• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB VII PENUTUP

4.3 Hasil Uji Scatterpot

Gambar 4.3 Hasil Uji Scatterpot

Berdasarkan gambar 4.3 hasil uji Scatterpot menunjukkan titik-titik

pengaruh variabel karakteristik internal (umur, lama pendidikan formal, lama bertani, pendapatan) dan variabel karakteristik eksternal (interaksi sosial, ketersediaan sarana prasarana, dukungan kelompok tani, dukungan penyuluh pertanian, dukungan pemerintah desa) terhadap sikap pengelolaan agrowisata edukasi sayur sebesar 56% sedangkan 44% yang lain dipengaruhi oleh faktor lain yang tidak diteliti pada penelitian ini.

B. Uji Koefisien Regresi (Uji T)

Uji koefisien regresi digunakan untuk mengetahui pengaruh dari masing-masing (parsial) variabel independent (faktor internal dan faktor eksternal) terhadap variabel dependen (sikap terhadap pengelolaan agrowisata edukasi sayur). Hasil uji t variabel independen dianggap berpengaruh terhadap dependen jika nilai sig < 0,05, sedangkan jika nilai sig > 0,05 maka variabel independent dinyatakan tidak berpengaruh. Selanjutnya dengan melihat jika t hitung > t tabel maka H0 ditolak dan H1 diterima, sedangkan jika t hitung < t tabel maka H0 diterima dan H1 ditolak. Hasil uji koefisien regresi (uji t) tersaji pada tabel 4.17.

Tabel 4.17 Hasil Uji Koefisien Regresi (Uji T)

Model t Sig

1 (Constant) 1847 072

Umur 795 431

Lama Pendidikan Formal -2080 044

Lama Bertani -859 395

Pendapatan 154 878

Interaksi Sosial 2031 049

Ketersediaan Sarana Prasarana 2106 042

Dukungan Kelompok Tani 2518 016

Dukungan Penyuluh Pertanian 975 335

Dukungan Pemerintah Desa 1202 236

Sumber: SPSS 25, 2022

Berdasarkan tabel 4.17 hasil koefisien regresi (uji t) menunjukan variabel internal dan eksternal yang terdapat 10 sub variabel Pada sub variabel umur (X1.1), lama bertani (X1.3), pendapatan (X1.4), dukungan penyuluh pertanian (X2.4) dan dukungan pemerintah desa (X2.5) memiliki nilai sig > 0,05 sehingga dapat dinyatakan bahwa sub variabel tersebut secara masing-masing tidak berpengaruh secara signifikan terhadap sikap pengelolaan agrowisata edukasi sayur (Y).

Sedangkan pada sub variabel lama pendidikan formal (X1.2), interaksi sosial (X2.1), ketersediaan sarana prasarana (X2.2), dukungan kelompok tani (X2.3) memiliki nilai sig < 0,05 sehingga dapat dinyatakan sub variabel tersebut secara masing-masing berpengaruh secara signifikan terhadap sikap pengelolaan agrowisata edukasi sayur (Y).

C. Uji keterandalan Model (Uji F)

Uji keterandalan model atau uji F digunakan untuk mengetahui secara bersama-sama pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen. Hasil uji F menurut Imam Gozali (2011:101) jika nilai signifikan < 0,05 maka artinya variabel independen (X) secara simultan berpengaruh terhadap variabel dependen (Y). Selanjutnya apabila f hitung < f tabel maka variabel independen secara bersamaan tidak mempengaruhi variabel dependen, apabila f hitung > f tabel maka variabel independen secara bersamaan mempengaruhi variabel dependen. Hasil uji keterandalan (uji F) tersaji pada tabel 4.18.

Tabel 4.18 Hasil Uji Keterandalan Model (Uji F)

Model Sum of Squares df Mean Square F Sig

1 Regression 911758965393 9 101306551710 5607 000b

Residual 722755129587 40 18068878240

Total 1634514094980 49

Sumber: SPSS 25, 2022

sig < 0,05 maka model regresi dikatakan layak, sebaliknya jika Fhitung sig > 0,05 maka model regresi dikatakan tidak layak. Berdasarkan tabel diatas, nilai taraf signifikansi 0,000 lebih kecil dari < 0,05 sehingga dapat dinyatakan model regresi ini layak dan menunjukkan bahwa variabel internal dan eksternal secara bersama-sama (Simultan) mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap pengelolaan agrowisata edukasi sayur.

Berdasarkan model regresi linier berganda diatas dapat dijelaskan bahwasanya nilai konstanta anggota kelompok wanita tani sebesar 14095,813, sedangkan jika dimasukkan koefisien regresi aspek umur sebesar 51,094. Maka setiap kenaikan 1% dari aspek umur akan meningkatkan nilai variabel terikat (Sikap anggota) senilai 51,094%. Akan tetapi jika dimasukkan koefisien regresi aspek lama pendidikan formal sebesar -528,168, maka setiap kenaikan 1% dari aspek lama pendidikan formal akan menurunkan nilai variabel terikat (Sikap anggota) senilai -528,168% dan jika dimasukkan koefisien regresi aspek lama bertani sebesar -1612,863, maka setiap kenaikan 1% dari aspek lama bertani akan menurunkan nilai variabel terikat (Sikap anggota) senilai -1612,863%.

Kemudian jika dimasukkan koefisien regresi aspek pendapatan sebesar 0,000, maka setiap kenaikan 1% dari aspek pendapatan akan menaikan nilai variabel terikat (Sikap anggota) senilai 0,000%.

Selain itu koefisien regresi aspek interaksi sosial sebesar 0,663, maka setiap kenaikan 1% dari aspek interaksi akan menaikan nilai variabel terikat (Sikap anggota) senilai 0,663%. Jika dimasukkan koefisien regresi aspek ketersediaan sarana prasarana sebesar 0,656, maka setiap kenaikan 1% dari aspek ketersediaan sarana prasarana akan menaikan nilai variabel terikat (Sikap anggota) senilai 0,656%. Kemudian jika dimasukkan koefisien regresi aspek dukungan kelompok tani sebesar 0,973, maka setiap kenaikan 1% dari aspek dukungan kelompok tani akan menaikan nilai variabel terikat (Sikap anggota) senilai 0,973%. Pada koefisien regresi aspek dukungan penyuluh pertanian sebesar 0,226, maka setiap kenaikan 1% dari aspek dukungan penyuluh pertanian akan menaikan nilai variabel terikat (Sikap anggota) senilai 0,226%.

Sedangkan dimasukkan koefisien regresi aspek dukungan pemerintah desa sebesar 0,245, maka setiap kenaikan 1% dari aspek dukungan pemerintah desa akan menaikan nilai variabel terikat (Sikap anggota) senilai 0,245%.

Faktor internal merupakan faktor yang berasal dari dalam diri seseorang yang akan mengambarkan karakteristik anggota kelompok wanita tani, faktor ini biasanya berupa sikap atau sifat yang melekat pada diri pribadi masing-masing, sedangkan sikap pengelolaan agrowisata merupakan perasaan, pikiran dan kecenderungan seseorang untuk bertindak sesuai dengan objek atau lingkungannya. Dari kajian yang dilakukan diharapkan adanya pengaruh masing-masing variabel atau secara parsial antara faktor internal dengan sikap pengelolaan.

A. Umur

Pengaruh umur terhadap sikap pengelolaan agrowisata edukasi sayur tersaji pada tabel 4.19.

Tabel 4.19 Pengaruh Umur Terhadap Sikap Pengelolaan Agrowisata Edukasi Sayur

Model t Sig

1 (Constant) 1847 072

Umur 795 431

Sumber: SPSS 25, 2022

Berdasarkan tabel 4.19 pengaruh umur terhadap sikap pengelolaan agrowisata edukasi sayur menunjukkan bahwa umur merupakan faktor yang dapat mempengaruhi anggota terhadap penyerapan dan pengambilan keputusan dalam menggunakan teknologi baru maupun inovasi baru pada usahataninya.

Melihat dari hasil analisis data menunjukkan signifikansi 0,431 yang berarti nilai signifikansi tersebut lebih dari nilai alpha yaitu > 0,05. Adapun jika melihat pada nilai t hitung, menunjukkan angka sebesar 0,795 kurang dari t tabel < 2,010.

Sehingga dari hasil tersebut dapat dinyatakan bahwa tidak adanya pengaruh signifikan pada umur dan berkonotasi negatif terhadap sikap dalam pengelolan agrowisata edukasi sayur. Maka dapat disimpulkan H0 diterima dan H1 ditolak.

Hal ini dikarenakan dari hasil kajian di lapangan didapatkan sebagian besar anggota kelompok wanita tani memiliki umur 51-60 tahun yang termasuk dalam kategori lanjut usia, kondisi ini menyebabkan menurunnya produktifitas anggota dalam bersikap terhadap pengelolaan agrowisata edukasi sayur. Akan tetapi ada beberapa anggota yang masuk kategori lanjut usia masih aktif di dalam mencari informasi, berpartisipasi, berperan dan berkegiatan di kelompok wanita tani sebagai kegiatan mengisi waktu luang hingga sebagai tambahkan sampingan dari ilmu yang didapatkan dan menjual hasil budidayanya. Menurut Maryam dkk (2016) ketika petani mencapai usia tertentu seperti 55 tahun, 60 atau 65 tahun seorang pekerja pasti memasuki usia pensiun atau tidak produktif lagi. Usia memiliki pengaruh terhadap produktivitas tenaga kerja pada jenis pekerjaan berdasarkan tenaga kerja manual (Makatita dkk,2014).

Dengan ini menunjukkan bahwa penambahan umur seseorang belum tentu dapat meningkatkan sikap anggota terhadap pengelolaan agrowisata edukasi sayur pernyataan ketika petani memiliki umur lebih tua cenderung tertutup untuk menerima hal yang baru seperti sikap terhadap suatu objek. Menurut Maryam dkk. (2016) berpendapat bahwa petani yang lebih tua cenderung tradisionalis dan sulit untuk memberikan wawasan yang dapat mengubah cara mereka berpikir, bekerja dan hidup. Para petani ini apatis terhadap teknologi baru, sehingga usia petani tidak menjadi syarat untuk melakukan suatu kegiatan pertanian, sehingga orang tanpa memandang usia, selama ia mampu dan mau

bekerja, dapat menerapkan dan mengevaluasi kegiatan tersebut (Widiyastuti dkk, 2016: 486). Dalam proses penerimaan inovasi berdasarkan karakteristik adopter, umur anggota kelompok wanita tani masuk dalam kategori penganut dini (Early Majority) dilihat dari sebaran setengah umur sampai tua. Kategori ini terhitung lambat dari golongan inovator dan early adopter akan tetapi mudah dipengaruhi dengan adanya teknologi baru yang dapat meningkatkan usaha taninya. Akan tetapi masih memiliki sifat hati-hati dan takut mengalami kegagalan kecuali ada bukti yang sudah ada untuk meyakinkan (Rogers, 1983).

B. Lama Pendidikan Formal

Pengaruh lama pendidkan terhadap sikap pengelolaan agrowisata edukasi sayur tersaji pada tabel 4.20.

Tabel 4.20 Pengaruh Lama Pendidikan Formal Terhadap Sikap Pengelolaan Agrowisata Edukasi Sayur

Model t Sig

1 (Constant) 1847 072

Lama Pendidikan Formal -2080 044

Sumber: SPSS 25, 2022

Berdasarkan tabel 4.20 pengaruh lama pendidikan formal terhadap sikap pengelolaan agrowisata edukasi sayur menunjukkan bahwa lama pendidikan formal mempengaruhi petani dalam mengelola usahatani karena lama pendidikan seseorang akan membantu untuk berpikir global dan penuh pertimbangan. Melihat dari hasil analisis data menunjukkan signifikansi 0,044 yang berarti nilai signifikansi tersebut kurang dari nilai alpha yaitu < 0,05. Adapun jika melihat pada nilai t hitung menunjukkan angka sebesar -2,080 lebih besar dari t tabel > 2,010. Sehingga dari hasil tersebut dapat dinyatakan bahwa adanya pengaruh signifikan pada lama pendidikan formal dan berkonotasi positif terhadap sikap dalam pengelolaan agrowisata edukasi sayur. Maka dapat disimpulkan H0 ditolak dan H1 diterima.

Hal ini juga dapat diartikan semakin lama pendidikan formal maka sikap anggota terhadap pengelolaan agrowisata semakin kuat atau tinggi.Dikarenakan dari hasil kajian dilapangan didapatkan sebanyak 22 orang dengan lama pendidikan 12 tahun setara SMA/SMK, sehingga cenderung terbuka oleh adanya inovasi untuk ikut berpartisipasi selama inovasi tersebut mempengaruhi tingkat produktifitas usaha taninya, maka anggota kelompok wanita tani akan menerapkan atau mengadopsinya. Sejalan dengan penelitian menurut Hapsari dkk (2019:250) lama pendidikan formal akan mempengaruhi tingkat produktivitas usahatani, tingkat sadar huruf, pencarian informasi, serta tingkat adaptasi teknologi yang akan berdampak pada partisipasi dan daya adopsinya.

Menurut Mardikanto (1993) pada Manyamsari dan Mujiburrahmad (2014) selanjutnya mengungkapkan bahwa pendidikan adalah proses pengembangan pengetahuan juga sikap seseorang secara berkala, yang akan membentuk wawasan terhadap suatu objek yang akhirnya akan mengarahkan pada pengambilan keputusan. Selain itu, lama pendidikan formal 6 tahun setara SD dengan jumlah anggota sebanyak 14 orang juga dapat menjadikan pengaruh terhadap sikap pengelolaan agrowisata, anggota kelompok wanita tani dengan lulusan SD lebih bisa menerima apa pun materi, peluang dan inovasi yang diberikan dikarenakan merasa benar dan tanpa berpikir panjang ilmu pengetahuan mengenai pertanian hanya berupa pengetahuan yang diturunkan dari orang tua petani. Pernyataan tersebut sejalan dengan penelitian Prasetya dkk, (2018) tingkat pendidikan petani termasuk rendah karena 46,061%

mayoritas petani tidak tamat SD dan lulus SD, dan pengetahuan mengenai pertanian hanya berupa pengetahuan yang diturunkan dari orang tua petani.

C. Lama Bertani

Pengaruh lama bertani terhadap sikap pengelolaan agrowisata edukasi sayur tersaji pada tabel 4.21.

Tabel 4.21 Pengaruh Lama Bertani Terhadap Sikap Pengelolaan Agrowisata Edukasi Sayur

Model t Sig

1 (Constant) 1847 072

Lama Bertani -859 395

Sumber: SPSS 25, 2022

Berdasarkan tabel 4.23 pengaruh lama bertani terhadap sikap pengelolaan agrowisata edukasi sayur menunjukkan bahwa lama bertani merupakan lamanya anggota kelompok dalam melakukan berbagai kegiatan usahatan. Pengalaman usahatani juga berpengaruh terhadap keberhasilan usaha. Melihat dari hasil analisis data menunjukkan signifikansi 0,395 yang berarti nilai signifikansi tersebut melebihi dari nilai alpha yaitu > 0,05. Adapun jika melihat pada nilai t hitung menunjukkan angka sebesar -0,859 kurang dari t tabel < 2,010. Sehingga dari hasil tersebut dapat dinyatakan bahwa tidak adanya pengaruh signifikan pada lama bertani dan berkonotasi negatif terhadap sikap dalam pengelolaan agrowisata edukasi sayur. Maka dapat disimpulkan H0 diterima dan H1 ditolak.

Hal ini menunjukkan bahwa lama tidaknya dalam bertani tidak mempengaruhi tinggi rendahnya sikap. Dikarenakan hasil kajian dilapangan didapatkan seluruh anggota kelompok wanita tani memulai untuk bertani atau berusaha tani masih selama 2 tahun sejak adanya program Pekarangan Pangan Lestari (P2L), selain itu anggota kelompok wanita tani, menjadikan bertani sebagai pekerjaan sampingan bukan menjadi pekerjaan pokok. Akan tetapi terdapat anggota kelompok wanita tani yang tidak memiliki pekerjaan pokok atau hanya sebagai ibu rumah tangga, menjadikan bertani sebagai pekerjaan utama untuk membantu perekonomian keluarga. Pernyataan tersebut sejalan dengan

penelitian Zulfa dkk, (2011) yaitu variabel pengalaman berusahatani tidak memiliki hubungan dengan sikap petani terhadap program demplot pertanian organik. Menurut penelitian Damayanti (2016) bahwasannya pengalaman bertani tidak menjamin sikap positif mereka, pengalaman akan tumbuh seiring berjalannya waktu membuat keputusan petani lebih matang. Pengalaman anggota kelompok wanita tani yang masih rendah dalam pengelolaan agrowisata sebanding dengan rendahnya sikap dalam pengelolaan agrowisata. Akan tetapi anggota masih belum mengetahui banyaknya manfaat dan keuntungan yang didapatkan dengan adanya agrowisata edukasi sayur.

D. Pendapatan

Pengaruh pendapatan terhadap sikap pengelolaan agrowisata edukasi sayur tersaji pada tabel 4.22.

Tabel 4.22 Pengaruh Pendapatan Terhadap Sikap Pengelolaan Agrowisata Edukasi Sayur

Model t Sig

1 (Constant) 1847 072

Pendapatan 154 878

Sumber: SPSS 25, 2022

Berdasarkan tabel 4.22 pengaruh pendapatan terhadap sikap pengelolaan agrowisata edukasi sayur menunjukkan bahwa seorang petani yang menjalankan usahataninya harus menentukan kombinasi sektor yang mampu menghasilkan pendapatan yang maksimal. Pendapatan yang dirujuk dalam penelitian ini adalah pendapatan selama 1 bulan. Melihat dari hasil analisis data menunjukkan signifikansi 0,878 yang berarti nilai signifikansi tersebut melebihi dari nilai alpha yaitu > 0,05. Adapun jika melihat pada nilai t hitung menunjukkan angka sebesar 0,154 kurang dari t tabel < 2,010. Sehingga dari hasil tersebut dapat dinyatakan bahwa tidak adanya pengaruh signifikan pada pendapatan dan berkonotasi

negatif terhadap sikap dalam pengelolaan agrowisata edukasi sayur. Maka dapat disimpulkan H0 diterima dan H1 ditolak.

Hal ini menunjukkan bahwa tinggi rendahnya suatu pendapatan tidak mempengaruhi tinggi rendahnya sikap. Dikarenakan hasil kajian di lapangan didapatkan pendapatan anggota kelompok wanita tani bergantung terhadap pekerjaan, sebagian besar anggota kelompok wanita tani tidak memiliki pekerjaan tetap atau hanya sebagai ibu rumah tangga. Sehingga pendapatan yang diterima diperoleh dari kerja selama satu periode baik harian, mingguan atau bulanan. Hal ini dapat dijelaskan dari penelitian sebelumnya pendapatan adalah hasil yang diperoleh penduduk untuk pekerjaan yang dilakukan harian, mingguan, bulanan, atau tahunan dalam jangka waktu tertentu. Pendapatan setiap individu berasal dari pekerjaannya. Mereka yang memiliki pekerjaan berupah rendah cenderung kurang produktif di bidang manufaktur mereka.

Sedangkan yang berpenghasilan tinggi memiliki motivasi kerja khusus dan produktivitas kerjanya paling baik dan tertinggi (Nugroho, 2013: 29).

Skala usaha anggota kelompok wanita tani masih terbilang kecil mempengaruhi rendahnya pendapatan anggota. Dalam berusaha tani anggota hanya memanfaatkan lahan pekarangan yang ada di sekitar rumah tanpa menambah skala usahanya, selain itu sistem pemasaran yang belum tertata secara baik dan keberlanjutan dari penjualan produk pertanian juga menjadikan penyebab rendahnya pendapatan anggota kelompok wanita tani Pernyataan tersebut sesuai dengan penelitian menurut Faisal (2015:16), besarnya penerimaan dan pengeluaran selama proses produksi akan berpengaruh terhadap besarnya jumlah pendapatan yang diterima oleh petani. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi pendapatan yang diterima petani, antara lain: skala usaha, tersedianya modal, tingkat harga output, tersedianya tenaga kerja, sarana transportasi, dan sistem pemasaran.

4.7.2 Pengaruh Faktor Eksternal Terhadap Sikap Pengelolaan Agrowisata

dinyatakan bahwa adanya pengaruh pada interaksi sosial dan berkonotasi positif terhadap sikap dalam pengelolaan agrowisata edukasi sayur. Maka dapat disimpulkan H0 ditolak dan H1 diterima.

Dikarenakan dari hasil kajian dilapangan adanya interaksi antar anggota melalui kegiatan yang dilaksanakan secara rutin. Adapun kegiatan yang rutin dilaksanakan meliputi: pertemuan rutin setiap 1 minggu sekali sekaligus arisan anggota kelompok wanita tani, pembibitan benih tanaman sayuran setiap 2 minggu sekali dan adanya kegiatan berjualan produk pertanian atau makanan setiap hari minggu. Selain itu interaksi sosial yang dilakukan tidak hanya secara langsung, melainkan juga memanfaatkan sarana media sosial group whatshapp untuk menyebarkan informasi terkait pertanian. Hal dapat dijelaskan pada penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa proses interaksi antara anggota kelompok tani terjalin dengan baik. Proses interaksi yang terjadi tercermin dari kenyataan bahwa anggota kelompok tani dan anggota kelompok tani terus bertukar informasi dan berbagi informasi tentang ketersediaan pupuk dan benih.

Bersama-sama, mempengaruhi keberlanjutan kelompok tani di masa depan dan keberlanjutan budidaya singkong (Haryadi et al, 2019: 548).

B. Ketersediaan Sarana Prasarana

Pengaruh ketersediaan sarana prasarana terhadap sikap pengelolaan agrowisata edukasi sayur tersaji pada tabel 4.24.

Tabel 4.24 Pengaruh Ketersediaan Sarana Prasarana Terhadap Sikap Pengelolaan Agrowisata Edukasi Sayur

Model t Sig

1 (Constant) 1847 072

Ketersediaan Sarana Prasarana 2106 042 Sumber: SPSS 25, 2022

Berdasarkan tabel 4.24 pengaruh ketersediaan sarana prasarana terhadap sikap pengelolaan agrowisata edukasi sayur menunjukkan bahwa dalam

pengelolaan agrowisata edukasi sayur diperlukan sarana prasarana baik berupa perencanaan, media dan alat yang digunakan untuk menunjang kegiatan dalam mencapai tujuan. Melihat dari hasil analisis data menunjukkan signifikansi 0,042 yang berarti nilai signifikansi tersebut kurang dari nilai alpha yaitu < 0,05. Adapun jika melihat pada nilai t hitung menunjukkan angka sebesar 2,106 lebih besar dari t tabel > 2,010. Sehingga dari hasil tersebut dapat dinyatakan bahwa adanya pengaruh pada ketersediaan sarana prasarana dan berkonotasi positif terhadap sikap dalam pengelolaan agrowisata edukasi sayur. Maka dapat disimpulkan H0 ditolak dan H1 diterima.

Dikarenakan hasil dari kajian dilapangan didapatkan ketersediaan sarana prasarana di kelompok wanita tani tersedia secara lengkap mulai dari peralatan dalam persemaian bibit, adanya kebun bibit desa berupa greenhouse, peralatan dalam budidaya tanaman sayur dan adanya demplot sebesar 80 RU yang dijadikan tempat agrowisata edukasi sayur beserta fasilitas pendukunganya Akan tetapi dengan adanya ketersediaan sarana prasarana tersebut, belum adanya pemeliharaan sarana prasarana secara berkala sehingga kurang optimalisasi dari sarana prasarana berkurang. Hal ini sesuai dengan penelitian menurut Shita Syaqilla etal (2020) menyatakan bahwa ketersediaan sarana dan prasarana yang menyebabkan sikap petani termasuk kedalam kategori yang sedang, hal ini dapat dikarenakan kurangnya informasi yang didapatkan petani mengenai sarana yang dapat digunakan dilingkungan sekitar petani. Selain itu ketersediaaan sarana dan prasarana merupakan faktor yang mempengaruhi sikap petani dalam penerapan pemupukan berimbang pemupukan urea (Nurhayati, 2020:28).

C. Dukungan Kelompok Tani

Pengaruh dukungan kelompok tani terhadap sikap pengelolaan agrowisata edukasi sayur tersaji pada tabel 4.25.

Tabel 4.25 Pengaruh Dukungan Kelompok Tani Terhadap Sikap Pengelolaan Agrowisata Edukasi Sayur

Model t Sig

1 (Constant) 1847 072

Dukungan Kelompok Tani 2518 016

Sumber: SPSS 25, 2022

Berdasarkan tabel 4.25 pengaruh dukungan kelompok tani terhadap sikap pengelolaan agrowisata edukasi sayur menunjukkan bahwa sebagai kelompok tani dalam menjalankan usahataninya perlu adanya peran anggota kelompok untuk memberikan dukungan kepada anggota lain untuk berpartisipasi dan berperan aktif di dalam kelompok. Melihat dari hasil analisis data menunjukkan signifikansi 0,016 yang berarti nilai signifikansi tersebut kurang dari nilai alpha yaitu < 0,05. Adapun jika melihat pada nilai t hitung menunjukkan angka sebesar 2,518 lebih dari t tabel > 2,010. Sehingga dari hasil tersebut dapat dinyatakan bahwa adanya pengaruh pada dukungan kelompok tani dan berkonotasi positif terhadap sikap dalam pengelolaan agrowisata edukasi sayur. Maka dapat disimpulkan H0 ditolak dan H1 diterima.

Hal ini menunjukkan bahwa tinggi rendahnya suatu dukungan kelompok tani mempengaruhi tinggi rendahnya sikap. Dikarenakan dari hasil kajian dilapangan anggota kelompok wanita tani sering mengadakan pertemuan dengan agenda musyawarah untuk menyelesaikan masalah yang timbul, bertukar informasi berdasarkan pengelaman budidaya tanaman yang dilakukan, anggota lain juga ikut berperan aktif di dalam menyampaikan pendapat di dalam forum kegiatan kelompok wanita tani. Selain itu pengurus kelompok wanita tani juga melaporkan segala kondisi baik keuangan, keadaan barang, rekap belanja

kelompok di dalam forum musyawarah anggota. Hal ini sesuai dengan penelitian Mauludin et al. (2012) bahwa keberadaan suatu kelompok berpotensi berperan penting dalam mempengaruhi kemampuan anggotanya, khususnya dalam meningkatkan pengetahuan, sikap dan keterampilannya.

D. Dukungan Penyuluh Pertanian

Pengaruh dukungan penyuluh pertanian terhadap sikap pengelolaan agrowisata edukasi sayur tersaji pada tabel 4.26.

Tabel 4.26 Pengaruh Dukungan Penyuluh Pertanian Terhadap Sikap Pengelolaan Agrowisata Edukasi Sayur

Model t Sig

1 (Constant) 1847 072

Dukungan Penyuluh Pertanian 975 335

Sumber: SPSS 25, 2022

Berdasarkan tabel 4.26 pengaruh dukungan penyuluh pertanian terhadap sikap pengelolaan agrowisata edukasi sayur menunjukkan bahwa seorang penyuluh pertanian berperan untuk membantu kelompok wanita tani dalam memberikan bimbingan, pembinaan dan perencanaan dalam menjalankan kegiatan di kelompoknya. Selain itu seorang penyuluh juga sebagai fasilitator dari petani terkait pemecahan masalah dan kebutuhan yang diperlukan ketika menjalankan usaha taninya. Melihat dari hasil analisis data menunjukkan signifikansi 0,335 yang berarti nilai signifikansi tersebut melebihi dari nilai alpha yaitu > 0,05. Adapun jika melihat pada nilai t hitung menunjukkan angka sebesar 0,975 kurang dari t tabel < 2,010. Sehingga dari hasil tersebut dapat dinyatakan bahwa tidak adanya pengaruh pada dukungan penyuluh pertanian dan berkonotasi negatif terhadap sikap dalam pengelolaan agrowisata edukasi sayur.

Maka dapat disimpulkan H0 diterima dan H1 ditolak.

Dikarenakan dari hasil kajian di lapangan penyuluh pertanian aktif dalam melaksanakan pendampingan, bimbingan dan pembinaan terhadap kelompok wanita tani. Akan tetapi kurangnya intensitas dari pertemuan penyuluh pertanian dengan anggota kelompok wanita tani dan jumlah penyuluh di kecamatan kedungwaru sebanyaknya 6 orang yang setiap penyuluh bisa membawahi 3-4 kelompok tani menjadikan kurang optimalnya dukungan penyuluh pertanian ke masing-masing kelompok. Hal ini dapat dijelaskan pada penelitian-penelitian sebelumnya bahwa dukungan yang diberikan oleh penyuluh, baik itu berinteraksi dengan petani, memecahkan masalah, berkolaborasi dengan kelompok dan memberikan informasi, tidak berhubungan secara signifikan dengan keputusan inovasi ketika menanam Santana. Hanya interaksi dengan petani dan pemecahan masalah yang berhubungan signifikan dengan fase induksi dan kolaborasi kelompok secara signifikan berhubungan dengan fase persuasi (Andri et al, 2020: 244).

Dengan bertambahnya kelompok wanita tani yang menerima manfaat program pekarangan pangan lestari (P2L), menjadikan penyuluh pertanian memprioritaskan untuk menumbuhkan kelompok yang baru mendapatkan program tersebut, sehingga kelompok yang dianggap sudah berkembang jarang mendapatkan pembinaan. Padahal anggota kelompok masih perlu adanya pembinaan yang berkelanjutan. Sejalan dengan penelitian Nazib (2010) menyatakan bahwa untuk meningkatkan efektivitas kegiatan penyuluhan terhadap menumbuh dan mengembangkan partisipasi petani dalam pembangunan pertanian, maka perlu dilakukan pembinaan terhadap kelompok tani binaan, sehingga agar kelompok-kelompok tersebut nantinya dapat tumbuh dan berkembang menjadi kekuatan ekonomi yang memadai. untuk mendukung kesejahteraan keluarga.

E. Dukungan Pemerintah Desa

Pengaruh dukungan pemerintah desa terhadap sikap pengelolaan agrowisata edukasi sayur tersaji pada tabel 4.27.

Tabel 4.27 Pengaruh Dukungan Pemerintah Desa Terhadap Sikap Pengelolaan Agrowisata Edukasi Sayur

Model t Sig

1 (Constant) 1847 072

Dukungan Pemerintah Desa 1202 236

Sumber: SPSS 25, 2022

Berdasarkan tabel 4.27 pengaruh dukungan pemerintah desa terhadap sikap pengelolaan agrowisata edukasi sayur menunjukkan bahwa pemerintah desa sebagai pemegang kekuasaan di wilayah desa berperan untuk membantu kelompok wanita tani dalam dukungan permodalan, perizinan, pembinaan demi kelancaran kegiatan. Melihat hasil analisis data menunjukkan signifikansi 0,236 yang berarti nilai signifikansi tersebut melebihi dari nilai alpha yaitu > 0,05.

Adapun jika melihat pada nilai t hitung menunjukkan angka sebesar 1,202 kurang dari t tabel < 2,010. Sehingga dari hasil tersebut dapat dinyatakan bahwa d tidak adanya pengaruh pada dukungan pemerintah daerah dan berkonotasi negatif terhadap sikap dalam pengelolaan agrowisata edukasi sayur. Maka dapat disimpulkan H0 diterima dan H1 ditolak.

Dikarenakan hasil kajian langsung dilapangan pemerintah daerah pada saat ini lebih melihat potensi yang ada di daerah untuk dijadikan agrowisata, terutama di agrowisata edukasi sayur ini pemerintah daerah memberikan dukungan yang besar dengan fasilitas berupa deamplot seluas 80 RU, pelatihan dan pengembangan bagi anggota kelompok wanita tani, permodalan yang bersumber dari anggaran dana daerah dan fasilitas perizinan dalam berbagai bentuk kegiatan. Menurut Anwarudin at al (2020), dukungan pemerintah daerah belum optimal karena tidak merata, pemerintah lebih memperhatikan generasi

tua yang tergabung dalam kelompok tani. Dengan demikian, dukungan pemerintah terhadap sektor pertanian belum terasa, artinya melalui menjamurnya program-program yang dirancang di sektor pertanian, dukungan negara belum menjangkau seluruh lapisan pemangku kepentingan pertanian (Aceng dkk, 2020:

504).

4.7.3 Pengaruh Faktor Internal Dan Faktor Eksternal Terhadap Sikap Pengelolaan Agrowisata Edukasi Sayur.

Faktor internal merupakan faktor yang berasal dari dalam diri seseorang yang akan mengambarkan karakteristik anggota kelompok wanita tani, faktor ini biasanya berupa sikap atau sifat yang melekat pada diri pribadi masing-masing, dan faktor eksternal merupakan faktor yang berasal dari luar diri sendiri atau berasal dari lingkungan sekitar bahkan orang-orang terdekat, faktor ini dalam menimbulkan permasalahan sosial yang pastinya memiliki dampak positif dan negatif sedangkan sikap pengelolaan agrowisata merupakan perasaan, pikiran dan kecenderungan seseorang untuk bertindak sesuai dengan objek atau lingkungannya. Dalam hal ini diharapkan adanya pengaruh antara faktor internal dan eksternal secara bersama-sama atau simultan terhadap sikap pengelolaan agrowisata edukasi sayur. Hasil analisis data pengaruh faktor internal dan faktor eksternal anggota kelompok wanita tani terhadap sikap dalam pengelolaan agrowisata edukasi sayur tersaji pada tabel 4.28.

Tabel 4.28 Pengaruh Faktor Internal dan Eksternal Terhadap Sikap Pengelolaan Agrowisata Edukasi Sayur

Model Sum of Squares df Mean Square F Sig

1 Regression 911758965393 9 101306551710 5607 000b

Residual 722755129587 40 18068878240

Total 1634514094980 49

Sumber: SPSS 25, 2022

Berdasarkan tabel 4.28 pengaruh faktor internal dan faktor eksternal terhadap sikap pengelolaan agrowisata edukasi sayur menunjukkan nilai signifikan sebesar 0,000 kurang dari taraf nyata < α = 0,05 yang berarti berpengaruh secara sempurna. Adapun jika melihat pada nilai f hitung menunjukkan angka sebesar 5,607 lebih dari f tabel > 3,191. Sehingga dapat dinyatakan bahwa faktor internal dan faktor eksternal berpengaruh secara signifikan terhadap sikap dalam pengelolaan agrowisata edukasi sayur. Maka semakin tinggi faktor internal dan faktor eksternal pada anggota kelompok wanita tani maka semakin baik sikap dalam pengelolaan agrowisata.

Hal ini didukung oleh teori sikap Walgito (2003:16) dalam Halim (2019), sikap di dalam diri seseorang dipengaruhi oleh faktor internal terutama faktor fisiologis dan psikologis, serta faktor eksternal terutama berupa situasi yang dihadapi individu, norma dan berbagai hambatan dan dorongan yang ada di masyarakat. Faktor internal berupa umur, lama pendidikan formal, lama bertani dan pendapatan. Sedangkan faktor eksternal berupa interaksi sosial, ketersediaan sarana prasarana, dukungan kelompok tani, dukungan penyuluh pertanian dan dukungan pemerintah desa.

92 BAB V

PERANCANGAN DAN IMPLEMENTASI

5.1 Gambaran Umum Lokasi Penelitian

Agrowisata Edukasi Sayur Kelompok Wanita Tani Winong Asri berlokasi di Desa Winong, Kecamatan Kedungwaru, Kabupaten Tulungagung. Desa Winong memiliki potensi sebagai desa wisata karena memiliki sumber daya alam yang produktif salah satunya lahan pertanian yang dijadikan agrowisata berbasis edukasi sayur. Agrowisata juga dapat menjadi salah satu cara untuk mengurangi kesan kumuh di daerah tersebut, selain itu dengan adanya agrowisata dapat menunjang perekonomian masyarakat setempat, melatih keterampilan masyarakat dan untuk memberikan ilmu kepada pengunjung sehingga dijadikan sarana untuk regenerasi petani muda di masa mendatang.

5.1.1 Keadaan Geografis Wilayah Desa Winong

Desa Winong adalah salah satu desa kecil terletak di Kecamatan Kedungwaru, Kabupaten Tulungagung. Jarak tempuh Desa tersebut dari Ibukota Kabupaten Tulungagung ±3 km. Desa Winong memiliki luas wilayah 0,35 km², dengan potensi lahan yang produktif. Adapun batas-batas desa tersebut sebagai berikut :

Sebelah Utara : Desa Majan.

Sebelah Timur : Desa Ketanon.

Sebelah Selatan : Desa Tawangsari.

Sebelah Barat : Desa Mangunsari.

Desa Winong merupakan salah satu dari 19 desa di wilayah Kecamatan Kedungwaru, yang terletak ±3 km ke arah barat laut dari Ibukota Kabupaten.

Secara letak astronomis Desa Winong berada pada titik -8.044558 Lintang Selatan dan 111.897541 Bujur Timur. Berdasarkan topografinya Desa Winong terletak di dataran rendah dengan ketinggian 85 mdpl. Desa Winong hanya