• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pada Bab sebelumnya, penulis telah mengurai mengenai prinsip -prinsip jual beli online dalam Islam, walaupun sebenarnya -prinsip--prinsip tersebut merupakan penyatuan dan simpulan dari berbagai prinsip yang terdapat dalam praktik kegiatan perekonomian Islam dan juga perniagaan Islam. Adapun bentuk penerapan atas prinsip-prinsip jual beli tersebut adalah berikut ini.

1. Prinsip Kerelaan

Prinsip kerelaan ini juga disebut dengan prinsip rid}a’iyah, prinsip suka sama suka atau prinsip konsensualisme1 (kesepakatan). Maksudnya adalah pihak-pihak yang melakukan transaksi jual beli tidak dalam paksaan saat kegiatan jual beli berlangsung. Dalam kegiatan jual beli, keberadaan prinsip kerelaan ini dapat dilihat dari adanya akad ijab dan qabul.

Ijab dan qabul adalah salah satu syarat sah dalam kegiatan jual beli. Secara umum, ijab dan qabul biasanya dilakukan melalui ucapan atau lisan. Namun, selain itu juga terdapat cara lain yang bisa digunakan untuk melakukan ijab dan qabul. Salah satunya adalah ijab - qabul

dengan cara tulisan. Hal ini dapat dilakukan ketika penjual dan pembeli yang melakukan transaksi berada pada suatu tempat yang saling berjauhan.2

Ijab dan qabul adalah bagian dari sighat akad. Ijab merupakan penyataan penawaran, sementara qabul merupakan bentuk penerimaan atau pernyataan persetujuan. Menurut Muhammad Wahid Ad-Din sebagaimana dikutib oleh Juhaya S. Prada, dalam mengkomunikasikan suatu akad, pihak penjual dan pembeli dapat menyatakannya baik secara lisan, tulisan, isyarat, maupun perbuatan atau tingkah laku yang menggambarkan kehendak untuk menyatakan ijab qabul tersebut.3 1 Abd Shomad, Hukum Islam: Perormaan Prinsip Syariah dalam Hukum Indonesia - Edisi Revisi, (Jakarta: Kencana, 2012), 89.

2 Shobirin, “Jual Beli dalam Pandangan Islam”, Jurnal Bisnis dan Manajemen Islam Vol. 3 No.2 Desember 2015, hal 246-247.

92

Adapun syarat-syarat sighat akad ijab - qabul adalah sebagai berikut:

a. Kejelasan indikasi adanya sighat ijab dan qabul yang menunjukkan kehendak pihak penjual dan pembeli untuk mengadakan akad.

b. Kesesuaian antara ijab dan qabul. Hal ini menunjukkan persesuaian dan pertemuan dua kehendak dan keinginan antara para pihak yang melaksanakan transaksi.

c. Adanya hubungan antara ijab dan qabul. Hal ini menunjukkan adanya pemahaman setiap pihak yang berakad sehingga menjadikan ijab dan qabul bersesuaian.

Tujuan utama Islam mewajibkan adanya sighat akad adalah untuk mewujudkan tanda saling rela (rid}a). Tanda saling rela ini sangat penting karena terhadap setiap akad, terdapat hak dan tanggungjawab yang harus dilaksanakan oleh masing-masing pihak yang terlibat. Prinsip saling rela ini memang tidak dapat diukur dan dilihat secara kasat mata. Untuk itulah diperlukan sighat ijab qabul - yang implementasinya tidak hanya dapat dilakukan secara lisan - sebagai bentuk nyata dari kerelaan masing-masing pihak yang mengikat melaksanakan akad.4

Dari penjelasan di atas, dapat simpulkan bahwa implementasi

sighatijabqabul dalam praktik perdagangan online melaui e-commerce

dapat berupa notifikasi penawaran oleh penjual dan pernyataan persetujuan (agreement) oleh pembeli atas penawaran yang dilakukan penjual melalui situs e-commerce. Sebab, pada dasarnya prinsip rid}a

dalam jual beli adalah dalam kerangka saling setuju, saling menerima, saling sepakat.5

2. Prinsip Kemanfaatan

Kemanfaatan dalam kegiatan jual beli harus dirasakan oleh masing-masing pihak, baik penjual maupun pembeli. Prinsip kemanfaatan ini dapat dilihat dari dua hal yang dapat diperoleh oleh penjual dan juga pembeli. Dua hal tersebut adalah sebagai berikut:

a. Objek transaksi memberikan bermanfaat secara langsung bagi kemanusiaan (manfaat fungsional).

Objek yang diperjualbelikan adalah objek yang secara fungsional memberikan manfaat bagi kemanusiaan, bukan objek yang membahayakan dan memberikan kerusakan bagi

4 Syed Mohd Ghazali Wafa, Syed Adwan Wafa et. Al, Pengantar Perniagaan Islam, (Pelating Jaya: Prentice Hall, 2005), 135.

5 Abdrur Rohman, “Menyoal Filosofi ‘An Taradin pada Akad Jual Beli (Kajian Hukum Ekonomi Syariah dalam Transaksi Jual Beli) Jurnal Et-Tijarie Universitas Trunojoyo

93

kemanusiaan, seperti minuman keras, narkoba, dan juga bangkai.6

Unsur kemanfaatan yang terdapat dalam objek jual beli juga harus bersifat positif, dalam artian bahwa kemanfaatan objek tersebut lebih besar daripada efek negatif atau mad}arat

yang ditimbulkan dari objek jual beli tersebut. Unsur kemanfaatan dari objek yang diperjualbelikan perlu mendapatkan perhatian, sebab tujuan transaksi jual beli sejatinya tidak hanya sekedar menambah kekayaan semata, melainkan juga usaha untuk berbagi manfaat.7

b. Jual beli yang dilakukan memberikan manfaat ekonomi (keuntungan) bagi penjual (manfaat finansial).

Salah satu cara untuk memperoleh harta dan kekayaan secara sah dan baik adalah melalui perdagangan. Hanya saja, pencarian keuntungan dalam kegiatan perdagangan tidak boleh merugikan pembeli. Untuk itulah, penetapan harga beli suatu barang menjadi penting untuk diperhatikan. Jangan sampai penjual menetapkan harga dan keuntungan di luar batas kewajaran.8 Dari sini terlihat bahwa upaya mencari keuntungan adalah hal yang wajar dan diperbolehkan, hanya saja keuntungan tersebut diperoleh dengan cara dan besaran yang wajar.

3. Prinsip Keadilan

Keberadaan prinsip keadilan dalam kegiatan jual beli dimaksudkan agar kegiatan jual beli tidak hanya sekedar kegiatan pencarian keuntungan semata, melainkan kegiatan yang di dalamnya juga terkandung nilai-nilai kebaikan bagi sesama manusia. Implementasi prinsip keadilan dalam kegiatan jual beli online dapat dilihat dari adanya beberapa hal sebagai berikut:

a. Keadilan penjual kepada seluruh pembeli.

Penjual memberikan perlakukan yang sama kepada semua pembeli tanpa membeda-bedakan. Setiap pembeli mendapatkan informasi yang sama berkaitan dengan jenis, kualitas, serta harga barang yang sedang diperjualbelikan.

6 Syaifullah MS, “Etika Jual beli dalam Islam”, Jurnal Studi Islamika Vol. 11 No. 2 Desember 2014, 378.

7 http://www.harianamanah.com/berita-obyek-transaksi-harus-bermanfaat (diakses pada tanggal 28 Juni 2017 pukul 21.00 WIB)

8 Untuk menghindari praktik riba dan untuk menghindarkan diri dari perilaku dzalim, pembeli harus menetapkan harga suatu barang dengan membandingkan biaya-biaya yang dikeluarkan, serta keuntungan yang diinginkan oleh p enjual dan disepakati oleh pembeli. Lihat Selvia Nriasari, “Bisnis Online dalam Perspektif Islam”, Jurnal Hukum dan Ekonomi

94

b. Penetapan harga secara wajar dan pengambilan keuntungan secara wajar.

Dalam Islam, memaksimalkan laba atau keuntungan memang diperbolehkan sepanjang tidak bertentangan dengan nilai dan moral agama Islam. Paling tidak, upaya memaksimalkan laba harus didasarkan pada 3 faktor, yaitu9:

1) Pandangan Islam tentang bisnis yang merupakan sarana untuk beribadah kepada Tuhan. Artinya bahwa kegiatan jual beli yang dilakukan bukanlah sekedar mengejar keuntungan material semata, tetapi dalam rangka beribadah kepada Allah.

2) Perlindungan kepada konsumen. Maksudnya adalah kegiatan jual beli yang dilakukan tidak boleh memanfaatkan kebutuhan seseorang yang “mendesak”. Sebab, fokus utama jual beli adalah memenuhi dan sekaligus melindungi kebutuhan konsumen.

3) Bagi hasil diantara faktor yang mendukung. Upaya memaksimalkan harga suatu barang harus didasarkan pada bagi hasil terhadap faktor yang mendukung kegiatan jual beli tersebut. Jangan sampai terdapat biaya-biaya tambahan yang menyebabkan harga barang berubah, tetapi bukan disebabkan oleh faktor yang mendukung kegiatan jual beli. c. Penjual tidak melakukan praktik monopoli.

Monopoli dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia diartikan sebagai hak tunggal untuk berusaha atau situasi yang pengadaan barang dagangannya tertentu (di pasar lokal atau nasional) sekurang-kurangnya sepertiga dikuasi oleh satu orang atau satu kelompok sehingga harganya dapat dikendalikan.10 Praktik monopoli sudah dilarang di Indonesia dengan lahirnya UU Nomor 5 tahun 1999 tentang Larangan Monopoli dan Persaingan Usaha tidak Sehat. Selain itu praktik monopoli dilarang karena dapat mengakibatkan munculnya suatu pasar yang tidak sempurna. Oleh sebab itulah, praktik monopoli ini tidak diperbolehkan karena bertentangan dengan prinsip kasih sayang dalam Islam.11

9 Muhammad, Ekonomi Mikro dalam Perspektif Islam (Yogyakarta: BPFE, 2004), 276.

10 https://kbbi.kemdikbud.go.id/entri/monopoli (diakses pada tanggal 24 September 2017 pukul 21.30 WIB).

11 Gemala Dewi, dkk, Hukum Perikatan Islam di Indonesia, (Depok: Prenada Media Group, 2005), 199.

95

Ada bebera kriteria yang menyebabkan praktik monopoli tidak diperbolehkan dalam kegiatan perdagangan12:

1) Monopoli dilarang apabila penimbun membeli barang dari pasar umum.

2) Monopoli dilarang apabila penimbun membeli barang saat harga barang mahal, kemudian ia jual kembali dengan harga yang lebih mahal.

3) Monopoli dilarang apabila menimbun barang pada saat masyarakat membutuhkan barang tersebut.

4) Monopoli dilarang apabila menimbun barang yang merupakan kebutuhan pokok masyarakat, seperti pangan, sandang, dan minyak.

Dalam konteks perdagangan online, untuk menilai praktik monopoli adalah suatu hal yang susah dilakukan. Sebab perdagangan online melibatkan para pelaku usaha yang berasal dari beberapa negara dengan hukum yang berbeda pula. Selain itu, perdagangan online juga menjadi area yang tanpa batas (borderless). Untuk melihat potensi monopoli usaha dalam dunia online, perlu diketahui siapa yang menjadi pemodal suatu usaha online berjalan. Seperti diketahui bahwa Indonesia menjadi pasar empuk para investor asing untuk menguasai perdagangan online di Indonesia. Setidaknya, sampai dengan saat ini sudah ada beberapa perusahaan asing yang melakukan investasi dalam jumlah besar pada perusahaan-perusahaan e-commerce di Indonesia. Misalnya saja Alibaba Grup melakukan investasi ke Tokopedia sebesar USD 1,1 miliar atau setara dengan 14 triliun rupiah, kemudian Tencent group melakukan investasi ke jasa transportasi online Gojek dengan nilai sebesar USD 1,2 miliar atau sekitar 16 triliun rupiah.13

Sebenarnya, yang perlu dikhawatirkan dalam praktik perdagangan online adalah terbentuknya pasar oligopoli yang diawali dengan terjadinya merger serta akuisisi14 terhadap beberapa perusahaan tertentu. Apabila melihat lebih dalam, pola akuisisi serta penyuntikan modal yang terjadi di Indonesia sebenarnya saling berhubungan. Alur suntikan modal tersebut

12 Ahmad Zain an-Najah, Hukum Monopoli dalam Islam, Mozaik Inilah, Januari 2015 lihat http://mozaik.inilah.com/read/detail/2174018/hukum-monopoli-dalam-islam (diakses pada tanggal 24 September 2017 pukul 21.50 WIB)

13 https://m.kontan.co.id/news_analisis/mewaspadai-monopoli-ekonomi-digital?page=2 (diakses pada tanggal 10 Desember 2017 pukul 11.15 WIB)

14 Meger adalah gabungan dua perusahaan atau lebih untuk menjadi perusahaan baru. Sementara itu, akuisisi adalah pembelian terhadap perusahaan lain yang umumnya dilakukan oleh perusahaan besar terhadap perusahaan kecil. Lihat: Agnes Sawir, Kebijakan

96

bermuara pada beberapa perusahaan tertentu saja, yaitu Tencent Holding Ltd dan Alibaba Group. KPPU (Komisi Pengawas Persaingan Usaha) melihat bahwa kondisi tersebut sangat berisiko terhadap praktik penyimpangan. Sebab, penggabungan atau pengambilalihan perusahaan yang menciptakan integrasi vertikal dari hulu ke hilir, dapat menciptakan struktur pasar oligopoli, bahkan duopoli.15

4. Prinsip Ketuhanan

Salah satu prinsip yang membedakan bisnis Islam dengan bisnis konvensional adalah adanya prinsip ketuhanan dalam kegiatan bisnis tersebut. Prinsip ketuhanan ini bertolak dari sebuah keyakinan bahwa seluruh sumber daya yang ada di bumi adalah milik Allah, sementara manusia hanya diberikan amanah untuk mengelola dan memanfaatkan sumber daya tersebut secara sementara. Selain itu, prinsip ini juga berdasar dari keyakinan bahwa seluruh aktivitas bisnis manusia selalu diawasi oleh Allah dan kelak akan diminta pertanggungjawaban di hadapan Allah.16

Penerapan prinsip ketuhanan dalam kegiatan jual beli, dapat dilihat dari adanya hal-hal sebagai berikut:

a. Tidak melakukan eksploitasi

Eksploitasi secara umum dimaknai sebagai tindakan memanfaatkan tenaga orang lain untuk keuntungan diri sendiri. Tindakan ini juga disebut dengan pengisapan atau pemerasan.17

Dalam konteks perniagaan Islam, eksploitasi erat kaitannya dengan penggunaan tenaga seseorang secara berlebihan atau penggunaan sumber daya alam secara berlebihan untuk mendapatkan keuntungan-keuntungan tertentu secara individu. Islam sangat menentang segala bentuk eksploitasi terhadap sumber daya, dan sebaliknya, Islam mengedepankan transaksi yang seimbang di antara semua ummat manusia.18 Dalam hal ini, salah satu bentuk eksploitasi yang sering terjadi dalam transaksi online adalah eksploitasi terhadap data pengguna pada suatu situs tertentu.

b. Berorientasi pada Kesejahteraan Masyarakat

Salah satu sikap yang penting dalam implementasi prinsip ketuhanan adalah adanya kesadaran bahwa segala sesuatu yang

15 https://tirto.id/mewaspadai-oligopoli-dari-gurita-bisnis-digital-global-czgP (diakses pada tanggal 10 Desember 2017 pukul 11.30WIB)

16 Rozalinda, Ekonomi Islam: Teori dan Aplikasinya pada Aktivitas Ekonomi, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2015) hal 18.

17 https://kbbi.kemdikbud.go.id/entri/eksploitasi (diakses pada tanggal 26 September pukul 14.00 WIB)

18 Muhammad Ayub, Aditya Wisnu Pribadi, Understanding Islamic Finance: A-Z Keuangan

97

ada di bumi ini adalah milik Allah Swt, manusia hanya diberikan hak untuk memanfaatkan dan mengelolanya secara bijak. Untuk itulah segala bentuk upaya ekonomi yang dilakukan oleh manusia dalam memanfaatkan kekayaan milik Allah harus diikuti dengan kesadaran untuk berbagi, kesadaran untuk memberikan kesejahteraan bagi sesama.

Menurut Imam al-Ghazali ada tiga alasan seseorang dalam melakukan aktivitas ekonomi, pertama untuk memenuhi kebutuhan hidup masing-masing (kebutuhan para pihak yang bertransaksi), kedua untuk menciptakan kesejahteraan bagi diri dan keluarganya, dan ketiga, untuk membantu orang lain yang membutuhkan.19

Salah satu semangat kegiatan perekonomian Islam adalah dalam rangka menciptakan keadilan distributif, agar harta kekayaan tidak hanya beredar di antara orang kaya saja, melainkan juga memberikan kontribusi pada kesejahteraan masyarakat secara lebih umum. Pada dasarnya, ekonomi Islam bertujuan untuk mensejahterakan masyarakat secara adil dan seimbang, melalui tujuan inilah para pihak yang terlibat dalam proses ekonomi tidak akan saling menindas dan mengeksploitasi satu sama lain. Melalui sistem ekonomi Islam ini pula, penumpukan kekayaan oleh sekelompok orang sangat ditentang, sementara itu, upaya untuk mendistribusikan kekayaan kepada masyarakat yang lemah dalam rangka pemerataan dan keadilan sangat dijunjung tinggi.20

Selain itu, upaya meningkatkan kesejahteraan juga dapat dilakukan dengan cara meningkatkan pendapatan dan mengurangi kemiskinan.21 Secara lebih teknis, upaya peningkatan pendapatan tersebut dapat dilakukan dengan optimalisasi suberdaya (manusia dan alam), sementara itu upaya mengurangi kemiskinan dapat dilakukan melalui mekaniskme zakat, sedekah, dan juga CSR bagi perusahaan. 5. Prinsip Kejujuran

Jujur adalah salah satu sikap sangat ditekankan oleh Islam dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dalam hal jual beli. Jujur dalam kegiatan jual beli atau berbisnis dapat dimaknai sebagai pembangunan 19 Amirus Sodiq, “Konsep Kesejahteraan dalam Islam” Jurnal Equilibrium, Vol 3, No. 2 Desember 2015, 389.

20 Euis Amalia, “Transformasi Nilai-Nilai Ekonomi Islam dalam Mewujudkan Keadilan Distributif bagi Penguatan Usaha Kecil Mikro di Indonesia, Jurnal Al Iqtishad, Vol. III, No. 1, Januari 2011, 84.

21 Leunard O Kakisina, “Analisis Tingkat Pendapatan Rumah Tangga dan Kemi skinan di Daerah Transmigrasi (Kasus di Desa Waihatu, Kecamatan Kairatu, Kabupaten Seram Bagian Barat, Provinsi Maluku)”, Jurnal Budidaya Pertanian, Vol.7 No.2 Desember 2011.

98

kepercayaan dari orang lain terhadap bisnis yang sedang kita jalankan. Melalui kejujuran itulah, Allah akan memberikan berkah dan nikmat dalam transaksi jual beli yang dilaksanakan.22

Selain itu, kejujuran juga sangat diidentikkan dengan transparansi atau keterbukaan, tidak ada yang disembunyikan, tidak ada tameng atau topeng, dan tidak ada kepura-puraan. Selain keterbukaan , jujur dimaknai pula sebagai sikap memperlakukan orang lain dengan cara yang sama seperti kita mengharapkan orang lain untuk bersikap kepada kita. Dalam pengertian ini, seseorang yang jujur akan selalu menetapi seluruh janji yang ia ikatkan kepada orang lain.23

Penerapan prinsip kejujuran dalam kegiatan jual beli, dapat dilihat dari adanya beberapa hal sebagai berikut:

a. Adanya informasi yang benar dan lengkap mengenai produk yang diperjualbelikan yang meliputi:

1) Informasi tentang kualitas produk.

Dalam konteks ini, Rasulullah sangat menekankan kepada para pedagang untuk menjelaskan kualitas suatu barang secara jujur. Bahkan Rasulullah juga melarang para pedagang meletakkan barang dengan kualitas baik di atas barang sejenis dengan kualitas buruk, dengan tujuan untuk menutupi keburukan barang tertentu, karena hal tersebut merupakan bentuk sikap ketidakjujuran.24

2) Informasi tentang harga produk.

Informasi mengenai harga barang hendaknya disampaikan secara jujur dan terbuka. Sehingga seluruh pembeli memiliki akes dan informasi yang sama terhadap harga suatu jenis barang.

3) Informasi tentang waktu penyerahan produk.

Kejujuran juga harus diterapkan terhadap informasi tentang waktu penyerahan barang. Terlebih dalam praktik jual beli online. Waktu penyerahan barang menjadi hal penting yang harus disampaikan secara terbuka kepada pembeli.

b. Tidak melakukan penipuan, tidak menyembunyikan cacat pada barang dagangan, serta melakukan pengukuran dengan ukuran dan timbangan yang tepat.25

22 Anif Sirsaeba, Berani Kaya Berani Takwa; 15 Cara Menambah Pundi-Pundi Kekayaan

berdasarkan al-Qur’an dan Sunnah (Jakarta: Penerbit Republika, 2005), 216

23 L. Sinour Yosephus, Etika Bisnis: Pendekatan Filsafat Moral terhadap Perilaku Bisnis

Kontemporer (Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia, 2010) 178.

24 Malahayati, Rahasia Sukses Bisnis Rasulullah (Yogyakarta: Penerbit Jogja Great! Publisher, 2010) 74.

25 Hulwati, Transaksi Saham di Pasar Modal Indonesia Perspektif Hukum Ekonomi Islam, (Yogyakarta: UII Press, 2001), 45

99

Keterbukaan informasi inilah yang oleh Selvia Nuriasari disebut sebagai titik tekan utama dalam melakukan jual beli online, termasuk jual beli melalui e-commerce. Dalam transaksi jual beli online, penjual harus memberikan informasi sejelas-jelasnya tentang produk yang ia jual. Hal tersebut sangat penting untuk menghindadi munculnya

asymetris information (suatu kondisi dimana salah satu pihak yang bertransaksi memiliki informasi lebih banyak dibanding dengan pihak lainnya, sehingga muncul ketimpangan informasi).26

6. Prinsip Kebebasan

Keberadaan prinsip kebebasan dalam kegiatan jual beli, dapat dilihat dari adanya khiyar dalam kegiatan jual beli tersebut. Khiyar

menurut hukum Islam adalah diperbolehkannya seseorang memilih apakah suatu jual beli akan diteruskan atau dibatalkan karena sutu hal tertentu.27 Secara umum, khiyar dibagi menjadi 3 hal:

a. Khiyar majelis.

Yakni penjual dan pembeli boleh melanjutkan atau membatalkan kegiatan jual beli sepanjang masih berada di tempat transaksi berlangsung.

b. Khiyar syarat

Yakni penjual dan pembeli yang dalam kegiatan jualbelinya terdapat penyertaan syarat-syarat tertentu, baik hal tersebut disyaratkan oleh penjual maupun pembeli. Misalnya kegiatan jual beli pakaian dengan syarat bahwa apabila pakaian tersebut sesuai maka terjadi jual beli. Namun, apabila tidak sesuai, barang tersebut boleh dikembalikan.

Namun demikian, ada beberapa hal yang dapat menyebabkan berakhirnya khiyar syarat, yaitu:

1) Adanya pembatalan akad oleh pihak yang bertransaksi. 2) Melewati batas waktu khiyar yang telah disepakati oleh

kedua pihak. Menurut Imam Syafi’i dan Imam Abu Hanifah jangka waktu khiyarsyarat adalah selama 3 hari.28

3) Terjadi penambahan atau pengembangan terhadap objek yang ditransaksikan ketika barang berada di pihak pembeli. 4) Terjadi kerusakan pada objek jual beli. Apabila kerusakan terjadi di dalam penguasaan pihak penjual, maka akad jual beli batal dan khiyar berakhir. Akan tetapi jika kerusakan terjadi ketika objek transaksi di dalam penguasaan pembeli, maka khiyar berakhir dan tidak membatalkan akad.

26 Selvia Nuriasari, “Bisnis Online dalam Perspektif Islam”, Jurnal Hukum dan Ekonomi

Syariah Vol. 2 Mei Tahun 2014, 8.

27 Hendi Suhendi, Fiqih Muamalah, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada), 2007, 83.

100

5) S}ahibul khiyar wafat. Menurut madzhab syafi’i dan Maliki, apabila s}ahibul khiyar wafat maka hak khiyar dapat berpindah kepada ahli waris.29

c. Khiyar Aib

Khiyar aib adalah hak untuk membatalkan atau

meneruskan proses jual beli bagi pihak penjual dan p embeli, apabila terdapat suatu cacat pada objek yang diperjualbelikan, sementara catat tersebut tidak diketahui oleh pemiliknya saat akad berlangsung.30

Menurut Muhammad Majdy Amirudin (Universiti Sains Islam Malaysia), khiyar merupakan instrumen penting dalam transaksi jual beli online melalui e-commerce. Khiyar dapat memberikan pilihan kepada pembeli untuk menukarkan atau mengembalikan barang yang telah diterima sesuai dengan ketentuan yang telah diatur oleh masing-masing penjual. Di saat yang sama, khiyar juga dapat memberikan perlindungan terhadap hak-hak konsumen di dunia maya. Sebab, dalam transaksi online seseorang (pembeli) tidak memiliki kontak langsung dengan pedagang dan tidak bisa dengan mudah memastikan kualitas suatu barang. Akhirnya terciptalah situasi dimana masing-masing pelaku transaksi tidak memiliki kekuatan tawar yang sama.31

7. Prinsip Etika

Dalam bermuamalah, Islam memberikan pengaturan yang cukup tegas berkaitan dengan proses pemindahan kepemilihan melalui proses jual beli. Salah satunya adalah proses jual beli dilakukan dengan mengedepankan etika. Bentuk etika dalam bisnis tentu sangat banyak. Namun bentuk etika bisnis yang sudah jelas adalah e tika bisnis yang dilakukan oleh Nabi saat menjalankan kegiatan bisnis. Sebagaimana diketahu bahawa Nabi selalu mengedepankan etika kejujuran, kepercayaan, ketulusan serta keramah-tamahan.32

Di dalam kamus Besar Bahasa Indonesia, kata etika disamakan maknanya dengan kata akhlak yang mengatur soal kebaikan dan keburukan. Keberadaan prinsip etika dalam kegiatan jual beli sebenarnya dapat dilihat dari pelaksanaan kebaikan -kebaikan dalam bertransaksi serta menghindari keburukan dan kejahatan bertransaksi.

29 Gofron A. Mas’adi, Fiqh Mu’amalah Kontekstual, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2002), 111.

30 Ahmad Ifham Sholihin, Buku Pintar Ekonomi Syariah, (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2010), 408

31 Muhammad Majdy Amiruddin, “Khiyar (Hak untuk memilih) d alam Transaksi Online: Studi Komparasi antara Lazada, Zalora, dan Blibli”, Jurnal Falah Ekonomi Syariah Vol 1 No 1 Februari, 2016, 63.

32 Muhammad Abd Mannan, Teori dan Praktek Ekonomi Islam (Yogyakarta: Dana Bakti Wakaf, 1993), 288.

101

Adapun sifat dan perilaku yang beretika dalam jual beli dapat diringkas sebagai berikut33:

a. Bersikap jujur, tidak menyembunyikan catat suatu barang.