• Tidak ada hasil yang ditemukan

METODOLOGI PENELITIAN

DISPARITAS REGIONAL

Regional Antar Wilayah Mengurangi backwash effect yang merugikan Memberikan peluang bagi setiap wilayah untuk mengelola potensi di wilayah masing-masing Perlu keterkaitan interregional saling memperkuat Upaya mengurangi DISPARITAS REGIONAL Kelemahan Pembangunan Era ORBA:

- Kurangnya keterpaduan antar sektor - Struktur hubungan katerkaitan antar wilayah yang tidak sinergis/saling memperlemah

- Terjadinya backwash effect

Pembangunan berorientasi pada

pertumbuhan yang disertai pemerataan Jawa kaya akan

potensi SDA dan SDM

Faktor-faktor penyebab

DISPARITAS REGIONAL

2. Disparitas regional di Pulau Jawa mengalami trend yang terus meningkat pada masa awal pembangunan (saat orientasi pembangunan adalah untuk mengejar pertumbuhan/growth setinggi-tingginya). Namun, disparitas tersebut berangsur-angsur menurun sejalan dengan proses pembangunan yang dilakukan. Hal ini senada dengan hipotesis yang dikemukakan Kuznet (1954). Sehingga penerapan kebijakan Otonomi Daerah secara umum dapat mengurangi tingkat disparitas regional yang terjadi di Pulau Jawa.

3. Terdapat keterkaitan antar wilayah di Pulau Jawa. Hal ini didasarkan pada fakta bahwa wilayah bukan merupakan suatu entitas yang tertutup, sehingga akan selalu ada interaksi antar wilayah. Dengan demikian, ketika ada disparitas regional (antar wilayah) di Pulau Jawa, maka disparitas tersebut bukan hanya berasal dari wilayahnya sendiri tetapi juga dipengaruhi oleh faktor-faktor lain di wilayah sekitarnya.

4. Pertumbuhan ekonomi (PDRB), jumlah penduduk, tingkat perkembangan wilayah, persentase luas penggunaan lahan, ketersediaan dan kelengkapan infrastruktur serta kontribusi sektor-sektor perekonomian terhadap PDRB total merupakan faktor-faktor yang diduga sebagai penyebab utama terjadinya disparitas regional di Pulau Jawa.

Lokasi dan Waktu Penelitian

Daerah yang dipilih sebagai lokasi penelitian adalah seluruh wilayah kabupaten/kota di Pulau Jawa, yang terdiri dari 6 provinsi (Provinsi Banten, Provinsi DKI Jakarta, Provinsi Jawa Barat, Provinsi Jawa Tengah, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, dan Provinsi Jawa Timur), dengan jumlah total 84 kabupaten dan 32 kota (lihat peta administrasi Pulau Jawa per kabupaten/kota yang disajikan pada Gambar 3.2). Penelitian ini dilaksanakan selama 6 bulan, yaitu mulai bulan Maret sampai dengan September 2009.

Gambar 3.2. Peta Administrasi Pulau Jawa per Kabupaten/Kota.

Data dan Sumber Data

Data yang digunakan dalam penelitian ini berupa data sekunder yang diperoleh dari berbagai instansi terkait, yaitu: (1) data Potensi Desa (PODES) tahun 2000, 2003, 2006, dan 2008 (BPS); (2) data PDRB tahun 1986-2007 (BPS); (3) data Sensus Penduduk (SP) maupun SUPAS (Survei Penduduk Antar Sensus) (BPS); (4) data SUSENAS (Survei Sosial Ekonomi Nasional) tahun 2005-2008 (BPS); (5) data SAKERNAS (Survei Angkatan Kerja Nasional) tahun 2008 (BPS); (6) Provinsi dan Kabupaten/Kota Dalam Angka Tahun 2008 (BPS); (7) Statistik Indonesia tahun 2008 (BPS); (8) Peta Administrasi (BPS); (9) Peta Land System (BAKOSURTANAL), (10) Peta Penutupan Lahan (Land Cover) tahun 2003 dan 2006 (Departemen Kehutanan RI); serta beberapa peta tematik yang diperoleh dari BAPPENAS.

Metode Analisis

Untuk memecahkan berbagai permasalahan dan menjawab tujuan penelitian sebagaimana yang telah diuraikan sebelumnya, maka penelitian ini memerlukan berbagai metode analisis. Tabel 3.1 berikut menyajikan informasi mengenai tujuan penelitian, metode, data dan variabel yang digunakan dalam penelitian.

Tabel 3.1. Tujuan Penelitian, Metode, Data dan Variabel yang Digunakan

No Tujuan Penelitian Metode Data Variabel yang Digunakan

1. Menganalisis dinamika

pertumbuhan ekonomi

(economic growth) dan

pertumbuhan penduduk

(population growth) di Pulau

Jawa dari waktu ke waktu.

Menghitung:

- laju pertumbuhan ekonomi dan laju pertumbuhan

penduduk; - nilai rata-rata dan

coefficient of variation

(CV) untuk tiap parameter yang diamati; Analisis deskriptif. Data PDRB; Data Provinsi Dalam Angka, (BPS); Data Sensus Penduduk atau Data SUPAS (Survei Penduduk Antar Sensus).

PDRB dan jumlah penduduk pada tiap-tiap provinsi di Pulau Jawa

(time series).

2. Menentukan tingkat

perkembangan wilayah masing- masing kabupaten/kota di Pulau Jawa pada beberapa titik tahun.

Indeks Diversitas Entropy; Tipologi Klassen Data PDRB (BPS); Data Sensus Penduduk/SUPAS (time series); PDRB per kabupaten/kota tiap sektor; PDRB per kapita; laju pertumbuhan ekonomi per

kabupaten/kota.

3. Menganalisis dan

membandingkan besarnya derajat disparitas regional pada masa sebelum dan setelah kebijakan Otonomi Daerah yang terjadi di Pulau Jawa (pada 6 bentuk disparitas)

a) Disparitas antar provinsi di

Pulau Jawa;

b) Disparitas antara kawasan

metropolitan vs non

metropolitan (rest of

Java/ROJ);

c) Disparitas antara Kawasan

Jabodetabek vs non Jabodetabek;

d) Disparitas antara kota-kota

vs kabupaten;

e) Disparitas antara kawasan

pesisir vs non pesisir;

f) Disparitas antara kawasan

pesisir Jawa bagian Utara vs kawasan pesisir Jawa bagian Selatan.

Indeks Williamson Indeks Theil Entropy

Data PDRB (BPS); Data Sensus Penduduk/SUPAS (time series). PDRB dan jumlah penduduk tiap kabupaten/kota di Pulau Jawa yang dikelompokkan:

a) per provinsi. b) per kawasan (metropolitan- megapolitan VS ROJ). c) per kawasan (Jabodetabek VS non Jabodetabek/RoJab) d) kabupaten VS kota.

e) per kawasan (pesisir VS

non pesisir).

f) per kawasan (Jawa

bagian Utara vs Jawa bagian Selatan).

4. Menentukan faktor-faktor yang

mempengaruhi terjadinya disparitas pembangunan antar wilayah di Pulau Jawa.

Ekonometrika Spasial (Spatial Econometrics) Hasil analisis disparitas (butir 3); Data luas penggunaan lahan

dari peta land

system maupun peta

land cover; PODES;

Provinsi atau Kabupaten/ Kota Dalam Angka

PDRB, PDRB per kapita, Laju pertumbuhan ekonomi, jumlah dan kepadatan penduduk, IPM (Indeks Pembangunan Manusia); Indeks Diversitas Entropy; indeks skalogram, % luas penggunaan lahan, % kontribusi sektor-sektor perekonomian terhadap PDRB total.

Adapun metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini diuraikan di bawah ini.

Analisis Dinamika Pertumbuhan Ekonomi (Economic Growth) dan

Pertumbuhan Penduduk (Population Growth)

Analisis dinamika pertumbuhan ekonomi (economic growth) dilakukan dengan menghitung laju pertumbuhan PDRB pada tiap provinsi di Pulau Jawa pada beberapa titik tahun (pada masa sebelum dan sesudah diberlakukannya Otonomi Daerah). Dengan cara yang sama juga dilakukan penghitungan laju pertumbuhan penduduk pada tiap provinsi di Pulau Jawa. Setelah melakukan analisis tersebut, kemudian dengan grafik dan analisis deskriptif digambarkan

trend pertumbuhan ekonomi dan pertumbuhan penduduk di Pulau Jawa dari waktu ke waktu.

Analisis Deskriptif

Analisis deskriptif merupakan salah satu bentuk analisis yang bertujuan untuk memberikan deskripsi dan interpretasi atas hasil analisis yang disajikan dalam bentuk tabulasi data, peringkasan, penyajian dalam bentuk grafis, dan gambar-gambar, serta menghitung ukuran-ukuran deskripsinya. Analisis deskriptif digunakan untuk menjelaskan, menguraikan, menggambarkan, menganalisis, menjabarkan, menginterpretasi, maupun mensintesiskan fenomena-fenomena yang didapatkan dari hasil analisis lainnya, sehingga diperoleh pemahaman yang lebih objektif dan terperinci dari keadaan yang sebenarnya.

Analisis Tingkat Perkembangan Ekonomi Wilayah

Analisis yang digunakan untuk menentukan tingkat perkembangan wilayah dalam penelitian ini adalah Indeks Diversitas Entropy dan Tipologi Klassen.

Indeks Diversitas Entropy Struktur Ekonomi Wilayah

Indeks diversitas entropy dapat digunakan untuk melihat hierarki wilayah, yaitu dengan cara mengukur tingkat perkembangan suatu wilayah dan melihat aktivitas-aktivitas yang dominan (berkembang) pada wilayah tersebut. Analisis entropy merupakan salah satu konsep analisis yang dapat menghitung tingkat keragaman (diversifikasi) komponen aktivitas. Menurut Saefulhakim (2006), analisis ini memiliki beberapa keunggulan karena dapat digunakan untuk berbagai macam tujuan, antara lain: (1) memahami perkembangan suatu wilayah; (2)

∑∑

= =

=

n i n j i i

P

P

S

1 1

ln

memahami perkembangan atau kepunahan keanekaragaman hayati; (3) memahami perkembangan aktivitas perusahaan; dan (4) memahami perkembangan aktivitas suatu sistem produksi pertanian dan lain-lain.

Besarnya nilai indeks diversitas entropy mencerminkan tingkat perkembangan struktur ekonomi di suatu wilayah. Dalam penelitian ini, nilai indeks diversitas entropy digunakan untuk menghitung tingkat keberagaman dan keberimbangan aktivitas/sektor ekonomi pada masing-masing kabupaten/kota yang ada di Pulau Jawa. Semakin bertambah jumlah jenis aktivitas/sektor ekonomi pada suatu wilayah, maka nilai indeks diversitas entropy pada wilayah tersebut akan semakin besar. Demikian pula semakin berimbang komposisi berbagai aktivitas/sektor ekonomi tersebut, maka nilai indeks diversitas entropy juga menjadi semakin besar. Karena itu secara sederhana dapat dinyatakan bahwa semakin besar nilai indeks diversitas entropy maka suatu wilayah dapat dianggap semakin berkembang/maju.

Selain dilihat dari tingkat keberagaman dan keberimbangan aktivitas/sektor ekonomi, nilai indeks diversitas entropy di suatu wilayah juga akan semakin tinggi dengan semakin luasnya jangkauan spasial dari aktivitas- aktivitas atau sektor ekonomi tersebut. Hal ini berarti menandakan bahwa wilayah tersebut semakin berkembang.

Persamaan untuk menghitung nilai indeks diversitas entropy berkembang dari persamaan yang ditulis oleh Claude E. Shannon pada tahun 1949, terkait dengan teori informasi (information theory). Karena itu persamaan untuk menghitung nilai diversitas entropy tersebut juga dikenal dengan nama Shannon Entropy Index. Dalam konteks wilayah, persamaan umum dari perhitungan nilai entropy adalah sebagai berikut (Shannon, 1949):

Dimana:

S : nilai entropy diversitas struktur ekonomi wilayah Pi : rasio PDRB sektor ekonomi i terhadap PDRB wilayah

i : sektor ekonomi ke-i

n : jumlah sektor

Sedangkan indeks diversitas entropy (IDE) diperoleh dengan cara membagi nilai entropy (S) dengan nilai entropy maksimum (Smax), seperti persamaan berikut:

Indeks Diversitas Entropy (IDE) = max

S S

Keterangan: Smaxdiperoleh dengan rumus Smax = ln n (dimana n adalah jumlah seluruh sektor).

Nilai IDE berkisar antara 0 – 1. Jika nilai IDE = 1, berarti tingkat keragaman (diversifikasi) seluruh sektor merata/berkembang, demikian pula sebaliknya.

Pada penelitian ini, analisis indeks diversitas entropy digunakan untuk mengetahui perkembangan dan keberagaman aktivitas atau sektor-sektor perekonomian antar kabupaten/kota di Pulau Jawa, sehingga dapat melakukan perbandingan antar kabupaten/kota tersebut. Data yang digunakan untuk analisis ini adalah data PDRB per sektor pada masing-masing kabupaten/kota di Pulau Jawa dari tahun 2000 hingga 2006. Dengan menghitung indeks diversitas entropy secara time series, maka dapat diketahui trend tingkat perkembangan wilayah, dilihat dari keberagaman dan keberimbangan aktivitas ekonomi yang ada di wilayah tersebut. Dari hasil indeks diversitas entropy seluruh kabupaten/kota di Pulau Jawa kemudian dihitung rata-rata dan koefisien variasi (coefficient of variation/CV)-nya per provinsi. Nilai CV diperoleh dengan persamaan CV = (standar deviasi/rata-rata) x 100%. Dengan demikian, dapat dibandingkan tingkat perkembangan wilayah antar provinsi dengan melihat besarnya rata-rata dan CV nilai indeks diversitas entropy di masing-masing provinsi.

Tipologi Klassen

Analisis Tipologi Klassen (Klassen Typology) dapat digunakan untuk mengetahui gambaran tentang pola dan struktur pertumbuhan ekonomi masing- masing wilayah. Tipologi Klassen pada dasarnya membagi wilayah berdasarkan dua indikator utama, yaitu pertumbuhan ekonomi dan pendapatan per kapita tiap wilayah sebagaimana diungkapkan oleh Sjafrizal (2008). Melalui analisis ini diperoleh empat karakteristik pola dan struktur pertumbuhan ekonomi yang berbeda, yaitu: wilayah cepat-maju dan cepat-tumbuh (high growth and high income), wilayah maju tetapi tertekan (high income but low growth), wilayah berkembang cepat (high growth but low income), dan daerah relatif tertinggal (low growth and low income). Kriteria yang digunakan untuk membagi wilayah kabupaten/kota dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Wilayah cepat-maju dan cepat-tumbuh (Kuadran I). Kuadran ini merupakan kuadran wilayah dengan laju pertumbuhan PDRB (gi) yang lebih besar dibandingkan dengan laju

lebih besar dibandingkan pertumbuhan PDRB per kapita Pulau Jawa (gk). Klasifikasi ini dilambangkan dengan gi>g dan gki>gk.

2. Wilayah maju tetapi tertekan (Kuadran II). Wilayah yang berada pada kuadran ini memiliki nilai pertumbuhan PDRB (gi) yang lebih rendah dibandingkan pertumbuhan PDRB Pulau

Jawa (g), tetapi memiliki pertumbuhan PDRB per kapita (gki) yang lebih tinggi

dibandingkan pertumbuhan PDRB per kapita Pulau Jawa (gk). Klasifikasi ini dilambangkan dengan gi<g dan gki>gk.

3. Wilayah kurang berkembang (Kuadran III). Kuadran ini ditempati oleh wilayah yang memiliki nilai pertumbuhan PDRB (gi) dan pertumbuhan PDRB per kapita (gki) yang lebih

rendah dibandingkan dengan pertumbuhan PDRB (g) dan pertumbuhan PDRB per kapita Pulau Jawa (gk). Klasifikasi ini dilambangkan dengan gi<g dan gki<gk.

4. Wilayah berkembang cepat (Kuadran IV). Kuadran ini merupakan kuadran untuk wilayah yang memiliki nilai pertumbuhan PDRB (gi) yang lebih tinggi dari pertumbuhan PDRB

Pulau Jawa (g), tetapi pertumbuhan PDRB per kapita wilayah tersebut (gki) lebih rendah

dibandingkan dengan pertumbuhan PDRB per kapita Pulau Jawa (gk). Klasifikasi ini dilambangkan dengan gi>g dan gki<gk.

Pengelompokan wilayah berdasarkan klasifikasi keempat kuadran sebagaimana disebutkan di atas dapat diilustrasikan pada Gambar 3.3.

Gambar 3.3. Klasifikasi Tipologi Klassen untuk Pengelompokan Wilayah

Berdasarkan Kriteria Rata-rata Laju Pertumbuhan Ekonomi (%) dan PDRB per Kapita (Juta Rupiah/Jiwa)

Dalam penelitian ini, dilakukan klasifikasi/pengelompokan wilayah kabupaten/kota di Pulau Jawa dengan tipologi Klassen menggunakan dua periode waktu yang berbeda, yaitu pada masa sebelum dan sesudah diberlakukannya kebijakan Otonomi Daerah. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah rata- rata laju pertumbuhan ekonomi per tahun dan PDRB per kapita pada tiap-tiap kabupaten/kota di Pulau Jawa. Dari hasil analisis tersebut, maka dapat dilakukan

Kuadran I

Wilayah Maju

gi>g; gki>gk

Kuadran II

Wilayah Maju, Tetapi Tertekan

gi<g; gki>gk

Kuadran IV

Wilayah Berkembang Cepat

gi>g; gki<gk

Kuadran III

Wilayah Kurang Berkembang gi<g; gki<gk

Di Bawah Rata-rata P.Jawa

Dokumen terkait