BAB VII PENILAIAN SAHAM
JAWABAN SOAL 1 :
6. Teori Informasi Tidak Simetris ( Asymmetric Information Theory )
Asymmetric information adalah kondisi dimana suatu pihak memiliki informasi yang lebih banyak dari pihak lain. Karena manajemen perusahaan tahu lebih banyak tentang perusahaan dibanding investor di pasar modal. Jika manajemen perusahaan ingin memaksimalkan nilai untuk pemegang saham saat ini, maka ada kecenderungan bahwa : 1) jika perusahaan memiliki prospek yang cerah, manajemen tidak akan menerbitkan saham baru tapi menggunakan laba ditahan (supaya prospek cerah tersebut dapat dinikmati stockholder), dan 2) jika prospek kurang baik, manajemen menerbitkan saham baru untuk memperoleh dana.
Karena adanya asymetric information, maka disimpulkan bahwa perusahaan lebih senang menggunakan dana dengan urutan : 1) laba ditahan dan dana dari depresiasi, 2) hutang, dan 3) penjualan saham baru.
7. Biaya Komponen Pembiayaan
Biaya hutang didefinisikan sebagai hasil kali dari hasil yang dibutuhkan pada saat jatuh tempo, yaitu atas tambahan hutang modal. Biaya saham preferen tanpa tanggal jatuh tempo adalah hasil yang dibutuhkan. Angka ini merupakan hasil bagi dari dividen saham preferen yang diharapkan dengan harga saham preferen itu.
Biaya saham biasa adalah pengembalian yang dibutuhkan untuk menjaga agar harga saham biasa turun dari harga saat ini. Biaya saham biasa ini bisa dihitung dengan menggunakan sekurang-kurangnya dengan 4 macam cara yaitu :
(1) Penggunaan Security Market Line, yaitu suku bunga besar risiko ditambah produk premi risiko pasar ditambah beta perusahaan tersebut.
(2) Biaya hutang jangka panjang perusahaan ditambah premi risiko modal perusahaan. (3) Mempertimbangkan pengembalian yang dibutuhkan oleh investor dari perusahaan
Manajemen Keuangan Suatu Konsep Dasar
(4) Model penilaian dividen yang luas digunakan meliputi hasil dividen yang diharapkan ditambah pertumbuhan dividen yang diharapkan.
Pembiayaan internal umumnya dianggap lebih murah dibandingkan dengan pembiayaan eksternal. Ada beberapa pendapat yang menyatakan bahwa hal ini disebabkan oleh tidak adanya biaya penerbitan surat berharga (flotation cost), pendapat lain menyatakan, bahwa adanya biaya penerbitan dalam membiayai investasi proyek baru. Tarif pajak efektif, baik untuk pajak perorangan maupun pajak atas dividen dan keuntungan modal, juga dapat dianggap sebagai sebab dari lebih rendahnya biaya pembiayaan internal.
Naiknya risiko leverage akan menaikkan probabilitas kepailitan dan dengan demikian meningkatkan risiko hutang dan modal. Jika biaya kepailitan cukup besar, maka dengan naiknya leverage, nilai perusahaan akan naik, mencapai puncaknya dan kemudian turun.
Langkah pertama dalam menghitung biaya modal tertimbang (WACC) adalah menentukan biaya dari masing-masing komponen modal. Langkah berikutnya adalah menetapkan timbangan yang akan digunakan dalam proses mencari rata-rata biaya tersebut. Pertanyaan pokok dalam menghitung proporsi timbangan dari masing- masing komponen biaya modal itu adalah nilai mana yang digunakan, nilai historis, nilai buku, atau nilai pasar. Biaya pembiayaan harus mencerminkan biaya kesempatan pada saat ini sehingga penggunaan biaya historis adalah tidak relevan. Dengan adanya timbangan atau proporsi dari tiap sumber pembiayaan ini, maka target struktur modal harus digunakan. Akan tetapi, nilai pasar saat ini mungkin tidak menggambarkan target nilai ekuilibrium. Jadi kita tidak perlu menerapkan nilai pasar yang akan kita dapatkan pada waktu tertentu. Yang tepat adalah kita harus menggunakan proporsi atau ukuran itu untuk mencerminkan kapasitas hutang dari perusahaan yang dapat digunakan dalam merumuskan terget rasio leverage.
Manajemen Keuangan Suatu Konsep Dasar
Skedul biaya modal marjinal (marginal cost of capital = MCC) didefinisikan sebagai biaya dari dana tambahan yang diperoleh pada suatu periode tertentu, mempunyai dua hal yang menarik yaitu :
(1) Pembiayaan perusahaan harus dilakukan sedemikian rupa sehingga dapat meminimalkan rencana MCC. Karena itu perusahaan harus menghitung MCC-nya. (2) MCC adalah tarif yang harus digunakan dalam proses penganggaran modal. Perusahaan dapat melaksanakan proyek baru yang membutuhkan modal tambahan, hanya jika nilai sekarang bersih dari proyek itu positif, dihitung pada tingkat MCC perusahaan.
Kebijakan Dividen Macam-macam dividen
Dividen dilihat dari alat pembayarannya dibagi menjadi tiga jenis yaitu: 1. Dividen tunai (Cash Dividend)
Dividen tunai merupakan dividen yang dibagikan dalam bentuk uang tunai. Tujuan dari pemberian dividen dalam bentuk tunai adalah untuk memacu kinerja saham dibursa efek, yang juga merupakan return kepada para pemegang saham. Dividen tunai merupakan bentuk pembayaran yang paling banyak diharapkan oleh investor. Untuk membayarkan dividen dalam bentuk tunai di perlukan likuiditas.
2. Dividen saham (Stock Dividend)
Dividen saham merupakan dividen yang dibagikan dalam bentuk saham, dengan dibagikannya dividen dalam bentuk saham maka akan meningkatkan likuiditas perdagangan di bursa efek. Kemungkinan perusahaan ingin menurunkan nilai sahamnya dan dengan cara memperluas pemilikan dan posisi likuiditas perusahaan yang tidak memungkinkan membagikan dividen dalam bentuk tunai.
3. Sertifikat dividen (Script Dividend)
Sertifikat dividen merupakan dividen yang dibayarkan dengan sertifikat atau surat promes yang dikeluarkan oleh perusahaan yang menyatakan bahwa suatu waktu sertifikat itu dapat ditukarkan dalam bentuk uang. Jadi kalau perusahaan ingin membagikan dividen
Manajemen Keuangan Suatu Konsep Dasar
dalam bentuk tunai akan tetapi sementara itu perusahaan sedang mengalami kesulitan likuiditas, maka sebagai gantinya perusahaan mengeluarkan sertifikat. Dalam Ang (1997), berdasarkan atas hubungan dengan tahun buku, dividen dapat dibagi atas dua jenis yaitu :
a. Dividen Interim
Merupakan dividen yang dibayarkan oleh perseroan antara satu tahun buku dengan tahun buku berikutnya. Dividen interim ini dapat dibayarkan beberapa kali dalam setahun dengan tujuan salah satunya yaitu untuk memacu kinerja kerja saham perseroan di bursa.
b. Dividen Final
Dividen final merupakan dividen hasil pertimbangan setelah penutupan buku perseroan sebelumnya dan dibayarkan pada tahun buku berikutnya. Dividen final ini juga memperhitungkan dan mempertimbangkan hubungannya dengan dividen interim yang telah dibayarkan untuk tahun buku tersebut.
Prosedur standar pembayaran dividen
Dalam pembayaran dividen terdapat beberapa tahapan atau prosedur yaitu sebagai berikut:
a. Declarasion Date
Declarasion date adalah tanggal keputusan untuk membagikan dividen pada RUPS, atau tanggal pada saat direksi perusahaan mengumumkan rencana pembayaran dividen.
b. Date of record
Date of record merupakan tanggal keputusan bahwa para pemegang saham pada tanggal tertentu dinyatakan berhak untuk menerima dividen, atau hari terakhir untuk mendaftarkan diri sebagai pemegang saham agar berhak menerima dividen yang akan dibagikan perusahaan.
Manajemen Keuangan Suatu Konsep Dasar
Ex-dividend adalah tanggal pada saat mana hak atas dividen periode berjalan dilepaskan dari sahamnya yaitu lima hari sebelum date of record. Pada tanggal ini atau sesudahnya pembeli tidak berhak untuk memperoleh dividen yang akan dibagikan.
d. Payment date
Payment date merupakan tanggal kapan dividen tersebut akan dibayarkan, dan bagaimana cara pembayaranya.
Makna Kebijakan Dividen
Kebijakan dividen merupakan bagian yang menyatu dengan keputusan pendanaan perusahaan. Rasio pembayaran dividen menentukan jumlah laba yang ditahan sebagai sumber pendanaan. Semakin besar laba ditahan semakin sedikit jumlah laba yang dialokasikan untuk pembayaran dividen. Alokasi penentuan laba sebagai laba ditahan dan pembayaran dividen merupakan aspek utama dalam kebijakan dividen (Wachowicz 1997). Kebijakan dividen merupakan bagian yang tidak dapat dipisahan dengan keputusan pendanaan perusahaan. Secara definisi, kebijakan dividen adalah keputusan apakah laba yang diperoleh perusahaan pada akhir tahun akan dibagi kepada pemegang saham dalam bentuk dividen atau akan ditahan untuk menambah modal guna pembiayaan investasi di masa yang akan datang.
Pengertian dividen menurut William (1938) dalam Cooper (1997) adalah reward untuk
shareholder atas suply capital pada perusahaan. Tanpa pembayaran dividen, saham tidak akan bernilai, hanya janji dividen di masa yang akan datang yang memberikan nilai kepada saham, menurut pendapat yang konvensional : fluktuasi saham disebabkan oleh perubahan ekspektasi investor tentang nilai dividen di masa mendatang.
Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kebijakan Dividen
Menurut Brigham & Houston ( 2001) Faktor-faktor yang mempengaruhi besarnya dividen yang dibagikan oleh perusahaan dapat dikelompokkan menjadi empat katagori besar, yaitu :
Manajemen Keuangan Suatu Konsep Dasar
1. Kendala-Kendala Atas Pembagian Dividen
Aspek-aspek yang merupakan kendala atau yang membatasi pembagian dividen adalah antara lain : kontrak hutang, pembatasan saham preferen, ketidakcukupan laba, ketersediaan kas serta denda pajak atas penahanan laba yang tidak wajar. 2. Peluang Investasi
Peluang investasi dalam hal ini pertama berhubungan dengan kemampuan untuk mempercepat atau menangguhkan proyek akan memungkinkan perusahaan untuk lebih konsisten dengan kebijaksanaan dividen stabil. Yang kedua adalah letak dari daftar IOS, apabila daftar IOS lebih mengarah ke kanan, maka cenderung menghasilkan target pembayaran dividen yang rendah.
3. Ketersediaan dan Biaya dari Sumber Modal Alternatif
Ada tiga variabel yang mempengaruhi kebijaksanaan dividen berkaitan dengan ketersediaan dan Biaya dari Sumber Modal Alternatif, yaitu (a) besarnya biaya penjualan saham baru, (2) kemampuan untuk mensubstitusi ekuitas dengan hutang serta (c) Pengendalian .
4. Pengaruh Kebijakan Dividen Terhadap Ks
Pengaruh Kebijakan Dividen Terhadap Ks dapat dilihat dari empat faktor yang meliputi : (1) keinginan pemegang saham untuk mendapatkan penghasilan sekarang dibanding penghasilan dimasa yang akan datang, (2) tingkat risiko dari dividen dibandingkan, (3) manfaat pajak dari capital gain dibanding dividen, dan (4) informasi atau isyarat yang terkandung dalam dividen.
Menurut Miller & Modigliani (1961) dalam Cooper (1997) Ada dua pendekatan untuk menjelaskan keputusan dividen. Pertama, dimulai dari hasil teoritis bahwa dalam kondisi persaingan sempurna manajer dan pemegang saham seharusnya indifferent terhadap size dari pengumuman dividen saat ini. Kedua, dimulai dari hasil kajian empiris bahwa direktur memiliki keengganan untuk menurunkan dividen (lebih menyukai dividen yang stabil) . Kesimpulannya kenaikan dividen seharusnya hanya dilakukan jika manajer yakin level dividen yang baru tersebut dapat dipertahankan. Perilaku ini
Manajemen Keuangan Suatu Konsep Dasar
mempengaruhi kemampuan memprediksi dividen saat ini berdasarkan pengetahuan mengenai earning saat ini dan dividen yang lalu (Lintner:1956 dalam Cooper: 1997).
Pembayaran dividen berguna untuk meminimumkan cost dari masalah keagenan antara manajer dan pemegang saham yang telah melakukan keputusan secara berlebihanpada proyek dengan NPV = 0 atau negatif. Walaupun demikian perlu diingat kembali bahwa pembayaran dividen merupakan manifestasi dari masalah keagenan antara pemegang obligasi dan saham. Sehingga pembayaran dividen bisa saja tidak dapat dilakukan karena adanya pembatasan dari covenant obligasi.
Kebijakan pembagian dividen selain untuk mengatasi masalah keagenan juga tergantung dari beberapa faktor, yaitu :
1. kondisi industri dimana perusahaan beroperasi , ukuran perusahaan, padat modal atau tidaknya proses produksi perusahaan, free cash flow yang dihasilkan, ketersediaan peluang proyek dengan NPV positif.
2. Jumlah pemegang saham, tersebar atau tidaknya kepemilikan saham, aktif atau tidaknya pemegang saham, keinginan dan kemampuan pemegang saham mayoritas di dalam mengawasi manajemen perusahaan.
Manajer yang mengikuti kebijakan pembayaran dividen sesuai dengan kepentingan yang paling baik dari investor akan diberikan konpensasi dengan kenaikan harga saham dan promosi, sedangkan tindakan yang sebaliknya akan menyebabkan penurunan harga saham dan pemberhentian manajer dari perusahaannya (Meginson, 1997 dalam Cynthia 2003)
Penjelasan terperinci mengenai dampak kedua variabel di atas terhadap pembayaran dividen dapat dilihat pada tabel berikut.
Manajemen Keuangan Suatu Konsep Dasar
Peningkatan Dalam Variabel Perusahaan Dampak Terhadap Pembayaran Dividen Pertumbuhan Aset Menurun
Peluang Investasi Dengan NPV Positif Menurun Kepadatan Modal dan Produksi
Perusahaan
Meningkat Free cash flow yang dihasilkan Meningkat Jumlah pemegang saham individu Meningkat Kuatnya koalisi dari pemegang saham Menurun Ukuran dari pemilik saham mayoritas
terbesar
Menurun
Peningkatan Dari Variabel Makro Dampak Terhadap Pembayaran Dividen
Biaya transaksi dan perdagangan sekuritas
Meningkat Pajak perorangan dari pendapatan dividen Menurun Pajak perorangan dari pendapatan capital
gain
Meningkat Kekuatan investor institusional pada
corporate governance
Menurun Pentingnya pasar modal secara relatif
dibandingkan intermediate financing
Meningkat Jumlah transparasi informasi perusahaan Menurun Ukuran dari pemilik saham mayoritas
terbesar
Menurun
Sumber : Cynthia 2003