TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Penelitian Terdahulu
2.4. Dividen Payout Ratio (DPR)
Dividen adalah pembagian laba kepada pemegang saham berdasarkan
banyaknya saham yang dimiliki. Pembagian ini mengurangi laba ditahan dan kas
yang tersedia bagi perusahaan, tapi distribusi keuntungan kepada para pemilik
merupakan tujuan utama suatu bisnis. Dividen merupakan hak pemegang saham
biasa untuk mendapatkan bagian keuntungan perusahaan. Jika perusahaan
memutuskan untuk membagi keuntungan dalam bentuk dividen, semua pemegang
saham biasa mendapatkan haknya yang sama. Pembagian dividen untuk saham
biasa dapat dilakukan jika perusahaan sudah membayar dividen untuk saham
preferen (Jogiyanto, 1998).
Menurut Warsono (2003), indicator untuk mengukur kebijakan dividen yang
secara luas digunakan ada dua macam, yaitu :
1. Dividend Yield / Hasil Dividen, adalah suatu rasio yang menghubungkan
dividen yang dibayar dengan harga saham biasa. Dividend Yield
menyediakan suatu ukuran komponen pengembalian total yang dihasilkan
menggunakan Dividend Yield sebagai suatu ukuran resiko dan sebagai
suatu penyaring investasi, yaitu mereka akan berusaha menginvetasikan
dananya dalam saham yang menghasilkan Dividend Yield yang tinggi.
2. Dividen Payout Ratio / Rasio Pembayaran Dividen (DPR) merupakan rasio
hasil perbandingan antara dividen dengan laba yang tersedia bagi para
pemegang saham biasa. DPR banyak digunakan dalam penilaian sebagai
cara pengestimasian dividen untuk periode yang akan datang, sedangkan
kebanyakan analis mengestimasikan pertumbuhan dengan menggunakan
laba ditahan lebih baik daripada dividen.
Ang (1997) menyatakan bahwa dividend payout ratio merupakan
perbandingan antara Dividend per share (DPS) dengan earning per share (EPS),
jadi secara perspektif yang dilihat adalah pertumbuhan DPS terhadap
pertumbuhan EPS. Secara sistematis DPR dapat dirumuskan sebagai berikut :
DPR =
EPS DPS
(2.10)
Dividen merupakan salah satu tujuan investor melakukan investasi saham,
sehingga apabila besarnya dividen tidak sesuai dengan yang diharapkan maka ia
akan cenderung tidak membeli suatu saham atau menjual saham tersebut apabila
telah memilikinya.
Menurut Sutrisno (2001), terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi
kebijakan dividen, yang pada dasarnya dapat dibagi menjadi dua kelompok besar,
yaitu :
1. Keputusan dividen yang berasal dari linkungan internal perusahaan atau
rentabilitas, solvabilitas, profitabilitas dan lain sebagainya yang merupakan
unsur dari kinerja perusahaan.
2. Keputusan dividen yang berasal dari lingkungan eksternal perusahaan atau
diluar kontrol manajemen, antara lain seperti inflasi, pajak atas dividen,
hukum, dan lain sebagainya yang perusahaan harus selalu menyesuaikan
diri terhadap perubahan faktor-faktor tersebut.
Menurut Bringham dan Houston (2010), terdapat tiga teori dari preferensi
investor rmengenai kebijakan dividen yaitu :
1. Teori Deviden Irrelevance
Teori ini menyatakan bahwa kebijakan dividen perusahaan tidak merupakan
pengaruh terhadap nilai perusahaan maupun biaya modalnya. Pendukung
utama teori ketidakrelevanan dividen (dividends irrelevance theory) ini
adalah Merton Miller dan Franco Modigliani (2001). Mereka berpendapat
bahwa nilai suatu perusahaan hanya ditentukan oleh kemampuan dasarnya
untuk menghasilkan laba dan risiko bisnisnya. Dengan kata lain, nilai
perusahaan tergantung hanya pada pendapatan yang dihasilkan oleh
aktivanya, bukan pada bagaimana pendapatan tersebut dibagi antara dividen
dan laba yang ditahan. Keown et al (2005) menyatakan bahwa pada teori
ketidakrelevanan dividen, tak ada hubungan antara kebijakan dividen dan
nilai saham. Satu kebijakan dividen sama bagusnya dengan lainnya. Secara
agregat investor hanya mementingkan pengembalian total keputusan
investasi, tak peduli apakah pengembalian berasal dari perolehan modal atau
pendapatan dividen.
Kebanyakan pemilik saham lebih menyukai pembayaran dividen saat ini
daripada menundanya untuk direalisir dalam bentuk “capital gain” nanti.
Tarif pajak untuk “capital gain” sering lebih rendah daripada untuk dividen,
namun para pemilik saham banyak yang lebih menyukai dividen saat ini,
karena dengan pembayaran dividen sekarang maka penerimaan uang
tersebut sudah pasti, sedangkan apabila ditunda ada kemungkinan bahwa
apa yang diharapkan meleset. Teori ini dianut oleh Myron Bordon dan John
Lintner.
3. Teori Tax Preference
Suatu teori yang menyatakan bahwa karena adanya pajak terhadap deviden
dan capital gains maka para investor lebih menyukai capital gains karena
dapat menunda pembayaran pajak dengan alasan :
a. Keuntungan modal dikenakan tarif pajak yang lebih rendah daripada
untuk pembagian dividen, karena itu investor yang kaya mungkin lebih
suka perusahaan menahan dan menanamkan kembali laba di dalam
perusahaan.
b. Pajak atas keuntungan tidak dibayarkan sampai saham terjual, karena
adanya nilai efek waktu, satu dolar pajak yang dibayarkan di masa
mendatang mempunyai biaya efektif yang lebih rendah daripada satu
dolar yang dibayarkan hari ini.
c. Jika selembar saham dimiliki oleh seseorang sampai ia meninggal, sama
sekali tidak ada pajak keuntungan modal yang terutang, ahli waris dapat
Berdasarkan ketiga konsep teori tersebut, perusahaan dapat melakukan
hal-hal sebagai berikut :
1. Jika manajemen percaya bahwa deviden irrelevence theori dari modigliani
dan Miller ( M-M) itu benar maka perusahaan tidak perlu memperhatikan
besarnya deviden yang harus dibagikan.
2. Jika perusahaan menganut Bird In The Hand Theory, maka perusahaan
harus membagi seluruh earning after tax, dalam bentuk deviden.
3. Sedangkan jika perusahaan lebih cenderung mempercayai Tax Preference
Theory , maka perusahaan harus menahan seluruh keuntungan.
2.4.1 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kebijakan Dividen Payout Ratio
(DPR)
Menurut Gumanti (2013) faktor-faktor yang mempengaruhi
kebijakan devident payout rasio (DPR) yaitu :
1. Arus kas, adalah arus masuk dan arus keluar kas atau setara kas. Kas yang
dimaksud terdiri dari saldo kas dan rekening giro. Dengan demikian laporan
arus kas merupakan catatan yang melaporkan sumber- sumber utama
penerimaan kas perusahaan serta penggunaan (pengeluaran) utama
pembayaran kasnya untuk satu periode. Laporan arus kas harus disusun
perusahaan sesuai persyaratan dalam pernyataan dan harus menyajikan
laporan tersebut sebagai bagian yang tidak terpisahkan (integral) dari
laporan keuangan setiap dalam pernyataan dan harus menyajikan laporan
tersebut sebagai bagian yang tidak terpisahkan (integral) dari laporan
Pada dasarnya perusahaan memerlukan kas dengan alasan yang sama
meskipun terdapat perbedaan dalam aktivitas penghasil pendapatan utama.
Perusahaan membutuhkan kas untuk melaksanakan usaha, melunasi
kewajiban dan untuk membagikan deviden kepada para investor.
2. Profitabilitas, adalah tingkat keuntungan bersih yang mampu diraih oleh
perusahaan pada saat menjalankan operasinya. Profitabilitas mencerminkan
kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba atas pengelolaan asset
perusahaan yang merupakan perbandingan antara earning after tax dengan
Total assets, profitabilitas dapat digunakan untuk mengukur efektivitas
perusahaan didalam menghasilkan profit untuk setiap assets yang ditanam. 3. Pertumbuhan Perusahaan,menunjukan pertumbuhan asset, asset merupakan
aktiva yang digunakan untuk aktifitas operasional perusahaan. Theory free
cash flow hypothesis yang disampaikan oleh Jensen (1986) menyebutkan
bahwa perusahaan dengan kesempatan pertumbuhan yang tinggi memiliki
free cash flow yang rendah karena sebagian dana yang ada digunakan untuk
investasi pada proyek yang memiliki nilai NVP positif. Manajer dalam
bisnis perusahaan dengan memperhatikan pertumbuhan lebih menyukai
untuk menginvestasikan pendapatan setelah pajak dan mengharapkan
kinerja yang labih baik dalam pertumbuhan perusahaan secara keseluruhan
(Charitou dan Vafeas ,1998 ). Menurut teori residual devidend, perusahaan
akan membayar devidennya jika hanya tidak memiliki kesempatan investasi
yang menguntungkan, sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat
4. Ukuran Perusahaan, adalah simbol ukuran perusahaan. Faktor ini
menjelaskan bahwa suatu perusahaan besar memiliki akses yang lebih
mudah ke pasar modal, sedangkan perusahaan kecil tidak mudah.
Kemudahan aksesibilitas ke pasar modal merupakan fleksibilitas dan
kemampuan perusahaan untuk menciptakan hutang atau memunculkan dana
yang lebih besar dengan catatan perusahaan tersebut memiliki ratio
pembayaran dividen yang lebih tinggi daripada perusahaan kecil.
2.5. Pengaruh Rasio Keuangan Terhadap Perubahan Laba dan Dividen