BAB III PELAKSANA PEMBERI BANTUAN HUKUM
B. Para Pelaksana Bantuan Hukum
3. Dosen
Dosen adalah seorang yang berprofesi sebagai pendidik profesional dan ilmuwan dengan tugas utama mengajarkan, mengembangkan, dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan yang dikuasai melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat dengan mulia dan tanggung jawab.
Dosen Pegawai Negeri Sipil selanjutnya disebut dosen PNS sebelumnya tidak boleh beracara, kemudian setelah dikeluarkannya Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2011 tentang Bantuan Hukum maka dosen mendapat hak dalam pemberian bantuan hukum. Sejarah dosen PNS dilarang beracara sendiri terdapat dalam Staatblad Tahun 1935 Nomor 443 dan dirumuskan ulang dengan diundangkannya Peraturan Pemerintah Nomor 12 Tahun 1952 (Lembaran Negara Nomor 203) dimana dalam Bab I memuat pengaturan bahwa pegawai dilarang melakukan pekerjaan dalam lapangan partikelir jikalau peraturan jawatan melarang melakukan itu, aturan ini didasarkan pada pertimbangan supaya kejujuran dan kehormatan pegawai tidak terganggu serta kepeningkatan jawatan atau Negeri tetap diutamakan atau dapat diartikan bahwa kegiatan bantuan hukum secara litigasi dikhawatirkan akan mengakibatkan mundurnya perhatian dan kegiatannya sebagai dosen PNS.150
Kemudian dalam perkembangannya Peraturan Pemerintah Nomor 12 Tahun 1952 diubah menjadi Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 1956 yang khusus mengenai
149 Dartimnov M. T. Harahap,Op. Cit.
150 Peraturan Pemerintah Nomor 12 Tahun 1952 (Lembaran Negara Nomor 203) Tentang Penghasilan dan
kata pegawai dapat dijelaskan bahwa dosen sebagai pegawai dimana dalam peraturan ini pegawai adalah semua pegawai negeri sipil dalam dinas aktif harus mematuhi peraturan dari Peraturan Pemerintah Nomor 12 Tahun 1952.151 Aturan ini didasarkan
pertimbangan bahwa untuk menyederhanakan dan mempercepat pekerjaan perlu diadakan perubahan dalam peraturan mengenai pemberian izin kepada pegawai negeri yang hendak berusaha di lapangan partikelir.
Pengundangan Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 1974 mempertegas pelarangan dosen yang berstatus PNS dalam beracara dimana dalam Bab III tentang pembatasan duduk dalam usaha sosial menyebutkan bahwa dosen dengan status PNS golongan ruang IV/A dilarang duduk sebagai Pengurus, Penasehat atau Pelindung dalam Badan Sosial, apabila untuk itu ia menerima upah/gaji/honorarium atau keuntungan materiil atau finansiil lainnya, namun dosen PNS golongan IV/A dan III/D dapat eksis dalam Badan Sosial berbentuk Yayasan atau perkumpulan yang bergerak dalam bidang kemasyarakatan dengan tidak menerima upah/gaji/honorarium atau keuntungan materiil/finansiil lainnya dan harus memperoleh izin tertulis dari Penjabat Yang Berwenang namun dengan tetap tidak boleh mengabaikan tugas utamanya sebagai dosen berstatus PNS atau tidak mengakibatkan ketidaklancaran pelaksanaan tugas dari yang bersangkutan, dan tidak merusak nama baik instansi tempat bekerja.152 Sejak Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 1974 ini diundangkan,
maka Peraturan Pemerintah Nomor 12 Tahun 1952 dan perubahannya Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 1956 dinyatakan tidak berlaku lagi.
Pemerintah dalam menjamin terpeliharanya tata tertib dan kelancaran pelaksanaan tugas dipandang perlu menetapkan peraturan disiplin PNS dengan diundangkannya Peraturan Pemerintah Nomor 30 Tahun 1980 dimana dalam aturan
151 Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 1956, Pasal 1 huruf (a).
tersebut tidak melarang dosen sebagai PNS melakukan pemberian bantuan hukum, namun seorang dosen berstatus PNS yang memiliki hubungan kasus yang ditangani antara klient dengan pemerintah dikhawatirkan akan dapat terjadi penyalahgunaan wewenang, membocorkan informasi dan juga dapat memanfaatkan rahasia negara yang diketahui.
Pada tahun 2010, pemerintah menilai bahwa Peraturan Pemerintah Nomor 30 Tahun 1980 sudah tidak sesuai lagi dengan kebutuhan dan perkembangan keadaan, maka diundangkanlah Peraturan Pemerintah Nomor 53 Tahun 2010 dimana peraturan ini memasukkan larangan terhadap peran PNS dalam politik. Berkenaan dengan bantuan hukum, peraturan ini tidak melarang PNS untuk beracara.153
Keterlibatan para dosen Fakultas Hukum dalam program pemberian bantuan hukum mempunyai arti penting terutama bagi negara yang masih mempunyai pengacara dalam jumlah yang sedikit sebagaimana kondisi ini terjadi di Indonesia. Kenyataannya pelaksanaan bantuan hukum di lapangan yaitu yang terdapat di kantor Pelaksana Bantuan Hukum dapat dilihat dari akreditasinya, contohnya seperti di Kota Medan yang terakreditasi B hanya LBH Medan, selebihnya terakreditasi C dimana jumlah Advokat yang menangani perkara hanya dua orang.154 Kalau dirasakan jumlah
Advokat ini tidak seimbang, hal ini akan berpengaruh pada pelayanan bantuan hukum. dosen Fakultas Hukum sangat diperlukan eksistensinya, disamping berperan dalam pelaksanaan bantuan hukum juga pelaksanaan pemberian bantuan hukum oleh dosen ini umumnya mengandung aspek-aspek teoritis dalam argumentasinya sebagaimana profesi utamanya sebagai pendidik klinis di Fakultas Hukum.
Dosen dalam melakukan pemberian bantuan hukum harus memenuhi syarat dengan terdaftar sebagai Pemberi Bantuan Hukum yang terakreditasi dan berijazah
153 Peraturan Pemerintah Nomor 53 Tahun 2010, Pasal 4. 154 Dartimnov M. T. Harahap,Op. Cit.
sarjana dibidang hukum yang mengajar pada Fakultas Hukum atau Fakultas Syariah. Pada acara Seminar Nasional Kajian Akademisi Tentang Rancangan Undang-Undang Advokat, disebutkan oleh Harry Witjaksono sebagai Anggota Pansus RUU Advokat DPR RI menyatakan bahwa seharusnya dalam memberikan pelayanan bantuan hukum hanya dapat diberikan oleh Pemberi Bantuan Hukum yang independen dan bukan PNS, lebih lanjut lagi beliau menjelaskan alasan pembatasan eksistensi PNS dalam pengadilan dikarenakan untuk menjaga kualitas, dimana dosen sebagai PNS sedikit banyak dapat terintervensi pemerintah karena PNS berada dibawah naungan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.155
Menurut Sahala Siahaan selaku Ketua Harian KAI pada Seminar Nasional Kajian Akademisi Tentang Rancangan Undang-Undang Advokat, disebutkan tentang dosen sebagai Advokat.156 Bagi dosen PNS yang aktif mengajar di Fakultas Hukum,
seharusnya tidak mendapat izin untuk praktek Advokat, karena Pegawai Negeri Sipil termasuk pejabat yang gaji atau pembayaran jasanya dibiayai oleh Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara atau Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah secara periodik dalam jangka waktu 2 tahun secara berturut-turut atau lebih, kecuali dosen yang bukan PNS tentu bisa mendapat izin untuk praktik sebagai Advokat. Hal ini kontradiktif atau bertentangan dengan ketentuan Pasal 9 Huruf a Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2011 tentang Bantuan Hukum, yang menyatakan bahwa Pemberi Bantuan Hukum berhak melakukan rekrutmen terhadap Advokat, paralegal, dosen dan mahasiswa Fakultas Hukum. Ketentuan tersebut menguatkan kedudukan dosen untuk dapat memberikan bantuan hukum, tanpa membedakan dosen PNS maupun bukan PNS. Ketentuan ini semakin dikuatkan oleh Putusan Mahkamah Konstitusi No.
155 Harry Witjaksono, wawancara oleh peneliti, Gedung Peradilan Semu FH USU, Sabtu, 16 Agustus 2014. 156 Sahala Siahaan, wawancara oleh peneliti, Gedung Peradilan Semu FH USU, Sabtu, 16 Agustus 2014.
006/PUU-II/2004 yang dalam bagian Menimbang disebutkan:157
“Menimbang bahwa sebagai Undang-Undang yang mengatur profesi, seharusnya Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2003 tentang Advokat tidak boleh dimaksudkan sebagai sarana legalisasi dan legitimasi bahwa yang boleh tampil di depan pengadilan hanya Advokat karena hal demikian harus diatur dalam hukum acara, padahal hukum acara yang berlaku saat ini tidak atau belum mewajibkan pihak-pihak yang berperkara untuk tampil dengan menggunakan pengacara
(verplichte procureur stelling). Oleh karena tidak atau belum adanya kewajiban
demikian, menurut hukum acara, maka pihak lain diluar Advokat tidak boleh dilarang untuk tampil mewakili pihak yang berperkara di depan pengadilan. Hal ini juga sesuai dengan kondisi riil masyarakat saat ini dimana jumlah Advokat sangat tidak sebanding dan tidak merata dibandingkan dengan luas wilayah dan jumlah penduduk yang memerlukan jasa hukum.”
Berdasarkan putusan Mahkamah Konstitusi No.006/PUU-II/2004 menimbulkan ketentuan Pasal 31 Undang-Undang Advokat tidak mempunyai kekuatan hukum yang mengikat maka secara hukum dosen melalui Lembaga Bantuan Hukum kampus pun boleh memberikan bantuan hukum kepada masyarakat yang kurang mampu.
Pada Undang-Undang Bantuan Hukum, memuat Pemberi Bantuan Hukum yang dapat merekrut dosen, namun mengenai kedudukan dan wewenang pengaturannya belum jelas. Undang-Undang Bantuan hukum memberikan wewenang kepada dosen dalam memberikan pelayanan bantuan hukum dalam proses litigasi hanya sebatas apabila jumlah Advokat tidak memenuhi dalam menangani perkara yang dimohonkan, hal ini akan berpengaruh terhadap pemberian bantuan hukum dimana seolah-olah dosen sebagai Pemberi Bantuan Hukum secara litigasi hanya sebatas pelengkap jika diperlukan terhadap perkara yang tidak dapat diselesaikan oleh Advokat.
Pengabdian pada masyarakat ditunjukan dengan cara memberikan bantuan hukum kepada masyarakat yang tidak mampu membayar Advokat. Dosen memberikan bantuan hukum kepada masyarakat tunduk dengan Undang-Undang Bantuan Hukum. Hal ini berarti dosen hanya dapat beracara dalam perkara prodeo atau bantuan hukum
secara cuma-cuma dan dalam memberikan bantuan hukum harus mendapat surat tugas dan mengatas namakan lembaga atau organisasi Pemberi Bantuan Hukum sesuai dengan peraturan.