• Tidak ada hasil yang ditemukan

POLITEKNIK NEGERI JAKARTA

Gambar 3. Detail alat dalam produksi tipe semen OWC

Selain mengamati jalur material dan alat-alatnya, perlu diperhatikan juga jalur dedusting untuk bin B. Berdasarkan pengamatan di top silo semen, jalur dedusting untuk bin b mengambil dari silo 7 dan bergabung dengan silo 5 yang merupakan silo dari jenis semen RFP yang standar kualitasnya berbeda dengan OWC.

Gambar 4. jalur dedusting

Setelah diamati, jalur dedusting yang bergabung dengan silo lain memiliki kemungkinan terbesar masuknya debu yang terhisap dari silo 5 dan masuk ke bin B dan menyebabkan semen yang ada di bin B terkontaminasi oleh semen yang ada di silo 5 dimana standar kualitas yang dimiliki oleh kedua tipe semen ini berbeda.

= Bin B

= Silo 5

Gambar 5.Tampak atas jalur dedusting

Setelah mengamati jalur dedusting, terdapat propotional gate yang belum terhubung ke power (masih dioperasikan secara manual). Hal ini memungkinkan terjadinya human error saat proses menutup propotional gate. Apabila alat ini tidak tertutup dengan rapat, maka memungkinkan material akan masuk ke bin B.

Gambar 6. Proportional Gate masih dioperasikan manual

4. pengamatan sop operasional cement transport

Setelah proses produksi OWC selesai, jalur material menuju bin B harus dipastikan tertutup rapat agar ketika proses produksi semen dengan jenis yang berbeda tidak masuk ke dalam bin B. Salah satu yang harus diperhatikan adalah ketika menutup slide gate manual di jalur menuju bin B. Slide gate ini harus dipastikan tertutup rapat karena merupakan salah satu sistem proteksi untuk mencegah semen dengan jenis yang berbeda masuk ke dalam bin B. Alat ini ditempatkan sebelum proportional gate.

POLITEKNIK NEGERI JAKARTA

Gambar 7. Slide gate manual

Apabila proportional gate belum tertutup sempurna dan menyisakan celah, slide gate yang tertutup rapat akan mencegah material masuk ke dalam bin B.

5. perbaikan alat penunjang operasional cement transport

Perbaikan dilakukan di jalur dedusting bin B dengan menutup jalur hisapan yang bergabung dengan silo 5 dan membuat jalur baru. Perbaikan ini bertujuan agar material yang terhisap dari silo 5 tidak masuk ke bin B.

Gambar 8. jalur dedusting sebelum perbaikan

= Bin B

= Silo 5

Gambar 9. Jalur dedusting setelah perbaikan

Selanjutnya perbaikan juga dilakukan di proportional gate 59A-PGG dengan menghubungkan motor ke power agar bisa dikontrol secara auto melalui CCR (Central Control Room) untuk mencegah human error.

Gambar 10.Proportional gate setelah perbaikan.

III. HASIL DAN PEMBAHASAN

1. hasil uji laBoraturium setelah perbaikan

Setelah dilakukan perbaikan pada jalur dedusting pengamatan kembali dilakukan pada saat proses produksi OWC untuk mengetahui apakah masih terjadi kontaminasi pada semen OWC. Berikut perbandingan data kadar C3A sebelum dan sesudah dilakukan perbaikan pada jalur dedusting.

= Bin B

= Silo 5

Blocked

POLITEKNIK NEGERI JAKARTA

Gambar 11. Grafik perbandingan kadar C3A sebelum dan sesudah mmodifikasi jalur dedusting.

Dapat dilihat perbedaan yang signifikan dari kadar C3A sebelum dan sesudah perbaikan, kadar C3A cenderung lebih stabil setelah dilakukan perbaikan dan dibawah batas maksimum 3%.

IV. KESIMPULAN

Setelah dilakukan perbaikan pada jalur dedusting, kadar C3A tidak menunjukan kenaikan yang signifikan dan tetap dibawah standar kualitas maksimum 3%. Hal ini menunjukan penyebab utama kontaminasi semen jenis OWC di bin B disebabkan oleh jalur dedusting yang bergabung dengan silo 5 yang berisi semen jenis RFP yang berbeda standar kualitasnya.

V. DAFTAR PUSTAKA

[1] Ray, Siddhartha. 2007. Introduction to Materials Handling. New Age International Pvt Ltd Publishers, 1st Ed.

Edition, Chapter 1: 1-8

[2] Bensted, John. 2006. Lea's Chemistry of Cement and Concrete. Elsevier Ltd, 4th Ed. Chapter 14: 783-810 [3] Kohlhaas, B. 1983. Cement Engineers’ Handbook. Bauverlag GmbH, 4th Ed. Chapter VI: 145-146

Meningkatkan Keakuratan Pengambilan Data Dan AnalisaVibrasi Pada Bearing Symetro

Cement mil l Cilacap plant menggunakan symetro gear sebagai alat penurun kecepatan motor penggerak dari 590 rpm menjadi 14,7 rpm. Dalam keadaan symetro gear beroperasi nilai vibrasi harus selalu dipantau, baik secara langsung dari ruang control/CCR (Central Control Room) ataupun secara tidak langsung oleh pengawas dari preventive maintenance department. Saat ini pemantauan dan pengambilan data vibrasi kurang optimal karena pengambilan data tidak berasal dari sumber vibrasi. Hal ini tidak dapat digunakan sebagai acuan untuk memantau kondisi bearing dan kerusakan secara mendadak dapat terjadi karena kurangnya tindakan preventive maintenance.

Permasalahan diatas dapat teratasi dengan cara memasang sensor vibrasi pada plummer block bearing yang bertujuan untuk memantau nilai vibrasi langsung pada sumber vibrasi. Data vibrasi diambil dengan alat deteksi vibrasi (vibscanner) dan diolah menjadi grafik nilai vibrasi yang dianalisa dikomputer dengan aplikasi Omnitrend.

Dengan adanya pemasangan sensor vibrasi tersebut, maka pengambilan data dan analisa vibrasi menjadi lebih akurat.

Disamping itu, kerusakan pada komponen bearing dapat terindikasi lebih dini sebelum kerusakan yang lebih besar terjadi. Sehingga umur komponen bearing lebih tahan lama dan memperkecil biaya pemeliharaan.

Kata Kunci :Symetro, vibrasi, bearing,vibscanner, omnitrend.

Abstract

Cilacap cement mill plant using symetro gear as aequipment of lowering the motor speed of 590 rpm to 14.7 rpm. In circumstances symetro operating gear vibration value should always be monitored, either directly from the control room / CCR (Central Control Room) or indirectly by the supervisor of the department of preventive maintenance. Currently vibration monitoring and data acquisition is less than optimal because data collection did not come from the source of vibration. It can not be used as a reference for monitoring the condition of bearings and sudden failure can occur because lack of preventive maintenance actions.

The above problems can be resolved by installing a vibration sensor on the plummer block bearing which aims to monitor the value of the vibrations directly to the source of vibration. Vibration data taken with a vibration detection (vibscanner) and processed into graphs vibration values analyzed in a computer with Omnitrend applications.

With the installation of the vibration sensor, the vibration data acquisition and analysis becomes more accurate. In addition, damage to the bearing components can be indicated earlier before more damage occurs. So the life of the bearing components are more durable and reduce the cost of maintenance.

Keywords: Symetro, vibration, bearing, vibscanner, omnitrend.

I. PENDAHULUAN Latar Belakang

Cement Mill merupakan jenis grinding media yang digunakan PT. Holcim untuk menghaluskan klinker dan bahan addictive seperti dolomite, gypsum, pozzolan, dan kemudian dari proses penghalusan tersebut akan menghasilkan semen. Ball Mill diputar oleh motor dimana motor mentransferkecepatanputarantinggikesymetro geardan kemudian diubah menjadi kecepatan putaran rendah. Hal ini disebabkan karena di dalam symetro terdapat gear yang berfungsi untuk memperlambat putaran dan menghasilkan torsi yang tinggi dengan perbandingan gear tertentu.

Bearing pada symetro gear menahan beban putar dari shaft symetro gear selama operasi ball mill, hal ini akan menyebabkan terjadinya kenaikan temperatur dan vibrasi pada bearing.

Pengambilan data vibrasi pada pinion gear dilakukan secara langsung dan sensor akan mengirim sinyal keruang control/CCR (Central Control Room) yang kemudian akan diubah dalam satuan mm/s. Namun saat ini pengambilan data vibrasi pada bearing symetro gear dilakukan secara tidak langsung menggunakan vibscanner dan letak pengambilan data vibrasi pada casing symetro/tidak terlalu dekat