BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
2.2 Parent Child Interaction Therapy
2.2.2 Tahapan dalam PCIT
Dalam PCIT, orang tua akan dilatih dua keterampilan melalui dua tahap yaitu tahap CDI (Child-Directed Interaction) dan PDI (Parent Directed Interaction).
Pada tahap CDI, orang tua berlatih menggunakan keterampilan untuk meningkatkan hubungan orang tua dan anak mereka melalui kegiatan bermain. Keterampilan yang akan diajarkan yaitu meliputi cara atau teknik memuji (praising), merefleksi (reflecting), mengimitasi (imitating), menjelaskan/ mendeskripsi (describing), dan menunjukkan antusiasme (enthusiasm) terhadap perilaku anak. Keterampilan tersebut disebut juga dengan do skill (keterampilan yang harus dilakukan). Selain itu orang tua juga daiajarkan keterampilan untuk menghindari verbalisasi perintah, pertanyaan, dan sarkasme, atau disebut juga dengan avoid skill (keterampilan untuk menghindari). Di samping itu pada tahap ini, orang tua juga diajarkan untuk memberi perhatian secara efektif (strategic attention) dan mengabaikan secara selektif (selective ignoring). Keterampilan memberi perhatian secara efektif yaitu memberi perhatian secara khusus dengan menerapkan keterampilan yang diajarkan (memuji, merefleksi, mendeskripsi) terhadap perilaku positif anak. Keterampilan mengabaikan yaitu mengabaikan perilaku anak yang tergolong menggangguu, namun perilaku tersebut tidak membahayakan, seperti berteriak, berkata tidak pantas, dan melempar-lempar mainan.
Tahap CDI akan dimulai dengan sesi pengajaran dasar-dasar keterampilan CDI yang dilaksanakan melalui presentasi, diskusi, pemberian contoh, dan bermain peran antara orang tua dan terapis. Setelah sesi pengajaran, akan dilakukan sesi pelatihan keterampilan CDI. Jumlah sesi CDI secara spesifik bergantung dari seberapa cepat orang tua memperoleh keterampilan dan mampu untuk memberikan efek positif terhadap masalah anak.
Penguasaan orang tua dalam keterampilan CDI menjadi persyaratan bagi orang tua untuk dapat melanjutkan ke tahap PDI. Dalam fase ini, orang tua diharapkan mampu menunjukkan keterampilan memuji, merefleksi, dan mendeskripsi perilaku sebanyak masing-masing 7 kali. serta menghindari verbalisasi perintah, pertanyaan, dan sarkasme. Pengecualian yang jarang bagi orang tua untuk dapat beralih ke tahap PDI sebelum menguasai keterampilan yang dilatihkan dalam tahap CDI. Akan tetapi, hal yang penting pula adalah memperhatikan keberlangsungan orang tua untuk hadir dalam sesi terapi secara lengkap. Apabila orang tua berisiko untuk tidak mampu menyelesaikan sesinya secara lengkap, untuk kepentingan anak, akan lebih baik apabila orang tua beralih ke tahap PDI, meskipun orang tua belum menguasai keterampilan pada tahap CDI. Bagi anak, hal yang lebih tidak efektif apabila orang tua berhenti di tengah jalan berlangsungnya sesi (hanya sesi CDI) daripada orang tua belum mencapai penguasaan. Dalam kondisi lainnya, orang tua yang belum menguasai keterampilan CDI dengan sempurna juga dapat beralih ke tahap PDI. Hal itu dapat terjadi apabila penguasaan terakhir orang tua sebelum beralih ke tahap CDI mendekati penguasaan yang sempurna, misalnya orang tua melakukan avoid skill sebanyak lima kali (melebihi dua dari yang seharusnya tiga kali) atau menerapkan do skill dengan jumlah kurang sedikit dari jumlah yang diharuskan. Keterampilan CDI orang tua tersebut kemudian akan kembali dilatih dan dinilai selama tahap PDI (McNeil & Hembree-Kigin, 2010).
Ada beberapa penyesuaian pelaksanaan tahap CDI yang diterapkan bagi anak usia sekolah. Pertama, pentingnya pemberian pujian unlabeled. Pujian unlabled tersebut merupakan pujian yang tidak perlu disertai dengan perilaku positif yang anak lakukan, seperti perkataan ‘bagus!’ dan ‘hebat!’. Selain itu, orang tua juga dibolehkan untuk mengekspresikan pujian dalam bentuk nonverbal,
seperti sentuhan halus, acungan jempol, atau kedipan mata. Antusiasme dan imitasi yang diharapkan tampil dari orang tua juga agak berbeda dengan interaksi orang tua-anak usia prasekolah. Orang tua sebaiknya menunjukkan antusiasme secara halus dan dengan sikap yang tulus (genuine) sementara untuk imitasi, orang tua diharapkan tidak mengimitasi (meniru) perilaku anak secara langsung. Kesemua itu ditujukan agar kegiatan bermain yang dilakukan dapat berlangsung lebih alamiah (McNeil & Hembree-Kigin, 2010)..
Pada tahap keterampilan PDI, orang tua berlatih untuk meningkatkan kepatuhan anak terhadap arahan mereka dan menurunkan perilaku disruptivenya. Agar anak menunjukkan kepatuhan, orang tua perlu merespon secara berbeda saat anak patuh dan tidak patuh. Untuk itu, orang tua akan diajarkan keterampilan cara memberikan perintah secara efektif, memuji saat anak menunjukkan kepatuhan, menggunakan time-out saat anak menunjukkan ketidakpatuhan, dan membangun aturan. Pemberian perintah yang efektif yaitu orang tua memberikan kalimat perintah secara langsung kepada anak dalam satu kalimat dengan bentuk kalimat yang positif. Misalnya, ‘ambil balok biru’, ‘taruh hewan macan di dekat pohon’. Sementara itu, time-out adalah cara mendisiplinkan anak dengan mengeluarkan anak dari area kegiatan bermain, seperti membawa anak duduk di kursi time-out. Orang tua diharapkan dapat menguasai keterampilan PDI apabila orang tua menunjukkan minimal empat kali perintah, dan 75% dari perintah tersebut merupakan perintah yang efektif dan dipatuhi oleh anak. Dari 75% perintah yang dipatuhi oleh anak, dihaparkan orang tua mampu memberikan pujian terhadap kepatuhan anak tersebut.
Tahap PDI ini sama halnya dengan tahap CDI akan diawali dengan sesi pengajaran dan lalu dilanjutkan dengan sesi pelatihan keterampilannya. Pada pelatihan keterampilan PDI, terapis tetap dapat untuk melatih keterampilan CDI dan tetap menilai penguasaan keterampilan CDI pada sesi-sesi tertentu.
Pada tahap PDI anak usia sekolah, terdapat sedikit penyesuaian keterampilan PDI. Pertama, pujian yang diberikan terhadap kepatuhan anak dapat disesuaikan, seperti halnya dalam tahap CDI. Pujian yang berlabel (labeled praise) terhadap kepatuhan dapat memberi kesan berulang-ulang secara otomatis (mechanical) dan dibuat-buat/tidak alamiah (disingenuous). Ketika anak
mendapatkan kesan ini, pujian yang diberikan akan kehilangan nilainya. Orang tua dapat memberikan pujian dengan mengatakan, ‘bagus!’, ‘benar!’, ‘terimakasih banyak’. Selain itu, terkait dengan perubahan fisik anak usia sekolah, guna menghindari konfrontasi secara fisik dalam mendisiplinkan anak, ada penerapan teknik khusus dalam tahap ini. Dalam tahap PDI, terapis dapat menerapkan metode incentive chart (pencatatan hadiah) yaitu terapis mencatat perilaku positif anak dan memberikan hadiah sesuai dengan kesepakatan; juga ada metode suspension of previlege yaitu pemberian hak istimewa setelah anak melakukan perilaku positif. Kedua metode tersebut menuntut pemahaman anak. Cara tersebut dapat diterapkan bagi anak usia sekolah apabila anak telah memahami konsep sebab-akibat, mampu menetapkan pilihan, dan memahami konsekuensi timbal-balik akan perilakunya.
Selama intervensi, orang tua diberikan tugas saat di rumah, berupa melakukan kegiatan bermain (special play) bersama anak selama 5 menit. Orang tua diharapkan dapat melatih keterampilan mereka melalui kegiatan bermain tersebut sehingga mendukung kemajuan mereka menguasai keterampilan yang dilatihkan (McNeil & Hembree-Kigin, 2010).
2.3 Perkembangan Anak dan Tugas Orang Tua yang Sesuai pada Tahap