III. HASIL DAN PEMBAHASAN
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Pemasangan Pipa Bypass
Pipa bypass dihubungkan pada pipa keluaran Pfister feeder 453-PF1. Jalur bypass dipasang satu arah dengan aliran material bahan bakar ke calciner. Hal tersebut dilakukan untuk mengurangi tabrakan udara dari pipa bypass dengan material pada pipa bahan bakar. Gambar 3.2 menunjukan pemasangan pipa bypass 453-PF1.
POLITEKNIK NEGERI JAKARTA
Gambar 4. Pipa Bypass 453-PF1
Gambar 4. menunjukan pemasangan pipa bypass yang dihubungkan pada pipa input 453-PF1.
Udara bertekanan dari blower 453-BL1 yang masuk melalui pipa input 453-PF1 akan masuk ke pipa bypass. Jumlah flow rate udara pada pipa bypass diatur dengan katup bukaan bypass.
Gambar 5. Pipa Bypass 453-PF1
4.2 Pengaturan Bukaan Pipa Bypass
Bukaan pipa bypassPfister Feeder 453-PF1 diatur dengan memonitor kenaikan KWblower 453-BL1 di CCR (Central Control Room) NAR 1. Selain itu, kenaikan ampere motor 453-PF1 juga menjadi parameter kontrol. Hal tersebut untuk memastikan tidak adanya lonjakan arus listrik blowerdan Pfister Feeder yang terlalu tinggi. Karena lonjakan arus listrik yang melebihi set point dapat membuat motor 453-PF1 dan 453-BL1 stop.
Gambar 6. Perbandingan Bukaan Bypass dengan KW Blower 453-BL1
Data grafik diatas diambil di TIS (Technical information System) PT. Holcim Indonesia Tbk.
Bukaan bypass dibuka mulai 10% sampai 70 %. Terjadi kenaikan sebesar 4 KW pada bukaan 60 % ke 70 %. Pada bukaan 70 % KW blowersebesar 80 KW. Untuk menghindari lonjakan KW blower yang terlalu tinggi, bukaan maksimum bypass 453-PF1 dibatasi sampai 70 %.
Kenaikan ampere motor 453-PF1 menjadi bagian kontrol saat pengaturan bukaan bypass. Pfister Feeder 453-PF1 menerima beban material sebanyak 12 ton/jam saat pengaturan bukaan bypass.
Grafik kenaikan ampere motor Pfister Feeder 453-PF1 saat pengaturan bukaan bypass ditunjukan pada gambar 3.4.
Gambar 7. Grafik Kenaikan Ampere 453-PF1
Dari grafik diatas kenaikan ampere motor 453-PF1 berbanding lurus dengan kanaikan bukaan pipa bypass. Pada bukaan bypass 70 %, ampere motor 453-PF1 sebesar 4.85 A.
POLITEKNIK NEGERI JAKARTA 4.3 Penggantian Bearing dan Seal Rotary feeder 453-RF1
Gambar 8. Grafik Penggantian Bearing dan Seal Rotary Feeder 453-RF1
Data diatas menunjukan jumlah penggantian bearing dan seal rotary feeder 453-RF1. Sebelum pemasangan pipa bypass453-PF1 jumlah penggantian bearing dan seal453-RF1 sebanyak 10 kali.
Jumlah tersebut berkurang setelah pemasangan pipa bypass menjadi 2 kali.
4.4 Perhitungan Efisiensi Biaya
Efisiensi biaya yang dimaksud yaitu perbandingan jumlah biaya sebelum dan sesudah pemasangan pipa bypass 453-PF1. Total biaya dihitung dengan menjumlahkan biaya pemakaian solar serta penggantian bearing dan seal pada saat perbaikan rotary feeder 453-RF1.
4.4.1 Total biaya sebelum pemasangan pipa bypass Biaya penggunaan solar :
Jumlah biaya penggunaan solar di calcinerpada saat suplai batubara halus dari pfister feeder 453-PF1 terhenti dapat dihitung sebagai berikut :
Keterangan :
37.07 liter/min = Jumlah rata-rata penggunaan solar di calciner saat 453-PF1 stop
120 min = Waktu penggantian bearing dan seal rotary feeder 453-RF1 RP. 8.371.69 = Harga solar per liter
10 = Jumlah penggantian bearing dan seal periode Agustus-Oktober 2014
Biaya penggantian bearing dan seal :
Jumlah biaya penggantian bearing dan seal rotary feeder 453-RF1 dapat dihitung sebagai berikut :
Keterangan :
2 = Jumlah bearing rotary feeder 453-RF1
Rp. 920.000 = Harga 1 bearing rotary feeder 453-RF1 Rp. 110.000 = Harga solar per liter
6 = Harga 1 sealrotary feeder 453-RF1
10 = Jumlah penggantian bearing dan seal periode Agustus-Oktober 2014
Total biaya :
4.4.2 Total biaya setelah pemasangan pipa bypass Biaya penggunaan solar :
Biaya penggantian bearing dan seal :
Total biaya :
Jadi total efisiensi biaya yaitu :
V. KESIMPULAN
Pemasangan pipa bypass pada sistem pfister feeder453-PF1 berhasil menurunkan frekuensi kerusakan bearing dan seal rotary feeder453-RF1sebanyak 80%. Data ini merupakan perbandingan periode pengukuran yang sama pada kurun waktu Februari-April 2015 dengan Agustus-Oktober 2014.
VI. DAFTAR PUSTAKA
[1] Nagulmeera, Shaik and Anilkumar M., Design, Modeling and Analysis of Rotary Air-Lock Valve, International Journal Of Computational Engineering Research (ijceronline.com) Vol. 03 Issue. 12, 2013
[2] Pfister, Rotor weighfeeder TRW-S/D, Highly accurate and reliable gravimetric feeding for a variety of solid secondary fuels, Product brochure 2009, Germany
[3] Khurmi, R.S., and Gupta, J.K., 2005, A Text Books of Machine Design, Eurasia Publishing House (Pvt) Ltd, Ram Nagar, New Delhi 110055.
[4] W.K. Hiromi Ariyaratne, Morten C. Melaaen, Lars-Andrea Tokheim, Optimum Feeding Rate of Solid Hazardous Waste in a Cement Kiln Burner. International Journal Of Energy and environment 3. Volume 4, Issue 5, pp. 777-786, 2013.
POLITEKNIK NEGERI JAKARTA Kajian potensi energi listrik mikro hidro pada outfall kanal train e-f kilang badak lng
Ahmad Febrian Ramadhani1;Cintya Melinda Joni2;Ferri Yohanes3,Eko Wahyu Susilo4 1. Mahasiswa Jurusan Teknik Mesin Politeknik Negeri Jakarta, Depok, Indonesia 2. Dosen Jurusan Teknik Perawatan Mekanikal Rotating LNG Academy, Bontang, Indonesia 3. Dosen Jurusan Teknik Perawatan Listrik Instrumentasi LNG Academy, Bontang, Indonesia
E-mail : [email protected]
Abstrak
Proses pencairan LNG pada Process Train Badak LNG menggunakan air laut (Sea Cooling Water) sebagai media pendingin. Sea Cooling Water dari Process Train akan dikembalikan ke laut melalui pipa outfall yang menuju ke kanal.
Outfall tersebut memberikan peluang yang bagus untuk pengembangan pembangkit energi listrik dalam skala mikro (mikrohidro) maupun piko (pikohidro).
Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji potensi energi air di outfall kanal kilang Badak LNG untuk membangkitkan energi listrik. Pembangkit listrik yang dihasilkan dapat dimanfaatkan sebagai sumber daya bagi lampu penerangan jalan dan gedung SHE-Q. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survey lapangan serta pengambilan data.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa aliran outfall kanal Train E-F memiliki potensi untuk dijadikan sumber pembangkit listrik tenaga air. Dari data yang terkumpul, dianalisis dan disimpulkan bahwa outfall kanal ini memiliki ketinggian jatuh air sekitar 3 m dan debit aliran air 9,45 m3/s. Diperkirakan dari potensi ini dapat dihasilkan listrik dengan kapasitas daya 320 kW.
Kata kunci : mikro hidro, outfall kanal, debit, daya, head.
Abstract
Liquefaction process at Process Train Badak LNG uses sea water (Sea Cooling Water) as refrigerant. Sea Cooling Water from Process Train will be discharged to the sea by outfall pipe to canal. The head of outfall has a potential energy as a good chance for the development of microhydro or picohydro power plant.
The purpose of this research is to examine water energy which comes out at outfall canal Train E-F to create hydroelectricity. It can be used as street lighting and also SHE-Q building. The method used in this research is field survey and take data.
The result is the flow of outfall canal train E-F has a potential as hydroelectric source. From the collected and analyzed data, the conclusion is the outfall canal has head around 3 m and the flow is 9,45 m3/s. The output power that can be produced is around 320 kW.
Keywords: micro hydro, outfall canal, flow, power, head.
I. PENDAHULUAN