• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1Hasil Penelitian

21. PT. Bank Himpunan Saudara 1906, Tbk

4.1.4. Hasil Analisis Statistik Structural Equation Modeling

4.1.4.1. Hasil Analisis Uji Kelayakan Model Penelitian

Uji kelayakan model keseluruhan dilakukan untuk melihat apakah model

yang digunakan dalam penelitian secara keseluruhan memenuhi goodnes of fit.

Hasil pengujian analisis kelayakan model secara menyeluruh dapat dilihat pada

Gambar 4.3 berikut ini :

Sumber: Hasil Output AMOS

Gambar 4.3

Berdasarkan Gambar 4.3 dapat diketahui bahwa model yang digunakan

belum memenuhi kriteria goodness of fit. Ringkasan uji kelayakan model analisis

dapat dilihat pada table 4.9 :

Tabel 4.9. Hasil Pengujian Kelayakan Model I

Goodness of Fit Indeks

Cut off Value

Hasil Evaluasi Model

X2 Chi- Square < 129.918 88.723 Baik

Significant Probability ≥ 0,05 0,000 Tidak Baik

RMSEA ≤ 0,08 1.111 Tidak Baik

GFI ≥ 0,90 0,884 Tidak Baik

AGFI ≥ 0,90 0,803 Tidak Baik

CMIN/DF ≤ 2,00 2,275 Tidak Baik

IFI ≥ 0,90 0,611 Tidak Baik

Sumber: Hasil Penelitian, 2015 (data diolah)

Berdasarkan hasil analisis uji kelayakan model penelitian yang menunjukan

bahwa model penelititan belum memenuhi kriteria goodnes of fit, maka perlu

dilakukan modifikasi model. Menurut Ghozali (2008), modifikasi model

digunakan untuk mendapatkan model yang paling sesuai dengan tujuan

mengindentifikasi dan memperbaiki kesalahan (spesification error) dalam

penelitian dan sekaligus menghasilkan suatu model baru yang memiliki

kesesuaian data yang lebih baik dari model sebelumnya. Menurut Haryono dan

Wardoyo (2013), jika model awal tidak memenuhi model fit maka dapat membuat

model revisinya dengan menghilangkan hubungan yang tidak signifikan dalam

model dan melakukan korelasi antar variabel atau antar error varian indikator.

Sumber: Hasil Output AMOS

Gambar 4.4.

Analisis Struktural Equation Modeling (SEM) II

Analisis SEM II merupakan bentuk model setelah melakukan modifikasi

model. Modifikasi dilakukan agar model menjadi fit, dengan cara membuat

covarian indikator yang memiliki nilai Modification Indicies (M.I.) yang terbesar.

Penambahan covarian antar error varian indikator konstruk eksogen atau antar

error varian indikator konstruk endogen dilakukan agar :

1. Memperkuat pengaruh masing – maing variabel yang diuji

hasil model tidak keluar, hal ini akibat adanya pengaruh variabel-variabel

lain yang tidak dihubungkan dalam model, sehingga memperlemah

pengaruh variabel yang telah kita hubungkan. Untuk itu perlu ditarik garis

penghubung antar error varian indikator.

2. Memperkuat kedudukan variabel yang diuji dengan mengurangi kesalahan

error varian indikator lain yang mengganggu.

Pada saat model yg telah disepakati diolah, hasil model tidak keluar karena

model belum fit. Hal ini mungkin dipengaruhi oleh error varian indikator,

dimana error varian indikator memperlemah ataupun memperkuat variabel

yang seharusnya tidak diuji, untuk itu perlu dipertegas hubungan variabel

yang diuji dengan meletakkan garis penghubung antar error varian

indikator

Secara teori hubungan masing - masing covarian antar error varian

indikator dapat dijelaskan secara singkat sebagai berikut :

1. Hubungan error varian indikator LDR dengan Perubahan Laba

Pada Gambar 4.4. LDR dihubungkan langsung dengan perubahan laba.

LDR merupakan rasio yang mengukur kemampuan bank dalam memberikan

kredit kepada debiturnya dengan modal yang dimiliki oleh bank maupun

dana yang dapat dikumpulkan dari masyarakat. Rasio LDR yang semakin

tinggi, menunjukkan tingkat likuiditas yang semakin kecil, karena jumlah

dana yang diberikan untuk membiayai kreditnya semakin banyak. Jika dana

bank tidak mencukupi maka bank harus mencari pinjaman dana ke bank

indonesia (jika bank diukur secara konsolidasi), artinya bank tidak mampu

diharapkan berada dalam posisi lancar agar keuntungan dapat diestimasi.

Jika keuntungan yang disetimasi dapat direalisasikan, maka keuntungan

kredit ini dapat digunakan untuk membayar kembali hutang ke Bank

Indonesia tersebut, membayar bunga dari simpanan dana masyarakat dan

sisanya untuk menambah pendapatan bank. Namun jika kredit yang

diberikan bermasalah, tentunya bank tidak mampu melakukan seluruh

kewajibannya tersebut dan mengakibatkan menurunkannya pendapatan

bank. Kredit yang diberikan tersebut umumnya berlangsung lebih dari

setahun, sehingga mempengaruhi pendapatan dari tahun ke tahun.

Pergeseran pendapatan bank menunjukkan perubahan laba, sehingga LDR

berhubungan langsung dengan perubahan laba.

2. Hubungan error varian indikator LDR dengan DPR

Pada Gambar 4.4. LDR dihubungkan langsung dengan DPR. LDR

merupakan rasio yang mengukur kemampuan bank dalam memberikan

kredit kepada debiturnya dengan modal yang dimiliki oleh bank maupun

dana yang dapat dikumpulkan dari masyarakat. Nilai LDR yang ideal (78 %

- 92%) menentukan nilai suatu bank karena menunjukkan likuiditas bank

tersebut. Nilai LDR yang terlalu tinggi menempatkan bank untuk

menambah dana yang digunakan untuk menyalurkan kredit. Dana bank

yang tidak mencukupi dapat diambil dari laba perusahaan, tetapi jika laba

perusahaan yang digunakan tersebut cukup besar, maka dapat menurunkan

jumlah dividen ataupun bisa saja bank tersebut menahan labanya. Sehingga

3. Hubungan error varian indikator Rasio Rentabilitas (BOPO, NIM dan

ROA) dengan CAR

Pada Gambar 4.4. menunjukkan bahwa BOPO, NIM dan ROA yang

mewakili rasio rentabilitas berhubungan langsung dengan CAR. Rasio

rentabilitas bank menunjukkan perbandingan antara laba yang diperoleh

dengan aktiva atau modal yang diperlukan untuk menghasilkan laba

tersebut. Dengan kata lain rentabilitas adalah kemampuan bank untuk

menghasilkan laba selama periode tertentu dengan total aktiva atau modal

yang digunakan dalam operasi bank. Sehingga semakin tinggi rasio

rentabilitas maka semakin tinggi laba yang dihasilkan. Laba yang tinggi

dapat menaikkan permodalan bank, karena laba merupakan salah satu

komponen dalam modal inti yang menyusun struktur permodalan bank. Hal

ini menunjukkan bahwa rasio rentabilitas berhubungan langsung dengan

CAR

4. Hubungan error varian indikator NIM dengan DER

NIM adalah rasio yang mengukur kemampuan bank dalam menghasilkan

pendapatan dari bunga dengan melihat kinerja bank dalam menyalurkan

kredit. Sedangkan DER adalah rasio yang mengukur kemampuan bank

dalam menutup sebagian atau seluruh hutang-hutangnya, baik jangka

panjang maupun jangka pendek, dengan dana yang berasal dari dana bank

sendiri. Pada Gambar 4.4. Rasio NIM dan DER saling berhubungan karena

dana bank untuk mengukur rasio DER yang berasal dari bank itu sendiri

sebagian besar diperoleh dari pendapatan bunga bank, namun pendapatan

bermasalah. Karena pendapatan tersebut sebagian akan di gunakan untuk

pencadangan dana bank yang ditujukan untuk menanggulangi kredit

bermasalah. Hal ini menunjukkan bahwa besar kecil nya rasio NIM akan

berhubungan langsung dengan DER.

5. Hubungan error varian indikator EAQ dengan ROA

EAQ adalah rasio yang mengukur tingkat kemungkinan diterimanya

kemba

dari kredit yang disalurkan. Sedangkan ROA adalah rasio yang mengukur

kemampuan bank dalam menghasilkan laba dengan menggunakan total

aktiva yang ada. Pada Gambar 4.4. Rasio EAQ dan ROA saling

berhubungan, karena peningkatan ROA berasal dari aktiva yang ada pada

bank, dimana aktiva tersebut sebagian besar ditanamkan dalam bentuk

kredit yang disebut dengan aktiva produktif. Sehingga jika kredit tersebut

bermasalah akan mempengaruhi rasio EAQ yang berakibat pada laba yang

dihasilkan pada ROA. Hal ini menunjukkan bahwa besar kecil nya rasio

EAQ akan berhubungan langsung dengan ROA.

Ringkasan uji kelayakan model analisis setelah dilakukan modifikasi model

dapat di lihat pada Tabel 4.10:

Tabel 4.10.Hasil Pengujian Kelayakan Model II

Goodness of Fit Indeks

Cut off Value

Hasil Evaluasi Model

X2 Chi- Square < 129.918 50.770 Baik

Significant Probability ≥ 0,05 0.019 Marginal

RMSEA ≤ 0,08 0.075 Baik

GFI ≥ 0,90 0.927 Baik

AGFI ≥ 0,90 0.850 Marginal

CMIN/DF ≤ 2,00 1.587 Baik

IFI ≥ 0,90 0.861 Marginal

Pada Tabel 4.10 hasil penelitian menunjukkan dalam pengujian full model

bahwa model sebagian besar telah memenuhi kriteria fit atau baik sehingga model

dapat dikatakan layak. Menurut Haryono dan Wardoyo (2013), model dikatakan

layak jika paling tidak salah satu dari metode uji kelayakan model terpenuhi.

Dalam suatu penelitian empiris, peneliti tidak dituntut untuk memenuhi semua

kriteria goodness of fit, akan tetapi tergantung dari judgment masing-masing

peneliti.

Pada Tabel 4.10. menunjukkan bahwa :

1. Chi–square pada full model memperoleh nilai 50.770 dibawah cuf off value

sebesar 129,918 sehingga berada dalam kategori baik. Hal ini menunjukkan bahwa matrik kovarian atau korelasi yang diobservasi dalam hal ini rasio

keuangan, perubahan laba dan DPR pada tahun 2009-2013 telah cocok dengan matrik kovarian model.

2. RMSEA pada full model memperoleh nilai 0,075 berada dibawah Cuf off

values 0,08 sehingga berada dalam kategori baik. Hal ini menunjukkan bahwa kecenderungan statistic chi-square telah menerima model dengan jumlah sampel yang ada.

3. GFI pada full model memperoleh nilai 0,927 berada diatas Cuf off values

0,90 sehingga berada dalam kategori baik. Hal ini menunjukkan bahwa model yang telah ditetapkan sesuai dengan hipotesis yang ada telah

memenuhi ukuran kecocokan absolut.

4. AGFI pada full model memperoleh nilai 0,850 dibawah Cuf off values 0,90

sehingga berada dalam kategori marginal. Hal ini menunjukkan bahwa perluasan GFI yang disesuaikan dengan degree of freedom dari baseline

model dengan degree of freedom model yang di estimasi telah berada dalam

marginal fit.

5. CMIN/DF pada full model memperoleh nilai 1.587 dibawah Cuf off values

2.00 sehingga berada dalam kategori baik. Hal ini menunjukkan bahwa matrik kovarian atau korelasi yang diobservasi dengan model yang

ditetapkan telah fit dengandegree of freedom (derajat kebebasan).

6. IFI pada full model memperoleh nilai 0.861 dibawah Cuf off values 0.90

sehingga berada dalam kategori marginal. Hal ini menunjukkan bahwa

model yang diusulkan dengan model dasar berada dalam kategori marginal fit.

Kriteria observed (indikator) dari setiap masing-masing variabel adalah

valid sehingga di observed (indikator). Hasil penelitian untuk kriteria observed

(indikator) dapat dilihat pada Tabel 4.11 berikut ini:

Tabel 4.11. Hasil Regression Weights Analisis Struktural Equation Modeling

Estimate S.E. C.R. P Keterangan

PL 3.061 .091 33.465 *** Valid DPR 2.062 .262 7.876 *** Valid CAR 2.664 .047 56.638 *** Valid DER 2.075 .042 49.804 *** Valid BOPO 4.381 .051 86.603 *** Valid NIM 1.685 .050 33.653 *** Valid ROA .478 .031 15.279 *** Valid NPL .808 .037 22.007 *** Valid EAQ 4.343 .049 88.370 *** Valid CR 1.435 .087 16.481 *** Valid LDR 4.294 .037 115.602 *** Valid

Sumber: Hasil Penelitian, 2015 (data diolah)

Berdasarkan pada Gambar 4.4 dan Tabel 4.11. bahwa indikator pembentuk

variabel laten menunjukkan hasil yang memenuhi kriteria yaitu nilai CR diatas

lebih besar dari 0,05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa indikator pembentuk

variabel laten secara signifikan merupakan indikator dari faktor-faktor laten yang

dibentuk. Dengan demikian, model yang dipakai dalam penelitian ini dapat

diterima.

Pada Tabel 4.11. dapat dijelaskan secara singkat pengaruh masing- masing

indikator pembentuk konstruk eksogen :

1. Rasio Likuiditas

Gambar 4.5. Konstruk Rasio Likuiditas

Pada Gambar 4.5. dapat dilihat Rasio Likuiditas yang dibentuk berdasarkan

dua dimensi konstruk yaitu CR dan LDR. Pada Tabel 4.11 menunjukkan

bahwa nilai Critical Ratio untuk CR sebesar 16.481 dan nilai Critical Ratio

untuk LDR sebesar 115.602 keduanya berada diatas 1.96 dan P lebih kecil

dari pada 0,05, sehingga CR dan LDR secara signifikan merupakan

indikator pembentuk rasio likuiditas. Hal ini menunjukkan bahwa CR dan

LDR mampu mewakili rasio likuiditas. Indikator yang lebih mendominasi

untuk rasio likuiditas adalah LDR karena memiliki nilai Critical Ratio lebih

besar dari CR yaitu sebesar 115.602.