BAB 5 KESIMPULAN, DISKUSI, DAN SARAN
5.2 Diskusi
Pendekatan intervensi dengan melibatkan orang tua, PCIT, yang dipilih dalam mengatasi perilaku disruptive I telah efektif mengurangi perilaku disruptive I. Hal ini sejalan dengan pernyataan bahwa faktor parenting berperan dalam berkembangnya perilaku disruptive pada anak, sehingga intervensi yang melibatkan orang tua yang dianggap mampu untuk mengatasi perilaku anak (Schroeder & Gordon, 2002). Orang tua melalui penerapan pola asuh yang kurang adekuat berkontribusi terhadap perilaku anak, yaitu ditandai dengan responsivitas dan sensitivitas orang tua yang rendah, batasan dari orang tua yang kurang, serta kontrol orang tua yang negatif. Dengan adanya keterampilan yang didapatkan oleh orang tua dalam tahap CDI, orang tua mampu mengembangkan kemampuannya untuk membangun interaksi yang lebih hangat dengan anak. Sementara dengan keterampilan PDI, orang tua diberdayakan kemampuannya untuk mampu memberikan batasan kepada anak dengan menggunakan cara yang efektif dan menghindari kontrol yang bersifat koersif bagi anak (McNeil & Hembree-Kigin, 2010). Kedua tahap dalam PCIT ini terlihat mampu memberdayakan keterampilan
ibu I dalam membangun interaksi yang hangat dengan I juga meningkatkan kepatuhan I terhadap ibu.
Penelitian ini menggunakan waktu dua kali sesi dalam satu minggu. Sejumlah penelitian PCIT lebih banyak menerapkan waktu satu kali sesi setiap minggunya (McNeil & Hembre-Kiggin, 2010). Dengan pertemuan satu kali satu minggu, orang tua memiliki waktu lebih banyak untuk melatih keterampilan mereka dengan anak di rumah. Kesempatan orang tua melatih keterampilannya di rumah dapat mempengaruhi keberhasilan intervensi. Walaupun demikian, ada salah satu penelitian PCIT untuk menangani perilaku disruptive pada anak yang mengalami autism dengan waktu dua kali sesi dalam satu minggu dan hasil penelitian tersebut tetap menunjukkan efektivitas terhadap perubahan perilaku anak (Jamison, 2007). Dengan pertemuan dua kali dalam satu minggu, terapis dapat meningkatkan intensitas pertemuan dengan orang tua dan anak serta meningkatkan kesempatan orang tua untuk berlatih dengan terapis dan mendapatkan umpan balik dari terapis.
Dengan waktu sesi dua kali dalam seminggu, intervensi ini juga tetap terbukti efektif. Hal yang membuat intervensi ini berhasil adalah komitmen ibu untuk menghadiri sesi sekalipun ibu dalam kondisi hamil besar dan bertempat tinggal yang cukup jauh dari lokasi klinik. Ayah I meskipun tidak berada di Jakarta, juga turut mendukung kehadian ibu ke klinik. Kondisi ini dapat tercipta karena adanya rapport yang terbentuk cukup baik antara pelaksana intervensi dengan orang tua yang terlihat pada tahap pre-treatment. Menurut McNeil dan Hembre-Kiggin (2010), tahap pertama (pre-treatment) merupakan tahap yang sangat penting guna membuat orang tua termotivasi hadir dalam keseluruhan sesi intervensi. Apabila sesi ini tidak berjalan dengan baik, maka hal yang sulit untuk mengharapkan keluarga akan datang kembali pada sesi intervensi selanjutnya. I juga terlihat kooperatif selama intervensi. Sekalipun I beberapa kali hadir dengan
mood yang kurang baik, I mengatakan bahwa ia suka melakukan kegiatan bermain
dengan ibu. Saat sesi terakhir, I pun juga menanyakan kesempatan ia untuk datang ke klinik. Kehadiran orang tua dan anak dalam intervensi PCIT sangat mendukung berjalannya proses intervensi (McNeil & Hembree-Kigin, 2010).
Faktor yang mendukung lainnya adalah pelaksana intervensi mempertimbangkan latar keluarga dari ibu. Hal itu digunakan sebagai bahan pertimbangan pelaksana intervensi dalam melatih keterampilan ibu secara lebih sensitif. Pelaksana intervensi mengetahui bahwa ibu dan suami tidak terbiasa dalam memberikan pujian kepada anak dan belum pernah menerapkan keterampilan yang dilatihkan, sehingga pelaksana intervensi melatih ibu dari keterampilan yang paling mudah terlebih dahulu. Menurut McNeil dan Hembree-Kigin (2010), terapis perlu memiliki kepekaan terhadap kebutuhan keluarga untuk menyesuaikan intervensi dengan budaya dari keluarga. Dengan mengetahui kondisi ibu yang tidak mudah untuk menerapkan keterampilan yang dilatihkan, pelaksana intervensi mengulang materi di setiap awal sesi secara lisan dengan singkat dan meyakinkan ibu bahwa ia mampu untuk menerapkan keterampilan. McNeil dan Hembree-Kigin (2010) menyatakan bahwa orang tua seringkali tidak percaya diri untuk menggunakan keterampilan baru serta membutuhkan dorongan dan dukungan dari terapis.
Sikap ibu yang terbuka terhadap masukan dari pelaksana intervensi juga mendukung keberhasilan dari intervensi ini. Keterampilan yang dilatihkan dalam PCIT merupakan hal baru bagi ibu dan tergolong tidak mudah dikuasai olehnya. Meskipun demikian, ibu menunjukkan kemauan dan motivasi untuk meningkatkan kemampuannya berinteraksi dengan I. Sikap ibu tersebut merupakan faktor pendukung yang signifikan dalam keberhasilan intervensi. Fernandez dan Eyberg (2009) menyatakan bahwa sikap ibu terhadap anak menentukan kehadiran ibu pada sesi treatment. Keterampilan berkomunikasi secara verbal yang dilatihkan dalam intervensi sesungguhnya merupakan hal baru yang mungkin saja bertolak belakang dengan sikap orang tua terhadap anak, atau dengan kata lain ada keengganan orang tua untuk menerapkan keterampilan tersebut. Pada ibu, meskipun sulit bagi ibu untuk menerapkan pujian dan mengabaikan perilaku disruptive I, dengan sikap terbuka dari ibu, ibu masih menunjukkan usaha untuk meningkatkan kemampuannya.
Sekalipun ada kemajuan dalam penguasaan keterampilan antara sebelum dan sesudah intervensi, tidak semua keterampilan terlihat stabil dikuasai oleh ibu selama sesi intervensi. Salah satu hal yang dapat mempengaruhi hal tersebut
adalah jenis kegiatan bermain dan atensi yang ditunjukkan I selama bermain. Pada beberapa sesi, I terlihat fokus untuk merangkai mainan dan minim dalam berbicara sehingga ibu memiliki kesempatan yang sedikit dalam merefleksi perkataan I. Menurut McNeil dan Hembree-Kigin (2010), anak usia sekolah memiliki rentang atensi yang tergolong lebih lama dari anak usia prasekolah. Mereka dapat terlihat lebih fokus untuk bermain. Hal lainnya yang menjadi penyebab kurang stabilnya penguasaan keterampilan ibu adalah ibu kurang optimal dalam menjalankan PR di rumah. Padahal, keberhasilan bergantung pada usaha dari orang tua. Proses berlangsung intervensi PCIT menuntut waktu dan usaha orang tua untuk melatih kemampuannya (Fernandez & Eyberg, 2009). Selain itu, pelaksana intervensi belum berhasil mendorong orang tua mengerjakan PR secara optimal dengan mainan yang sesuai secara konsisten. Ibu sempat tidak mengerjakan PR beberapa hari di antara sesi. Selain itu, ibu juga tidak memanfaatkan benda atau mainan yang sesuai dengan kriteria dalam bermain.. McNeil dan Hembree-Kigin (2010) menyatakan PR sangat penting untuk keberhasilan intervensi. Sebagai terapis seharusnya mampu untuk mendorong orang tua mengerjakan PR dengan baik dan memberi peringatan dengan tegas apabila orang tua tidak mengerjakan PR secara konsisten.
Keterbatasan dalam intervensi ini yaitu intervensi ini hanya melibatkan satu orang tua yaitu ibu. Hal ini sebenarnya sudah sesuai dengan pelaksanaan PCIT pada umumnya. McNeil dan Hembree-Kigin (2010) menyatakan bahwa penerapan PCIT pada awalnya lebih sering meneliti adanya hubungan antara orang tua dan perubahan perilaku anak setelah dilakukan penanganan terhadap interaksi antara ibu dan anak (mother-child dyad), yang hasilnya konsisten dengan metode pelatihan orang tua pada umumnya. Penelitian juga membuktikan tidak adanya perbedaan hasil post-treatment terhadap perubahan perilaku anak antara anak dengan ayah yang terlibat, ayah yang tidak terlibat dan yang tidak memiliki ayah. Namun demikian, McNeil dan Hembre Kiggin (2010) menjelaskan adanya kebutuhan untuk menyertakan ayah dalam intervensi klinis. Menurut Bagner dan Eyberg, 2003 (dalam McNeil & Hembre-Kiggin, 2010), meskipun dalam penelitiannya tidak ada perbedaan hasil post-treatment antara anak yang ayahnya terlibat dan tidak terlibat, anak dengan ayah yang ikut serta dalam intervensi,
menunjukkan keberlangsungan efek intervensi setelah intervensi berakhir yang lebih tinggi. Hal itu mengindikasikan pentingnya melibatkan ayah dalam intervensi (McNeil & Hembree-Kigin, 2010).
Keterbatasan berikutnya dari studi ini yaitu bersumber pada setting ruangan dan minimnya alat di klinik yang menunjang pelaksanaan intervensi dalam setting klinik. Menurut McNeil dan Hembree-Kigin (2010), pelaksanaan PCIT yang tipikal di klinik membutuhkan sejumlah peralatan yang berteknologi. McNeil dan Hembree-Kigin (2010) menyatakan bahwa ada peluang untuk mengembangkan PCIT dengan menggunakan peralatan yang lebih minim dari yang tipikal, namun secara ilmiah efektivitas intervensi dengan kondisi tersebut belum banyak ditelaah lebih lanjut. Selain itu sebagai pelaksana intervensi juga memiliki kehandalan yang terbatas dalam melatih keterampilan ibu karena belum mendapatkan pelatihan sebagai terapis. Apabila dibekali dengan training sebagai terapis, mungkin saja keterampilan ibu lebih meningkat dan kemajuannya lebih pesat. McNeil dan Hembree-Kigin (2010) menyatakan bahwa training bagi terapis PCIT amat penting guna menjamin keefektifan berlangsungnya intervensi. Selain itu, dalam studi ini juga tidak dilakukan follow-up yang dapat melihat keefektifan intervensi dalam jangka waktu tertentu setelah intervensi berakhir. Untuk itu, setelah intervensi ini berakhir, pelaksana intervensi merencanakan sesi booster dan jadwal follow-up untuk I dan ibu. Sesi booster ini biasanya dijadwalkan tiga bulan setelah intervensi berakhir, namun sesi ini dapat dijadwalkan lebih awal apabila terapis ingin mengantisipasi keberlangsungan efek dari intervensi (McNeil & Hembree-Kigin, 2010).