• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sejauh penelusuran penulis, ada beberapa penelitian terdahulu yang memiliki keterkaitan dan relevansi pembahasan dengan permasalahan yang telah penulis teliti. Akan tetapi, sebagian besar masih menjadikan e-commerce sebagai sebuah bahan perdebatan berdasarkan sudut pandang Islam. Adapun beberapa penelitian tersebut adalah sebagai berikut.

Pertama, penelitian yang dilakukan oleh Syaifullah, Mz dengan judul “

e-commerce dalam Hukum Islam (Studi atas Pandangan Muhammadiyah dan NU )”.

Dalam penelitiannya, Syaifullah mencatat bahwa antara Muhammadiyah dan NU tidak ada perbedaan pendapat mengenai hukum e-commerce. Kedua organisasi kemasyarakat dan keagamaan terbesar di Indonesia itu sama-sama membolehkan transaksi melalui e-commerce. Hanya saja NU lebih tegas dalam bersikap. Melalui forum Bahtsul Masail Diniah48, NU secara khusus melakukan pembahasan terhadap fenomena e-commerce. Hasilnya adalah NU memperbolehkan transaksi melalui e-commerce tetapi tetap dengan mengedepankan prinsip kehati-hatian. Prinsip

48 Bahtsul Masail Diniah atau juga dinamakan sebagai Lembaga Bahtsul Masail (LBM)

adalah adalah sebuah lembaga di bawah naungan Pengurus Besar Nahdhatul Ulama’ (PB NU) yang bertugas pada pembahasan masalah-masalah kekinian dan kedisinian yang berkembang di masyarakat dengan berpedoman pada sumber hukum Islam yaitu al-Qur’an dan Hadits, serta Kutub Turast (kitab-kitab klasik). Lihat: http://santri.net/author/lbm/ (diakses pada tanggal 20 Desember 2016, pukul 11.00 WIB)

16

kehati-hatian tersebut dimaksudkan bahwa hendaknya pihak yang melakukan transaksi melalui situs e-commerce adalah orang yang memang telah cakap dan berpengalaman. Sementara itu, Muhammadiyah melalui Majelis Tarjih49 lebih umum dalam menetapkan hukum. Akan tetapi, keduanya bersepakat bahwa transaksi melalui e-commerce sama hukumnya dengan ba’i al salam, yakni pertukaran barang dengan uang yang proses penyerahan barang ditangguhkan sampai waktu yang telah disepakati.50

Kedua, penelitian Azhar Muttaqin dengan judul “Transaksi e-commerce

dalam Tinjauan Hukum Jual Beli Islam”. Dalam penelitian yang dilakukannya, Azhar menjelaskan bahwa secara esensial, e-commerce merupakan praktik jual beli yang memiliki kesamaan dengan ba’i al-salam. Akan tetapi ada perbedaan yang mendasar di antara keduanya, yaitu dasar hukum yang mempengaruhi boleh atau tidaknya sebuah transaksi dilakukan, seperti jenis komoditas dan pelaku transaksi. Karena dasar hukum transaksi e-commerce adalah aturan negara, maka besar kemungkinan terdapat pembolehan transaksi terhadap komoditas yang sesungguhnya dilarang oleh agama, serta pelaku transaksi yang sesungguhnya tidak diperbolehkan menurut agama tetapi tidak dilarang oleh aturan negara, misalnya pelaku transaksi dalam e-commerce yang tidak harus baligh. 51

Ketiga, penelitian M. Husaini dengan judul “Bisnis e-commerce dalam Perspektif Islam”. Dalam penelitiannya M. Husaini mengungkapkan bahwa perkembangan e-commerce di Indonesia masih terhambat oleh beberapa faktor, di antaranya adalah masalah keamanan. Lebih jauh, M. Husainijuga mencatat bahwa secara umum, proses transaksi e-commerce yang terjadi di Indonesia terbagi ke dalam beberapa katagori, yaitu transaksi dan pembayaran dilakukan secara online, transaksi dilakukan secara online dan pembayaran dilakukan setelah barang diterima (Cash on Delivery), serta transaksi dan pembayarannya dilakukan di dunia nyata.

Selain hal tersebut, M. Husaini juga menemukan bahwa dalam transaksi e-commerce di Indonesia, transaksi yang diterapkan tidak hanya transaksi al-salam

semata. Tetapi juga transaksi al-istisna’ dan transaksi jual beli biasa. Lebih jelasnya adalah apabila transaksi dan pembayaran dilakukan segera secara online dan melibatkan komoditas non-digital, maka pada dasarnya sama dengan transaksi al-salam. Apabila transaksi online dilakukan dengan sistem pembayaran cash on

49 Majelis Tarjih Muhammadiyah atau Majelis Tarjih dan Tajdid adalah sebuah lembaga

yang bertugas mengembangkan dan menyegarkan pemahaman dan pengamalan keagamaan kehidupan masyarakat yang multikultural dan kompleks, serta selalu proaktif dalam menjawab masalah riil yang sedang berkembang di masyarakat. Lihat: http://tarjih.muhammadiyah.or.id/content-9-sdet-tugas-dan-fungsi.html (diakses tanggal 20 Desember 2016 pukul 11.30 WIB).

50 Syaifullah Mz, “E-Commerce dalam Hukum Islam (Studi atas Pandangan Muhammadiyah dan NU)”, Jurnal Penelitian Agama, Vol XVII, No.3 (September – Desember, 2008): 571-585.

51 Azhar Muttaqin, “Transaksi E-Commerce dalam Tinjauan Hukum Jual Beli Islam”, Jurnal

17

delivery, maka dapat dikategorikan sebagai bentuk transaksi al-istisna’52. Sedangkan apabila komoditas yang diperdagangkan adalah komoditas digital, maka sesungguhnya transaksi yang dilakukan adalah jual beli biasa , sebab komoditas barang yang dibeli dapat diterima langsung oleh consumer melalui situs internet.53

Keempat, penelitian Marjan Muhammad, Muhd Rasyidi Muhammad, dan Khalil Muhammed Khalil dengan judul “Towards Shari’ah Compliant E-commerce Transactions: A Review of Amazon.com”. Dalam penelitian yang dilakukannya, mereka berpendapat bahwa konsep jual beli melalui e-commerce dapat diterapkan dalam Islam. Namun demikian, ada beberapa prinsip syariah yang harus terpenuhi untuk memastikan bahwa transaksi jual beli tersebut tidak diragukan keabsahannya. Selain itu, seluruh e-commerce juga harus memenuhi ketentuan dasar agar transaksi yang dilakukan sesuai dengan prinsip hukum Islam. Beberapa ketentuan mendasar tersebut meliputi formulir transaksi (pemesanan dan pesetujuan), pihak-pihak yang melakukan perjanjian (penjual dan pembeli), serta barang yang diperjualbelikan atau ditransaksikan (jenis dan harga). Selain itu, ada juga beberapa syarat dan ketentuan yang harus diperhatikan dalam transaksi e-commerce, di antaranya perihal konektivitas, kejelasan jenis barang dan kesesuaian barang pada saat penawaran dan pada saat penerimaan, persetujuan bersama antara pihak yang mengadakan perjanjian, kemampuan kedua belah pihak yang melakukan transaksi, kepemilikan yang sah terhadap barang yang diperdagangkan, jenis barang yang diperdaganggkan adalah barang yang legal, serta kejelasan dan kemampuan pengiriman barang.

Lebih lanjut, Marjan dkk menambahkan bahwa dalam melakukan transaksi jual beli, setiap e-commerce harus terbebas dari unsur riba, gharar (ketidaktentuan), dan maisir (perjudian), serta transaksi yang terjadi harus memberikan keuntungan dan keadilan di antara pihak-pihak yang bertransaksi atau mengadakan perjanjian. Hal ini bertujuan agar transaksi yang dilakukan benar-benar transaksi yang didasarkan atas kondisi saling rela, bukan dalam keterpaksaan. Untuk itulah, penjual dan pembeli sudah selayaknya mendapatkan gambaran seluruh proses transaksi untuk memastikan bahwa transaksi yang dilakukan benar -benar sejalan dengan prinsip hukum Islam.54

Kelima, penelitian Hanudin Amin dengan judul “E-Bussines from Islamic Perspectives: Prospect and Challenges”. Dalam penelitian tersebut Hanudin

52 Istisna adalah jual beli yang terjadi antara pemesan dan penerima barang, dengan

spesifikasi dan harga yang telah disepakati di awal, namun pembayarannya dilakukan secara bertahap sesuai kesepakatan. Dalam konteks ini Jumhur Ulama’ berpendapat bahwa hukum transaksi dengan model Istisna’ ini adalah boleh atas dasar pertimbangan kemaslaha tan ummat. Lihat Fathurrahman Djamil, Penerapan Hukum Perjanjian dalam Transaksi di

Lembaga Keuangan Syariah (Jakarta: Sinar Grafika, 2013), 142-143.

53 M. Husaini, “Bisnis E-Commerce dalam Perspektif Islam”, Jurnal Ilmu Dakwah dan

Pengembangan Komunitas, Vol 9 No.2 (Juli, 2014): 186-200.

54 Marjan Muhammad, et all, “Towards Shari’ah Compliant E-commerce Transaction: A Review of Amazon.com”, Middle-East Journal of Scientific Research 15 (9) (2013): 1229-1236

18

berusaha memperkenalkan konsep e-bisnis Islam (Islamic e-Business). E-bisnis Islam didefinisikan sebagai sebuah proses penjualan produk (barang) atau memberikan layanan (jasa) yang halal melalui sebuah sarana elektronik yaitu internet. Suatu transaksi e-bisnis dapat disebut sebagai e-bisnis Islam (syariah) apabila dalam praktik pengelolaanya menerapkan prinsip kehati-hatian sebagaimana ajaran Islam. Seperti menghindarkan diri dari praktik penipuan, berdusta (tidak memberikan layanan sebagaimana mestinya), serta mengambil keuntungan di luar batas yang dilarang oleh ajaran agama Islam.55

Penelitian ini dilakukan dalam rangka menjawab permasasalahan mayoritas ummat Islam Malaysia mengenai keamanan, legalitas, risiko gharar, riba, dan isu yang terkait transaksi e-commerce berdasarkan sperspektif syariah. Penelitian ini secara lebih khusus dimaksudkan untuk memberikan panduan umum bagi pemain e-commerce. Untuk meminimalisir risiko gharar, pembeli dan penjual wajib memberikan informasi yang lengkap mengenai barang yang diperjuabelikan dan informasi tambahan lainnya seputar transaksi yang dilakukan. Secara umum istilah

gharar dalam transaksi jual beli digunakan untuk menggambarkan dua jenis transaksi yaitu penjualan yang gaib (ba’i 'al-ghaib) dan penjualan yang tidak ada (ba’i 'al-ma'dum) objek penjualannya pada saat kontrak.

Secara lebih teknis, untuk mencapai kepatuhan syariah dalam menjalankan bisnis, penjual berkewajiban menjelaskan produk yang ditawarkan secara jelas, mulai dari spesifikasi barang, harga barang, cara pengiriman, sampai dengan metode pembayaran. Selain itu, keduanya juga harus mencapai kesepakatan dalam akad jual beli yang dilakukan.56

Keenam, penelitian Ahmad Hafidz Safrudin dengan judul “Transaksi Bisnis

E-commerce dalam Perspektif Hukum Islam dan Kitab Undang-Undang Hukum

Perdata (KUHPdt)”. Dalam penelitiannya Ahmad menegaskan bahwa dalam transaksi e-commerce diperlukan keberadaan pihak ketiga yang bertujuan untuk memberikan kelancaran transaksi dan mengantisipasi terjadinya tindak kejahatan. Selanjutnya, dalam konteks hukum Islam. keberadaan e-commerce diperbolehkan dengan pertimbangan kemaslahatan. Namun demikian, transaksi melalui e-commerce ini diperbolehkan sepanjang tidak mengandung unsur-unsur yang dapat mendatangkan kerusakan, seperti kedzaliman, penipuan, mengandung unsur riba, serta perkara yang diharamkan oleh syariat Islam.57

Ketujuh, penelitian Selvia Nuriasari dengan judul “Bisnis Online dalam Perspektif Islam”. Penelitian tersebut menyebutkan bahwa bisnis online adalah sebuah bisnis yang rentan terhadap tindak kecurangan. Olah karenanya bisnis

55 Hanudin Amin, E-Bussiness from Islamic Perspective: Prospect and Challenges, Journal

of Internet Banking and Commerce, Vol. 13 No 03, (December, 2008): 1-13

56 Mohd Zulkifli Muhammad, “Comprehensive Approach for Shari’a Compliance e-commerce Transaction, Journal of Internet Banking and Commerce, Vol. 16, No 1 (April: 2011), 10-13.

57 Ahmad Hafidz Safrudin, “Transaksi Bisnis E-commerce dalam Pespektif Hukum Islam dan Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (KUHPdt), Jurnal e-Faqih, Vol. 1 No. 1, (April, 2015): 27.

19

online harus dilaksanakan dengan hati-hati dan pelaku bisnis online juga harus memiliki pandangan bahwa bisnis yang dilakukan adalah modal untuk ke surga. Lebih jauh, Selvia memberikan penegasan bahwa bisnis online dapat dipersamakan hukumnya dengan jual beli al-salam. Oleh karena itulah objek atau barang yang diperjualbelikan harus jelas, dapat ditakar, ditimbang, dan dapat ditentukan sifatnya. Selain itu, peneliti juga menekankan pentingnya menerapkan etika bisnis Nabi SAW dalam pelaksanaan transaksi online, yang meliputi menetapkan harg a pokok suatu produk dengan membandingkan biaya yang dikeluarkan dan besaran keuntungan yang diinginkan oleh penjual, dan disetujui oleh pembeli; menjunjung tinggi profesionalisme, serta bersikap transparan.58

Kedelapan, penelitian Muhammed Naif Alotaibi dan Mehmed Asutay dalam International Journal of Economics, Commerce, and Management, United Kingdom yang berjudul “Islamic Banking and Islamic e-Commerce : Principles and Realities”. Penelitian ini menunjukkan hubungan antara perkembangan keuangan dan perbankan syariah dalam transaksi perdanganan online syariah. Muhamm ed Naif ingin melihat dampak perkembangan e-commerce islam bagi perkembangan keuangan dan perbankan syariah. Penelitian ini menujukkan bahwa sistem keuangan dan perbankan syariah berbasis teknologi informasi telah digunakan oleh sekitar 75 negara dan telah mampu menopang pertumbuhan dan kesuksesan perdagangan Islam, termasuk e-commerce islam.

Dalam konteks pengelolaan e-commerce Islam, penelitian ini menunjukkan bahwa dalam menjalankan bisnis, ummat islam harus mengedepankan prinsip perdagangan yang adil dan kejujuran dalam bertransaksi. Selain itu, terdapat empat faktor yang dapat membuat bisnis online islam (berhasil, yaitu (1) keberadaan konsep homoislamicus atau manusia islam yang berorientasi kepada moral daripada kepentingan ekonomi semata. Konsep ini merupakan bentuk perlawanan atas konsep homoeconomicus atau manusia ekonomi, (2) dukungan ekosistem atau lingkungan bisnis, (3) dukungan regulasi dan penerapan aturan yang konsisten, serta (4) peran dan keberpihakan pemerintah.59

Kesembilan, penelitian Mariana Jusop, Risyawati Mohamed Ismail, dan Noor Azizi Ismail yang berjudul “Halal E-Commerce Measure of Success: A Consideration od Sharia Compliance Business Practice” dalam World Journal of Islamic History and Civilization. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa e-commerce halal memiliki posisi yang cukup penting dalam perdagangan islam. Keberadaan e-commerce halal sangat dibutuhkan untuk menjawab dan mengatasi celah yang selama ini terdapat pada situs jual beli konvensional khususnya dalam hal kehalalan suatu barang atau jasa. E-commerce halal menawarkan solusi melalui berbagai cara, yaitu melalui pemenuhan prinsip-prinsip syariah dalam penyediaan barang dan jasa, saluran pembayaran, hingga manajemen logistik untuk memastikan 58 Selvia Nuriasari, “Bisnis Online dalam Pespektif Islam”, Jurnal Hukum dan Ekonomi

Syariah, Vol 2, (2014), 20-26.

59 Muhammad Naif Alotaibi and Mehmed Asutay, “Islamic Banking and Islamic e-Commerce: Principles and Realities” International Journal of Economics, Commerce, and

20

produk dan jasa yang ditransaksikan tetap halal. Selain itu, dalam hal pelaksanaan e-commerce halal harus sesuai dengan ketentuan syariah, meliputi seperti bebas dari unsur riba, gharar, maysir dan haram.60

Kesepuluh, penelitian Muhammad Kholifatul I. Ardiansyah, Yuniar dan Budi Harsanto yang berjudul “Shari’ah – Compliant E-Commerce Models and Consumer Trust” dalam Al-Iqtishad: Jurnal Ilmu Ekonomi Syariah (Jurnal of Islamic Economics). Dalam penelitian ini Muhammad Kholifatul dkk berusaha memberikan gambaran mengenai kepatuhan syariah (syariah compliant) yang terjadi pada e-commerce serta seberapa besar kepercayaan konsumen terhadap e-commerce. Dalam hal syariah compliant, penelitian ini menjelaskan bahwa kepatuhan syariah dimakani sebagai suatu bentuk model yang menunjukkan bagaimana seharunya e-commerce dijalankan sesuai dengan prinsip-prinsip syariah. Keberadaan prinsip-prinsip tersebut dapat dilihat dari beberapa hal, yaitu: (1) perjanjian transaksi atau akad yang dipergunakan dalam bertransaksi, (2) proses transaksi antar penjual dan pembeli, (3) objek dan harga barang yang ditransaksikan, (4) bebas dari berbagai transaksi yang dilarang dalam Islam.

Sementara itu, dari sisi kepercayaan konsumen, penelitian ini menunjukkan bahwa masih terdapat berbagai kekhawatiran konsumen terhadap praktik jual beli melalui e-commerce. Di antaranya adalah kekhawatiran masih ada unsur riba,

maysir, gharar, dan ikhrah, kekhawatiran tentang kesesuaian produk yang sebenarnya dengan gambar yang ditampilkan di situs e-commerce, kekhawatiran mengenai kualitas produk yang tidak sesuai dengan deskripsi sebenarnya, serta kekhawatiran akan terjadinya penipuan online yakni produk tidak dikirim meskipun pembayaran telah dilakukan.61

Dalam rangka memberikan penegasan seputar posisi penelitian yang akan penulis lakukan dengan beberapa penelitian yang telah dilakukan sebelumnya, di bawah ini penulis merangkup beberapa penelitian yang relevan ke dalam bentuk tabel.

60 Mariana Jusop, et all, “Halal e-Commerce Measure of Success: A Consideration od Sharia Compliance Business Practice”, World Journal of Islamic History and Civilization 7 (4), (2017): 79 – 87

61 Muhammad Kholifatul I, et all, “Shari’ah – Compliant E-Commerce Models and Consumer Trust”, Al-Iqtishad: Jurnal Ilmu Ekonomi Syariah (Jurnal of Islamic Economics)

21

Tabel 1.1 Penelitian Terdahulu yang Relevan

NO Peneliti Variabel Hasil Persamaan Perbedaan

1 Syaifullah, Mz e-commerce, hukum Islam, pendapat Muhammadiyah, pendapat Nahdhatul Ulama

NU dan Muhammadiyah sama-sama membolehkan transaksi melalui

e-commerce. keduanya

bersepakat bahwa transaksi melalui e-commerce sama hukumnya dengan ba’i al- salam Membahas e-commerce dari sudut pandang Islam Jenis e-commerce yang diteliti. Penelitian ini tidak memfokuskan pada jenis e-commerce tertentu. 2 Azhar Muttaqin Transaksi, e-commerce,

Hukum jual beli Islam e-commerce merupakan praktik jual beli yang memiliki kesamaan dengan

ba’i al-salam.

Akan tetapi ada perbedaan yang mendasar di antara keduanya, yaitu dasar hukum yang mempengaruhi boleh atau tidaknya sebuah transaksi dilakukan

Membahas e-commerce dari tinjauan jual beli Islam

Tidak ada spesifikasi jenis

e-commerce yang diteliti

3 M. Husaini Bisnis, e-commerce, perspektif Islam

Dalam transaksi e-commerce di Indonesia, transaksi yang diterapkan tidak hanya transaksi al-salam semata. Tetapi juga transaksi al-istisna’ dan transaksi jual beli biasa.

Menjadikan e-commerce sebagai objek penelitian, dengan pendekatan perspektif Islam Tidak ada pembatasan terhadap Jenis e-commerce yang diteliti

22 Muhammad, Muhd Rasyidi Muhammad, dan Khalil Muhammed Khalil

commerce, Transactions. memenuhi ketentuan dasar

agar transaksi yang dilakukan sesuai dengan prinsip hukum Islam. Beberapa ketentuan mendasar tersebut meliputi formulir transaksi

(pemesanan dan

pesetujuan), pihak-pihak yang melakukan perjanjian (penjual dan pembeli), serta

barang yang

diperjualbelikan atau ditransaksikan (jenis dan harga). commerce tertentu, yaitu Amazon.com sebagai objek penelitian, dengan pendekatan kepatuhan syariah yang dipilih masih merupakan e-commerce konvensional. Bukan e-commerce Islam

5 Hanudin Amin E-Bussines, Islamic

Perspectives Suatu transaksi e-bisnis dapat disebut sebagai e-bisnis Islam (syariah) apabila dalam praktik pengelolaanya menerapkan prinsip kehati-hatian sebagaimana ajaran Islam. Seperti menghindarkan diri dari praktik penipuan, berdusta (tidak memberikan layanan sebagaimana mestinya), serta mengambil keuntungan di luar batas

Pembahasan pada jenis bisnis atau kegiatan jual beli melalui sarana elektronik dan internet.

Tidak ada jenis toko online yang dijadikan objek. Tetapi lebih memberikan panduan seputar ketentuan jual beli melalui internet yang sesuai perspektif Islam.

23

yang dilarang oleh ajaran agama Islam.

6 Ahmad Hafidz

Safrudin Transaksi Bisnis, e-commerce, Hukum Islam, KUHPdt

Keberadaan e-commerce

diperbolehkan dengan pertimbangan

kemaslahatan. transaksi melalui e-commerce ini diperbolehkan sepanjang tidak mengandung unsur-unsur yang dapat mendatangkan kerusakan, seperti kedzaliman, penipuan, mengandung unsur riba, serta perkara yang diharamkan oleh syariat Islam Pembahasan seputar e-commerce dan transaksi bisnis yang dilakukan.

Tidak ada jenis toko online yang dijadikan objek. Tetapi lebih memberikan panduan seputar syarat kebolehan transaksi bisnis melalui e-commerce.

7 Selvia Nuriasari Bisnis Online, Perspektif

Islam. bisnis dipersamakan hukumnya online dapat dengan jual beli al-salam. Oleh karena itulah objek atau barang yang diperjualbelikan harus jelas, dapat ditakar, ditimbang, dan dapat ditentukan sifatnya. Pembahasan seputar bisnis online, dengan pendekatan perspektif Islam

Tidak ada jenis toko online yang dijadikan objek. Membahas bisnis online secara umum. 8 Muhammed Naif Alotaibi dan

Islamic Banking and Islamic e-Commerce

Dalam menjalankan bisnis, termasuk e-commerce Islam

Membahas praktik

e-commerce Islam

Menghubungkan e-commerce

24

Mehmed Asutay ummat prinsip yang harus

dikedepankan adalah prisnisp perdagangan yang adil dan kejujuran dalam bertransaksi. Islam dengan perkembangan lembaga keuangan 9 Mariana Jusop, Risyawati Mohamed Ismail, dan Noor Azizi Ismail

Halal E-Commerce, Sharia

Compliance dalam hal pelaksanaan commerce halal harus sesuai e-dengan ketentuan syariah, meliputi seperti bebas dari unsur riba, gharar, maysir

dan haram Membahas e-commerce halal / e-commerce Islam Menitikberatkan pada kepatuhan syariah. 10 Muhammad Kholifatul I. Ardiansyah, Yuniar dan Budi Harsanto

Shari’ah Compliant, E-Commerce, Consumer Trust

Keberadaan prinsip-prinsip syariah dalam e-commerce

dapat dilihat dari beberapa hal, yaitu: (1) perjanjian transaksi atau akad yang dipergunakan dalam bertransaksi, (2) proses transaksi antar penjual dan pembeli, (3) objek dan harga barang yang ditransaksikan, (4) bebas dari berbagai transaksi yang dilarang dalam Islam. Membahas e-commerce halal / e-commerce Islam Menitikberatkan pada kepatuhan syariah dan kepercayaan pelanggan.

25 E. Metodologi Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan dalam rangka melakukan analisis terhadap bentuk penerapan prinsip jual beli yang disyariatkan oleh ajaran Islam dalam praktik transaksi melalui e-commerce. Penelitian ini adalah penelitian hukum ekonomi syariah, sehingga segala analisis yang dilakukan dalam penelitian ini berpedoman pada azas dan tujuan hukum yaitu keadilan, kemanfaatan, dan kepastian. Selain itu juga berlandaskan pada prinsip-prinsip hukum ekonomi syariah yang meliputi; hukum asal mu’amalah adalah mubah, mu’amalah harus dilakukan dengan cara suka sama suka, mendatangkan mas}lahah dan menolak

mud}arat, serta terhindari dari gharar, d}ulm, riba, dan hal lain yang haramkan oleh syariat.62

Untuk mempermudah pelaksanaan penelitian, di bawah ini penulis akan mengurai perihal informasi-informasi teknis yang berkaitan dengan metodologi penelitian yang penulis laksanakan.

1. Jenis Penelitian

Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan pendeka tan kualitatif (deskriptif-kualitatif). Penelitian deskriptif merupakan sebuah metode penelitian yang berusaha memberikan gambaran dan menginterpretasikan sebuah objek sesuai kondisi nyata yang sedang terjadi (faktual). Penelitian deskriptif ini dilaksanakan dengan tujuan untuk memberikan gambaran secara sistematis berkaitan dengan fakta-fakta dan karakteristik objek atau subjek yang diteliti secara tepat.63

Selain itu, Sumadi Suryabrata juga memberikan penjelasan bahwa penelitian deskriptif adalah sebuah penelitian yang bertujuan untuk mendeskripsikan atau menggambarkan secara sistematis, faktual, dan akurat berkaitan dengan fakta-fakta serta sifat-sifat dari sebuah populasi atau daerah tertentu.64

Penelitian ini juga sekaligus sebagai penelitian kualitatif, yakni sebuah penelitian yang bertujuan untuk memperoleh gambaran seutuhnya mengenai objek yang diteliti dan tidak dapat diukur dengan angka, serta menjadi sebuah penelitian yang dimaksudkan untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian dengan cara penggambaran dalam bentuk kata-kata dan bahasa.65 Sejalan dengan hal tersebut, Jhon W. Creswell memberikan pengertian bahwa penelitian kualitatif merupakan metode untuk mengeksplorasi dan dan memahami makna yang oleh

62 Hotberliani Harahap, Pengertian Hukum dan Ekonomi Syariah, Buletin Justice Fakultas

Syariah dan Ilmu Hukum IAIN Padangsidimpuan - Edisi I, Januari – Maret (2015)

63 Sukardi, Metodologi Penelitian Pendidikan Kompetisi dan Praktiknya (Jakarta: PT. Bumi Aksara, 2008), 157.

64 Sumadi Suryabrata, Metodologi Penelitian (Jakarta: Rajawali Pers, 2010), 75

65 Lexy J Maleong, Metodologi Penelitian Kualitatif (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2000), 6.

26

beberapa individu maupun kolompok dianggap sebagai bagian dari masalah sosial atau kemanusiaan.66

Dalam hal kaitannya dengan penelitian ini, penulis akan menggambarkan secara faktual proses transaksi yang terjadi pada beberapa situs e-commerce Islam yang telah menjadi objek penelitian, kemudian menghubungkan dan membandingkan proses transaksi tersebut dengan prinsip-prinsip jual beli online dalam Islam.

Penelitian yang penulis lakukan ini juga merupakan gabungan dari