs
Hijup.com, saqina.com, serta hijabenka.com; situs e-commerce yang menyediakan layanan jasa kegiatan-kegiatan Islam misalnya adalah situs ihram.asia; dan situs e-commerce yang menggunakan identitas islam sebagai bagaian dari usahanya adalah situs muslimarket.com.
31 Lembaga Konsultan, Inventure melansir hasil peneletian terhadap masyakat muslim
menengah Indonesia (April-Mei 2014), dijelaskan bahwa konsumen muslim kelas menengah di Indonesia saat ini semakin memiliki pengalaman yang luas (knowlegdeable) dan juga semakin sadar dan melek teknologi (technology-savvy). Lihat: https://id.techinasia.com/lima-startup-menyasar-kelas-menengah-muslim (diakses pada tanggal 27 Agutsus 2016 pukul 14.00 WIB)
32 Abdullah Siddik al-Haji, Inti Dasar Hukum Dagang Islam (Jakata: Balai Pustaka, 1993),
10
non-bank, pariwisata, busana, kosmetik, hingga perhotelan. Sebagaimana kita tahu bahwa setelah kesuksesan beberapa bank di Indonesia yang menggunakan label syariah sejak tahun 1992, akhirnya menjadi “virus” bagi jenis usaha yang lain untuk ikut membuka usaha dengan label syariah.33 Berdasarkan fenomena tersebut, secara sederhana dapat dimaknai bahwa situs e-commerce yang menjalankan usahanya sesuai dengan prinsip syariah adalah e-commerce
syariah atau e-commerce Islam.
Di sisi yang lain, kebutuhan akan e-commerce yang aman, ramah, dan nyaman begitu dibutuhkan masyarakat. Hal ini terlihat dari fakta bahwa masih banyak tindakan penipuan yang dilakukan melalui dunia maya, termasuk layanan e-commerce. Kaspersky Lab sebagaimana dikutip oleh Beritasatu.com merilis bahwa Indonesia menjadi negara yang masuk dalam tiga besar negara dengan kasus penipuan online tertinggi, yakni dengan tingkat penipuan online sebesar 26 %, kemudian disusul vietnam 25%, dan India 24%.34 Untuk itulah, Indonesia sebagai negara dengan mayoritas muslim perlu mendorong upaya pengaturan e-commerce yang lebih Islami, atau paling tidak yang menjadikan prinsip-prinsip Islam sebagai panduan. Sebab apabila bisnis dijalankan dengan aturan syariah secara kaffah (menyeluruh dan terpadu), secara otomatis hal-hal seperti good corporate governance, corporate social responsibility, good business ethics, quality assurance (amanah), continuing improvement (kaizen)35, eco-friendly yang selama ini didengung-dengungkan sebagai bagian dari upaya menciptakan keseimbangan dan kesinambungan suatu bisnis, akan tercipta dengan sendirinya.36
Seiring dengan perjalanan waktu, keberadaan e-commerce halal memang semakin dibutuhkan guna menjawab dan mengatasi celah yang terdapat pada situs jual beli konvensional khususnya dalam hal kehalalan. E-commerce halal menawarkan solusi melalui berbagai cara, yaitu melalui pemenuhan prinsip-prinsip syariah dalam penyediaan barang dan jasa, saluran pembayaran, hingga manajemen logistik untuk memastikan produk dan jasa yang ditransaksikan tetap halal.37 Muhammad Naif Alotaibi dalam International Journal of Economics, Commerce, and Management 33 Anwar Basalamah, “Hadirnya Kemasan Syariah dalam Bisnis Perhotelan di Tanah Air”,
Jurnal Binus Business Review, Vol. 2, No. 2 (November, 2011): 765.
34
http://www.beritasatu.com/iptek/367462-26-konsumen-indonesia-jadi-korban-penipuan-online.html (diakses pada tanggal 15 Desember 2016, pukul 10.15 WIB)
35 Kaizen merupakan budaya kehidupan yang dikenal oleh masyarakat Jepang, yang te rdiri
atas dua kata bahasa Jepang, yaitu “kai” yang bermakna perubahan, dan “zen” yang bermakna baik. Sehingga, kata Kaizen dimaknai sebagai perubahan ke arah yang lebih baik. Lihat: Asti Musman, Kaizen for Life – Kunci Sukses Continuous Improvement di Era 4.0
(Jakarta: Anak hebat Indonesia, 2019), 5.
36 Riyanto Sofyan, Bisnis Syariah Mengapa Tidak? – Pengalaman Penerapan pada Bisnis
Hotel (Jakarta: Gramedia, 2011),118.
37 Mariana Jusop, et all, “Halal e-Commerce Measure of Success: A Consideration od Sharia
Compliance Business Practice”, World Journal of Islamic History and Civilization 7 (4), (2017): 79 – 87
11
mengemukakan bahwa terdapat empat faktor yang dapat membuat bisnis online islam (e-commerce islam) berhasil, yaitu (1) keberadaan homoislamicus atau manusia islam yang berorientasi dan menjungjung tinggi moral daripada kepentingan ekonomi semata. Konsep ini merupakan bentuk perlawanan atas konsep homoeconomicus atau manusia ekonomi, (2) dukungan ekosistem atau lingkungan bisnis, (3) dukungan regulasi dan penerapan aturan yang konsisten, serta (4) peran dan keberpihakan pemerintah.38
Berdasarkan beberapa uraian yang telah penulis jabarkan di atas, penulis bermaksud melakukan penelitian berkaitan dengan keberadaan e-commerce Islam di Indonesia, yakni dengan melihat apakah transaksi yang terjadi dan model bisnis yang dirancang oleh pengelola e-commerce benar-benar dijalankan dengan prinsip-prinsip Islam. Penelitian tersebut penulis rangkum dalam sebuah judul “Penerapan Prinsip-Prinsip Jual Beli Online dalam Islam (Studi Kasus Pada E-commerce Islam di Indonesia). Sejauh penelusuran penulis, belum ada penelitian yang fokus pada e-commerce Islam di Indonesia, apalagi sampai pada membedah proses transaksi di beberapa jenis
e-commerce yang berbeda-beda dengan pendekatan prinsip jual beli. Sekalipun ada, penelitian-penelitian tersebut lebih banyak mengupas seputar hukum transaksi melalui perangkat elektronik di toko online besar seperti Lazada Indonesia, Bukalapak, serta Tokopedia. Jarang sekali e-commerce Islam mendapatkan ulasan yang mendalam.
Alasan mendasar penulis memilih e-commerce Islam sebagai objek penelitian adalah karena fakta tentang banyaknya e-commerce bercorak Islam mulai bermunculan di Indonesia, fakta bahwa mayoritas penduduk Indonesia yang dijadikan sebagai market bagi semua e-commerce adalah beragama Islam, serta fakta bahwa sampai saat ini masih sering terjadi permasalahan seputar jual beli melalui e-commerce, seperti ketidaksesuaian antara produk versi gambar dengan produk asli, keterlambatan pengiriman, metode pembayaran, sampai permasalahan seputar tindakan penipuan yang masih sering terjadi.
B. Permasalahan
1. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah penulis uraikan di atas, ada beberapa permasalahan yang dapat identifikasi, yaitu sebagai berikut:
a. Praktik jual beli online melalui situs e-commerce di Indonesia semakin hari semakin menunjukkan perkembangan yang signifikan, akan tetapi di saat yang sama, praktik jual beli melalui e-commerce ternyata masih dibayang-bayangi oleh berbagai tindakan penipuan, baik penipuan yang menimpa pembeli maupun menimpa penjual. Laporan Digital Consumer
38 Muhammad Naif Alotaibi and Mehmed Asutay, “Islamic Banking and Islamic
e-Commerce: Principles and Realities” International Journal of Economics, Commerce, and
12
Insight 2018 yang dirilis oleh lembaga riset Experian menyebutkan bahwa rata-rata sebanyak 25% orang Indonesia pernah mengalami penipuan melalui berbagai macam e-commerce.39 Bahkan Mabes Polri pernah merilis data selama september sampai desember 2017 total kerugian masyarakat karena penipuan melalui e-commerce mencapai angka 2,2 miliar.40
b. Potensi pasar e-commerce Islam di Indonesia sangat besar dan masih berpeluang berkembang dengan pesat. Komunitas teknologi asia, Tech in Asia mencatat bahwa nilai pasar gaya hidup ummat Islam di Indonesia pada tahun 2012 mencapai angka USD 235 miliar.41 Selain itu, The State of the Global
Islamic Economy Report 2018-2019 mencatat besaran total pengeluaran belanja masyarakat muslim dunia pada 2017 di berbagai sektor halal mencapai USD 2,1 triliun dan diperkirakan akan terus tumbuh hingga USD 3 triliun pada 2023. Akan tetapi, sejauh ini belum ada e-commerce yang secara khusus mewakili kelompok muslim. Potensi industri halal yang sangat besar tersebut justru diambil oleh marketplace raksasa Indonesia seperti Tokopedia dan Bukalapak.42
c. Dalam praktik jual beli melalui e-commerce, ummat Islam di Indonesia selama ini hanya dijadikan sebagai target pasar oleh para pelaku e-commerce untuk memasarkan produk-produk mereka. Belum ada situs e-commerce yang secara tegas dan nyata menjalankan kegiatan usahnya sesuai prinsip-prinsip jual beli yang disyariatkan oleh Islam atau paling tidak menjadi representasi dan kekuatan ummat Islam. Program studi ekonomi Islam UII menyebut bahwa e-commerce di Indonesia masih banyak dikuasi oleh oleh saudagar non muslim, ummat Islam masih menjadi pasar bukan pemain kunci.43 Padahal, berdasarkan Masterplan Ekonomi Syariah Indonesia (MEKSI) 2019 – 2024, Indonesia sesungguhnya mempunyai visi sebagai pemain utama ekonomi syariah terkemuka di dunia, yang salah
39
https://industri.kontan.co.id/news/experian-sekitar-25-konsumen-pernah-mengalami-penipuan-online (diakses pada tanggal 29 April 2020 pukul 10.00 WIB)
40
https://kabar24.bisnis.com/read/20180112/16/726032/penipuan-belanja-online-capai-rp22-miliar-dalam-4-bulan (diakses pada tanggal 29 April 2020 pukul 10.20 WIB)
41 https://id.techinasia.com/lima-startup-menyasar-kelas-menengah-muslim (diakses pada
tanggal 29 April 2020 pukul 10.45 WIB)
42
https://bisnis.tempo.co/read/1205473/tokopedia-dan-bukalapak-kembangkan-marketplace-halal/full&view=ok (diakses pada tanggal 29 April 2020 pukul 11.15 WIB)
43
13
satu trategi utamanya adalah penguatan di bidang ekonomi digital yaitu melalui perdagangan online (e-commerce) dan keuangan (fintech).44
d. Situs e-commerce yang mengidentifikasi diri sebagai e-commerce Islam baru sekedar menjual dan menyediakan produk-produk yang bernuansa Islam semata. Akan tetapi, operasionalisasi, model bisnis yang usung oleh situs e-commerce tersebut belum sepenuhnya dijalankan sesuai prinsip Islam. Perusahaan infiormasi Thomson Reuter menyebutkan bahwa persoalan utama pengelolaan e-commerce halal terletak pada dua hal pokok, yaitu kontrak jual beli dan jenis pembayaran yang digunakan, bukan hanya jenis produk yang diperdagangkan. E-bisnis Islam harus memastikan bahwa transaksi bisnis online harus bebas dari ambiguitas apapun.45 e. Kajian mengenai praktik jual beli melalui situs e-commerce
Islam belum banyak dilakukan. Akan tetapi, kajian seputar perkembangan e-commerce di Indonesia secara umum sudah cukup banyak dilakukan oleh beberapa akdemisi dan peneliti. Kepala Depatemen Riset dan Pengembangan Fakultas Ekonomi dan Bisnis UGM menyebutkan bahwa potensi digital economy
di Indonesia yang sangat besar, perlu ditindaklanjuti dengan pengembangan ide dan inovasi bisnis oleh para pelaku bisnis islam.46 Sejalan dengan hal tersebut, Direktur Pendidikan dan Riset Keuangan Syariah KNEKS menyebutkan bahwa literatur ekonomi dan keuangan syariah saat ini masih rendah, untuk itu perlu upaya untuk percepat dan memajukan perkembangan ekonomi syariah.47
2. Pembatasan Masalah
Berdasarkan identifikasi masalah yang telah penulis ungkap di atas, penulis merasa perlu untuk memberikan pembatasan masalah agar pembahasan mengenai persoalan praktik jual beli online melalui e-commerce Islam di Indonesia dapat dilaksanakan dengan baik dan terarah. Pembatasan masalah tersebut meliputi:
44
https://www.knks.go.id/berita/125/islamic-digital-day-komitmen-pengembangan-ekosistem-ekonomi-syariah-digital?category=3 (diakses pada tanggal 29 April 2020 pukul 13.00 WIB)
45 https://muslimobsession.com/bisnis-e-commerce-halal-indonesia-jadi-contoh-dunia/
(diakses pada tanggal 30 April 2020 pukul 10.25WIB)
46
http://sef.feb.ugm.ac.id/pengembangan-bisnis-islam-dan-islamic-digital-startup-dalam-era-digital-economy/ (diakses pada tanggal 30 April 2020 pukul 11.00 WIB)
47
14
a. Kajian mengenai prinsip-prinsip jual beli online dalam Islam, khsususnya yang berkaitan dengan kegiatan transaksi melalui
e-commerce belum banyak dilakukan. Padahal prinsip -prinsip tersebut seharusnya menjadi dasar dan pijakan dalam kegiatan transaksi online.
b. Munculnya situs perdagangan online yang mengidentifikasi diri sebagai e-commerce Islam, belum terlihat menjadikan prinsip-prinsip ajaran Islam sebagai bagian yang tidak terpisah dari transaksi perdagangan dan model bisnis yang diusung oleh penyedia dan pengelola situs e-commerce. Untuk itu, perlu ditelaah lebih jauh bagaimana proses transaksi yang terjadi pada e-commerce Islam tersebut. E-commerce tersebut di antaranya adalah situs Muslimarket.com dan Pasarmuslim.id c. Potensi pasar muslim (muslim market) di Indonesia yang
begitu besar telah menyebabkan munculnya situs-situs perdagangan online atau e-commerce yang bercorak Islam. Tetapi, situs-situs tersebut secara faktual hanya sekedar menjual produk-produk kebutuhan masyarakat muslim semata. Untuk itu perlu dikaji lebih jauh kesesuaian antara proses transaksi yang terjadi pada situs e-commerce dengan prinsip-prinsip-prinsip jual beli online dalam Islam. Situs e-commerce tersebut di antaranya adalah Hijabenka.com, Saqina.com, serta Zoya.com.
3. Rumusan Masalah
Setelah melakukan pembatasan terhadap beberapa permasalahan yang telah teridentifikasi, Penulis merumuskan masalah dalam penelitian ini sebagai berikut:
1. Bagaimana prinsip-prinsip jual beli online dalam Islam?
2. Bagaimana praktik jual beli online pada situs e-commerce Islam di Indonesia?
3. Sejauhmana kesesuaian antara praktik jual beli online pada situs e-commerce Islam dengan prinsip-prinsip jual beli online dalam Islam?
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian 1. Tujuan Penelitian
Secara umum tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah praktik jual beli online, khususnya jual beli melalui situs e-commerce Islam yang ada di Indonesia telah sesuai dengan prinsip syariah atau belum. Selain itu juga untuk mengetahui sejauh mana prinsip-prinsip jual beli online dalam Islam tersebut termanifestasi dalam mekanisme dan praktik jual beli online yang dilakukan melalui situs e-commerce. Akan tetapi, secara khusus tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
15
a. Untuk mengetahui prinsip-prinsip jual beli online dalam Islam atau prinsip-prinsip jual beli yang sesuai dengan syariat Islam.
b. Untuk mengetahui praktik jual beli online pada situs e-commerce Islam di Indonesia.
c. Untuk menganilis dan membandingkan kesesuaian antara praktik jual beli online pada situs e-commerce Islam dengan prinsip-prinsip jual beli online dalam Islam.
2. Manfaat Penelitian a. Manfaat teoritis
Secara teoritis penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat dalam rangka menambah khazanah keilmuan di bidang ekonomi Islam, khususnya yang berkaitan dengan jual beli online melalui situs e-commerce. Selain itu, diharapkan pula penelitian ini dapat menjadi bahan kajian atau pemikiran lebih lanjut dalam perdagangan online di Indonesia, terlebih trend perdagangan online di Indonesia masih memiliki masa depan yang sangat cerah.
b. Manfaat praktis
Secara praktis penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi para pelaku bisnis online, masyarakat, serta pihak-pihak yang akan terjun ke dalam bisnis online agar menjadikan prinsip -prinsip jual beli dalam Islam sebagai landasan pengembangan bisnis online.
D. Kajian Pustaka / Penelitian Terdahulu yang Relevan
Sejauh penelusuran penulis, ada beberapa penelitian terdahulu yang memiliki keterkaitan dan relevansi pembahasan dengan permasalahan yang telah penulis teliti. Akan tetapi, sebagian besar masih menjadikan e-commerce sebagai sebuah bahan perdebatan berdasarkan sudut pandang Islam. Adapun beberapa penelitian tersebut adalah sebagai berikut.
Pertama, penelitian yang dilakukan oleh Syaifullah, Mz dengan judul “
e-commerce dalam Hukum Islam (Studi atas Pandangan Muhammadiyah dan NU )”.
Dalam penelitiannya, Syaifullah mencatat bahwa antara Muhammadiyah dan NU tidak ada perbedaan pendapat mengenai hukum e-commerce. Kedua organisasi kemasyarakat dan keagamaan terbesar di Indonesia itu sama-sama membolehkan transaksi melalui e-commerce. Hanya saja NU lebih tegas dalam bersikap. Melalui forum Bahtsul Masail Diniah48, NU secara khusus melakukan pembahasan terhadap fenomena e-commerce. Hasilnya adalah NU memperbolehkan transaksi melalui e-commerce tetapi tetap dengan mengedepankan prinsip kehati-hatian. Prinsip
48 Bahtsul Masail Diniah atau juga dinamakan sebagai Lembaga Bahtsul Masail (LBM)
adalah adalah sebuah lembaga di bawah naungan Pengurus Besar Nahdhatul Ulama’ (PB NU) yang bertugas pada pembahasan masalah-masalah kekinian dan kedisinian yang berkembang di masyarakat dengan berpedoman pada sumber hukum Islam yaitu al-Qur’an dan Hadits, serta Kutub Turast (kitab-kitab klasik). Lihat: http://santri.net/author/lbm/ (diakses pada tanggal 20 Desember 2016, pukul 11.00 WIB)
16
kehati-hatian tersebut dimaksudkan bahwa hendaknya pihak yang melakukan transaksi melalui situs e-commerce adalah orang yang memang telah cakap dan berpengalaman. Sementara itu, Muhammadiyah melalui Majelis Tarjih49 lebih umum dalam menetapkan hukum. Akan tetapi, keduanya bersepakat bahwa transaksi melalui e-commerce sama hukumnya dengan ba’i al salam, yakni pertukaran barang dengan uang yang proses penyerahan barang ditangguhkan sampai waktu yang telah disepakati.50
Kedua, penelitian Azhar Muttaqin dengan judul “Transaksi e-commerce
dalam Tinjauan Hukum Jual Beli Islam”. Dalam penelitian yang dilakukannya, Azhar menjelaskan bahwa secara esensial, e-commerce merupakan praktik jual beli yang memiliki kesamaan dengan ba’i al-salam. Akan tetapi ada perbedaan yang mendasar di antara keduanya, yaitu dasar hukum yang mempengaruhi boleh atau tidaknya sebuah transaksi dilakukan, seperti jenis komoditas dan pelaku transaksi. Karena dasar hukum transaksi e-commerce adalah aturan negara, maka besar kemungkinan terdapat pembolehan transaksi terhadap komoditas yang sesungguhnya dilarang oleh agama, serta pelaku transaksi yang sesungguhnya tidak diperbolehkan menurut agama tetapi tidak dilarang oleh aturan negara, misalnya pelaku transaksi dalam e-commerce yang tidak harus baligh. 51
Ketiga, penelitian M. Husaini dengan judul “Bisnis e-commerce dalam Perspektif Islam”. Dalam penelitiannya M. Husaini mengungkapkan bahwa perkembangan e-commerce di Indonesia masih terhambat oleh beberapa faktor, di antaranya adalah masalah keamanan. Lebih jauh, M. Husainijuga mencatat bahwa secara umum, proses transaksi e-commerce yang terjadi di Indonesia terbagi ke dalam beberapa katagori, yaitu transaksi dan pembayaran dilakukan secara online, transaksi dilakukan secara online dan pembayaran dilakukan setelah barang diterima (Cash on Delivery), serta transaksi dan pembayarannya dilakukan di dunia nyata.
Selain hal tersebut, M. Husaini juga menemukan bahwa dalam transaksi e-commerce di Indonesia, transaksi yang diterapkan tidak hanya transaksi al-salam
semata. Tetapi juga transaksi al-istisna’ dan transaksi jual beli biasa. Lebih jelasnya adalah apabila transaksi dan pembayaran dilakukan segera secara online dan melibatkan komoditas non-digital, maka pada dasarnya sama dengan transaksi al-salam. Apabila transaksi online dilakukan dengan sistem pembayaran cash on
49 Majelis Tarjih Muhammadiyah atau Majelis Tarjih dan Tajdid adalah sebuah lembaga
yang bertugas mengembangkan dan menyegarkan pemahaman dan pengamalan keagamaan kehidupan masyarakat yang multikultural dan kompleks, serta selalu proaktif dalam menjawab masalah riil yang sedang berkembang di masyarakat. Lihat: http://tarjih.muhammadiyah.or.id/content-9-sdet-tugas-dan-fungsi.html (diakses tanggal 20 Desember 2016 pukul 11.30 WIB).
50 Syaifullah Mz, “E-Commerce dalam Hukum Islam (Studi atas Pandangan
Muhammadiyah dan NU)”, Jurnal Penelitian Agama, Vol XVII, No.3 (September – Desember, 2008): 571-585.
51 Azhar Muttaqin, “Transaksi E-Commerce dalam Tinjauan Hukum Jual Beli Islam”, Jurnal