HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1Hasil Penelitian
21. PT. Bank Himpunan Saudara 1906, Tbk
4.1.3. Hasil Analisis Statistik Deskriptif
4.1.3.1. Pembahasan Hasil Analisis Statistik Deskriptif 1. Pembahasan Hasil Analisis Statistik Deskriptif CR
Jumlah data dari CR sebanyak 105 dengan nilai minimum CR 0.44
sedangkan CR maximum sebesar 75.32. Rata-rata CR adalah sebesar 6.99 dan
besarnya standar deviasi dari CR adalah sebesar 12.11.
CR merupakan rasio yang mengukur kemampuan bank untuk memenuhi
kewajiban jangka pendeknya melalui sejumlah kas. Dari hasil diatas diketahui
bahwa CR dengan nilai terbesar dimiliki oleh Bank Himpunan Saudara 1906 pada
tahun 2011 dengan nilai 75.32. Hal ini menunjukkan bahwa Bank Himpunan
Saudara 1906 memiliki dana cash dan setaranya lebih besar dibandingkan dengan
jumlah kewajiban jangka pendeknya. Sebaliknya CR dengan nilai terkecil dimiliki
oleh BTN pada tahun 2009 dengan nilai 0.44, menunjukkan bahwa BTN memiliki
kewajiban jangka pendek yang lebih besar dibandingkan dana cash dan setaranya.
Nilai CR yang semakin tinggi menunjukkan bahwa bank tersebut semakin
baik, sehingga dapat disimpulkan bahwa Bank Himpunan Saudara 1906 memiliki
rasio CR terbaik pada tahun 2011 dibandingkan bank lainnya selama periode
2009– 2013.
Nilai rata – rata CR sebesar 6.99 lebih kecil dari nilai standard deviasi CR
sebesar 12.11. Hal ini menunjukkan bahwa kondisi CR sangat berfluktuasi karena
selisih antara CR maximum dengan CR minimum cukup besar, nilai standar
deviasi CR lebih besar dari nilai rata-rata CR. Hal ini mengindikasikan bahwa
sebaran data variable CR relatif kurang baik atau tidakterdistribusi normal,
2009-2013 untuk memenuhi kewajiban jangka pendeknya melalui sejumlah kas relatif
kurang baik
4.1.3.1.2. Pembahasan Hasil Analisis Statistik Deskriptif LDR
Jumlah data dari LDR sebanyak 105 dengan nilai minimum LDRminimum
sebesar16.41 sedangkan LDR maximum sebesar 116.62. Rata-rata LDR adalah
sebesar 77.78 dan besarnya standar deviasi dari LDR adalah sebesar 15.60.
LDR merupakan rasio yang mengukur kemampuan bank dalam
menyediakan dana kepada debiturnya dengan modal yang dimiliki oleh bank
maupun dana yang dapat dikumpulkan dari masyarakat. Rasio ini menunjukkan
seberapa besar komposisi kredit yang disalurkan yang didanai oleh dana pihak
ketiga selama periode tertentu. Rasio ini dapat dijadikan ukuran kemampuan
perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka pendeknya.
Dari hasil diatas diketahui bahwa LDR dengan nilai terbesar dimiliki oleh
Bank Permata pada tahun 2012 dengan nilai 116.62. Hal ini menunjukkan bahwa
Bank Permata memiliki total penyaluran pinjaman yang yang lebih besar
dibandingkan dengan total dana pihak ketiga pada tahun 2012. Sebaliknya LDR
dengan nilai terkecil dimiliki oleh Bank Mayapada pada tahun 2009 dengan nilai
16.41, menunjukkan bahwa Bank Mayapada memiliki total dana pihak ketiga
yang lebih besar dibandingkan dengan total penyaluran kredit pada tahun 2009.
Hal ini menunjukkan bahwa Bank Mayapada sangat berhati – hati dalam
menyalurkan kredit, mungkin karena bank tersebut adalah bank dengan aset yang
kecil dan belum lama berdiri.
Nilai rata – rata LDR sebesar 77.78 lebih besar dari nilai standard deviasi
nilai standar deviasi mengindikasikan bahwa sebaran data variable LDR relatif
baik atau berdistribusi normal.
Batas LDR yang ditetapkan BI adalah sebesar pada 78%-92%. Hal tersebut
diatur dalam Peraturan Bank Indonesia (PBI) Nomor 15/15/PBI/2013 tentang
Giro Wajib Minumum Bank Umum dalam Rupiah dan Valuta Asing Bagi Bank
Umum konvensional. Nilai rata – rata LDR sebesar 77.78, hal ini menunjukkan
bahwa bank – bank umum selama periode 2009 – 2015 rara – rata masih berada
dalam standart LDR yang telah ditetapkan Bank Indonesia. Dapat disimpulkan
bahwa kemampuan bank-bank umum dalam menyediakan dana kepada debiturnya
dengan modal yang dimiliki oleh bank maupun dana yang dapat dikumpulkan dari
masyarakat pada periode 2009 - 2013 adalah relatif baik.
4.1.3.1.3. Pembahasan Hasil Analisis Statistik Deskriptif NPL
Jumlah data dari NPL sebanyak 105 dengan nilai minimum NPL 0.14
sedangkan NPL maximum sebesar 5.33. Rata-rata NPL adalah sebesar 2.18 dan
besarnya standar deviasi dari NPL adalah sebesar 1.03.
NPL adalah rasio yang mengukur kemampuan bank untuk menyelesaikan
kredit bermasalah. Dari hasil diatas didapatkan bahwa nilai NPL minimum
dimiliki oleh Bank QNB Kesawan pada tahun 2013 sebesar 0.14. Hal ini
menunjukkan bahwa Bank QNB Kesawan pada tahun 2013 memiliki performance
yang baik dari resiko kredit, karena memiliki jumlah kredit bermasalah yang jauh
lebih kecil dibandingkan dengan total kredit yang diberikan. Namun, Bank QNB
Kesawan juga menjadi bank yang memiliki nilai NPL maximum pada tahun 2009
perbaikan dari segi resiko kredit sehinggal NPL dapat menurun dari 5.33 pada
tahun 2009 menjadi 0.14 pada tahun 2013.
Nilai rata – rata NPL sebesar 2.18 lebih besar dari nilai standard deviasi
NPL sebesar 1.03. Nilai rata-rata NPL yang lebih besar dibandingkan dengan
nilai standar deviasi mengindikasikan bahwa sebaran data variable NPL relatif
baik atau berdistribusi normal.
NPL yang ditetapkan oleh Bank Indonesia secara neto adalah maksimal 5%
dari total kredit. Jika NPL berada diatas 5 % ini mengindikasikan bahwa tingkat
resiko kredit macet sudah meningkat. Dari hasil tabel diatas didapatkan bahwa
nilai rata – rata NPL masih berada pada angka 2.18, hal ini menunjukkan bahwa
NPL bank-bank umum pada periode 2009-2013 belum berada pada posisi yang
baik. Dapat disimpulkan bahwa kemampuan bank-bank umum untuk
menyelesaikan kredit bermasalahperiode 2009-2013 adalah relatif baik.
4.1.3.1.4. Pembahasan Hasil Analisis Statistik Deskriptif EAQ
Jumlah data dari EAQ sebanyak 105 dengan nilai minimum EAQ 0.09
sedangkan EAQ maximum sebesar 113.93. Rata-rata EAQ adalah sebesar 81.22
dan besarnya standar deviasi dari EAQ adalah sebesar 22.53
EAQ adalah rasio yang mengukur tingkat kemungkinan diterimanya
kemba
berdasarkan kriteria tertentu. Dari hasil diatas didapatkan bahwa nilai
EAQminimum dimiliki oleh Bank Nusantara Parahyangan pada tahun 2009
sebesar 0.09. Hal ini menunjukkan bahwa Bank Nusantara Parahyangan pada
tahun 2009 memiliki APYD yang jauh lebih kecil dibandingkan total aktiva
maximum sebesar 113.93, menunjukkan bahwa Bank Permata memiliki nilai
APYD yang lebih besar dibandingkan dengan total aktiva produktif.
Nilai EAQ yang semakin rendah menunjukkan bahwa bank tersebut
semakin baik, sehingga dapat disimpulkan bahwa Bank Nusantara Parahyangan
pada tahun 2009 memiliki rasio EAQ terbaik dibandingkan bank lainnya selama
periode 2009 – 2013.
Nilai rata – rata EAQ sebesar 81.22 lebih besar dari nilai standard deviasi
sebesar 22.53. Nilai rata-rata EAQ yang lebih besar dibandingkan dengan nilai
standar deviasi mengindikasikan bahwa sebaran data variable EAQ relatif baik
atau berdistribusi normal. Sehingga dapat disimpulkan bahwa kemampuan bank –
bank umum pada periode 2009-2013 untuk mengukur tingkat kemungkinan
diterimanya kemba
termas
4.1.3.1.5 Pembahasan Hasil Analisis Statistik Deskriptif BOPO
Jumlah data dari BOPO sebanyak 105 dengan nilai minimum BOPO sebesar
2.66 sedangkan BOPO maximum sebesar 212.64. Rata-rata BOPO adalah sebesar
86.37 dan besarnya standar deviasi dari EAQ adalah sebesar 35.01.
BOPO adalah rasio yang mengukur kemampuan manajemen bank dalam
mengendalikan biaya operasional terhadap pendapatan operasional. Dari hasil
diatas didapatkan bahwa nilai BOPOminimum dimiliki oleh Bank CIMB Niaga
pada tahun 2010 sebesar 2.66. Hal ini menunjukkan bahwa Bank CIMB Niaga
memiliki biaya operasional yang jauh lebih rendah dibandingkan dengan
pendapatan operasional. Sebaliknya nilai BOPO maximum dimiliki oleh Bank
pada Tahun 2009 memiliki biaya operasional yang lebih besar dibandingkan
pendapatan operasional.
Nilai rata – rata BOPO sebesar 86.37 lebih besar dari nilai standard deviasi
sebesar 35.01. Nilai rata-rata BOPO yang lebih besar dibandingkan dengan nilai
standar deviasi mengindikasikan bahwa sebaran data variable BOPO relatif baik
atau berdistribusi normal.
BOPO menurut standart Bank Indonesia berada pada range 50% - 75%.
Pada hasil penelitian didapatkan hasil nilai rata-rata BOPO berada pada angka
86.37, hal ini menunjukkan bahwa BOPO bank-bank umum pada periode 2005 –
2009 memiliki nilai yang relatif kurang baik, karena lebih besar dari standart yang
telah ditetapkan Bank Indonesia. Sehingga dapat disimpulkan bahwa kemampuan
manajemen bank – bank umumpada periode 2009-2013 dalam mengendalikan
biaya operasional terhadap pendapatan operasional relatif kurang baik.
4.1.3.1.6 Pembahasan Hasil Analisis Statistik Deskriptif NIM
Jumlah data dari NIM sebanyak 105 dengan nilai minimum NIM sebesar
0.01 sedangkan NIM maximum sebesar 9.91. Rata-rata NIM adalah sebesar 5.00
dan besarnya standar deviasi dari NIM adalah sebesar 1.71.
NIMadalah rasio yang mengukur kemampuan bank dalam menghasilkan
pendapatan dari bunga dengan melihat kinerja bank dalam menyalurkan kredit,
mengingat pendapatan operasional bank sangat tergantung dari selisih bunga dari
kredit yang disalurkan. Dari hasil diatas didapatkan bahwa nilai NIM minimum
dimiliki oleh Bank Himpunan Saudara 1906 pada tahun 2013 sebesar 0.01. Hal ini
menunjukkan bahwa Bank Himpunan Saudara 1906 pada tahun 2013 memiliki
produktif. Sebaliknya nilai NIM maximum dimiliki oleh Bank Danamon pada
Tahun 2009 dengan nilai sebsesar 9.91, menunjukkan bahwa Bank Danamon pada
tahun 2009 memiliki pendapatan bunga bersih yang lebih besar dibandingkan
rata-rata aktiva produktif.
Nilai rata – rata NIM sebesar 5.00 lebih besar dari nilai standard deviasi
sebesar 1.71. Nilai rata-rata NIM yang lebih besar dibandingkan dengan nilai
standar deviasi mengindikasikan bahwa sebaran data variable NIM relatif baik
atau berdistribusi normal.
NIM menurut standart Bank Indonesia berada diatas 5%. Pada hasil
penelitian didapatkan hasil nilai rata-rata NIM berada pada angka 5.00, hal ini
menunjukkan bahwa NIM bank-bank umum pada periode 2005 – 2009 memiliki
nilai yang relatif cukup, karena sama dengan standart yang telah ditetapkan Bank
Indonesia. Sehingga dapat disimpulkan bahwa kemampuan bank-bank umum
periode 2009-2013 dalam menghasilkan pendapatan dari bunga berdasarkan
kinerja bank dalam menyalurkan kredit adalah cukup atau standar.
4.1.3.1.7 Pembahasan Hasil Analisis Statistik Deskriptif ROA
Jumlah data dari ROA sebanyak 105 dengan nilai minimum ROA sebesar
0.04 sedangkan ROA maximum sebesar 3.41. Rata-rata ROA adalah sebesar 1.44
dan besarnya standar deviasi dari ROA adalah sebesar 0.78.
ROA adalah rasio yang mengukur kemampuan bank dalam menghasilkan
laba dengan menggunakan total aktiva yang ada dan setelah biaya-biaya modal
(biaya yang digunakan mendanai aktiva) dikeluarkan dari analisis. Dari hasil
analisis diatas didapatkan bahwa ROA minimum dimiliki oleh Bank QNB
Kesawan pada tahun 2011 memiliki laba bersih jauh dibawah total aktiva.
Sebaliknya nilai ROA maximum dimiliki oleh Bank BRI pada Tahun 2013
dengan nilai ROA sebesar 3.41, menunjukkan bahwa Bank BRI pada tahun 2013
memiliki laba bersih lebih besar dari total aktiva. Hasil ini juga menunjukkan
bahwa selama periode 2009-2013 Bank BRI memiliki perolehan laba bersih
tertinggi dibandingkan bank – bank umum lainnya.
Nilai ROA yang semakin tinggi menunjukkan bahwa bank tersebut semakin
baik, sehingga dapat disimpulkan bahwa Bank BRI pada tahun 2013 memiliki
rasio ROA terbaik dan perolehan laba bersih tertinggi dibandingkan bank umum
lainnya selama periode 2009 – 2013.
Nilai rata – rata ROA sebesar 1.44 lebih besar dari nilai standard deviasi
sebesar 0.78. Nilai rata-rata ROA yang lebih besar dibandingkan dengan nilai
standar deviasi mengindikasikan bahwa sebaran data variable ROA relatif baik
atau berdistribusi normal. Sehingga dapat disimpulkan bahwa kemampuan
bank-bank umum periode 2009-2013 dalam menghasilkan laba dengan menggunakan
total aktiva yang ada adalah relatif baik.
4.1.3.1.8 Pembahasan Hasil Analisis Statistik Deskriptif CAR
Jumlah data dari CAR sebanyak 105 dengan nilai minimum CAR sebesar
3.29 sedangkan CAR maximum sebesar 46.28. Rata-rata CAR adalah sebesar
16.75 dan besarnya standar deviasi dari CAR adalah sebesar 4.82.
CAR adalah rasio yang mengukur seberapa besar jumlah seluruh aktiva
bank yang mengandung resiko (kredit, surat berharga dan tagihan pada bank lain)
yang ikut dibiayai dari modal sendiri di samping memperoleh dana-dana dari
dimiliki oleh Bank of India Indonesia pada tahun 2009 dengan nilai sebesar 3.29.
Hal ini menunjukkan bahwa Bank of India Indonesia pada tahun 2009 memiliki
modal yang relatif lebih kecil dibandingkan dengan total ATMR. Sebaliknya bank
yang meniliki nilai CAR maximum dimiliki oleh Bank QNB Kesawan pada tahun
2011 dengan nilai sebesar 46.28, menunjukkan bahwa modal bank yang relatif
besar dibandingkan dengan total ATMR atau dengan kata lain memiliki risiko
yang dikandung aktiva yang dimilikinya kecil.
Nilai rata – rata CAR sebesar 16.75 lebih besar dari nilai standard deviasi
sebesar 4.82. Nilai rata-rata CAR yang lebih besar dibandingkan dengan nilai
standar deviasi mengindikasikan bahwa sebaran data variable CAR relatif baik
atau berdistribusi normal.
CAR yang telah ditetapkan Bank Indonesia minimal 8% atau minimal
sesuai profil risiko pada bank tersebut. Makin besar nilai CAR mengindikasikan
bahwa bank tersebut memiliki tingkat solvabilitas yang tinggi. Ini dikarenakan
bank mampu mengcover seluruh aktiva bank yang mengandung resiko dari modal
sendiri. Dari hasil tabel diatas menunjukkan bahwa dalam periode 2009-2013
bank yang memiliki rasio modal tertinggi untuk mencover seluruh aktiva yang
mengandung resiko adalah bank QNB Kesawan pada tahun 2011. Dari hasil nilai
rata – rata CAR didapatkan nilai sebesar 16.75, hal ini menunjukkan bahwa bank
– bank umum pada periode tersebut telah memiliki rasio CAR yang relatif baik,
karena berada diatas 8%. Sehingga dapat disimpulkan bahwa kemampuan
bank-bank umum pada periode 2009-2013 untuk mengcover seluruh aktiva bank yang
4.1.3.1.9 Pembahasan Hasil Analisis Statistik Deskriptif DER
Jumlah data dari DER sebanyak 105 dengan nilai minimum DER sebesar
3.03 sedangkan DER maximum sebesar 15.62. Rata-rata DER adalah sebesar 8.78
dan besarnya standar deviasi dari DER adalah sebesar 2.71.
DER adalah rasio yang mengukur kemampuan bank dalam menutup
sebagian atau seluruh hutang-hutangnya, baik jangka panjang maupun jangka
pendek, dengan dana yang berasal dari dana bank sendiri. Dari hasil tabel diatas
didapatkan bahwa rasio DER dengan nilai minimum dimiliki oleh Bank QNB
Kesawan pada tahun 2011 dengan nilai DER sebesar 3.03. Hal ini menunjukkan
bahwa total hutang Bank QNB Kesawan pada tahun 2011 relatif lebih kecil
dibanding kan dengan total equitas. Sebaliknya nilai DER maximum dimiliki oleh
Bank Artha Graha tahun 2011 dengan nilai sebesar 15.62, menunjukkan bahwa
Bank Artha Graha pada tahun 2011 memiliki total hutang yang relatif lebih besar
dibandingkan dengan total equitas.
Nilai DER yang semakin kecil menunjukkan bahwa bank tersebut semakin
baik, karena memiliki total hutang yang relatif kecil. sehingga dapat disimpulkan
bahwa Bank QNB Kesawan pada tahun 2011memiliki rasio DER terbaik dan total
hutang terendah dibandingkan bank umum lainnya selama periode 2009 – 2013.
Nilai rata – rata DER sebesar 8.78 lebih besar dari nilai standard deviasi
sebesar 2.71. Nilai rata-rata DER yang lebih besar dibandingkan dengan nilai
standar deviasi mengindikasikan bahwa sebaran data variable DER relatif baik
atau berdistribusi normal. Sehingga dapat disimpulkan bahwa kemampuan
hutang-hutangnya, baik jangka panjang maupun jangka pendek, dengan dana yang berasal
dari dana bank sendiri adalah relatif baik.
4.1.3.1.10 Pembahasan Hasil Analisis Statistik PL
Jumlah data dari perubahan labasebanyak 105 dengan nilai
minimumperubahan laba sebesar -61.9 sedangkan perubahan laba maximum
sebesar 131.22. Rata-rata perubahan laba adalah sebesar 32.78 dan besarnya
standar deviasi dari perubahan laba adalah sebesar 33.46.
Perubahan laba yang dimaksud dalam penelitian ini adalah rasio antara laba
sebelum pajak sekarang dengan laba sebelum pajak tahun sebelumnya dibagi
dengan laba sebelum pajak tahun sebelumnya. Dari hasil tabel diatas didapatkan
bahwa nilai perubahan laba minimum didmiliki oleh Bank Mega pada tahun 2013
dengan nilai sebesar -61.9. Hal ini menunjukkan bahwa Bank Mega pada tahun
dari tahun 2012 ke 2013 memiliki penurunan laba bersih yang sangat besar.
Sebaliknya nilai perubahan laba maximum dimiliki oleh Bank CIMB Niaga pada
tahun 2009 sebesar 131.22, menunjukkan bahwa Bank CIMB Niaga dari tahun
2008 ke 2009 memiliki peningkatan yang cukup besar.
Nilai perubahan laba yang semakin besar menunjukkan bahwa bank tersebut
semakin baik, karena memiliki peningkatan laba pertahunnya. sehingga dapat
disimpulkan bahwa Bank CIMB Niaga pada tahun 2009memiliki perubahan
labatertinggi dibandingkan bank umum lainnya selama periode 2009 – 2013.
Nilai rata – rata perubahan laba sebesar 32.78 lebih kecil dari nilai standard
deviasi sebesar 33.46, namun rentang selisih nya tidak terlalu jauh. Nilai rata-rata
perubahan laba yang tidak terlalu jauh selisih nya dari nilai standar deviasi dapat
atau berdistribusi normal. Sehingga dapat disimpulkan bahwa perubahan laba
bank-bank umum pada periode 2009-2013 adalah relatif baik.
4.1.3.1.11 Pembahasan Hasil Analisis Statistik Deskriptif Dividen Payout Ratio (DPR)
Jumlah data dari DPR sebanyak 105 dengan nilai minimum DPR sebesar
0.55 sedangkan DPR maximum sebesar 57.88. Rata-rata DPR adalah sebesar
18.52 dan besarnya standar deviasi dari DPR adalah sebesar 10.87.
DPR adalah rasio yang mengukur persentase dari pendapatan yang akan
dibayarkan kepada pemegang saham sebagai dividen tunai. Dari hasil tabel diatas
didapatkan bahwa nilai DPR minimum dimiliki oleh Bank QNB Kesawan tahun
2013 dengan nilai sebesar 0.55. Hal ini menunjukkan bahwa Bank QNB Kesawan
pada tahun 2013 memberikan dividen yang relatif kecil kepada pemegang saham.
Sebaliknya nilai maximum DPR dimiliki oleh Bank Bukopin tahun 2011 dengan
nilai sebesar 57.88, menunjukkan bahwa Bank Bukopin pada tahun 2011
memberikan dividen yang relatif besar kepada pemegang saham.
Nilai DPR yang semakin besar menunjukkan bahwa bank tersebut semakin
baik, karena mampu membayar dividen yang berasal dari laba dengan jumlah
yang relatif besar. Sehingga dapat disimpulkan bahwa Bank Bukopin pada tahun
2011 memiliki DPRtertinggi dibandingkan bank umum lainnya selama periode
2009 – 2013.
Nilai rata – rataDPR sebesar 18.52 lebih besar dari nilai standard deviasi
sebesar 10.87. Nilai rata-rata DPR yang lebih besar dibandingkan dengan nilai
standar deviasi mengindikasikan bahwa sebaran data variable DPR relatif baik
bank-bank umum periode 2009-2013 dalam memberikan dividen pada pemegang
saham adalah relatif baik.