• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kondisi Geografis dan Administratif

Pulau Jawa merupakan salah satu dari lima pulau besar di Indonesia, yang terletak di bagian Selatan Nusantara yang dikenal sebagai negara maritim. Sebagai bagian dari negara maritim, Pulau Jawa dikelilingi oleh berbagai perairan, baik samudera, laut maupun selat. Secara geografis, letak Pulau Jawa berbatasan langsung dengan Laut Jawa di sebelah Utara, Selat Bali di sebelah Timur, Samudra Hindia di sebelah Selatan, sedangkan di sebelah Barat berbatasan dengan Selat Sunda, sebagaimana disajikan pada Gambar 4.1 berikut ini.

Gambar 4.1. Letak Pulau Jawa dalam Wilayah Nusantara

Pulau Jawa membentang dari Barat ke Timur sepanjang 1.050 km dengan luas 129.438,28 km2 (berdasarkan Peraturan Dalam Negeri No.6 Tahun 2008 tanggal 31 Januari 2008) atau sekitar 6.77% dari total luas wilayah Indonesia. Secara administrasi sampai dengan akhir tahun 2007, Jawa tercatat memiliki 6 provinsi, yaitu DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, D.I.Yogyakarta (DIY), Jawa Timur, dan Banten, yang meliputi 116 kabupaten/kota (84 kabupaten dan 32 kota). Ditinjau dari segi luas wilayahnya, Provinsi Jawa Timur menempati urutan pertama (terluas) di Pulau Jawa dibandingkan kelima provinsi yang lain, sedangkan Provinsi DKI Jakarta ada di urutan terakhir (rincian luas wilayah dan pembagian daerah administrasi masing-masing provinsi di Pulau Jawa dapat dilihat pada Tabel 4.1 berikut).

Tabel 4.1. Luas Wilayah dan Pembagian Daerah Administrasi Masing-masing

Provinsi di Pulau Jawa Tahun 2007

Provinsi Luas Wilayah 1 (km2) Persen Luas (%) Jumlah Kab 1 Jumlah Kota 1 Jumlah Kecamatan 2 Jumlah Desa 2 DKI Jakarta 664.01 0.03 1 5 44 267 Jawa Barat 35,377.76 1.85 17 9 602 5,832 Jawa Tengah 32,800.69 1.72 29 6 568 8,573 D.I.Yogyakarta 3,133.15 0.16 4 1 78 438 Jawa Timur 47,799.75 2.50 29 9 657 8,505 Banten 9,662.92 0.51 4 2 152 1,504 Jawa 129,438.28 6.77 84 32 2,101 25,119 Indonesia 1,910,931.32 100.00 370 95 6,131 73,408

Sumber: Statistik Indonesia (2008).

Keterangan: 1 Berdasarkan Peraturan Menteri Dalam Negeri No.6 Tahun 2008 pada tanggal 31 Januari 2008.

2 Berdasarkan Laporan BPS Provinsi sampai dengan 31 Desember 2007.

Kondisi Kependudukan dan Ketenagakerjaan

Kependudukan

Penduduk merupakan salah satu modal dasar dalam pelaksanaan pembangunan. Berdasarkan data BPS, dapat diketahui bahwa jumlah penduduk yang mendiami Pulau Jawa tahun 2008 diperkirakan mencapai lebih dari 130 juta jiwa, sebagaimana disajikan pada Tabel 4.2 berikut ini.

Tabel 4.2. Jumlah Penduduk dan Laju Pertumbuhan Penduduk pada Masing-

masing Provinsi di Pulau Jawa Tahun 2000-2008

Jumlah Penduduk (Ribu Jiwa) Provinsi 20001 20052 20073 20083 Rata-rata Laju Pertumbuhan Penduduk Tahun 2000-2008 (%) DKI Jakarta 8,361.0 8,892.3 9,064.6 9,146.2 1.13 Jawa Barat 35,724.0 39,150.6 40,329.1 40,918.3 1.71 Jawa Tengah 31,223.0 31,873.5 32,380.3 32,626.4 0.55 D.I.Yogyakarta 3,121.1 3,365.5 3,434.5 3,468.5 1.33 Jawa Timur 34,766.0 36,481.8 36,895.6 37,094.8 0.81 Banten 8,098.1 9,071.1 9,423.4 9,602.4 2.15 Jawa 121,293.2 128,834.8 131,527.5 132,856.6 1.14 Indonesia 205,132.0 219,852.0 225,642.0 228,523.3 1.38

Sumber: Statistik Indonesia (2008).

Keterangan: 1 Hasil Sensus Penduduk (SP) 2000.

2 Hasil Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 2005.

3 Hasil Proyeksi Penduduk, diolah dari hasil Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 2005.

Selama ini sebagian besar penduduk Indonesia masih terpusat di Pulau Jawa. Jumlah penduduk di Pulau Jawa begitu besar dan terus bertambah setiap tahunnya, namun tidak diimbangi dengan pemerataan penyebaran penduduk. Data tahun 2008 menunjukkan bahwa Pulau Jawa dengan luas yang hanya mencapai 6.77% dari total luas daratan Nusantara, dihuni sekitar 58% dari total penduduk Indonesia. Dari jumlah tersebut, 17.91% penduduk tinggal di Provinsi Jawa Barat, 14.28% di Jawa Tengah, dan 16.23% di Jawa Timur. Besarnya jumlah penduduk di Pulau Jawa menyebabkan kepadatan penduduk pulau tersebut menjadi sangat tinggi, yaitu 938 jiwa/km2 (tahun 2000) dan menjadi 1,027 jiwa/km2 di tahun 2008 (lihat Tabel 4.3 berikut).

Tabel 4.3. Distribusi Persentase Penduduk dan Kepadatan Penduduk Masing-

masing Provinsi di Pulau Jawa Tahun 2000-2008

Persentase Penduduk* (%) Kepadatan Penduduk (jiwa/km2)

Provinsi 20001 20052 20073 20083 20001 20052 20073 20083 DKI Jakarta 4.08 4.04 4.02 4.00 11,294 12,012 12,245 12,355 Jawa Barat 17.42 17.81 17.87 17.91 967 1,060 1,092 1,108 Jawa Tengah 15.22 14.50 14.35 14.28 952 972 987 995 D.I.Yogyakarta 1.52 1.53 1.52 1.52 996 1,074 1,096 1,107 Jawa Timur 16.95 16.59 16.35 16.23 745 781 790 794 Banten 3.95 4.13 4.18 4.20 898 1,006 1,045 1,065 Jawa 59.13 58.60 58.29 58.14 938 996 1,017 1,027 Indonesia 100.00 100.00 100.00 100.00 110 118 121 123

Sumber: Statistik Indonesia (2008).

Keterangan: * Persentase penduduk terhadap total jumlah penduduk nasional. 1 Hasil Sensus Penduduk (SP) 2000.

2 Hasil Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 2005.

3 Hasil Proyeksi Penduduk, diolah dari hasil Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 2005.

Dari data yang disajikan pada Tabel 4.3. di atas, dapat dilihat bahwa Provinsi DKI Jakarta merupakan provinsi di Pulau Jawa dengan tingkat kepadatan penduduk yang paling tinggi, yaitu mencapai 12,355 jiwa/km2 pada tahun 2008.

Berdasarkan data persentase penduduk (sebagaimana disajikan pada Tabel 4.3), dapat diketahui bahwa dari tahun 2000 hingga 2008 proporsi penduduk di Provinsi DKI Jakarta, Jawa Tengah, dan Jawa Timur terhadap jumlah penduduk nasional secara konsisten mengalami penurunan, sementara di Provinsi Jawa Barat dan Banten secara konsisten mengalami peningkatan. Hal ini menunjukkan bahwa di Pulau Jawa dari tahun ke tahun terjadi pemusatan sebaran penduduk ke wilayah Bodetabek (Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi) sebagai wilayah

penyangga Jakarta yang notabene masuk ke dalam wilayah administrasi Provinsi Jawa Barat dan Banten. Sedangkan proporsi penduduk Provinsi DIY relatif tetap (terhadap total penduduk nasional) pada selang waktu tersebut (tahun 2000-2008). Sementara apabila dilihat proporsi jumlah penduduk Pulau Jawa terhadap jumlah penduduk nasional, maka proporsi penduduk Pulau Jawa sedikit mengalami penurunan. Kecenderungan ini tentunya cukup baik untuk mendorong keberimbangan sebaran jumlah penduduk secara nasional. Namun untuk wilayah Bodetabek justru terus terjadi pemusatan sehingga proporsi penduduk Provinsi Jawa Barat dan Banten semakin meningkat.

Ketenagakerjaan

Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) dan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT)

Tenaga kerja adalah modal bagi geraknya roda pembangunan. Jumlah dan komposisi tenaga kerja akan terus mengalami perubahan seiring dengan berlangsungnya proses demografi. Pada kondisi Agustus 2007, di Indonesia terdapat 164,12 juta penduduk usia kerja dimana sekitar 60.67% dari mereka berada di Pulau Jawa. Bagian dari tenaga kerja yang aktif dalam kegiatan ekonomi disebut angkatan kerja. Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) merupakan ukuran yang menggambarkan jumlah angkatan kerja untuk setiap 100 penduduk usia kerja (15+).

TPAK di Pulau Jawa pada bulan Agustus 2007 sebesar 66.12%, yang berarti telah mengalami peningkatan sebesar 0.71% dibandingkan dengan kondisi bulan Agustus 2006 yang besarnya 65.65%. Peningkatan TPAK ini antara lain disebabkan oleh kondisi sosial ekonomi nasional yang semakin membaik, sehingga memberikan pengaruh terhadap faktor-faktor produksi di Indonesia. Secara langsung naik turunnya faktor produksi ini akan memberikan dampak terhadap tinggi rendahnya faktor permintaan dan penawaran tenaga kerja. Sementara itu, hasil Sakernas (Survei Angkatan Kerja Nasional) Februari 2008 menunjukkan bahwa TPAK di Pulau Jawa kembali meningkat dari kondisi tahun 2007, yakni sebesar 67.23% (Tabel 4.4).

Sementara itu, ditinjau dari besarnya tingkat pengangguran terbuka (TPT) sebagaimana dapat dilihat pada Tabel 4.4, dapat diketahui bahwa TPT di Pulau Jawa terkonsentrasi di tiga provinsi yaitu DKI Jakarta, Jawa Barat dan Banten. Ketiganya memiliki tingkat pengangguran terbuka di atas nilai rataan Pulau Jawa

bahkan nasional. Hal ini menunjukkan bahwa aglomerasi ekonomi di Kawasan Jabodetabek yang notabene mewakili ketiga provinsi tersebut mulai diwarnai oleh masalah pengangguran. Hal ini tentunya tidak terlepas dari fenomena migrasi ke kota yang terjadi secara berlebihan, dimana sebagian besar penduduk yang bermigrasi tersebut didominasi oleh tenaga kerja yang tidak terdidik dan tidak terlatih (unskilled labour). Akibatnya, banyak angkatan kerja yang tidak dapat tertampung, sehingga masalah pengangguran kian berkembang di ketiga provinsi tersebut.

Tabel 4.4. Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) dan Tingkat Partisipasi

Angkatan Kerja (TPAK) Masing-masing Provinsi di Pulau Jawa Tahun 2006-2008

TPT (%) TPAK (%)

2006 2007 2008 2006 2007 2008

Provinsi

Feb Agust Feb Agust Feb Feb Agust Feb Agust Feb

DKI 14.3 11.4 13.3 12.6 11.1 62.7 64.9 61.0 65.0 65.9 Jabar 14.5 14.6 14.5 13.1 12.3 61.8 61.4 60.7 62.5 61.9 Jateng 8.2 8.0 8.1 7.7 7.1 71.1 68.6 71.2 70.2 71.5 DIY 6.3 6.3 6.1 6.1 6.0 70.3 69.2 71.7 68.6 70.0 Jatim 7.7 8.2 7.5 6.8 6.2 68.9 67.4 67.7 69.0 69.7 Banten 16.3 18.9 16.1 15.8 14.2 61.4 62.4 61.7 61.6 64.4 Jawa 11.2 11.2 10.9 10.3 9.5 66.0 65.7 65.7 66.1 67.2 Indonesia 10.5 10.3 9.8 9.1 8.5 66.7 66.2 66.6 67.0 67.3

Sumber: Statistik Indonesia (2008).

Keterangan: Diolah dari hasil Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas).

Kondisi Sosial Pendidikan

Salah satu indikator yang dapat digunakan untuk melihat keberhasilan pembangunan di suatu negara adalah tersedianya cukup sumberdaya manusia yang berkualitas. Ukuran yang biasa digunakan untuk menilai kualitas sumberdaya manusia diantaranya adalah angka melek huruf, rata-rata lama sekolah dan angka partisipasi sekolah. Angka melek huruf penduduk berumur 15 tahun (baik untuk laki-laki maupun perempuan) di Pulau Jawa sudah cukup baik. Meskipun demikian, angka melek huruf terbesar masih terdapat di 3 provinsi di wilayah Barat yaitu Jakarta, Jawa Barat dan Banten (sebagaimana dapat dilihat pada Tabel 4.5). Hal ini bukan hanya menunjukkan bahwa sarana dan prasarana pendidikan pada ketiga provinsi tersebut cukup baik, namun juga mengindikasikan bahwa banyak tenaga terdidik yang bermigrasi dan menetap di ketiga provinsi tersebut. Karena itu, untuk meningkatkan angka melek huruf di

provinsi lainnya, maka selain perlu meningkatkan penyediaan sarana prasarana pendidikan (baik dari segi kuantitas maupun kualitas), hal lain yang perlu dilakukan adalah terus membuka peluang agar kesempatan untuk bekerja dan berusaha semakin luas.

Tabel 4.5. Angka Melek Huruf Penduduk Berusia 15 Tahun ke Atas Menurut

Provinsi dan Jenis Kelamin di Pulau Jawa Tahun 2005 dan 2006 ( %)

Angka Melek Huruf (%)

2005 2006

Provinsi

Laki-laki Perempuan Laki-laki Perempuan

DKI Jakarta 99.3 97.4 99.1 97.4 Jawa Barat 96.9 92.3 97.0 92.8 Jawa Tengah 92.3 82.6 92.7 83.9 DI Yogyakarta 92.5 81.2 92.3 80.7 Jawa Timur 91.5 80.5 92.1 82.4 Banten 97.5 93.7 97.0 92.9 Jawa 95.0 88.0 95.4 88.4 Indonesia 92.8 88.3 93.1 89.7 Sumber: BPS (2007).

Berdasarkan informasi yang diperoleh dari BPS (2007) juga dapat diketahui data rata-rata lamanya penduduk bersekolah di tiap-tiap wilayah. Pada kasus Pulau Jawa, penduduk di beberapa provinsi tahun 2005 dan 2006 memiliki rata-rata lama sekolah yang berada di atas rataan nasional, yaitu Provinsi DKI Jakarta, DIY, dan Banten (Tabel 4.6).

Tabel 4.6. Rata-rata Lama Sekolah Menurut Provinsi dan Jenis Kelamin di Pulau

Jawa Tahun 2005 dan 2006 (dalam tahun)

Rata-rata Lama Sekolah (tahun)

2005 2006

Provinsi

Laki-laki Perempuan Laki-laki Perempuan

DKI Jakarta 10.4 9.3 10.7 9.6 Jawa Barat 7.8 6.8 7.9 7.0 Jawa Tengah 7.2 6.1 7.4 6.3 DI Yogyakarta 9.0 7.7 9.4 7.7 Jawa Timur 7.3 6.1 7.5 6.3 Banten 8.5 7.5 8.3 7.3 Jawa 8.4 7.3 8.5 7.4 Indonesia 7.8 6.8 7.9 7.0 Sumber: BPS (2007).

Rata-rata lama sekolah penduduk di Provinsi Jawa Barat sama dengan rataan nasional, sedangkan dua provinsi lainnya (Jawa Tengah dan Jawa Timur) justru lebih rendah dari rataan nasional. Dari ketiga provinsi di Pulau Jawa dengan

nilai di atas rataan nasional, Provinsi DKI Jakarta merupakan provinsi dengan nilai rata-rata lama sekolah yang tertinggi, meskipun besarnya hanya mencapai 10.4 (tahun 2005) dan 10.7 (tahun 2006). Nilai ini menunjukkan bahwa rata-rata penduduk di Jakarta berpendidikan setingkat SLTA, sedangkan di provinsi lainnya (kecuali di Provinsi DIY), penduduknya rata-rata berpendidikan setingkat SLTP. Dengan fakta tersebut, sebenarnya tingkat pendidikan masyarakat di Indonesia khususnya Pulau Jawa relatif masih rendah, meskipun bila dibandingkan dengan pulau yang lain, Jawa masih lebih unggul. Kapasitas SDM merupakan salah satu kunci pembangunan, sehingga hal ini menjadi tantangan yang harus dijawab melalui proses pembangunan wilayah di Pulau Jawa. Provinsi DKI Jakarta dan DIY memiliki nilai rata-rata lama sekolah yang lebih baik karena keduanya mempunyai sarana dan prasarana pendidikan yang cukup memadai.

Selanjutnya ditinjau dari angka partisipasi sekolah berdasarkan kelompok umur1 menunjukkan bahwa kondisi partisipasi sekolah penduduk di Pulau Jawa memiliki kemiripan karakteristik. Pada kelompok umur 7-12 tahun dan 13-15 tahun angka partisipasi sekolah cukup baik (pendidikan setingkat SD dan SLTP) dan selanjutnya besarnya persentase angka tersebut semakin menurun secara signifikan pada kelompok umur 16-18 tahun dan 19-24 tahun (pendidikan setingkat SLTA dan Perguruan Tinggi). Angka partisipasi sekolah yang paling baik terdapat di Provinsi DIY, yang ditunjukkan dengan nilai persentasenya yang paling tinggi dibandingkan kelima provinsi lainnya di Pulau Jawa (pada semua kelompok umur), sebagaimana yang disajikan pada Tabel 4.7.

Tabel 4.7. Angka Partisipasi Sekolah Menurut Kelompok Usia Sekolah di

Masing-masing Provinsi di Pulau Jawa (dalam %)

Angka Partisipasi Sekolah (%)

Provinsi 7-12 tahun 13-15 tahun 16-18 tahun 19-24 tahun

DKI Jakarta 98.46 90.76 60.26 15.84 Jawa Barat 97.64 79.70 45.62 8.88 Jawa Tengah 98.47 83.41 51.31 9.26 D.I.Yogyakarta 99.35 90.55 71.18 39.71 Jawa Timur 98.22 85.99 56.79 10.28 Banten 97.36 80.35 48.65 10.36 Jawa 98.25 85.13 55.64 15.72 Sumber: BPS (2007). 1

Merujuk pada jenjang pendidikan maka penduduk usia sekolah biasanya dikelompokkan ke dalam empat (4) kelompok umur, yaitu 7-12 tahun (SD), 13-15 tahun (SLTP), 16-18 tahun (SLTA) dan 19-24 tahun (Perguruan Tinggi).

Tingginya angka partisipasi sekolah di Provinsi DIY sudah dapat diduga karena memang kebanyakan orang datang ke wilayah tersebut untuk menempuh pendidikan, terutama pendidikan menengah dan tinggi (selain juga untuk tujuan wisata). Sementara itu, kondisi belum optimalnya angka partisipasi sekolah di beberapa provinsi lain di Pulau Jawa menuntut adanya perbaikan, sehingga kapasitas dan kualitas SDM di Indonesia, khususnya di Pulau Jawa semakin meningkat.

Kesehatan

Pembangunan bidang kesehatan meliputi seluruh siklus atau tahapan kehidupan manusia. Bila pembangunan kesehatan berhasil dengan baik maka secara langsung atau tidak langsung akan terjadi peningkatan kesejahteraan rakyat. Pentingnya pembangunan bidang kesehatan ini paling tidak tercermin dari deklarasi Millenium Development Goals (MDGs) dimana lebih dari sepertiga indikatornya menyangkut bidang kesehatan.

Berdasarkan informasi dari dokumen Proyeksi Penduduk Indonesia tahun 2000-2025, angka kematian bayi di Pulau Jawa secara umum masih berada di bawah rataan nasional. Namun demikian, ada dua provinsi yang memiliki nilai di atas rataan nasional, yaitu Provinsi Jawa Barat dan Banten (Tabel 4.8).

Tabel 4.8. Angka Kematian Bayi dan Angka Harapan Hidup pada Masing-

masing Provinsi di Pulau Jawa Tahun 2005 dan 2006

Angka Kematian Bayi Angka Harapan Hidup

Provinsi 2000 2005 2005 2006 DKI Jakarta 18 14 72.5 72.6 Jawa Barat 42 33 67.2 67.4 Jawa Tengah 33 25 70.6 70.8 DI Yogyakarta 18 14 72.9 73.0 Jawa Timur 37 29 68.5 68.6 Banten 50 39 64.0 64.3 Jawa 33 26 69.3 69.5 Indonesia 41 32 68.1 68.5 Sumber: BPS (2007).

Dari data Tabel 4.8 di atas terlihat bahwa dominannya aktivitas ekonomi dan memusatnya penduduk di Kawasan Jabodetabek telah diwarnai dengan permasalahan-permasalahan kependudukan seperti angka kematian bayi yang tinggi. Hal inilah yang menjadi salah satu indikasi bahwa telah terjadi urbanisasi

secara berlebihan di Kawasan Jabodetabek sehingga tingginya aktivitas ekonomi di satu sisi diikuti oleh semakin menurunnya kesejahteraan di sisi yang lain.

Berdasarkan dokumen yang sama, angka harapan hidup di Pulau Jawa secara umum berada di atas nilai rataan nasional. Dari data tersebut dapat diketahui bahwa di Provinsi Jawa Barat dan Banten angka harapan hidupnya lebih rendah daripada nilai rataan nasional (Tabel 4.8).

Indikator lain terkait bidang kesehatan yang dihasilkan dari Susenas (Survei Sosial Ekonomi Nasional) adalah persentase penduduk yang mempunyai keluhan kesehatan selama sebulan. Dari Tabel 4.9, dapat diketahui bahwa secara umum hampir setiap tahun (tahun 2002-2007) besarnya persentase penduduk yang mempunyai keluhan kesehatan masih berada di atas nilai rataan nasional. Dari data tersebut juga dapat dilihat bahwa dari tahun ke tahun, besarnya persentase penduduk yang mempunyai keluhan kesehatan di Pulau Jawa cenderung meningkat, meskipun pada tahun 2003 dan 2005 angka ini mengalami penurunan.

Tabel 4.9. Persentase Penduduk yang Mempunyai Keluhan Kesehatan Selama

Sebulan yang Lalu di Masing-masing Provinsi di Pulau Jawa Tahun

2002 hingga 2007 (dalam %)

Persentase Penduduk yang Mempunyai Keluhan Kesehatan Selama Sebulan yang Lalu (%) Provinsi 2002 2003 2004 2005 2006 2007 DKI Jakarta 28.91 27.61 29.90 25.29 31.38 32.16 Jawa Barat 24.71 22.93 24.14 24.36 25.91 28.89 Jawa Tengah 30.98 29.30 29.38 27.06 27.91 28.49 D.I.Yogyakarta1 34.54 34.25 37.81 32.73 44.39 38.41 Jawa Timur 29.50 27.12 30.65 29.11 29.40 30.12 Banten 22.07 17.17 20.08 19.45 25.40 29.53 Jawa 28.45 26.40 28.66 26.33 30.73 31.27 Indonesia 26.25 24.41 26.51 26.68 28.15 30.90

Sumber: Statistik Indonesia (2008); Diolah dari hasil Susenas.

Keterangan: 1 Provinsi DIY tahun 2006 dihitung tanpa Kabupaten Bantul.

Sanitasi dan Sarana Permukiman

Kondisi sanitasi dan isu-isu permukiman juga merupakan indikator yang dapat mengindikasikan tingkat kesejahteraan masyarakat. Ditinjau dari besarnya persentase rumah tangga berdasarkan kategori sumber air yang digunakan untuk minum, maka dapat dilihat bahwa rumah tangga pada semua provinsi di Pulau Jawa (kecuali Provinsi DKI Jakarta) sebagian besar menggunakan sumber air minum yang berasal dari sumur yang terlindungi. Sementara untuk rumah tangga

di Provinsi DKI Jakarta, sebagian besar menggunakan air minum yang berasal dari ledeng, pompa dan air dalam kemasan (Tabel 4.10). Hal tersebut disebabkan karena kesulitan ditemuinya sumber-sumber mata air bersih dari sumur-sumur yang ada di wilayah tersebut dan tingginya tingkat pencemaran air karena limbah, serta bahan pencemar lainnya.

Tabel 4.10. Persentase Rumah Tangga Berdasarkan Sumber Air Minum yang

Digunakan pada Masing-masing Provinsi di Pulau Jawa Tahun 2007

Persentase Rumah Tangga Berdasarkan Sumber Air Minum (%) Provinsi Ledeng Pompa Air dalam kemasan Sumur terlindungi Sumur tak terlindungi Mata air terlindungi Mata air tak terlindungi Lainnya DKI Jakarta 34.26 32.16 31.26 1.06 0.29 0.03 0.06 0.88 Jawa Barat 11.38 28.63 6.89 28.04 8.65 8.65 7.03 0.73 Jawa Tengah 14.71 14.94 2.47 42.40 7.60 11.84 4.30 1.74 DI Yogyakarta 10.24 8.86 12.24 55.56 6.12 2.03 1.75 3.20 Jawa Timur 16.36 22.17 6.93 33.46 6.40 9.94 3.47 1.27 Banten 9.22 34.81 16.61 20.28 7.21 3.22 3.76 4.89 Jawa 16.03 23.60 12.73 30.13 6.05 5.95 3.40 2.12 Indonesia 16.19 17.62 7.18 30.07 10.32 7.86 4.77 2.57

Sumber: Statistik Indonesia (2008); Diolah dari hasil Susenas.

Indikator lain terkait sarana permukiman yang dapat digunakan untuk mengukur tingkat kesejahteraan sosial masyarakat adalah besarnya persentase rumah tangga menurut sumber penerangan yang digunakan (Tabel 4.11). Sebagaimana data yang disajikan pada Tabel 4.11, dapat diketahui bahwa hampir seluruh rumah tangga di semua provinsi di Pulau Jawa menggunakan listrik dari PLN (Perusahaan Listrik Negara) sebagai sumber penerangan (dengan persentase di atas 90%).

Tabel 4.11. Persentase Rumah Tangga di Masing-masing Provinsi di Pulau Jawa

Berdasarkan Sumber Penerangan yang Digunakan Tahun 2007 (%)

Persentase Rumah Tangga Berdasarkan Sumber Penerangan (%) Provinsi Listrik PLN Listrik Non PLN Petromak/ aladin Pelita/sentir/

obor Lainnya Jumlah

DKI Jakarta 99.16 0.52 0.19 0.11 0.02 100.00 Jawa Barat 97.16 0.61 0.40 1.64 0.19 100.00 Jawa Tengah 97.29 0.47 0.23 1.83 0.18 100.00 DI Yogyakarta 98.50 0.03 0.07 1.36 0.04 100.00 Jawa Timur 96.58 0.52 0.74 1.86 0.30 100.00 Banten 92.69 0.49 0.72 5.70 0.40 100.00 Jawa 96.90 0.44 0.39 2.08 0.19 100.00 Indonesia 88.37 3.10 1.23 6.72 0.58 100.00

Ditinjau dari besarnya persentase rumah tangga berdasarkan fasilitas tempat buang air besar yang dimiliki (sebagaimana data yang disajikan pada Tabel 4.12), dapat diketahui bahwa sebagian besar rumah tangga di seluruh provinsi di Pulau Jawa rata-rata telah memiliki jamban sendiri untuk buang air besar (dengan persentase di atas 50%). Namun demikian, dari keenam provinsi yang ada di Pulau Jawa, masih terdapat 3 provinsi dimana besarnya persentase rumah tangga yang tidak memiliki jamban/fasilitas buang air besar masih cukup tinggi, bahkan di atas nilai rataan nasional. Ketiga provinsi tersebut adalah Banten, Jawa Timur, dan Jawa Tengah (dengan nilai persentase masing-masing secara berurutan dari nilai persentase yang tertinggi hingga terendah yaitu sebesar 32.21%, 25.75% dan 25.32%). Terkait dengan besarnya persentase rumah tangga berdasarkan kepemilikan jamban sebagai fasilitas untuk buang air besar, maka dari seluruh provinsi yang ada di Pulau Jawa, kondisi di Provinsi DKI Jakarta tergolong yang paling baik. Sebab, lebih dari 70% rumah tangga di provinsi tersebut telah memiliki jamban sendiri, sekitar 20% rumah tangga memiliki jamban bersama, 6% rumah tangga masih menggunakan jamban umum, sedangkan rumah tangga yang tidak memiliki jamban sama sekali jumlahnya hanya 0.65% (jauh lebih kecil dibandingkan dengan besarnya persentase pada kelima provinsi yang lain).

Tabel 4.12. Persentase Rumah Tangga di Masing-masing Provinsi di Pulau Jawa

Berdasarkan Fasilitas Buang Air Besar Tahun 2007 (dalam %)

Persentase Rumah Tangga Berdasarkan Fasilitas Buang Air Besar (%)

Provinsi Jamban Sendiri Jamban Bersama Jamban

Umum Tidak ada Jumlah

DKI Jakarta 73.40 19.65 6.30 0.65 100.00 Jawa Barat 61.96 12.78 8.67 16.59 100.00 Jawa Tengah 58.65 12.52 3.51 25.32 100.00 DI Yogyakarta 64.59 27.03 0.67 7.71 100.00 Jawa Timur 57.16 15.26 1.83 25.75 100.00 Banten 53.23 12.54 2.02 32.21 100.00 Jawa 61.50 16.63 3.83 18.04 100.00 Indonesia 59.86 12.95 4.33 22.86 100.00

Sumber: Statistik Indonesia (2008); Diolah dari hasil Susenas.

Dari data persentase rumah tangga berdasarkan bahan bakar yang digunakan untuk memasak (Tabel 4.13), maka dapat diketahui bahwa secara umum kondisi rumah tangga di seluruh provinsi di Pulau Jawa relatif lebih baik dibandingkan dengan rumah tangga pada provinsi lain di luar Jawa. Dari Tabel

4.13 dapat dilihat bahwa di Provinsi DKI Jakarta sebagian besar rumah tangganya menggunakan minyak tanah dan gas/elpiji sebagai bahan bakar utama untuk memasak, dengan persentase berturut-turut adalah 57.9% dan 34.2%. Sedangkan beberapa jenis bahan bakar yang lain juga digunakan pada wilayah tersebut, meskipun dengan persentase yang relatif kecil.

Sementara itu, di beberapa provinsi yang lain, seperti Provinsi Jawa Tengah, Jawa Timur dan DIY, sebagian besar rumah tangganya masih menggunakan kayu sebagai bahan bakar utama untuk memasak, dengan persentase masing-masing adalah 62.33%, 56.43%, dan 50.06%. Sedangkan bahan bakar utama yang digunakan sebagian besar rumah tangga di Provinsi Jawa Barat dan Banten untuk memasak adalah minyak tanah.

Tabel 4.13. Persentase Rumah Tangga di Masing-masing Provinsi di Pulau Jawa

Berdasarkan Bahan Bakar Utama yang Digunakan untuk Memasak

Tahun 2007 (dalam %)

Persentase Rumah Tangga Berdasarkan Bahan Bakar Utama Yang Digunakan untuk Memasak (%)

Provinsi

Listrik Gas/elpiji Minyak tanah Arang/ briket Kayu Lainnya Jumlah

DKI Jakarta 4.07 34.20 57.90 0.20 0.27 3.36 100.00 Jawa Barat 2.24 11.56 48.74 0.31 36.66 0.49 100.00 Jawa Tengah 1.41 8.90 26.25 0.42 62.33 0.69 100.00 DI Yogyakarta 2.54 16.70 23.25 0.51 50.07 6.93 100.00 Jawa Timur 1.51 6.83 34.08 0.32 56.44 0.82 100.00 Banten 2.47 16.52 45.46 0.31 34.37 0.87 100.00 Jawa 2.37 15.79 39.28 0.35 40.02 2.19 100.00 Indonesia 1.86 10.57 36.57 0.79 49.38 0.83 100.00

Sumber: Statistik Indonesia (2008); Diolah dari hasil Susenas.

Kondisi Ekonomi Pengeluaran per Kapita

Dalam menggambarkan kondisi ekonomi di suatu wilayah, pengeluaran per kapita seringkali dijadikan sebagai salah satu indikator tingkat kesejahteraan masyarakat yang dapat mencerminkan besarnya pendapatan (income) maupun

personal income. Pengeluaran per kapita dapat dirinci menjadi 2 (dua), yaitu pengeluaran untuk konsumsi bahan makanan dan pengeluaran untuk konsumsi bahan bukan makanan. Pengeluaran per kapita penduduk untuk mengkonsumsi bahan makanan dan bukan makanan diasumsikan sebagai biaya yang dikeluarkan

untuk mengkonsumsi berbagai produk baik pertanian, perikanan, kehutanan, perkebunan, penggunaan area terbangun dan pemanfaatan sumber-sumber energi.

Berdasarkan data Susenas tahun 2007, dapat diketahui bahwa Provinsi DKI Jakarta merupakan provinsi dengan tingkat pengeluaran per kapita tertinggi dengan rasio pengeluaran bahan makanan/bukan makanan paling rendah, yaitu 0.55. (Tabel 4.14). Rasio pengeluaran per kapita untuk bahan makanan/bukan makanan dapat mencerminkan tingkat kesejahteraan masyarakat di daerah tersebut. Salah satu indikator dari tingkat kesejahteraan masyarakat adalah apabila pengeluaran untuk konsumsi bukan makanan lebih tinggi dibandingkan konsumsi terhadap bahan makanan, sehingga rasio pengeluaran untuk bahan makanan/bukan makanan relatif kecil. Di antara keenam provinsi di Pulau Jawa, hanya terdapat dua provinsi yang rasio pengeluaran untuk konsumsi bahan makanan/bukan makanan-nya berada di bawah rata-rata Pulau Jawa, yaitu Provinsi DKI Jakarta dan DIY, sedangkan keempat provinsi yang lain (Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur dan Banten) memiliki nilai rasio yang cukup tinggi.

Tabel 4.14. Pengeluaran Rata-rata per Kapita Sebulan di Masing-masing Provinsi

di Pulau Jawa (dalam Rupiah) Tahun 2007

Pengeluaran Rata-rata per Kapita (Rp/bulan) Provinsi Bahan Makanan Bukan Makanan Jumlah Rasio Bahan Makanan/Bukan Makanan DKI Jakarta 272,821 500,586 773,407 0.55 Jawa Barat 180,512 186,750 367,263 0.97 Jawa Tengah 140,609 140,756 281,365 1.00 DI Yogyakarta 163,292 227,348 390,639 0.72 Jawa Timur 143,502 151,834 295,336 0.95 Banten 196,907 234,190 431,097 0.84 Jawa 182,941 240,244 423,185 0.76 Indonesia 174,025 179,396 353,421 0.97 Sumber: Susenas (2007).

Data Susenas menunjukkan bahwa tingkat pengeluaran rata-rata per kapita di Pulau Jawa mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Kondisi ini dapat dikaitkan dengan tekanan penduduk di Pulau Jawa yang mendorong terjadinya peningkatan atas permintaan terhadap bahan makanan dan bukan makanan, sehingga lebih lanjut berdampak pada kenaikan harga barang-barang tersebut.

Dokumen terkait