• Tidak ada hasil yang ditemukan

Distribusi Indeks Debris dan Indeks Kalkulus (OHIS) berdasarkan Obesitas

HASIL PENELITIAN

4.8 Distribusi Indeks Debris dan Indeks Kalkulus (OHIS) berdasarkan Obesitas

Distribusi Indeks Debris dan Indeks Kalkulus (OHIS) berdasarkan Obesitas dapat dilihat pada tabel 13.

Tabel 13. Distribusi Indeks Debris dan Indeks Kalkulus (OHIS) berdasarkan Obesitas

Skor OHIS Derajat kebersihan mulut Obesitas I Obesitas II n=8 n=17 0,0-1,2 Baik 0 (0%) 1 (5,9%) 1,3-3,0 Sedang 4 (50%) 6 (35,3%) 3,1-6,0 Buruk 4 (50%) 10 (58,8%)

Berdasarkan tabel 13, pada obesitas I menunjukkan subjek memiliki derajat OHIS sedang (50%) dan buruk (50%). Sedangkan pada obesitas II menunjukkan lebih banyak subjek yang memiliki derajat OHIS buruk (58,8%).

BAB 5 PEMBAHASAN

Penelitian ini dilakukan pada 25 subjek obesita di Puskesmas Medan Deli.

Subjek dikelompokkan menjadi obesitas I dan obesitas II, berdasarkan klasifikasi BMI oleh WHO pada orang Asia. Obesitas I memiliki BMI 25-29,9 kg/m2 dan obesitas II ≥ 30kg/m2. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pada obesitas II lebih banyak subjek memiliki kondisi kebersihan mulut yang buruk dengan laju aliran saliva mayoritas subjek mengalami hiposalivasi. Pada obesitas I subjek memiliki kondisi kebersihan mulut buruk dan sedang dengan laju aliran saliva mengalami hiposalivasi dan normal.

Penelitian yang dilakukan oleh Sede MA dkk., pada tahun 2018 menunjukkan bahwa obesitas memiliki OHIS buruk. Pada obesitas I lebih banyak memiliki OHIS dengan derajat buruk dibandingkan obesitas II.7

Penelitian yang dilakukan oleh Fajrin Nurul dkk., pada tahun 2015 menunjukkan bahwa semakin bertambah BMI maka laju aliran saliva akan semakin rendah. Pada BMI normal weight rata-rata laju aliran saliva ± 0,13 ml/menit.

Sedangkan pada BMI obesity rata-rata laju aliran saliva adalah ± 0,04 ml/menit. Setiap penambahan 1 BMI maka akan menurunkan laju aliran saliva sebanyak 0,008 ml/menit.59

Penelitian yang dilakukan Fernanda V dkk., pada tahun 2018 menunjukkan bahwa terdapat hubungan bermakna antara Indeks Massa Tubuh dengan laju aliran saliva. Hubungan antara Indeks Massa Tubuh dengan laju aliran saliva adalah semakin besar Indeks Massa Tubuh maka akan semakin rendah laju aliran saliva. Laju aliran saliva bernilai normal pada subjek dengan Indeks Massa Tubuh kategori underweight dan normal, dan menurun pada kategori berat badan lebih dan obesitas. Subjek dengan kategori obesitas memiliki nilai laju aliran saliva yang paling rendah dibandingkan dengan tiga kategori Indeks Massa Tubuh lainnya.19

Penelitian yang dilakukan Baydaa dkk., pada tahun 2011 menunjukkan bahwa terdapat penurunan laju aliran saliva yang signifikan pada subjek obesitas dibandingkan dengan non obesitas. Rata-rata laju aliran saliva pada subjek non obesitas adalah 0,48±0,25 ml/menit, sedangkan rata-rata laju aliran saliva pada subjek

overweight adalah 0,47±0,19 ml/menit, dan subjek obesitas adalah 0,43±0,18 ml/menit.60

Hasil penelitian yang diperoleh menunjukkan bahwa subjek yang memiliki laju aliran saliva lebih banyak pada perempuan dibandingkan laki-laki, dikarenakan perempuan memiliki lemak tubuh lebih banyak dibandingkan laki-laki. Hal ini berkaitan dengan BMI, semakin bertambah BMI maka laju aliran saliva semakin rendah. Selain itu beberapa faktor yang dapat mempengaruhi laju aliran saliva yaitu stimulus kimiawi dan mekanik, penyakit sistemik, obat-obatan, dan usia.69 Patricia Del Vigna De Almeida dkk yang menunjukkan bahwa pada jenis kelamin laki-laki laju aliran saliva lebih tinggi dibandingkan dengan perempuan karena laki-laki memiliki kelenjar saliva yang lebih besar dibandingkan perempuan hal ini dapat menyebabkan laju aliran saliva laki-laki lebih banyak dibandingkan dengan laju aliran saliva perempuan.70 Pada perokok jangka panjang, diketahui terjadi penurunan laju aliran saliva yang signifikan sehingga meningkatkan kelainan pada gigi dan mulut yang berhubungan dengan mulut kering, gingivitis, dan kalkulus. Hasil dari penelitian Khan dkk., di Pakistan menunjukkan bahwa terdapat penurunan laju aliran saliva sebagai efek jangka panjang merokok terhadap produksi saliva oleh kelenjar saliva.71

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa subjek obesitas I dan obesitas II memiliki OHIS buruk dan penurunan pada laju aliran saliva, dikarenakan deposit lemak yang menumpuk di sekitar kelenjar saliva. Penumpukan lemak tersebut memicu produksi sitokin yang mempengaruhi abnormalitas fungsi kelenjar saliva sehingga laju alir saliva berkurang. Individu obesitas terjadi peningkatan jumlah adypocytes di jaringan parenkim kelenjar saliva. Proinflammatory cytokines yang berasal dari adipocyte dan makrofag menumpuk di jaringan adiposa. Hal ini akan menyebabkan chronic low-grade inflammation yang mempengaruhi fungsi kelenjar saliva. Sehingga laju alir saliva pun menurun dan menyebabkan oral hygiene nya buruk.59 Maka subjek obesitas dengan kebersihan mulut yang kurang baik dapat menambah resiko terjadinya penyakit yang ada didalam rongga mulut, sehingga untuk mengurangi resiko tersebut dapat dilakukan dengan menurunkan berat badan dan menjaga kebersihan mulut.61

Pada penelitian ini menunjukkan bahwa subjek yang memiliki OHIS buruk lebih banyak perempuan dibandingkan laki-laki. Hal ini dikarenakan subjek kurang memperhatikan kondisi kebersihan mulutnya dan subjek tidak melakukan waktu penyikatan gigi dengan baik, selain itu sebagian besar subjek juga tidak pernah melakukan kunjungan ke dokter gigi sehingga mengakibatkan OHIS buruk. Penelitian yang dilakukan Anggraini dkk., menunjukkan bahwa Laki-laki memiliki kriteria OHIS buruk lebih tinggi dibandingkan perempuan. Pada kriteria OHIS baik, persentase laki-laki lebih tinggi dibandingkan perempuan. Hal ini menunjukkan bahwa laki-laki-laki-laki memiliki kebersihan rongga mulut yang lebih buruk dari pada perempuan. Menurut Burt, perempuan memiliki kebersihan rongga mulut yang lebih baik dari pada laki-laki.

Pada umumnya laki-laki biasanya kurang memperhatikan kebersihan rongga mulutnya dibandingkan perempuan. Hal ini dikarenakan laki-laki yang merokok tembakau juga mempengaruhi kebersihan rongga mulut, yang terkandung dalam asap rokok akan mengendap pada permukaan gigi dan menyebabkan permukaan gigi menjadi kasar, sehingga mudah dilekati plak dan kebersihan rongga mulut menjadi buruk.68

Pada penelitian ini terdapat subjek yang menggunakan perawatan orto dan subjek memiliki kondisi kebersihan mulut yang buruk serta mengalami penurunan pada laju aliran saliva. Hal ini dikarenakan subjek menggunakan piranti orto sehingga memudahkan terjadinya penumpukan plak. Selain itu subjek kurang tepat dalam melakukan waktu penyikatan gigi dan melakukan kontrol perawatan orto yang tidak rutin, sehingga subjek memiliki OHIS buruk.

Dalam penelitian ini, sebagian besar subjek obesitas I dan obesitas II kurang peduli terhadap kondisi kebersihan mulutnya. Sebagian besar subjek melakukan kunjungan ke dokter gigi > 6 bulan yang lalu dan beberapa subjek tidak pernah melakukan kunjungan ke dokter gigi. Dengan melakukan kunjungan ke dokter gigi adalah menjadi salah satu cara pencegahan bagi kesehatan gigi dan mulut. Apabila subjek rutin ke dokter gigi tentu saja akan memiliki keadaan rongga mulut yang lebih baik dibandingkan subjek yang tidak pernah berkunjung ke dokter gigi.

Hasil penelitian yang diperoleh adalah melalui data demografis. Data demografis subjek meliputi jenis kelamin, usia, dan pendidikan. Subjek pada penelitian

ini mayoritas pada kelompok usia 47-60 tahun. Penelitian Noviadi memperlihatkan persentase kegemukan tertinggi terdapat pada kelompok usia 46-49 tahun yaitu sebesar 27,02%. Hal ini disebabkan karena obesitas sangat berhubungan dengan usia karena semakin usia bertambah maka metabolisme yang terjadi didalam tubuh mengalami penurunan lalu akan terjadi perubahan secara biologis.62

Pada penelitian ini terdapat lebih banyak subjek perempuan dibandingkan dengan laki-laki. Berdasarkan Riskesdas tahun 2013 prevalensi obesitas sentral meningkat menjadi 26,6% pada usia 15 tahun keatas. Prevalensi obesitas sental pada laki-laki (11,3%) dan pada perempuan (42,1%).63 Hal ini disebabkan karena rata-rata perempuan memiliki lemak tubuh lebih banyak dibandingkan laki-laki selain itu gangguan hormon kewanitaan yaitu estrogen dan progesteron dapat mempengaruhi sistem metabolisme sehingga sangat berperan dalam meningkatkan resiko obesitas. Pendidikan subjek penelitian terbanyak adalah dari kelompok perguruan tinggi, namun penelitian yang dilakukan oleh Weni dkk menunjukan bahwa tingkat pendidikan subjek tidak berpengaruh terhadap terjadinya obesitas, tetapi tingkat pendidikan yang lebih tinggi memiliki tingkat kesadaran yang lebih tinggi terhadap resiko terjadinya obesitas.64

Penelitian yang dilakukan oleh Said F dkk., menunjukkan bahwa pendidikan seseorang juga dapat mempengaruhi tingkat kebersihan gigi dan mulutnya, seseorang yang pendidikannya rendah mempunyai pengetahuan yang kurang dalam memelihara kebersihan gigi dan mulutnya. Berbeda dengan orang yang lebih tinggi kemampuan dalam menjaga kebersihan gigi dan mulutnya lebih tinggi karena mereka lebih memperhatikan kondisi mulutnya. Pendidikan tidak menjadi faktor yang utama tetapi cukup mempengaruhi kebersihan gigi dan mulut seseorang.65 Menurut Sariningrum dkk., menunjukkan bahwa tingkat pendidikan mempresentasikan tingkat kemampuan seseorang dalam memperoleh dan memahami informasi kesehatan gigi dan mulut.

Semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang diasumsikan semakin baik tingkat pemahamannya terhadap informasi kesehatan yang diperolehnya.66

Penelitian yang dilakukan oleh Sayuti dkk., menunjukkan bahwa kebersihan mulut sangat ditentukan oleh perilaku. Pemeliharaan kebersihan mulut yang tidak benar akan menyebabkan mudahnya penumpukan plak, materi alba, dan kalkulus yang

pada akhirnya akan merugikan kesehatan kondisi rongga mulut. Kebersihan mulut yang jelek dapat menyebabkan terjadinya komplikasi seperti gingivitis, halitosis, xerostomia, pembentukan plak, dan karies gigi.67

Dari uraian diatas disimpulkan bahwa seluruh subjek obesitas I dan obesitas II di Puskesmas Medan Deli memiliki kondisi kebersihan mulut yang buruk dan mengalami penurunan pada laju aliran saliva. Berbagai macam faktor dapat mempengaruhi terjadinya kebersihan mulut pada subjek obesitas, seperti kunjungan ke dokter gigi, obesitas yang diderita, waktu penyikatan gigi yang tidak baik, dan lain sebagainya. Jika subjek obesitas mengalami penurunan pada laju aliran saliva tetapi dengan melakukan pembersihan gigi yang tepat dan waktu penyikatan yang benar dan juga melakukan kunjungan ke dokter gigi secara rutin maka konidisi kebersihan mulut pada subjek tersebuk akan baik.

BAB 6

Dokumen terkait