BAB VII PENILAIAN SAHAM
JAWABAN SOAL 1 :
4. DIVIDEN SEBAGAI ISYARAT
Penggunaan dividen sebagai isyarat, cenderung berupa cerita bagaimana informasi dapat diteruskan ke pasar daripada berupa teori tentang kebijakan dividen optimal. Pengumumam yang menyatakan bahwa suatu perusahaan telah memutuskan untuk menaikkan dividen per saham mungkin diartikan oleh penanam modal sebagai berita yang baik, karena dividen per saham yang lebih tinggi menunjukkan bahwa perusahaan yakin arus kas pada masa mendatang akan cukup besar untuk menanggung tingkat dividen yang tinggi.
Ross (1977) membuktikan bahwa kenaikan pada dividen yang dibayarkan dapat menimbulkan isyarat yang jelas dan tidak ada duanya pada pasar bahwa prospek perusahaan telah mengalami kemajuan.
Untuk membuat suatu isyarat menjadi bermanfaat, ada 4 keadaan yang harus dipenuhi : (1) Manajemen harus selalu mempunyai dorongan yang tepat untuk mengirimkan
isyarat yang jujur, meskipun beritanya buruk.
(2) Isyarat dari suatu perusahaan yang sukses tidak mudah ditiru oleh pesaingnya yang kurang sukses.
(3) Isyarat itu harus mempunyai hubungan yang cukup berarti dengan kejadian yang dapat diamati.
Manajemen Keuangan Suatu Konsep Dasar
(4) Tidak ada cara menekan biaya yang relatif efektif daripada mengirimkan isyarat yang sama.
Kesimpulan
1. Struktur modal adalah bauran pendanaan atau bauran sumber dana yang digunakan oleh perusahaan yang meliputi hutang, saham preferen, serta saham biasa untuk perusahaan yang berbentuk perseroan terbatas.
2. Menurut teori MM tanpa pajak struktur modal atau penggunaan hutang tidak berpengaruh pada nilai perusahaan.
3.Dengan adanya pajak ini, MM menyimpulkan bahwa penggunaan hutang (leverage) akan meningkatkan nilai perusahaan karena biaya bunga hutang adalah biaya yang mengurangi pembayaran pajak ( a tax – deductable expense).
4. Teori trade Off menyatakan penggunaan hutang akan meningkatkan nilai perusahaan tapi hanya sampai titik tertentu. Setelah titik tersebut, penggunaan hutang justru akan menurunkan nilai perusahaan karena kenaikan biaya financial distress dan agency problem. Titik balik tersebut disebut struktur modal yang optimal, menunjukkan jumlah hutang perusahaan yang optimal.
5. Kebijakan dividen terkait dengan penetapan berapa prosen bagian dari laba bersih perusahaan yang akan dibagikan kepada pemegang saham, dan berapa prosen yang akan ditahan.
6.Dividen tidak relevan” Dari M Menurut Modigliani dan Miller (MM), nilai suatu perusahaan tidak ditentukan oleh besar kecilnya DPR, tapi ditentukan oleh laba bersih sebelum pajak (EBIT) dan kelas risiko perusahaan
7.Teori “The bird in the hand”
Gordon dan Lintner menyatakan bahwa biaya modal sendiri perusahaan akan naik jika DPR rendah karena investor lebih suka menerima dividen daripada capital gains.
Manajemen Keuangan Suatu Konsep Dasar
Menurut mereka, investor memandang dividend yield lebih pasti dari pada capital gain yield.
Umpan Balik
1. Jelaskan apa yang dimakud dengan struktur modal !
2. Jelaskan perbedaan teori MM dengan dan teori tanpa pajak !
3. Jelaskan teori keseimbangan atau teori Trade Off tentang struktur modal ! 4. Jelaskan dan beri contoh teori tentang dividen “the bird in the hand”! 5. Jelaskan faktor-faktor penentu dividen !
6. Jelaskan apa yang dimaksud stock split dan stock dividend ! dan beri contoh visualisasi kwantitatifnya!
Manajemen Keuangan Suatu Konsep Dasar BAB XII
STRUKTUR MODAL DAN KEBIJAKAN DIVIDEN (LEVERAGE PERUSAHAAN)
Standar Kompetensi
Mahasiswa mampu memahami konsep-konsep dan teori-teori dasar manajemen keuangan dan mampu mengaplikasikannya pada fenomena korporasi yang ada di dunia nyata. Konsep dasar manajemen keuangan yang dimaksud khususnya yang terkait dengan laporan keuangan sebagai ukuran kinerja, time value of money, penilaian saham dan obligasi, penganggaran modal, risiko dan keuntungan serta konsep biaya modal perusahaan, struktur modal dan kebijakan dividen, serta merger dan akuisisi dalam rangka memaksimalkan nilai perusahaan
Kompetensi Dasar
1.Mahasiswa mampu menjelaskan risiko keuangan 2. Mahasiswa mampu menjelaskan risiko bisnis
3. Mahasiswa mampu menjelaskan dan mendiskusikan hubungan EBIT dan EPS 4.Mahasiswa mampu menjelaskan dan mengaplikasikan analisis indifferent
5. Mahasiswa mampu menjelaskan dan mengaplikasikan konsep DOL, DFL dan DTL 5.
Struktur keuangan merupakan cara bagaimana perusahaan membiayai aktivanya. Struktur keuangan dapat dilihat pada seluruh sisi kanan dari neraca yang terdiri dari hutang jangka pendek, hutang jangka panjang dan modal pemegang saham. Struktur modal atau kapitalisasi perusahaan adalah pembiayaan permanen yang terdiri dari hutang jangka panjang, saham preferen dan modal pemegang saham. Jadi struktur modal suatu
Manajemen Keuangan Suatu Konsep Dasar
perusahaan hanya merupakan sebagian dari struktur keuangannya. Nilai buku dari modal pemegang saham (Equity = E) terdiri dari saham biasa, modal disetor atau surplus modal dan akumulasi laba ditahan. Bila perusahaan memiliki saham preferen, maka saham tersebut akan ditambahkan kepada modal pemegang saham dan kedua saham itu (yaitu saham biasa dan saham preferen) akan disebut kekayaan bersih (net worth) perusahaan.
Kebijakan mengenai struktur modal melibatkan tradeoff antara risiko dan tingkat pengembalian – penambahan utang memperbesar risiko perusahaan, tetapi sekaligus juga memperbesar tingkat pengembalian yang diharapkan. Risiko semakin tinggi akibat semakin membesarnya utang cenderung menurunkan harga saham, tetapi meningkatnya tingkat pengembalian yang diharapkan akan menaikkan harga saham tersebut. Struktur modal yang optimal adalah struktur modal yang mengoptimalkan keseimbangan antara risiko dan pengembalian sehingga memaksimumkan harga saham.
Konsep penting adalah leverage keuangan atau faktor leverage. Leverage keuangan (financial leverage) menyangkut penggunaan dana untuk perusahaan membayar biaya tetap (fixed cost) dengan maksud untuk meningkatkan hasil pengembalian (return) bagi para pemegang sahamnya. Karena kenaikan leverage juga meningkatkan risiko arus laba bagi para pemegang saham biasa, di sini kita menghadapi tradeoff yang telah kita kenal antara risiko dan hasil pengembalian (return) yang diharapkan. Berkenaan dengan leverage keuangan, tujuannya adalah untuk mencapai suatu keseimbangan yang memuaskan antara risiko dan hasil pengembalian yang diharapkan, yang akan memaksimasi harga pasar saham.
Risiko Keuangan
Pada intinya risiko keuangan mencakup kemungkinan terjadinya insolvensi dan juga variasi laba yang tersedia bagi para pemegang saham biasa. Apabila perusahaan memperbesar proporsi hutang, pembiayaan dengan lease (lease financing), dan saham preferen (preferred stock) dalam struktur modalnya, maka beban akan meningkat. Akibatnya probailitas terjadinya insolvensi kas semakin besar. Untuk menjelaskan
Manajemen Keuangan Suatu Konsep Dasar
pemikiran ini, misalkan dua perusahaan mempunyai tingkat leverage (degree of leverage) yang berbeda tetapi sama dalam hal lainhya. Masing-masing perusahaan mengharapkan laba kas tehunan sebesar Rp80,000 sebelum bunga dan pajak. Perusahaan A tidak mempunyai hutang; perusahaan B mempunyai obligasi tanpa jatuh tempo (perpetual bonds) yang sedang beredar bernilai nominal Rp200,000 dengan bunga 15%. Jadi, total beban keuangan tahunan perusahaan B adalah sebesar Rp30,000 sedangkan perusahaan A tidak mempunyai beban keuangan. Jika laba kas kedua perusahaan itu menjadi 75% lebih rendah daripada laba yang diharapkan, misalnya Rp20,000 maka peruashaan B tidak akan mampu menutup beban keuangannya dengan laba kas. Dengan demikian kita lihat bahwa probabilitas terjadinya insolvensi kas meningkat jika beban keuangan yang ditanggung oleh perusahaan meningkat.
Aspek kedua dalam risiko keuangan menyangkut dipersi/penyebaran relatif dari laba yang tersedia bagi para pemegang saham biasa. Misalkan bahwa laba operasi yang diharapkan pada masa yang akan datang selama 5 tahun berikutnya, untuk perusahaan A dan B, merupakan variabel acak (random variable) yang subyektif d mana nilai-nilai yang diharapkan dari distribusi probabilitas setiap perusahaan adalah Rp80,000 dan standar deviasi Rp40,000. Seperti sebelumnya, asumsikan bahwa perusahaan tidak mempunyai hutang, sedangkan perusahaan B mempunyai surat hutang obligasi Rp200,000 dengan bunga 15%. Untuk ringkasnya, kita abaikan pajak penghasilan. Maka nilai yang diharapkan dari laba yang tersedia bagi para pemegang saham biasa akan menjadi Rp80,000 bagi perusahaan A dan Rp50,000 bagi perusahaan B. Karena standar deviasi terhadap nilai yang diharapkan adalah sama untuk kedua perusahaan tersebut, maka dispersi relatif dari laba yang diharapkan tersedia bagi para pemegang saham biasa akan lebih besar untuk perusahaan B dari pada perusahaan A. Koefisien variasi untuk perusahaan A secara mudah dapat diperoleh dengan membagi standar deviasi dengan nilai harapan (expected value), yaitu:
Manajemen Keuangan Suatu Konsep Dasar Koefisien variasi = = 0,50
Rp80.000
Rp40.000 Sedangkan untuk perusahaan B, koefisien variasi = = 0,80
Rp50.000
Kita lihat bahwa tingkat dispersi dari nilai laba yang diharapkan tersedia bagi para pemegang saham biasa adalah sama unruk kedua perusahaan itu, tetapi nilai laba yang diharapkan ini lebih besar bagi perusahaan A daripada perusahaan B. Akibatnya, dispersi relatif, sebagaimana diukur dengan variasi, adalah lebih kecil bagi perusahaan A.
Dispersi laba operasi yang tersedia untuk para pemegang saham biasa harus dibedakan dengan dispersi laba operasi, yang dikenal sebagai risiko usaha. Dalam conoh saya, kedua perusahaan itu mempunyai tingkat risiko usaha yang sama, sebagaimana telah diterapkan, karena koefisien variasi laba operasi yang diharapkan pada masa yang akan datang adalah sama.
Rp40.000 Koefisien variasi = = 0,50
Rp80.000
Kedua perusahaan itu hanya berbeda dalam tingkat risiko keuangan. Singkatnya, kita menganggap bahwa risiko keuangan mencakup volatilitas laba yang tersedia bagi para pemegang saham biasa dan probabilitas terjadinya insolvensi. Kedua aspek ini berbanding langsung dengan dispersi laba operasi yang diharapkan, atau risiko usaha perusahaan. Risiko Bisnis
Risiko bisnis didefinisikan sebagai ketidakpastian atas proyeksi tingkat pengembalian aktiva, atau atas ekuitas (ROE) jika perusahaan tidak menggunakan utang. Hal ini merupakan satu-satunya determinan terpenting dari struktur modal perusahaan.
Risiko bisnis bebeda-beda di antara industri dan juga di antara perusahaan yang satu dengan yang lain dalam industri yang sama. Begitu pula, risiko bisnis dapat berubah dari waktu ke waktu. Dewasa ini, perusahaan pemroses makanan dan toko-toko makanan
Manajemen Keuangan Suatu Konsep Dasar
acap kali dipandang sebagai contoh industri yang memiliki risiko rendah, sementara industri yang bersifat siklis, seperti baja, dianggap sebagai industri berisiko tinggi. Perusahaan kecil dan perusahaan yang hanya memproduksi satu jenis produk saja juga mempunyai risiko yang relatif tinggi.
Risiko bisnis tergantung pada sejumlah faktor, yang terpenting diantaranya adalah: a. Variabilitas permintaan
b. Variabililtas harga jual c. Variabilitas harga masukan
d. Kemampuan untuk menyesuaikan harga keluaran terhadap perubahan harga masukan
e. Proporsi biaya tetap:leverage operasi
Setiap faktor ini ditentukan sebagian oleh karakteristik industri perusahaan, tetapi sampai pada kadar tertentu semuanya dapat dikendalikan oleh manajemen.
2.3 Hubungan EBIT – EPS
Sekarang kita masuk pada analisis pengaruh leverage pada keuangan terhadap EBIT/EPS. Untuk menganalisis tingkat leverage keuangan yang paling cocok bagi sebuah perusahaan, antara lain kita perlu memahami hubungan laba per lembar saham (earning per share = EPS) terhadap laba sebelum bunga dan pajak (earning before interest and taxes = EBIT) untuk berbagai alternatif pembiayaan (financing). EBIT tidak tergantung pada leverage keuangan (financial leverage), melainkan merupakan hasil operasi dan risiko usaha perusahaan, kita harus tahu apa yang akan terjadi pada EPS sebuah perusahaan dalam berbagau bentuk pilihan pembiayaan apabila terjadi perubahab EBIT.
Untuk menggambarkan pengaruh analisis leverage terhadap EBIT-EPS, misalkan perusahaan dengan investasi sebesar Rp10 juta yang seluruhnya terdiri dari saham biasa bermaksud menambah Rp5juta lagi untuk perluasan perusahaan dengan salah satu dari tiga rencana pembiayaan yang mungkin. Perusahaan tersebut dapat membuiayai 1) semua dengan saham bisa, 2) semuanya dengan hutang (debt) dengan bunga 12%, atau 3)
Manajemen Keuangan Suatu Konsep Dasar
semuanya dengan saham preferen dengan dividen 11 persen. EBIT pada saat ini adalah Rp2 juta, tarif pajak 50 persen, dan saham baiasa yang sedang beredar sebanyak 200.000 lembar. Saham biasa dapat dijual dengan harga Rp50 per lembar saham dalam jenis pilihan pembiayaan 1, yang berarti menghasilkan 100.000 lembar saham tambahan.
Untuk menentukan titk-titik impas (break-even), atau indefferens, EBIT di antara berbagai alternatif pembiayaan itu, kita mulai dengan menghitung EPS untuk beberapa tingkat EBIT hipotesis. Misalkan kita ingin mengetahui berapa besar EPS dalam ketiga rencana pembiayaan tersebut jika EBIT adalah Rp2,4 juta. Perhitunag diperlihatkan pada tabel 1. Kita lihat bahwa hutang dikurangkan sebelum pajak, sedangkan dividen saham preferen dikurangkan setelah pajak. Akibatnya, laba yang tersedia untuk pada pemegang saham biasa adalah lebih tinggi dalam pilihan pembiayaan dengan hutang dari pada pilihan saham preferen, meskipun dalam kenyataan suku bunga hutang lebih tinggi daripada tingkat dividen saham preferen.
Tabel 1 Perhitungan Laba Per Lembar Saham Menurut Ketiga Alternatif Pembiayaan
Analisis Impas atau Indefferen
Dengan adanya informasi dalam tabel 1, kita dapat menggambarkan bagan impas atau indefferens sama seperti yang kita buat untuk leverage operasi (operating leverage).
semua dengan semua dengan semua dengan
saham biasa Hutang saham preferen
laba sebelum bunga dan
pajak (hipotesis) Rp 2.400.000 Rp 2.400.000 Rp 2.400.000
Bunga - 600.000 -
laba sebelum pajak Rp 2.400.000 Rp 1.800.000 Rp 2.400.000
pajak penghasilan 1.200.000 900.000 1.200.000
laba sesudah pajak 1.200.000 900.000 1.200.000
dividen saham perferen - - 550.000
laba yang tersedia bagi para
pemegang saham biasa Rp 1.200.000 Rp 900.000 Rp 650.000
jumlah lembar saham 300.000 200.000 200.000
Manajemen Keuangan Suatu Konsep Dasar
Pada sumbu datar kita gambarkan EBIT, dan EPS pada sumbu vertikal. Untuk setiap alternatif pembiayaan kita harus menggambarkan sebuah garis lurus untuk mencerminkan EPS bagi semua tingkat EBIT hipotesis. Untuk EBIT sebesar Rp2,4 juta, kita lihat dalam tabel 1 bahwa EPS adalah Rp4,00, Rp4,50, dan Rp3,25 untuk pilihan pembiayaan saham biasa, hutang, dan saham preferen. Kita dapat dengan mudah menggambarkan EPS-EPS ini untuk nilai EBIT Rp2,4 juta. Perhatikan bahwa tidak menjadi masalah tingkat EBIT hipotesis mana yang akan kita pilih untuk menghitung EPS. Pada kertas grafik yang baik, suatu tingkat EBIT hipotesis akan sama baiknya dengan tingkat-tingkat EBIT lainnya.
Titik data yang kedua adalah EBIT yang perlu guna menutup semua biaya tetap keuangan untuk suatu rencana pembiayaan tertentu, dan EBIT itu digambarkan pada sumbu datar. Untuk alternatif saham biasa, tidak ada biaya tetap, sebab itu titik potong dengan sumbu datar adalah nol. Untuk pilihan hutang, kita harus mempunyai EBIT sebesar Rp 600.000 guna menutup beban bunga, sehinggga jumlah Rp 600.000 tersebut menjadi titik perpotongan dengan sumbu datar. Untuk alternatif saham preferen, kita harus membagi jumlah dividen tahunan dengan satu dikurangi tarif pajak (1 – tarif pajak) jadi kita memerlukan EBIT Rp 1,1 juta untuk menutupi dividen saham preferen sebesar Rp 550.000, dengan asumsi tarif pajak adalah 50 %. Sekali lagi, dividen dalam saham preferen dikurangi setelah pajak, sehingga diperlukan laba yang lebih besar sebelum pajak untuk menutup dividen tersebut dari pada untuk menutup bunga. Dengan diketahuinya titik-titik potong sumbu datar dan EPS untuk suatu tingkat EBIT hipotesis, kita menarik garis lurus melalui kedua himpunan titik itu. Grafik impas atau indefferens untuk perusahaan diperlihatkan pada gambar 1.
Manajemen Keuangan Suatu Konsep Dasar
Dari gambar tersebut dapat kita lihat bahwa titik indefferens EPS antara alternatif pembiayaan hutang dan saham biasa ialah EBIT Rp1.800.000. Jika EBIT berada di bawah titik tersebut, maka alternatif saham biasa akan memberikan EPS yanglebih tinggi, sedangkan di atas titik tersebut alternatif hutanglah yang terbaik. Titik indefferens antara alternatif saham preferen dan saham biasa ialah EBIT Rp3.300.000. Di atas titik tersebut, alternatif saham preferen lebih disukai (baik) menurut EPS, di bawah titik itu, alternatif saham biasalah yang terbaik. Kita perhatikan bahwa tidak ada titik indeferens di antara hutang dan alternatif saham preferen. Alternatif hutang unggul untuk semua tingkat EBIT dan mempunyai jumlah EPS yang tetap, yaitu Rp1,25.
Untuk mencari titik-titik indefferen antara dua metode pembiayaan secara matematis dapat digunakan rumus sebagai berikut:
(EBIT* - C1)(1 – t) = (EBIT* - C2)(1 – t)
S1 S2
Di mana
Manajemen Keuangan Suatu Konsep Dasar
C1, C2 = beban bunga per tahun atau dividen saham preferen atas dasar sebelum pajak untuk metode pembiayaan 1 dan 2. (untuk saham preferen, dividen dibagi dengan 1 – t)
t = tarif pajak penghasilan
S1, S2 = jumlah lembar saham biasa yang akan beredar setelah pembiayaan untuk metode 1 dan 2.
Apabila kita ingin menentukan titik indefferens antara alternatif pembiayaan dengan saham biasa dan dengan hutang dalam contoh di atas, kita akan memperoleh:
(EBIT* - 0)(0,5) = (EBIT* - 600.000)(0,5)
300.0 200.000
0,5(EBIT*)(200.00) = 0,5(EBIT*)(300.000) – 0,5(600.000)(300.000) 50.000 EBIT* = 90.000.000.000
EBIT* = Rp 1.800.000
Titik indefferens EBIT, di mana EPS untuk kedua metode pemiayaan itu sama, adalah Rp1,8 juta.
Tingkat Leverage
Untuk pembahasan selanjutnya kita akan membicarakan tentang tingkat leverage. Teori keuangan belum dapat menentukan secara simultan berapa sesungguhnya tingkat leverage operasi dan keuangan yang optimal. Akan tetapi, kita dapat melihat bagaimana leverage operasi dan keuangan berinteraksi dengan analisis konsep tingkat leverage. Namun sebelumnya kita perlu mengetahui format income statement-nya (full costing) sebagai berikut:
Manajemen Keuangan Suatu Konsep Dasar
Sales revenue Cost of goods sold Gross profit
Operating expenses
Earning before interest and taxes Interest
Earning before taxes Taxes
Earning after taxes
Konsep Operating leverage adalah penggunaan aktiva atau operasi perusahaan yang disertai dengan biaya tetap atau fixed operating cost. Fungsinya menganalisis sejauh mana sales revenue dan menutup biaya tetap dan biaya variabel juga untuk mengetahui bagaimana pengaruh volume penjualan terhadap laba sebelum bunga dan pajak (=EBIT). Operating leverage akan menghasilkan leverage yang menguntungkan bila sales revenue (penerimaan dari penjualan setelah dikurangi dengan variabel cost) lebih besar dari fixed cost. Operating leverage ditentukan oleh hubungan antara sales revenue yang diperoleh perusahaan dengan EBIT. Bagi financial officer, analisis Operating leverage memberikan informasi sejauh mana efek/pengaruh perubahan dari volume penjualan terhadap turun naiknya EBIT. Cara mengukurnya dengan menghitung degree of operating leverage (DOL) atau tingkat leverage operasi.
Tingkat leverage operasi (degree of operating leverage = DOL) di definisikan sebagai persentasi perubahan laba operasi (EBIT) akibat perubahan penjualan dalam persentase tertentu.
DOL = persentase perubahan EBIT . = ∆EBIT / EBIT Persentase perubahan penjualan ∆Q / Q Operasional
leverage
Financial Leverage
Manajemen Keuangan Suatu Konsep Dasar
Dengan demikian, DOL adalah angka indeks yang mengukur pengaruh perubahan penjualan dari sejumlah keluaran tertentu, Q , terhadap laba operasi, atau EBIT.
DOL juga dapat dihitung dengan menggunakan persamaan berikut yang diturunkan dari persamaan sebelumnya.
DOL = tingkat leverage operasi pada titik Q = Q(P – V) .
Q(P – V) – P
Atau jika didasarkan pada nilai penjualan (dalam rupiah atau dolar) dan bukan pada unit yang terjual adalah sebagai berikut:
DOL = S – VC . S – VC – F
Di sini Q adalah jumlah keluaran mula-mula dalam unit, P adalah harga jual rata-rata per unit atas keluaran, V adalah biaya variabel per unit, F adalah biaya tetap operasi, S adalah julmah penjualan semula dalam dolar atau rupiah, dan VC adalah total biaya variabel.
Secara umum, jika operasi perusahaan telah mendekati titik impas, tingkat leverage operasi akan tinggi, tetapi DOL akan menurun apabila penjualan yang menjadi dasar pengukuran makin jauh di atas penjualan titik impas. Jadi jika penjualan yang digunakan sebagai dasar pengukuran makin tinggi, maka pernurunan DOL akan semakin besar.
Manajemen Keuangan Suatu Konsep Dasar
Contoh 1: data dari perusahaan ABC, penjualan Rp 200 juta, VC= Rp 100 juta, FC = Rp 50 juta.
S – VC 200 – 100
DOLRP = = = 2
S – VC – FC 200 – 100 – 50
DOL = 2, berarti kenaikan penjualan sebesar x %, akan menghasilkan kenaiakan EBIT sebesar 2xpersen.
Contoh 2: kenaikan penjualan PT ABC dari Rp 200 juta menjadi Rp 300 juta = 50%, akan menyebabkan kenaiakan EBIT sebesar 2 x 50% = 100%.
Ini terbukti pada tingkat penjualan Rp 300 juta, tampak EBIT Rp 100 juta, berarti EBIT mengalami kenaikan (100-50)/50 = 100%.
Konsep degree of financial leverage (DFL) adalah bila operating leverage mempengaruhi EBIT, maka financial leverage mempengaruhi EAT atau laba yang
tersedia bagi pemegang saham biasa. Financial leverage ditentukan oleh hubungan antara EBIT dan EPS yang menguntungkan pemegang saham. Semakin besar dana dari luar yang disertai beban tetap seperti obligasi, maka semakin besar pula bunga yang harus dibayar, hal ini akan mempengaruhi EPS.
Tingkat leverage keuangan (degree of financial leverage = DFL) didefinisikan sebagai persentase perubahan laba yang tersedia bagi pemegang saham biasa yang diakibatkan oleh berubahnya EBIT dalam persentase tertentu, dan perhitungannya dapat dilakukan sebagai berikut:
%∆D EPS DFL =
Manajemen Keuangan Suatu Konsep Dasar
EBIT
DFL = I = bunga yang harus dibayar karena hutang jangka panjang
EBIT – 1
Contoh 1: PT ABC dengan tingkat penjualan Rp 200 juta dan rasio hutang 50 %
EBIT 50
DFL= = = 1,32
EBIT – 1 50 – 12
Kenaikan EBIT PT ABC 100%, msks kenaiakn EPS = 1,32 x 100% = 132% Contoh 2: berapakah kenaikan EPS dari Rp 456,- menjadi 1.056,-?
Rp 1.056,- - Rp 456,-
Kenaikan EPS = x 100% = 1,32%
Rp 456,-
Kita telah melihat bahwa makin besar tingkat leverage operasi (biaya tetap), semakin sensitif EBIT terhadap perubahan penjualan, dan bahwa makin besar tingkat leverage keuangan, maka EPS makin sensitif terhadap perubahan EBIT. Karena itu, jika leverage operasi dan keuangan sama-sama besar, maka perubahan penjualan yang kecil sekali pun akan sangat mempengaruhi EPS.
Definisi dari tingkat leverage total ( degree of total leverage= DTL) adalah persentase perubahan EPS yang diakibatkan oleh perubahan penjualan sebesar persentase tertentu. DTL menunjukkan pengaruh dari operating leverage serentak dengan pengaruh financial leverage. Berikut disajikan tiga persamaan untuk DTL:
DTL = (DOL)(DFL) Q(P – V) DTL =
Manajemen Keuangan Suatu Konsep Dasar Q(P – V) – F – I S – VC DTL = S – VC – F – I Di mana:
Q = output dalam unit, P = harga jual rata – rata V = biaya variabel per unit
I = biaya bunga yang dibayar S = penjualan dalam rupiah VC = total biaya variabel F = total biaya tetap