• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN KAJIAN

4.7 Pembahasan Interprestasi Data Analisis Regresi

4.7.1 Pengaruh Faktor Internal Terhadap Sikap Pengelolaan

Faktor internal merupakan faktor yang berasal dari dalam diri seseorang yang akan mengambarkan karakteristik anggota kelompok wanita tani, faktor ini biasanya berupa sikap atau sifat yang melekat pada diri pribadi masing-masing, sedangkan sikap pengelolaan agrowisata merupakan perasaan, pikiran dan kecenderungan seseorang untuk bertindak sesuai dengan objek atau lingkungannya. Dari kajian yang dilakukan diharapkan adanya pengaruh masing-masing variabel atau secara parsial antara faktor internal dengan sikap pengelolaan.

A. Umur

Pengaruh umur terhadap sikap pengelolaan agrowisata edukasi sayur tersaji pada tabel 4.19.

Tabel 4.19 Pengaruh Umur Terhadap Sikap Pengelolaan Agrowisata Edukasi Sayur

Model t Sig

1 (Constant) 1847 072

Umur 795 431

Sumber: SPSS 25, 2022

Berdasarkan tabel 4.19 pengaruh umur terhadap sikap pengelolaan agrowisata edukasi sayur menunjukkan bahwa umur merupakan faktor yang dapat mempengaruhi anggota terhadap penyerapan dan pengambilan keputusan dalam menggunakan teknologi baru maupun inovasi baru pada usahataninya.

Melihat dari hasil analisis data menunjukkan signifikansi 0,431 yang berarti nilai signifikansi tersebut lebih dari nilai alpha yaitu > 0,05. Adapun jika melihat pada nilai t hitung, menunjukkan angka sebesar 0,795 kurang dari t tabel < 2,010.

Sehingga dari hasil tersebut dapat dinyatakan bahwa tidak adanya pengaruh signifikan pada umur dan berkonotasi negatif terhadap sikap dalam pengelolan agrowisata edukasi sayur. Maka dapat disimpulkan H0 diterima dan H1 ditolak.

Hal ini dikarenakan dari hasil kajian di lapangan didapatkan sebagian besar anggota kelompok wanita tani memiliki umur 51-60 tahun yang termasuk dalam kategori lanjut usia, kondisi ini menyebabkan menurunnya produktifitas anggota dalam bersikap terhadap pengelolaan agrowisata edukasi sayur. Akan tetapi ada beberapa anggota yang masuk kategori lanjut usia masih aktif di dalam mencari informasi, berpartisipasi, berperan dan berkegiatan di kelompok wanita tani sebagai kegiatan mengisi waktu luang hingga sebagai tambahkan sampingan dari ilmu yang didapatkan dan menjual hasil budidayanya. Menurut Maryam dkk (2016) ketika petani mencapai usia tertentu seperti 55 tahun, 60 atau 65 tahun seorang pekerja pasti memasuki usia pensiun atau tidak produktif lagi. Usia memiliki pengaruh terhadap produktivitas tenaga kerja pada jenis pekerjaan berdasarkan tenaga kerja manual (Makatita dkk,2014).

Dengan ini menunjukkan bahwa penambahan umur seseorang belum tentu dapat meningkatkan sikap anggota terhadap pengelolaan agrowisata edukasi sayur pernyataan ketika petani memiliki umur lebih tua cenderung tertutup untuk menerima hal yang baru seperti sikap terhadap suatu objek. Menurut Maryam dkk. (2016) berpendapat bahwa petani yang lebih tua cenderung tradisionalis dan sulit untuk memberikan wawasan yang dapat mengubah cara mereka berpikir, bekerja dan hidup. Para petani ini apatis terhadap teknologi baru, sehingga usia petani tidak menjadi syarat untuk melakukan suatu kegiatan pertanian, sehingga orang tanpa memandang usia, selama ia mampu dan mau

bekerja, dapat menerapkan dan mengevaluasi kegiatan tersebut (Widiyastuti dkk, 2016: 486). Dalam proses penerimaan inovasi berdasarkan karakteristik adopter, umur anggota kelompok wanita tani masuk dalam kategori penganut dini (Early Majority) dilihat dari sebaran setengah umur sampai tua. Kategori ini terhitung lambat dari golongan inovator dan early adopter akan tetapi mudah dipengaruhi dengan adanya teknologi baru yang dapat meningkatkan usaha taninya. Akan tetapi masih memiliki sifat hati-hati dan takut mengalami kegagalan kecuali ada bukti yang sudah ada untuk meyakinkan (Rogers, 1983).

B. Lama Pendidikan Formal

Pengaruh lama pendidkan terhadap sikap pengelolaan agrowisata edukasi sayur tersaji pada tabel 4.20.

Tabel 4.20 Pengaruh Lama Pendidikan Formal Terhadap Sikap Pengelolaan Agrowisata Edukasi Sayur

Model t Sig

1 (Constant) 1847 072

Lama Pendidikan Formal -2080 044

Sumber: SPSS 25, 2022

Berdasarkan tabel 4.20 pengaruh lama pendidikan formal terhadap sikap pengelolaan agrowisata edukasi sayur menunjukkan bahwa lama pendidikan formal mempengaruhi petani dalam mengelola usahatani karena lama pendidikan seseorang akan membantu untuk berpikir global dan penuh pertimbangan. Melihat dari hasil analisis data menunjukkan signifikansi 0,044 yang berarti nilai signifikansi tersebut kurang dari nilai alpha yaitu < 0,05. Adapun jika melihat pada nilai t hitung menunjukkan angka sebesar -2,080 lebih besar dari t tabel > 2,010. Sehingga dari hasil tersebut dapat dinyatakan bahwa adanya pengaruh signifikan pada lama pendidikan formal dan berkonotasi positif terhadap sikap dalam pengelolaan agrowisata edukasi sayur. Maka dapat disimpulkan H0 ditolak dan H1 diterima.

Hal ini juga dapat diartikan semakin lama pendidikan formal maka sikap anggota terhadap pengelolaan agrowisata semakin kuat atau tinggi.Dikarenakan dari hasil kajian dilapangan didapatkan sebanyak 22 orang dengan lama pendidikan 12 tahun setara SMA/SMK, sehingga cenderung terbuka oleh adanya inovasi untuk ikut berpartisipasi selama inovasi tersebut mempengaruhi tingkat produktifitas usaha taninya, maka anggota kelompok wanita tani akan menerapkan atau mengadopsinya. Sejalan dengan penelitian menurut Hapsari dkk (2019:250) lama pendidikan formal akan mempengaruhi tingkat produktivitas usahatani, tingkat sadar huruf, pencarian informasi, serta tingkat adaptasi teknologi yang akan berdampak pada partisipasi dan daya adopsinya.

Menurut Mardikanto (1993) pada Manyamsari dan Mujiburrahmad (2014) selanjutnya mengungkapkan bahwa pendidikan adalah proses pengembangan pengetahuan juga sikap seseorang secara berkala, yang akan membentuk wawasan terhadap suatu objek yang akhirnya akan mengarahkan pada pengambilan keputusan. Selain itu, lama pendidikan formal 6 tahun setara SD dengan jumlah anggota sebanyak 14 orang juga dapat menjadikan pengaruh terhadap sikap pengelolaan agrowisata, anggota kelompok wanita tani dengan lulusan SD lebih bisa menerima apa pun materi, peluang dan inovasi yang diberikan dikarenakan merasa benar dan tanpa berpikir panjang ilmu pengetahuan mengenai pertanian hanya berupa pengetahuan yang diturunkan dari orang tua petani. Pernyataan tersebut sejalan dengan penelitian Prasetya dkk, (2018) tingkat pendidikan petani termasuk rendah karena 46,061%

mayoritas petani tidak tamat SD dan lulus SD, dan pengetahuan mengenai pertanian hanya berupa pengetahuan yang diturunkan dari orang tua petani.

C. Lama Bertani

Pengaruh lama bertani terhadap sikap pengelolaan agrowisata edukasi sayur tersaji pada tabel 4.21.

Tabel 4.21 Pengaruh Lama Bertani Terhadap Sikap Pengelolaan Agrowisata Edukasi Sayur

Model t Sig

1 (Constant) 1847 072

Lama Bertani -859 395

Sumber: SPSS 25, 2022

Berdasarkan tabel 4.23 pengaruh lama bertani terhadap sikap pengelolaan agrowisata edukasi sayur menunjukkan bahwa lama bertani merupakan lamanya anggota kelompok dalam melakukan berbagai kegiatan usahatan. Pengalaman usahatani juga berpengaruh terhadap keberhasilan usaha. Melihat dari hasil analisis data menunjukkan signifikansi 0,395 yang berarti nilai signifikansi tersebut melebihi dari nilai alpha yaitu > 0,05. Adapun jika melihat pada nilai t hitung menunjukkan angka sebesar -0,859 kurang dari t tabel < 2,010. Sehingga dari hasil tersebut dapat dinyatakan bahwa tidak adanya pengaruh signifikan pada lama bertani dan berkonotasi negatif terhadap sikap dalam pengelolaan agrowisata edukasi sayur. Maka dapat disimpulkan H0 diterima dan H1 ditolak.

Hal ini menunjukkan bahwa lama tidaknya dalam bertani tidak mempengaruhi tinggi rendahnya sikap. Dikarenakan hasil kajian dilapangan didapatkan seluruh anggota kelompok wanita tani memulai untuk bertani atau berusaha tani masih selama 2 tahun sejak adanya program Pekarangan Pangan Lestari (P2L), selain itu anggota kelompok wanita tani, menjadikan bertani sebagai pekerjaan sampingan bukan menjadi pekerjaan pokok. Akan tetapi terdapat anggota kelompok wanita tani yang tidak memiliki pekerjaan pokok atau hanya sebagai ibu rumah tangga, menjadikan bertani sebagai pekerjaan utama untuk membantu perekonomian keluarga. Pernyataan tersebut sejalan dengan

penelitian Zulfa dkk, (2011) yaitu variabel pengalaman berusahatani tidak memiliki hubungan dengan sikap petani terhadap program demplot pertanian organik. Menurut penelitian Damayanti (2016) bahwasannya pengalaman bertani tidak menjamin sikap positif mereka, pengalaman akan tumbuh seiring berjalannya waktu membuat keputusan petani lebih matang. Pengalaman anggota kelompok wanita tani yang masih rendah dalam pengelolaan agrowisata sebanding dengan rendahnya sikap dalam pengelolaan agrowisata. Akan tetapi anggota masih belum mengetahui banyaknya manfaat dan keuntungan yang didapatkan dengan adanya agrowisata edukasi sayur.

D. Pendapatan

Pengaruh pendapatan terhadap sikap pengelolaan agrowisata edukasi sayur tersaji pada tabel 4.22.

Tabel 4.22 Pengaruh Pendapatan Terhadap Sikap Pengelolaan Agrowisata Edukasi Sayur

Model t Sig

1 (Constant) 1847 072

Pendapatan 154 878

Sumber: SPSS 25, 2022

Berdasarkan tabel 4.22 pengaruh pendapatan terhadap sikap pengelolaan agrowisata edukasi sayur menunjukkan bahwa seorang petani yang menjalankan usahataninya harus menentukan kombinasi sektor yang mampu menghasilkan pendapatan yang maksimal. Pendapatan yang dirujuk dalam penelitian ini adalah pendapatan selama 1 bulan. Melihat dari hasil analisis data menunjukkan signifikansi 0,878 yang berarti nilai signifikansi tersebut melebihi dari nilai alpha yaitu > 0,05. Adapun jika melihat pada nilai t hitung menunjukkan angka sebesar 0,154 kurang dari t tabel < 2,010. Sehingga dari hasil tersebut dapat dinyatakan bahwa tidak adanya pengaruh signifikan pada pendapatan dan berkonotasi

negatif terhadap sikap dalam pengelolaan agrowisata edukasi sayur. Maka dapat disimpulkan H0 diterima dan H1 ditolak.

Hal ini menunjukkan bahwa tinggi rendahnya suatu pendapatan tidak mempengaruhi tinggi rendahnya sikap. Dikarenakan hasil kajian di lapangan didapatkan pendapatan anggota kelompok wanita tani bergantung terhadap pekerjaan, sebagian besar anggota kelompok wanita tani tidak memiliki pekerjaan tetap atau hanya sebagai ibu rumah tangga. Sehingga pendapatan yang diterima diperoleh dari kerja selama satu periode baik harian, mingguan atau bulanan. Hal ini dapat dijelaskan dari penelitian sebelumnya pendapatan adalah hasil yang diperoleh penduduk untuk pekerjaan yang dilakukan harian, mingguan, bulanan, atau tahunan dalam jangka waktu tertentu. Pendapatan setiap individu berasal dari pekerjaannya. Mereka yang memiliki pekerjaan berupah rendah cenderung kurang produktif di bidang manufaktur mereka.

Sedangkan yang berpenghasilan tinggi memiliki motivasi kerja khusus dan produktivitas kerjanya paling baik dan tertinggi (Nugroho, 2013: 29).

Skala usaha anggota kelompok wanita tani masih terbilang kecil mempengaruhi rendahnya pendapatan anggota. Dalam berusaha tani anggota hanya memanfaatkan lahan pekarangan yang ada di sekitar rumah tanpa menambah skala usahanya, selain itu sistem pemasaran yang belum tertata secara baik dan keberlanjutan dari penjualan produk pertanian juga menjadikan penyebab rendahnya pendapatan anggota kelompok wanita tani Pernyataan tersebut sesuai dengan penelitian menurut Faisal (2015:16), besarnya penerimaan dan pengeluaran selama proses produksi akan berpengaruh terhadap besarnya jumlah pendapatan yang diterima oleh petani. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi pendapatan yang diterima petani, antara lain: skala usaha, tersedianya modal, tingkat harga output, tersedianya tenaga kerja, sarana transportasi, dan sistem pemasaran.

4.7.2 Pengaruh Faktor Eksternal Terhadap Sikap Pengelolaan Agrowisata