Jl. Kebon Kawung
6. Divre 3 Sumatera Selatan
Hasil peninjauan di beberapa stasiun di wilayah Divre 3 Sumatera Selatan, dengan melakukan kunjungan dan peninjauan lapangan ke beberapa stasiun, yakni stasiun Medan (St. Besar), Pulubrayan (St. Sedang), Perbaungan (St. Kecil) dan Belawan (St. Barang) diperoleh informasi dan gambaran sebagai berikut.
a. Stasiun Tanjungkarang
Di Stasiun Tanjungkarang ini relatif terdapat cukup banyak penumpang yang naik maupun yang turun, penumpang terdiri ekonomi, bisnis dan eksekutif. Jumlah penumpang mencapai 1.600 perhari. Areal atau emplasemen stasiun Tanjungkarang semi tertutup, sehingga calon penumpang maupun orang di luar sedikit leluasa dan bebas memasuki stasiun. Jalur KA di
PT. DELIMA LAKSANA TATA IV-44 emplasemen terdiri dari 5 jalur kereta api 2 jalur untuk stabling dan 2 jalur keluar masuk dipo lokomotif dan dipo kereta. Emplasemen stasiun terdiri dari sebagian emplasemen setengah tinggi dan sebagian emplasemen rendah. Untuk emplasemen yang rendah tersedia tangga untuk naik/turun para penumpang.
Kelengkapan fasilitas di stasiun Tanjungkarang berdasarkan hasil peninjauan lapangan, telah tersedianya fasilitas berupa:
1) Peralatan pemadam api untuk pemadam kebakaran;
2) Tandu untuk penumpang yang mengalami sakit atau yang membutuhkan;
3) Kotak P3K (untuk memberi pertolongan pertama pada penumpang bila terjadi sesuatu);
4) Petugas keamanan atau Polsuska 3 shift dalam 24 jam termasuk ikut mengawal dalam kereta api;
5) Pengeras suara;
6) Lampu penerangan di stasiun dan emplasemen.
b. Stasiun Kertapati
Stasiun Kertapati termasuk stasiun besar di Divre III/1 Sumsel, penumpang kereta api yang berangkat maupun yang datang di stasiun ini cukup banyak, baik kereta api jarak jauh maupun kereta api lokal melayani kereta barang. Areal stasiun tertutup sehingga calon penumpang maupun orang dari luar tidak bebas memasuki stasiun, calon penumpang dan penumpang keluar masuk melalui pintu yang tersedia. Emplasemen terdiri dari peron sedang dan rendah sehingga memudahkan naik turunnya penumpang. Jalur kereta api terdiri 4 jalur yang dapat digunakan
PT. DELIMA LAKSANA TATA IV-45 memberangkatkan dan menerima kereta api dan 11 jalur untuk stabling dan gerakan langsiran.
Kelengkapan fasilitas di stasiun Kertapati berdasarkan hasil peninjauan lapangan sudah relatif cukup, telah tersedianya fasilitas berupa:
1) Pemadam api; 2) Pengeras suara;
3) Pos P3K (untuk memberi pertolongan pertama pada penumpang bila terjadi sesuatu);
4) Lampu penerangan stasiun; 5) Kursi roda.
6) Tandu; dan
7) Tangga untuk naik turun penumpang dari/ke kereta api (peron rendah) dan sebagainya.
c. Stasiun Kotabumi
Stasiun Kotabumi adalah stasiun kelas sedang di Sub Divre III/2 Tanjungkarang. Peron di stasiun masih menggunakan peron rendah, sebagian sedang dibangun peron tinggi untuk membantu naik turun penumpang baik jarak jauk maupun penumpang lokal. Areal stasiun Kotabumi masih terbuka sehingga calon penumpang maupun orang luar dapat bebas memasuki area dalam stasiun.
Kelengkapan fasilitas di stasiun Kotabumi berdasarkan hasil peninjauan lapangan sudah relatif cukup, telah tersedianya fasilitas berupa:
PT. DELIMA LAKSANA TATA IV-46 2) Pengeras suara;
3) Bendera semoyan dan stop block;
4) Pos P3K (untuk memberi pertolongan pertama pada penumpang bila terjadi sesuatu);
5) Lampu penerangan stasiun;
6) Bancik/tangga untuk naik turun penumpang dari/ke kereta api (peron yang setengah tinggi) dan sebagainya.
d. Stasiun Payakabung
Stasiun Payakabung termasuk stasiun kecil di Divre Sumsel Sub Divre III/1 Kertapati. Areal stasiun Payakabung terbuka sehingga calon penumpang (kalau ada) maupun orang di luar masih bebas memasuki area dalam stasiun. Emplasemen stasiun masih terdiri dari peron rendah dan terdiri dari 4 (empat) jalur kereta api.
Kelengkapan fasilitas di stasiun Payakabung berdasarkan hasil peninjauan lapangan sudah relatif cukup.
e. Emplasemen Bongkar Muat Batubara Tarahan
Stasiun Tarahan merupakan stasiun barang berupa batubara. Hasil peninjauan lapangan pada stasiun Tarahan adalah sebagai berikut:
PT. DELIMA LAKSANA TATA IV-47 Gambar IV-14 Fasilitas Stasiun Tarahan
f. Stasiun Rejosari
Stasiun Rejosari digolongkan ke dalam stasiun kelas sedang oleh karena itu jumlah penumpang hanya mencapai 50 orang/hari. Areal atau emplasemen yang dimiliki stasiun masih terbuka, sehingga calon penumpang maupun masyarakat umum dapat masuk dan keluar stasiun secara bebas. Emplasemen stasiun Rejosari termasuk jalur panjang (long siding).
Kelengkapan fasilitas di stasiun Rejosari berdasarkan hasil peninjauan lapangan sudah relatif cukup, telah tersedianya fasilitas berupa:
PT. DELIMA LAKSANA TATA IV-48 1) Peralatan pemadam kebakaran;
2) Tersedia bancik/tangga untuk membantu penumpang naik/turun;
3) Emplasemen rendah (sebagian sedang dibangun peron tinggi); 4) Kotak P3K;
5) Pengeras suara;
6) Lampu penerangan di emplasemen dan stasiun; 7) Alat komunikasi untuk operasi kereta api.
PT. DELIMA LAKSANA TATA IV-49 C. Analisa Hasil Peninjauan Lapangan
1. Umum
Dari kegiatan peninjauan lapangan di beberapa stasiun, yang meliputi stasiun kereta api kelas besar, sedang, kecil maupun stasiun untuk bongkar muat barang, sebagian besar belum sepenuhnya memiliki peralatan keselamatan yang ideal untuk menjaga keselamatan dan keamanan baik untuk para penumpang kereta api di stasiun penumpang maupun untuk kegiatan bongkar muat barang di stasiun barang. Sebagian besar stasiun kelas sedang maupun kecil arealnya belum tertutup (masih terbuka, sehingga orang luar yang bukan penumpang/calon penumpang masih bebas keluar/masuk tanpa melalui pintu masuk).
Hal ini dapat menimbulkan gangguan keselamatan bagi penumpang seperti gangguan kriminal dan tertabrak kereta api. Demikian juga perlatan keselamatan seperti pemadam api, masih banyak stasiun yang mempunyai jumlah pemadam api yang sangat minim baik jumlah maupun kapasitasnya, sehingga bila terjadi kebakaran, sulit untuk dapat segera memadamkannya. Untuk stasiun kelas besar pun, hanya stasiun Gambir yang mempunyai hydrant. Jadi belum ada suatu standard mengenai peralatan keselamatan dan keamanan di stasiun kereta api. Demikian juga dengan fire alarm pun, hanya baru terdapat stasiun Gambir. Sedangkan stasiun-stasiun sekelas lainnya belum mempunyai.
Untuk peron di stasiun saat ini belum standar dan sebagian besar masih peron rendah, hanya stasiun kelas besar di Jawa yang sebagian besar sudah mempunyai peron tinggi atau setengah tinggi. Namun di
PT. DELIMA LAKSANA TATA IV-50 luar Jawa seperti Sumatera Utara dan Sumatera Selatan, belum ada yang mempunyai peron tinggi sehingga masih menyulitkan bagi penumpang untuk naik/turun ke kereta api dan dapat memungkinkan penumpang terjatuh (sebagai informasi khusus Divre 3.2 Tanjungkarang tengah membangun peron tinggi pada semua stasiunnya hingga ke stasiun Kotabumi).
Mengenai lampu penerangan untuk malam hari, pada umumnya di stasiun (ruang tunggu penumpang, peron dan sebagainya) sudah cukup baik. Hanya penerangan emplasemen yang masih banyak yang kurang sehingga agak rawan terhadap tindakan kriminal. Karena belum standardnya peralatan keselamatan dan keamanan di stasiun kereta api dan belum tersedianya peralatan dimaksud di stasiun sebagaimana yang seharusnya, masih terjadi hal-hal yang tidak diinginkan seperti terjadinya kebakaran di stasiun, terbakarnya kereta penumpang di emplasemen stasiun dan sebagainya.
Bila kita bandingkan dengan stasiun-stasin kereta api di negara lain, terutama di Negara-negara maju, peralatan keselamatan di sana sudah cukup lengkap dan baik. Peralatan pemadam kebakaran seperti tabung pemadam api, fire alarm maupun hydrant cukup tersedia. Garis batas pinggir peron di pinggir jalur kereta api di semua stasiun harus ada dan cukup dipatuhi oleh penumpang. Seperti perkeretaapian di Singapura peronnya tertutup dan pintunya baru terbuka bila kereta api sudah berhenti di stasiun. Peron stasiun rata-rata sudah peron tinggi sehingga penumpang dapat dengan mudah untuk naik/turun ke kereta api.
PT. DELIMA LAKSANA TATA IV-51 Peralatan pemantau (CCTV) sudah dipunyai hampir seluruh stasiun kereta api sehingga dapat memantau kondisi stasiun dan para penumpang. Di samping tersedianya peralatan keselamatan di stasiun di negara-negara maju, juga tersedianya petugas keamanan yang mengamati dan memperhatikan kalau ada hal-hal yang mencurigakan atau ada penumpang yang melanggar ketentuan/peraturan yang ditetapkan di stasiun.
Untuk lebih meningkatkan keselamatan penumpang di stasiun di Indonesia, sudah saatnya diperlukan suatu standard peralatan keselamatan dan keamanan di stasiun kereta api yang di bedakan atas stasiun besar, sedang dan kecil. Dalam standar peralatan keselamatan di stasiun tersebut di cantumkan jenis peralatan keselamatan seperti untuk pemadam kebakaran, jalur darurat/evakuasi, tanda batas peron, alat pemantau dan sebagainya. Disertai dengan jumlah ukuran atas kapasitanya untuk setiap kelas stasiun.