BAB II PENGATURAN BANTUAN HUKUM
D. Pemberian Bantuan Hukum Dalam Proses Hukum Pidana
Undang-undang yang disahkan tentang bantuan hukum adalah suatu peraturan yang mengatur tertibnya pelaksanaan bantuan hukum dengan syarat-syarat pemberian bantuan hukum, hal ini karena terdapat banyak orang yang memiliki keahlian dalam bidang hukum dan ingin memberikan bantuan hukum.
Bantuan hukum kepada tersangka diberikan atau dapat diminta sejak dalam penangkapan atau penahanan pada semua tingkat pemeriksaan, baik pada tingkat penyidikan meupun pada tingkat pemeriksaan pengadilan. Pada pemeriksaan tingkat penyidik, maka tersangka didampingi oleh penasihat hukum, yang boleh hadir dalam pemeriksaan ytang sedang berjalan, hanya bersikap pasif, artinya ia hanya
mendengarkan dan melihat pemeriksaan, yang diatur dalam Pasal 69 hingga Pasal 74 dan Pasal 115 ayat (1), dan Pasal 156 KUHAP.93
Pemeriksaan tersangka di muka persidangan Pengadilan Negeri, maka penasihat hukum selama pemeriksaan terdakwa berjalan bersikap aktif, artinya kehadiran penasihat hukum dapat menggunakan hak-haknya seperti yang dimiliki oleh hakim dan jaksa, yakni hak bertanya jawab, termasukcross examination94, hak mengajukan
pembuktian: baik saksi yang mengentengkan (saksi a de charge) maupun surat-surat dan alat bukti lainnya, hak mengucapkan pembelaan (pledooi). Dalam hal demikian posisi penasihat hukum sebagai procurator dan sekaligus sebagai pleiter atau
verdediger atau pembela.95 Pada pemeriksaan di persidangan yang dipakai ialah
sistem acusatoir, dimana terdakwa mempunyai hak yang sama nilainya dengan penuntut umum, sedangkan hakim berada di atas kedua belah pihak untuk menyelesaikan perkara pidana antara mereka menurut peraturan hukum pidana yang berlaku.96
Pada acara pemeriksaan cepat, yakni acara pemeriksaan tindak pidana ringan dan acara pemeriksaan perkara pelanggaran lalu lintas jalan. Pada acara pemeriksaan ringan yang diancaman dengan pidana penjara atau kurungan paling lama tiga bulan
93 Martiman Prodjohamidjojo,Penasihat dan Organisasi Bantuan Hukum,(Jakarta: Ghalia Indonesia, 1984),
hal. 19.
94 Cross examination(pemeriksaan silang) adalah pemeriksaan silang adalah interogasi saksi dipanggil oleh
lawan. Hal ini didahului dengan pemeriksaan langsung (dikenal sebagai pemeriksaan-in-chief) dan dapat diikuti olehredirect. Tujuan utama pemeriksaan silang yang untuk memperoleh fakta-fakta baik dari saksi, atau untuk mendakwa kredibilitas saksi bersaksi untuk mengurangi berat kesaksian yang tidak menguntungkan. Pemeriksaan silang sering menghasilkan bukti penting dalam uji coba, terutama jika saksi bertentangan kesaksian sebelumnya. Pemeriksaan silang dianggap sebagai komponen penting dari juri pengadilan karena dampak itu pada pendapat hakim dan juri. Beberapa pengacara praktek hukum pengadilan atau litigasi yang kompleks dan biasanya merujuk kasus tersebut kepada orang-orang yang memiliki waktu, sumber daya dan pengalaman untuk menangani sidang yang kompleks dan komitmen yang terlibat untuk menyelesaikan sidang berhasil. Beberapa pengacara mendapatkan praktek yang diperlukan untuk mengembangkan teknik yang dibutuhkan untuk melakukan pekerjaan yang efektif saksi pemeriksaan silang. Terjemahan dari http://en.wikipedia.org/wiki/cross examination, Sabtu, 29 November 2014, 11.36 WIB.
95 Martiman Prodjohamidjojo,Penasihat dan Bantuan Hukum Indonesia,(Jakarta: Ghalia Indonesia, 1987),
hal. 16.
96 Martiman Prodjohamidjojo,Kedudukan Tersangka dan Terdakwa dalam Pemeriksaan,(Jakarta: Ghalia
Indonesia, 1984), hal. 18.
atau denda setidak-tidaknya tujuh ribu lima ratus rupiah dan penghinaan ringan.97
Pelaksana Bantuan Hukum pada awalnya memberikan penjelasan kepada tersangka selaku Penerima Bantuan Hukum tentang permasalahan hukum dan dasar peraturan yang akan diberlakukan. Menurut keterangan Penerima Bantuan Hukum atas nama FM yang diputus Pengadilan Negeri Medan Perkara No. 502/Pid.B/2014/PN Medan, mengaku tidak mengetahui tentang prosedur beracara di pengadilan, pihak Penerima Bantuan Hukum merasa bersyukur telah dibantu negara dengan memberikan pengacara negara selaku pendamping (Pelaksana Bantuan Hukum). Ketika peneliti menanyakan prosedur apakah yang telah dijalani kepada pihak Penerima Bantuan Hukum hanya memberikan penjelasan bahwa tidak mengetahui dan mengikuti saja prosedur yang harus dijalani, pihak Penerima Bantuan Hukum pasrah akan keputusan yang diberikan oleh hakim pada sidang putusan di pengadilan.98 Pengakuan pihak Penerima Bantuan Hukum tersebut senada dengan
Adnan Buyung Nasution yang menyatakan bahwa si miskin bahkan tidak menyadari dan tidak tahu bahwa mereka mempunyai hak dan kewajiban hukum, jangankan tahu untuk mencari upaya hukum bahkan mereka yang tahupun tidak mempunyai keberanian moral untuk mempergunakannya yang dipengaruhi oleh sikap mental dan nilai-nilai masyarakat.99 Hal ini menjadi pertanyaan bagi peneliti, apakah pelaksanaan
pemberian bantuan hukum tersebut telah sesuai prosedur dan memberikan keadilan bagi Penerima Bantuan Hukum.
Menurut Abdul Ghofur Anshori, tujuan akhir hukum adalah keadilan. Oleh karena itu, segala usaha yang terkait dengan hukum mutlak harus diarahkan untuk menemukan sebuah sistem hukum yang paling cocok dan sesuai dengan prinsip
97 Ibid.,hal. 29.
98 Opeh, wawancara oleh peneliti, Medan, 25 September 2014.
99 Adnan Buyung Nasution,The Extension of Legal Services to the Poor: The Role of the Lawyer in
Developing Countries,makalah disampaikan padaEight Conference of the Law of the World, World Peace through Law Center,21-27 Agustus 1977, Manila Philipina.
keadilan. Hukum harus terjalin erat dengan keadilan, hukum adalah undang-undang yang adil, bila suatu hukum konkrit, yakni undang-undang bertentangan dengan prinsip keadilan, maka hukum itu tidak bersifat normatif lagi dan tidak dapat dikatakan sebagai hukum lagi.100 Pendapat tersebut berkaitan erat dengan
pelaksanaan pemberian bantuan hukum dimana harus menciptakan rasa keadilan. Menurut H. Zulfahmi sebagai Hakim yang juga menjabat selaku Wakil Ketua Pengadilan Negeri Medan, selama ini praktek dalam menangani sidang perkara bantuan hukum dari pihak terdakwa tidak mengajukan eksepsi, terdakwa yang diancam sanksi pada perkara bantuan hukum tidak membantah akan tuduhan yang ditujukan.101 Hal tersebut menjadi tanda tanya oleh peneliti apakah pendamping dan
terdakwa mengetahui akan hak-hak mereka dan apakah tahap-tahap acara pesidangan telah dilakukan sesuai prosedur.
Tahapan persidangan umumnya dilaksanakan dalam 4 tahap dengan tata urutan persidangan berdasarkan Undang-Undang No. 8 Tahun 1981 Tentang Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana. Tata urutan persidangan di Pengadilan Negeri adalah:102
1. Sidang dinyatakan dibuka dan terbuka untuk umum (kecuali perkara tertentu ditutup untuk umum),
2. Penuntut Umum diperintahkan untuk menghadapkan terdakwa ke depan persidangan dalam keadaan bebas,
3. Terdakwa ditanyakan identitasnya dan ditanya apakah sudah menerima salinan surat dakwaan,
4. Terdakwa ditanya apakah dalam keadaan sehat dan bersedia diperiksa di depan
100 Abdul Ghofur Anshori.Op. Cit., hal. 53.
101 Zulfahmi, wawancara oleh peneliti, Medan, 5 September 2014.
102 http://katanewss.wordpress.com/2013/03/23/tata-urut-persidangan-pidana-di-pengadilan-negeri/, Jum’at,
persidangan,
5. Terdakwa ditanya apakah didampingi oleh penasihat hukum, 6. Penuntut Umum membacakan surat dakwaan,
7. Terdakwa ditanya apakah mengajukan eksepsi atas dakwaan yang dibacakan, jika mengajukan eksepsi maka sidang harus ditunda,
8. Jaksa Penuntut Umum ditanya apakah mengajukan replik atas eksepsi terdakwa, 9. Majelis Hakim membacakan putusan sela,
10. Apabila eksepsi ditolak maka dilanjutkan pemeriksaan pokok perkara (pembuktian),
11. Penuntut umum mengajukan saksi-saksi (dimulai dari saksi selaku korban/ saksi korban adalah yang memberatkan),
12. Memeriksa saksi yang meringankan bila ada, 13. Pemeriksaan terhadap terdakwa,
14. Tuntutan (requisitoir), 15. Pembelaan (pledoi),
16. Replik oleh Penuntut Umum, 17. Duplik,
18. Putusan perkara oleh Majelis Hakim.
Acara pemeriksaan di Pengadilan dapat dibedakan dalam acara pemeriksaan biasa, acara pemeriksaan singkat dan acara pemeriksaan cepat. Acara pemeriksaan biasa dapat dijelaskan prosedurnya sesuai dengan penjelasan tata urutan persidangan di Pengadilan Negeri diatas. Sedangkan acara pemeriksaan singkat atau acara sumier
adalah jika JPU merasakan mudah dan sederhana dalam pemeriksaan perkaranya tentang pembuktian dan pelaksanaan hukum dan sekiranya akan dijatuhkan hukuman yang tidak lebih berat dari hukuman penjara selama satu tahun, maka JPU dapat
langsung mengajukan ke depan persidangan, JPU disini tidak wajib membuat BAP namun hanya berupa lisan dari catatannya kepada terdakwa tentang tindak pidana yang didakwakan kepadanya dengan menerangkan waktu, tempat dan keadaan pada waktu tindak pidana itu dilakukan.103
Dasar pemikiran mengenai praktek persidangan di pengadilan yang telah diteliti perlu untuk dibahas pentingnya pengetahuan akan hak-hak tersangka atau terdakwa yang perlu diketahui oleh Pelaksana Bantuan Hukum guna memberikan pendampingan.
Clarence J. Dias berpendapat bahwa pelayanan hukum dapat dilakukan mencakup beberapa kegiatan, yang meliputi:104
1. Pemberian Bantuan Hukum,
2. Pemberian bantuan untuk menekan tuntutan agar suatu hak yang diakui oleh hukum, tapi selama ini tidak pernah diimplementasikan tetap di hormati.
3. Usaha-usaha untuk meningkatkan kejujuran agar kebijaksanaan hukum yang menyangkut kepentingan orang miskin dapat diimplementasikan secara lebih positif dan simpatis,
4. Usaha-usaha untuk meningkatkan kejujuran serta kelayakan prosedur di pengadilan dan di aparat-aparat lain yang menyelesaikan sengketa melalui usaha perdamaian.
5. Usaha-usaha untuk memudahkan pertumbuhan dan perkembangan hak-hak di bidang yang belum dilaksanakan atau diatur dalam hukum secara tegas.
6. Pemberian bantuan-bantuan yang diperlukan untuk menciptakan hubungan kontraktual badan-badan hukum atau ormas-ormas yang sengaja dirancang untuk memaksimalkan kesempatan dan kemanfaatan yang telah diberikan oleh hukum.
103 Martiman Prodjohamidjojo,Pemeriksaan di Persidangan Pengadilan, (Jakarta: Ghalia Indonesia, 1983).
hal. 28.
Pemberi Bantuan Hukum dalam memberikan pelayanan kepada Penerima Bantuan Hukum hendaknya mengerti terlebih dahulu mengenai hak-hak individu dalam proses hukum, hal ini karena seorang tersangka memiliki hak-hak hukum yang dijamin oleh UUD 1945, UU No. 8 Tahun 1981 Tentang KUHAP, UU No. 39 Tahun 1999 Tentang HAM, UU No. 12 Tahun 2005 Tentang Pengesahan Konvenan Hak-Hak Sipil dan Politik, UU No. 5 Tahun 1998 Tentang Pengesahan Konvensi Menentang Penyiksaan dan Perlakuan atau Penghukuman Lainnya Yang Kejam, Tidak Manusiawi dan Merendahkan Martabat, serta prinsip-prinsip peradilan yang adil (fair trial) yang berlaku secara universal yang dapat dijelaskan sebagai berikut:105
1. Hak atas kemerdekaan dan keamanan pribadi serta larangan penangkapan dan penahanan secara sewenang-wenang. Hak-hak ini mendasari hak selanjutnya dalam proses hukum pidana. Pada prinsipnya, seseorang adalah individu yang bebas dan memiliki hak atas kemerdekaan secara pribadi namun dengan mengakui pembatasan hak-hak orang lain. Pembatasan kemerdekaan seseorang melalui penangkapan dan penahanan dalam proses pidana hanya dapat dilakukan dengan dasar alasan hukum yang jelas dimana ditemukannya bukti permulaan yang cukup dan adanya surat perintah dari instansi yang berwenang.
2. Hak untuk mengetahui alasan penangkapan dan penahanan. Setiap orang yang ditangkap atau ditahan berhak untuk diberitahukan alasan penangkapan dan penahanannya secara jelas menurut bahasa yang dimengertinya, alasan tersebut mengenai penangkapan, tuntutan apa yang diajukan dan juga diberitahukan mengenai hak-haknya dan diberi penjelasan bagaimana ia dapat menggunakan hak-haknya tersebut.
3. Hak atas bantuan hukum. Setiap orang yang menghadapi masalah hukum berupa
tuduhan pidana berhak untuk didampingi oleh penasihat hukum atas pilihannya sendiri untuk melindungi hak-haknya dan untuk mendampinginya dalam pembelaan. Jika orang tersebut tidak dapat membayar jasa Advokat, maka harus diberikan baginya penasihat hukum yang berkualitas. Orang tersebut juga harus diberikan waktu yang layak dan fasilitas yang cukup untuk berkomunikasi dengan penasihat hukumnya.
4. Hak untuk menguji penangkapan dan penahanan. Setiap orang yang mengalami penangkapan dan penahanan tidak hanya memiliki hak untuk mengetahui alasannya melainkan juga berhak untuk menguji penangkapan atau penahanan terhadap dirinya.
5. Asas praduga tidak bersalah (presumption of innocence) terhadap setiap orang yang disangka, ditangkap, ditahan, dituntut, dan dihadapkan ke depan sidang pengadilansampai adanya putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum yang tetap (inkracht van gewijsde).
6. Hak untuk diajukan dengan segera ke hadapan hakim dan persidangan dengan tidak menunda waktu yang telah ditentukan, hal ini karena setiap orang berhak untuk secepatnya mendapatkan kepastian hukum terhadap dirinya.
7. Asas persamaan di muka hukum (equality before the law). Setiap orang tanpa terkecuali harus mendapatkan perlakuan yang sama tanpa membedakan status, latar belakang, agama, jenis kelamin, dan sebagainya dalam proses hukum.
8. Larangan atas penyiksaan dalam proses peradilan. Tidak ada alasan apapun oleh aparat penegak hukum untuk dapat melakukan penyiksaan terhadap tersangka atau terdakwa untuk memperoleh keterangan dari yang bersangkutan. Penyiksaan merupakan kejahatan terhadap kemanusiaan.
harus adil dan dapat dilihat oleh publik (kecuali perkara asusila dan anak dibawah umur atau karena sifatnya tidak dapat dibuka untuk umum).
10. Hak untuk segera diberitahukan bentuk dan penyebab tuduhan pidana yang diberikan dalam bahasa yang dimengertinya.
11. Hak untuk mendapatkan waktu dan fasilitas yang cukup untuk mempersiapkan pembelaan.
12. Hak untuk membela dirinya sendiri atau melalui penasihat hukumnya. 13. Hak untuk memeriksa para saksi yang memberatkan.
14. Hak untuk mendapatkan penerjemah secara gratis (dalam hal orang tersebut tidak mengetahui tuduhan yang diberikan).
15. Larangan untuk memaksa seseorang memberikan keterangan yang akan memberatkan dirinya sendiri (self in crimination). Selanjutnya akan dibahas lebih rinci pada halaman 65-67.
Menurut YLBHI dalam buku yang berjudul “Panduan Bantuan Hukum di Indonesia” membahas tentang pentingnya hak-hak individu dalam proses hukum pidana. Sebelum membahas lebih lanjut, peneliti akan memaparkan hak-hak tersangka dalam proses hukum pidana diantaranya sebagai berikut:106
1. Seseorang tersangka memiliki hak-hak tertentu tehadap proses penahanan yang diberikan, antara lain:
a. Menghubungi penasihat hukum atau bantuan hukum. Setiap orang yang menjadi tersangka atau terdakwa berhak didampingi oleh penasihat hukum, hal ini bertujuan untuk melindungi kepentingan pembelaan dalam proses peradilan pidana seseorang yang menjadi tersangka atau terdakwa berhak mendapatkan bantuan hukum dari seseorang atau lebih pada tiap tingkat
pemeriksaan sebagaimana termuat dalam Pasal 54 KUHAP. Selain itu seorang tersangka atau terdakwa berhak memilih sendiri penasihat hukumnya sebagaimana termuat dalam Pasal 55 KUHAP.
Bagi tersangka atau terdakwa yang disangka atau didakwa melakukan tindak pidana yang diamcam dengan pidana mati atau ancaman pidana 15 tahun penjara atau lebih atau bagi mereka yang tidak mampu membayar jasa penasihat (orang miskin) yang diancam pidana 5 tahun atau lebih, pejabat yang bersangkutan pada setiap tingkat pemeriksaan dalam proses peradilan wajib menunjuk penasihat hukum bagi mereka sebagaimana yang termuat dalam Pasal 56 ayat (1) KUHAP. Pemberian bantuan hukum oleh penasihat hukum diberikan kepada tersangka atau terdakwa secara cuma-cuma atau tanpa dipungut biaya sebagaimana termuat dalam Pasal 56 ayat (2) KUHAP. Apabika tersangka atau terdakwa dalam proses peradilan pidana dikenakan penahanan, maka dia berhak untuk menghubungi penasihat hukumnya, sebagaimana yang sudah dimuat di dalam Pasal 57 ayat (1).
Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2004 sebagaimana diamandemen menjadi Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 Tentang Kekuasaan Kehakiman menyatakan bahwa setiap orang yang tersangkut perkara berhak mendapatkan bantuan hukum. Bantuan hukum dalam Pasal ini diberikan oleh penasihat hukum atau Advokat Pasal 38 Undang-Undang Kekuasaan Kehakiman. Mengenai keterkaitannya dengan Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2011 Tentang Bantuan Hukum, memuat seseorang yang menghadapi masalah hukum, meliputi masalah hukum keperdataan, pidana dan tata usaha negara baik litigasi maupun nonlitigasi berhak untuk mendapatkan bantuan hukum. b. Segera diperiksa penyidik setelah satu hari ditahan. Jangka waktu
penangkapan paling lama 1 x 24 jam, setelah itu harus mendapat kejelasan apakah seseorang yang ditangkap tersebutstatusnya ditahan, wajib lapor, atau dilepaskan. Jika penangkapan melebihi batas waktu 1 x 24 jam, maka aparat yang bertugas melakukan tindakan sewenang-wenang dan melanggar hukum. c. Menghubungi dan menerima kunjungan pihak keluarga atau orang lain untuk
kepentingan penangguhan penahanan atau usaha mendapatkan bantuan hukum.
d. Meminta atau mengajukan penangguhan penahanan. Setiap tersangka atau terdakwa berhak untuk mengajukan penangguhan penahanan oleh dirinya sendiri atau keluarganya. Penangguhan penahanan ini harus disertai dengan jaminan baik itu orang maupun barang dimana yang telah dimuat dalam Pasal 31 ayat (1) KUHAP berbunyi, atas permintaan tersangka atau terdakwa, penyidik atau penuntut umum atau hakim, sesuai dengan kewenangan masing-masing, dapat mengadakan penangguhan penahanan dengan atau tanpa jaminan uang atau jaminan orang, berdasarkan syarat yang ditentukan. Penangguhann penahanan yang dikabulkan oleh pejabat yang berwenang maka diadakan perjanjian sesuai syarat yang ditentukan yaitu berupa uang atau orang.
Jaminan yang berupa uang, maka nominal uang tersebut harus disebutkan secara jelas, besaran nominal uang ditentukan oleh pejabat yang berwenang (Pasal 35 ayat (1) PP Nomor 22 Tahun 1983). Uang jaminan yang disepakati disetor oleh pemohon atau penasihat hukumnya atau keluarganya ke panitera pengadilan dengan formulir penyetoran yang dikeluarkan oleh pejabat yang berwenang sesuai dengan tingkat pemeriksaan. Pejabat yang berwenang dapat mencabut penangguhan penahanan atas tersangka atau terdakwa jika
melanggar syarat yang ditentukan, yaitu wajib lapor, tidak keluar rumah atau kota. Adapun waktu penangguhan penehanan tersebut tidak termasuk masa tahanan, oleh karena itu tidak dipotongkan dalam hukuman yang akan dijatuhkan kemudian.
e. Menghubungi atau meminta kunjungan dokter pribadinya untuk kepentingan kesehatan. Terhadap tersangka yang sakit dan diharuskan dirawat di luar rutan, maka ia berhak untuk dirawat dirumah sakit. Pasal 9 Keputusan Menteri Kehakiman Nomor M.04UM.01.06/1983 Tentang Tata Cara Penempatan, Perawatan Tahanan dan Tata Tertib Rumah Tahanan Negara menetapkan sebagai berikut:
1) Perawatan kesehatan bagi tahanan yang sakit keras, dapat dilakukan di rumah sakit di luar rumah tahanan negara setelah memperoleh surat ijin adri instansi yang menahan sesuai dengan tingkat pemeriksaan dana atas nasehat dokter rumah tahanan negara.
2) Tahanan yang menderita sakit jiwa, dirawat di rumah sakit jiwa setempat yang terdekat, berdasarkan surat keterangan dokter rumah tahanan negara setelah berkonsultasi dengan dokter spesialis penyakit jiwa serta mendapat ijin dari instansi yang menahan.
3) Dalam keadaan terpaksa terhadap tahanan dapat dilakukan pengobatan di rumah sakit diluar rumah tahanan negara dan melaporkan kepada instansi yang menahan untuk mengeluarkan ijinnya.
4) Pengawasan dan pengamanan tahanan yang dirawat dirumah sakit diluar rumah tahanan negara dilakukan oleh polri atas permintaan instansi yang menahan.
g. Menghubungi atau menerima kunjungan sanak keluarga.
h. Mengirim surat atau menerima surat dari penasihat hukum dan sanak keluarga tanpa diperiksa oleh penyidik/ penuntut umum/ hakim/pejabat rumah tahanan negara.
i. Mengajukan keberatan atas penahanan atau jenis penahanan kepada penyidik. j. Menghubungi dan menerima kunjungan rohaniawan.
k. Bebas dari tekanan seperti intimidasi, ditakut-takuti dan disiksa secara fisik. 2. Seseorang tersangka memiliki hak-hak tertentu tehadap pembuatan berita acara
pemeriksaan pada tahap penyidikan.
Point uatama dalam pembuatan Berita Acara Pemeriksaan (selanjutnya disebut BAP) tersangka adalah dengan adanya kerjasama tersangka dimana ia berhak memberikan keterangan secara bebas tanpa ada siksaan, tekanan, intimidasi dan ancaman. Tersangka berhak dan harus memberikan keterangan sesuai fakta dan tidak boleh disuruh dan dipaksa dalam memberikan keterangan yang tidak sebenarnya atau keterangan palsu yang memberatkan tersangka.
Tersangka dalam pembuatan BAP berhak untuk menyampaikan keterangan yang dia mengerti dengan bahasa yang dia pahami mengenai apa yang disangkakan padanya pada proses pemeriksaan sebagaimana yang termuat dalam Pasal 51 huruf a KUHAP. Penyampaian sesuai dengan pemahamannya ini bertujuan untuk melindungi kepentingannya dalam usaha persiapan pembelaan, dengan begitu terdakwa akan memahami kondisi yang disangkakan terhadap dirinya.
Tersangka berhak untuk didampingi oleh penasihat hukumnya tiap tahap penyidikan. Saat diperiksa oleh penyidik, tersangka berhak menolak untuk tidak menjawab pertanyaan yang diajukan dimana pertanyaan tersebut isinya menjebak atau membahayakan tersangka, selain itu pertanyaan yang tidak sopan
dan tidak ada hubungannya yang diajukan oleh penyidik berhak untuk tidak dijawab.
Tersangka berhak untuk mengajukan saksi dan saksi ahli untuk memberikan keterangan yang meringankan tersangka ke dalam Berita Acara Pemeriksaan yang selanjutnya disingkat BAP. BAP yang telah selesai dilaksanakan, dalam hal tersangka menolak memberi tanta tangan, maka penyidik membuat beriata acara yang menjelaskan alasan tersangka monolak tanda tangan. Untuk kepentingan pembelaan tersangka atau terdakwa berhak meminta turunan berita acara pemeriksaan sebagaimana termuat dalam Pasal 72 KUHP.
3. Hak tersangka dalam pemeriksaan persidangan.
Hak tersangka atau terdakwa dalam proses pemeriksaan persidangan dikelompokkan menjadi tiga tahapan, yakni:
a. Hak pada permulaan persidangan, dimulai saat pembacaan dakwaan hingga hingga putusan sela,
b. Hak pada acara pemeriksaan,
c. Hak pada akhir persidangan, dimana mulainya tuntutan hingga pembacaan vonis hakim.
Sebelum dimulainya persidangan, penuntut umum menyampaikan surat panggilan kepada terdakwa yang memuat tanggal, hari, serta jam sidang dan untuk perkara apa yang ia panggil yang harus sudah diterima oleh yang bersangkutan dalam waktu selambat-lambatnya tiga hari sebelum sidang dimulai. Untuk kepentingan pembelaan, terdakwa atau kuasanya berhak untuk mendapatkan surat pelimpahan perkara beserta surat dakwaan untuk dapat dipelajari.
4. Hak untuk mengajukan keberatan atau eksepsi.
oleh MR tergolong cepat dengan 3 tahapan acara di pengadilan, ini berarti terdakwa tidak melakukan eksepsi, dari hal ini penting untuk dibahas pemberitahuan tentang eksepsi terhadap Penerima Bantuan Hukum.107
Terhadap surat dakwaan jaksa penuntut umum, terdakwa dan penasihat